Thursday, April 16, 2009

ke NEPAL dalam duka



"Nepal itu di mana sih?" Tanya Alm. Ibu saya, persis 3 hari sebelum beliau berpulang pada Sang Khalik, 12 Maret 2009. Lalu Bapak mengeluarkan peta serta buku ensiklopedi dunia dan kemudian menunjukkannya pada Ibu. "Nepal itu di atas India dan di bawah China," jelas saya sambil menunjuk pada kotak kecil wilayah Nepal dalam peta. "Jadi apa yang menarik di negara sekecil ini?" Tanya Ibu lagi.

Saya lantas bercerita tentang Himalaya dengan Everest yang puncaknya tertingi di dunia. Dan Ibu segera paham karena lebih mengenal nama Himalaya ketimbang Nepal. Tapi kemudian saya tegaskan bahwa saya ke Nepal bukan untuk naik gunung. "Di sana banyak wisata budaya. Juga sebagai pusat agama Buddha karena Siddharta lahir di sana." Ibu lantas manggut-manggut sambil masih mengamati peta.

Kepulangan Ibu yang mendadak 3 hari setelah saya berpamitan itu, membuat saya & bojo sempet berencana membatalkan perjalan kami ke Nepal awal April 2009, sebelum 40 harinya Ibu. Menurut kepercayaan Jawa, sebelum 40 hari kematian, arwah almarhumah dipercaya masih berada di sekitar rumah. Karena itu ada baiknya penghuni rumah tidak melakukan perjalanan jauh.

Tapi karena semua tiket sudah saya beli sebulan sebelumnya, serta nggak memungkinkan untuk refund karena tiket promo, terpaksalah kami tetap berangkat. Meskipun waktu keberangkatannya dipadatkan beberapa hari dan harus nambah biaya upgrade untuk re-schedule tiket. Nggak tega rasanya ninggalin Bapak yang sekarang sendiri di rumah.

Ternyata, traveling dalam suasana berduka memang nggak nikmat. Ketidaknyamanan itu diperparah dengan masalah telekomunikasi yang masih payah di Nepal. Di saat saya membutuhkan untuk bisa keep in touch dengan Bapak setiap saat lewat SMS, sekedar untuk mengabarkan posisi dan kondisi kami serta mendengar kabar dari Jogja, rupanya jaringan telekomunikasi mobile di Nepal belum dibuka akses internasionalnya (outbond). Sehingga simcard Indonesia nggak bisa aktif di Nepal (meskipun sebelum berangkat pihak provider memastikan sudah bekerja sama dengan provider lokal di Nepal). Sementara simcard lokal (Mero Mobile) yang kami pakai selama di Nepal, hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi di Nepal (inbond), kirim SMS dan nelpon ke Indonesia tapi nggak bisa menerima SMS balik dari Indonesia. (Padahal kalau baca buku panduan dan website, fitur layanannya lumayan memuaskan, GPRS, MMS, international roaming, dll. Tapi saya nggak pernah berhasil mengaktifkan GPRS-nya dan hanya mendapat jawaban "wait for 30 minutes" melulu.)

Persoalan telekomunikasi ini sebenarnya sudah sempat kami pelajari sebelum berangkat. Sebenarnya pun nggak terlalu masalah nggak bisa terima telpon atau SMS balik dari Indonesia. Itung-itung sekalian nyepi, melupakan sesaat rutinitas pekerjaan dan utang-utang kartu kredit yang belum terbayar (hehe...). Masalahnya, dalam suasana berduka begini, saya pengin tetep bisa berkomunikasi secara lancar. Jadi kalau ada apa-apa, bisa langsung bertindak siaga.

Hari pertama tiba di Kathmandu, saat pesawat mendarat dan ponsel Indonesia kami menyampaikan pesan "limited service", pikiran saya langsung awut-awutan. Begitu tiba di hostel dan meletakkan ransel, saya langsung berburu simcard lokal di kawasan Thamel.

Membeli kartu perdana di Nepal ternyata nggak sesederhana kita beli perdana di Indonesia. Selain harus ngisi dan menandatangani form yang ditulis pake huruf Nepal (tentu saja dibantu pemilik kios ponsel), kita juga harus melampirkan fotocopy passport, copy visa, dan 1 lembar pas foto berwarna. Karena saya butuh 2 kartu untuk saya dan bojo, meskipun dua-duanya pake nama sama, tetep aja harus mengisi 2 form dan melampirkan kopian ID tersebut serta 2 pas foto. Nggak praktis banget kan?

Karena nggak ready dengan fotocopy-an Visa On Arrival yang kami dapat saat mendarat di bandara tadi, kami pun harus mencari tukang fotocopy yang juga nggak mudah didapat di Thamel. Harus menyusuri jalan berdebu dan macet untuk menemukan kios fotocopy imut itu. Lalu balik lagi ke kios ponsel untuk menyerahkannya, setelah membuat si tukang fotocopy sedikit keki karena saya membayarnya dengan selembar uang Rs 500 padahal ongkosnya cuma Rs 5. "Do you have the small one?" tanyanya ketika saya menyodorkan lembaran uang lecek yang saya terima dari Money Changer di Bandara. "No, I haven't. Sorry, I just arrived in Kathmandu," jawab saya sambil menunjukkan lembaran lainnya berupa seribuan Nepal Rupees. Meski bersungut, ia harus maklum, sambil mengorek-ngorek recehan dari lacinya.

Akhirnya saya berhasil mengaktifkan simcard lokal setelah menyerahkan semua kopian ID dan mengisi 2 lembar form serta membayar Rs 1.100 atau sekitar Rp 165.000 dengan pulsa sebesar Rs. 100 atau Rp 15.000. Buru-buru saya kirim SMS ke Indonesia mengabarkan bahwa provider di Indonesia itu sudah berbohong karena ternyata nggak bisa on setiba di Nepal sekalian menginfo nomor simcard lokal kami. Tunggu punya tunggu, SMS itu tak berbalas. Hanya ada report error dari customer service yang membuat saya makin gelisah. Udah SMS-nya error, pulsanya berkurang banyak pula.

Kemudian berlarilah saya ke warnet yang ndilalah nggak jauh dari kios ponsel itu. Mengaktifkan YM! dan berkomunikasi dengan temen di kantor, minta tolong temen untuk nyoba-nyoba nelponin ke nomor Nepal saya atau ngirim SMS lewat segala provider Indonesia. Hasilnya nihil! SMS yang saya kirim bisa diterima dengan baik, tapi saya bak orang tuli nggak bisa menerima balasan SMS dan telpon mereka. Celaka!

Demi memastikan kondisi di rumah (Jogja) baik-baik saja, saya lantas menelpon ke Indonesia, menghubungi Bapak dan menyampaikan masalah telekomunikasi ini. Karena telekomunikasi hanya bisa dari satu pihak, jadilah saya rajin nelpon ke rumah untuk cek & ricek. Boros juga sih, tapi apa boleh buat. Daripada kenapa-napa kan?

(Setelah beberapa hari jadi ponsel budeg sebelah, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal dengan +4561xxxxxx. Saya bingung dengan kode negara +45 itu. Tapi begitu saya angkat, oh...rupanya Ywed yang pake nomor Matrix Indosat yang seharusnya +62816xxxxx. "Loh, kok kamu bisa menelponku sih?" tanya saya keheranan. Dan kenapa yang muncul angka +45 yang berarti kode negara Denmark ya? Padahal saat itu dia lagi di Seminyak!)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment