Sekali waktu, singgahlah ke Purwokerto, sisihkan waktu 2 jam saja untuk menikmati wisata kuliner di Kabupaten Banyumas. Kota yang dilintasi jalur Selatan kereta api jurusan Surabaya – Jakarta/Bandung ini tak hanya menyajikan kripik, nopia, dan lanting seperti yang biasa ditawarkan pedagang asongan saat kereta berhenti di stasiun Purwokerto. Aneka makanan khas yan unik dan nikmat tersaji di sepanjang jalan utama di kota Purwokerto. Unik karena penampilan luarnya memang tak sebanding dengan kenikmatan yang menggoda lidah saat mengunyahnya.
Cobalah gethuk goreng. Makanan berbahan dasar singkong yang berbentuk gumpalan-gumpalan warna coklat tua ini sekilas memang tak menarik mata. Semakin kita mengamatinya, semakin enek perut kita dibuatnya. Tetapi, begitu kita mencoba menggigitnya, rasa manis gula Jawa bercampur singkong yang telah dihaluskan membuat mata berkejab merasakan nikmat. Jemari tanganpun tergerak untuk kembali mencomotnya.
Konon, makanan ini diciptakan tanpa sengaja oleh Bapak Sanpirngad, warga kampung Sokaraja pada tahun1918. Suatu ketika Pak Sanpirngad yang sehari-hari berjualan gethuk merasa kebingungan karena dagangan gethuknya tidak laku habis. Karena sisa gethuk itu tidak mungkin dijual lagi, ia pun iseng menggoreng gethuk itu. Rupanya, kreasi masakannya menghasilkan citarasa unik, tak kalah nikmat dari gethuk asli. Jadilah gethuk goreng menjadi jajanan pelengkap selain gethuk asli. Tak disangka, popularitas gethuk goreng jauh lebih melejit, sehingga warga sekitar pun lantas ikut-ikutan membuat gethuk goreng untuk dijual. Sepanjang Jl. Sudirman – Kotaraja, jalan raya yang menghubungkan Purwokerto – Yogyakarta inipun kini padat dengan penjual gethuk goreng. Tentu saja, yang paling nikmat tetap gethuk goreng buatan keturunan Bapak Sanpirngad, yaitu Haji Tohirin yang kemudian membuka toko dengan merek Gethuk Asli sejak tahun 1922.
Tak jauh kawasan pedagang gethuk goreng, sekitar 500 meter, berderet pedagang soto khas Sokaraja. Seperti halnya gethuk goreng, penampilan soto Sokaraja juga tak semenarik citasara yang disajikan. Kekhasan soto Sokaraja terletak pada irisan ketupat sebagai pengganti nasi, juga kuah soto yang bercampur kerupuk dan bumbu kacang yang kental, berbeda dengan kuah soto pada umumnya. Oh ya, kita juga bisa memilih menu dagingnya: ayam atau sapi. Jeroan seperti babat iso juga tersedia.
Namun, mengunjungi Purwokerto memang tak puas sebelum mencicipi mendoan dan membawa oleh-oleh keripik tempe. Jangan kawatir, tak jauh dari stasiun kereta api, tepatnya di Jl. Jend Sutoyo – Sawangan, berderet wajan-wajan penggorengan tempe mendoan yang siap menggoreng mendoan pesanan konsumen. Juga tersedia mendoan mentah termasuk tepung bumbunya yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh selain kripik tempe. Di antara deretan toko kripik, konon toko Echo 21 yang paling banyak dikunjungi pembeli. Kabarnya, dalam sehari lebih dari seribu bungkus tempe terjual.
Nah, dua jam singgah di Purwokerto cukup untuk mencicipi aneka makanan khas Kabupaten Banyumas. Perjalanan siap dilajutkan dengan kereta berikutnya. Kali lain, ajaklah kerabat dan sahabat menikmati wisata kuliner di Purwokerto.
Showing newest posts with label java. Show older posts
Showing newest posts with label java. Show older posts
Wednesday, January 14, 2009
kotagede the hidden charm
Bekas Ibukota Kerajaan Mataram ini mengawali sejarahnya manakala Sultan Hadiwijaya, menghadiahkan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Pada tahun 1575 putra Ki Ageng Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati, menjadikan wilayah ini sebagai Ibukota Kerajaan Mataram. Sebagai sebuah kerajaan Jawa, arsitektur kawasan ini mengacu pada prinsip Catur Gatra Tunggal yang direpresentasikan dengan adanya Kraton, Alun-alun, Masjid, dan Pasar.
Sisa-sisa arsitektur kota kerajaan Islam ini masih dapat kita rasakan dengan mengunjungi Kotagede. Dinding-dinding tinggi, lorong-lorong sempit, suara adzan bersautan, dan hirukpikuk pasar. Menyusuri lorong-lorong Kotagede merupakan perjalanan spirutual yang mengesankan. Di kompleks kawasan Kotagede ini terdapat petilasan Raja Mataram, Panembahan Senopati, yaitu makam para kerabat raja, padepokan, Sendang Selirang, Watu Gilang dan Watu Gatheng.
