Buat saya, nyopir di Bali itu selalu menakjubkan. Bayangkan, sepanjang jalan disuguhi pemandangan indah, perpaduan antara nature and culture yang membuat mata tak terasa lelah. Belum lagi jalanan yang bebas gronjalan. Hampir semua jalanan di Bali beraspal halus, termasuk yang masuk ke perkampungan. Selain itu juga nggak macet, kecuali di kawasan Kuta. Jadi jarak ratusan kilometer pun ayo aja. Bukan sebuah beban untuk melewatinya.
Menyewa mobil di Bali juga murah dan nggak ribet. Jika di Jogja kita harus meninggalkan Kartu Keluarga C1, KTP, dan sepeda motor berikut STNK-nya sebagai jaminan, di Bali kita bisa menyewa mobil 24 jam tanpa sopir hanya dengan meninggalkan KTP atau menggesek kartu kredit yang di-open sebagai jaminan. Malah, kalau sudah langganan, nggak ninggalin apa-apa pun urusan sewa-menyewa ini tetap lancar.
Saya punya rental langganan yang sudah saya kenal sejak tahun 2001. Saya memutuskan menjadi pelanggan setianya karena semua mobil yang disewakan sudah diasuransikan. Sehingga kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, sudah ada pihak asuransi yang akan membayar klaim. Selain itu jika ada kerusakan mobil di jalan, kita juga bisa minta ganti sewaktu-waktu karena perusahaan itu memiliki mobil yang cukup banyak.
Beberapa hari sebelum terbang ke Bali, biasanya saya sudah mengontak rental langganan untuk memesan mobil. Tentu saja mobil yang paling murah. Katana Rp 100.000 per 24 jam, Karimun Rp 125.000, kalau mau yang fleksibel dengan budget Rp 150.000 bisa milih macem-macem: Avanza, Xenia, Kijang kapsul, atau mobil lain jenis family van. Sehari sebelum keberangkatan, saya akan menginfokan nomor penerbangan dan jadwal mendarat di Bali. Setiba di Bali, di pintu keluar terminal kedatangan sudah ada petugas yang membawa secarik kertas bertuliskan nama saya. Kayak tamu agung aja!
Setelah itu kami akan berjalan ke parkiran, sama-sama mengecek kondisi mobil sebelum beralih tangan. Pihak rental juga akan menyerahkan selembar kertas yang kita tandatangani berisi data tentang mobil yang kita sewa, termasuk beberapa bagian mobil yang mungkin sudah tergores atau penyok. Data ini musti diperhatikan supaya nggak terjadi komplain pada saat kita mengembalikan mobil.
Prosedur mengembalikan mobil ini juga mudah. Segampang saat kita menyewanya. Sehari sebelum mengembalikan, pastikan untuk menelpon pihak rental menginformasikan kapan dan di mana mobil bisa diambil. Biar nggak boros taksi ke Bandara, saya biasa meminta pegawai rental mengambilnya di Bandara 2 jam sebelum keberangkatan pesawat.
Dari sekian kali bawa mobil saat ke Bali, perjalanan yang paling menegangkan adalah saat melintasi kawasan Taman Nasional Bali Barat menjelang tengah malam. Sendiri pula!
Sore itu di bulan Mei 2006 saya meluncur ke Banyuwedang, Bali Barat. Dari Gilimanuk jaraknya sekitar 30 Km arah ke Utara, melewati jalur Gilimanuk – Singaraja. Kalau dari Ngurah Rai mungkin jaraknya hampir 200 Km. Apalagi saya memilih jalur Selatan lewat Tabanan, bukan jalur Utara lewat Bedugul yang katanya lebih cepat. Selain karena nggak hapal jalan, rasanya ngeri aja lewat Bedugul malam-malam. Tahu sendiri kan, Bedugul kan berliku, naik turun gunung begitu.
Saya keluar dari Ngurah Rai dan kawasan Kuta sekitar pukul 17.00 WITA. Menurut perkiraan, Kuta – Banyuwedang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam. Itu berarti saya akan tiba di sana sekitar pukul 20.00. Nggak terlalu malam banget lah. Apalagi Bali Barat kan matahari sorenya lebih awet.
Gara-gara jalur macet di Kerobokan karena ada upacara adat, dua jam kemudian saya baru masuk Tabanan. Dan langit pun mulai gelap. Truk dan bus beriringan melaju lambat ke arah Gilimanuk, membuat laju mobil saya ikutan lambat. Nggak berani mendahului. Selain karena jalanan agak berkelok, terus terang saya agak deg-degan. Membayangkan ban kempes dadakan, radiator muncrat, atau lampu mati membuat saya nggak berani menghentikan kendaraan untuk sekedar beli makan dan numpang pipis. Perut saya mulai terasa keras karena menahan pipis.
Bekal peta Bali yang saya geletakkan di kursi sebelah juga nggak sempet kutengok. Pokoknya melaju aja mengikuti artus truk dan bus malam yang dapat dipastikan menuju ke arah penyeberangan Gilimanuk. Untuk mengenali daerah, saya mengandalkan signboard BRI, Bank Rakyat Indonesia, yang ada di tiap kecamatan. Untuk menghalau ketegangan, saya meminta Bojo sering-sering menelpon ke ponsel. Sekedar untuk memastikan bahwa saya baik-baik di jalan.
Sampai di pertigaan Cekik Gilimanuk, waktu sudah menunjuk sekitar pukul 22.00 WITA. Artinya sudah 5 jam saya melaju. Perjalanan yang harus saya tempuh masih sekitar 11,4 km ditambah 10 menit lagi. Menurut informasi Mas Bayu, dive master dan pengelalo The Bali Pearl yang besok pagi akan saya temui di Teluk Terima. Katanya, lokasi pearl farm yang dikelolanya berjarak kira-kira 11,4 km dari pertigaan Cekik. Sedangkan Mimpi Resort (hotel yang dipesan untuk saya) berjarak hanya sekitar 10 menit dari Teluk Terima. "Kalo lebih dari 10 menit, berarti udah lewat..," katanya.
Dan saya pun membelokkan mobil dari pertigaan Cekik ke arah Utara, menuju Mimpi Resort yang berlokasi di Banyuwedang. Baru beberapa meter melaju, saya sudah merinding. Jalanan begitu gelap gulita, sementara kanan dan kiri jalan hanya pepohonan. Oh my God, bukankah ini memang kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat? Yup, welcome to the jungle, Tita!!!!
Nggak ada satupun mobil yang mendahului atau berjalan di belakangku. Sepanjang jalan saya hanya berpapasan dengan truk-truk yang berjalan lambat karena keberatan muatan. Truk-truk dari arah Bali Utara itu akan menuju ke Gilimanuk dan menyeberang ke Jawa. Sebentar-sebentar saya melirik speedometer, menghitung jarak. Setelah berjarak 11 km saya mencoba menghitung waktu. Katanya, hanya berjarak 10 menit. Tapi, 10 menit itu ditempuh dengan kecepatan berapa ya? Sebagai orang yang awam dengan kawasan ini, saya hanya berani memacu mobil maksimal 60 km/jam.
Lewat dari 10 menit dan saya tak juga menemukan Mimpi Resort. Yang saya temukan hanya signboard Menjangan Resort yang berjarak kira-kira 5 km dari Teluk Terima. Setelah itu kosong, gelap, dan hanya rerimbunan daun di kanan-kiri jalan. Duh Gusti...paringana slamet....
Saya mencoba menelpon Mas Bayu. Apes, ponselnya mati. Sore tadi masih sempat telponan dan dia bilang baru akan meluncur ke Teluk Terima sekitar pukul 20.00 lewat Bedugul. Katanya, ia hanya butuh waktu sekitar 2 jam dari By Pass Simpang Siur, kantornya, menuju Teluk Terima. Mungkin karena sudah biasa dan apal jalan ya.
Lalu saya mencoba menelpon resepsionis Mimpi Resort, menanyakan lokasi. "Yaa, kira-kira dari Menjangan Resort 10 menit. Nanti di kiri jalan ada papan Gawana Novus dan Mimpi Menjangan Resort, lalu masuk kiri," kata petugas resepsionis.
10 menit lagi! Uh, kenapa sih menitan yang dijadikan acuan? Saya nggak ingin mempercayai kata-kata itu. Ini sih nggak beda jauh dengan orang di kampung, setiap ditanya jarak jawabnya begini ”dekat kok, cuman di seberang sana.” Tapi deketnya orang lokal dengan pendatang kan bisa dua tiga kali lipat!
