Monday, September 7, 2009

ada di kinokuniya kuala lumpur?


TALES from the ROAD ada di toko buku Kinokuniya Kuala Lumpur?
Beneran..tapi cuma 1 eksemplar..itupun dibawa langsung dari Jogja..hihiii....
(semoga ide gila ini terwujud ya...TFTR bisa bersanding dgn travelogue books lain di Kinokuniya...*mimpi dot net*)

Friday, September 4, 2009

edinburgh, lonely planet, dan saya


Tempat paling strategis untuk menikmati Edinburgh adalah Calton Hill. Dari atas bukit yang terdapat di sisi Timur kota itu, seluruh kota Edinburgh baik Old Town maupun New Town yang dibelah Princess Street dapat terlihat dengan jelas.

Bangunan di Calton Hill yang paling sering difoto adalah Dugald Stewart seperti yang terlihat dalam gambar ini. Dari sisi ini, view kota Edinburgh terlihat indah. Nggak heran jika kemudian dijadikan cover Lonely Planet Edinburhg City Guide (2004).

Hasrat narsis saya langsung bergemuruh begitu menyadari cover LP yang saya tenteng. Dan sesaat kemudian, saya pun sudah disibukkan dengan tripod dan kamera yang siap menjepret dengan fitur "self-timer" nya. Agak repot mencari posisi yang pas, apalagi bukit Calton cukup berkerikil. Belum lagi angin pagi itu yang bertiup kencang. Setelah beberapa kali jepret, inilah yang terbagus hasilnya. Hehehe....


Old Town...yang membuat saya betah menyusuri lorong-lorongnya.


Princess Street. Oh ya yang di ujung sana adalah Scott Monument. Kalau dari dekat, inilah Sir Walter Scott (1771 - 1832), sastrwan besar dari Skotlandia



Saturday, August 29, 2009

introducing my dayak family


Kenalkan, ini keluarga angkat saya di Lamin Adat Pepas Eheng, Kaltim. Foto-foto ini diambil 14 tahun setelah kunjungan pertama saya (1994 - 2008).

Beruntung, persis 14 tahun kemudian, di bulan Agustus 2008, saya mendapat tugas ke Melak, Kutai Barat. Tentu saja saya tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Begitu urusan pekerjaan kelar, saya extend 2 hari untuk mengunjungi mereka dan menginap di lamin meski hanya semalam saja.

Rasa haru dan deg-degan memenuhi ruang bathin saya membayangkan pertemuan yang bakal terjadi. Hmm..seperti apakah gerangangan sekarang? Apakah mereka masih mengingat saya?

Betapa terkejutnya saya melihat perubahan infrastruktur yang ada: jalanan beraspal sehingga hanya butuh 30 menit dari Melak ke Pepas Eheng, listrik, dan ponsel yang membuat mereka bisa SMS dan berhalo-halo. Luar biasa..!!

Apakah teknologi mengubah tradisi mereka juga? Ternyata tidak sepenuhnya, saudara-saudara! Ketika saya turun dari mobil dan mendekat, menginjakkan kaki di pelataran lamin, sayup-sayup terdengar bunyi tetabuhan khas musik Beliatn. Bunyi yang persis saya dengar ketika saya tiba di tempat ini Juli 1994. Ketika itu penghuni lamin lamin tengah sibuk menyiapkan Beliatn -upacara penyembuhan- yang akan berlangsung malam hari. Dan sekarang, ketika saya datang 14 tahun kemudian, bunyi tetabuhan khas Beliatn terdengar jelas dari rumah Pak Linus Karim yang terletak persis di bawah lamin. Lagi ada upacara Beliatn di rumah Pak Linus siang itu. Dan malam harinya, Beliatn juga dilangsungkan di lamin, di depan biliknya Pak Jerma.

Kok nggak berubah ya, batin saya. Mereka masih memlih Beliatn ketimbang pergi ke Puskesmas atau Rumah Sakit di kota kecamatan yang sekarang bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Kenapa ya...saya masih bertanya-tanya. Dan terus bertanya, sembari mandi di pancuran di belakang rumah Loren yang harus menuruni tebing dulu, sembari makan nasi lauk ikan asin di dapur bersama anjing2 peliharaan keluarga Pak Jerma, sembari berbaring di bilik yang dinding-dindingnya mengirim semilir angin juga diiringi bunyi ngik-ngok babi-babi di bawah lamin, dan sembari minum kopi di pagi hari bersama penghuni lamin yang lain...