Makam Raja Mataram di Kotagede dibangun dalam kompleks yang luas. Di dalamnya terdapat 81 makam raja dan kerabat dekatnya. Makam ini dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu saja, yaitu hari Senin dan Kamis mulai pukul 10.00 -12.00 WIB dan pada hari Jumat mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB. Para pengunjung yang hendak melakukan ziarah dan tirakatan diharuskan berendam terlebih dahulu di Sendang Selirang yang letaknya di sebelah selatan makam.
Sendang ini terbagi menjadi dua, yaitu Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan). Kedua sendang ini memiliki sumber mata air yang berbeda. Sumber mata air Sendang Kakung berasal dari mata air tepat di bawah makam yang dialirkan melalui lubang saluran. Banyak ikan yang hidup di sendang ini, antara lain ikan lele putih yang panjangnya hingga 1 meter. Di situ juga terdapat makam kura-kura yang dikeramatkan dan diberi nama Kyai Duda Rejah. Sementara itu mata air Sendang Putri berasal dari sumber di bawah pohon beringin yang terletak di bagian depan jalan menuju kompleks makam.
Tak jauh dari kompleks makam dan sendang, sekitar 300 meter ke arah selatan, terdapat bangunan kecil tempat penyimpanan Watu Gilang dan Watu Gatheng. Batu hitam yang bentuknya menyerupai tempat duduk ini konon dipercaya sebagai dampar (tempat duduk) Panembahan Senopati. Selain itu juga terdapat tiga batu berwarna kuning berbentuk bola (Watu Gatheng). Konon, menurut legenda, batu ini merupakan alat permaianan Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati. Meski batu itu berat, tetapi Raden Ronggo mampu mengangkat dan melempar-lemparkannya sebagai permainan. Legenda ini pula yang kemudian berkembang dan melahirkan mitos jika kita berhasil mengangkat Watu Gatheng, apa yang menjadi keinginan kita dapat terkabul.
Kini, kawasan Kotagede telah berkembang menjadi kawasan wisata sejarah dan budaya yang menarik. Selain dapat mempelajari sejarah kerajaan Mataram pertama, sebelum terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, di Kotagede kita juga dapat menikmati arsitektur rumah tinggal para saudagar keturunan Arab, Jawa, dan Belanda yang dulu tinggal di sana. Rumah-rumah mereka yang khas kini banyak dijadikan sebagai café dan galerry. Tak ketinggalan industri kerajinan perak Kotagede yang indah dan menggoda mata. Kotagede memang kota tua yang menyimpan keindahan.
Sisa-sisa arsitektur kota kerajaan Islam ini masih dapat kita rasakan dengan mengunjungi Kotagede. Dinding-dinding tinggi, lorong-lorong sempit, suara adzan bersautan, dan hirukpikuk pasar. Menyusuri lorong-lorong Kotagede merupakan perjalanan spirutual yang mengesankan. Di kompleks kawasan Kotagede ini terdapat petilasan Raja Mataram, Panembahan Senopati, yaitu makam para kerabat raja, padepokan, Sendang Selirang, Watu Gilang dan Watu Gatheng.
Makam Raja Mataram di Kotagede dibangun dalam kompleks yang luas. Di dalamnya terdapat 81 makam raja dan kerabat dekatnya. Makam ini dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu saja, yaitu hari Senin dan Kamis mulai pukul 10.00 -12.00 WIB dan pada hari Jumat mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB. Para pengunjung yang hendak melakukan ziarah dan tirakatan diharuskan berendam terlebih dahulu di Sendang Selirang yang letaknya di sebelah selatan makam.
Sendang ini terbagi menjadi dua, yaitu Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan). Kedua sendang ini memiliki sumber mata air yang berbeda. Sumber mata air Sendang Kakung berasal dari mata air tepat di bawah makam yang dialirkan melalui lubang saluran. Banyak ikan yang hidup di sendang ini, antara lain ikan lele putih yang panjangnya hingga 1 meter. Di situ juga terdapat makam kura-kura yang dikeramatkan dan diberi nama Kyai Duda Rejah. Sementara itu mata air Sendang Putri berasal dari sumber di bawah pohon beringin yang terletak di bagian depan jalan menuju kompleks makam.
Tak jauh dari kompleks makam dan sendang, sekitar 300 meter ke arah selatan, terdapat bangunan kecil tempat penyimpanan Watu Gilang dan Watu Gatheng. Batu hitam yang bentuknya menyerupai tempat duduk ini konon dipercaya sebagai dampar (tempat duduk) Panembahan Senopati. Selain itu juga terdapat tiga batu berwarna kuning berbentuk bola (Watu Gatheng). Konon, menurut legenda, batu ini merupakan alat permaianan Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati. Meski batu itu berat, tetapi Raden Ronggo mampu mengangkat dan melempar-lemparkannya sebagai permainan. Legenda ini pula yang kemudian berkembang dan melahirkan mitos jika kita berhasil mengangkat Watu Gatheng, apa yang menjadi keinginan kita dapat terkabul.
