Monday, August 20, 2012

Hidangan nikmat lebaran di Jogja: gunungan & wayangan

Para Prajurit Kraton melakukan sungkeman di Kemagangan sebelum prosesi mengarak gunungan

Ada yang selalu saya tunggu tiap lebaran tiba. Bukan ketupat dan opor ayam, tetapi tradisi budaya Gunungan atau Garebeg Syawal dan Wayang Kulit yang berlangsung tiap 1 Syawal di Kraton Yogyakarta. Memang sih, Garebeg Syawal tidak semeriah gunungan pada saat Garebeg Maulud yang jatuh bertepatan dengan perayaan Maulud Nabi Muhammad yang kemeriahaanya sudah terasa sejak sebulan sebelumnya karena di Alun-alun Utara Kraton sudah berlansung Pasar Malam Sekaten. Garebeg Syawal berlangsung lebih sederhana, dengan jumlah gunungan yang juga tak sebanyak saat Garebeg Maulud. Namun tetap berlangsung dengan prosesi lengkap dengan mengerahkan seluruh prajurit kraton sejak pagi hingga siang hari.

Prosesi Garebeg diawali dengan iringan prajurit kraton yang keluar dari Pracimosono di dekat Alun-alun Utara menuju Kemagangan untuk mengambil gunungan yang disiapkan sejak semalam sebelumnya. Jarak tempuh dari Pracimosono ke Kemagangan ini jauhnya sekitar satu kilometer. Rute yang dilewati adalah Jl. Rotowijayan, Jl. Ngasem, Jl. Polowijan, Jl. Magangan Kulon kemudian masuk ke regol atau gerbang Kemagangan. Dari regol Kemagangan yang merupakan bagian belakang kraton ini para prajurit siap mengangat gunungan kemudian keluar kraton lewat Pagelaran yang terletak di bagian depan menghadap Alun-alun Utara. Dari Pagelaran iringan gunungan ini akan dibawa menuju Mesjid Gedhe yang terletak di sebelah barat Alun-alun. Di halaman Mesjid Gedhe, gunungan yang terbuat dari susunan sayur, kacang panjang, dan cabai merah itu akan diperebutkan oleh warga masyarakat.

gunugan di halaman mesjid gedhe

Prosesi ini berlangsung sejak pukul 08.00 pagi dan berakhir hingga tengah hari sekitar pukul 12.00 Wib. Namun tentu saja para prajurit yang tinggal dari berbagai daerah di Yogyakarta itu biasanya sudah tiba di kraton setidaknya dua jam sebelum prosesi dimulai. Apalagi jika kebetulan perhitungan 1 Syawal yang sudah tercatat dalam kalendar kraton yang mendasarkan hitungan pada kalender Sultan Agung ini bertepatan dengan 1 Syawal yang ditetapkan Pemerintah RI. Itu berarti, para prajurit ini juga harus menunaikan ibadah Sholat Ied terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas budaya mengarak gunungan.

Prajurit muslim biasanya akan mengikuti Sholat Ied di Alun-alun Utara terlebih dulu lengkap dengan busana keprajuritan yang sudah dikenakannya. Hal ini dilakukan untuk menghemat waktu, supaya selepas sholat mereka bisa langsung bersiap di Pracimosono. Sudah pasti pemandangan langka di antara ribuan muslim yang memadati Alun-alun Utara untuk melakukan Sholat Ied ini menarik perhatian para juru kamera. Sholat dengan kostum prajurit aneka warna ini nggak bakalan ditemukan di tempat lain selain di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kan? 

Sembari memotret mereka, terlintas dalam benak saya betapa tinggi pengabdian yang mereka berikan untuk kelangsungan budaya kraton. Itu berarti mereka melewatkan hari pertama lebaran tidak di tengah-tengah keluarga, mengingat prosesi acara Garebeg ini berlangsung hingga tengah hari. Selepas rayahan gunungan di halaman Mesjid Gedhe pada pukul 12.00, mereka kembali ke Pracimosono tetap dalam barisan semula. Setelah pasukan dibubarkan di Pracimosono, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing. Padahal tidak semua prajurit tinggal di tengah kota, umumnya malah berasal dari pinggiran kota Yogya, seperti dari Bantul. Sebagian dari mereka juga menggunakan sepeda onthel untuk menuju ke rumah. Kebayang kan, betapa besar pengabdian mereka pada kelangsungan budaya kraton ini.