Yang jelas, satu hal yang menggembirakan, ketika saya datang dan menyapa Pak Jerma yang tengah berbaring di lamin, dan menanyakan apakah dia masih ingat Tita yang dari Jogja, lalu dijawabnya ingat. Dan ketika saya berkata "Saya Tita, Pak..." Tahu apa jawabnya? Jawabannya sungguh menyetuh emosi terdalam saya, "Oh...kamu kah anakku?" (Saya terkenang ritus pengangkatan anak 14 tahun lalu itu...hanya karena saya sempet sakit bulanan di Lamin...hehehe. Tentang kisah pengangkatan anak ini baca di Tales from the Road yaaaa…!)

Mamak Jerma, ibu angkat saya. Gayanya dari dulu nggak berubah.
Rokok dan baju terbuka.


Beginilah kalau dukun Beliatn beraksi mengobati orang sakit. Kebayang kan, bagaimana kalau dulu saya mau di-Beliatn karena sakit bulanan sementara mereka mengira saya kesambet
'wok bengkar' alias roh jahat yang datang dari hutan.

Pak Sungan, dukun Beliatn itu. Break dulu, telpon-telpon dulu ah...:D


Suasana makan bareng di lamin...bareng anjing peliharaan juga loh...





Tuesday, August 25, 2009

kebakaran kapal di senggigi - lombok


hhmm..gara-gara membaca postingan seorang teman yang lagi liburan di senggigi dan gili (lombok), saya jadi teringat peristiwa kebakaran kapal di senggigi yang sempat terekam kamera saya. pagi itu, di hari minggu 15 agustus 2005 (ups..udah lama banget yak...), saat lagi sarapan di sebuah hotel di tepian pantai senggigi, tiba-tiba diusik oleh pemandangan aneh di tengah laut. kepulan asap dari sebuah kapal perama!

kepulan asap itu mula-mula hanya berwarna abu-abu. tapi karena tiupan angin laut pagi yang cukup kencang, dalam sekejap kepulannya pun menghitam pekat. pemandangan itu tentu saja menarik perhatian banyak orang, termasuk saya yang lagi menikmati sarapan pagi di resto hotel persis di tepi pantai.

bergegas saya tinggalkan setangkup roti oles, sarapan pagi saya. lalu berlari mendekat ke bibir pantai, merekam gambar dengan kamera poket kodak. dan inilah hasilnya, rekaman gambar 5 menit yang menghanguskan kapal perama.


asap mulai mengepul dari bagian dalam kapal


perahu penolong mulai berdatangan


kepulan asap htam di atas lautan senggigi yang biru


angin laut mengobarkan api..hanya dalam waktu 5 - 10 menit kapal naas itu tinggal rangka belaka


Tuesday, August 18, 2009

liputan di Sinar Harapan

"Selama ini tak banyak buku kisah perjalanan yang mengungkapkan budaya setempat. Untuk itu saya mencoba menuliskannya..." harian sore Sinar Harapan, 18 Agustus 2009
link beritanya silakan klik di sini

jalan-jalan ke National Geographic Store



welcome to NatGeo Store - Singapore.
lokasi tepatnya di vivocity - harbour front

toko apa galeri apa museum ya...

dinding yang dipenuhi foto-foto humanis khas National Geographic


foto-foto yang ditata layaknya pameran foto..
eh, ini barang dagangan loh...foto-foto itu bisa dibeli dan bersertifikat

the yellow border and the yellow t-shirt...:D


juru foto: edo

Friday, August 14, 2009

liputan RADAR JOGJA ttg Matatita



Banyak orang yang telah bepergian ke berbagai penjuru tanah air maupun ke pelosok dunia. Tapi sedikit yang menuangkannya dalam tulisan. Sudah ada yang menuliskan kisah perjalanannya, tapi sedikit yang merangkainya dalam pendekatan budaya. Matatita melakukannya.

(ERWAN WIDYARTO, Radar Jogja Minggu, 9 Agustus 2009)



klik image di atas untuk membaca tulisan selengkapnya







Thursday, August 13, 2009

Wednesday, August 12, 2009

liputan GudegNet untuk Travel Writing Weekend Forum

Selasa, 11 Agustus 2009, 23:28 WIB

Menembus Penerbit Buku dengan Menuliskan Kisah Perjalanan

Iwan Pribadi - GudegNet


Menuliskan Kisah PerjalananSebenarnya menembus penerbit buku untuk sehingga dapat menerbitkan karya seseorang, tidak sesukar yang selama ini dibayangkan.