Kini, kawasan Kotagede telah berkembang menjadi kawasan wisata sejarah dan budaya yang menarik. Selain dapat mempelajari sejarah kerajaan Mataram pertama, sebelum terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, di Kotagede kita juga dapat menikmati arsitektur rumah tinggal para saudagar keturunan Arab, Jawa, dan Belanda yang dulu tinggal di sana. Rumah-rumah mereka yang khas kini banyak dijadikan sebagai café dan galerry. Tak ketinggalan industri kerajinan perak Kotagede yang indah dan menggoda mata. Kotagede memang kota tua yang menyimpan keindahan.
Links to this post
Labels:
archaelogy,
article,
java,
jogja,
situs
| Reactions: |
menelusuri reruntuhan kraton ratu boko
Kompleks Kraton Ratu Boko terletak 2Km arah selatan Candi Prambanan. Tepatnya di perbukitan, antara dusun Dawung dan Sambirejo yang membentang di Jl. Jogja – Piyungan. Mengunjungi situs ini akan lebih menyenangkan jika dilakukan pagi hari atau menjelang sore. Tak ada salahnya menghindari sengatan matahari tropis yang mampu melegamkan kulit kita. Maklum, kawasan seluas 250.000 M2 ini merupakan area terbuka, berada di puncak bukit dengan ketinggian 196 m di atas permukaan laut.
Kraton Ratu Boko merupakan artefak perpaduan antara Buddha dan Hindu. Menurut prasasti Abhayagiri Wihara tahun 792 M, kompleks ini pernah digunakan sebagai vihara. Namun di kompleks ini juga ditemukan benda-benda peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, dan ganesha. Reruntuhan kepurbakalaan Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Sebelumnya, pada awal abad 17, berdasar catatan perjalanan para musafir Eropa, H.J De Graaf telah mencatat adanya kepurbakalaan di selatan Prambanan.
Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis yang menghasilkan laporan berjudul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah, kompleks candi ini dikenal dengan Kraton Ratu Boko, meskipun sebelumnya warga sekitar menyebutnya Candi Dawung karena berlokasi di dusun Dawung.
Tata ruang kompleks Ratu Boko relatif masih lengkap. Bagian depan situs, yaitu Gapura terdiri dari dua lapis. Setelah melewati gapura, terdapat hamparan rumput luas. Segerombolan kambing biasa merumput di area ini, sementara sang gembala berteduh di bawah pohon jati tak jauh dari tempat itu. Area ini dulunya adalah alun-alun. Di area ini masih terdapat umpak yang tertata, mungkin dulunya menjadi pondasi tiang bangunan berpilar, semacam pendopo.
Di area Alun-alun terdapat batur tinggi, yang disebut Candi Pembakaran. Seperti yang tersurat pada namanya, batungunan batu berukuran kurang lebih 25 x 10 M dan tinggi sekitara 1,5 M dengan tangga menghadap ke barat ini diperkirakan sebagai tempat pembakaran mayat kaum Hindu. Di candi ini ditemukan sisa-sisa pembakaran.
Arah Tenggara dari alun-alun, terdapat sejumlah bangunan yaitu paseban (ruang tunggu sebelum menghadap raja), pendopo, dan pringgitan. Di sebelah barat Pendopo terdapat altar kecil dengan 3 gapura kecil berjejer. Tingginya kira-kira hanya 1 meter, karenanya diberi nama Candi Miniatur. Bangunan ini juga sering digunakan sebagai tempat pemujaan. Berdampingan dengan kompleks ini terdapat kolam keputren, yaitu pemandian untuk kaum perempuan. Kolam-kolam dari batu cadas putih ini berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk persegi. Hingga kini sumber air dari kolam masih keluar, meski tak lagi bening.
Situs lain yang terdapat di kompleks ini adalah dua gua, yaitu gua lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan). Bentuk gua ini menyerupai ceruk dengan kedalaman sekitar 3 meter. Fungsinya sebagai tempat semedi. Yang menarik gua ini sepertinya sengaja dibuat dengan mengeruk bukit batu yang ada di kompleks ini. Persis di sisi gua wadon, terdapat area datar dengan dinding batu. Di sisinya terdapat anak tangga yang menghubungkan ke gua lanang. Anak tangga ini terbuat dari batu utuh yang ditatah berundak.
Menyusuri kompleks Kraton Ratu Boko yang terletak di perbukitan memang serasa pendakian dan trekking pendek sekitar 2 jam. Pastikan kesiapan fisik Anda jika berniat menyusuri reruntuhan Ratu Boko. Meski di kawasan ini terdapat beberapa warung kecil yang menjual minuman dingin, tak ada salahnya Anda membekali diri dengan air mineral dari rumah. Jika kelelahan mendera, berisitrahatlah di perbukitan di atas Candi Pembakaran. Pengelola taman wisata candi telah menyediakan bangunan joglo untuk beristirahat sekaligus menikmati Candi Prambanan dari ketinggian bukit. Saatnya menarik napas lega, meresapi keindahan atas kemegahan masa lalu!