Selain tradisi Garebeg Syawal yang merupakan salah satu atraksi budaya menarik, pada malam harinya berlangsung pertunjukan wayang kulit di Bangsal Kemagangan. Tak banyak yang mengenal tradisi wayangan tiap 1 Syawal ini. Bisa dibilang, wayangan ini tidak sepopuler Garebeg. Mungkin karena warga Jogja masih sibuk dengan acara keluarga di rumah masing-masing, mungkin juga karena pertunjukan wayang kulit ini berbeda dari pertunjukan wayang pada umumnya.

pertunjukan wayang kulit 1 syawal

Wayang kulit 1 Syawal biasanya tidak menampilkan Dalang yang sudah kondang di jagat pewayangan. Dalangnya berasal dari kalangan abdi dalem kraton. Padahal peran dalang dalam pertunjukan wayang ini sangat menentukan jumlah penonton. Semakin populer dalangnya, semakin banyak penonton yang rela melek hingga dini hari untuk menikmati wayang kulit. 

Namun wayang kulit 1 Syawal ini juga menarik karena menampilkan koleksi wayang kulit klasik milik kraton. Wayang kulit ini diciptakan bukan untuk tujuan komersil, tapi lebih ditujukan untuk upacara tradisi, sehingga dibuat dengan citarasa seni yang tinggi. Konon, prodo-nya terbuat dari emas sungguhan. 

Beruntunglah saya yang tinggal tak jauh dari Kemagangan, sehingga dapat menikmati sajian tradisi idul fitri yang kental dengan muatan budaya Jawa ini. Kenikmatan lebaran yang melebihi seporsi ketupat dan opor ayam..!

Tuesday, August 14, 2012

Pramuka, petualangan masa kanak-kanakku


Jika disuruh mengembalikan ingatan, mencari korelasi masa kanak-kanak dan remaja yang erat kaitannya dengan kegemaran saya menjelajah negeri dan benua lain, barangkali salah satu diantaranya adalah Pramuka.     Semasa SD hingga SMP, Pramuka merupakan kegiatan yang selalu saya tunggu-tunggu datangnya. Senang rasanya bisa meninggalkan ruang kelas untuk bermain di alam terbuka. Belajar menyeberang sungai dengan meniti sebatang bambu, memanjat dan menyusur tebing dengan seutas tali, mencari jejak dalam kegelapan malam, dan seabrek kegiatan adventurous lain yang mengasyikkan.

Bila saat berkemah tiba, saya makin girang karena tak hanya meninggalkan ruang kelas, tetapi juga meninggalkan rumah. Meninggalkan kenyamanan kasur dan kelambu menuju pembaringan berupa selembar tikar beralas rumput dan tanah lapangan. Sementara itu angin malam yang dingin menembus tenda putih kami yang terbuat dari katong terigu segitiga biru. Dan jika hujan tiba-tiba turun di malam hari, seluruh isi tenda menjadi basah kuyup. Kamipun menggigil kedinginan. 

Selain bergulat dengan alam yang menuntut ketahanan dan kemandirian, Pramuka juga mengajarkan kepemimpinan atau leadership. Anggota Pramuka biasanya akan dibagi dalam beberapa regu. Tiap regu umumnya terdiri dari 8-10 anggota. Dalam satu regu tersebut harus ada satu ketua dan satu wakil ketua. Jika membentuk barisan, ketua regu akan berada di barisan paling depan atau paling kanan jika berjejer. Sedangkan wakil ketua regu berada di barisan paling belakang atau paling kiri. Sang ketua regu juga harus bisa menjadi leader bagi anggotanya, sementara wakil ketua yang berdiri di barisan paling belakang harus bisa memastikan bahwa timnya tidak ada yang melenceng. 

Celakanya, saya selalu ketiban tugas jadi ketua regu. Tentu saja bukan karena saya hebat. Lebih tepatnya karena saya nggak pernah bisa nolak ketika anggota regu menunjuk saya untuk berada di barisan paling depan. Saya pikir-pikir apa susahnya memimpin barisan regu. Cukup bermodal suara lantang untuk menyiapkan dan membubarkan barisan kan? Selebihnya, tiap-tiap anggota Pramuka kan sudah dibekali ilmu survival, sehingga tugas ketua regu hanya memastikan anak buahnya solid. 

