Showing newest posts with label papua. Show older posts
Showing newest posts with label papua. Show older posts

Saturday, May 23, 2009

dilarang makan pinang




Bagi yang sudah pernah ke Papua menggunakan pesawat, pasti akan menemukan stiker larangan makan pinang yang ditempel di kaca-kaca ruang tunggu Bandara Sentani. Mau tahu kenapa sampai sebegitu gencarnya pihak Angkasa Pura membuat larangan makan pinang selama di bandara?

Nih, lihat contohnya, bekas kunyahan pinang yang diludahkan di sepanjang jalan beraspal. Nggak rela kan, kalau lantai keramik Bandara Sentani yang kinclong itu jadi penuh bercak kemerahan....




(noda-noda pinang ini difoto di jalan dekat bandara, Wamena - Kab. Jayawijaya)

Tuesday, January 27, 2009

menyusuri kota di atas papan


Sejak masih kuliah, saya selalu bermimpi bisa mengunjungi Papua, terutama suku Asmat yang terkenal dengan seni ukirnya itu. Ngiri rasanya, konon dunia Barat sudah mengenal suku Asmat sejak abad 16 loh. Mula-mula adalah Jan Carstenz, penjelajah Belanda yang melihat orang Asmat pada tahun 1623. Kemudian Kapten James Cook dan awak kapalnya yang merapat di perairan Asmat pada tahun 1770. Dalam catatan perjalanannya James Cook mengisahkan bahwa mereka muncul tiba-tiba dari balik hutan dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Ketika Cook melepaskan tembakan, mereka segera masuk ke hutan tapi tak lama kemudian justru puluhan perahu balik menyerbu James Cook.

Dua dekade kemudian, pada tahun 1900-an, setelah Belanda mendirikan kantor VOC di Merauke, barulah orang Eropa berhasil melakukan kontak dengan suku Asmat. Orang-orang Eropa ini pun jatuh cinta dengan seni ukir Asmat yang dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat Asmat dengan leluhurnya. Dasar otak pedagang, ukir-ukiran Asmat ini juga dijadikan komoditi Belanda, dikirim ke Eropa dan dipasarkan di sana. Akibatnya, orang Eropa pun berbondong-bondong datang ke Asmat, pengin melihat langsung kehidupan suku di pedalam Papua yang memiliki keahlian mengukir dan konon juga dikenal sebagai head-hunter alias pemburu kepala.

Hingga kini tradisi mengunjungi Asmat untuk memborong ukiran masih berlangsung. Tiap tahun, tiap bulan Oktober digelar Festival Budaya Asmat di Agats, ibukota kabupaten Asmat. Kalau lagi festival, sungai Atsewtsy yang menghubungkan kota Agats dengan bandara Ewer, konon akan dipenuhi kapal-kapal bermuatan kontainer besar. Para saudagar dan kolektor bule yang berburu ukiran itu pun memborong habis berbagai jenis ukiran yang sudah disiapkan masyarakat setempat sejak beberapa bulan sebelum festival.

Bukti kegilaan orang Barat akan seni ukir Asmat ini bisa dilihat di Asmat Art Galerie Konrad yang ada di Jerman dan America Museum of Asmat Art yang dikelola Universitas St. Thomas. Sementara itu, kita orang Indonesia sendiri, nggak punya museum selengkap yang mereka miliki. Tragis sekali kan?

Mimpi mengunjungi Asmat itu baru kesampaian pada tahun 2006, sekitar 9 tahun setelah saya lulus kuliah. Weleh, lama banget baru kesampaian. Itu pun dalam rangka business-trip yang dibayarin perusahaan, karena tabungan saya masih belum cukup buat liburan sendiri ke Asmat.

Negeri yang eksotis itu ternyata tak mudah untuk ditempuh. Jadwal penerbangan dari Timika ke Ewer dengan pesawat twin otter terpaksa tertunda sehari, karena cuaca buruk. Terpaksalah saya dan 2 rekanan kerja, cewek-cewek pula, menginap semalam lagi di Timika. Padahal suasana kota Timika ketika itu sedang genting, lagi seru-serunya demo antri Freeport. Di persimpangan jalan menuju bandara dan hotel Sheraton tempat kami menginap, dijaga ketat oleh orang-orang berkulit hitam berwajah garang lengkap dengan tombak dan busur di tangannya. (Sepekan setelah saya kembali ke Jogja, massa menyerbu Hotel Sheraton hingga ditutup untuk beberapa saat). Rasa was-was malam itu membuat saya nggak bisa sepenuhnya menikmawi eksotisnya kamar di hotel Sheraton yang dikelilingi hutan hujan tropis yang menghantarkan aroma basah yang khas. Tahu nggak sih, hanya sekitar 5 meteran dari jendela kamar sudah membentang hutan dihuni aneka burung yang ketika subuh datang sudah mengoceh bersahutan membangunkan saya.