Kraton Ratu Boko merupakan artefak perpaduan antara Buddha dan Hindu. Menurut prasasti Abhayagiri Wihara tahun 792 M, kompleks ini pernah digunakan sebagai vihara. Namun di kompleks ini juga ditemukan benda-benda peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, dan ganesha. Reruntuhan kepurbakalaan Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Sebelumnya, pada awal abad 17, berdasar catatan perjalanan para musafir Eropa, H.J De Graaf telah mencatat adanya kepurbakalaan di selatan Prambanan.
Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis yang menghasilkan laporan berjudul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah, kompleks candi ini dikenal dengan Kraton Ratu Boko, meskipun sebelumnya warga sekitar menyebutnya Candi Dawung karena berlokasi di dusun Dawung.
Tata ruang kompleks Ratu Boko relatif masih lengkap. Bagian depan situs, yaitu Gapura terdiri dari dua lapis. Setelah melewati gapura, terdapat hamparan rumput luas. Segerombolan kambing biasa merumput di area ini, sementara sang gembala berteduh di bawah pohon jati tak jauh dari tempat itu. Area ini dulunya adalah alun-alun. Di area ini masih terdapat umpak yang tertata, mungkin dulunya menjadi pondasi tiang bangunan berpilar, semacam pendopo.
Di area Alun-alun terdapat batur tinggi, yang disebut Candi Pembakaran. Seperti yang tersurat pada namanya, batungunan batu berukuran kurang lebih 25 x 10 M dan tinggi sekitara 1,5 M dengan tangga menghadap ke barat ini diperkirakan sebagai tempat pembakaran mayat kaum Hindu. Di candi ini ditemukan sisa-sisa pembakaran.
Arah Tenggara dari alun-alun, terdapat sejumlah bangunan yaitu paseban (ruang tunggu sebelum menghadap raja), pendopo, dan pringgitan. Di sebelah barat Pendopo terdapat altar kecil dengan 3 gapura kecil berjejer. Tingginya kira-kira hanya 1 meter, karenanya diberi nama Candi Miniatur. Bangunan ini juga sering digunakan sebagai tempat pemujaan. Berdampingan dengan kompleks ini terdapat kolam keputren, yaitu pemandian untuk kaum perempuan. Kolam-kolam dari batu cadas putih ini berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk persegi. Hingga kini sumber air dari kolam masih keluar, meski tak lagi bening.
Situs lain yang terdapat di kompleks ini adalah dua gua, yaitu gua lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan). Bentuk gua ini menyerupai ceruk dengan kedalaman sekitar 3 meter. Fungsinya sebagai tempat semedi. Yang menarik gua ini sepertinya sengaja dibuat dengan mengeruk bukit batu yang ada di kompleks ini. Persis di sisi gua wadon, terdapat area datar dengan dinding batu. Di sisinya terdapat anak tangga yang menghubungkan ke gua lanang. Anak tangga ini terbuat dari batu utuh yang ditatah berundak.
Menyusuri kompleks Kraton Ratu Boko yang terletak di perbukitan memang serasa pendakian dan trekking pendek sekitar 2 jam. Pastikan kesiapan fisik Anda jika berniat menyusuri reruntuhan Ratu Boko. Meski di kawasan ini terdapat beberapa warung kecil yang menjual minuman dingin, tak ada salahnya Anda membekali diri dengan air mineral dari rumah. Jika kelelahan mendera, berisitrahatlah di perbukitan di atas Candi Pembakaran. Pengelola taman wisata candi telah menyediakan bangunan joglo untuk beristirahat sekaligus menikmati Candi Prambanan dari ketinggian bukit. Saatnya menarik napas lega, meresapi keindahan atas kemegahan masa lalu!
Links to this post
Labels:
archaelogy,
article,
java,
jogja,
situs
| Reactions: |
kepulan asap di station willem I
Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai sejak Netherlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) membangun lintasan kereta api sepanjang 26 km yang menghubungkan antara Kemijen dan Tanggung. Kedua stasiun ini merupakan bagian dari jalur kereta dari Semarang – Solo – Yogyakarta pada tahun 1864. Lintasan kereta api Semarang – Yogyakarta dapat dikatakan sebagai jalur tersulit, karena melintasi pegunungan dengan ketinggian mencapai 711 meter dari permukaan air laut.
Rute perjalanan menanjak yang ditempuh kereta api uap hingga kini masih dapat kita nikmati dengan paket wisata yang disediakan Museum Kereta Api Ambarawa. Jalur kereta yang ditempuh adalah Ambarawa – Bedono sejauh 9km. Begitu tiba di Stasiun Jambu, lokomotif seri B25 akan dilangsir ke gerbong paling belakang untuk mendorong gerbong kereta bergerak menuju Stasiun Bedono. Tentu saja kereta tua ini tak akan melaju kencang, tetapi perlahan disertai ringikan dan kepulan asap yang keluar dari cerobong loko. Tttuuiiitt…ttuuuiiitt…! Dari ketinggian itu pula kemdusian kita dapat menikmati keindahan alam pedesaan dan kesejukan hawa pegunungan.