Tapi, suatu ketika, saya mendapat ujian berat sebagai ketua regu. Waktu itu kami sedang berkemah di kawasan hutan jati di Grobogan, Jawa Tengah. Perkemahan ini dalam rangka persiapan Jambore Nasional (Jamnas) di Cibubur pada tahun 1986. Kawasan hutan jati ini dipilih karena alamnya cukup menantang. Juga terdapat tebing yang bisa digunakan untuk belajar memanjat atau menuruni tebing. Namanya juga persiapan menuju Jambore, jadi perkemahan kali ini juga dipilih di kawasan yang lebih menantang dari kemah-kemah sebelumnya.

Hari pertama dan kedua berjalan dengan indah meski lelah dengan berbagai petualangan alam yang membuat kaki jadi lecet-lecet tergores daun berduri dan terantuk batu. Tragedi terjadi pada malam terakhir, saat jejak malam. Jejak malam memang merupakan kegiatan yang agak menegangkan karena kami harus melintas dalam kegelapan, menuju pos tertentu lalu mendapat sejumlah ujian yang harus dipecahkan di tiap-tiap pos. Acara jejak malam biasanya juga diadakan di saat tubuh mulai terasa lelah, di atas pukul 21.00. Jadi bisa kebayang betapa tidak nyamannya berada dalam kondisi tertekan di tengah malam sementara badan mulai letih dan mata yang terkantuk harus dibuka lebar-lebar untuk mencari jalan dengan mengandalkan lampu senter dan cahaya bintang. 

Pos demi pos berhasil kami lalui. Saat pos terakhir berhasil kami lewati, kami pun melangkah dengan lega kembali ke area perkemahan meski tetap harus melewati hutan jati yang gelap. Begitu tiba di area perkemahan dan melapor pada kakak pembina sebelum masuk ke tenda, saya terkejut bukan kepalang. Saat membariskan regu di hadapan kakak pembina, rupanya anggota regu saya tercecer satu orang. Wakil ketua regu yang berada di barisan paling belakang masih tertinggal, entah di mana. Sebagai ketua regu, saya merasa langsung terpuruk. Merasa nggak becus memimpin regu. Bahkan saya hanya bisa menundukkan kepala, tak berani membalas tatapan marah kakak pembina.

Lalu kami disuruh menunggu beberapa saat. Barangkali ia tertinggal karena langkahnya kalah cepat. Kami mulai gelisah ketika barisan regu berikutnya datang, sementara wakil ketua regu saya belum juga nongol. Satu persatu regu lain di belakang kami sudah memasuki area perkemahan. Semua sudah berkumpul kembali di lapangan ini, kecuali wakil ketua regu saya. Suasana pun menjadi keruh. Kakak-kakak pembina mulai memencar mencarinya. Sementara itu kami disuruh beristirahat di tenda masing-masing karena malam sudah begitu larut.

Di dalam tenda saya gelisah, teman-teman lain juga merasa cemas. Ke manakah gerangan dia? Padahal hanya tinggal beberapa langkah saja kami tiba di area perkemahan. Rute kembali yang kami lewati pun tidak terlampau sulit, walau gelap. Bahkan kami melewati jalan beraspal meski kanan kirinya adalah hutan jati. Tinggal mengikuti jalan beraspal, lalu pada tikungan di depan belok kiri menuju area perkemahan. Sepuluh menit berjalan juga akan sampai. Tapi kenapa ia tak bisa sampai ya? 

Esok paginya ketika terbangun, saya kembali cemas karena ternyata ia belum ada di tenda kami. Lalu saya keluar tenda mencari informasi. Dari seorang kakak pembina, saya mendapat kabar baik bahwa ia sudah ditemukan dini hari tadi dan saat ini sedang beristirahat di tempat yang lebih nyaman. Kabar buruknya adalah, ia ditemukan dalam keadaan aneh, di atas pohon. Hah?!

Saya tak berani bertanya-tanya lagi karena kakak pembina seperti enggan bercerita banyak, lantas menyuruh kami membongkar tenda dan berkemas. Hari itu memang hari kami kembali ke rumah. Dalam perjalan pulang menggunakan bus, kami tak menyanyikan lagu riang "di sini senang di sana senang". Kami masih berduka dan prihatin, juga penasaran. 




Thursday, February 23, 2012

EUROTRIP | 16 - 26 Mei 2012


Itinerary Spring in Europe | 16 – 26 mei 2012

Hari ke-1 (16 Mei 2012): Jakarta - Amsterdam
Peserta berkumpul di bandara Soekarno Hatta selambatnya 3 jam sebelum jadwal penerbangan. Kita akan menggunakan pesawat KLM untuk menuju Amsterdam.

