Showing newest posts with label europe. Show older posts
Showing newest posts with label europe. Show older posts

Monday, July 26, 2010

paris left bank v.s right bank



Jika berlibur ke Paris, kita akan sering mendengar istilah Left Bank dan Right Bank. Tadinya saya pikir sekedar mengacu tepi kiri dan tepi kanan sungai Seine. Ternyata, konon, pengertiannya lebih dari sekedar penunjuk arah. Tapi juga mengacu pada karakteristik kultur kedua wilayah tersebut. Jaman dulu, malah orang-orang yang berasal dari wilayah Left Bank nggak mau disamakan dengan mereka yang berasal dari wilayah Right Bank, begitu pula sebaliknya. Masing-masing merasa punya etos yang berbeda.

Tapi itu jaman dulu banget. Terutama ketika kedua wilayah itu belum disambungkan lewat sejumlah jembatan di atas sungai Seine.

Saat ini kita hanya bisa melihat perbedaan kedua wilayah tersebut lewat karakteristik arsitektur bangunan yang ada di sana. Left Bank atau dalam bahasa Perancis disebut La Rive Gauche, berada di sebelah Selatan sungai Seine. Kawasan ini favorit saya, karena di kawasan inilah para filsuf, penulis, seniman besar bermukim, seperti Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, dan Pablo Picasso. Kawasan orang-orang kreatif ini bernama Latin Quarter.

Menyusuri kawasan nyeni ini membuat saya bisa menghirup aura Paris yang sesungguhnya yaitu sebagai kota seni. Di sepanjang tepi sungai Seine, berderet kios-kios buku kuno, lukisan, maupun benda-benda klasik lainnya. Sayangnya hampir semua buku itu ditulis dalam bahasa Perancis. Padahal saya sudah naksir beberapa buku komik seperti Tintin dan Asterix untuk nambah koleksi.

Satu-satunya toko buku bekas terlengkap yang menjual buku bekas dalam bahasa Inggris adalah toko buku Shakespeare & Company yang terletak di 37 rue de la Bûcherie. Toko buku yang didirikan Sylvia Beach ekspatriat asal Amerika pada tahun 1919 ini sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan dan tempat berdiskusi sastra maupun workshop penulisan. Serunya lagi, Shakespeare & Co terbuka lebar bagi para penulis untuk menginap for free di toko bukunya. Bikin berkhayal jadi penulis kelas dunia nih, sambil membayangkan tidur di kasur yang semua dinding-dindingnya dipenuhi buku koleksi Shakespeare & Co.

Left Bank juga memanjakan saya dengan deretan café-café terbuka, dengan kursi dan meja yang ditata di teras yang bersisian dengan lorong-lorong sempit. Meskipun saya nggak mampu membayar secangkir kopi dan menikmati Paris sambil berlama-lama duduk di sana, saya sudah cukup terhibur menyaksikan orang-orang yang bercengkerama sambil menyeruput kopi hangat. Saya jadi membayangkan jaman dulu ketika para filsuf berdiskusi di café-café seperti ini di Paris.

Berbeda dengan Left Bank yang menurut saya memancarkan kultur klasik Paris yang kuat, maka di Right Bank atau La Rive Droite kita akan melihat Paris modern yang terletak di Utara sungai Seine. Di kalangan wistawan Right Bank cukup popular karena kawasan ini memiliki sejumlah destinasi wisata favorit. Cobalah melongok boulevard Avenue des Champs-Élysées yang terkenal itu. Saya rasa siapaun setuju bahwa Avenue des Champs-Élysées merupakan nama jalan yang paling popular di Paris. Boulevard ini akan berujung di monument Arc de Triomphe yang dibangun atas ide Napoleon pada tahun 1806.

Destinasi wisata lain yang menjadi andalan kawasan Right Bank adalah museum Louvre. Museum yang menyimpan lukisan Mona Lisa karya Leonardo da vinci ini makin banyak dikunjungi wisatawan sejak novel Da Vinci Code karya Dan Brown meledak di pasaran. Berjubal orang mengunjungi Louvre hanya untuk melihat lukisan Mona Lisa, termasuk saya. Dan begitu menemukan lukisan yang terkenal itu, semua pengunjung kecewa. Hiks, ternyata lukisannya keciiilll banget. Sudah kecil yang nonton berjubal pula. Jangan harap bisa berfoto dengan latar Mona Lisa, apalagi traveling sendirian seperti saya. Kecuali jika mau mengantri bergantian yang itu lumayan lama nunggu gilirannya.

Kalau pengin hang out, nongkrong di café dan menikmati lukisan di sejumlah galeri seperti di kawasan Left Bank, saya rasa Montmartre adalah tempatnya. Montmartre terletak di kawasan atas Paris, bahkan bisa dibilang kawasan paling tinggi. Mont dalam bahasa Perancis berarti gunung, seperti mount dalam bahasa Inggris. Lokasi ini agak jauh dari sungai Seine, tapi bisa ditempuh dengan mudah menggunakan Metro, kereta underground.


-temukan kisah tentang Paris lainnya di buku saya "EUROTRIP: safe & fun"-

Monday, July 12, 2010

menikmati sore di akropolis


Akropolis dengan kuil Parthenon yang berdiri megah di atasnya merupakan salah satu alasan jutaan orang yang berkunjung ke Athena. Demikian pula dengan saya, nekat ke sana meski saat itu kondisi politik di Athena sedang memanas. Aksi protes mewarnai kota dilanjut dengan pemogokan massal melumpuhkan Athena. Tapi warisan arkeologis paling spektakuler di Eropa ini selalu mengundang saya saya untuk menyinggahinya. Apa boleh buat, kesempatan tak boleh dilewatkan.


Begitu tiba di hostel dan mandi untuk menyegarkan diri, sore itu saya segera mengayunkan kaki saya ke Akropolis yang dalam bahasa Yunani berarti sebuah tempat di ketinggian. Meski berada di tempat yang tinggi namun berjalan kaki menuju akropolis tidaklah terlalu menguras energi. Malah menyenangkan. Kebetulan hostel tempat saya menginap terletak di kawasan Makrianni, dekat stasiun metro Akropoli, salah satu akses menuju Akropolis.


Pedestrian menuju Akropolis sangat lebar, selebar jalan raya yang tersusun dari batu granit ukuran persegi kecil-kecil yang ditata serapi jalan konblok. Di sisi jalan terdapat sejumlah bangunan berupa café terbuka dan Museum Akropolis. Pada sore hari kawasan ini merupakan area bermain yang menyenangkan bagi anak-anak. Ada yang main lempar-lemparan bola, sepedaan, hingga yang berkerumun menonton pertunjukan sulap dan badut. Ibu-ibu juga banyak yang mendorong baby stroller, menikmati sore di musim semi.