Karena sesungguhnya para penerbit saat ini sedang agresif dalam mencari penulis-penulis untuk diterbitkan karyanya menjadi sebuah buku.

Demikian ungkap Salman Farid ketika mengawali acara Sembari Minum Kopi yang kali ini mengangkat tema Menuliskan Kisah Perjalanan: Kiat Menembus Media dan Penerbit.

Bahkan, CEO Bentang Pustaka ini menambahkan, sejak beberapa tahun belakangan para penerbit juga mencari tulisan-tulisan yang dinilai layak untuk diterbitkan dan marketable di Internet dengan mengunjungi blog-blog yang banyak tersebar di sana.

Beberapa yang tulisan di blog yang berhasil diangkat menjadi tulisan antara lain “The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)” karya Trinity, dan yang baru saja terbit adalah “Tales From The Road” karya Matatita.

MatatitaMatatita yang juga hadir kesempatan ini turut membagikan tips dan pengalamannya seputar menerbitkan kisah perjalanan yang semula berada di blog menjadi sebuah buku.

Menurutnya, jika ingin lebih mudah ditemukan oleh penerbit, maka sebaiknya membuat blog yang segmented dan membicarakan satu hal saja yang khusus dan spesifik, misalnya tentang perjalanan saja, tentang kuliner saja, dan lain sebagainya.

Khusus untuk menuliskan kisah perjalanan, Matatita memberikan masukan agar jangan terpesona dengan keindahan tempat yang sedang kita datangi, sebab jika itu terjadi maka akan melahirkan tulisan yang datar, biasa-biasa saja, dan sudah banyak dibahas oleh orang lain yang mengunjungi tempat itu.

Untuk itu akan lebih baik jika tulisan perjalanan tersebut memerhatikan hal-hal yang kecil seperti budaya dan keseharian masyarakat di tempat tersebut, dan berusaha dekat dan melebur dengan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya mereka. Dengan demikian niscaya akan ditemukan hal-hal yang khas dan menarik yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

Pada akhirnya, Matatita berpesan bahwa oleh-oleh atau produk yang sebenarnya dari seorang traveler itu adalah berupa foto-foto dan/atau tulisan. Untuk itu ia berpesan kepada siapapun yang memiliki hobi jalan-jalan untuk jangan ragu-ragu untuk menuliskan kisah perjalanannya. Siapa tahu ada penerbit yang melirik dan kemudian tertarik untuk menerbitkan.




Tuesday, August 11, 2009

tales from the road. menulis dengan empati

by ukirsari rr manggalani

membaca larik-larik kalimat di buku kisah perjalanan plus tips dari suluh pratitasari a.k.a tita, terbayanglah kerendahan hati sang penulis. sesuai selera saya akan pencarian buku kisah-kisah perjalanan yang berada di luar koridor “i’d already been here and there, became the winner, against all the problems during my travels” –without any sympathetic feeling in it.

matatita –sesuai dengan alias nama yang dipakai penulis, merefleksikan ‘mata’ bukanlah sekadar indera penglihatan, tapi juga memiliki arti mendalam; mata hati. melihat dengan hati serta memberi empati pada porsinya— mengajak pembacanya menikmati kekayaan budaya berbagai negeri, dari sudut pejalan biasa. Sekaligus mensyukuri keberagaman alam dan budaya milik Indonesia sendiri (Meet Locals, 153).

dengan kepekaan hati pula, tita dapat bersabar (meski barangkali mengelus dada) ketika disodori jasa tukang becak ngayogyakarta untuk wisata bbd –batik, bakpia pathuk, dagadu. atau mentertawakan diri sendiri secara fair, atas kejadian penipuan batu permata di bangkok (Scam Everywhere, 27). dan sesekali juga boleh galak, bila terpaksa. contohnya saat dikuntit pria berjaket di wamena, yang bertanya-tanya dengan nada garang (Diadang Intel Gadungan, 17).

bersama sang penulis yang lulusan antropologi universitas gadjah mada, kemegahan angkor wat bisa ‘membumi’ pada tataran setara candi borobudur. sebuah mimpi; bila saja ada infrastruktur dan upaya lebih dari semua pihak terkait untuk menjadikan muntilan sebagai siem reap ‘bayangan’ (Borobudur versus Angkor Wat, 147).