Menikmati keindahan alam bukanlah satu-satunya daya tarik yang ditawarkan Museum KA Ambarawa. Di museum yang semula merupakan bangunan Station Willem I Ambarawa ini, kita dapat menyaksikan sejarah lokomotif uap yang pernah melintas di Jawa. Di halaman museum terdapat 24 lokomotif kuno yang buatan tahun 1891 -1966. Salah satunya adalah lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda yang mendapat julukan Berkoningin alias Ratu Pegunungan. Konon, lokomotif yang diproduksi tahun 1927 ini merupakan loko yang paling gesit menempuh jalur pegunungan yang menanjak dan berliku.
Dengan mengunjungi Museum KA Ambarawa, kita juga disuguhi kemegahan arsitektur peninggalan Belanda pada bangunan stasiun. Stasiun KA Willem I Ambarawa memang bukan stasiun pertama yang dibangun Belanda. Tetapi pembangunan stasiun ini memiliki pertimbangan politis, kala itu untuk kepentingan militer Belanda. Ambarawa adalah lokasi yang sangat strategis untuk menghubungkan kekuatan militer dari Jawa bagian Utara dan Selatan karena letaknya yang berada di tengah-tengah. Untuk kepentingan militer ini, Belanda membangun khusus jalur Ambarawa – Magelang. Karenanya stasiun ini pun memiliki nama yang unik, yang tidak mengacu pada tempat, tetapi pada nama Raja Belanda yang kala itu bertahta, yaitu Willem I.
Memang, sejarah perkeretaapian Indonesia yang dibangun Belanda tak dapat dipisahkan dari kepentingan militer dan kolonialisme. Tentu kita tak bloleh semata-mata mengenangnya sebagai bentuk penjajahan, karena hanya akan menimbulkan luka. Sebaliknnya, apa yang telah diwariskan Belanda jadikan sebagai pemicu untuk menjadi bangsa yang maju.
Rute perjalanan menanjak yang ditempuh kereta api uap hingga kini masih dapat kita nikmati dengan paket wisata yang disediakan Museum Kereta Api Ambarawa. Jalur kereta yang ditempuh adalah Ambarawa – Bedono sejauh 9km. Begitu tiba di Stasiun Jambu, lokomotif seri B25 akan dilangsir ke gerbong paling belakang untuk mendorong gerbong kereta bergerak menuju Stasiun Bedono. Tentu saja kereta tua ini tak akan melaju kencang, tetapi perlahan disertai ringikan dan kepulan asap yang keluar dari cerobong loko. Tttuuiiitt…ttuuuiiitt…! Dari ketinggian itu pula kemdusian kita dapat menikmati keindahan alam pedesaan dan kesejukan hawa pegunungan.
Menikmati keindahan alam bukanlah satu-satunya daya tarik yang ditawarkan Museum KA Ambarawa. Di museum yang semula merupakan bangunan Station Willem I Ambarawa ini, kita dapat menyaksikan sejarah lokomotif uap yang pernah melintas di Jawa. Di halaman museum terdapat 24 lokomotif kuno yang buatan tahun 1891 -1966. Salah satunya adalah lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda yang mendapat julukan Berkoningin alias Ratu Pegunungan. Konon, lokomotif yang diproduksi tahun 1927 ini merupakan loko yang paling gesit menempuh jalur pegunungan yang menanjak dan berliku.
Dengan mengunjungi Museum KA Ambarawa, kita juga disuguhi kemegahan arsitektur peninggalan Belanda pada bangunan stasiun. Stasiun KA Willem I Ambarawa memang bukan stasiun pertama yang dibangun Belanda. Tetapi pembangunan stasiun ini memiliki pertimbangan politis, kala itu untuk kepentingan militer Belanda. Ambarawa adalah lokasi yang sangat strategis untuk menghubungkan kekuatan militer dari Jawa bagian Utara dan Selatan karena letaknya yang berada di tengah-tengah. Untuk kepentingan militer ini, Belanda membangun khusus jalur Ambarawa – Magelang. Karenanya stasiun ini pun memiliki nama yang unik, yang tidak mengacu pada tempat, tetapi pada nama Raja Belanda yang kala itu bertahta, yaitu Willem I.
Memang, sejarah perkeretaapian Indonesia yang dibangun Belanda tak dapat dipisahkan dari kepentingan militer dan kolonialisme. Tentu kita tak bloleh semata-mata mengenangnya sebagai bentuk penjajahan, karena hanya akan menimbulkan luka. Sebaliknnya, apa yang telah diwariskan Belanda jadikan sebagai pemicu untuk menjadi bangsa yang maju.
Tuesday, January 13, 2009
kasada dan legenda orang tengger
Bagi masyarakat Tengger di kabupaten Probolinggo Jawa Timur, Bromo bukanlah sembarang gunung berapi. Kehidupan kosmologi masyarakat Tengger nyaris tak dapat dipisahkan dari Gunung Bromo. Gunung berapi yang berada di tengah lautan pasir atau segara wedi seluas kurang lebih 9 kilometer ini dalam kepercayaan orang Tengger dianggap sebagai Dewa Brama. Konon, nama Gunung Bromo berasal dari Dewa Brama dalam kepercayaan Hindu. Sementara itu, hubungan antara manusia dan roh halus di Gunung Bromo dapat dilihat dalam upacara Kasada yang rutin dilaksanakan setahun sekali.
