jika ingin mengutip tulisan/foto yg ada di sini, cantumkan link secara lengkap, bukan sekedar nama domain www.matatita.com

Tuesday, July 7, 2009

mendaki swayambunath, menemui mata ketiga

Sementara itu, 350 anak tangga menuju puncak tempat stupa bergambar Buddha Eye di Swayambunath dijejali para Buddhis yang hendak melakukan ritual menjelang Tahun Baru Nepal. Di kanan kiri tangga, di lereng-lereng berumput, puluhan ribu orang duduk mengobrol, memakan bekal, bersemedi, melantunkan mantra, atau bahkan meramal nasib.... Sambil tertatih meniti tangga di antara desakan ribuan orang, saya mengagumi eksotisme negeri ini...(TALES from the ROAD hal. 131)
melihat ke atas...uh, masih jauuhhh...


melihat ke bawah...wah, masih beribu orang yang mendaki

melihat ke kanan..ada yang praying together



melihat ke kiri...ada menyantap bekal yang dibawa dari rumah

akhirnya...melihat kota kathmandu dari bukit swayambunath..
the breathaking view of kathmandu

Friday, July 3, 2009

ritual pagi perempuan nepal


Di luar waktu festival, ritual harian warga Nepal yang sebagian besar beragama Hindu dan Buddha ini juga bisa kita nikmati. Tiap pagi, sebelum memulai aktivitas, para perempuan berkain sari (kebanyakan berwarna merah!) melakukan puja (doa) pagi. Mereka berderet membawa piring almunium berisi makanan sesaji untuk dipersembahkan pada dewa di kuil.


Saya amati isi sesaji yang ada di atas piring itu: bunga, telor, snack, nasi, dan aneka makanan lainnya. Tiap-tiap orang memiliki isi piring yang berbeda, sesuai jenis makanan yang dimilikinya di rumah. Seketika saya teringat suasana pagi di Ubud, Bali....(dikutip dari TALES from the ROAD hal. 131)

(lokasi: Bhaktapur, Nepal)

Thursday, July 2, 2009

bisket jatra festival - in bhaktapur NEPAL

Saat saya travelling ke Nepal, saya beruntung bisa berada di antara ribuan atau bahkan ratusan ribu orang yang tengah mengadakan rangkain festival menjelang Nepali New Year. Di Bhaktapur, 13 km dari Kathmandu, rangkaian Nepali New Year dibuka dengan Bisket Jatra Festival yang bertempat di pelataran depan Nyatapola Temple. Festival ini merupakan kompetisi antar dua warga kota Bhaktapur, yaitu kota bagian atas yang terletak di sisi utara Nyatapola Temple dan kota bagian bawah yang terletak di sisi Selatan.

Kompetisi adu kekuatan ini dilakukan dengan menarik chariot atau kereta kayu ukuran raksasa yang beratnya entah berapa ton. Chariot yang diletakkan di pelataran Nyatapla Temple itu kedua sisinya diikat tali tambang untuk menariknya. Semula saya kira kayak lomba tarik tambang, asal udah bergeser dari garis batas berarti udah bisa ditentukan pemenangnya. Ternyata, di festival Bisket Jatra tidak demikian. Kereta kayu itu harus benar-benar berhasil ditarik menuju salah satu kuil di masing-masing wilayah. Jaraknya memang hanya sekitar 200 – 300 meter dari titik start di Nyatapola Temple. Tapi karena yang ditarik kereta yang beratnya berton-ton, sudah begitu di atasnya juga dipenuhi orang, tarik tambang ala Nepal ini pun jadi seru dan berlangsung hingga malam (mulai jam 5 sore sampai lebih dari jam 9 malam).

Puncak dari festival itu, pada malam hari, pihak yang kalah akan marah dan saling melempar batu kerikil. Aksi lempar-lemparan itu berlangsung hingga di lorong-lorong jalan, bikin heboh semua warga kota Bhaktapur. Untung rumah-rumah di Bhaktapur nggak ada yang berjendela kaca. (dikutip dari "Negeri Eksotis" salah satu artikel di buku saya TALES from the ROAD; hal. 130 )




(foto diambil dari lantai paling atas Bhadgaun Restaurant)

Monday, May 25, 2009

pintu biru bata merah


Saya terpesona pada dinding bata merah, yang merupakan bangunan khas arsitektur rumah tradisional Nepal. Juga jendela-jendela kayu tak berkaca, tempat para perempuan melongokkan kepalanya, melihat dunia luar.