Setelah berjalan kurang lebih 500 meter, saya membelokkan langkah ke kanan, menapak susunan batu-batu pualam. Jalan berundak di bawah pepohonan rindang itu membawa saya ke Herodes Atticus, gedung theatre yang dibangun orang Romawi pada tahun 161 SM dan hingga kini masih sering digunakan untuk konser musik klasik, balet, maupun pertunjukan budaya lain.


Herodes Atticus terletak di sisi Selatan bawah kuil Parthenon. Dinding-dinding gedung theatre ini tersusun dari balok-balok batu cadas putih dengan ceruk-ceruk lengkung khas arsitektur Romawi. Bangunan ini akan mengingatkan saya pada Colosseum di Roma dan Arena di Verona, hanya saja tidak melingkar. Bangunan ini tersambung ke Theater Dionysious, theater batu pertama yang dibuat pada tahun 342 SM oleh Lykourgos yang juga digunakan sebagai arena permainan gladiator pada masa Romawi.


Lalu saya menyusur jalan di sisi Herodes Atticus yang berupa lantai pualam. Saya takjub menapakinya. Baru kali ini saya berjalan di perbukitan yang berlantai marmer. Jalan marmer ini menuntun saya ke pintu gerbang memasuki kompleks kuil Parthenon. Ketika saya akan membeli tiket, petugas mengingatkan bawha pintu akan ditutup 30 menit lagi (tutup pukul 19.00). Terpaksa saya memilih untuk tidak membeli karcis sambil berharap semoga besok saya masih punya waktu untuk kembali. Sebab, nggak mungkin rasanya saya mengeksplor kompleks Parthenon hanya dalam waktu 30 menit.


Untuk mengobati kekecewaan menengok kuil Parthenon yang dibangun dari batu pualam persembahan untuk Dewi Athena, saya naik ke bukit batu Aeropagos. Dari atas bukit terjal berbatu-batu ini Parthenon terlihat dengan jelas. Jika melihat ke bawah tampak kota Athena yang padat. View yang cantik. Saya pun memutuskan duduk-duduk di atas bebatuan itu untuk beberapa saat, sambil menikmati matahari yang mulai condong ke barat dan angin sore yang menyegarkan.


Ketika turun dari bukit Aeropagos, langit mulai berwarna jingga tanda senja sebentar lagi tiba. Jam di pergelangan saya menunjuk angka 8 malam. Saatnya kembali ke hostel, mengistirahatkan badan supaya esok bisa melanjutkan dengan wisata arkeologis yang lain.


Ancient Agora merupakan pusat kota Athena pada masa Sokrates dan Plato masih hidup. Kawasan seluas kurang lebih 5 hektar ini juga disebut Forum of Athens, yaitu tempat berkumpulnya banyak orang. Mereka berkumpul untuk mendengarkan pidato di majelis tinggi, berdiskusi politik, atau sekedar mengolah otot membentuk badan. Sisa-sia peninggalan pusat kota ini memang tinggalah reruntuhan. Bahkan tempat bersejarah di mana Sokrates diadili mejelis rakyat karena dianggap subversive pun hanya berupa blok puing-puing dengan papan kecil bertuliskan “People Council Hall”.


Roman Agora. Pada masa kekaisaran Romawi, Agora menjadi pusat perbelanjaan yang ramai. Situs yang dibangun di sebelah timur Ancient Agora ini didirikan pada masa Kaisar Augustus antara abad ke 9 – 11 SM. Warisan arkeologis di kompleks Roman Agora yang menarik dilihat adalah Tower of the Winds (Aerides). Tower setinggi 12 m dengan diameter 8 m ini pada bagian atasnya terdapat relief 8 dewa mata angin, yaitu Boreas (Utara), Kaikias (Timur Laut), Eurus (Timur), Apeliotes (Tenggara), Notus (Selatan), Livas (Barat Daya), Zephyrus (Barat), and Skiron (Barat Laut).


Temple of Zeus Olympian. Konstruksi kuil yang dipersembahkan untuk Dewa Zeus ini mulai dibangun pada abad ke 6 SM. Namun baru terselesaikan pada jaman Romawi di bawah kekuasaan gubernur Hadrian pada abad ke 2 SM atau sekitar 638 tahun kemudian. Kuil ini semula terdiri dari 104 pilar besar yang ukurannya melebihi ukuran pilar standard pada masa itu. Kini hanya tinggal 15 pilar yang masih berdiri serta 16 lainnya yang berserak di sekitarnya.



--selengkapnya tentang athena ada di travelogue eurotrip-ku ya--

Friday, July 9, 2010

Fund Raising ala Trevi Fountain


Sejak jaman Kekaisaran Romawi, Roma merupakan kota yang tak pernah kekurangan air. Pada masa itu sedikitnya dibangun 9 saluran air mengelilingi wilayah Romawi yang jika ditotal panjangnya hingga 415 km. Di beberapa titik kemudian dibangun kolam penampungan air sebanyak 591 kolam dan 39 monumen fountain. Sayangnya ketika Kekaisaran Romawi runtuh, saluran air ini pun terbengkelai dan rusak.


Adalah Paus Nicholas V (1397-1455) yang berinisiatif untuk kembali membangun fountain dengan tujuan menghiasi kota Roma sebagai ibukota umat Kristiani sedunia. Dimulailah dengan membangun saluran air minum Aqua Vergine yang dirancang arsitek Leon Battista Albert. Setelah itu secara bertahap menyusul dibangun fountain. Salah satu dari fountain pertama yang dibangun pada masa Renaissance ini adalah fountain Piazza Santa Maria di Trastevere (1499).


Hingga kini sedikitnya terdapat 280 monumen fountain dengan disain artistic yang spektakuler. Sekedar untuk menyebut beberapa monumen fountain yang menkjubkan antara lain Fontana del Pantheon yang berlokasi di depan Pantheon, Fontana dei Quattro Fiumi rancangan Bernini yang terletak di tengah-tengah Piazza Navona, dan Fontana di Trevi yang merupakan fountain terbesar di Roma dengan tinggi 26 m dan lebar 20 m.


Fontana di Trevi (Trevi Fountain) juga merupakan obyek wisata andalan Roma. Wisatawan yang datang ke Roma selalu menyempatkan mengunjungi Trevi Fountain. Bukan semata karena Trevi Fountain merupakan fountain terindah dan terbesar di Roma, tetapi karena mitos melempat koin yang melegenda itu.