Dalam legenda Kasada digambarkan bahwa cikal bakal masyarakat Tengger berasal dari “Joko Seger” dan “Rara Anteng”. Konon, kata Tengger juga diambil dari suku kata terakhir kedua nama pasangan ini, yaitu Rara Anteng dan Joko Seger. Setiap tanggal 14 bulan Kasada dalam sistem penanggalan Tengger, selalu diadakan upacara sesaji kepada roh Dewa Kusuma, putra bungsu Joko Seger dan Rara Anteng yang dijadikan korban untuk menyelamatkan keluarga dan masyarakat Tengger. Sebagai gantinya, setiap tahun roh Dewa Kusuma menginginkan sesaji dari masyarakat Tengger berupa hasil bumi yang dilemparkan ke dalam kawah Gunung Bromo.
Hingga kini masyarakat Tengger masih melangsungkan upacara Kasada. Legenda Rara Anteng dan Joko Seger dikisahkan kembali untuk mengawali rangkaian upacara Kasada kemudian dilanjut dengan berdoa kepada Dewa Gunung Bromo dan Dewa Kusuma yang dipimpin Lurah Dukun Tengger. Setelah itu, pada dini hari, barulah naik ke puncak Bromo dan melempar sesajian ke dalam kawahnya.
Sebelum mengirim sesaji kepada Dewa Kusuma sebagai inti dari upacara Kasada, dalam ritual ini biasanya juga dilangsungkan “pelantikan” bagi calon dukun di Tengger. Dalam upacara yang dikenal dengan istilah “Mulunen” ini calon dukun diwajibkan merapal mantra panjang tanpa putus. Mantra yang diucapkan dalam bahasa Jawa Kuno ini panjangnya hingga 1 jam. Setelah selesai mengucapkan matra, Lurah Dukun akan menanyakan pada dukun-dukun lain yang menguji, “Sah? Sah?” Jika jawabanya “Saahhh…” maka luluslah calon dukun dari ujian pendadaran.
Menghapal puluhan mantra memang syarat utama menjadi Dukun Tengger. Jumlah mantra yang harus dihapalkan oleh dukun mencapai 90 bab. Kehidupan sehari-hari para Dukun Tengger ini tak dapat dipisahkan dari mantra, karena setiap hari selalu ada warga yang datang menyampaikan suatu keinginan yang diteruskan oleh dukun melalui mantra-mantra.
Bagi masyarakat Tengger, keberadaan dukun sebagai pemimpin ritual memang sangat penting. Mereka adalah perantara masyarakat Tengger dengan Hyang Widhi Wasa, Sang Penguasa Jagad. Juga kepada Sang Hyang Brahma yang bersemayam di Gunung Bromo, kepada roh para leluhur, dan Buta Kala. Di tangan mereka pulalah, kelangsungan tradisi Tengger akan terjaga.
Dalam legenda Kasada digambarkan bahwa cikal bakal masyarakat Tengger berasal dari “Joko Seger” dan “Rara Anteng”. Konon, kata Tengger juga diambil dari suku kata terakhir kedua nama pasangan ini, yaitu Rara Anteng dan Joko Seger. Setiap tanggal 14 bulan Kasada dalam sistem penanggalan Tengger, selalu diadakan upacara sesaji kepada roh Dewa Kusuma, putra bungsu Joko Seger dan Rara Anteng yang dijadikan korban untuk menyelamatkan keluarga dan masyarakat Tengger. Sebagai gantinya, setiap tahun roh Dewa Kusuma menginginkan sesaji dari masyarakat Tengger berupa hasil bumi yang dilemparkan ke dalam kawah Gunung Bromo.
Hingga kini masyarakat Tengger masih melangsungkan upacara Kasada. Legenda Rara Anteng dan Joko Seger dikisahkan kembali untuk mengawali rangkaian upacara Kasada kemudian dilanjut dengan berdoa kepada Dewa Gunung Bromo dan Dewa Kusuma yang dipimpin Lurah Dukun Tengger. Setelah itu, pada dini hari, barulah naik ke puncak Bromo dan melempar sesajian ke dalam kawahnya.
Sebelum mengirim sesaji kepada Dewa Kusuma sebagai inti dari upacara Kasada, dalam ritual ini biasanya juga dilangsungkan “pelantikan” bagi calon dukun di Tengger. Dalam upacara yang dikenal dengan istilah “Mulunen” ini calon dukun diwajibkan merapal mantra panjang tanpa putus. Mantra yang diucapkan dalam bahasa Jawa Kuno ini panjangnya hingga 1 jam. Setelah selesai mengucapkan matra, Lurah Dukun akan menanyakan pada dukun-dukun lain yang menguji, “Sah? Sah?” Jika jawabanya “Saahhh…” maka luluslah calon dukun dari ujian pendadaran.