sebagaimana juga prosesi dhaeng (barisan pasukan keraton yogyakarta) dalam upacara garebeg yang dapat ‘go-internasional’ seperti prosesi pergantian pengawal kerajaan inggris di buckingham palace (Prajurit Jogja dan Prajurit Inggris, 173).

atau adanya napas yang sama, antara gerbang kota tua bhaktapur di nepal, dengan kawasan jeron beteng keraton di yogyakarta (Lorong dan Dinding-Dinding, 122).

tak kalah unik –sekaligus membuat saya cemburu– adalah cerita tita mendapatkan nama baru ‘angkan krisna’ lewat perhelatan budaya dayak benuaq. padahal ini bukan kisah yang mulus, karena ia mesti mengalami kejang perut dan terpuruk di semak-semak sebelum digotong ke lamin atau rumah panjang. bahkan sempat dicurigai terkena roh jahat (Ritus Bulanan, 80).

dan di atas semua kisah yang dibingkiskan tita buat pembaca, entah mengapa saya merasa memiliki semacam sesambungan rasa saat membaca buku ini. bukan semata karena telah mengenal sang penulis pun ada kemiripan kisah selama ‘hidup di jalan’ –sebagaimana dialami para traveler dalam berinteraksi dengan lingkungan baru serta menjumpai hal-hal yang sudah diangankan sejak lama.

tita menyimpan duka karena hanya berselang 3 hari setelah ia mengutarakan pada ibunda akan menjelajah ke nepal, beliau kembali ke pangkuan Nya (Ponsel Budek Sebelah, 20). sementara saya saat itu, bepergian solo ke laos ketika ayahanda belum genap 40 hari berpulang. semua urusan traveling sudah dibereskan hampir setahun sebelumnya dan ijin dari beliau sudah saya kantongi jauh-jauh hari.

bisa jadi, inilah ‘pesan’ yang ingin disampaikan secara tidak langsung; bahwa kesedihan itu, bukanlah milik saya semata. masih ada orang lain, yang merasakan hal serupa. bahwa hidup terus berjalan, kaki terus melangkah, meski perasaan tidak sempurna. dan mata milik tita a.k.a suluh pratitasari lah perantaranya. terima kasih ya, jeng!

akhirnya, selamat membaca tales from the road, mencicip keunikan budaya dari yogyakarta hingga nepal. sebuah catatan perjalanan wisata penuh kesan mendalam. meski dituturkan dengan penyampaian yang bersahaja.

judul: tales from the road, mencicip keunikan budaya dari yogyakarta hingga nepal; penulis: matatita; penerbit: B-first (PT Bentang Pustaka); jumlah halaman: 232

Monday, August 10, 2009

di radiooooo...


lupa nggak minta rekaman siaran...
ya wis..pamer foto aja yak..hihiii

liputan annida online tentang "women backpackers talkshow"


Annida-Online--Jalan-jalan menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup. Lantas bacpacking menjadi jalan yang tepat mewujudkanya jika berkocek terbatas. Ini adalah inti dari buku kedua perempuan petualang, Matatita si penulis Tales From The Road dan Trinity dengan buku The Naked Traveler. Menjumpai pembaca bukunya kedua woman backpacker tersebut datang menghadiri jumpa penulis-pembaca dalam event Pesta Buku Rakyat yang digelar Penerbit Mizan di Pasar Festival di bilangan Kuningan, Jakarta (Sabtu, 1/08).

Banyak buku yang mengisahkan petualangan backpacker sekarang. Knowledge, pengalaman yang sangat personal, perenungan, dan hal lain yang dialami masing-masing menurut Mbak Tita yang asli Jogjakarta membuat setiap buku berbeda dan asyik dinikmati. Dirinya dalam Tales From The Road lebih banyak bercerita tentang human culture di setiap pelosok Indonesia yang kaya dengan kekhasan etnik.

"Saya suka berbaur langsung dengan penduduk lokal. Berada di tengah-tengah mereka. Pernah di Borneo saya pingsan yang oleh penduduk dibilang kesambet di hutan dan harus dibawa untuk ritual belian karena saya bukan orang Dayak. Saya jelaskan itu bukan apa-apa karena saya biasa begitu jika datang bukan," ujar Tita. Alhasil karena terus saling ngotot, jalan tengah diambil dengan melakukan upacara 'angkat anak". Di Papua juga ada wawasan baru baginya yang baru mengetahui koteka itu ukuran dan coraknya berbeda tergantung tiap-tiap suku.

