
Kadang-kadang saya ke luar kota bukan untuk perjalanan dinas atau berlibur, tetapi untuk menghadiri pesta perkawinan relasi. Saya sendiri menganggap agenda kondangan travelling ini tak ubahnya perjalanan dinas. Demi kepraktisan dan hemat biaya, saya jarang mengajak suami turut serta. Untungnya saya sudah biasa jalan sendiri, jadi pergi kondangan sendiri pun bukan masalah buat saya.
Yang sering jadi masalah justru kostum njagong-nya. Saya pernah merasa “saltum” (salah kostum) dan mendadak “salting” (salah tingkah) karena jadi lebih eye-catching ketika njagong relasi di Bali, sebulan sebelum Bom Bali 2002. Seperti biasa saat njagong manten Jawa, saya mengenakan busana batik dengan celana panjang katun polos supaya lebih casual dan fleksibel. Maklum, njagongnya di Gianyar, di sebuah desa kecil dekat Pantai Lebih. Sementara saya harus berangkat dari Legian yang jauhnya kurang lebih 40 km. Oh ya, waktu itu saya bertiga dengan relasi lain yang berangkat dari Surabaya. Setelah menjemput mereka di Bandara Ngurah Rai, kami pun sama-sama meluncur ke Gianyar dengan mobil Katana sewaan.
Sesampai di rumah keluarga pengantin laki-laki, tempat resepsi berlangsung, saya baru sadar bahwa kami sedang njangong pengantin Bali, bukan pengantin Jawa. Pakaian tradisional Bali juga bukan batik. Tak ada tamu undangan lain yang mengenakan batik selain kami bertiga. Setidaknya, sepanjang kami berada di tempat pesta. Semua tamu undangan mengenakan busana tradisional Bali, yang lelaki mengenakan kemeja polos berkrah tegak dengan setelan sarung Bali yang dililitkan setinggi betis. Tak ketinggalan iket penutup kepala. Sementara para perempuannya berkebaya dan berkain.
Sebenarnya sih nggak perlu ada yang dirisaukan ya, wong tradisi kami memang berbeda. Tapi sejak itu saya memilih untuk mengenakan busana non batik untuk njagong relasi, terutama jika relasi saya bukan orang Jawa. Biasanya saya hanya mengenakan busana dengan motif etnik yang casual, biar lebih pede.
Selain urusan fashion, perbedaan tradisi seringkali juga membuat saya dihinggapi kebingungan. Saya pernah mendapat undangan kawinan relasi di Pontianak, Kalbar. Di dalam undangan tertera bahwa resepsi dimulai pukul 15.00 WIB - 19.30 WIB dengan keterangan “bebas memilih waktu”. Waktu resepsinya kok nanggung banget ya, batin saya. Jam tiga sore itu, biasanya jam-nya orang ngantuk. Sementara jam empat sampai jam enam, jam-nya orang mandi dan perut pun juga belum terlalu lapar. Jam makan malam yang ideal memang pukul 7 malam, tetapi justru pada jam itu resepsi sebentar lagi berakhir.
“Pak, di Pontianak orang biasa mengadakan resepsi pukul sekian ya?” Tanya saya pada sopir taksi yang mengantar dari hotel ke gedung resepsi.
“Iya, tapi biasanya mereka pilih datang sekitar pukul 5 sore,” katanya. “Kalau jam 3 begini masih sepi,” tambahnya lagi. Saya sendiri memilih berangkat awal, sesuai undangan, karena sorenya pengin menikmati sunset sambil berketinting di Sungai Kapuas..hehehe…
“Di Jawa orang biasa bikin resepsi siang hari pukul 11 sampai 1 siang. Kalau malam jam 7 - 9,” saya mencoba menginformasikan tradisi resepsi yang biasa berlangsung di Jawa pada umumnya.
“Di sini kalau malam kan masih sering mati lampu. Jadi kami biasa bikin pesta siang hari,” jelas si sopir. Tapi saya rasa bukan semata-mata karena krisis listrik di Kalimantan sehingga orang Pontianak memilih mengadakan resepsi pada pukul 15.00 - 19.00 WIB. Mungkin ada alasan cultural lain yang belum saya cari tahu kenapa.
Mencari Kotak SumbanganLain ladang kan lain pula ikannya. Pernah pula saya linglung sesaat ketika menghadiri pernikahan relasi yang digelar dalam adat Bugis di Makassar. Ndilalah, pesawat saya delayed sehingga saya pun baru tiba di gedung resepsi menjelang pukul 21.00 WITA. Untung masih belum bubaran, meskipun banyak tamu undangan yang sudah pulang dan saya tak bertemu dengan satu orang pun yang saya kenal selain si mempelai perempuan yang merupakan relasi saya.
Begitu turun dari taksi, segera saya menyiapkan amplop sumbangan. Di pintu masuk gedung berdiri para penyambut tamu mengenakan Baju Bodo, pakaian tradisional Bugis. Kalau di Jawa mungkin semacam pager bagus dan pager ayu. Setelah menuliskan nama di buku tamu dan menerima souvenir, saya celingukan mencari kotak untuk memasukkan amplop sumbangan. Di manakan dia gerangan? Bukankah biasanya berada di sebelah buku tamu? Ataukah karena saya datang terlambat sehingga kotak itu sudah disingkirkan?
Malu bertanya sesat di jalan, itu kata pepatah. Tapi saya memilih malu untuk bertanya pada para penerima tamu berbusana tradisional aneka warna itu. Dalam kelinglungan, sambil meremas-remas lipatan amplop di tangan, saya melangkah ke pelaminan untuk memberi selamat pada pengantin. Di depan saya kebetulan ada sepasang suami istri yang juga hendak ke pelaminan, sehingga saya pun bisa sedikit menyembunyikan wajah bingung ini di balik antrian sebelum memberi selamat. “Kalau memang nanti nggak bisa memberikan amplop ini, biar lah nanti saya kirim cek aja,” kata saya pada diri yang galau ini.
Sampai di atas pelaminan, saya melihat si ibu yang di depan saya itu membuka tas kecilnya, mengeluarkan sesuatu yang saya yakin amplop sumbangan, dan kemudian memasukkannya ke dalam pundit-pundi yang diletakkan di sebelah pengantin. Oh la la…, rupanya di situlah si pundi-pundi itu berada. “Sembah nuwum Gusti,” batin saya lega.
Pundi-pundi itu berbentuk semacam guci setinggi kurang lebih 50 cm yang dibalut kain sarung khas Bugis. Ada 2 jumlah pundit-pundi, terletak di sisi kanan dan kiri masing-masing mempelai. Saya tak tahu apakah keduanya menunjukkan apakah sumbangan itu berasal dari tamu penganti pria atau wanita, yang jelas saya asal memasukkan saja amplop sumbangan itu dengan perasaan lega tak terkira.