Showing newest posts with label culture. Show older posts
Showing newest posts with label culture. Show older posts

Thursday, July 9, 2009

rak buku budaya - gramedia


Saya pribadi, memang menganggap travelogue TALES from the ROAD sebagai Etnografi Jalan-jalan. Layaknya seorang antropolog yang melakukan riset di suatu daerah dan kemudian menghasilkan etnografi atau laporan penelitian yang menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat yang ditelitinya, saya pun berharap kegiatan travelling alias jalan-jalan yang saya lakukan juga bisa mendeskripsikan kehidupan sosial budaya daerah yang pernah saya kunjungi. "Buku ini bukan hanya soal travelling," tulis Riyanni Djangkaru, "tetapi juga bisa menambah pengalaman baru bagi pembacanya," tambahnya lagi.

Pengalaman baru yang dimaksud Riyanni -dan tentu saja yang ingin saya sampaikan- antara lain tentang bagaimana saya "megalami" keberagaman budaya itu. Karena ingin "mengalami", setiap kali melakukan perjalanan (baik sambil dinas atau memang karena niat traveling), saya berupaya membangun kedekatan dengan native alias penduduk setempat, mencoba untuk tidak berjarak. Hal ini saya lakukan antara lain dengan memilih alat transportasi umum (angkot, ojek, becak), ke pasar tradisional, dan sokur-sokur bisa mendapat akomodasi yang menyatu dengan rumah tinggal. Karenanya, saya lebih suka menyebut diri saya sebagai the Going Native Traveller.

Meski begitu buku ini belum bisa sepenuhnya dianggap sebagai Etnografi, mengingat kehadiran saya di sana tetaplah sebagai seorang turis, bukan peneliti. Tapi, juga tidak bisa sekedar dianggap sebagai buku traveling biasa -seperti yang dikatakan Riyanni Djangkaru-, karena buku ini tidak semata-mata memberikan informasi tentang destinasi wisata. Seorang rekan saya bilang begini, Matatita itu adalah ambiguitas antara Mata Turis dan Mata Antropolog.

Bagaimana menurut Anda?

(Foto diambil dari Rak Buku Budaya - Gramedia, Sudirman - Yogyakarta)

Tuesday, July 7, 2009

mendaki swayambunath, menemui mata ketiga

Sementara itu, 350 anak tangga menuju puncak tempat stupa bergambar Buddha Eye di Swayambunath dijejali para Buddhis yang hendak melakukan ritual menjelang Tahun Baru Nepal. Di kanan kiri tangga, di lereng-lereng berumput, puluhan ribu orang duduk mengobrol, memakan bekal, bersemedi, melantunkan mantra, atau bahkan meramal nasib.... Sambil tertatih meniti tangga di antara desakan ribuan orang, saya mengagumi eksotisme negeri ini...(TALES from the ROAD hal. 131)
melihat ke atas...uh, masih jauuhhh...


melihat ke bawah...wah, masih beribu orang yang mendaki

melihat ke kanan..ada yang praying together



melihat ke kiri...ada menyantap bekal yang dibawa dari rumah

akhirnya...melihat kota kathmandu dari bukit swayambunath..
the breathaking view of kathmandu

Friday, July 3, 2009

ritual pagi perempuan nepal


Di luar waktu festival, ritual harian warga Nepal yang sebagian besar beragama Hindu dan Buddha ini juga bisa kita nikmati. Tiap pagi, sebelum memulai aktivitas, para perempuan berkain sari (kebanyakan berwarna merah!) melakukan puja (doa) pagi. Mereka berderet membawa piring almunium berisi makanan sesaji untuk dipersembahkan pada dewa di kuil.