Hari ke-2 (17 Mei 2012) – Schiphol – Keukenhoff - Amsterdam
Sekitar pukul 07.00 waktu setempat, tiba di Amsterdam Schiphol. Perjalanan akan dilanjut ke Keukenhoff  untuk menghemat waktu, mengingat kebun tulip akan ditutup pada tanggal 20 Mei 2012. Perjalanan ke Keukenhoff (30 menit dari Schiphol) menggunakan bus khusus yang melayani rute Schiphol – Keukenhoff. Bagasi dititipkan di locker yang ada di Schiphol. Wisata kebun tulip dinikmati selama setengah hari, sekitar pukul 15.00 sudah tiba di Amsterdam untuk check in di hotel. Perjalanan dari Keukenhoff ke Amsterdam sekitar satu setengah jam. Setelah check in, istirahat dan jalan-jalan menikmati suasana malam di Amsterdam.

Akomodasi: hostel di sekitar Amsterdam Centrale/Damrak

Hari ke-3 (18 Mei 2012): Amsterdam Day Trip – Brussels
Setelah sarapan pagi di hostel, ada briefing khusus bagi peserta berupa tips menjelajah kota Amsterdam. Seharian penuh menikmati Amsterdam dan sekitarnya. Ada banyak pilihan trip sesuai selera: menggenjot sepeda keliling kota Amsterdam, menikmati galeri dan museum seni, menyusur kanal, mengintip pembuatan keju, atau foto berbusana ala noni belanda di Volendam. Peserta akan dibekali map untuk menikmati Amsterdam sesuai interest masing-masing.

Malam hari menggunakan  bus Eurolines meluncur ke Brussels dan bermalam di Kota Komik.

Hari ke-4 (19 Mei 2012): Brussels Day Trip – Paris
Setelah sarapa pagi di hostel, briefing tips menjelajah Kota Komik Brussel. Peserta dapat mengunjungi Museum Herge bapaknya Tintin (30 menit perjalanan dari Brussel) atau strolling alias jalan-jalan Grand Place dan sekitarnya. Cukup dengan berjalan kaki kita bisa mengunjungi Museum Komik dan menikmati mural-mural komik di dinding yang ada di sepanjang lorong, mengintip patung imut Manekkin Piss, melihat proses pembuatan coklat, mencicip wafel, dan menikmati windows shopping di Galeries Royale Saint Hubert .

Malam hari meluncur ke Paris dengan menggunakan kereta ekspres Thalys. Akomodasi di Paris terletak tak jauh dari stasiun Gare du Nord Paris.

Hari ke-5 & 6 (20-21 Mei 2012): Paris 2 Day Trip
Paris adalah kota yang indah, itu sebabnya kita mengalokasikan dua hari full day untuk menikmati Paris. Bagi yang menyukai sastra dan seni, bisa menjelajah kawasan Latin Quatier dan napak tilas jejak novel Da Vinci Code, masuk ke Museum Louvre untuk melihat lukisan Monalisa dan senyumnya. Bagi yang ingin menikmati keindahan kota Paris yang romantic, bisa berjalan-jalan menyusur sungai atau mengunjungi Monmartre.

Malam hari meluncur ke Venice dengan menggunakan night train. Kita bermalam di kereta ekspress.

Hari ke-7 (22 Mei 2012): Venice Full Day Trip
Saatnya menjelajah kanal-kanal di kota Venice. Awas tersesat! Venice adalah kota yang cantik dan sangat touristy. Orang berjubel memadari jalan dan kanal. Selin keindahan kanal dan arsitekturnya, Venice juga merupakan kota asal petualang legendaries Marcolopo. Rumah tinggal Marcopolo konon sering dijadikan tujuan perjalana bagi para turis karena penasaran. Mari kita napak tilas Marcopolo.

Kita akan bermalam di Venice. Hhmm..seperti  apa ya rasanya menikmati malam di tepi kanal yang romantic ini?

Hari ke-8 (23 Mei 2012): Verona Day Trip
Pagi hari setelah sarapan melanjutkan perjalanan ke Verona dengan kereta. Verona mrupakan kota yang menjadi latar cerita drama Romeo & Juliet gubahan Shakespeare. Di kota itu terdapat rumah yang dimitoskan sebagai rumah Juliet lengkap dengan jendelanya. Selain dikenal sebagai kota Romeo & Juliet, Verona juga merupakan kota peristirahatan Julius Caesar pada masa kejayaan Romawi. Jejak arsitektur Romawi banyak terdapat di kota kecil ini, termasuk amphiteathre yang merupakan terbesar ke-3 di Italia setelah Colloseum di Roma dan Capua di Naples. Keindahan kota Verona dapat dinikmati dari bukit san Pietro. Siapkan stamina untuk mendakinya.