Konon jika kita melempar koin ke kolam itu, niscaya suatu hari akan kembali ke Roma lagi. Maka berloma-lombalah para wisatawan dari berbagai negeri saling melemparkan koin sambil make a wish semoga kembali ke Roma lagi. Nggak Cuma itu, ada mitos lain yang dipercaya terkait dengan lempar-melempar koin ini, yaitu bakal menemukan jodoh dan berlanjut ke pelaminan.


Saya jadi ingat film drama komedi “When in Rome” (2010) yang saya tonton di pesawat Emirates dalam perjalanan ke Paris tempo hari. Film yang dibintangi Kristen Bell (sebagai Beth) ini mengangkat topik tentang mitos asmara di balik koin yang terlempar di Trevi Fountain. Dikisahkan, dalam kondisi agak mabuk dan menenteng botol minuman, Beth yang malam itu hatinya terluka karena melihat cowok idamannya mencium seseorang, lantas mausk ke kolam “fountain of love” dan mengambil beberapa koin yang ada di dasar kolam. Dia baru tahu dari adikknya bahwa jika mengambil koin yang ada di kolam tersebut, maka pelempar koin itu akan jatuh cinta dengan siapapun yang mengambil koinnya. Celakanya, Beth mengambil 5 koin. Dan kelucuan film ini pun dimulai. Beth dikejar-kejar oleh 5 orang yang tak dikenalnya.


Tentu saja koin cinta itu hanyalah mitos. Malah setiap malam ada petugas khusus yang mengumpulkan koin dari kolam untuk kemudian digunakan sebagai subsidi bagi kaum miskin. Tahu nggak, setiap hari sedikitnya terkumpul koin totalnya € 3000. Jika dirupiahkan lebih dari 30 juta, bo!


-kisah lain ttg roma..ada di buku EUROTRIP safe & fun..-

Tuesday, July 6, 2010

verona, kota peristirahatan julius caesar




Saya mulai jatuh cinta pada Verona sejak 30 menit sebelum kereta yang saya tumpangi tiba di stasiun Verona Porta Nuova. Pemandangan di luar jendela kereta membuat saya enggan berpaling. Hamparan bukit-bukit hijau membentang dan rumah-rumah mungil di atas bukit yang dipagari pepohonan, menyiratkan kesejukan dan ketenangan. Keindahan yang membuat saya berandai-andai. Andai saya bisa tinggal di rumah di atas bukit berpagar pepohonan itu…


Siapa sangka, ternyata rumah Laura –host saya di Verona- juga terletak di atas bukit, dikelilingi kebun anggur. Ketika malam itu Laura menjemput saya di stasiun dan membawa saya ke pinggiran kota menuju rumahnya, langit mulai gelap. Hanya kerlip lampu di kejauhan yang nampak, sementara di kanan kiri jalan berliku dan menanjak yang kami lalui tampak gelap. “My house is about 8 km from the city,” kata Laura seolah minta permakluman jika jalan yang dilalui tampak lengang. Dia tidak tahu bahwa diam-diam saya tengah mensyukuri peruntungan ini, menemukan tempat peristirahatan yang tenang jauh dari kebisingan kota.


Esok paginya, saya makin jatuh cinta pada Verona. Begitu membuka pintu keluar dari rumah Laura, saya langsung disambut udara pagi yang segar, matahari yang mulai mengintip, dan pohon-pohon anggur yang hijau. “It’s so..soo..ssooo beautiful place, Laura!” seru saya penuh ketakjuban. Laura tersenyum tanda bahagia karena sudah berhasil menjadi host yang bisa memberikan suguhan pemandangan cantik untuk guest-nya. Lalu ia menyarankan agar saya mengunjungi Castel San Pietro yang berada di puncak bukit agar bisa menikmati kecantikan kota Verona.


Castel San Pietro berada di puncak bukit di tengah kota Verona. Karena saya berjalan kaki mendaki bukit itu, maka saya memilih jalan tikus, sebuah lorong kecil di samping kedai es krim, yaitu Via Botte. Lorong ini khusus pejalan kaki, berupa anak-anak tangga yang diapit dinding-dinding tinggi termpat tinggal warga.


Lumayan bikin ngos-ngosan juga mendakinya. Setiap kaki mengeluh minta diistirahatkan, saya melihat ke bawah dan terhibur oleh pemandangan sekitar. Begitu sampai puncak, di pelatasan Castel San Pietro, hilang sudah segala lelah tergantikan oleh ketakjuban kecantikan Verona dilihat dari atas.


Apa yang saya lihat di bawah sana sungguh indah. Sungai Fiume Adige yang mengalir tenang, membelah kota Verona. Deretan bangunan berjejer rapi di pinggir sungai. Dinding-dinding bangunan berwarna kuning muda, putih, salem, dan orange dengan kotak-kotak jendela kayu tampak kontras berpadu dengan warna coklat genting yang mendominasi view kota Verona dari atas.


Konon, kencantikan Verona sudah dikenal sejak jaman Romawi. Verona menjadi destinasi favorit para bangsawan Romawi jika ingin berekreasi. Bahkan Julius Caesar, juga suka melepaskan kepenatan dengan tinggal selama beberapa hari di negeri jajahannya, Verona.


Enggan rasanya turun ke bawah. Berlama-lama saya nikmati keindahan kawasan yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage ini.


--kutipan dari buku travelogue saya yg siap diterbitkan--

Wednesday, June 30, 2010

St Peter's Square, antara Bernini dan Dan Brown


Ada dua hal yang membuat saya takjub begitu tiba di St Peter’s Square (Piazza San Pietro) atau lapangan Santo Petrus. Pertama, kekaguman saya pada arsitektur Gian Lorenzo Bernini yang mendesain ruang terbuka di depan gereja Basilica (St Peter’s Basilica) ini. Bernini merancang area ini agar dapat menampung orang sebanyak mungkin, sehingga Paus dapat memberkati semua umatnya baik dari tengah façade gereja maupun dari jendela istana Vatikan.


Bernini mengerjakan lapangan Santo Petrus dalam waktu setahun, yaitu pada tahun 1656 hingga 1657 di bawah pengawasan ketat Paus Alexander VII. Renovasi yang dilakukan Bernini adalah menambahkan pilar-pilar yang disusun membentuk setengah lingkaran pada sisi Utara dan Selatan lapangan. Selain itu Bernini juga membangun air mancur (fountain), menggantikan fountain lama, dan meletakkannya segaris dengan tugu obelisk dan pilar. Fountain ini konon adalah fountain terindah di Eropa pada abad ke 17 dan jika kita meminum airnya bisa bikin awet muda.