Saya amati isi sesaji yang ada di atas piring itu: bunga, telor, snack, nasi, dan aneka makanan lainnya. Tiap-tiap orang memiliki isi piring yang berbeda, sesuai jenis makanan yang dimilikinya di rumah. Seketika saya teringat suasana pagi di Ubud, Bali....(dikutip dari TALES from the ROAD hal. 131)

(lokasi: Bhaktapur, Nepal)

Thursday, July 2, 2009

bisket jatra festival - in bhaktapur NEPAL

Saat saya travelling ke Nepal, saya beruntung bisa berada di antara ribuan atau bahkan ratusan ribu orang yang tengah mengadakan rangkain festival menjelang Nepali New Year. Di Bhaktapur, 13 km dari Kathmandu, rangkaian Nepali New Year dibuka dengan Bisket Jatra Festival yang bertempat di pelataran depan Nyatapola Temple. Festival ini merupakan kompetisi antar dua warga kota Bhaktapur, yaitu kota bagian atas yang terletak di sisi utara Nyatapola Temple dan kota bagian bawah yang terletak di sisi Selatan.

Kompetisi adu kekuatan ini dilakukan dengan menarik chariot atau kereta kayu ukuran raksasa yang beratnya entah berapa ton. Chariot yang diletakkan di pelataran Nyatapla Temple itu kedua sisinya diikat tali tambang untuk menariknya. Semula saya kira kayak lomba tarik tambang, asal udah bergeser dari garis batas berarti udah bisa ditentukan pemenangnya. Ternyata, di festival Bisket Jatra tidak demikian. Kereta kayu itu harus benar-benar berhasil ditarik menuju salah satu kuil di masing-masing wilayah. Jaraknya memang hanya sekitar 200 – 300 meter dari titik start di Nyatapola Temple. Tapi karena yang ditarik kereta yang beratnya berton-ton, sudah begitu di atasnya juga dipenuhi orang, tarik tambang ala Nepal ini pun jadi seru dan berlangsung hingga malam (mulai jam 5 sore sampai lebih dari jam 9 malam).

Puncak dari festival itu, pada malam hari, pihak yang kalah akan marah dan saling melempar batu kerikil. Aksi lempar-lemparan itu berlangsung hingga di lorong-lorong jalan, bikin heboh semua warga kota Bhaktapur. Untung rumah-rumah di Bhaktapur nggak ada yang berjendela kaca. (dikutip dari "Negeri Eksotis" salah satu artikel di buku saya TALES from the ROAD; hal. 130 )




(foto diambil dari lantai paling atas Bhadgaun Restaurant)

Tuesday, June 9, 2009

tentang JUDUL

Kenapa sih judulnya harus pake bahasa Inggris, TALES from the ROAD? Agak susah saya menjawabnya. Jawaban paling sederhana adalah karena judul itu sudah saya gunakan sejak lama di travelblog saya www.matatita.com . Itu pula sebabnya saya menggunakan nama MATATITA dan bukan nama asli saya Suluh Pratitasari untuk buku travelogue ini.

Sementara alasan yang sedikit argumentatif adalah bahwa travelling merupakan aktivitas global, yang berupaya mengunjungi tempat-tempat lain, melewati berbagai batas wilayah dan kebudayaan. Bahasa Inggris (sekalipun ala tarzan) hingga kini masih dinobatkan sebagai bahasa Internasional yang digunakan para pejalan dari berbagai budaya dan bahasa untuk bisa saling berkomunikasi.

Jadi, jika kemudian buku ini menggunakan bahasa Inggris sebagai judul utama dan sub judul yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, bukan dimaksudkan untuk gaya-gayaan atau sok kebarat-baratan apalagi menempatkan bahasa sendiri sebagai kelas dua. Bagi saya, kedua bahasa yang digunakan ini merupakan simbol pertemuan antar dua budaya yang berbeda dan kemudian saling berkompromi, sebagaimana yang biasa dihadapi para traveller ketika menjelajah ke suatu tempat nun jauh dari kampung halamannya.

Thursday, June 4, 2009

endorsement dari wartawan senior TEMPO

Bertanyalah saya pada Editor, "kalau minta endorsement harus ngasih fee atau honor nggak sih?" Dan ternyata tidak ada honor. "Kalau minta Kata Pengantar, baru ada honornya," jawabnya.

