serasa duta wisata

Perjalanan pertama saya ke luar negeri terjadi baru awal Februari 2001 lalu. Itupun karena memenangkan kompetisi penulisan artikel tentang perempuan berkarir yang diselenggarakan majalah (dulu masih tabloid) CITACINTA, grup-nya FEMINA. Tiga pemenang utamanya mendapat hadiah jalan-jalan ke Hong Kong yang disponsori oleh Hong Kong Tourism Board (HKTB).

Sekitar sebulan sebelum keberangkatan saya sudah mendapat kabar dari Pemimpin Redaksi yang menelpon langsung. "Sekedar memastikan dulu, passport-mu masih berlaku sampai 6 bulan ke depan kan?" tanyanya setelah saya histeris kegirangan karena memenangkan hadiah jalan-jalan itu. Saya merasa beruntung sudah membikin passport sejak tahun 1998, meski pada saat itu belum memiliki rencana ke luar negeri. Sehingga ketika ada kompetisi berhadiah wisata ke manca negara yang mensyaratkan harus memiliki passport, saya bisa langsung mengikutinya. Yang ini tak ubahnya pepatah sedia payung sebelum hujan. Hehe....

Setelah pemberitahuan kemenangan itu, saya diminta menunggu kabar kapan kami akan dijadwalkan berangkat. "Kayaknya kalo bisa menikmati malam tahun baru di Hong Kong seru tuh, Mbak," komentar saya. "Atau pas Chinese Ney Year." Wah, makin banyak maunya. Tapi ternyata pihak CitaCinta juga tidak bisa menentukan kapan harus berangkat, alias nggak bisa milih hari, karena semua sudah diatur oleh agensi yang ditunjuk Hong Kong Tourism Board.

Ya wis, manut sing mbayari, sing penting dolan nang luar negeri, batin saya yang tiap hari jadi kegirangan. Rasa girang itu pun tak luput saya wartakan pada teman-teman. "Kok Hong Kong sih...," komentar salah seorang teman saya. Nadanya sedikit melecehkan, setidaknya yang tertangkap di kuping saya. "Dolan kok ke Hong Kong," tambahnya lagi yang membuat saya nyengir.

Meskipun sedikit terganggu, tapi kemudian saya mahfum. Pada saat itu, Hong Kong masih lekat dengan image sebagai kota kulakan alias belanja. Tempat para cicik-cicik dan kokoh-kokoh mencari aneka barang yang dapat dipasarkan di Indonesia. Dengan kata lain, liburan ke HK nggak ada bedanya dengan pergi ke Mangga Dua Jakarta. Nah!

Sebenarnya pada saat itu HKTA/HKTB tengah gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata Hong Kong lewat program Discover Hong Kong. Antara lain lewat kerjasama dengan media cetak dan elektronik di Indonesia. Selain mengundang para wartawan ke HK, media partner ini juga bisa mengadakan aneka kontes dengan hadiah wisata gratis ke HK. Liputannya kemudian dimuat di media terbitannya.

Banyak keuntungan mengikuti wisata gratis yang disponsori oleh HKTB ini. Karena mereka punya misi mempromosikan Hong Kong, sudah barang tentu service yang diberikan dijamin memuaskan. Kalau tidak, bisa jadi bumerang buat mereka sendiri. Media punya kekuatan untuk menulis apapun. Kalau tulisan hasil liputan itu nggak menarik dan pembaca jadi nggak tergoda untuk traveling ke Hong Kong, mereka bakal rugi habis-habisan.

Karena itu, wisata promo ini membuat saya bagai putri duta wisata! Diajaknya kami mengunjungi tempat-tempat wisata di seluruh penjuru Hong Kong. Kami juga makan siang dan dinner di resto yang berkelas. Peak Cafe, The Boathouse, Rainforest Cafe, hanyalah sebagian dari nama resto yang masih saya ingat. Oh ya, kami juga sempat makan malam bareng Boyd Fung, Manager Public Relations HKTA yang mengundang kami.

Promosi wisata HK itu kini memang sudah menuai hasilnya. Berlibur ke HK bukan hal yang aneh lagi, bahkan menjadi salah satu destinasi favorit bagi sejumlah perusahaan di Indonesia yang ingin mengentertain karyawan atau kelega bisnisnya. Sekitar dua tahun lalu, adik ipar saya diajakin meeting ke HK oleh perusahaannya. Selain ke HK, ia sekalian lanjut ke Beijing. Lalu akhir tahun 2008 kemarin, gantian sepupu saya yang dientertain perusahaannya ke HK selama sepekan. Empat hari di HK dan dua hari di Macau.

Hhhmm...dulu cuma museum lilin Madame Tussaud yang saya banggakan sepulang wisata ke HK. Sekarang, saya bermimpi bisa mengeksplor HK lagi. Hehe....

Comments