Rancangan Bernini memberikan karakter yang kuat pada lapangan Santo Petrus. Jika dilihat dari atap dome gereja Basilica, lapangan Santo Petrus terlihat seperti sebuah anak kunci dengan bagian ujungnya yang nyaris menyentuh sungai Tiber. Indah sekali!


Ketakjuban yang kedua adalah pada antrian panjang untuk memasuki gereja Basilika. Dalam rintik hujan, orang-orang setia mengantri sambil memegang payung atau raincoat untuk melindungi diri. Sesaat saya ragu. Hujan-hujan begini, harus ngantri entah berapa jam. Males banget rasanya.


Lalu saya melangkahkan kaki mengelilingi lapangan, menikmati keindahan arsitektur abad 17 karya Bernini dari segala sisi. Tiba-tiba saya teringat Angels & Demons, novel karya Dan Brown. Lapangan Santo Petrus ini termasuk salah satu setting dalam novel best seller tersebut. Hhmm..saya jadi pengin mencari sebuah tanda di lantai lapangan Santo Petrus yang terukir pada balok pualam: West – Ponente.


Imaginasi saya mengembara, membayangkan Langdon dan Vittoria berada di lapangan Santo Perus ini. Mereka menunduk, mengamati batu pualam berbentuk elips yang terpasang diantara batu-batu granit lantai piazza itu. West Ponente atau Angin Barat adalah seraut wajah malaikat yang tengah mendesahkan napas dengan keras. Di batu pualam itu terlihat lima garis hembusan angina yang keluar dari mulut sang malaikat. Kemudian Langdon dan Vittoria terhenyak menyadari petunjuk kedua menuju jalan pencerahan yang dilihatnya pada relief batu pualam itu, yaitu Udara. Langdon akhirnya menemukan sebuah karya Bernini yang berhubungan dengan Udara.


Tapi benarkah batu pualam berelief mata angina itu juga rancangan Bernini? Bernini memang mendapat tugas merancang bangunan piazza atau lapangan Santo Petrus. Tapi ternyata, menurut informasi yang saya temukan di website www.saintpetersbasilica.org dikatakan bahwa batu pualam berelief itu baru ditanam pada tahun 1852 pada masa Paus Pius IX. Itu berarti lebih dari 170 tahun setelah kematian Bernini. Jumlah batu pualam yang tertanam di piazza itu pun tidak hanya satu West Ponente, tapi ada 16 yang ditanam mengelilingi obelisk. Jiiaahh…, ketahuan Dan Brown ngawur. Tapi namanya juga novel, antara fakta dan fiksi boleh dikacaukan.


Di antara batu pualam berelief mata angina (Wind Rose) itu terdapat marmer bertuliskan “Centro del Colonnato” yang merupakan titik tengah antara tugu, fountain, dan pilar. Segera saya injakkan kedua kaki saya di atasnya, lalu saya sapukan pandangan ke depan, ke kiri, dan ke kanan. Jajaran pilar di depan saya tampak simetris karena saya melihatnya dari titik tengah. Cantik sekali!


Dari Centro del Colonnato itu pula, mata saya menangkap antrian yang kian panjang untuk memasuki gereja Basilika. Hujan ternyata tidak menghalangi hasrat mereka untuk melongok bagian dalam gereja yang juga tempat para Paus dimakamkan. Hujan tidak mengurangi kesabaran mereka, tetap rapi dalam antrean. Kenapa saya tidak meniru mereka? Bukankah saya ke Vatikan untuk melihat makam Paus? Saya tersadar dan tergerak melangkah.


(sekedar kutipan dari travelogue "eurotrip" yg sedang saya susun)

Tuesday, June 29, 2010

amsterdam: sex in the city


Begitu memasuki toko-toko souvenir yang berjejer di Damrak, depan stasiun Centraal, saya langsung bisa merasakan aura kota Amsterdam sebagai negeri yang menjunjung tinggi kebebasan gaya hidup. Manekin-manekin berbentuk perempuan telanjang atau mengenakan bra dan g-string warna seronok berjejer-jejer di rak souvenir. Juga manekin pria macho yang memamerkan tubuh bugil berotot, gaya khas kaum gay. Tak ketinggalan beragam kartu remi bergambar porno.


Itulah Amsterdam, kota terbebas di dunia. Julukan ini saya kutip dari liputan Kompas, 3 Mei 2010 yang saya baca sehari sebelum berangkat ke Eropa. Artikel berjudul “Amsterdam Kota Terbebas di Dunia” itu membuat saya sedikiti punya gambaran tentang bagaimana sejarah kebebasan di Amsterdam yang diwarnai dengan mesiu dan gas air mata. Pada tahun 60-an misalnya, pecah gerakan Dolle Mina yang menuntut pil KB sebagai salah satu paket asuransi kesehatan. Kemudian pada tahun 2001, Amsterdam menjadi saksi pernikahan kaum homo pertama di dunia.


Kebebasan itu rupanya juga menjadi atraksi wisata favorit di Amsterdam. Tontonan sekaligus santapan yang legal.


Red Light District (RDL)

Semakin larut malam mengunjungi kawasan ini, justru semakin banyak orang yang lalu lalang. Dan semakin gelap, semakin gemerlap pula jendela-jendela kaca memancarkan sinar lampu kemerahan. Di balik jendela kaca itu, tampak sesosok tubuh molek yang melenggok, mengundang mereka yang lewat untuk singgah, “mampir, maaasss..!”


Red Light District menjadi primadona wisata malam Amsterdam. Konon, pajak yang disumbangkan dari transaksi di kawasan lampu merah ini cukup tinggi. Hitung saja, ada 878 jendela kaca di RDL yang menyala setiap malam. Padahal di balik jendela itu ada sejumlah tubuh-tubuh molek berbagai tipe dan ras yang siap memberikan service sesuai waktu :15 menit, 30 menit, 60 menit, atau lebih. Jika setiap 15 menit tarifnya € 50, hitung sendiri antara kurun waktu dari jam 22.00 – 03.00 berapa euro perputaran uang di sana. Dan sekian persennya adalah tax!


Pasti penasaran pengin mengintip kawasan RLD. Letaknya tak jauh dari kawasan Damrak, sekitar 15 menit jalan kaki dari stasiun Centraal. Berjalanlah menuju gereja Oude Kerk. Kawasan RLD hanya beberapa blok di sekitar gereja tersebut, persisnya di sepanjang kanal Oudezijds Achterburgwal. Jika masih bingung, nggak perlu malu-malu bertanya pada resepsionis hostel untuk menunjukkan arah. RLD bukan barang tabu di negeri Belanda kok.