Malam hari pukul 22.00 kita meninggalkan Verona menuju Roma dengan kereta malam. Tiba di roma sekitar pukul 06.00 waktu setempat.

Hari ke-9 & 10 (24 - 25 Mei 2012): Roma & Vatikan 2 days trip
Roma adalah kota pusat peradaban Barat yang sangat indah. Sisa-sisa kebesaran Kerajaan Romawi berupa arsitektur dan seni dapat kita nikmati dengan mengeskplorasinya. Setidaknya butuh setengah hari untuk menjelajah kawasan Colloseum, Palatine Hill, dan Roman Forum yang konon merupakan pusat kota Romawi Kuno.  Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Roma, kita juga akan mengunjungi Vatikan, negara terkecil di dunia dan menjadi pusat pemerintahan bagi umat Katholik sedunia. Mari kita jalan kaki mengelilingi Negara dalam arti sesungguhnya! Meskipun Vatikan merupakan pusat agama Katholik, namun pengunjung bebas masuk ke Gereja St Petrus asalkan berpakaian sopan dan tahan mengantri berjam-jam. Di kawasan ini juga terdapat Sistine Chapel yang sangat indah karena langit-langit dan dindingnya dipenuhi lukisan karya Michelangelo.

Akomodasi di hostel dekat Stasiun Termini.


Hari ke-11 (26 mei 2012): kembali ke Jakarta via Amsterdam by KLM


Syarat & Kondisi EUROTRIP

1.    EUROTRIP merupakan paket perjalanan yang menekankan pada keleluasaan peserta untuk mengeksplor kawasan kota/negara sesuai dengan interes masing-masing. Sehingga trip ini lebih cocok untuk peserta yang sudah biasa melakukan perjalanan secara mandiri (backpacking).
2.    Kami tidak menggunakan bus pariwisata untuk mengunjungi obyek-obyek wisata. Peserta bebas menggunakan moda transportasi lokal yang tersedia (bus, tram, kereta) untuk mencapai obyek yang dituju.
3.    Karena trip ini memberi keleluasaan pada pilihan peserta, maka biaya paket trip ini tidak termasuk biaya mengunjungi obyek wisata pilihan dan makan. Biaya paket hanya meliputi biaya akomodasi (budget hostel), tansportasi antar kota/negara, transport dari/ke bandara/stasiun kedatangan/keberangkatan, serta lokal transport metro/bus/tram/kereta. Tiket obyek wisata yang termasuk dalam harga paket perjalanan adalah wisata kebun tulip Keukenhoff.
4.    Sangat disarankan masing-masing peserta sudah memiliki rencana perjalanan sendiri, sehingga dapat menghemat waktu dan pemesanan tiket sudah dapat dilakukan secara online (misalnya tiket mengunjungi Sistine Chapel di Vatikan, tiket masuk Museum Madame Tussaud, tiket naik ke menara Eiffel, dll).
5.    Kuota peserta terbatas 15 – 20 orang dewasa saja dengan batas usia minimal 20 tahun, maks 50 tahun atau lebih asalkan masih fit.
6.    Pendaftaran peserta ditutup 1 MARET 2012 atau apabila kuoto sudah terpenuhi. Daftar via inbox fb atau  via e-mail: tours@matatita.com supaya lebih terdokumentasi
7.    Untuk berbagi informasi mengenai segala sesuatu yang terkait dengan EUROTRIP dapat melakukan diskusi secara intens via email (tours@matatita.com) atau grup fb matatours.

HARGA PAKET TOUR
1.    Biaya tour selama 10 hari di Eropa diperkirakan antara US$ 800 – 1000
2.    Tiket Pesawat KLM US$ 890 – 1300 (semoga bisa mendapat tiket yang lebih murah lagi)
3.    Visa Schengen (visa kunjungan turis) sekitar EUR 60
4.    Asuransi perjalanan (wajib) dengan pertanggungan sebesar min EUR 30.000 atau sekitar Rp 360.000.000 (biaya pembuatan asuransi sekitar Rp 700.000)

PENDAFTARAN
Daftarkan nama, email, dan nomor hp melalui inbox fb saya atau email: tours@matatita.com sebelum tgl 1 Maret 2012.  Informasi detil mengenai biaya tour, cara pembayaran, cara pengurusan visa, dll akan diinformasikan lebih detil lewat email dan di-share ke masing2 pendaftar.