Esok paginya, setelah melakukan kontak dengan bandara dan memastikan keberangkatan pesawat, barulah kami bisa terbang beneran menuju tanah impian. Penerbangan hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit, melintasi kelokan sungai-sungai dan hutan. Sesampai di bandara Ewer, kami harus melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Atsewetsy dengan boat menuju Agats. Ongkos sewa per boat waktu itu Rp 250.000 yang bisa diisi dengan 4-5 penumpang. Atau 50 ribu per kepala. 20 menit kemudian, menepilah boat kami di dermaga kecil. Welcome to Agats, dan horeee...ada sinyal Telkomsel. Satu-satunya operator yang kala itu mengjangkau kota Agats dan sekitarnya meskipun hanya menggunakan tower kecil.

Melompat keluar dari boat, kami menapaki jalan papan yang nggak putus-putus. Sampai terasa capai dan berat oleh ransel di gendongan. "Masih jauh nggak?" tanya saya pada Fikram, rekan yang menjemput di Ewer. Mbak Jowvy yang menggendong 2 ransel juga mulai nggak sabar pengin melepas bebannya. Tempat yang kami tuju adalah rumah dinas Pemda yang kebetulan kosong, yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 3 hari di Agats. Tak ada kendaraan bermotor yang boleh melintas di atas jalan papan ini, bahkan sepeda pun sepanjang yang terlihat hanya sepeda anak-anak. Semua penghuni kota di atas papan ini, termasuk Pak Bupati harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

Imajinasi saya tentang Asmat dan ukirannya perlahan memudar begitu melihat kondisi Agats. Saya kira pengukir-pengukir itu bertebaran di penjuru Agats. Ternyata sulit juga menemukannya. "Kalau ke sini bulan Oktober, baru banyak ukiran," kata mereka. Satu-satunya galeri ukiran yang ada di Agats adalah milik Otto. Itupun stok ukirannya tidak terlalu banyak karena umumnya orang Asmat baru mulai mengukir menjelang bulan festival. "Mungkin di Atsy banyak. Coba nanti cari di jaw," saran Pak Sorring yang kala itu menjabat sebagai wakil bupati. Atsy adalah nama distrik yang jauhnya sekitar 2.5 jam dengan perahu boat, one-way. Jaw adalah sebuatan untuk rumah adat suku Asmat, tempat berkumpulnya para lelaki dewasa sambil mengerjakan ukiran. Atas kebaikan Pak Sorring pula kami bisa ke Atsy yang ongkos sewa boatnya adalah 1 juta rupiah one-way. Untung dibayarin. Tapi jawaban yang kami terima di Atsy pun sama, "Nanti bulan Oktober baru banyak warga yang bikin ukiran."

Yah, kalau harus balik ke Agats lagi di bulan Oktober, rasanya kok nggak mampu. Mahal di transport! Jadilah hanya jalan-jalan papan dan berperahu yang menjadi agenda trip selama di Agats. Sehari-hari kami menikmati pemandangan anak-anak yang bermain lumpur becek di bawah bentangan jalan papan. Nyaris tak ada lahan kering di sini, kalau pun ada cuma beberpa meter luasnya dan segera diserbu anak-anak untuk bermain bola. Di beberapa tempat juga terdapat aliran sungai kecil yang bisa dilintasi perahu menjadi tempat favorit untuk memancing atau sekedar mandi. Kalau musim hujan, jalan di bawah papan bisa tergenang air. Karena itu hampir setiap rumah memiliki perahu yang siap digunakan sewaktu-waktu.

Daratan di Agats memang berupa rawa-rawa yang tidak cukup kuat dijadikan landasan bangunan. Hanya tiang-tiang kayu yang bisa ditancapkan di sana, sebagai pondasi rumah dan jalan papan. Tanah rawa ini juga tidak memungkinkan pohon berakar besar tumbuh. Hanya pohon-pohon kecil dan semak saja yang bisa kita temui. Oh ya, juga beberapa batang pohon kelapa dan sagu. Kebayang kan betapa teriknya kalau siang hari harus melintasi jalanan papan ini. Dan jika malam tiba, saat angin dan hujan yang menghantam atap rumah yang terbuat dari seng menimbulkan bunyi yang sungguh mengerikan. Malam pertama di Agats membuat tidur saya nggak nyenyak karena terganggu bunyi benturan angin dan atap seng yang sepertinya bisa menerbangkan atap.