Lain Tita lain Trinity, lajang yang telah mengunjungi 40 negara ini merasa nyaris tidak ada kesulitan berwisata murah di luar negeri. Semua relatif aman karena transportasi yang lancar dan petunjuk jalan yang jelas. Bacpacking di Indonesia bagi Trinity jauh lebih menantang karena berbagai hambatan geografis dan transportasi. Oleh karena itu dijamin jika sudah menguasai medan negeri sendiri, melancong ke Eropa atau Amerika bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan. "Pokoknya asal berani dan punya tiket, urusan di luar gampang. Semua dipelajari langsung ketika mulai melakukan perjalanan," tuturnya menyakinkan. Tentu saja tetap perlu perencanaan matang mengkalkulasi anggaran, menginvetarisir tempat wisata yang menarik, hotel representatif, rute yang aman plus murah. Internet yang menyajikan informasi lengkap dan berkembangnya milist backpacker juga sangat membantu mewujudkan keinginan seseorang menjelajahi setiap sudut bumi Allah. Dia saja tak merasakan berbagai kendala berarti, meskipun activitas backpacking mulai dijalaninya sejak usia belasan. Apalagi era sekarang yang semua serba gampang diketahui sehingga bisa mematangkan rencana.

Banyak sekali hal menarik menjadi tema perbincangan jumpa penulis yang dilakukan Penerbit Mizan dengan kedatangan Matatita dan Trinit. Peserta yang hadir juga sempat berbagi pengalaman perjalanan masing-masing. Selain bincang-bincang, seperti biasanya bagi-bagi doorprize juga berlaku. Dalam beberapa hari ke depan, Penerbit Mizan akan mengelar beragam acara lain sampai tanggal 6 Agustus 2009 di Pasar Festival. Boleh tuh, siapkan jadwal ke sana. [Elzam]

Thursday, July 30, 2009

sensasi di atas angkot


kalo naik angkot, saya berusaha mencari tempat duduk di depan.
supaya bisa bernarsis ria lewat kaca spion..sekalipun kacanya udah burem.
hehehe....


Angkot di terminal pasar Jibama (Papua).



kijang tanpa plat nomor yang beroperasi sebagai angkot.
prejengannya sedikit lebih mendingan dari angkot jenis L-300.


padat muatan. bagian atas buat hasil ladang dan belanjaan, sementara penumpang
yang di dalam berjubal hingga 21 orang. huukkss...sesak napas dah..!

hi sweet..ikut mama ke pasar ya...


duh, dedeknya bobok di kursi angkot yang udah jebol-jebol

dibeliin kacang sama mama..


di tengah jalan, ada motor yang ban-nya bocor..
karena nggak ada tambal ban, jadilah si motor diangkut angkot menuju pasar,
pusat keramaian yang ada bengkel dan tambal ban

ngik..ngok...si babi gendut ini baru diturunin dari angkot
"mau dijual berapa, pak?" tanya saya.
"dua puluh juta," jawabnya membuat saya tebelalak.
"buat ongkos anak kuliah di jawa," tambahnya lagi.
ooooo....


(sensasi serunya di atas angkot, bisa dibaca di TALES from the ROAD hal. 198)

Wednesday, July 15, 2009

sepotong tak kan pernah cukup

review by tride sembiring

jika kalian berharap buku tentang travel ini akan mengulas 'what to see' atau 'where to go' seperti yg biasanya dijadikan 'jualan' buku2 travel, maka saya nyatakan Anda sedang 'kecele'. Tales from the Road memang tidak menyajikan itu, tapi justru disini kekuatan angle buku ini. Membaca Tales from The Road buat saya membawa saya larut dalam tiap fragmen peristiwa yang tertulis di situ. Tidak seperti layaknya buku-buku travel yang menempatkan pembaca pada orbit luar (menjadi the outsider), TFTR membawa kita seolah2 menjadi subyek dari ceritanya. Nah loh, jarang bukan ada sebuah buku tentang travel yang melibatkan pembaca sbg pemeran di dalamnya?

Liputan penulisnya tentang peristiwa Ngaben, dan gambar2 yg mendukung untuk memperkuat cerita membuat saya serasa berada diantara pelaku upacara2 ngaben dalam jurnal tsb. Belum lagi gambaran tentang Nepal, Bhaktapur yang membuat saya bisa membayangkan nuansa Bhaktapur meski saya belum pernah sampai kesana. Uraian yang natural tentang local people, culture dan alam Nepal membuat saya merasa sedikit mengenal negara kecil itu, jadi seolah2 saya sedang belajar tentang ilmu antropologi. Asik.