Rumah bata merah dengan pintu dicat biru menyala ini sungguh eye-catching. Edo langsung meminta saya berfoto di depannya. "Mumpung kamu juga lagi pake baju merah," katanya. Kontras yang asyik di mata.

Jadilah saya bergaya-gaya di sana. Belum puas bergaya, tiba-tiba bocah pemilik rumah nyelonong masuk. Hehe...maaf ya, Dik..numpang mejeng. rumah kamu keren deh...


(location: swayambunath hill, kathmandu)



Sunday, May 24, 2009

on the road to nagarkot - nepal

,

wwaaa....penumpangnya berjubal bangeettthh....naik belakangan aja aaahhh...daripada sesak napas...



hiiyyaaa...setelah satu setengah jam berjubal bak sarden di dalam bus yang seharusnya cuma untuk 26 penumpang...akhirnya nyampe juga di nagarkot. dan inilah jalan berliku, sempit, dan menanjak yang dilalui bus uyuk-uyukan ini..., menuju ketinggian 1.950 m dari permukaan air laut...


Saturday, May 23, 2009

dilarang makan pinang




Bagi yang sudah pernah ke Papua menggunakan pesawat, pasti akan menemukan stiker larangan makan pinang yang ditempel di kaca-kaca ruang tunggu Bandara Sentani. Mau tahu kenapa sampai sebegitu gencarnya pihak Angkasa Pura membuat larangan makan pinang selama di bandara?

Nih, lihat contohnya, bekas kunyahan pinang yang diludahkan di sepanjang jalan beraspal. Nggak rela kan, kalau lantai keramik Bandara Sentani yang kinclong itu jadi penuh bercak kemerahan....




(noda-noda pinang ini difoto di jalan dekat bandara, Wamena - Kab. Jayawijaya)

Saturday, May 16, 2009

the story of gudeg


The young jackfruit cooked in coconut milk with spices that known as gudeg is the most popular Jogjanese food. There are two kinds of gudeg cooking. First is dry gudeg that cooked more than twice or overcooked. The colour is dark brown and the taste is sweet. The dry gudeg usually served with cassava leaf, dark brown boiled egg, and krecek, crisp beef rind. This food is popular as gift brought back from Jogja because the dry gudeg is very durable for 4 – 5 days.

Different from the first type, the wet gudeg is cooked only once. The taste is not as sweet as the dry gudeg and served with areh, coconut milk that has been simmered until thick. Some people from other city commonly like this type because its taste more deliciously oily and salty. But they couldn’t brought back because wet gudeg is not durable.

The Gudeg sellers are commonly come from Bulaksumur village, north of Jogja city. Before the University of Gadjah Mada was built at Bulaksumur, the jackfruit plants thrive on this village. Then the villagers not only cooked the young jackfruit for their family but also peddled the Gudeg to other places of Jogja city.

Some people from Bulaksumur village have no permanent gudeg stall. Every morning they paddled their bike that carried gudeg food. They sell the gudeg at the sidewalk. In the afternoon, when the food sold out, they back home to prepare the food that will be sell at night.

Nowadays, we could find gudeg in 24 hours a day. Gudeg stalls at kampong Barek - Bu-laksumur are commonly open in the early morning. At noon, we could visit kampong Wijilan near the Kraton to get gudeg for lunch. In the evening, gudeg stalls are easily to find in Jogja main roads, like Jl. Malioboro, Jl. Bigjend Katamso, Jl. Solo. Jl. P. Mangkubumi, Jl. Sultan Agung, etc. The night gudeg stalls are known as warung lese-han, stall that spread out on the ground. Even, in the middle of the night, we could enjoyed gudeg in gudeg pawon at Jl. Kusumanegara.