CATATAN:
  • Itinerary bersifat tentatif, dapat berubah menyesuaikan kondisi di lokasi
  • Disarankan sudah membaca buku "EUROTRIP: Safe & Fun" karya Matatita (B-First, 2010)

Friday, February 17, 2012

MATATOURS...jalan-jalan ala MATATITA :D

ubud rice field trekking

Sejak menerbitkan buku EUROTRIP: Safe & Fun (2010), saya mendapat puluhan email maupun message di inbox facebook yang nadanya sama, "kapan bikin acara jalan-jalan bareng ke Eropa, Mbak?" Biasanya saya akan menjawab dengan malas-malasan karena selama ini merasa lebih nyaman sebagai solo traveler. Bahkan isi buku EUROTRIP itu juga memberikan sejumlah tips bagi pejalan solo, terutama buat female solo traveler. Jadi, saya merasa aneh sendiri jika membuat trip jalan bareng rame-rame.

Maka, dengan tegas saya mengabaikan ajakan para pembaca buku saya.

Sampai suatu hari, seorang pembaca memberi komentar yang sangat menyentuh sisi keangkuhan saya. Katanya ia sudah membaca beberapa buku traveling tentang Eropa yang ditulis para backpacker Indonesia. Katanya lagi, buku Eurotrip yang saya tulis menurutnya punya kelebihan. "Matatita tidak hanya menunjukkan bahwa pergi ke Eropa sekarang lebih terjangkau, tapi juga mengajak saya menyususri tempat-tempat yang tidak diceritakan penulis lain. Misalnya saat ke Paris, Matatita menggambarkan kawasan Latin Quarter tempat para seniman dan filsuf besar seperti Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, dan Pablo Picasso dengan sangat indah. Bahkan dia membayangkan para filsuf Perancis tengah berdiskusi di kafe-kafe....".

Saya tertawa saat mendengar pujiannya. Ya iyalah, secara saya memang suka seni dan sastra, jadi wajar kan jika saya menjelajah tempat itu. Tapi, pembaca itu berkata-kata lagi, "Justru itu, berarti Anda memiliki selera jalan-jalan yang nggak sekedar I've been there, pernah ke Paris dan berfoto dengan latar Eiffel....". Meski saya masih tertawa, tapi sejujurnya saya terpana oleh kata-katanya.

Kemudian saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok dia begitu jeli mengamati buku dan gaya jalan-jalan saya ya. Apakah memang ada orang lain yang seide dengannya. Jangan-jangan cuma dia saja yang barangkali punya ketertarikan di bidang yang sama. Berarti cuma kebetulan saja.

Lama saya tercenung meresapi komentarnya. Saya bahkan memutar ingatan ke beberapa tahun silam, mengobrak-abrik semua memori tentang perjalanan saya baik yang sendiri maupun bersama teman-teman.

Saya jadi ingat, suatu hari saya pernah mengajak kawan liburan ke Bali. Dia dengan tegas menolak, "Ah, Bali mah bosen!" Saya protes, sebab saya tak pernah merasa bosen dengan Bali, terutama Ubud. "Kamu pernah ke Ubud belum?" Dia menggeleng. "Nah, ayo ke Ubud..." Setelah berdebat panjang, akhirnya kami jadi juga berangkat ke Ubud. Begitu tiba di Ubud dan menginap dua malam, dia marah-marah, "kenapa ya aku tidak mengenalmu dari dulu. Ternyata kamu bisa menunjukkan tempat yang luar biasa." Lalu ia pun ketagihan ke Ubud. Begitu juga sahabat saya yang lain, seorang penulis, yang mengenal Ubud dari saya hingga dia pernah nge-kost di Ubud untuk merampungkan tulisannya. Tapi kali lain, saya pernah merasa sedih ketika berhasil menghasut seorang kawan berlibur ke Ubud dan setelah itu dia tidak memberikan kesan positif.

Selera jalan-jalan memang berbeda bagi tiap orang. Tetapi dari sekian macam, pasti juga ada yang merasa mirip satu sama lain. Meski jumlahnya tidak banyak.

Dari situlah saya mengikis ego saya.

Kemudian saya mulai membuat acara trip barengan. Bukan murni jalan-jalan, tapi disisipi dengan workshop penulisan perjalanan yang saya namai Travel Writing Trip. Saya mengajak teman-teman ke Ubud selama beberapa hari, sambil jalan-jalan juga memberi materi penulisan. Ide iseng itu, rupanya mendapat respon yang membungahkan hati. Pada trip berikutnya saya mengajak teman fotografer untuk membekali wawasan tentang memotret perjalanan. Kali lain, saya iseng-iseng mengajak menjelajah kampung di Kotagede. Nggak nyangka, ada juga yang mau diajak blusukan seharian.