Jalan papan di kota Agats ini setiap tahun diupayakan untuk diperpanjang jangkauannya. Pada tahun 2006 ketika saya ke sana, jalan papan yang dibangun Pemda Agats sudah sekitar 25.399 meter atau sekitar 25 km. Kalau dibentang kira-kira sejauh jarakantara Kota Jogja - Pantai Parangtritis lah. Lumayan juga menyusuri sejauh itu dengan berjalan kaki. Agats juga memiliki alun-alun yang terbuat dari papan. Di tempat inilah setiap bulan Oktober diadakan lelang aneka patung ukir Asmat dalam Festival Budaya Asmat. Ketika saya tiba di Agats, di alun-alun sedang berlangsung persiapan kampanye Gubernur Barnabas Suebu yang kini kembali terpilih memimpin Papua.

Meskipun jalan-jalan di Agats hanya terbuat dari papan selebar trotoar (1,5 m), tapi tiap-tiap lorong memiliki nama jalan yang menggunakan nama pahlawan nasional layaknya jalan utama di kota besar. Ada Jl. Yos Sudarso, Jl. A. Yani, Jl. Sultan Hasanuddin, dll. Alamat kantor-kantor pemerintah dan instansi juga dilengkapi nomor, sehingga kalau ditulis di atas kop surat dan amplop tampak keren. Misalnya: Kantor Pos Agats, Jl. S. Hasanuddin No. 2 AGATS 99677.

Tapi jangan membayangkan ada traffic-light atawa lampu merah di Agats ya, kan nggak ada motor lewat!. Hehe....

TIP on TRIP
  1. Meskipun namanya sudah mendunia, tetapi Asmat bukanlah daerah tujuan wisata yang "indah". Keindahannya hanya bisa dinikmati selama Festival Budaya Asmat berlangsung, yaitu pada bulan Oktober tiap tahunnya. Selebihnya, Asmat termasuk daerah pedalaman yang masih minim dalam banyak hal, terutama aksesibilitas.
  2. Jika memang merencanakan perjalanan ke suku Asmat, pertimbangkan soal waktu mengingat kondisi cuaca yang sering tiba-tiba buruk bisa menyebabkan penundaan penerbangan. Kalau cuma tertunda sehari masih nggak pa-apa, tapi kadang bisa tertunda beberapa hari loh. Bisa-bisa garing di Timika atau malah nggak bisa keluar dari Asmat karena nggak ada penerbangan ke Timika atau Merauke.

menjual eksotisme: Rp 5.000 sekali jepret

"Jangan kaget ya, di Bandara Wamena banyak orang yang masih pakai koteka," ujar rekan saya sebelum saya terbang dengan pesawat Trigana Air ATR-200 ke Wamena (2007). "Waw!" seru saya girang membayangkan eksotisme di Lembah Baliem. Meskipun sudah empat kali mengunjungi Papua, tapi ini adalah perjalanan pertama saya ke Wamena, ibukota Kab. Jayawijaya yang berada di Lembah Baliem. "Tapi mereka akan minta bayaran kalau difoto," tambahnya mengingatkan.

Lantas saya jadi teringat waktu pertama kali melihat perempuan Dayak Kenyah bertelinga panjang dan sekujur tubuhnya dipenuhi tatto yang menjual suvenir di pelataran Museum Mulawarman, Tenggarong Kaltim (1994). Hasrat memotret perempuan eksotis itu tertahan ketika rekan saya berbisik, "tarifnya lima ribu rupiah sekali jepret." Untuk ukuran kantong mahasiswa Jogja yang melancong ke Kalimantan Timur di liburan semester, mengeluarkan selembar lima ribuan untuk memotret orang terasa mahal sekali. Selain itu kuping saya juga masih merasa aneh mendengar tarif difoto yang nggak biasa terjadi di Jawa. Rasanya nggak rela memberikan bayaran pada mereka. Dan saya pun memilih untuk mengabadikan kenangan akan tatto orang Dayak Kenyah itu hanya dalam ingatan.

Rupanya tarif foto itu juga berlaku di kampung desa Pampang, sekitar 20 km dari Samarinda. Kampung yang kini dikenal dengan Desa Budaya Pampang ini dihuni masyarakat Dayak yang sadar wisata. Artinya, setiap saat dikunjungi, mereka juga siap ditanggap untuk memainkan atraksi tari-tarian maupun sekedar berpose dengan pakaian tradisional. Tentu saja ada tarifnya. Katanya sih sekali jepret mereka minta minimal bayaran Rp 20.000.