Sempet dua kali saya memutar balik mobil, takut sudah terlewat karena jalanan sangat gelap dan semua papan nama tak berlampu. Alhamdullillah, akhirnya kutemukan juga papan Mimpi Menjangan Resort yang bentuknya sungguh ala kadarnya. Nggak seserius namanya yang berembel-embel Resort. Cuma terbuat dari papan kecil yang sama sekali nggak eye-catching.
Segera saya belokkan mobil ke jalanan yang sempit, gelap, dan berbatu. Repotnya begini nih, menginap di resor. Nggak ada resor yang lokasinya di pinggir jalan dan mudah diakses. Dalam hati saya menyesal menuruti hasrat menginap di resor dengan tarif spesial. (Berkat jasa Mas Bayu saya hanya membayar sekitar 300 ribu perak, dari publish rate US$ 95 untuk kamar termurahnya).
Setelah berjalan di atas jalan tak beraspal itu sepanajng 1 km, terdapat pertigaan kecil yang disepanjang jalan dihiasi cahaya lampu remang. Pasti ini lokasinya. Saya membelokkan mobil dengan lega dan disambut resepsionis yang memelas melihat wajah kuyu saya. Waktu sudah menunjuk pukul 22.55 WITA ketika resepsionis mengantarkan saya ke paviliun romantis yang saya tidurin sendiri tanpa mimpi.
Showing newest posts with label bali. Show older posts
Showing newest posts with label bali. Show older posts
Monday, February 23, 2009
Friday, February 20, 2009
tahun baru yang memalukan (2)
-lanjutan dari tulisan sebelumnya: "tahun baru yang memilukan"
Pergantian tahun 2003 - 2004 lalu saya nikmati di Bali bersama suami, sekalian 2nd wedding anniversary yang jatuh tanggal 5 Januari. Supaya masih bisa ngantor di akhir tahun, kami memilih terbang ke Bali dengan pesawat tanggl 31 Desember siang dan tiba di Ngurah Rai sebelum kemacetan malam pergantian tahun. Kami ingin menghindari kemacetan di kawasan Bali selatan supaya bisa tiba di Ubud sebelum matahari terbenam.
Pesawat mendarat on schedule di Ngurah Rai yang sore itu tampak cerah, secerah wajah kami yang selalu bergairah setiap kali mengunjungi Ubud. Ubud is my mood! Membayangkan bakal mengendari mobil sewaan dari Ngurah Rai ke Ubud lewat by pass sepanjang pantai timur Bali, membuat saya kian nggak sabar keluar dari bandara. Di depan pintu terminanl kedatangan pegawai rental mobil langganan saya pasti sudah menanti, untuk menyerahkan kunci dan STNK. Dalam sesaat mobil pun siap kami ambil alih.
Tapi antrian bagasi membuat kami harus sedikit menahan sabar. Rupanya banyak orang yang pengin menikmati akhir tahun di Bali, sehingga penumpang Garuda siang itu cukup padat. Saya menunggu di dekat pintu keluar, sembari memberi isyarat pada pegawai rental untuk menunggu karena Bojo masih mengantri bagasi. Setelah beberapa saat menunggu, Bojo nggak juga nongol, sementara satu persatu penumpang sudah mulai keluar dengan barang bawaannya. Lebih dari setengah jam kami menunggu travelbag kami yang berwarna hijau ngejreng takjuga menampakkan diri. "Kok nggak ada ya?" tanya Bojo keheranan ketika saya mendekatinya yang berdiri sendiri di dekat rel bagasi. Semua penumpang lain sudah mendapatkan bagasinya.
Haduh, masak bagasinya ketlingsut. Saya buru-buru menghampiri petugas di loket Lost & Found. "Pak, kok bagasi kami nggak ada ya?".
"Oh ya? Bisa saya lihat nomor bagasinya?" Bojo kemudian menyerahkan tiket yang sudah dilekati stiker nomor bagasi. Petugas itu terkejut. "Lho, ini stiker bagasi penerbangan ke Jakarta!"
Kami berdua ganti yang terkejut. Rupanya petugas check-in di Bandara Adisudcipto salah nempel stiker bagasi, yang seharusnya berkode DPS tapi yang tertempel di tiket saya adalah stiker CGK alias Cengkareng. Jadilah bagasi saya jalan-jalan dulu ke Jakarta. "Jadi gimana, Pak? Apakah bagasi kami bisa hari ini diterbangkan lagi ke Bali atau nunggu besok?" tanya saya sambil membayangkan harus belanja segala pakaian dalam dan perlengkapan mandi untuk sore ini dan besok pagi.
Petugas bandara itu kemudian menghubungi Cengkareng menanyakan apakah pesawat yang membawa bagasi kami sudah mendarat. Ternyata belum! "Begini saja, nanti malam hubungi kami di nomor ini," katanya seraya menuliskan nomor telpon bagian Lost & Found bandara Ngurah Rai. Menurut si Bapak, masih ada beberapa kali flight malam dari Jakarta ke Denpasar, sehingga sangat mungkin bagasi kami bisa dibawa sekalian.
Saya dan Bojo kemudian keluar dari bandara tanpa keceriaan seperti saat turun dari tangga pesawat tadi. Mana sudah begitu langit juga semakin jingga, menandakan sebentar lagi jalanan akan dipenuhi kendaraan. Karena nggak mau mengambil resiko tidak berganti pakaian dalam dan nggak gosok gigi, kami pun memutuskan belanja-belanji dulu. Pakaian dalam, handuk, alat mandi, dan sepotong kaos oblong besok pagi.
Kami juga belum berani meluncur ke Ubud sebelum mendapatkan kabar dari Bandara. Jadilah kami menjadi salah satu dari ribuan orang yang memadati jalanan di kawasan Kuta. Sesuatu yang nggak saya angankan sebelumnya. Mending kalau saya penyuka keramaian, mungkin malah beruntung. Tapi saya ke Bali kan untuk ke Ubud yang tenang dan tentrem.
Kemacetan Kuta sungguh luar biasa. Sementara itu kami nggak ingin beranjak jauh dari Kuta supaya akses balik ke Bandara lebih mudah. Apa boleh buat. Kami pun menjadi orang yang berduka di antara keriaan.
Sekitar jam 9 malam saya kembali menelpon Bandara. Horeee...bagasi itu sudah ada di loket Lost & Found. Kami segera memutar balik mobil dan meluncur dengan girang, meskipun harus menyeruak kemacetan Jl. Kartika Plaza, menuju Bandara. Dalam kondisi normal, dari Kartika Plaza ke Bandara itu cuma 5 menit. Tapi kali ini hampir satu jam mobil kami baru bisa keluar dari kemacetan malam tahun baru. Huh.
Karena sudah kelelahan, kami membatalkan niatan menghabiskan malam tahun baru di Ubud. Besok pagi barulah kami meluncur ke sana. Malam itu kami menikmati kelelahan di sebuah losmen kecil di Denpasar yang nggak terlalu berisik karena pusat kemeriahan berada di kawasan Bali Selatan: Kuta, Legian, Seminyak, Nusa Dua, dan Pantai Sanur.
Terlibat Aksi "Pencurian" Mobil
Tragedi bagasi yang melelahkan dan menghilangkan mood itu rupanya masih berlanjut dengan tragedi lain keesokan harinya setelah kami tiba di Ubud.
Malam itu kami bermaksud keluar makan malam, mencari makan yang nggak fungsional. "Ke Murni's aja ya," ajak membuka pintu mobil sewaan yang kami parkir di tepian jalan. Hari ini memang giliran saya yang nyopir karena kemarin Bojo sudah seharian dihadang macet sampai kaki kirinya pegel-pegel karena nginjak koping melulu. Murni's Warung merupakan resto di pinggir sungai Ayung, tak jauh museum Antonio Blanco. Tempatnya sangat indah, terutama di lantai paling bawah yang persis di bangun di tebing sungai. Suara gemericik air di antara rerimbunan pohon membuat makanan yang disajikan jadi terasa makin nikmat saja.
Belum jauh saya menyetir, tiba-tiba dihadang seorang Polisi yang berboncengan naik motor. Saya terkejut, tapi mencoba tetap tenang karena toh surat-surat saya lengkap. Tapi Pak Polisi itu tidak meminta saya mengeluarkan SIM dan STNK, "Maaf, dari mana Anda mendapat mobil ini?" Pertanyaannya aneh. "Dari rental lah, Pak." Dia masih bertanya, "Rental mobil mana?". Jawab saya, "rental mobil di Sanur, langganan saya."