Ah, ternyata saya juga bisa kok jalan bareng-bareng dan tetap asyik. Asalkan, nggak keluar dari jalur yang sesuai dengan ketertarikan saya. Saya lihat, teman-teman juga enjoy dengan perjalanan kami.

Dari sanalah MATATOURS dilahirkan dengan niatan mengumpulkan para pejalan yang memiliki selera jalan ala antropolog (dweh, berat banget..!). Maksud saya, jalan-jalan yang real life experience. Jalan-jalan yang mengeksplorasi satu kawasan dengan lebih detil. Jalan-jalan untuk mengenal keragaman manusia budaya dari berbagai bangsa. Jalan-jalan untuk menelusur jejak para penulis buku/novel dan film yang mendunia. Hhmm..intinya bukan sekedar jalan-jalan I've been there seperti kata pembaca saya tadi.

Oh ya, Matatours saya lahirkan tepat pada tanggal 14 Februari 2012. Sengaja saya memilih bertepatan dengan hari yang diyakini sebagai Hari Kasih Sayang, supaya dicintai banyak travelers..hehehe...

Thursday, January 26, 2012

[novel perjalanan] masih bagian pengantar


BRUXELLES MIDI

“Selamat datang di Negeri Tintin!” seruku dalam hati ketika kereta ekspres Thalys yang kutumpangi berhenti di Bruxelles Midi, stasiun kereta tersibuk di kota Brussel, Belgia. 

Bergegas kugendong ransel lusuhku meninggalkan kenyamanan gerbong kelas satu yang sudah membuatku terkantuk-kantuk selama 80 menit perjalanan dari Paris. Belgia adalah negara keempat yang kusinggahi dalam perjalanan panjang solo backpacking selama sebulan menjelajah Eropa Barat. Di negeri kelahiran Tintin, tokoh komik berjambul yang kugilai sejak kanak-kanak itu, aku akan tinggal selama lima hari. 

“Lima hari kelamaan, Honey. Belgia kan negara kecil,” komentar Nezar, kekasihku, saat kami mendiskusikan itinerary beberapa hari sebelum aku meninggalkan Jakarta. “Sudah begitu, obyek wisata di Brussel lokasinya saling berdekatan. Jalan kaki sehari juga udah tuntas,” tambahnya. Nezar pernah mampir ke Belgia dua tahun lalu, saat ia mendapat fellowships dari Radio Netherlands untuk mengikuti Journalist Summer Course Program di Belanda. 

Tapi aku punya ide lain. Justru karena Belgia itu kecil dan berdempetan dengan negera Luxembourg, Jerman, dan Belanda, akan memudahkanku mengakses negara-negara itu dalam day trip. Setidaknya aku bisa ke Koln atau kota-kota lain di Jerman Barat yang hanya butuh sekitar satu setengah jam perjalanan kereta dari Brussel. Lalu kembali ke Brussel dengan kereta terakhir pukul 18.42. Bisa juga day trip ke Luxembourg. Kalau ke Belanda, aku sudah berencana memasuki Negeri Kincir Angin itu dari Antwerp Belgia, naik bus ke Rotterdam atau Den Haag.  Mungkin bermalam di sana, baru kemudian ke Amsterdam. 

“Jadi, stay for five days di Brussel itu bikin aku lebih fleksibel mengatur itinerary,” kilahku. “Hemat energi pula, karena nggak perlu gendong ransel gede kesana-kemari,” tambahku. Untuk perjalanan day trip aku cukup menggendong daypack alias ransel kecil 24 liter yang berisi Lonely Planet, jaket Gore-Trex yang waterproof, dan botol air mineral. Juga travel wallet yang berisi dokumen penting perjalananku seperti paspor, tiket, asuransi, dan lain sebagainya. 


***

Di lobby stasiun, Tintin menyambutku. 

Dinding-dinding dan pilar lobi stasiun Bruxelles Midi dipenuhi dengan komik strip “Tintin on the Locomotive” yang diambil dari seri petualangan Tintin di Amerika yang yang dibuat Herge pada tahun 1932. Terkesan sangat klasik. Komik strip itu direporduksi sesuai aslinya, hitam putih, karena pada masa itu Tintin belum dicetak berwarna. 

