rak buku budaya - gramedia


Saya pribadi, memang menganggap travelogue TALES from the ROAD sebagai Etnografi Jalan-jalan. Layaknya seorang antropolog yang melakukan riset di suatu daerah dan kemudian menghasilkan etnografi atau laporan penelitian yang menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat yang ditelitinya, saya pun berharap kegiatan travelling alias jalan-jalan yang saya lakukan juga bisa mendeskripsikan kehidupan sosial budaya daerah yang pernah saya kunjungi. "Buku ini bukan hanya soal travelling," tulis Riyanni Djangkaru, "tetapi juga bisa menambah pengalaman baru bagi pembacanya," tambahnya lagi.

Pengalaman baru yang dimaksud Riyanni -dan tentu saja yang ingin saya sampaikan- antara lain tentang bagaimana saya "megalami" keberagaman budaya itu. Karena ingin "mengalami", setiap kali melakukan perjalanan (baik sambil dinas atau memang karena niat traveling), saya berupaya membangun kedekatan dengan native alias penduduk setempat, mencoba untuk tidak berjarak. Hal ini saya lakukan antara lain dengan memilih alat transportasi umum (angkot, ojek, becak), ke pasar tradisional, dan sokur-sokur bisa mendapat akomodasi yang menyatu dengan rumah tinggal. Karenanya, saya lebih suka menyebut diri saya sebagai the Going Native Traveller.

Meski begitu buku ini belum bisa sepenuhnya dianggap sebagai Etnografi, mengingat kehadiran saya di sana tetaplah sebagai seorang turis, bukan peneliti. Tapi, juga tidak bisa sekedar dianggap sebagai buku traveling biasa -seperti yang dikatakan Riyanni Djangkaru-, karena buku ini tidak semata-mata memberikan informasi tentang destinasi wisata. Seorang rekan saya bilang begini, Matatita itu adalah ambiguitas antara Mata Turis dan Mata Antropolog.

Bagaimana menurut Anda?

(Foto diambil dari Rak Buku Budaya - Gramedia, Sudirman - Yogyakarta)

Comments