Pak Polisi itu masih tidak percaya bahwa mobil Katana Putih yang saya pakai adalah mobil rental. "Mari ikut saya," katanya sambil meminta kunci mobil dan saya disuruhnya duduk di jok belakang. Lalu kami dibawa ke kantor Polsek Ubud dalam keadaan bingung. Jangan-jangan mobil yang kami sewa adalah mobil curian ya? Ah, tapi mana mungkin. Rental mobil langganan saya cukup bonafid karena biasa dipakai oleh kantor relasi saya yang notabene adalah perusahaan multinasional. Service yang diberikan rental itu pun sangat bagus, semua mobil berasuransi sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, bisa melakukan klaim asuransi.
Berbagai pertanyaan itu baru terjawab setelah kami tiba di kantor Polsek dan Pak Polisi mencocokkan plat nomor Katana Putih tersebut dengan STNK yang saya kantongi. Oh my Gosh....rupanya nomornya berbeda. Sementara si Bapak yang dibonceng Polisi yang menyetop saya tadi kemudian mengeluarkan STNK dengan nomor yang sama dengan mobil yang saya pakai.
Seketika saya teringat bahwa di pinggir jalan tempat kami memarkir mobil tadi memang ada 2 mobil Katana yang diparkir berjejeran. Dua-duanya sama-sama Katana Putih. Karena bukan mobil milik saya sendiri dan baru sehari menggunakannya, saya kurang mengenali yang mana mobil sewaan saya. Saya juga tidak menghapal plat nomornya. Sehingga asal comot aja. Apalagi kuncinya kontaknya juga langsung masuk. Distater juga langsung jreng. Nah lo!
"Waduh Pak, maaf. Berarti saya salah mengambil mobil Bapak," saya meminta maaf bercampur geli. Untuk memastikan bahwa saya memang salah mengambil mobil dan mobil rentalan saya benar-benar masih ada di depan penginapan, Pak Polisi dan Bojo meluncur untuk mengambilnya. Tak berapa lama mereka datang dengan Katana Putih rentalan. Kami semua mengamati kedua mobil itu yang persih plek.
Saya kembali meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada si pemilik mobil tersebut juga kepada para Polisi di kantor Polsek Ubud yang sudah saya bikin repot di hari pertama tahun 2004. Saya bersalaman mohon maaf dan setelah itu si Bapak membawa pulang kembali mobilnya.
"Tetapi kami harus tetap membuat Pembatalan berita acara kehilangan dulu, Mbak," ujar salah seorang dari mereka. Saya menurut. "Maklum, di Bali jarang terjadi pencurian mobil. Jadi begitu ada kasus, beritanya sudah langsung tersebar ke semua Polsek di wilayah Propinsi Bali," jelasnya. Saya tercengang dan tersadar. Iya yah, bukankah Bali adalah tempat paling aman untuk meninggalkan kendaraan di sembarang tempat. Jangankan Ubud yang masih banyak dihuni penduduk asli Bali, di Kuta dan Legian pun kita bisa meletakkan kendaraan sembarangan sepanjang malam tanpa takut dicuri orang. Eh, sekarang saya malah penjadi oknum pencurinya.
"Dulu kamu pernah bilang, kalau sampai ada pencuri motor atau mobil di Bali, bisa ditebak dia pasti maling dari Jawa," kata Bojo mengingatkan apa yang pernah saya ucapkan beberapa tahun lalu. Dan sering saya ucapkan untuk menegaskan betapa amannya Pulau Bali karena orang Bali tidak akan mencuri. "Dan sekarang terbukti kan apa yang saya bilang?" balas saya nggak mau kalah karena malu. Pencuri mobil di Bali itu, bola-bali ya wong Jowo!
Pergantian tahun 2003 - 2004 lalu saya nikmati di Bali bersama suami, sekalian 2nd wedding anniversary yang jatuh tanggal 5 Januari. Supaya masih bisa ngantor di akhir tahun, kami memilih terbang ke Bali dengan pesawat tanggl 31 Desember siang dan tiba di Ngurah Rai sebelum kemacetan malam pergantian tahun. Kami ingin menghindari kemacetan di kawasan Bali selatan supaya bisa tiba di Ubud sebelum matahari terbenam.
Pesawat mendarat on schedule di Ngurah Rai yang sore itu tampak cerah, secerah wajah kami yang selalu bergairah setiap kali mengunjungi Ubud. Ubud is my mood! Membayangkan bakal mengendari mobil sewaan dari Ngurah Rai ke Ubud lewat by pass sepanjang pantai timur Bali, membuat saya kian nggak sabar keluar dari bandara. Di depan pintu terminanl kedatangan pegawai rental mobil langganan saya pasti sudah menanti, untuk menyerahkan kunci dan STNK. Dalam sesaat mobil pun siap kami ambil alih.
Tapi antrian bagasi membuat kami harus sedikit menahan sabar. Rupanya banyak orang yang pengin menikmati akhir tahun di Bali, sehingga penumpang Garuda siang itu cukup padat. Saya menunggu di dekat pintu keluar, sembari memberi isyarat pada pegawai rental untuk menunggu karena Bojo masih mengantri bagasi. Setelah beberapa saat menunggu, Bojo nggak juga nongol, sementara satu persatu penumpang sudah mulai keluar dengan barang bawaannya. Lebih dari setengah jam kami menunggu travelbag kami yang berwarna hijau ngejreng takjuga menampakkan diri. "Kok nggak ada ya?" tanya Bojo keheranan ketika saya mendekatinya yang berdiri sendiri di dekat rel bagasi. Semua penumpang lain sudah mendapatkan bagasinya.
Haduh, masak bagasinya ketlingsut. Saya buru-buru menghampiri petugas di loket Lost & Found. "Pak, kok bagasi kami nggak ada ya?".
"Oh ya? Bisa saya lihat nomor bagasinya?" Bojo kemudian menyerahkan tiket yang sudah dilekati stiker nomor bagasi. Petugas itu terkejut. "Lho, ini stiker bagasi penerbangan ke Jakarta!"
Kami berdua ganti yang terkejut. Rupanya petugas check-in di Bandara Adisudcipto salah nempel stiker bagasi, yang seharusnya berkode DPS tapi yang tertempel di tiket saya adalah stiker CGK alias Cengkareng. Jadilah bagasi saya jalan-jalan dulu ke Jakarta. "Jadi gimana, Pak? Apakah bagasi kami bisa hari ini diterbangkan lagi ke Bali atau nunggu besok?" tanya saya sambil membayangkan harus belanja segala pakaian dalam dan perlengkapan mandi untuk sore ini dan besok pagi.
Petugas bandara itu kemudian menghubungi Cengkareng menanyakan apakah pesawat yang membawa bagasi kami sudah mendarat. Ternyata belum! "Begini saja, nanti malam hubungi kami di nomor ini," katanya seraya menuliskan nomor telpon bagian Lost & Found bandara Ngurah Rai. Menurut si Bapak, masih ada beberapa kali flight malam dari Jakarta ke Denpasar, sehingga sangat mungkin bagasi kami bisa dibawa sekalian.
Saya dan Bojo kemudian keluar dari bandara tanpa keceriaan seperti saat turun dari tangga pesawat tadi. Mana sudah begitu langit juga semakin jingga, menandakan sebentar lagi jalanan akan dipenuhi kendaraan. Karena nggak mau mengambil resiko tidak berganti pakaian dalam dan nggak gosok gigi, kami pun memutuskan belanja-belanji dulu. Pakaian dalam, handuk, alat mandi, dan sepotong kaos oblong besok pagi.
Kami juga belum berani meluncur ke Ubud sebelum mendapatkan kabar dari Bandara. Jadilah kami menjadi salah satu dari ribuan orang yang memadati jalanan di kawasan Kuta. Sesuatu yang nggak saya angankan sebelumnya. Mending kalau saya penyuka keramaian, mungkin malah beruntung. Tapi saya ke Bali kan untuk ke Ubud yang tenang dan tentrem.
Kemacetan Kuta sungguh luar biasa. Sementara itu kami nggak ingin beranjak jauh dari Kuta supaya akses balik ke Bandara lebih mudah. Apa boleh buat. Kami pun menjadi orang yang berduka di antara keriaan.
Sekitar jam 9 malam saya kembali menelpon Bandara. Horeee...bagasi itu sudah ada di loket Lost & Found. Kami segera memutar balik mobil dan meluncur dengan girang, meskipun harus menyeruak kemacetan Jl. Kartika Plaza, menuju Bandara. Dalam kondisi normal, dari Kartika Plaza ke Bandara itu cuma 5 menit. Tapi kali ini hampir satu jam mobil kami baru bisa keluar dari kemacetan malam tahun baru. Huh.
