| Para Prajurit Kraton melakukan sungkeman di Kemagangan sebelum prosesi mengarak gunungan |
Prosesi Garebeg diawali dengan iringan prajurit kraton yang keluar dari Pracimosono di dekat Alun-alun Utara menuju Kemagangan untuk mengambil gunungan yang disiapkan sejak semalam sebelumnya. Jarak tempuh dari Pracimosono ke Kemagangan ini jauhnya sekitar satu kilometer. Rute yang dilewati adalah Jl. Rotowijayan, Jl. Ngasem, Jl. Polowijan, Jl. Magangan Kulon kemudian masuk ke regol atau gerbang Kemagangan. Dari regol Kemagangan yang merupakan bagian belakang kraton ini para prajurit siap mengangat gunungan kemudian keluar kraton lewat Pagelaran yang terletak di bagian depan menghadap Alun-alun Utara. Dari Pagelaran iringan gunungan ini akan dibawa menuju Mesjid Gedhe yang terletak di sebelah barat Alun-alun. Di halaman Mesjid Gedhe, gunungan yang terbuat dari susunan sayur, kacang panjang, dan cabai merah itu akan diperebutkan oleh warga masyarakat.
Prosesi ini berlangsung sejak pukul 08.00 pagi dan berakhir hingga tengah hari sekitar pukul 12.00 Wib. Namun tentu saja para prajurit yang tinggal dari berbagai daerah di Yogyakarta itu biasanya sudah tiba di kraton setidaknya dua jam sebelum prosesi dimulai. Apalagi jika kebetulan perhitungan 1 Syawal yang sudah tercatat dalam kalendar kraton yang mendasarkan hitungan pada kalender Sultan Agung ini bertepatan dengan 1 Syawal yang ditetapkan Pemerintah RI. Itu berarti, para prajurit ini juga harus menunaikan ibadah Sholat Ied terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas budaya mengarak gunungan.
Prajurit muslim biasanya akan mengikuti Sholat Ied di Alun-alun Utara terlebih dulu lengkap dengan busana keprajuritan yang sudah dikenakannya. Hal ini dilakukan untuk menghemat waktu, supaya selepas sholat mereka bisa langsung bersiap di Pracimosono. Sudah pasti pemandangan langka di antara ribuan muslim yang memadati Alun-alun Utara untuk melakukan Sholat Ied ini menarik perhatian para juru kamera. Sholat dengan kostum prajurit aneka warna ini nggak bakalan ditemukan di tempat lain selain di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kan?
Sembari memotret mereka, terlintas dalam benak saya betapa tinggi pengabdian yang mereka berikan untuk kelangsungan budaya kraton. Itu berarti mereka melewatkan hari pertama lebaran tidak di tengah-tengah keluarga, mengingat prosesi acara Garebeg ini berlangsung hingga tengah hari. Selepas rayahan gunungan di halaman Mesjid Gedhe pada pukul 12.00, mereka kembali ke Pracimosono tetap dalam barisan semula. Setelah pasukan dibubarkan di Pracimosono, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing. Padahal tidak semua prajurit tinggal di tengah kota, umumnya malah berasal dari pinggiran kota Yogya, seperti dari Bantul. Sebagian dari mereka juga menggunakan sepeda onthel untuk menuju ke rumah. Kebayang kan, betapa besar pengabdian mereka pada kelangsungan budaya kraton ini.
Selain tradisi Garebeg Syawal yang merupakan salah satu atraksi budaya menarik, pada malam harinya berlangsung pertunjukan wayang kulit di Bangsal Kemagangan. Tak banyak yang mengenal tradisi wayangan tiap 1 Syawal ini. Bisa dibilang, wayangan ini tidak sepopuler Garebeg. Mungkin karena warga Jogja masih sibuk dengan acara keluarga di rumah masing-masing, mungkin juga karena pertunjukan wayang kulit ini berbeda dari pertunjukan wayang pada umumnya.
![]() |
| pertunjukan wayang kulit 1 syawal |
Wayang kulit 1 Syawal biasanya tidak menampilkan Dalang yang sudah kondang di jagat pewayangan. Dalangnya berasal dari kalangan abdi dalem kraton. Padahal peran dalang dalam pertunjukan wayang ini sangat menentukan jumlah penonton. Semakin populer dalangnya, semakin banyak penonton yang rela melek hingga dini hari untuk menikmati wayang kulit.
Namun wayang kulit 1 Syawal ini juga menarik karena menampilkan koleksi wayang kulit klasik milik kraton. Wayang kulit ini diciptakan bukan untuk tujuan komersil, tapi lebih ditujukan untuk upacara tradisi, sehingga dibuat dengan citarasa seni yang tinggi. Konon, prodo-nya terbuat dari emas sungguhan.
Beruntunglah saya yang tinggal tak jauh dari Kemagangan, sehingga dapat menikmati sajian tradisi idul fitri yang kental dengan muatan budaya Jawa ini. Kenikmatan lebaran yang melebihi seporsi ketupat dan opor ayam..!




