laptop, piranti narsis



Salah satu pose narsis yang saya sukai adalah membuka laptop di tempat-tempat umum atau di perjalanan. Lihatlah aksi saya di antara londo-londo enggres ini. Kedua londo ini bener-bener tengah sibuk dengan laptopnya sembari menanti boarding-time di Endiburgh Airport. Sedangkan saya hanya numpang beraksi saja. Membuka laptop dan mencoba akses Wi-Fi yang tersedia. Aksi serupa juga saya lakukan saat transit di Dubai Airport.


Yang lebih parah lagi adalah aksi di depan toko Guess di Orchard Road – Singapore saya sama sekali tidak menyalakan laptop. Cuma membukanya, berpura-pura sibuk mengetik, dan kemudian minta difoto. atau di saat melaju di dengan Virgin Train dari London ke Manchester. Di gerbong First Class ini sebenarnya tersedia fasilitas hotspot, tapi tidak gratis.

Saya sendiri tak tahu ide apa yang ada di balik berbagai aksi narsis saya bersama laptop. Padahal, pada dasarnya, meskipun cukup mobile dan setiap bepergian selalu sangu laptop, tapi saya termasuk orang yang malas berlaptop di tempat umum, kecuali jika ada pekerjaan yang harus saya selesaikan segera. Bahkan, ketika harus beberapa jam tertahan di bandara karena pesawat delay, saya juga lebih suka membaca majalah atau sekedar mondar-mandir di ruang tunggu sambil mengamati lalulalang orang. Kalau untuk sekedar mengecek e-mail, ponsel saya sudah cukup memadai untuk mengaksesnya.

Saya juga kurang begitu suka membawa laptop ke cafe, apalagi ke mall, meskipun hampir setiap tempat itu kini sudah menyediakan fasilitas free hotspot. Saya malah sempet merasa geli ketika menyaksikan seorang suami yang sibuk berlaptop di food-court Ambarrukmo Plaza, sementara sang istri dan seorang anaknya yang kira-kira berusia 5 tahun duduk gelisah –karena gelas es minumannya sudah habis- sementara sang suami belum juga menutup laptopnya. Demi memanfaatkan akses internet gratisan, si bapak rela mengabaikan liburan di hari Minggu bersama keluarga.

Saya juga pernah merasa terasing di Cafe Coklat di Jogja hanya karena saya tidak membawa laptop. Malam itu saya janjian ketemu dengan teman-teman. Celakanya, saya datang setengah jam lebih awal dari waktu yang kami sepakati. Sebenarnya nggak masalah buat saya, tetapi ketika hampir semua tamu kafe sibuk menatapi layar laptop yang terbuka di tiap2 meja, mendandak saya jadi merasa seperti bocah linglung: duduk sendiri dan membaca majalah!

Comments