Jadi, jika kemudian ada yang bersedia memberikan endorsement untuk buku saya tanpa bayaran, tentulah saya harus menaruh hormat atas penghargaannya. Bayangkan, diantara kesibukannya, mereka harus meluangkan waktu khusus membaca naskah saya yang tebalnya lebih dari 100 hal ketik spasi tunggal. Sudah begitu, nggak hanya satu kalimat yang mereka berikan, malah beberapa paragraf sehingga Editor harus jeli memilih kalimat yang tepat untuk dipajang di cover buku.

Endorsement dari mbak Mardiyah Chamim, misalnya. Direktur Eksekutif TEMPO Instititue yang juga mengelola situs www.acehjourney.net, memberi komentar yang cukup banyak untuk tulisan saya. Saya mendapat forward dari Editor, endorsement utuh yang belum dipilih. Ijinkan saya mengutipnya beberapa bagian ya....

Matatita, pilihan nama yang menarik. Ada kesan kepolosan, kejelian mengeksplorasi hal-hal baru, cerdik, dan sekaligus bermain-main di situ. Ramuan yang jelas dibutuhkan seorang penulis perjalanan –genre penulisan yang belakangan makin digemari. (hihi...bahkan dia mengomentari internet nickname yang kemudian kupake sebagai pesudonim)

Jika ada yang disebut kelemahan, paling-paling hanya karena Jeng Tita terlalu mengikuti gaya bahasa lisan khas Jogja yang kadang agak susah dipahami –terutama buat yang bukan orang Jawa. Namun, kekurangan ini sekaligus juga menjadi kelebihan Tita. Dengan jurus bertutur lincah begini, warna-warni pengalaman Tita menjadi jauh lebih hidup.(nah kan...ketangkep lagi deh jawa-nya saya! emang nggak bisa berbahasa indonesia yang baik...)

Tita membagi bab-bab dalam bukunya secara tematik. Ini jurus yang menarik karena menghindarkan Tita dari kecenderungan menulis itinerary perjalanan yang membosankan. Tema demi tema mengalir lancar, mulai tips praktis bertualang murah, bepergian dengan TKI yang lugu-konyol-mengharukan, sampai ritual menstruasi yang membikin Tita kelimpungan saat menginap di tengah Suku Dayak Benuaq, di pedalaman Kalimantan Timur.(hehe...setelah baca travelogue-ku nemu ide apa mbak?

Terus-terang, buku Tita membuat saya ‘cemburu’.(wwwaaaaa....jadi redaktur senior TEMPO kan malah lebih banyak jajah negara milangkori-ne tho mbak...!)

Endorsement adalah penghargaan tak terkira untuk penulis. Karenanya, sungguh, saya merasa berhutang budi.

(disain biografi penulis by regol...)

Tuesday, January 13, 2009

tajen sabung ayam bali

Sabung ayam atau tajen nyaris tak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Bali, terutama kaum lelaki. Adanya larangan tajen karena sering dikaitkan dengan judi sejak tahun 1981, memang membuat acara tajen tak lagi dilakukan secara terbuka di wantilan yaitu bangunan tradisional yang umum terdapat di desa. Acara tajen kemudian dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh warga Bali. Namun belakangan, sejak era reformasi, acara tajen diadakan untuk penggalangan dana.

Acara tajen di Bali sudah ada sejak jaman Majapahit. Konon, tajen sangat lekat dengan tradisi tabuh rah, yaitu salah satu upacara dalam masyarakat Hindu Bali. Upacara tabuh rah ini tak ubahnya sebuah upacara persembahan dengan mengorbankan ternak seperti ayam, babi, kerbau, atau hewan peliharaan lain. Persembahan ini dilakukan dengan cara menyembelih bagian leher hewan tersebut. Sebelum upacara persembahan, dilakukan serangkaian upacara, antara lain perang sata yaitu pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Masyarakat Bali percaya bahwa perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Tradisi tabuh rah di Bali sering diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya, yaitu upacara suci yang ditujukan untuk menyelaraskan unsur-unsur alam dengan kehidupan manusia. Salah satu upacara Butha Yadnya adalah acara tawur yang diadakan sehari sebelum Nyepi. Dalam acara ini biasaya diadakan pertarungan ayam. Selain itu dalam Prasasti Batur Abang tahun 933 Saka dan Prasasti Batuan tahun 944 Saka juga disebutkan bahwa sabung ayam untuk upacara tabuh rah diperbolehkan, namun bukan untuk berjudi. Jumlah ayam yang boleh disabung pun dibatasi tiga pasang ayam.