Karena sudah kelelahan, kami membatalkan niatan menghabiskan malam tahun baru di Ubud. Besok pagi barulah kami meluncur ke sana. Malam itu kami menikmati kelelahan di sebuah losmen kecil di Denpasar yang nggak terlalu berisik karena pusat kemeriahan berada di kawasan Bali Selatan: Kuta, Legian, Seminyak, Nusa Dua, dan Pantai Sanur.
Terlibat Aksi "Pencurian" Mobil
Tragedi bagasi yang melelahkan dan menghilangkan mood itu rupanya masih berlanjut dengan tragedi lain keesokan harinya setelah kami tiba di Ubud.
Malam itu kami bermaksud keluar makan malam, mencari makan yang nggak fungsional. "Ke Murni's aja ya," ajak membuka pintu mobil sewaan yang kami parkir di tepian jalan. Hari ini memang giliran saya yang nyopir karena kemarin Bojo sudah seharian dihadang macet sampai kaki kirinya pegel-pegel karena nginjak koping melulu. Murni's Warung merupakan resto di pinggir sungai Ayung, tak jauh museum Antonio Blanco. Tempatnya sangat indah, terutama di lantai paling bawah yang persis di bangun di tebing sungai. Suara gemericik air di antara rerimbunan pohon membuat makanan yang disajikan jadi terasa makin nikmat saja.
Belum jauh saya menyetir, tiba-tiba dihadang seorang Polisi yang berboncengan naik motor. Saya terkejut, tapi mencoba tetap tenang karena toh surat-surat saya lengkap. Tapi Pak Polisi itu tidak meminta saya mengeluarkan SIM dan STNK, "Maaf, dari mana Anda mendapat mobil ini?" Pertanyaannya aneh. "Dari rental lah, Pak." Dia masih bertanya, "Rental mobil mana?". Jawab saya, "rental mobil di Sanur, langganan saya."
Pak Polisi itu masih tidak percaya bahwa mobil Katana Putih yang saya pakai adalah mobil rental. "Mari ikut saya," katanya sambil meminta kunci mobil dan saya disuruhnya duduk di jok belakang. Lalu kami dibawa ke kantor Polsek Ubud dalam keadaan bingung. Jangan-jangan mobil yang kami sewa adalah mobil curian ya? Ah, tapi mana mungkin. Rental mobil langganan saya cukup bonafid karena biasa dipakai oleh kantor relasi saya yang notabene adalah perusahaan multinasional. Service yang diberikan rental itu pun sangat bagus, semua mobil berasuransi sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, bisa melakukan klaim asuransi.
Berbagai pertanyaan itu baru terjawab setelah kami tiba di kantor Polsek dan Pak Polisi mencocokkan plat nomor Katana Putih tersebut dengan STNK yang saya kantongi. Oh my Gosh....rupanya nomornya berbeda. Sementara si Bapak yang dibonceng Polisi yang menyetop saya tadi kemudian mengeluarkan STNK dengan nomor yang sama dengan mobil yang saya pakai.
Seketika saya teringat bahwa di pinggir jalan tempat kami memarkir mobil tadi memang ada 2 mobil Katana yang diparkir berjejeran. Dua-duanya sama-sama Katana Putih. Karena bukan mobil milik saya sendiri dan baru sehari menggunakannya, saya kurang mengenali yang mana mobil sewaan saya. Saya juga tidak menghapal plat nomornya. Sehingga asal comot aja. Apalagi kuncinya kontaknya juga langsung masuk. Distater juga langsung jreng. Nah lo!
"Waduh Pak, maaf. Berarti saya salah mengambil mobil Bapak," saya meminta maaf bercampur geli. Untuk memastikan bahwa saya memang salah mengambil mobil dan mobil rentalan saya benar-benar masih ada di depan penginapan, Pak Polisi dan Bojo meluncur untuk mengambilnya. Tak berapa lama mereka datang dengan Katana Putih rentalan. Kami semua mengamati kedua mobil itu yang persih plek.
Saya kembali meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada si pemilik mobil tersebut juga kepada para Polisi di kantor Polsek Ubud yang sudah saya bikin repot di hari pertama tahun 2004. Saya bersalaman mohon maaf dan setelah itu si Bapak membawa pulang kembali mobilnya.
"Tetapi kami harus tetap membuat Pembatalan berita acara kehilangan dulu, Mbak," ujar salah seorang dari mereka. Saya menurut. "Maklum, di Bali jarang terjadi pencurian mobil. Jadi begitu ada kasus, beritanya sudah langsung tersebar ke semua Polsek di wilayah Propinsi Bali," jelasnya. Saya tercengang dan tersadar. Iya yah, bukankah Bali adalah tempat paling aman untuk meninggalkan kendaraan di sembarang tempat. Jangankan Ubud yang masih banyak dihuni penduduk asli Bali, di Kuta dan Legian pun kita bisa meletakkan kendaraan sembarangan sepanjang malam tanpa takut dicuri orang. Eh, sekarang saya malah penjadi oknum pencurinya.
"Dulu kamu pernah bilang, kalau sampai ada pencuri motor atau mobil di Bali, bisa ditebak dia pasti maling dari Jawa," kata Bojo mengingatkan apa yang pernah saya ucapkan beberapa tahun lalu. Dan sering saya ucapkan untuk menegaskan betapa amannya Pulau Bali karena orang Bali tidak akan mencuri. "Dan sekarang terbukti kan apa yang saya bilang?" balas saya nggak mau kalah karena malu. Pencuri mobil di Bali itu, bola-bali ya wong Jowo!
Thursday, February 19, 2009
tahun baru yang memilukan (1)
Orang Jawa merayakan tahun baru dengan keprihatinan. Menjelang malam pergantian tahun baru 1 Hijriyah atau yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan malam 1 Suro, banyak orang yang merayakannya dengan lelaku prihatin. Ada yang memilih tempat-tempat sunyi untuk bersemedi, ada yang bertapa sambil berendam dalam sungai, atau mengunjungi tempat perziarahan. Kraton Ngayogyakarta hingga kini juga masih melestarikan tradisi tapa bisu mubeng beteng, yaitu berjalan mengelilingi benteng kraton (4 km) dalam diam tanpa boleh berkata sepatah katapun -apalagi ngobrol- yang dimulai tepat pada tengah malam pergantian tahun.
Selain menjalani lelaku prihatin, sepanjang bulan Suro orang Jawa juga menghindari hal-hal yang menimbulkan keramain seperti pesta pernikahan. Sebaliknya bulan Suro dijadikan sebagai momen untuk berbagai kegiatan spiritual, misalnya mencuci benda-benda pusaka atau mengadakan upacara ruwatan untuk menghindarkan diri dari segala marabahaya. Ibu saya kadang-kadang juga masih membuat Jenang Suran yang saya sendiri nggak paham betul maksudnya selain sebagai salah satu rekreasi kuliner. Karena jenang itu akan dibagi-bagikannya ke tetangga sekitar. Ibu juga sering wanti-wanti agar saya tidak banyak bepergian di selama sasi Suro. Dan saya hanya bisa memakluminya sebagai Ibu yang Jadul, Jawa tempo dulu!

Tradisi Jawa dalam memaknai pergantian tahun yang diwarisi dari pengaruh Hindu ini juga mirip dengan tradisi orang Bali dalam menyambut tahun baru Saka yang lebih dikenal dengan sebutan Nyepi. Iya, nyepi yang benar-benar sepi dan hening. Orang Bali melakukan tapa geni, tak boleh menyalakan api dan lampu selama 24 jam. Aliran listrik akan dipadamkan PLN sejak pukul 24.00 hingga esok malam pukul 24.00. Bandar udara Ngurah Rai yang biasanya tetap sibuk selama 24 jam, harus ikut menghormati tradisi dengan cuti tahunan: tak ada pesawat yang lepas landas dan mendarat selama 24 jam.
Nyepi di Bali maupun menjalani lelaku prihatin di Jawa merupakan refleksi kultural untuk menjernihkan bathin, membersihkan jiwa, sehingga dapat mengisi tahun mendatang dengan lebih baik dari tahun sebelumnya. Target akhirnya sih nggak beda dengan bagaimana tradisi Barat menyongsong datangnya tahun baru Masehi dengan teriakan terompet dan semburan kembang api. Kemeriahan Old and New Party yang dilanjut dengan tradisi membuat resolusi tahun baru, niatnya juga sama-sama untuk mengisi tahun mendatang dengan hal-hal positif yang lebih bermanfaat untuk kehidupan hari depan.
Sebagai orang Jawa modern, saya berusaha menghargai keduanya. Kalau malam 1 Suro, saya dan tetangga berombongan ke Kraton lalu bersama dengan rombongan lain ikut nguri-uri kabudayan Jawa dengan tapa bisu mubeng beteng. Lumayan lah, untuk meluruhkan lemak-lemak. Hehe...! Begitu juga ketika malam pergantian tahun baru, kadang-kadang saya pengin menikmatinya di tempat yang indah, Ubud Bali adalah favorit saya.