Bahkan ketika penulis bercerita tentang TKI yang menginap di rumahnya bersama majikannya dan bergaya lebih bule dari bule, bagi saya itu adalah fenomena tidak lazim yang diceritakan dg gaya kocak yg membuat saya tidak berhenti tertawa. Sama sekali tidak terkesan ini bagian dari sebuah buku traveler....

Banyak informasi tentang hal-hal kecil yang luput diulas di beberapa buku travel, didetailkan di sini. Misalnya fenomena tentang Scam yang ternyata tidak cuma ada di Jogja, juga pengetahuan kita tentang modus-modus scam yg membuat kita bisa lebih aware jika bepergian sendiri. Info tentang tarif yg harus kita bayar kepada penduduk lokal untuk sebuah shoot dan paparan yg menjelaskan mengapa kita dalam tanda petik "harus rela" membayar cukup mahal untuk HTM di beberapa tempat wisata, menurut saya akhirnya melegakan. Karena ada alasan cukup kuat yg membuat kita mahfum dg harga2 yg kita pikir mahal untuk ukuran IDR. Saya berkesimpulan, penulisnya cukup jeli membidik sisi lain pemahaman pentingnya memelihara heritage place, daripada sekedar menjadi provokator atas mahalnya sebuah HTM. ooohhhhh...so wise.

Tips-tips tentang travel yang dikutip di TFTR juga bukan tips-tips yang 'pada umumnya'. Sekali lagi karena kita lebih sering fokus pada hal-hal besar saja, sementara hal-hal kecil yg menyangkut kenyamanan travelling spt: pastikan hape dalam keadaan tercharger penuh, kadang2 kita lupakan.

Masukan saya untuk TFTR hanya satu: mbok ya foto-fotonya dibuat colourful spy lebih menggugah pembaca untuk mengikuti jejak perjalanannya.....


(review ini di-copy dari facebook.com/matatita)

Thursday, July 9, 2009

rak buku budaya - gramedia


Saya pribadi, memang menganggap travelogue TALES from the ROAD sebagai Etnografi Jalan-jalan. Layaknya seorang antropolog yang melakukan riset di suatu daerah dan kemudian menghasilkan etnografi atau laporan penelitian yang menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat yang ditelitinya, saya pun berharap kegiatan travelling alias jalan-jalan yang saya lakukan juga bisa mendeskripsikan kehidupan sosial budaya daerah yang pernah saya kunjungi. "Buku ini bukan hanya soal travelling," tulis Riyanni Djangkaru, "tetapi juga bisa menambah pengalaman baru bagi pembacanya," tambahnya lagi.

Pengalaman baru yang dimaksud Riyanni -dan tentu saja yang ingin saya sampaikan- antara lain tentang bagaimana saya "megalami" keberagaman budaya itu. Karena ingin "mengalami", setiap kali melakukan perjalanan (baik sambil dinas atau memang karena niat traveling), saya berupaya membangun kedekatan dengan native alias penduduk setempat, mencoba untuk tidak berjarak. Hal ini saya lakukan antara lain dengan memilih alat transportasi umum (angkot, ojek, becak), ke pasar tradisional, dan sokur-sokur bisa mendapat akomodasi yang menyatu dengan rumah tinggal. Karenanya, saya lebih suka menyebut diri saya sebagai the Going Native Traveller.

Meski begitu buku ini belum bisa sepenuhnya dianggap sebagai Etnografi, mengingat kehadiran saya di sana tetaplah sebagai seorang turis, bukan peneliti. Tapi, juga tidak bisa sekedar dianggap sebagai buku traveling biasa -seperti yang dikatakan Riyanni Djangkaru-, karena buku ini tidak semata-mata memberikan informasi tentang destinasi wisata. Seorang rekan saya bilang begini, Matatita itu adalah ambiguitas antara Mata Turis dan Mata Antropolog.

Bagaimana menurut Anda?