NOTES

Oh ya, female solo traveler yang pengin mengintip RLD sebaiknya mencari teman barengan, untuk menghindari keisengan dari para pengunjung RLD. Kalau nggak nemu teman barengan, bisa ikutan paket walking tour seharga € 10 selama kurang lebih 2 jam. Paket termasuk kunjungan ke Prostitution Information Centre, Casa Rosso sex theater, sex shops, dll. Tapi kalau pengin jalan sendiri dan tetep aman, ikuti cara saya, menyusur RLD ketika langit masih terang benderang. Haha..!


Sex Museum

Jika di RLD kita bisa menonton tubuh-tubuh molek yang nyaris bugil, maka di Sex Museum kita bisa melihat patung-patung dan lukisan erotik sejak jaman Cleopatra hingga Marilyn Monroe. Isi museum ini berbeda sekali dengan Erotic Museum yang ada di kawasan RLD yang menyajikan erotisme untuk menggugah selera.


Sex Museum bukan museum mesum kok. Menurut saya, meski di museum ini menampilkan beberapa gambar dan patung telanjang, tetapi saya tidak menganggapnya sebagai pornografi. Justru pelajaran tentang sejarah sex dari masa ke masa dijabarkan melalui deskripsi singkat dan koleksi patung dari jaman yang mewakili.


Museum sex pertama di dunia ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1985. Hanya mereka yang berusia di atas 16 tahun yang diijinkan masuk. Buat female solo traveler, museum ini aman dan tidak akan membuat kita merasa risih sendiri. Lokasinya di Damrak 18, tak jauh dari stasiun Centraal. Harga tiket € 4 per orang.


Homomonument

Amsterdam adalah ibu kota bagi kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Perjuangan kaum LGBT memperoleh hak asasi atas perbedaan orientasi seks mereka dilalui dengan rentang waktu yang panjang dan berdarah. Kaum homoseks di negeri Belanda mengalami decriminalized pada tahun 1811 yang diikuti dengan berdirinya bar khusus kaum gay pertama tahun 1927.


Pada masa Perang Dunia II kaum homoseks mengalami siksaan yang berat. Sedikitnya 100.000 homoseks di German dan Belanda ditangkap dan 50.000 lainnya dipenjarakan pada rezim Nazi. Oleh rezim Nazi, kaum homoseks dianggap membahayakan kondisi sosial.


Sebagai wujud solidaritas atas gugurnya para gay dan lesbian pada masa Perang Dunia II, dibangunlah Homomonument di pinggir kanal Keizersgracht pada tahun 1985, setelah melalui diskusi dan perdebatan sejak tahun 1979. Setelah beberapa tahun aktif melakukan kegiatan penggalangan dana, Homomunument akhirnya dapat dibangun. Pemerintah Belanda sendiri menyumbangkan dana sebesar € 50.000.


(sekedar kutipan dari travelogue "eurotrip" yg sedang saya susun)


Monday, June 28, 2010

belgian food

Frites alias French Fries. Kentang goreng Belgia ini tersaji dengan aneka pilihan saus. Yang familiar di lidah saya adalah mayonnaise dan saus tomat. Padahal ada banyak jenis saus lainnya antara lain saus Pili-pili, Andalouse, Coctail, dan Tartare. Tiap kedai Frites kadangkala juga menyajikan saus racikannya sendiri. Entah seperti apa rasa saus itu. Tapi yang jelas, kentang goreng Belgia ini renyah dan mengenyangkan! Kentangnya gede-gede, seporsi kentang ukuran cone sudah terasa menyesakkan perut. Belgian Frites dapat dibeli di kedai-kedai di sekitar Grand Place. Harganya murah, sekitar € 1.50. Kalau dirupiahkan, terasa jauh lebih murah disbanding French fries yang dijual beberapa fast food di Indonesia.

Chocolate. Konon coklat Belgia adalah coklat yang paling enak sedunia, satu peringkat di atas coklat Switzerland. Sejarah coklat Belgia dimulai sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada abad ke 17 ketika Belgia berada dalam jajahan Spanyol. Orang-orang Spanyol konon diyakini sebagai pembawa coklat (cacao) dari habitat asalanya, yaitu di hutan tropis Amerika Selatan. Kenikmatan coklat Belgia dirasakan pertama kali sekitar tahun 1697 ketika ada jamuan makan di Grand Place. Henri Escher Walikota Zurich (Switzerland) sangat terkesan dengan kelezatan secangkir coklat panas yang dihidangkan. Ia pun membawa pulang biji coklat dari Belgia untuk kemudian dikembangkan di Switzerland. Dua negeri ini kemudian dikenal sebagai produsen coklat yang rasanya super nikmat. Di manakah bisa mendapatkan the real Belgian Chocolate di Brussel? Kunjungi beberapa toko dan dapur coklat berikut ini: Chocopolis, Café-Tasse, Chocolaterie-Duval, Leonidas, Neuhaus Chocolate, dan Planete Chocolat.


Waffle. Banyak yang bilang bahwa Belgian Waffle adalah salah satu makanan yang tidak boleh dilewatkan jika mengunjungi Brussel. Waffle sebenarnya bukanlah masakan khas Belgia. Makanan pencuci mulut yang membentuk pola garis-garis persegi ini konon ditemui di sejumlah negara Eropa sejak abad 14, seperti di Inggris, Jerman, Belanda, Belgia, juga Perancis. Hanya saja masing-masing negara memiliki kekhasan. Belgian Waffle biasanya lebih renyah. Ditambah dengan topping saus dan coklat, rasanya jadi khas berbeda dengan waffle dari negara lain. Kedai penjual waffle banyak dijumpai di kota Brussel. Beberapa di antaranya menyatu dengan kedai es krim. Harganya terjangkau dan mengenyangkan, sekitar € 1.80



--sekedar kutipan dari travelogue eurotrip yg sedang saya susun--


Friday, June 11, 2010

venice: napak tilas marco polo


Ada dua petualang asal Venice (Venezia dalam bahasa Italy) yang saya kagumi. Yang pertama Marco Polo, pedagang abad ke 13 yang menjelajah jalur sutra dari Venesia hingga Xanadu, Cina. Kala itu Marco Polo baru 17 tahun ketika mendampingi ayahnya berdagang dan menjalin kerjasama dengan Kublai Khan. Keberanian remaja Marco membuat Khan terpesona dan kemudian mengangkat Marco sebagai pegawai diplomatik kekaisaran. Tugasnya antara lain mengawal putri istana yang akan menikah dengan pangeran Persia. Marco pun kian banyak menjelajahi Asia, melintas gurun dan menyeberangi teluk.


