house on the hill

Siang itu (20/6/2008), saya tiba di Bau Bau pukul 11.15 Wita dengan Merpati (JOG - UPG - BUW). Driver relasi baru menjemput setelah sholat Jumat. Sebenarnya sih nggak terlalu lama, tapi bandara BUW yang sangat imut dan sedikit rame ketika ada pesawat landing dan take off itu membuat saya jadi makhluk paling linglung. Beberapa tukang ojek yang menawari sempat saya tolak karena tidak tahu harus menuju ke mana. "Nunggu jemputan aja Mbak. Semua hotel penuh nih, karena ada acara Kapolda. Jadi harus muter nyari dulu," ujar relasi saya yang tengah menyidapkan event di Pantai Kamali. Beginilah di kota kecil, begitu ada pejabat berkunjung, semua hotel fully-booked.

Lalu saya bengong di ruang tunggu bandara yang sepi. Bener-bener sepi, karena yang tersisa hanya 5 orang: saya, ibu penjaga kantin yang sudah mulai berkemas, seorang pegawai dinas perhubungan, seorang polisi bandara, dan seorang lelaki tak berseragam. Mereka sedang mengobrol.

Sementara perut saya mulai kelaparan. Saya yakin ini lapar psikis. Hehe... Bengong di bandara sepi ini akan membuat saya makin kelaparan. Mendingan nekat ke kota, mencari inapan sendiri tanpa bantuan relasi. Toh saya sudah biasa melakukan yang beginian kan?

Villanya Pak Kasim

Segeralah saya buka "the bibble LP". Hanya ada 4 hotel yang direkomendasikan LP. Saya pilih yang di luar kota, yang tidak beralamat di jalan yang menggunakan nama pahlawan nasional (Jl. Kartini, Jl. Diponegoro, Jl. Sultan Hasanuddin, dll). Hotel yang saya telpon itu bernama Highland Resort atau House on The Hill a.k.a Bukit Villa. Wuih, keren banget nih namanya. Seperti apakah wujud hotel yang direview LP seperti ini: "has one of the most spectacular setting of any hostel in eastern Indonesia."

"Mau bicara dengan siapa?" Jawab suara di seberang ketika saya mencoba menelpon Hill House. Kok nggak seperti jawaban resepsionis hotel ya, jangan-jangan sudah berganti nomor, bain saya. Maklum lah, LP yang saya miliki ini terbitan tahun 2005, baragkali saja memang sudah tidak up to date.

"Betul ini Bukit Villa?" tanya saya ragu.

"Iya, betul. Mau bicara dengan siapa?" Jawabannya membuat saya semakin nggak mengerti.

"Saya mau menginap di sini, Mbak. Masih ada kamar kosong nggak?" lanjut saya.

"Sebentar saya tanyakan dulu. Nanti nelpon lagi ya," jawabnya membuat saya makin tak mengerti.

"Loh, bukannya ini Bukit villa?"

"Iya, tapi ini nomor telpun kantor notaris..."

What..?!

"Kantor pemilik Bukit Villa," lanjutnya.

"Ya sudah, kalau gitu saya minta nomor telpon hotelnya dong..."

"Biar saya telponkan saja ya. Nanti Mbak nelpon kemari lagi."

LOL...! Aneh. Kayak gini kok the most spectacular sih? Saya nyaris kehilangan selera. Tapi karena tak ada pilihan, saya pun menelponnya lagi. "Haloo..mau bicara dengan siapa?" Haiyah.., barangkali memang seperti itu greetings yang digunakan untuk menyapa setiap telpun masuk, batin saya geli.

Ternyata masih ada kamar. "Oke, lalu alamat hotelnya di mana ya Mbak?" Saya tidak menemukan alamat Hill House di LP. Bahkan nama kampung atau daerahnya pun tak ada.

"Bilang saja ke tukang ojek, minta dianar ke villanya Pak Kasim. Semua sudah tahu kok," katanya. Hhmm..., pasti Pak Kasim ini Notaris terkenal di Bau Bau. Atau mungkin Notaris pertama? Ah, jangan-jangan satu-satunya notaris di kota kecil ini?

Tetapi sudah tidak ada tukang ojek di bandara ini. Saya celingak-celinguk, barangkali melihat lelaki nangkring di atas motornya. Petugas bandara yang sejak tadi menawari ojek lantas menebak, "cari ojek ya?" Saya mengangguk dan dia tersenyum, "dari tadi ditawarin nggak mau." Senyum kemenangannya makin terbuka lebar. Lalu dipanggilnya seseorang.

Eh, kok yang datang rekan sejawatnya? Sama-sama berseragam Dinas Perhubungan pula! Kepada rekan sejawatnya itu, ia memberitahukan lokasi villa Pak Kasim. Setelah ia mengangguk paham, saya dipersilakan memboncengnya.

House on The Hill memang benar-benar spectacular. Berada di atas bukit batu, tersembunyi di balik rerimbunan, dan hanya ada satu jalan utama untuk menuju ke sana. Jalan itu kecil, selebar jalan desa tetapi sudah beraspal. Tak ada angkot lewat (kecuali dicarter), hanya sesekali motor pengojek yang melintas.

Saya yakin pendatang kesulitan menemukan tempat ini kalau bukan karena membaca LP dan popularitas Pak Kasim sebagai pemiliknya. Di depan villa tak ada sign-board yang terpasang. Bahkan pagarnya pun hanya pagar kayu biasa, seperti rumah orang kampung pada umumnya. "Yang bener, masak ini tempatnya?" Tanya saya pada petugas bandara eh tukang ojek ketika menghentikan kendaraannya di depan pagar kayu jelek itu. "Ya bener, kalau villa Pak Kasim memang di sini tempatnya." Karena saya ragu, saya pun mempersilakan dia menunggu sementara saya masuk ke halaman menanyai seseorang di sana.

Rupanya memang inilah tempatnya. Untuk sesaat saya merasa shock. Duh, kok terpencil begini ya. Mana sepertinya rumah kampung. Tapi rasa shock itu hanya sesaat. Begitu Atty, penjaga villa, mengantar saya ke paviliun di belakang rumah, saya langsung shock dalam artian takjub.

Gila...view-nya cantik banget. Dari paviliun kayu berlantai 2 dengan 3 kamar itu, saya bisa memandang kota Bau Bau dari ketinggian. Hamparan laut luas dan hijaunya pepohonan bukit mempesonakan siapapun yang melihatnya. Dari dalam kamar yang berdinding kaca lebar, keindahan itu dapat saya nikmati sambil leha-leha di atas kasur berkelambu.

Angan saya pun dibawa berkelana....

Comments

  1. yah begitulah Bauz mbk...
    sy gak heran klo mbk mrasa kaget smua org tw p'kasim krn dsna nmanya pjabat or yg trlihat agak tajir dkit psti di tw smua org..bahkan hampir smuany pd sodaraan heheee..
    itulah kota kcil..
    kbetulan ortu sy mrantau dsna lbh dr 20thn mlah mpe skg msh dsna,,jd sy ckp tw ttg daerah i2...
    tp org bauz menyenangkan koq..
    sy aj yg mrantau k jkt sring kangen pengen blik lburan ksna,,ktm tman2 en liat pmandangan pantainy yg msh alami bgt..
    udh jln2 k kratonny blm mbk?

    ReplyDelete

Post a Comment