Saya pernah singgah di kampung Dayak Pampang sebentar. Bener-bener cuma sebentar dan sekedar pengin tahu, setelah sering membaca artikel di majalah tentang Desa Budaya Pampang. Kampung ini ternyata sepi-sepi saja. Baru ketika saya masuk ke pelataran depan lamin, rumah adat Dayak, (tapi yang ini tidak terlalu panjang), beberapa orang mulai mendekat, menawarkan jasa. Karena waktu itu saya datang sendirian dan niatnya memang cuma numpang lewat, saya pun memilih nggak berlama-lama di sana.

Desa lain di Kaltim yang kabarnya juga memasang tarif untuk pemotretan adalah Pepas Eheng, Kec. Barong tongkok, Kab. Kutai Barat. Di desa ini terdapat lamin adat suku Dayak Benuaq yang panjangnya hingga 100 meteran. Lamin Pepas Eheng ini bisa dibilang sebagai heritage karena saat ini sudah tidak banyak orang Dayak yang tinggal di lamin.

"Orang-orang di lamin Eheng biasanya minta bayaran kalau difoto," ujar salah seorang kenalan saya yang tinggal di Melak, sekita 40km dari Pepas Eheng. Saya terkejut. "Masa sih?". Tahun 1994 saya pernah tinggal 40 hari di lamin Pepas Eheng itu bersama teman-teman kuliah. Kala itu, kalau ada turis asing datang, mereka hanya berlarian menyerbu menawarkan suvenir berupa tas anyaman rotan. Para turis masih bisa leluasa memotret tanpa tarif. Kecuali jika mereka ingin menginap, mereka harus memberikan uang makan dan sekedar tip.

Tahun 2008 atau 14 tahun kemudian, memang banyak yang berubah di lamin Pepas Eheng. Meski secara fisik bangunan itu sedikit lebih baik, karena mendapat bantuan dari Pemda setempat. "Kami pengin membangun loket karcis di depan lamin," kata Pet, salah seorang penghuni lamin yang sudah menamatkan kuliahnya di Fakultas Hukum sebuah universitas swasta di Samarinda. "Wisatawan yang masuk ke lamin harus membeli karcis masuk," katanya lagi.

"Tapi kalau saya masuk ke lamin nggak ditarik bayaran kan, Pet?" komentar saya. "Ya enggaklah!" jawabnya sambil tertawa.

***

Ketika tiba di Wamena, saya melihat lelaki berkoteka di pelataran bandara. Tapi tidak sebanyak yang digambarkan rekan saya. Waktu itu cuma ada satu orang yang berkoteka, lainnya mengenakan pakaian biasa yang tertutup. Lelaki berkoteka itu rupanya menjual madu botolan yang ditentengnya. Lalu begitu melihat wajah asing saya, ia pun melangkah ke arah saya, menawarkan madu dagangannya. Tapi ketika saya menggeleng, dia menawarkan "dagangan" yang lain, "foto?". Saya langsung teringat pesan rekan saya, bahwa tawaran foto itu bukan barang gratisan. Jadi saya terpaksa menahan hasrat untuk mengabadikannya, sambil mencari-cari akal agar bisa mencuri gambarnya dengan ponsel kamera. Hehe...!

Selain di bandara, orang berkoteka juga bisa ditemui di pasar Jibama, sekitar 2 km dari kota Wamena. Atau di kampung-kampung. Yang paling banyak di kampung Aikima, distrik Kurulu sekitar 5 km dari Wamena. Tepatnya di honai (rumah adat suku Dani) yang menyimpan mumi yang berusia ratusan tahun. Di pelataran honai itu banyak lelaki berkoteka yang menanti wisatawan berkunjung. Sementara para perempuan yang duduk-duduk di bawah pohon biasanya masih mengenakan pakaian lengkap. Tetapi begitu ada tamu datang, mereka segera membuka baju berbahan kain yang menutup tubuhnya. Tinggalah pakaian tradisional rumbai-rumbai yang menutup bagian pinggang hingga sedikit di atas lutut, sementara bagian dada dibiarkan telanjang. Lalu mama-mama ini akan mendekati tamu sambil menawarkan suvenir berupa kalung dari kerang, dan berharap mendapatkan fee dari ajakan foto bersama.