Setelah kurang lebih 24 tahun menjelajah Asia, Marco kembali ke Venesia pada usia 41 tahun. Tiga tahun kemudian, terjadi perang antara Venesia dan Genoa. Marco yang semula menjadi salah satu nahkoda dalam pertempuran itu akhirnya tertangkap dan dipenjarakan. Di penjara ia bertemu dengan Rustichello da Pisa yang menuliskan semua kisah perjalanannya menjelajah Eropa hingga Asia.


Kumpulan tulisan yang kemudian dibukukan dengan judul ll Millione (The Travels of Marco Polo), membuat banyak orang penasaran. Tak sedikit yang mengiranya pembual besar karena kisahnya tentang negeri-negeri aneh yang dikunjunginya. Sementara itu banyak pula penjelajah yang tergoda menyusur jejak Marco Polo.


National Geographic juga secara khusus melakukan penjelajahan ini dengan melibatkan sejumlah penulis dan fotografer andal National Geographic, antara lain Michael Yamashita. Perjalanana napak tilas Mike dari Venice hingga Cina ini diterbitkan dalam buku fotografi berjudul Marco Polo: a Photographer’s Journey. Selain itu National Geographic Channel juga pernah memutar serial “the 24 year odyssey of Marco Polo” yang saya tonton lewat televisi berlangganan.


Penjelajah asal Venesia ke dua yang saya kagumi setelah Marco Polo adalah Francesco da Mosto. Barangkali tidak banyak yang mengenalnya. Saya sendiri baru beberapa tahun ini mengikuti petualangannya di BBC Knowledge Channel. Francesco adalah arsitek, sejarawan, penulis, film maker, dan presenter TV. Sejumlah acara petualangan yang ditayangkan di travel channel yang popular adalah "Francesco’s Mediterranean Voyage, a cultural journey through Mediterranean from Venice to Istanbul". Sebagai seorang arsitek dan sejarawan, Francesco bisa mendeskripsikan setiap tempat yang disinggahinya dengan sangat menarik, lengkap dengan detil seni dan budaya yang tersirat di dalamnya. Saya pun jatuh cinta dengan host berambut putih itu.


Dua petualang itulah yang menginspirasi saya untuk mampir ke Venice, termasuk mencari rumah Maraco Polo.


Ternyata, tidak mudah menemukan rumah sang petualang legendaries ini karena ternyata setiap orang memberi informasi yang berbeda tentang letak rumah Marco Polo. Saya jadi teringat tayangan salah satu episode napak tilas jejak Marco Polo di National Geographic channel. Dalam episode itu, fotografer Mike Yamashita berdiri di depan rumah yang konon dipercaya sebagai rumah Marco Polo. Lalu ia bertanya pada setiap orang yang lewat, “Di mana rumah Marco Polo?”. Ternyata setiap orang memberi jawaban yang berbeda arah. Bahkan ada yang menggeleng tanda tak tahu.


Jadi di mana sebenarnya rumah penjelajah Jalur Sutra ini? Ada yang bilang tak jauh dar Rialto Bridge dan Grand Canal. Di jalan arah Maliban Theatre kita akan ketemu sebuah restoran pizza yang konon adalah rumah Marco Polo. Bangunan lain yang diyakini sebagai rumah keluarga Marco Polo adalah di Corte del Milion. Namun tak jauh dari dari situ ada opera-house yang juga diyakini sebagai tempat tinggal Marco Polo.


Jangan-jangan memang Marco Polo punya banyak rumah ya, kan dia pedagang? saya bertanya-tanya dalam hati. Tapi bisa juga Marco Polo memang pernah tinggal di beberapa rumah, yaitu saat bersama keluarganya sebelum melakukan perjalanan ke Asia, kemudian saat ia kembali ke Venice 24 tahun kemudian, dan setelah keluar dari penjara mungkin juga menempati rumah yang lain. Barangkali.



image: narsis ala self-timer mode on di depan stasiun santa lucia, venice...siap2 napak tilas..hehehe


(sekedar kutipan dari travelogue "eurotrip" yg sedang saya susun)

Sunday, June 6, 2010

milan, benetton, dan saya


Pusat mode dunia, demikian kota ini dijuluki. Sejak abad ke 16 Milan telah berkembang menjadi kota perdagangan barang mewah seperti pakaian, perhiasan, dan barang-barang dari kulit yang wah. Empat abad kemudian, industri tekstil dan fashion mulai berkembang di Milan. Kota ini mencapai keglamorannya sejak tahun 1970. Sejumlah fashion brand kenamaan asal Italia, seperti Gucci, Dolce & Gabanna, Versace, Prada, Armani, dan Valentino hingga kini berkantor pusat di Milan. Sementara itu, hampir semua fashion label internasional membuka toko atau outletnya di Milan.


Tak ayal, kota yang terletak di Italia bagian Utara ini pun menjadi destinasi favorit para model dan perancang busana dari berbagai penjuru dunia. Milan menjadi tempat berburu produk fashion branded favorit mereka. Bagi mereka, ke Italia berarti ke Milan. Berkunjung ke Milan akan menaikkan gengsinya sebagai fashionista.


Saya sendiri punya ketertarikan pada industri fashion Italy, terutama Milan, berawal dari karya foto iklan Oliviero Toscani. Fotografer Italy kelahiran Milan (1942) ini berhasil mendongkrak popularitas produk fashion United Colors of Benetton lewat foto-foto kontroversialnya yang digunakan untuk kampanye iklan pada medio 1980an.


Iklan produk fashion yang mengandalkan unsur warna dalam rancangannya ini cukup unik. Konsep “united colors” ditampilkan melalui model dari berbagai ras: negro berkulit gelap dengan rambut keriting dan bibir tebal, bule berambut blonde, juga wajah asia dengan mata sipit. Issue toleransi, perdamaian, dan respek atas keberagaman dipilih Benetton untuk mengkampanyekan brand-nya.


Pada tahun 1988, iklan multi etnik itu mulai menghiasi majalah-majalah remaja di Indonesia. Kala itu, saya yang mulai menginjak remaja dan lagi belajar centil, akhirnya menjadi salah satu korban iklan Benetton. Setiap hari saya menyisihkan uang saku demi membeli selembar kaos warna ngejreng bertuliskan United Colors of Benetton. Kaos impian itu baru berhasil saya beli tiga tahun kemudian, setelah kuliah dan mulai bisa mencari uang saku tambahan dengan menulis cerpen.