Millenium Bug vs John Banting
Menikmati pergantian tahun di Bali ternyata nggak selalu indah. Yang lekat dalam ingatan saya malah beberapa kejadian konyol dari yang memilukan hingga yang memalukan.
Menjelang Milenium 2000 saya mengambil cuti seminggu untuk nyepi di Ubud. Kawasan seniman internasional ini pasti bakal seru menyambut kedatangan tahun milenium. Saya nggak ingin melewatkan minggu-minggu terakhir menjelang persiapan seluruh warga ubud menyambut kemeriahan itu. Karena itu saya sengaja ke Ubud pada minggu terakhir Desember dan akan kembali ke Jogja tepat pada tanggal 1 Januari 2000. "What? Don't you worry about the Y2K problem?" tanya seorang bule Jerman, penyewa kamar sebelah.
Si Jerman itu keheranan dengan jadwal terbang saya pada tanggal 1 Januari 2000, padahal banyak orang mengkawatirkan kekacauan sistem komputerisasi yang juga akan berpengaruh pada skedul penerbangan. Saya cuma nyengir sambil meyakinkan bahwa semuanya akan aman. Lagipula ada tugas mulia yang saya emban dari sebuah radio di Surabaya, yaitu melaporkan suasana tahun baru di Kuta secara on air yang disponsori kartu prabayar Pro-XL. Pada saat itu Pro-XL adalah pelopor kartu seluler yang Bebas Roaming Nasional, meskipun jangkauannya masih Jawa - Bali. Saya juga memiliki kartu bernomor 0818 itu demi memuaskan hasrat traveling bebas roaming, supaya nggak nombok karena ditelponin uruan pekerjaan.
1 Januari 2000 saya check in di Ngurah Rai paling awal, 2 jam sebelum terbang. Biar lebih leluasa bergerak, saya sengaja membagasikan semua barang bawaan kecuali dompet, ponsel, dan bloknote kecil yang masuk ke kantong. Setelah itu saya meluncur ke Kuta yang berjarak hanya 5 menit dari Bandara untuk melaporkan pandangan mata.
Rupanya penyambutan pergantian milenium di Kuta jauh lebih hingar-bingar ketimbang di Ubud. Baliho-baliho bergambar agenda party dari berbagai cafe bertebaran. Sementara di Ubud cuma ada 1 baliho besar di perempatan dekat Puri Ubud. Perayaan tahun baru pun diawali dengan karnaval budaya. Sementara di Kuta, nuansa party yang hedonis jauh lebih kentara. Saya juga menemukan banyak turis lokal berwajah mewah Jakarta berseliweran di Kuta Square. Orang kaya Jakarta rupanya pada tumpah ruwah merayakan pergantian milenium di Kuta, nggak di Ubud kampungnya para seniman.
Merasa banyak mendapat informasi komparatif tersebut, saya pun makin bersemangat melaporkan dengan kartu Pro-XL tentang bagaimana perayaan tahun baru Milenium di dua tempat destinasi wisata di Bali itu. "Nanti sore saya hubungi untuk on air lagi ya," kata sang penyiar mengingatkan. "Tapi saya sudah di Jogja loh, siang ini siap terbang," jawab saya. "Nah, keren tuh. Bisa sekalian melaporkan suasana milenium di Jogja." Dengan senang hati, pikir saya.
Mendarat di Jogja. Ketika mengantri bagasi di Bandara Adisucipto Jogja, tiba-tiba saya diusik rasa gelisah dan was-was. Laptop saya aman di bagasi nggak ya? Kekawatiran menghantui benak saya membayangkan daypack berisi laptop yang dilempar-lempar petugas bagasi bandara. Saya menunggu dengan harap-harap cemas sambil mengutuki kebodohan saya: kenapa tadi daypack-nya juga saya bagasikan ya? Hanya karena pengin ringan melangkah dan tangan bebas melenggang, saya sampai lupa bahwa ada laptop dalam tas ransel kecil itu.
Ketika bagasi saya sudah tampak, saya buru-buru menyergapnya dan membuka, mengambil si lappi. Masih utuh, nggak ada yang retak kok. Amin. Saya pun naik taksi dengan sedikit ayem. Tapi belum sepenuhnya tenang sebelum menyalakannya. Dan begitu menemukan saklar listrik untuk menyalakan laptop yang kehabisan batere, saya langsung lemes melihat layar LCD-nya yang berwarna jingga seperti langit senja!
Nggak ada logo Windows yang ditampilkannya.
Kepala saya langsung berdenyut. Piye iki? Padahal ini adalah laptop pertama yang saya miliki, yang saya beli dengan nyicil potong gaji. Masak usinya nggak sampai setahun sih.
Saya segera menelpon seorang teman yang ngerti urusan hardware komputer. Dia malah tertawa begitu mengetahui kronologis ceritanya. "Ya ampun Ta, orang lain pada heboh kawatir sistem komputernya kacau karena Milenium Bug, laptompmu malah kena John Banting!"
Komentarnya membuat saya nyengir penuh kepiluan.
- to be continued in "tahun baru yang memalukan"-
Selain menjalani lelaku prihatin, sepanjang bulan Suro orang Jawa juga menghindari hal-hal yang menimbulkan keramain seperti pesta pernikahan. Sebaliknya bulan Suro dijadikan sebagai momen untuk berbagai kegiatan spiritual, misalnya mencuci benda-benda pusaka atau mengadakan upacara ruwatan untuk menghindarkan diri dari segala marabahaya. Ibu saya kadang-kadang juga masih membuat Jenang Suran yang saya sendiri nggak paham betul maksudnya selain sebagai salah satu rekreasi kuliner. Karena jenang itu akan dibagi-bagikannya ke tetangga sekitar. Ibu juga sering wanti-wanti agar saya tidak banyak bepergian di selama sasi Suro. Dan saya hanya bisa memakluminya sebagai Ibu yang Jadul, Jawa tempo dulu!

Tradisi Jawa dalam memaknai pergantian tahun yang diwarisi dari pengaruh Hindu ini juga mirip dengan tradisi orang Bali dalam menyambut tahun baru Saka yang lebih dikenal dengan sebutan Nyepi. Iya, nyepi yang benar-benar sepi dan hening. Orang Bali melakukan tapa geni, tak boleh menyalakan api dan lampu selama 24 jam. Aliran listrik akan dipadamkan PLN sejak pukul 24.00 hingga esok malam pukul 24.00. Bandar udara Ngurah Rai yang biasanya tetap sibuk selama 24 jam, harus ikut menghormati tradisi dengan cuti tahunan: tak ada pesawat yang lepas landas dan mendarat selama 24 jam.
Nyepi di Bali maupun menjalani lelaku prihatin di Jawa merupakan refleksi kultural untuk menjernihkan bathin, membersihkan jiwa, sehingga dapat mengisi tahun mendatang dengan lebih baik dari tahun sebelumnya. Target akhirnya sih nggak beda dengan bagaimana tradisi Barat menyongsong datangnya tahun baru Masehi dengan teriakan terompet dan semburan kembang api. Kemeriahan Old and New Party yang dilanjut dengan tradisi membuat resolusi tahun baru, niatnya juga sama-sama untuk mengisi tahun mendatang dengan hal-hal positif yang lebih bermanfaat untuk kehidupan hari depan.
Sebagai orang Jawa modern, saya berusaha menghargai keduanya. Kalau malam 1 Suro, saya dan tetangga berombongan ke Kraton lalu bersama dengan rombongan lain ikut nguri-uri kabudayan Jawa dengan tapa bisu mubeng beteng. Lumayan lah, untuk meluruhkan lemak-lemak. Hehe...! Begitu juga ketika malam pergantian tahun baru, kadang-kadang saya pengin menikmatinya di tempat yang indah, Ubud Bali adalah favorit saya.
Millenium Bug vs John Banting
Menikmati pergantian tahun di Bali ternyata nggak selalu indah. Yang lekat dalam ingatan saya malah beberapa kejadian konyol dari yang memilukan hingga yang memalukan.
Menjelang Milenium 2000 saya mengambil cuti seminggu untuk nyepi di Ubud. Kawasan seniman internasional ini pasti bakal seru menyambut kedatangan tahun milenium. Saya nggak ingin melewatkan minggu-minggu terakhir menjelang persiapan seluruh warga ubud menyambut kemeriahan itu. Karena itu saya sengaja ke Ubud pada minggu terakhir Desember dan akan kembali ke Jogja tepat pada tanggal 1 Januari 2000. "What? Don't you worry about the Y2K problem?" tanya seorang bule Jerman, penyewa kamar sebelah.