Tarif foto bersama di honai Aikima beragam. "Tarif per orang per foto enam ribu rupiah," kata salah satu penjaga honai yang berkoteka. Tarif itu untuk foto bersama lelaki berkoteka. Kalau dengan Mama-mama, tarifnya diskon 50% alias hanya tiga ribu rupiah saja per orang per jepretan. Kalau ingin melihat mumi kita harus membayar sekitar Rp 30.000. Jika mumi sudah dikeluarkan dari honai dan ingin foto bersama, tinggal dihitung berapa orang yang ikut foto dan berapa kali jepretan. Begitu sesi pemotretan, barulah itung-itungan berapa total ongkos yang harus dibayarkan.

bisa aja sih kalau pengin curang. Apalagi teknologi kamera digital memungkinkan untuk melakukan pemotretan dengan multiple-expose. Sekali jepretan bisa menghasilkan beberapa frame. Tapi ternyata saya nggak tega melakukannya. Bahkan memberinya lebih.

Setelah beberapa hari tinggal di Wamena, dan merasakan mahalnya biaya hidup di sana, saya menyadari tarif yang mereka berikan masih dalam batas normal. Enam ribu rupiah nggak cukup untuk membeli sepiring nasi putih dengan sayur dan telor ceplok yang harganya lima belas ribu rupiah (kalau pakai ayam goreng jadi dua puluh ribu rupiah). Duit enam ribu itu cuma cukup untuk membeli segelas teh manis yang harganya lima ribu rupiah di pasar Jibama.

Sebenarnya banyak cara untuk bisa mendapatkan foto eksotis dengan murah. Antara lain dengan menanggalkan kesan turis atau wisatawan. Sebaliknya hadirlah sebagai seseorang yang menghargai perbedaan budaya, jangan menganggapnya terbelakang, dan cobalah ngobrol tentang apa saja yang sekiranya nyambung. Pada dasarnya mereka ramah dan suka difoto. Mereka bisa kegirangan dan minta difoto lagi jika kita tunjukin hasilnya, tanpa harus membayar sepeserpun.

Lihatlah foto saya yang memegangi kedua koteka ini. Foto ini membuat warga di kampung Sinatma tertawa terkekeh begitu melihatnya. "Kalau sudah sampai Jogja, jangan lupa kirim kemari ya," kata mereka sambil terus minta difoto dengan berbagai gaya. Nah lo, tampa harus membayar ternyata saya bisa mendapatkan foto yang paling eksotis sedunia. Hahaha....!

Tuesday, January 13, 2009

ASMAT Art

Seni ukir Asmat telah dikenal luas sejak terjadi kontak dengan budaya Barat pada tahun 1700-an. Saat diadakan Festival Budaya Asmat yang berlangsung tiap bulan Oktober, banyak wisatawan dari mancanegara berkunjung ke Asmat. Mereka sengaja datang dengan kapal dari negaranya, untuk mempermudah membawa pulang ukiran Asmat yang mereka borong.

Bagi orang Asmat, mengukir merupakan bagian dari ritual religiositas mereka. Ukiran Asmat dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat dengan leluhur mereka. Melalui ukiran inilah orang Asmat berkomunikasi dengan arwah keluarganya yang sudah meninggal. Setiap ukiran yang mereka buat mewakili seseorang yang telah meninggal dunia.

Ukiran tradisional Asmat yang paling spektakuler adalah tiang atau tugu leluhur yang disebut Bisj. Ukiran ini umumnya tersusun dari lebih dari dua figur. Setiap figur diukir di atas figur yang lain. Masing-masing figur menggambarkan keluarga yang telah meninggal. Dahulu, Bisj dibuat dalam upacara tradisional yang dimeriahkan dengan pesta pemenggalan kepala dan kenibalisme (head hunting) agar arwah leluhur tenang.

Setelah wilayah Papua menjadi bagian RI tahun 1963, pemerintah melarang pembuatan Bisj untuk mencegah upacara head-hunting dan kanibalisme. Lambat laun tradisi Bisj mulai memudar. Kini orang Asmat membuat patung untuk dijual pada wisatawan. Penjualan seni ukir Asmat memberikan kontribusi ekonomi bagi warga Asmat.

Karena mengukir memiliki peran penting dalam keseharian hidup masyarakat Amat, di setiap kampung dapat dijumpai warga Asmat yang melakukan kegiatan ini secara berkelompok. Biasanya mereka melakukan kegiatan ini di Jeu, rumah tradisional Asmat. Kesibukan mengukir di Jeu ini biasanya kian terasa menjelang Festival Budaya Asmat pada bulan Oktober.