Hingga kini saya masih mengagumi Benetton. Lebih tepatnya mengagumi foto-foto iklannya yang lahir dari ide gila Oliviero Toscani. Kampanye iklan Benetton itu telah banyak mendapat pujian, tetapi di sisi lain juga menimbulkan kontroversi. Kampanye kesetaraan ras yang mengkontraskan kulit hitam dan kulit putih dalam iklan “Breastfeeding” (1989), misalnya, mendapatkan sejumlah penghargaan di Eropa, namun dikecam keras oleh warga Amerika. Barangkali orang Amerika merasa tidak rela jika si bayi yang berkulit putih menyusu pada seorang ibu berkulit hitam yang secara historis merupakan warga kelas embek di Amerika.


Begitu juga iklan yang berjudul “Tongue” (1991) yang menampilkan 3 bocah dengan warna kulit yang berbeda (negro, bule, dan asia) tengah menjulurkan lidah. Pesan yang ingin disampaikan Toscani melalui kampanye ini adalah meskipun bocah-bocah itu memiliki warna kulit yang berbeda, tetapi warna lidah mereka tetap sama. Berbeda-beda tetapi sama saja, begitu kira-kira maksudnya. Iklan ini memenangkan awards di Inggris dan Jerman, namun lagi-lagi mendapat kecaman. Kali ini oleh warga Arab karena dianggap berkonotasi pada pornografi.


Kampanye iklan fashion rancangan dinasti Luciano Benetton yang sarat makna itu memberi kesan yang begitu mendalam dalam ingatan saya. Maka, saya tak ingin melewatkan Milan, kota kelahiran seorang fotografer hebat, Oliviero Toscani. Sekalian mengintip, semodis apakah kota yang dijuluki pusat mode dunia ini?



note:

find more benetton campaign history and ads

Wednesday, May 26, 2010

welcome on board (JOG -> CGK -> DXB -> CDG)


Tepat pukul 00.50 WIB, pesawat Emirates EK 359 mulai bergerak menyusur landasan pacu bandara international Soekarno Hatta, siap terbang menuju Charles De Gaulle Airport (Paris) via Dubai. Di kursi nomor 19H saya duduk merebahkan tubuh gendut saya sambil mengatur sisa-sisa energi yang tersisa.

Dini hari itu, Rabo 5 Mei 2010 terasa sungguh melelahkan. Sejak dua hari menjelang keberangkatan ke Paris, emosi dan energi saya rasanya terkuras habis-habisan. Mula-mula emosi saya teraduk-aduk oleh lamanya pengurusan Visa Schengen. Visa saya dijadwalkan selesai pada tanggal 3 Mei 2010, sehari sebelum saya berangkat ke Jakarta, transit, lalu malamnya dilanjut dengan penerbangan ke Paris. Pada hari yang dijadwalkan itu, saya gelisah menunggu pukul 12.00 – 13.00 WIB yang merupakan jadwal pengambilan Visa di Kedutaan Perancis. Harap-harap cemas saya menanti kabar dari relasi di Jakarta yang siang itu membantu mengambilkan Visa. Lewat beberapa menit dari jadwal pengambilan visa, sebuah SMS singgah di ponsel saya, “Visa belum jadi. Besok disuruh balik lagi…” Whatz…?! Seketika saya langsung diliputi rasa cemas. Jadi berangkat nggak sih?

Sehari sebelum keberangkatan yang mustinya menjadi hari terakhir packing itu justru membuat saya malas-malasan mengemas backpack. Iya kalau besok visanya di-approved, kalau tidak bagaimana dong? Padahal, besok sore (4 Mei 2010) saya sudah punya tiket Garuda yang siap menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta pada pukul 18.30 WIB. Meski begitu toh tetep harus packing juga. Mendingan menyiapkan segala sesuatunya sehingga begitu mendapat approval sudah siap menggendong ransel.

Selepas petang saya menyuplai energi untuk packing dengan makan bakmi goreng kesukaan saya. Anehnya, tak berapa lama setelah perut saya dikenyangkan oleh sepiring bakmi Jawa itu, saya malah merasa mual dan lemas. Lalu berbaring-baringlah saya di kasur mengistirahatkan tubuh sambil membatin, “masih ada hari esok untuk packing kok, kan bawaan saya tidak banyak”. Saya pun ketiduran dan terjaga di tengah malam oleh serangan kontraksi dari dalam perut: semua isinya minta dikeluarkan! Muntah, diare, dan keringat dingin mengucur. Sepanjang malam itu entah berapa kali saya terhuyung-huyung berjalan dari tempat tidur ke toilet.

Esoknya saya baru bisa beranjak dari tempat tidur sekitar pukul 11 siang. Keluar dari kamar saya melihat backpack yang masih terkulai di lantai bersisian dengan beberapa lembar pakaian yang belum sempat di-packing. Ada sisa waktu berapa jam kah untuk mempacking barang-barang ini?

Setelah minum beberapa butir norit untuk menetralkan racun dalam perut, saya menyegarkan diri dengan mandi. Habis mandi dan minum teh manis pasti akan kembali bergairah untuk mempacking ransel. Saat bersiap mandi saya dikejutkan dengan noda darah yang sudah biasa saya lihat setiap bulan. Aaarrrggghhh…kenapa juga ‘dia’ datang di saat lagi berantakan begini? Duh Gusti, paringana kuat…! Semoga nggak pake kejang perut dan pingsan, doa saya. Memang sih, saya sudah jarang-jarang kejang perut saat datang bulan seperti waktu remaja dulu. Tapi, meski nggak separah masa umur under 30, yang namanya datang bulan tetep saja bikin bad mood dan males ngapa-ngapain. Penginnya cuma berbaring-baring nonton channel HBO sambil makan buah segar.

Tapi siang ini saya harus tetep packing, sekalipun masih lunglai karena terkuras akibat keracunan bakmi goreng ditambah mules-mules saat hari pertama datang bulan. Keep in fight, Tita! Saya menyemangati diri sendiri sambil mulai memasukkan pakaian ke dalam ransel.

Di sela-sela packing, ponsel saya menyuarakan dering SMS. “Visa belum jadi. Nanti jam 4 disuruh balik lagi..” HHAAAHH..?! Saya tersentak dan berhenti membaca SMS yang dikirim relasi saya pada tengah hari menjelang jam satu siang. Lalu saya makin terkejut ketika membaca kalimat selanjutnya. Ternyata visa relasi saya yang lain nggak di-approved!