(Foto diambil dari Rak Buku Budaya - Gramedia, Sudirman - Yogyakarta)

Tuesday, July 7, 2009

buku luar biasa yg ditulis dgn cara biasa

review by Agus Nur Prabowo

Saya kira saya memang bukan pembaca yang baik seandainya ukurannya adalah kecepatan. Sempat saya cemas berpikir apa ini karena kecerdasan saya yang makin turun ya. Setelah dipikir-pikir teryata ‘gangguan’ terbesar dalam berkonsentrasi adalah godaan yang sangat besar untuk menanggapi sebuah tulisan yang belum selesai terbaca dengan imajinasi-imajinasi, khayalan-khayalan, spekulasi-spekulasi, teori-teori, atau bahkan pengalaman diri. Begitulah yang selalu terjadi. Selalu kegiatan membaca saya terhenti, melamun, atau muncul ide yang seringkali konyol atau lucu. Jadi tak jarang saya ketawa terpingkal-pingkal sendirian pada saat membaca buku. Atau sekedar senyum. Tergantung tingkat kelucuan yang saya ciptakan sendiri atau memang ada dalam teks.

Begitupun sikap saya ketika membaca buku luar biasa yang ditulis dengan cara biasa, andap asor, atau di beberapa bagian sedikit malu-malu Tales From The Road (bukan tales dari Bogor, lho) oleh Matatita ini. Masih ada banyak sub judul lain tapi saya baru sampai di "Edinburg", yang bacanya Edinbra, kata Tita. Tapi kebetulan juga pas saya sampai di sub judul ini, mobil tua saya selesai dibetulin pintunya. Ya, di bengkel saya membaca buku ini. Nanti saya lanjutkan di tempat lain.

Membaca buku ringan yang kadang menyelipkan informasi, pandangan dan teori serius ini sangat mengasyikkan. Di beberapa bagian rasanya saya seperti melakukan apa yang diceritakan Tita dalam buku ini. Mungkin memang karena saya pernah tinggal di Papua contohnya, atau saya pernah dekat dengan orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang diceritakan, atau dekat dengan mereka yang punya kebiasaan menenteng “kitab suci” Lonely Planet, dan buku-buku informasi perjalanan lain yang banyak diceritakan dalam buku ini.

Buku ini secara keseluruhan berisi berbagai kisah perjalanan (tapi tidak terjebak cerita kronologis lho ya), informasi-informasi penting mengenai tempat maupun sikap yang perlu diantsipasi, baik yang berhubungan dengan kemungkinan menjadi korban penipuan (persenkongkolan tukang Tuk-Tuk dan Art shop, hal 35) maupun hal-hal yang bisa membahayakan diri (berhadapan dengan intel gadungan, hal 19, atau terjebak dalam kerusuhan massal yang melibatkan lempar tombak dan panah (pada bagian cerita tentang Timika)

Dicermati lagi, ternyata hampir tiap cerita dalam buku ini diakhiri dengan kalimat-kalimat yang sangat merangsang logika maupun rasa maupun ajakan berpikir atau membandingkan pengalaman. Ketika Tita bercerita ritual menjadi anak angkat orang Dayak, misalnya, sampai Jogja dia patuh membawa pelengkap ritual berupa tepung yang harus dicorengkan di muka orang tuanya. Ya, mungkin tidak dilakukan pun tidak akan terjadi apa-apa, tapi dia menulis “iyalah daripada ntar kenapa-kenapa, kan’ …hehe .(hal 85). Meski takut-takut sedikit percaya tahyul, tapi di bagian makan daging babi tetap tidak dilakukannya, hehe. Di bagan lain diceritakan tentang sikap si Ani (seorang TKI asal Jawa) yang menurutnya 'tranyakan' karena berani mengetuk pintu kamar mandi majikan, dan ngesun pipi kiri kanan bapaknya (Tita) waktu berpisah! Hadyuh Byuh tobatttt! Wong Jowo ilang Jawane, tulisnya bercetak miring (hal 63).

Menurut saya melalukan perjalanan di tanah orang mau gak mau ada keinginan untuk menyamakan sekaligus membedakan dengan apa yang kita ketahui, artinya selalu ada yang kita bandingkan, dan untuk membandingkan itu sangat tergantung dengan cadangan pengetahuan kita. Tita menyebut ‘pendopo’ untuk sebuah bangunan berhalaman luas di depan Kasultanan Ternate, tapi buru-buru dalam kurung dia menuliskan “eh kok pendopo sih…. (hal 40). Sisipan-sisipan spontan seperti ini juga membuat buku ini menyenangkan untuk dibaca. Sengaja atau tidak tulisan dibuat dengan gaya begini, dan kenyataanya saya merasakan kenyaman dengan itu, saya pikir ini berhubungan dengan penulisnya yang punya latar belakang menulis dalam waktu yang cukup lama, sejak SMP, bahkan dia mengaku salah satu tripnya ke Kalimanatan menghasilkan dua buah cerpen dan dua artikel. Bahkan lagi, karena kemampuan menulis lah dia bisa jalan-jalan kemana-mana. Travelling = Dapat Uang, tulisnya di halaman 53.