HOW TO GET THERE

• Penerbangan ke Asmat (bandara Ewer) dapat ditempuh dari Merauke atau Timika dengan pesawat twin outter Merpati setiap hari Senin, Rabo, dan Sabtu (Merauke – Ewer – Timika – Ewer – Merauke. Khusus hari Jumat untuk penerbangan Merauke – Ewer – Merauke).
• Reservasi tiket Merpati Merauke: 0971 – 321242, Timika: 0901 323361, 323362, 323363. Harga tiket sekali terbang dari Timika Rp 600.000 dan dari Merauke Rp 880.000
• Jadwal penerbangan ke Asmat sangat tergantung cuaca, penundaan terbang biasanya dialihkan keesokan harinya. Karena itu pastikan Anda memiliki waktu yang cukup panjang untuk merencanakan liburan ke Asmat.

Friday, November 21, 2008

sabine the jungle child


When I was crossing the hillside of Mt. Cyclops in Sentani, the capital region of Jayapura, I saw some charming wooden houses along the road. They had spacious grassy yards and thriving trees growing around. I saw 3 children playing in the yard. They’re black and white, a dark-skinned Papuan child with curly hair and two white-skinned blonde children.

The houses and the children impressed me so much. Passing them by angkot (public transport), I imagined living there. It would be nice living in a spacious house isolated from the daily traffic. “These are houses of Christian missionaries who live in Papua,” said the angkot driver whom I was sitting beside. He explained this to me although I didn’t ask him. I’ve heard about this from my colleagues. We passed here the day before and looked around the breathtaking views lake Sentani shadowed by Mt. Cyclops.

“They speak Bahasa Indonesia and any Papuan tribal languages fluently,” he told me again. I thought he might have known that I was just a visitor, not living in Sentani. So he was proud to introduce the Sentani region. And I enjoyed chatting with him. “Look at the hilltop over there! That is HIS, Hillcrest International School,” he pointed to a building on the top of a grassy hill. It’s a great building.

H.I.S is a school for children of missionaries and expats who live in Papua. One of the alumnae is Sabine Kuegler who studied in HIS for a year before going back to Europe after she had lived in the jungle of Papua for 10 years. She was 4 when her father Klaus Kuegler a Germany anthropologist and linguist was sent to Fayu tribe in Papua as a missionary. Before they lived in Papua, the Kuegler family had been living in Nepal for several years where Sabine was born and lived for 3 years.

Sabine’s memoir book (2005), “Child of the Jungle”, was written in Germany and has translated into many languages such as English and Bahasa Indonesia. I bought the Indonesian copy a few months after I visited Sentani, Jayapura. The book has changed my perception about the pleasure of missionary living. Houses at the hillside are not for everyday living, but just free accommodation when they visit the capital city.

Sabine’s family didn’t live there. The house of Sabine was a wooden stilt hut by the riverside. Every night they slept in fear because sometimes animals would come into the house such as insects, frogs, mice, snakes, etc.

After 10 years living among the Fayu tribe, Sabine grew naturally as a jungle child. Hunting animals with her own bow and arrow, as well as eating any kinds of them such as crocodiles, bats, pigs, even worms was her daily life in the jungle. She lived amongst tribal culture although she’s European.

In 1989, when she was 17, her parents sent her back to Europe to study in university. After the plane had landed, she went to her Grandma’s house by train. She had never been in a train before, so she was very nervous and scared about the western technology. “For the first time in my life, I saw the real train. What should I do, push or pull the door?” she wrote on page 13.

The first day in Europe was a massive cultural-shock for her. She was so scared about the western world which is different from her life with indigenous people in the jungle. All the stories about dangerous life in modern society that she had heard then appeared as a real thing in her mind. “How should I protect my self? I didn’t bring my weapon, bow and arrow or any chopper knife.” (page 17).

Jungle Child is an amazing book of a white skinned blonde haired child that has to assimilate with the people of her own country in Europe. Living more than 10 years in the jungle made it difficult to live in modern world. She even tried to injure her body using a razorblade to solve her cultural shock. It’s not easy to live within different worlds. And she always dreams of going back home to Papua, where she feels at home in the jungle.

Her book is another way to treat her homesickness, back to the jungle of Papua.

Monday, February 11, 2008

Sensasi di Atas Angkot

Naik angkot di pedalaman adalah kenikmatan tersendiri bagiku. Inilah saat dimana aku bisa menikmati aroma tubuh penduduk lokal yang bercampur dengan aneka hasil bumi dan hewan peliharaan...hihihiii..