Menghapal puluhan mantra memang syarat utama menjadi Dukun Tengger. Jumlah mantra yang harus dihapalkan oleh dukun mencapai 90 bab. Kehidupan sehari-hari para Dukun Tengger ini tak dapat dipisahkan dari mantra, karena setiap hari selalu ada warga yang datang menyampaikan suatu keinginan yang diteruskan oleh dukun melalui mantra-mantra.
Bagi masyarakat Tengger, keberadaan dukun sebagai pemimpin ritual memang sangat penting. Mereka adalah perantara masyarakat Tengger dengan Hyang Widhi Wasa, Sang Penguasa Jagad. Juga kepada Sang Hyang Brahma yang bersemayam di Gunung Bromo, kepada roh para leluhur, dan Buta Kala. Di tangan mereka pulalah, kelangsungan tradisi Tengger akan terjaga.
Thursday, February 21, 2008
jogja vs solo
People called Yogyakarta and Surakarta as the cultural heart of Java. These cities are look like each other. Their culture, language, artefact, and also art and traditions are much more similarly. But they are not exactly the same as well.
In the past time, before 18th century, Jogja and Solo are under the Kingdom of Mataram which had capital in Kartasura, about 10 km south-west of Solo. In 1742, after the rebellion of Chinese in Kartasura, the King of Mataram transferred the capital to Solo, a village near the river of Bengawan Solo.
By the end of 18th, political situation in Mataram had already reached the peak of conflict between Pakubuwono II (king of Mataram), Prince Mangkubumi (young brother of Pakubuwono II), and the Dutch Colonial. Prince Mangkubumi was disappointed by his brother Pakubuwono II who was loyal to the Dutch. Then Mangkubumi rebel to Mataram Kingdom.
In February 1755 there was an agreement signed by Pakubuwono III (son of Pakubuwono II who had die), Prince Mangkubumi, and the Dutch. In this agreement that known as Perjanjian Giyanti had been written that Mataram Kingdom split in two: one for Pakubuwono and the other for Prince Mangkubumi. Pakubuwono was throne in Kasunanan Palace (Solo) and Prince Mangkubumi moved to Yogyakarta, built his new kingdom that known as Ngayogyakarta Hadiningrat. Then Mangkubumi became the first Hamengku Buwono, the King of Ngayogyakarta Hadiningrat.
By this historical fact, some people of Jogja (including me!) don’t like to be said that Jogja look like Solo. Jogja is different from Solo in many things. The Sultans of Jogja are much more nationalistic than Solo’s Kings. During the year before national independence, the Sultan Hamengku Buwono IX and Paku Alam (king of Kadipaten Pakualaman) had declared that Yogyakarta Kingdom had been supported the Republic of Indonesia in rebellion the Dutch Colonial. On the other side, Pakubuwono and Mangkunegoro from Solo refused to be part of the Republic of Indonesia. They didn’t want to loose their power as a king. People of Solo were very disappointed. They didn’t have any respect to the King anymore.
The Sultan and the people of Jogja had the same idea to be united of Indonesia. In 1948, 3 years after Indonesia Independence Day, Sultan asked the first President Soekarno had to move the capital of Indonesia to Yogyakarta because Jakarta was going crumbled. Sultan had been brought political situation in Jogja is far more quietly than in Jakarta or Solo. We noted much political fluctuation in Solo, such as Chinese rebel (Geger Pecinan) in many times, labour protest, even the throne conflict in Kraton. Today there are two Kings in Kasunanan Palace.
People of Jogja have their own way to show some different things between Jogja and Solo, especially in art and traditions such as traditional outfit, wedding ceremony, shadow puppet show, etc. We called them Gagrag Ngayogyakarta (Jogja style) or Gagrag Surakarta (Solo style).
The easier way of understanding Jogja and Solo are through their traditional outfit such as jarik or kain (batik garment) and blangkon (male batik headdress). Jogja’s blangkon has a mondholan, cloth knot at the back of fabric headdress and Solo’s doesn’t have. Colour of Jogja’s batik style is much more contrast than Solo’s. White and dark-brown colours are use in Jogja’s style. Colours that are use in batik style of Solo are little more darkly. They use brown and yellow-brown.
In the past time, before 18th century, Jogja and Solo are under the Kingdom of Mataram which had capital in Kartasura, about 10 km south-west of Solo. In 1742, after the rebellion of Chinese in Kartasura, the King of Mataram transferred the capital to Solo, a village near the river of Bengawan Solo.
By the end of 18th, political situation in Mataram had already reached the peak of conflict between Pakubuwono II (king of Mataram), Prince Mangkubumi (young brother of Pakubuwono II), and the Dutch Colonial. Prince Mangkubumi was disappointed by his brother Pakubuwono II who was loyal to the Dutch. Then Mangkubumi rebel to Mataram Kingdom.