Dalam perkembangannya, ritual suci tabuh rah mengalami pergeseran makna. Seni pertarungan ayam yang seru dan mengasyikkan kemudian sering dijadikan ajang berjudi. Kini, banyak bajar (desa) yang menggelar tajen yang biasa disebut tajen terang untuk kepentingan menggalang dana. Setiap desa di Bali memiliki tatacara tersendiri untuk mengatur tajen terang ini, para pecalang pun dilibatkan untuk menjaga keamanan. Dalam tajen terang ini yang diutamakan adalah hiburan, bukan menang atau kalah. Meski demikina, sebelum diadakan acara tajen terang, desa adat terlebih dahulu juga menyelenggarakan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.

Bagaimanapun, keberadaan tajen atau sabung ayam memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali. Karena itu sudah selayaknya jika pemerintah tidak semata-mata membuat larangan, namun mengemas kegiatan ini menjadi atraksi menarik bagi wisatawan.

perjalanan mistis ke trunyan

Terletak di tepi timur Danau Batur, sekitar 45 menit berperahu dari Kintamani, desa Trunyan yang terpencil ini merupakan salah satu desa Bali Aga atau Bali kuno. Warga Trunyan menyebut diri mereka sebagai Bali Turunan, yaitu orang yang pertama kali turun dari langit dan menempati Pulau Bali. Mereka menyebut penduduk Bali lainnya sebagai Bali Suku yaitu orang-orang berasal dari Jawa (Majapahit). Meski masyarkat Trunyan menganut agama Hindhu, namun mereka memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Hindhu Bali umumnya.

Salah satu tradisi yang menarik perhatian budayawan dan wisatawan adalah ritus kematian. Meskipun sama-sama menganut Hindu, warga Trunyan tidak melakukan upacara pembakaran jenasah. Jenasah kerabat yang meninggal hanya dibaringkan di bawah pohon Taru Menyan tanpa menguburnya. Jenasah hanya ditutup kain putih dan dilindungi dengan pagar dari belahan bambu.

Upacara kematian di Trunyan disebut dengan istilah mepasah. Jenasah dibaringkan di atas lubang yang tak terlalu dalam, bagian atas dibiarkan terbuka. Jumlah liang lahat di area kuburan utama ada sekitar 7 ancak saji atau liang yang digunakan secara bergantian untuk tiap jenasah. Jika semua liang terisi, sementara ada warga yang harus dimakamkan, maka salah satu rangka jenasah dalam liang harus diangkat dan diletakkan di sekitar liang. Tidaklah mengherankan jika di area Sema banyak berserakan tengkorak dan tulang-tulang.

Meskipun jenasah orang Trunyan tidak dikubur dan dibiarkan terbuka, konon tak menyebarkan bau busuk. Masyarakat Trunyan meyakini bahwa bau busuk jenasah telah disedot oleh pohon Taru Menyan. Konon, pohon ini dikenal menebarkan aroma wangi. Dalam mitos masyarakat Trunyan dipercaya bahwa aroma wangi yang ditebarkan pohon Taru Menyan sempat tercium oleh Dewi Danu yang berada di Kahyangan dan kemudian turun ke bumi mencarinya. Setelah menemukannya, daerah di sekitarnya kemudian dinamakan Trunyan.

Masyarakat Trunyan memiliki tiga sema (kuburan). Sema Wayah atau kuburan utama diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar. Sema Muda untuk menguburkan bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang belum menikah. Sedangkan Sema Bantas diperuntukkan warga yang kematiannya tidak wajar, misalnya karena mengalami kecelakaan atau bunuh diri.