Segera kekeluarkan kamera pocket dari kantung tas pinggangku. Tak lupa, kugunakan kamera ponselku untuk memotret beberapa frame. Snap and Send, langsung kukirim hasilnbya ke blog dan facebook untuk memamerkan posisiku pada semua kontakku bahwa aku baru saja tiba di Brussel. “Tintin welcomes me!” demikian kutulis caption singkat padat makna itu. Gambar serupa tak lupa ku-forward pada Nezar lewat teknologi MMS. Dia membalasnya, “Salam buat Herge ya.” Aku nyengir membacanya. Herge adalah kartunis yang melahirkan tokoh legendaris Tintin. Di salah satu dinding di lobi ini juga terdapat goresan nama Herge dalam ukuran raksasa. Segera kufoto dinding ini, lalu ku-MMS gambar tersebut pada Nezar. “Salam kembali dari Herge” balasku. 

Dari lobi aku berjalan menuju stasiun metro. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Hampir pukul satu siang. Pantas saja perutku Indonesiaku sudah merintih-rintih. Kubelokkan kaki menuju minimarket Carrefour yang terdapat di lobi stasiun untuk membeli sepotong baguette isi tuna seharga 3 Euro. Lalu kucari bangku kosong yang tersedia di area lobi yang dipadati toko-toko layaknya mall ini. Nikmat juga makan baguette isi tuna sambil mengamati orang lalu lalang atau melihat etalase toko. Ada toko kamera, toko jam Swatch, toko fashion Esprit, tak ketinggalan toko coklat yang bikin air liurku mengintip di sudut bibir.

Bruxelles Midi memang merupakan stasiun besar, ramai, dan keren di Brussel. Semua jenis kereta berhenti di sini, termasuk kereta ekspres antar negara seperti Eurostar, Thalys, dan TGV. Posisi Brussel yang terletak di tengah-tengah juga memungkinkan penumpang kereta dari negara Belanda, misalnya, berpindah kereta di Brussel untuk melanjutkan perjalanan ke Koln, Jerman. Di kompleks stasiun ini juga terdapat stasiun metro dan tram. Kebayang kan betapa sibuknya stasiun ini. Untung banyak toko-toko keren yang bisa buat windows shopping sambil menanti kereta selanjutnya. 

Ternyata, aku juga tergoda untuk windows shopping dulu. Sialan, kutukku dalam hati, ketika menyadari tiba-tiba aku sudah bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke toko jam Swatch. Oh, no! Aku keliling Eropa bukan untuk buying something, but to experience. Kucoba menahan hasrat itu sekuat tenaga sambil mencoba meyakinkan diri bahwa jam tanga Baby G yang ada di pergelangan tanganku ini masih cukup keren. 

Sebelum beranjak menuju stasiun metro, kukeluarkan print-out pemesanan kamar lewat internet di Hostel Grand Place untuk membaca direction yang tercetak di sana. Biar nggak salah arah.

From Brussels South train station (Midi):
Take the tram: go to the metrostation (don't take metro, but TRAM!), take any tram direction NORD (north), exit tram at stop 'Brouckère square' (place Brouckère), exit the metrostation at the sign 'Jacqmain avenue' - do not take the long horizontal automatic walker (= direction metro)-, walk into the Jacqmain avenue (the avenue on the left side of the big Coca Cola neon lights, and with white streetlights at night), walk along the right side, pass 2 traffic lights, until you arrive at the hostel, nr 99.

Don’t take metro, but TRAM! Kubaca ulang kalimat itu untuk mengingatnya sekali lagi. Lalu kulipat kertas putih itu dan kumasukkan ke dalam kantong tas pinggang supaya mudah diambilnya sewaktu-waktu lupa arah. 

Sebenarnya Hostel Grand Place terletak nggak jauh dari stasiun Bruxelles Nord, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun karena kereta Thalys, juga kereta ekspres antar negara lainnya tidak berhenti di stasiun Bruxellez Nord, dan hanya berhenti di stasiun Bruxelles Midi yang berada di Brussel selatan, mau nggak mau harus disambung dengan moda transportasi lain untuk mencapai hostel. Selain naik trem bisa juga naik taksi. Tapi sudah pasti akan menguras kantongku. Ongkos taksi dari Bruxelles Midi ke hostel minimal 10 Euro atau bisa jadi lebih. Sementara jika naik trem, aku hanya perlu mengeluarkan duit 3 euro saja. 


---- 
mural komik strip di brussel klik link ini ya..