Si Jerman itu keheranan dengan jadwal terbang saya pada tanggal 1 Januari 2000, padahal banyak orang mengkawatirkan kekacauan sistem komputerisasi yang juga akan berpengaruh pada skedul penerbangan. Saya cuma nyengir sambil meyakinkan bahwa semuanya akan aman. Lagipula ada tugas mulia yang saya emban dari sebuah radio di Surabaya, yaitu melaporkan suasana tahun baru di Kuta secara on air yang disponsori kartu prabayar Pro-XL. Pada saat itu Pro-XL adalah pelopor kartu seluler yang Bebas Roaming Nasional, meskipun jangkauannya masih Jawa - Bali. Saya juga memiliki kartu bernomor 0818 itu demi memuaskan hasrat traveling bebas roaming, supaya nggak nombok karena ditelponin uruan pekerjaan.
1 Januari 2000 saya check in di Ngurah Rai paling awal, 2 jam sebelum terbang. Biar lebih leluasa bergerak, saya sengaja membagasikan semua barang bawaan kecuali dompet, ponsel, dan bloknote kecil yang masuk ke kantong. Setelah itu saya meluncur ke Kuta yang berjarak hanya 5 menit dari Bandara untuk melaporkan pandangan mata.
Rupanya penyambutan pergantian milenium di Kuta jauh lebih hingar-bingar ketimbang di Ubud. Baliho-baliho bergambar agenda party dari berbagai cafe bertebaran. Sementara di Ubud cuma ada 1 baliho besar di perempatan dekat Puri Ubud. Perayaan tahun baru pun diawali dengan karnaval budaya. Sementara di Kuta, nuansa party yang hedonis jauh lebih kentara. Saya juga menemukan banyak turis lokal berwajah mewah Jakarta berseliweran di Kuta Square. Orang kaya Jakarta rupanya pada tumpah ruwah merayakan pergantian milenium di Kuta, nggak di Ubud kampungnya para seniman.
Merasa banyak mendapat informasi komparatif tersebut, saya pun makin bersemangat melaporkan dengan kartu Pro-XL tentang bagaimana perayaan tahun baru Milenium di dua tempat destinasi wisata di Bali itu. "Nanti sore saya hubungi untuk on air lagi ya," kata sang penyiar mengingatkan. "Tapi saya sudah di Jogja loh, siang ini siap terbang," jawab saya. "Nah, keren tuh. Bisa sekalian melaporkan suasana milenium di Jogja." Dengan senang hati, pikir saya.
Mendarat di Jogja. Ketika mengantri bagasi di Bandara Adisucipto Jogja, tiba-tiba saya diusik rasa gelisah dan was-was. Laptop saya aman di bagasi nggak ya? Kekawatiran menghantui benak saya membayangkan daypack berisi laptop yang dilempar-lempar petugas bagasi bandara. Saya menunggu dengan harap-harap cemas sambil mengutuki kebodohan saya: kenapa tadi daypack-nya juga saya bagasikan ya? Hanya karena pengin ringan melangkah dan tangan bebas melenggang, saya sampai lupa bahwa ada laptop dalam tas ransel kecil itu.
Ketika bagasi saya sudah tampak, saya buru-buru menyergapnya dan membuka, mengambil si lappi. Masih utuh, nggak ada yang retak kok. Amin. Saya pun naik taksi dengan sedikit ayem. Tapi belum sepenuhnya tenang sebelum menyalakannya. Dan begitu menemukan saklar listrik untuk menyalakan laptop yang kehabisan batere, saya langsung lemes melihat layar LCD-nya yang berwarna jingga seperti langit senja!
Nggak ada logo Windows yang ditampilkannya.
Kepala saya langsung berdenyut. Piye iki? Padahal ini adalah laptop pertama yang saya miliki, yang saya beli dengan nyicil potong gaji. Masak usinya nggak sampai setahun sih.
Saya segera menelpon seorang teman yang ngerti urusan hardware komputer. Dia malah tertawa begitu mengetahui kronologis ceritanya. "Ya ampun Ta, orang lain pada heboh kawatir sistem komputernya kacau karena Milenium Bug, laptompmu malah kena John Banting!"
Komentarnya membuat saya nyengir penuh kepiluan.
- to be continued in "tahun baru yang memalukan"-
Tuesday, January 13, 2009
penangkaran mutiara teluk terima - bali
Sejak jaman dulu mutiara telah menjadi perhiasan yang banyak digrandrungi kaum wanita. Mutiara telah menjadi simbol kemewahan dan keanggunan wanita. Bagi sejumlah wanita di kalangan atas, mengenakan untaian kalung mutiara akan menambah rasa percaya diri jika tampil di muka publik. Mutiara memang memiliki daya pikat luar biasa.
Di tingkat dunia, Indonesia dikenal sebagai penghasil mutiara kelas satu. Kualitas mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) hasil budidaya siput unggul belum tersaingi di pasaran dunia. Tersedianya lingkungan perairan yang jernih, berpasir, berterumbu karang, bebas dari pencemaran, serta sepi dari gangguan lalu lintas kapal dan alat-alat transportasi laut lainnya yang menggunakan bahan bakar minyak menjadi syarat utama untuk penangkaran maupun budidaya mutiara.
Teluk Terima di kawasan Taman Nasional Bali Barat merupakan lokasi yang cukup potensial untuk penangkaran mutiara. Sejak tahun 1997 sebagian dari kawasan perairan di Teluk Terima telah dijadikan area penangkaran mutiara oleh PT. Disthi Kumala Bahari pemilik brand mutiara The Bali Pearl. Melalui program Educational Tourism Program yang dikembangkan PT. DKB, kawasan penangkaran mutiara ini kini menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata menarik untuk mengenal mutiara secara lebih mendalam.
Di kawasan ini pengunjung dapat menyaksikan setiap tahap penangkaran mutiara, mulai dari operasi penanaman nucleus ke dalam siput hingga masa panen yang berlangsung sekitar 1,5 – 2 tahun tergantung kondisi air laut. Kondisi air laut memang sangat berperan dalam pertumbuhan mutiara. Tidak ada treatment khusus yang dilakukan, semua sangat tergantung pada alam.
Untuk menjaga kualitas mutiara, tindakan yang bisa dilakukan hanyala meminimalisir stress siput atau kerang. Kerang yang stress akan menghasilkan mutiara berbintik hitam. Semakin banyak bintik hitamnya, apalagi sampai membentuk ring, maka akan semakin rendah pula nilai mutiara tersebut. Cara paling sederhana yang dilakukan adalah dengan mencuci kerang setiap sepuluh hari sekali agar sirkulasi air lebih lancar. Demikian juga penanganan saat panen yang harus hati-hati. Saat meletakkan kerang tidak boleh dengan cara melempar, tetapi dengan cara meletakkannya pelan-pelan.
Mengingat kawasan pengangkaran mutiara ini berada di area perairan yang terbuka, penjagaan kawasan ini pun dilakukan secara ketat. Selama 24 jam penuh patroli oleh polisi bersenjata dilakukan. Tujuannya tidak semata-mata untuk menghindari pencurian, tetapi juga menghalau para pencari ikan yang sering menggunakan sianida yang dapat membunuh bioata laut lainnya.
Nah, jika Anda pecinta perhiasan mutiara, agendakan hari libur Anda untuk mengunjungi penangkaran mutiara di Teluk Terima Bali Barat.
Di tingkat dunia, Indonesia dikenal sebagai penghasil mutiara kelas satu. Kualitas mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) hasil budidaya siput unggul belum tersaingi di pasaran dunia. Tersedianya lingkungan perairan yang jernih, berpasir, berterumbu karang, bebas dari pencemaran, serta sepi dari gangguan lalu lintas kapal dan alat-alat transportasi laut lainnya yang menggunakan bahan bakar minyak menjadi syarat utama untuk penangkaran maupun budidaya mutiara.
Teluk Terima di kawasan Taman Nasional Bali Barat merupakan lokasi yang cukup potensial untuk penangkaran mutiara. Sejak tahun 1997 sebagian dari kawasan perairan di Teluk Terima telah dijadikan area penangkaran mutiara oleh PT. Disthi Kumala Bahari pemilik brand mutiara The Bali Pearl. Melalui program Educational Tourism Program yang dikembangkan PT. DKB, kawasan penangkaran mutiara ini kini menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata menarik untuk mengenal mutiara secara lebih mendalam.