Sema Wayah atau kuburan utama telah menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi turis asing. Untuk menuju lokasi ini, pengunjung harus menggunakan sampan menyusuri lereng Bukit Abang di tepi Danau Batur. Sepanjang perjalanan berperahu sampan menuju Sema Wayah, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah barat membentang keindahan alam perbukitan di sekitar Danau Batur yang mempesona, sementara itu di sebelah Timur sebuah altar batu berisi tumpukan tengkorak yang berjejer di bawah rindangnya pohon Taru Menyan mengantar pengunjung ke dalam perjalanan mistis yang tak terlupakan.

kasada dan legenda orang tengger

Bagi masyarakat Tengger di kabupaten Probolinggo Jawa Timur, Bromo bukanlah sembarang gunung berapi. Kehidupan kosmologi masyarakat Tengger nyaris tak dapat dipisahkan dari Gunung Bromo. Gunung berapi yang berada di tengah lautan pasir atau segara wedi seluas kurang lebih 9 kilometer ini dalam kepercayaan orang Tengger dianggap sebagai Dewa Brama. Konon, nama Gunung Bromo berasal dari Dewa Brama dalam kepercayaan Hindu. Sementara itu, hubungan antara manusia dan roh halus di Gunung Bromo dapat dilihat dalam upacara Kasada yang rutin dilaksanakan setahun sekali.

Dalam legenda Kasada digambarkan bahwa cikal bakal masyarakat Tengger berasal dari “Joko Seger” dan “Rara Anteng”. Konon, kata Tengger juga diambil dari suku kata terakhir kedua nama pasangan ini, yaitu Rara Anteng dan Joko Seger. Setiap tanggal 14 bulan Kasada dalam sistem penanggalan Tengger, selalu diadakan upacara sesaji kepada roh Dewa Kusuma, putra bungsu Joko Seger dan Rara Anteng yang dijadikan korban untuk menyelamatkan keluarga dan masyarakat Tengger. Sebagai gantinya, setiap tahun roh Dewa Kusuma menginginkan sesaji dari masyarakat Tengger berupa hasil bumi yang dilemparkan ke dalam kawah Gunung Bromo.

Hingga kini masyarakat Tengger masih melangsungkan upacara Kasada. Legenda Rara Anteng dan Joko Seger dikisahkan kembali untuk mengawali rangkaian upacara Kasada kemudian dilanjut dengan berdoa kepada Dewa Gunung Bromo dan Dewa Kusuma yang dipimpin Lurah Dukun Tengger. Setelah itu, pada dini hari, barulah naik ke puncak Bromo dan melempar sesajian ke dalam kawahnya.
Sebelum mengirim sesaji kepada Dewa Kusuma sebagai inti dari upacara Kasada, dalam ritual ini biasanya juga dilangsungkan “pelantikan” bagi calon dukun di Tengger. Dalam upacara yang dikenal dengan istilah “Mulunen” ini calon dukun diwajibkan merapal mantra panjang tanpa putus. Mantra yang diucapkan dalam bahasa Jawa Kuno ini panjangnya hingga 1 jam. Setelah selesai mengucapkan matra, Lurah Dukun akan menanyakan pada dukun-dukun lain yang menguji, “Sah? Sah?” Jika jawabanya “Saahhh…” maka luluslah calon dukun dari ujian pendadaran.
Menghapal puluhan mantra memang syarat utama menjadi Dukun Tengger. Jumlah mantra yang harus dihapalkan oleh dukun mencapai 90 bab. Kehidupan sehari-hari para Dukun Tengger ini tak dapat dipisahkan dari mantra, karena setiap hari selalu ada warga yang datang menyampaikan suatu keinginan yang diteruskan oleh dukun melalui mantra-mantra.
Bagi masyarakat Tengger, keberadaan dukun sebagai pemimpin ritual memang sangat penting. Mereka adalah perantara masyarakat Tengger dengan Hyang Widhi Wasa, Sang Penguasa Jagad. Juga kepada Sang Hyang Brahma yang bersemayam di Gunung Bromo, kepada roh para leluhur, dan Buta Kala. Di tangan mereka pulalah, kelangsungan tradisi Tengger akan terjaga.