Oh God! Seketika saya lunglai lahir bathin. Sudah badan lagi lemes begini, eh kok ya emosi juga ikut-ikutan diguncang dengan kabar tak menggembirakan. “Trus, kamu berangkat sama siapa?” Tanya Edo ketika saya menyampaikan berita itu. “Ya gimana lagi, terpaksa sendiri…” jawab saya lemas. Bukan berarti saya tak berani jalan sendiri ke Eropa. Bukan itu masalahnya, saya kan sudah biasa ber-solo traveling. Tapi sebagai teman yang sudah merencanakan perjalanan barengan, membooking tiket Emirates secara online bareng-bareng sambil YM!-an, masukin berkas visa di Kedutaan Perancis juga barengan, juga sudah janjian ketemu di Roma, bahkan saya berhasil menghasutnya untuk ikutan bareng sampe Athena karena semula dia berencana kembali ke Paris, saya sungguh prihatin mendengar kabar duka itu.

Pesawat sudah tinggal landas. Lampu tanda sabuk pengaman juga sudah dimatikan. Sebentar lagi pramugari akan membagikan minuman segar dan santapan nikmat. Di kursi nomor 19H saya luruskan punggung sambil menarik napas dalam-dalam.

The business trip must go on, seru saya dalam hati.

my foot step in europe


in PARIS, france


in BRUSSEL, belgium


in AMSTERDAM, the netherland


in MILAN, italy


in VERONA, italy


in VENICE, italy


in ROME, italy

in VATICAN CITY, italy


in ATHENS, greece


Thursday, March 11, 2010

fly with low fare airline

europe part 1
europe part 2

Ada banyak maskapai yang melayani penerbangan internasional dari Jakarta ke Eropa. Dari sekian banyak itu yang cukup populer antara lain Air France, British Airways, KLM, dan Lufthansa. Maskapai kelas atas ini melayani terbang ke hampir semua kota-kota besar di Eropa. Hanya saja, harga tiket yang ditawarkan maskapai Eropa ini juga lumayan aduhai.

Karenanya saya lebih suka melirik maskapai penerbangan asal Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, atau Turkey Airways yang tarifnya lebih murah. Meskipun harga miring tapi layanan tetap prima dan yang lebih penting destinasi kota-kota di Eropa juga tak kalah banyaknya dengan maskapai asal Eropa. Selain alasan tarif, terbang bersama maskapai ini akan membuat saya banyak merenung. Merenungi nasib para TKI yang bekerja di Tanah Saudi. Maklum, maskapai ini sering digunakan agen pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dan kita akan menyaksikan bagaimana rombongan TKI itu digiring untuk ngantri memasuki ruang tunggu sebelum boarding, lalu mereka duduk bergerombol dan nglesot di lantai, dan begitu tiba di Dubai pemandangan serupa makin banyak. Nggak hanya TKI yang baru datang dari Indonesia yang sedang menunggu pesawat lain, tetapi juga TKI yang akan pulang kampung dengan beragam ekspresi menyiratkan kehidupan mereka di Tanah Saudi.

Kebetulan saya pernah terbang dengan Emirates saat ke London tahun 2007 lalu. Sungguh, pengalaman akan selayang pandang merekam perjalanan para TKI ke negeri impian mereka itu sungguh menyentuh emosi terdalam saya. Saya pengin merekamnya lagi, kali ini dengan empati yang lebih dalam.

Itulah sebabnya kenapa Emirates langsung nyantol di kepala saya begitu ada rencana ke Eropa lagi. Sensasi empati terbang bersama TKI dan tarif murah dari Emirates adalah perpaduan yang akan membuat perjalanan saya nggak sekedar untuk hore-hore tetapi juga penuh refleksi. (Amiiinnn...).

Jadilah saya spontan membuka website Emirates untuk menengok adakah tarif promo pada bulan Mei mendatang. HArap-harap cemas saya masukkan nama airport di kota departure - arrival, serta tanggal yang saya kehendaki, dan...horreee super low fare-nya langsung nongol di laptop.

Rupanya tidak hanya Emirates yang menawarkan tarif promo pada tanggal keberangkatan dan kepulangan yang sudah saya tentukan. Qatar Airway juga loh. Malah, kalau saya mengajukan tanggal keberangkatan, masih tersedia low fare yang selisihnya hingga USD 200! Bikin kepala saya mendadak berkeringat, karena bergairah melihat tarif super murah yang ditawarkan. Bayangkan, masak Jakarta - Paris return cuma USD 518?

Tahu nggak, dalam urusan perjalanan, semakin murah tiket yang berhasil kita beli, semakin meningkatlah gengsi kita. Sebaliknya, semakin mahal rupiah yang dibayarkan untuk tiket dengan tujuan yang sama, semakin besar kita menanggung rasa kecewa. Haha...

Untungnya saya segera tersadar bahwa perjalanan saya ke Eropa ini tidak semata-mata dolan, tapi ada urusan gaweyan. Jadi saya tetap memprioritaskan pekerjaan tinimbang tarif promo, meski sebisa mungkin tetap mendapatkan harga tiket hemat.

Kemudian saya melanjutkan pencarian. Setiap hari (bahkan sehari lebih dari sekali) saya mengecek harga tiket sesuai dengan tanggal dan rute yang sudah pasti (mendarat di Paris dan meninggalkan Eropa dari kota Athena, Yunani). Supaya lebih fokus dan nggak terlalu banyak pembanding, saya hanya melongok website Emirates dan Qatar.

Persis dua bulan sebelum keberangkatan, saya menemukan best fare dengan menggunakan Emirates yang lebih murah sekitar USD 130 dibanding Qatar. Selain lebih murah, Emirates juga memiliki pilihan waktu terbang yang memungkinkan connecting flight dari Jogja, kampung halaman saya, ke Jakarta dan sebaliknya tanpa harus menginap di Ibu Kota. Itu berarti, saya bisa hemat waktu dan energi.

Yang lebih seru lagi, Emirates menawarkan dua pilihan waktu terbang menuju Paris dengan transit di Dubai selama 3 jam (tiba di Paris jam 13.30) atau transit 10 jam (tiba di Paris jam 20.10) pada hari yang sama. Sebagai pejalan yang menjunjung tinggi filosofi 'sekali terbang dua tiga negara terlampaui', maka dengan senang hati saya memilih transit 10 jam di Dubai. Alasannya sederhana saja, supaya bisa jalan-jalan dan berfoto narsis dengan latar belakang Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Haha...! (to be continued)