Bisnis Travel itu Mudah, TAPI....


"Mbak, saya sudah membayar lunas biaya trip sejak bulan April.."

Saya tercengang. Makin tercengang ketika ia mengirimkan bukti transfer dan tanda terima...yg kalo ditotal jumlahnya lebih banyak dari biaya Eurotrip Matatita yg saya buat.

Ia membayar trip lewat agen perjalanan yg websitenya keren..biaya trip juga ditransfer ke rekening perusahaan, bukan perorangan. Pokoknya penampilan sebagai agen perjalanan yang cukup meyakinkan. Beda sama saya deh, penampilan backpacker. Website aja nggak sempet membenahi masih ala blogger. Rekening lebih sering pake nama sendiri walo kalo ada yg perlu rekening giro perusahaan saya juga punya.

Tapi ternyata website itu hanya travel agen template..alias isinya hanya info2 paket trip hasil ngesub..segala paket trip dijualnya..dari bali, lombok, spore, bangkok, jepang, maldive, eropa, amerika..kompliiitt...tapi sudah pasti fotonya template googlingan..tidak banyak foto-foto hasil jepretan sendiri. Apalagi foto-foto gaya blusukan yg nggak penting kayak foto-foto saya.


Jadi kalo ada yg daftar trip barulah dialihkan ke operator lain. Kali ini saya dapet pelimpahan peserta utk Eurotrip. Peserta sudah melunasi semua biaya, tp yg ditransfer ke saya baru DP 3.5jt. Biaya visa pun harus berkali-kali diingatkan baru ditransfer. Saatnya cetak tiket juga belum ditransfer. Katanya, nunggu gajian. Dia bilang, ntar kabari aja kalo memang harga tiketnya naik. Eh, heran saya, baru kali ini ada peserta yg nggak terpesona pada tiket promo summer keberangkatan dari Jakarta pula. Biasanya tiket promo tuh dari KL. Saya aja berusaha nyariin tiket promo, kok dia malah mau bayar mahal.

Lalu saya berinisiatif menghubungi langsung si peserta trip. Saya infokan bahwa jika time limit sudah lewat, kalo rebooking belum tentu dapat harga yg sama. Kasian kalo tiket promonya sampe terlewat. Dia pengusaha, berbisnis, saya yakin tidak perlu nunggu gajian hanya utk bayar tiket yg nggak sampe seribu dolar.

Dan akhirnya, terkuaklah sudah. Dana yang sudah lunas dibayarkan entah kenapa begitu berat ditransfer sebagian utk bayar tiket. Saya hanya minta ditransfer sesuai jadwal. Jadwal angsuran trip saya email ke semua peserta. Tgl sekian bayar visa, tgl sekian bayar tiket, tgl sekian angsuran trip, tgl sekian final invoice.

Di era digital saat ini, jualan trip itu makin mudah ya. Tinggal bikin disain yang bagus, posting di sosmed, bayar jasa web designer utk bikin web keren. Siapapun bisa melakukannya, tak perlu modal besar.

Tapi saya termasuk orang yg kadang nggak sadar dengan pentingnya sebuah penampilan untuk menggoda orang. Meski saya mengerjakannya dengan penuh perjuangan. Setidaknya saya melakukan survey utk tiap destinasi yg ingin saya tawarkan. Saat survey pun saya lebih suka jalan sendiri. Saya blusukan ke sana ke mari. Memotret dari berbagai sudut sampe kadang-kadang lupa selfie. Saya memandu dan mengajari peserta Eurotrip bagaimana menjadi pejalan yang mandiri, agar kali lain tak perlu membayar saya lagi karena sudah bisa backpackingan sendiri.

Begitulah saya bergulat dengan Eurotrip. Saya senang karena bisa mendapatkan uang dari sebuah kerja kreatif dan kerja keras ini. Saya juga bangga ketika Eurotripper bisa lebih mandiri dan mendapat banyak pengalaman di perjalanan. Karena bagi saya bekerja bukan sekedar untuk mencari uang, tapi juga untuk menstransfer pengalaman..dalam hal ini pengalaman bertualang..

Comments