Saat itu di penghujung bulan Desember, ketika saya mengunjungi Interlaken. Dari kamar hotel, terlihat salju berserakan di halaman belakang. Setelah menaruh ransel, saya bergegas keluar kamar untuk mendekatinya, lalu perlahan berjalan di atasnya dengan takut-takut. Takut terpeleset. Dan begitu kaki saya sudah menapak dengan stabil, saya pun mondar-mandir kegirangan. Sesekali berhenti untuk memotret aksi si kaki yang norak ini.
Showing posts with label destinasi. Show all posts
Showing posts with label destinasi. Show all posts
Sunday, February 8, 2015
Winter Walking in Interlaken, Swiss
Saat itu di penghujung bulan Desember, ketika saya mengunjungi Interlaken. Dari kamar hotel, terlihat salju berserakan di halaman belakang. Setelah menaruh ransel, saya bergegas keluar kamar untuk mendekatinya, lalu perlahan berjalan di atasnya dengan takut-takut. Takut terpeleset. Dan begitu kaki saya sudah menapak dengan stabil, saya pun mondar-mandir kegirangan. Sesekali berhenti untuk memotret aksi si kaki yang norak ini.
Wednesday, July 2, 2014
Swiss tak Selalu Bersalju

Seringkali kita membayangkan Swiss sebagai negara yang berselimut salju dingin. Memang sih, Swiss dikelilingi oleh pegunungan dengan salah satu puncaknya yang tertinggi yaitu Jungfrau. Namun bukan berarti semua wilayah Swiss diselimuti salju.
Musim salju (winter) berlangsung pada bulan Desember - Maret dengan puncak paling dingin di bulan Januari dan Februari. Pada bulan-bulan ini salju dapat dengan mudah kita temukan di beberapa kota di Swiss. Salju ada di mana-mana, di sepanjang rel kereta, di halaman rumah, dan juga di atas hamparan rumput.
Wisata Gratisan di London

Memang sih, London itu mahal. Apalagi saat nilai kurs Rupiah melorot, membelanjakan uang buat liburan ke London serasa berat. Serasa mewah-mewahan juga. Bayangkan, Poundsterling hampir mendekati Rp 20.000,- saat ini. Tapi London juga memberikan kemewahan gratis berupa kekayaan pengalaman yang tak bisa ditakar dengan angka-angka. Ada sejumlah atraksi dan tempat wisata keren yang diberikan London tanpa perlu membeli tiket. Dari mulai landmark, museum, galeri, taman, hingga aneka pertunjukan musik dan seni.
Wednesday, February 2, 2011
ayo jelajah nusaraya..!
![]() |
| Losari Beach, Makassar |
Bertempat tinggal di kota wisata nomor 2 di Indonesia, Yogyakarta, terkadang membuat saya jadi bingung mencari destinasi liburan long weekend, selain ke Ubud Bali. Di saat yang lain pengin long weekend-an di Jogja, saya enaknya ke mana ya? Ke Bandung? Ah, males wisata fashion. Ke Malang? Pengin sih, tapi mendingan nanti aja kalo Baby Bindi udah jadi kid alias udah gedean. Ke Jakarta? Kayaknya kok nggak keren liburan ke Jakarta. Hehehe...!
Liburan ke luar negeri? Bindi memang sudah punya passport dan sudah punya tiket promo Air Asia untuk ke Singapore bulan April 2011 nanti. Selain Singapura, negara tetangga yang baby friendly alias nyaman buat jalan-jalan sama si kecil, kayaknya kok nggak ada. Hong Kong? Oke juga sebenarnya, tapi kejauhan kalo buat long weekend 4D3N. Kuala Lumpur? Itu juga mirip-mirip Jakarta. Paling nanti ke Petronas dan main di mall atau liat aquarium di KLCC. Ke Bangkok? Hhmm... enggak worth buat Bindi deh kayaknya. Negara-negara tetangga lain dari tiga yang saya sebut jauh lebih nggak nyaman kondisinya buat jalan-jalan bawa anah umur 15 bulan.
Setelah saya renung-renungkan, ternyata memang Jogja is the best kok. Weekend-an jelajah candi-candi pasti seru dan nggak ada habisnya. Hobi ini sudah kami lakukan sejak Baby Bindi umur 6 bulan dan sempet terhenti setelah Merapi meletus. Padahal kami belum sempat ke Borobudur.
Selain 'jajah Jogja milang kori" (jelajahi kota Jogja), target jalan-jalan jauhnya Baby Bindi adalah ke luar pulau Jawa, biar lebih kenal beragam Budaya Nusantara. Ke Bali sudah dua kali. Pengin ke timurnya lagi, ke Lombok suatu saat nanti. Ke Makassar sudah pernah sekali. Kapan-kapan pengin dilanjut ke Pare-Pare nengokin adiknya Edo yang bertugas di sana sekalian wisata budaya ke Toraja. Sebenarnya waktu ke Makassar kemarin sudah merencanakan hal ini, tapi karena butuh waktu liburan minimal seminggu, saya lantas menundanya. Ke Borneo? Pengin sekali ngajakin Baby Bindi ke pedalaman Kaltim, tinggal di rumah panjang (lamin) suku Dayak. Saya kan pernah tinggal di sana selama sebulan jaman jadi mahasiswa Antropologi dulu. Semoga suatu hari angan ini terwujud.
Saya juga pengin ajak Baby Bindi ke belahan Borneo lain, ke Pontianak. Kebetulan ada kerabat yang barusan dipindah tugas ke Pontianak awal Januari 2011 lalu. Tadinya juga, long weekend imlek ini pengin ke sana. Tapi karena ada deadline pekerjaan dan tiketnya jadi melejit karena etnis Tionghoa di Pntianak dan Kalbar pada imlekan. Ya sudah ditahan saja, masih bisa kapan-kapan kok.
Eh ndilalah, kok ya tadi pagi sahabat saya kirim inbox mengabarkan rencana pernikahannya. Sahabat saya itu, asalnya dari Banjarmasin. "Acaranya di Banjar bukan? Kalau di Banjar aku mau dateng sekalian ajak Baby Bindi." Balas saya bersemangat. Semangat yang full power, lha wong barusan nyalain komputer pagi-pagi di kantor, login ke FB, dan menemukan notifikasi di inbox. Sambil berbalas-balasan lewat inbox, saya membuka website Lion Air yang melayani penerbangan direct Jogja - Banjarmasin (dulu ada Mandala). Juga nelpon Edo menyampaikan niatan ini yang langsung di-acc. Nggak sampe 15 menit kemudian, saya kirim konfirmasi e-ticket itu ke sahabat saya sambil mengancam, "awas kalo gak jadi kawinan tanggal itu!" Malah dia yang shock karena nggak nyangka dalam waktu sekejap saya sudah punya tiket bertuliskan nama saya, Edo, dan Baby Bindi. Belum tahu dia, ya begini inilah yang disebut gayung bersambut.
So, Baby Bindi is going to South Borneo at the end of this month.
*
Subscribe to:
Posts (Atom)