Keasikan melakukan perjalanan, menurut Tita, dimulai jauh sebelum perjalanannya sendiri dilakukan, yaitu ketika mencari-cari informasi tentang tempat yang akan dituju, melalu internet dan buku-buku, dan menurut saya juga dari cerita-certia teman lain. Informasi-informasi ini sering menerbangkan angan dan imajinasi kita mengenai tempat-tempat tujuan. Imajinasi kita bahkan sering lebih heboh daripada kenyataannya, meskipun tak jarang bener juga. Atau ada hal lain yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Cerita Tita tentang suku Asmat misalnya (hal 100), ia sudah membayangkan akan dengan mudah menemukan patung-patung untuk souvenir, ternyata sampai di sana patung dan ukiran hanya dibuat setiap november menjelang Festival Asmat. Juga cerita dia tentang papan kayu dimana-mana mungkin diinterpretasi dengan cara bebeda oleh sebagian pembacanya karena Tita tidak menuliskan bahwa kayu yang dipakai untuk papan jalan adalah kayu besi besi yang tebal dan kuat sekali. Kata 'hutan' juga tidak akan sesuai dengan gambaran kita tentang hutan-hutan di Jawa karena kutan di Papua itu sangat lebat sulit ditembus orang. Dengan demikian meski sudah membaca informasi mengenai tempat tujuan kejutan-kejutan selalu menjadi keasikan tersendiri seperti cerita tentang bunyi angin dan hujan mengerikan karena tercurah di atap-atap seng (hal 98).

Meski segala hal sudah dipersiapkan, perjalanan jauh selalu diwarnai pengalaman-pengalaman bodoh yang tak perlu terjadi, tapi justru di sana letak keasikannya. Jadwal tiket misalnya, gara-gara sembrono tidak dipastikan dulu Tita terpaksa ketinggalan kereta, padahal dia melihat kereta itu belum berangkat sewaktu dia tiba di stasiun waktu dia turun dari kereta sebelumnya. Gara-gara keteledorannya ini dia terpaksa mengeluarkan duit sekian juta untuk perjalanan ke Edinburg yang tidak menawarkan potongan harga untuk trip mendadak, kecuali pesan jauh hari. Juga kisah lucu berbau kriminal karena salah ambil mobil sewaan yang warna dan betuknya mirip di Bali. Meski harus berurusan dengan polisi tapi untungnya polisi di Bali tidak terlalu curiga mengingat kasus pencurian mobil di Bali sangat jarang terjadi. Tapi tetep aja Tita dan Edo suaminya harus membuat pembatalan BAP yan pasti makan waktu juga.


Belum selesai saya baca buku ini, tapi saya sudah pingin jalan-jalan, atau mengingat–ingat kisah perjalanan saya, yang tentunya belum sebanding dengan Tita (yang ternyata juga merasa masih jauh dibandingkan Riyyani Djangkaru misalnya), dan tentu saja belajar menulis… hehe..

Agus Nur Prawobo is a visual anthropologist working for Etnoreflika.
(this review is copied from here)

matatita di geronimo fm - jogja


beginilah suasana obrolan santai di Kedai 24 Geronimo 106.1 FM, kamis 2 juli 2009, jam 22.00 - 23.00 wib.

dikerjain host-nya geronimo..santi, dkk


berlagak tersipu



geronimo gitu loh...

juru foto : Edography.net

mendaki swayambunath, menemui mata ketiga

Sementara itu, 350 anak tangga menuju puncak tempat stupa bergambar Buddha Eye di Swayambunath dijejali para Buddhis yang hendak melakukan ritual menjelang Tahun Baru Nepal. Di kanan kiri tangga, di lereng-lereng berumput, puluhan ribu orang duduk mengobrol, memakan bekal, bersemedi, melantunkan mantra, atau bahkan meramal nasib.... Sambil tertatih meniti tangga di antara desakan ribuan orang, saya mengagumi eksotisme negeri ini...(TALES from the ROAD hal. 131)
melihat ke atas...uh, masih jauuhhh...


melihat ke bawah...wah, masih beribu orang yang mendaki

melihat ke kanan..ada yang praying together



melihat ke kiri...ada menyantap bekal yang dibawa dari rumah

akhirnya...melihat kota kathmandu dari bukit swayambunath..
the breathaking view of kathmandu