Wednesday, July 15, 2009

sepotong tak kan pernah cukup

review by tride sembiring

jika kalian berharap buku tentang travel ini akan mengulas 'what to see' atau 'where to go' seperti yg biasanya dijadikan 'jualan' buku2 travel, maka saya nyatakan Anda sedang 'kecele'. Tales from the Road memang tidak menyajikan itu, tapi justru disini kekuatan angle buku ini. Membaca Tales from The Road buat saya membawa saya larut dalam tiap fragmen peristiwa yang tertulis di situ. Tidak seperti layaknya buku-buku travel yang menempatkan pembaca pada orbit luar (menjadi the outsider), TFTR membawa kita seolah2 menjadi subyek dari ceritanya. Nah loh, jarang bukan ada sebuah buku tentang travel yang melibatkan pembaca sbg pemeran di dalamnya?

Liputan penulisnya tentang peristiwa Ngaben, dan gambar2 yg mendukung untuk memperkuat cerita membuat saya serasa berada diantara pelaku upacara2 ngaben dalam jurnal tsb. Belum lagi gambaran tentang Nepal, Bhaktapur yang membuat saya bisa membayangkan nuansa Bhaktapur meski saya belum pernah sampai kesana. Uraian yang natural tentang local people, culture dan alam Nepal membuat saya merasa sedikit mengenal negara kecil itu, jadi seolah2 saya sedang belajar tentang ilmu antropologi. Asik.

Bahkan ketika penulis bercerita tentang TKI yang menginap di rumahnya bersama majikannya dan bergaya lebih bule dari bule, bagi saya itu adalah fenomena tidak lazim yang diceritakan dg gaya kocak yg membuat saya tidak berhenti tertawa. Sama sekali tidak terkesan ini bagian dari sebuah buku traveler....

Banyak informasi tentang hal-hal kecil yang luput diulas di beberapa buku travel, didetailkan di sini. Misalnya fenomena tentang Scam yang ternyata tidak cuma ada di Jogja, juga pengetahuan kita tentang modus-modus scam yg membuat kita bisa lebih aware jika bepergian sendiri. Info tentang tarif yg harus kita bayar kepada penduduk lokal untuk sebuah shoot dan paparan yg menjelaskan mengapa kita dalam tanda petik "harus rela" membayar cukup mahal untuk HTM di beberapa tempat wisata, menurut saya akhirnya melegakan. Karena ada alasan cukup kuat yg membuat kita mahfum dg harga2 yg kita pikir mahal untuk ukuran IDR. Saya berkesimpulan, penulisnya cukup jeli membidik sisi lain pemahaman pentingnya memelihara heritage place, daripada sekedar menjadi provokator atas mahalnya sebuah HTM. ooohhhhh...so wise.

Tips-tips tentang travel yang dikutip di TFTR juga bukan tips-tips yang 'pada umumnya'. Sekali lagi karena kita lebih sering fokus pada hal-hal besar saja, sementara hal-hal kecil yg menyangkut kenyamanan travelling spt: pastikan hape dalam keadaan tercharger penuh, kadang2 kita lupakan.

Masukan saya untuk TFTR hanya satu: mbok ya foto-fotonya dibuat colourful spy lebih menggugah pembaca untuk mengikuti jejak perjalanannya.....


(review ini di-copy dari facebook.com/matatita)

No comments:

Post a Comment