[Travelpreneur] 01. Pada Mulanya adalah Buku



Sejak menerbitkan buku EUROTRIP: Safe & Fun (2010), saya mendapat puluhan email maupun message di inbox facebook yang nadanya sama, “kapan bikin acara jalan-jalan bareng ke Eropa, Mbak?” Biasanya saya akan menjawab dengan malas-malasan karena selama ini merasa lebih nyaman sebagai solo traveler. Bahkan isi buku EUROTRIP itu juga memberikan sejumlah tips bagi pejalan solo, terutama buat female solo traveler. Jadi, saya merasa aneh sendiri jika membuat trip jalan bareng rame-rame.

Maka, dengan tegas saya mengabaikan ajakan para pembaca buku saya.

Sampai suatu hari, seorang pembaca memberi komentar yang sangat menyentuh sisi keangkuhan saya. Katanya ia sudah membaca beberapa buku traveling tentang Eropa yang ditulis para backpacker Indonesia. Katanya lagi, buku Eurotrip yang saya tulis menurutnya punya kelebihan. “Matatita tidak hanya menunjukkan bahwa pergi ke Eropa sekarang lebih terjangkau, tapi juga mengajak saya menyususri tempat-tempat yang tidak diceritakan penulis lain. Misalnya saat ke Paris, Matatita menggambarkan kawasan Latin Quarter tempat para seniman dan filsuf besar seperti Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, dan Pablo Picasso dengan sangat indah. Bahkan dia membayangkan para filsuf Perancis tengah berdiskusi di kafe-kafe….”.

Saya tertawa saat mendengar pujiannya. Ya iyalah, secara saya memang suka seni dan sastra, jadi wajar kan jika saya menjelajah tempat itu. Tapi, pembaca itu berkata-kata lagi, “Justru itu, berarti Anda memiliki selera jalan-jalan yang nggak sekedar I’ve been there, pernah ke Paris dan berfoto dengan latar Eiffel….”. Meski saya masih tertawa, tapi sejujurnya saya terpana oleh kata-katanya.

Kemudian saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok dia begitu jeli mengamati buku dan gaya jalan-jalan saya ya. Apakah memang ada orang lain yang seide dengannya. Jangan-jangan cuma dia saja yang barangkali punya ketertarikan di bidang yang sama. Berarti cuma kebetulan saja.

Lama saya tercenung meresapi komentarnya. Saya bahkan memutar ingatan ke beberapa tahun silam, mengobrak-abrik semua memori tentang perjalanan saya baik yang sendiri maupun bersama teman-teman.

Saya jadi ingat, suatu hari saya pernah mengajak kawan liburan ke Bali. Dia dengan tegas menolak, “Ah, Bali mah bosen!” Saya protes, sebab saya tak pernah merasa bosen dengan Bali, terutama Ubud. “Kamu pernah ke Ubud belum?” Dia menggeleng. “Nah, ayo ke Ubud…” Setelah berdebat panjang, akhirnya kami jadi juga berangkat ke Ubud. Begitu tiba di Ubud dan menginap dua malam, dia marah-marah, “kenapa ya aku tidak mengenalmu dari dulu. Ternyata kamu bisa menunjukkan tempat yang luar biasa.” Lalu ia pun ketagihan ke Ubud. Begitu juga sahabat saya yang lain, seorang penulis, yang mengenal Ubud dari saya hingga dia pernah nge-kost di Ubud untuk merampungkan tulisannya. Tapi kali lain, saya pernah merasa sedih ketika berhasil menghasut seorang kawan berlibur ke Ubud dan setelah itu dia tidak memberikan kesan positif.

Selera jalan-jalan memang berbeda bagi tiap orang. Tetapi dari sekian macam, pasti juga ada yang merasa mirip satu sama lain. Meski jumlahnya tidak banyak.

Dari situlah saya mengikis ego saya.

Kemudian saya mulai membuat acara trip barengan. Bukan murni jalan-jalan, tapi disisipi dengan workshop penulisan perjalanan yang saya namai Travel Writing Trip. Saya mengajak teman-teman ke Ubud selama beberapa hari, sambil jalan-jalan juga memberi materi penulisan. Ide iseng itu, rupanya mendapat respon yang membungahkan hati. Pada trip berikutnya saya mengajak teman fotografer untuk membekali wawasan tentang memotret perjalanan. Kali lain, saya iseng-iseng mengajak menjelajah kampung di Kotagede. Nggak nyangka, ada juga yang mau diajak blusukan seharian.

Ah, ternyata saya juga bisa kok jalan bareng-bareng dan tetap asyik. Asalkan, nggak keluar dari jalur yang sesuai dengan ketertarikan saya. Saya lihat, teman-teman juga enjoy dengan perjalanan kami.
Dari sanalah MATATOURS dilahirkan dengan niatan mengumpulkan para pejalan yang memiliki selera jalan ala antropolog (dweh, berat banget..!). Maksud saya, jalan-jalan yang real life experience. Jalan-jalan yang mengeksplorasi satu kawasan dengan lebih detil. Jalan-jalan untuk mengenal keragaman manusia budaya dari berbagai bangsa. Jalan-jalan untuk menelusur jejak para penulis buku/novel dan film yang mendunia. Hhmm..intinya bukan sekedar jalan-jalan I’ve been there seperti kata pembaca saya tadi.

Comments