Di kawasan ini pengunjung dapat menyaksikan setiap tahap penangkaran mutiara, mulai dari operasi penanaman nucleus ke dalam siput hingga masa panen yang berlangsung sekitar 1,5 – 2 tahun tergantung kondisi air laut. Kondisi air laut memang sangat berperan dalam pertumbuhan mutiara. Tidak ada treatment khusus yang dilakukan, semua sangat tergantung pada alam.
Untuk menjaga kualitas mutiara, tindakan yang bisa dilakukan hanyala meminimalisir stress siput atau kerang. Kerang yang stress akan menghasilkan mutiara berbintik hitam. Semakin banyak bintik hitamnya, apalagi sampai membentuk ring, maka akan semakin rendah pula nilai mutiara tersebut. Cara paling sederhana yang dilakukan adalah dengan mencuci kerang setiap sepuluh hari sekali agar sirkulasi air lebih lancar. Demikian juga penanganan saat panen yang harus hati-hati. Saat meletakkan kerang tidak boleh dengan cara melempar, tetapi dengan cara meletakkannya pelan-pelan.
Mengingat kawasan pengangkaran mutiara ini berada di area perairan yang terbuka, penjagaan kawasan ini pun dilakukan secara ketat. Selama 24 jam penuh patroli oleh polisi bersenjata dilakukan. Tujuannya tidak semata-mata untuk menghindari pencurian, tetapi juga menghalau para pencari ikan yang sering menggunakan sianida yang dapat membunuh bioata laut lainnya.
Nah, jika Anda pecinta perhiasan mutiara, agendakan hari libur Anda untuk mengunjungi penangkaran mutiara di Teluk Terima Bali Barat.
tajen, sabung ayam bali
Sabung ayam atau tajen nyaris tak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Bali, terutama kaum lelaki. Adanya larangan tajen karena sering dikaitkan dengan judi sejak tahun 1981, memang membuat acara tajen tak lagi dilakukan secara terbuka di wantilan yaitu bangunan tradisional yang umum terdapat di desa. Acara tajen kemudian dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh warga Bali. Namun belakangan, sejak era reformasi, acara tajen diadakan untuk penggalangan dana.
Acara tajen di Bali sudah ada sejak jaman Majapahit. Konon, tajen sangat lekat dengan tradisi tabuh rah, yaitu salah satu upacara dalam masyarakat Hindu Bali. Upacara tabuh rah ini tak ubahnya sebuah upacara persembahan dengan mengorbankan ternak seperti ayam, babi, kerbau, atau hewan peliharaan lain. Persembahan ini dilakukan dengan cara menyembelih bagian leher hewan tersebut. Sebelum upacara persembahan, dilakukan serangkaian upacara, antara lain perang sata yaitu pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Masyarakat Bali percaya bahwa perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.
Tradisi tabuh rah di Bali sering diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya, yaitu upacara suci yang ditujukan untuk menyelaraskan unsur-unsur alam dengan kehidupan manusia. Salah satu upacara Butha Yadnya adalah acara tawur yang diadakan sehari sebelum Nyepi. Dalam acara ini biasaya diadakan pertarungan ayam. Selain itu dalam Prasasti Batur Abang tahun 933 Saka dan Prasasti Batuan tahun 944 Saka juga disebutkan bahwa sabung ayam untuk upacara tabuh rah diperbolehkan, namun bukan untuk berjudi. Jumlah ayam yang boleh disabung pun dibatasi tiga pasang ayam.
Dalam perkembangannya, ritual suci tabuh rah mengalami pergeseran makna. Seni pertarungan ayam yang seru dan mengasyikkan kemudian sering dijadikan ajang berjudi. Kini, banyak bajar (desa) yang menggelar tajen yang biasa disebut tajen terang untuk kepentingan menggalang dana. Setiap desa di Bali memiliki tatacara tersendiri untuk mengatur tajen terang ini, para pecalang pun dilibatkan untuk menjaga keamanan. Dalam tajen terang ini yang diutamakan adalah hiburan, bukan menang atau kalah. Meski demikina, sebelum diadakan acara tajen terang, desa adat terlebih dahulu juga menyelenggarakan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.
Bagaimanapun, keberadaan tajen atau sabung ayam memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali. Karena itu sudah selayaknya jika pemerintah tidak semata-mata membuat larangan, namun mengemas kegiatan ini menjadi atraksi menarik bagi wisatawan.
Acara tajen di Bali sudah ada sejak jaman Majapahit. Konon, tajen sangat lekat dengan tradisi tabuh rah, yaitu salah satu upacara dalam masyarakat Hindu Bali. Upacara tabuh rah ini tak ubahnya sebuah upacara persembahan dengan mengorbankan ternak seperti ayam, babi, kerbau, atau hewan peliharaan lain. Persembahan ini dilakukan dengan cara menyembelih bagian leher hewan tersebut. Sebelum upacara persembahan, dilakukan serangkaian upacara, antara lain perang sata yaitu pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Masyarakat Bali percaya bahwa perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.
Tradisi tabuh rah di Bali sering diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya, yaitu upacara suci yang ditujukan untuk menyelaraskan unsur-unsur alam dengan kehidupan manusia. Salah satu upacara Butha Yadnya adalah acara tawur yang diadakan sehari sebelum Nyepi. Dalam acara ini biasaya diadakan pertarungan ayam. Selain itu dalam Prasasti Batur Abang tahun 933 Saka dan Prasasti Batuan tahun 944 Saka juga disebutkan bahwa sabung ayam untuk upacara tabuh rah diperbolehkan, namun bukan untuk berjudi. Jumlah ayam yang boleh disabung pun dibatasi tiga pasang ayam.
Dalam perkembangannya, ritual suci tabuh rah mengalami pergeseran makna. Seni pertarungan ayam yang seru dan mengasyikkan kemudian sering dijadikan ajang berjudi. Kini, banyak bajar (desa) yang menggelar tajen yang biasa disebut tajen terang untuk kepentingan menggalang dana. Setiap desa di Bali memiliki tatacara tersendiri untuk mengatur tajen terang ini, para pecalang pun dilibatkan untuk menjaga keamanan. Dalam tajen terang ini yang diutamakan adalah hiburan, bukan menang atau kalah. Meski demikina, sebelum diadakan acara tajen terang, desa adat terlebih dahulu juga menyelenggarakan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.
Bagaimanapun, keberadaan tajen atau sabung ayam memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali. Karena itu sudah selayaknya jika pemerintah tidak semata-mata membuat larangan, namun mengemas kegiatan ini menjadi atraksi menarik bagi wisatawan.
perjalanan mistis ke trunyan
Terletak di tepi timur Danau Batur, sekitar 45 menit berperahu dari Kintamani, desa Trunyan yang terpencil ini merupakan salah satu desa Bali Aga atau Bali kuno. Warga Trunyan menyebut diri mereka sebagai Bali Turunan, yaitu orang yang pertama kali turun dari langit dan menempati Pulau Bali. Mereka menyebut penduduk Bali lainnya sebagai Bali Suku yaitu orang-orang berasal dari Jawa (Majapahit). Meski masyarkat Trunyan menganut agama Hindhu, namun mereka memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Hindhu Bali umumnya.
Salah satu tradisi yang menarik perhatian budayawan dan wisatawan adalah ritus kematian. Meskipun sama-sama menganut Hindu, warga Trunyan tidak melakukan upacara pembakaran jenasah. Jenasah kerabat yang meninggal hanya dibaringkan di bawah pohon Taru Menyan tanpa menguburnya. Jenasah hanya ditutup kain putih dan dilindungi dengan pagar dari belahan bambu.
Upacara kematian di Trunyan disebut dengan istilah mepasah. Jenasah dibaringkan di atas lubang yang tak terlalu dalam, bagian atas dibiarkan terbuka. Jumlah liang lahat di area kuburan utama ada sekitar 7 ancak saji atau liang yang digunakan secara bergantian untuk tiap jenasah. Jika semua liang terisi, sementara ada warga yang harus dimakamkan, maka salah satu rangka jenasah dalam liang harus diangkat dan diletakkan di sekitar liang. Tidaklah mengherankan jika di area Sema banyak berserakan tengkorak dan tulang-tulang.
Meskipun jenasah orang Trunyan tidak dikubur dan dibiarkan terbuka, konon tak menyebarkan bau busuk. Masyarakat Trunyan meyakini bahwa bau busuk jenasah telah disedot oleh pohon Taru Menyan. Konon, pohon ini dikenal menebarkan aroma wangi. Dalam mitos masyarakat Trunyan dipercaya bahwa aroma wangi yang ditebarkan pohon Taru Menyan sempat tercium oleh Dewi Danu yang berada di Kahyangan dan kemudian turun ke bumi mencarinya. Setelah menemukannya, daerah di sekitarnya kemudian dinamakan Trunyan.