Angkot juga dapat menguji kesabaran kita karena si sopir baru mau menyalakan mesin kendaraan ketika semua kursi sudah terisi. Di Wamena, Papua, angkot yang menggunakan mobil jenis Kijang, jumlah penumpang minimal 12 orang (tidak termasuk sopir dan kernet). Bisa lebih dari itu, apalagi kalo si Ibu juga membawa anaknya. Angkot jenis L300 umumnya diisi 21 orang. Sementara barang bawaan diletakkan di atas kendaraan dengan jumlah tak terbatas.

Butuh waktu 2 jam untuk mengisi angkot ini penuh penumpang. Setidaknya, pengalaman 3 kali naek angkot dari terminal dekat pasar Jibama (pasar baru) di Wamena, ketiganya memaksa saya bersabar sekitar 2 jam hingga penumpang memenuhi masing-masing kursi.

Ongkos angkot di Wamena relatif mahal karena harga bensin dan solar di sana gila-gilaan, Rp 20.000/liter!!! Mahalnya harga BBM ini juga membuat si sopir sering berulah, memanfaatkan kesempatan. Mereka sering minta tambahan lebih hanya untuk mengantar penumpang ke depan rumahnya yang berjarak tak sampai 200 meter dari terminal pemberhentian. Apalagi jika si penumpang punya barang bawaan banyak. "Tambah 5000 ya, bensin mahal nih...!"

Sopir-sopir di Wamena umumnya pendatang dari Jawa dan Sulawesi. sementara yang jadi kernet biasanya bocah usia 12-an tahun, anak-anak Papua. Angkot yang saya naiki ini disopiri laki-laki dari Jawa Timur. bukan angkot milik pribadi, tapi milik sang juragan yang merupakan salah satu pejabat di kabupaten. hhmm...pantas lah. Sejak tadi saya amat2i angkot ini tak berplat nomor..., tapi operasi jalan teruss...!!!

Wednesday, February 6, 2008

panah orang lani, wamena - papua


naksir-panahnya
Originally uploaded by suluhpratita

saya naksir panahnya. "boleh dibeli nggak, pak?" tanya saya. tapi dia bilang tidak, karena dia hanya punya satu panah itu dan warisan dari orang tuanya. sekarang, katanya, sulit membuat panah sepanjang ini lagi. yaa..apa boleh buat..:D

Friday, February 1, 2008

sabine the jungle child: raganya bule, jiwanya papua


Saat menyinggahi Sentani, ibukota Kabupaten Jayapura, bulan Juni 2007 lalu, saya dibuat terkesan pada rumah-rumah kayu berhalaman luas di lereng pegunungan Cyclops. Hingga saya rela bolak-balik pakai angkot mengitari kawasan ini. Apalagi pemandangan di sana sangat indah, puncak pegunungan Cyclops yang berkabut di atasnya, serta hamparan Danau Sentani di bawah yang membentang. Tetapi yang paling menyedot perhatian tetaplah rumah kayu yang dihuni para misionaris yang berhalaman luas dan hijau oleh rerumputan tempat para kanak-kanak bule berlarian riang. (Link ini mungkin bisa membantu memberi gambaran seperti apa rumah para misionaris di lereng Cyclops itu). Betapa nyamannya jika saya bisa tinggal di sana, batin saya ngiri.

"Mereka itu nggak cuma bisa bahasa Indonesia, tetapi juga fasih berbahasa Papua pedalaman," ujar sopir angkot -yang ternyata berasal dari Banyuwangi Jawa Timur- pada saya, penumpang yang duduk di bangku depan. Pak sopir bisa menebak wajah Jawa saya, sehingga ia pun yakin bahwa saya baru kali ini menginjak Sentani.More...

"Nah, yang di atas sana itu HIS," katanya lagi sambil menunjuk bangunan di atas bukit. Hhm yah, saya hanya mengangguk karena sehari sebelumnya kolega saya di Jayapura sempat mengajak menyinggahi Hillcrest International School ini saat akan mengantar saya ke Tugu Mac Arthur, tempat mendaratnya Mac Arthur pada Perang Dunia II, di Gunung Ifar, juga lereng Cyclops.

Di sekolah itulah anak-anak bule yang orang tuanya bertugas sebagai misionaris di Papua, menuntut ilmu. Dan salah seorang bekas muridnya, Sabine Kuegler, (situs Sabine dalam Bahasa Jerman ada di link ini) menuliskan memoarnya sebagai anak seorang antropolog dan linguis asal Hamburg - yang tinggal bersama Suku Fayu di pedalaman Papua. Memoar itu berjudul Jungle Child (2005) ditulis dalam bahasa Jerman dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (2007). Terbitan dalam edisi Bahasa Indonesia saya beli awal November 2007.