In February 1755 there was an agreement signed by Pakubuwono III (son of Pakubuwono II who had die), Prince Mangkubumi, and the Dutch. In this agreement that known as Perjanjian Giyanti had been written that Mataram Kingdom split in two: one for Pakubuwono and the other for Prince Mangkubumi. Pakubuwono was throne in Kasunanan Palace (Solo) and Prince Mangkubumi moved to Yogyakarta, built his new kingdom that known as Ngayogyakarta Hadiningrat. Then Mangkubumi became the first Hamengku Buwono, the King of Ngayogyakarta Hadiningrat.
By this historical fact, some people of Jogja (including me!) don’t like to be said that Jogja look like Solo. Jogja is different from Solo in many things. The Sultans of Jogja are much more nationalistic than Solo’s Kings. During the year before national independence, the Sultan Hamengku Buwono IX and Paku Alam (king of Kadipaten Pakualaman) had declared that Yogyakarta Kingdom had been supported the Republic of Indonesia in rebellion the Dutch Colonial. On the other side, Pakubuwono and Mangkunegoro from Solo refused to be part of the Republic of Indonesia. They didn’t want to loose their power as a king. People of Solo were very disappointed. They didn’t have any respect to the King anymore.
The Sultan and the people of Jogja had the same idea to be united of Indonesia. In 1948, 3 years after Indonesia Independence Day, Sultan asked the first President Soekarno had to move the capital of Indonesia to Yogyakarta because Jakarta was going crumbled. Sultan had been brought political situation in Jogja is far more quietly than in Jakarta or Solo. We noted much political fluctuation in Solo, such as Chinese rebel (Geger Pecinan) in many times, labour protest, even the throne conflict in Kraton. Today there are two Kings in Kasunanan Palace.
People of Jogja have their own way to show some different things between Jogja and Solo, especially in art and traditions such as traditional outfit, wedding ceremony, shadow puppet show, etc. We called them Gagrag Ngayogyakarta (Jogja style) or Gagrag Surakarta (Solo style).
The easier way of understanding Jogja and Solo are through their traditional outfit such as jarik or kain (batik garment) and blangkon (male batik headdress). Jogja’s blangkon has a mondholan, cloth knot at the back of fabric headdress and Solo’s doesn’t have. Colour of Jogja’s batik style is much more contrast than Solo’s. White and dark-brown colours are use in Jogja’s style. Colours that are use in batik style of Solo are little more darkly. They use brown and yellow-brown.
Wednesday, February 6, 2008
meneropong merapi dari keteb
Sebagai salah satu gunung berapi teraktif di dunia, Merapi memiliki pesona tersendiri. Warga di sekitar Merapi menjuluki gunung ini sebagai Si Putri Malu karena puncaknya sering diselimuti awan putih. Ketika gumpalan awan putih ini bergerak menjauh, terkuaklah keindahan puncaknya.Keindahan merapi secara utuh dapat dinikmati dari Keteb Pass, yaitu volcano centre yang terletak di Desa Keteb, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Kawasan Keteb Pass ini berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 8.000 m2. Dari Kota Magelang, lokasi ini berjarak kurang lebih 30 km. Dari kota Salatiga berjarak sekitar 32 km yang ditempuh dengan menyusuri daerah wisata Kopeng dan Kaponan.
Kemegahan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing yang berdiri di antara hamparan pepohonan hijau dan pemukiman penduduk di kakinya dapat dinikmati dari gardu pandang yang terdapat di Keteb Pass. Jika cuaca cerah, puncak Merapi yang berselimut awan menjadi suguhan yang sangat menarik. Keindahan Merapi ini juga dapat dinikmati dari restoran yang terdapat di lantai atas bangunan Keteb Pass. Memanjakan mata dengan hamparan hijau sembari menikmati segelas air es yang menyejukkan.
Kawasan ini makin dipadati pengunjung sejak Merapi berstatus awas dan mulai memuntahkan isi perutnya. Menjelang sore hingga malam hari banyak pengunjung yang sengaja datang ke Keteb Pass untuk menyaksikan puncak Merapi yang kemerahan karena menyemburkan awan panas.
Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di gardu pandang, kita juga dapat menikmati pemutaran film tentang aktivitas Gunung Merapi, mulai dari letusan hingga evakuasi penduduk di sekitarnya. Tayangan berdurasi kurang lebih 20 menit ini mampu menyedot perhatian dan emosi pemirsa. Bayangkan, semburan awan panas dari kubah Merapi yang populer dengan istilah wedhus gembel yang ditayangkan di layar lebar itu seolah nyata di depan mata.

Fasilitas yang tak kalah menarik dapat dinikmati di Vulcano Centre yang berisi berbagai foto maupun peta dalam format besar. Di sini kita diajak secara langsung mengoperasikan peralatan pemantauan dan pendeteksi gejala dan kegiatan vulkanik. Keteb Pass tak hanya menjadi obyek wisata alam yang menarik, tetapi juga sebagai tempat belajar tentang kekgunungapian termasuk bagaimana mengendalikan diri saat Si Putri Malu menggeliat dan memuntahkan lahar.
Subscribe to:
Posts (Atom)