SINGKAWANG, indonesia chinese town

Sebuah pepatah mengatakan, kunjungan ke Kalimantan Barat belumlah dianggap sah jika belum singgah ke Singkawang. Kota kecil berjarak sekitar 147 km dari Pontianak ini memang memiliki karakteristik yang unik dan khas. Nuansa negeri oriental yang kental akan terasa begitu memasuki kota Singkawang. Terdapat 38 kelenteng yang mudah dijumpai di tiap ruas jalan dengan warna merah dan kuning yang menyala.
Wajarlah jika kota Singkawang mendapat julukan Kota Seribu Kuil.

Padamulanya Singkawang hanyalah sebuah desa kecil bagian dari wilayah kerajaan Sambas. Namun desa kecil ini cukup ramai karena menjadi tempat transit para pedagang dan penambang emas di daerah Montrada yang terletak di jalur antara Singkawang dan Pontianak. Para penambang emas dan pedagang yang singgal di Singkawang kebanyakan datang dari Cina. Lama kelamaan mereka menetap di desa ini, selain menjadi pedagang dan penambang emas, mereka juga mulai membuka lahan untuk bertani. Hingga akhirnya etnis Tionghoa yang mendiami Singkawang jumlahnya menempati urutan pertama atau sekitar 40.96% dari penduduk Singkawang, selebihnya adalah suku Melayu, Dayak, dan Jawa.

Selain para pedagang, orang Tiongkok atau China yang singgah ke Singkawang umumnya juga memiliki keahlian membuat keramik. Setelah mereka menetap di Singkawang, keahlian membuat keramik juga diwariskan pada keturunannya hingga Singkawang juga dikenal sebagai kota penghasil keramik yang tersohor hingga mancanegara.

Sentra industri keramik khas Singkawang ini terletak di Desa Sakok. Pabrik ini mulai berdiri tahun 1895, pabrik yang pertama didirikan di wilayah Kalimantan Barat. Setidaknya terdapat tujuh usaha keramik tradisional di Singkawang. Proses pembuatan keramik ini masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin pemutar otomatis maupun mesin cetak khusus. Begitu juga dalam pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan alami. Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, industri keramik tradisional di Sakok ini merupakan salah satu yang tersisa di Asia Tenggara, selain yang ditemukan di Filipina.

Selain menghasilkan karya seni bermutu tinggi berupa keramik tradisional, warga etnis Tionghoa di Singkawang juga masih menjunjung tradisi dan nilai-nilai budaya. Saat perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek), di Singkawang diadakan arak-arakan ta-thung yaitu orang yang kemasukan roh dewa atau leluhur. Para ta-thung yang kemasukan roh ini memiliki kekuatan magis yang tidak akan mempan oleh senjata tajam. Konon, tradisi ini sudah mulai punah di negeri China daratan dan hanya dilangsungkan di kantong-kantong budaya di Tibet dan Taiwan. Sementara itu di Singkawang tradisi ini masih berlangsung dan memberikan kemeriahan warga setempat setiap tahun baru Imlek.

How To Get Singkawang
• Kota Singkawang dapat ditempuh dengan jalan darat dari Pontianak, kurang lebih sekitar 2,5 – 3 jam perjalanan. Jangan kawatir, jalan raya menuju Singkawang sudah mulus tak berbatu.
• Jika Anda ingin mengunjungi Singkawang saat perayaan Cap Go Meh, ada baiknya menggunakan jasa travel agen dari Pontianak dan pesanlah tempat jauh-jauh hari sebelumnya. Maklum, seputar imlek tingkat hunian hotel di Singkawang cukup padat. Di samping itu banyak perantau yang pulang kampung ke Singkawang.
• Selain nuansa etnis Tionghoa yang kental, Singkawang juga memiliki sejumlah pantai cantik yaitu Pantai Pasir Panjang berjarak 17 km, Pantai Gosong sekitar 45 km, dan Pantai Batu Payang sekitar 20 km dari kota Singkawang. Pastikan cream tabir surya Anda tak tertinggal!


(I wrote this article for mediahalo telkomsel customer newsletter, pamasuka area)