Dan persepsi saya tentang kehidupan nyaman para misionaris yang tinggal di rumah kayu berhalaman luas di lereng Cyclops, luruh sudah setelah membaca Jungle Child. Rumah yang ditinggali Sabine hanyalah rumah kayu di pinggiran sungai di pedalaman Papua yang setiap malam selalu didatangi aneka binatang, bukan di lereng Cyclops yang asri dan nyaman itu.

Sabine masih berusia 7 tahun ketika ia beserta Judith (kakaknya) dan Christian (adiknya) harus tinggal di antara Suku Fayu, tempat kedua orang tuanya mempelajari bahasa dan budaya masyarakat setempat. Klaus & Doris Kuegler, orang tua Sabine, adalah seorang misionaris yang dikirim ke daerah-daerah tertinggal. Sebelum dikirim ke Papua, mereka telah tinggal beberapa tahun di Nepal. Di sana pula Sabine dilahirkan hingga usia sekitar 3 tahun.

Selama 10 tahun tinggal di antara orang Fayu, Sabine pun tumbuh menjadi layaknya anak-anak Papua yang menyatu dengan alam. Berburu dengan busur dan anak panah, memakan segala macam binatang yang bisa dimakan: babi, ikan, daging buaya, sayap kelelawar, hingga cacing panggang. Dan beradaptasi dengan budaya setempat. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri Sabine adalah nilai-nilai budaya Fayu, bukan budaya Eropa meski ia warga negara Jerman.

Gegar budaya pun menjadi penderitaan batin yang hebat bagi Sabine, ketika orang tuanya mengirim Sabine ke Swiss, melanjutkan sekolah dan tinggal di asrama Montreux, Zurich.

"Awal Oktober 1989. Usiaku tujuh belas tahun. Pakaian yang kukenakan adalah pemberian orang, celana kedodoran berwarna gelap, baju hangat bergaris, dan sepatu berleher tinggi yang menjepit kaki. Aku hampir tidak pernah mengenakan sepatu sebelumnya, jadi rasa sakit ini asing bagiku...." (hal. 13) demikian Sabine mengawali memoarnya saat menginjak stasiun kereta api Hamburg yang asing baginya. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhadap-hadapan dengan kereta api sungguhan....Apa yang harus kulakukan, dorong atau tarik?..." tulisnya.

Hari pertamanya menginjak Eropa diwarnai dengan ketakutan pada dunia Barat yang membuatnya ngeri, yang begitu berbeda dengan kehidupan di hutan. Semua kisah mengerikan tentang bahaya di dunia modern yang pernah didengarnya, tiba-tiba dirasakannya begitu nyata. "Bagaimana aku harus melindungi diri? Aku tak membawa busur dan anak panah, atau bahkan sebilah pisau." (hal 17).

Begitulah, Sabine yang sejak kecil tumbuh bersama alam di lebatnya hutan Papua, harus beradaptasi lagi sebagai orang Eropa, tanah para leluhurnya. Bukan sesuatu yang mudah bagi Sabine, karena ia merasa hutanlah kampung halamannya dan tempat di mana jiwanya merasa nyaman. Ia bahkan pernah berusaha bunuh diri, melukai tubuhnya berulang-ulang dengan silet (hal. 362) demi mengalihkan kepedihan emosinya. Sabine merasa seakan hidup di dua dunia. Dan ia selalu ingin kembali ke hutan, ke Papua.

Dengan menuliskan kisahnya dalam Jungle Child, Sabine berusaha mengobati kerinduannya pada "kampung halaman"-nya, Papua.

-----

Dengerin wawancara BBC Londong dengan Sabine Kugler yuks...

BBC interviewed Sabine in Sept 2005

BBC interviewed Sabine in Dec 2005

Sunday, December 23, 2007

perempuan2 perkasa di tulamben

saya selalu kagum pada keperkasaan perempuan bali..seberat apapun beban, seakan ringan disungginya..juga 2 tanki oxygen ini..pdhal saya nggendong tanki ini saat mau mentas ke darat udah sempoyongan..baru 3 langkah udah ambyur ke laut lg..eh, mereka dgn perkasanya hilir mudik mjd porter tanki..yah, demi 5000 rupiah per tanki..


---- 
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

Sunday, December 9, 2007

Saturday, December 1, 2007

rumah misionaris di papua



ini salah satu gambar yang ada di buku Jungle Child karya Sabine Kuegler.
Review tentang buku itu silakan klik di sini atau di sini juga boleh