Masyarakat Trunyan memiliki tiga sema (kuburan). Sema Wayah atau kuburan utama diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar. Sema Muda untuk menguburkan bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang belum menikah. Sedangkan Sema Bantas diperuntukkan warga yang kematiannya tidak wajar, misalnya karena mengalami kecelakaan atau bunuh diri.
Sema Wayah atau kuburan utama telah menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi turis asing. Untuk menuju lokasi ini, pengunjung harus menggunakan sampan menyusuri lereng Bukit Abang di tepi Danau Batur. Sepanjang perjalanan berperahu sampan menuju Sema Wayah, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah barat membentang keindahan alam perbukitan di sekitar Danau Batur yang mempesona, sementara itu di sebelah Timur sebuah altar batu berisi tumpukan tengkorak yang berjejer di bawah rindangnya pohon Taru Menyan mengantar pengunjung ke dalam perjalanan mistis yang tak terlupakan.
Salah satu tradisi yang menarik perhatian budayawan dan wisatawan adalah ritus kematian. Meskipun sama-sama menganut Hindu, warga Trunyan tidak melakukan upacara pembakaran jenasah. Jenasah kerabat yang meninggal hanya dibaringkan di bawah pohon Taru Menyan tanpa menguburnya. Jenasah hanya ditutup kain putih dan dilindungi dengan pagar dari belahan bambu.
Upacara kematian di Trunyan disebut dengan istilah mepasah. Jenasah dibaringkan di atas lubang yang tak terlalu dalam, bagian atas dibiarkan terbuka. Jumlah liang lahat di area kuburan utama ada sekitar 7 ancak saji atau liang yang digunakan secara bergantian untuk tiap jenasah. Jika semua liang terisi, sementara ada warga yang harus dimakamkan, maka salah satu rangka jenasah dalam liang harus diangkat dan diletakkan di sekitar liang. Tidaklah mengherankan jika di area Sema banyak berserakan tengkorak dan tulang-tulang.
Meskipun jenasah orang Trunyan tidak dikubur dan dibiarkan terbuka, konon tak menyebarkan bau busuk. Masyarakat Trunyan meyakini bahwa bau busuk jenasah telah disedot oleh pohon Taru Menyan. Konon, pohon ini dikenal menebarkan aroma wangi. Dalam mitos masyarakat Trunyan dipercaya bahwa aroma wangi yang ditebarkan pohon Taru Menyan sempat tercium oleh Dewi Danu yang berada di Kahyangan dan kemudian turun ke bumi mencarinya. Setelah menemukannya, daerah di sekitarnya kemudian dinamakan Trunyan.
Masyarakat Trunyan memiliki tiga sema (kuburan). Sema Wayah atau kuburan utama diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar. Sema Muda untuk menguburkan bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang belum menikah. Sedangkan Sema Bantas diperuntukkan warga yang kematiannya tidak wajar, misalnya karena mengalami kecelakaan atau bunuh diri.
Sema Wayah atau kuburan utama telah menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi turis asing. Untuk menuju lokasi ini, pengunjung harus menggunakan sampan menyusuri lereng Bukit Abang di tepi Danau Batur. Sepanjang perjalanan berperahu sampan menuju Sema Wayah, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah barat membentang keindahan alam perbukitan di sekitar Danau Batur yang mempesona, sementara itu di sebelah Timur sebuah altar batu berisi tumpukan tengkorak yang berjejer di bawah rindangnya pohon Taru Menyan mengantar pengunjung ke dalam perjalanan mistis yang tak terlupakan.
Friday, February 8, 2008
Luh Sari, bukan nama Bali?

Karena Luh Sari adalah singkatan dari nama lengkap saya, Suluh Pratitasari. Ide ini berasal dari Bapak. Saya masih ingat betul bagaimana Bapak mengusulkan nama samaran itu pada tahun 1986. Waktu itu saya masih SMP dan bersiap berangkat ke Jambore Nasional di Cibubur. Karena di Jamnas nanti bakal ketemu penggalang Pramuka dari seluruh Tanah Air, termasuk Pramuka dari Bali, Bapak lantas menyarankan kalau saya berkenalan dengan rekan-rekan penggalang dari Bali untuk menggunakan nama Luh Sari, supaya dikira orang Bali. “Ah, emoh,” jawab saya spontan karena saya biasa memperkenalkan diri dengan nama Pratita, meskipun sewaku SMP sebagian besar teman sekolah memanggil dengan nama Luh.
Luh, memang bukan sebutan asing buat saya. Almarhum Eyang Kakung (bapaknya Bapak), memanggil saya dengan Luh atau Suluh. Bapak sendiri memanggil Mama, ibu saya, dengan Luh, yang berarti ibunya Suluh. Tradisi ini warisan dari Eyang Kakung, yang biasa memanggil Eyang Putri, istrinya, dengan menggunakan nama anak pertama.Tradisi ini kemudian diikuti oleh putra-putranya Eyang, termasuk Bapak, putra keempatnya. Pakdhe-pakdhe saya juga punya kebiasaan memanggil istrinya dengan nama anak pertama. Tapi Om saya, adik-adiknya Bapak sudah tidak melakukannya lagi.
Tentang nama Luh yang kebali-balian itu, sepertinya memang punya makna khusus bagi orang tua saya. Semasa pacaran, Bapak dan Mama sering berkunjung ke Bali karena kebetulan Eyang (orang tuanya Mama) pernah bertugas di Bali, persisnya di Singaraja, selama 10 tahun. Kalau nggak salah antara tahun 64 – 74, saya kurang tahu persisnya.
Ketika itu Bapak masih tercatat sebagai mahasiswa UGM yang mondok alias ngekos di rumah Eyang di Jogja. Karena kepincut dengan salah satu putri ibu kostnya, yaitu ibu saya, jadilah beberapa tahun menjelang pernikahan (1969), Bapak dan Mama sering bolak-balik ke Bali. Sebenarnya nggak cuma mereka berdua, tapi juga mahasiswa pemondok lainnya. Maklumlah, jaman dulu hubungan antara pemondok dengan induk semangnya masih seperti keluarga sendiri, jadi mereka juga sesekali diajak Eyang ke Bali.
Di Bali, Bapak dan Mama mempunyai sahabat yang sering mereka panggil dengan Mbak Luh. Sejak kecil saya sudah sering mendengar kedua orang tua saya menyebut-nyebut nama Mbak Luh, tanpa tahu nama lengkapnya. Bahkan sewaktu saya dan Mama liburan ke Bali (waktu itu saya masih kelas 1 SMA), Mama juga mampir ke rumah Mbak Luh yang kini tinggal di Denpasar.
Nah, jika kemudian Bapak punya ide membuatkan “username” Luh Sari untuk anaknya, saya jadi mahfum. Pengalaman romantis semasa pacaran di Bali, ingin diabadikan pada saya, yang setelah dewasa ternyata juga kepincut sama Bali (baca: Ubud). Saya sendiri, diam-diam, juga suka menggunakan Luh Sari sebagai usernama untuk login di internet. Hehe...
Tuesday, February 5, 2008
Sunday, December 23, 2007
perempuan2 perkasa di tulamben
saya selalu kagum pada keperkasaan perempuan bali..seberat apapun beban, seakan ringan disungginya..juga 2 tanki oxygen ini..pdhal saya nggendong tanki ini saat mau mentas ke darat udah sempoyongan..baru 3 langkah udah ambyur ke laut lg..eh, mereka dgn perkasanya hilir mudik mjd porter tanki..yah, demi 5000 rupiah per tanki..
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
belajar diving..seruuu..!
akhirnya kesampaian juga niat belajar diving di tulamben bali..mula2 kami berlatih di kolam renang hotel..stl familiar dgn alat barulah nyebur ke laut didampingi instruktur diving..dive trip pertamaku berhasil masuk hingga kedalaman 11 meter..wow..senangnya ketemu ikan aneka warna.. -lg break nih..waiting for the next dive trip to see usa liberty wreck-
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Saturday, December 22, 2007
malam di tulamben
tulamben is a small village in north east bali..a dry and quite village..hanya resort2 dan dive centre yg membuatnya jadi agak hidup. di mlm2 begini hanya terdengar suara ombak, jengkerik, dan kodok. sesekali suara kendaraan melintas. setelah itu sunyi. tak ada yg bisa dilakukan utk mengisi malam di tulamben selain baca buku di kamar hotel yg tak ber-tv. malam jadi terasa panjang tanpa keramaian..
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Subscribe to:
Posts (Atom)
