Tuesday, July 7, 2009

buku luar biasa yg ditulis dgn cara biasa

review by Agus Nur Prabowo

Saya kira saya memang bukan pembaca yang baik seandainya ukurannya adalah kecepatan. Sempat saya cemas berpikir apa ini karena kecerdasan saya yang makin turun ya. Setelah dipikir-pikir teryata ‘gangguan’ terbesar dalam berkonsentrasi adalah godaan yang sangat besar untuk menanggapi sebuah tulisan yang belum selesai terbaca dengan imajinasi-imajinasi, khayalan-khayalan, spekulasi-spekulasi, teori-teori, atau bahkan pengalaman diri. Begitulah yang selalu terjadi. Selalu kegiatan membaca saya terhenti, melamun, atau muncul ide yang seringkali konyol atau lucu. Jadi tak jarang saya ketawa terpingkal-pingkal sendirian pada saat membaca buku. Atau sekedar senyum. Tergantung tingkat kelucuan yang saya ciptakan sendiri atau memang ada dalam teks.

Begitupun sikap saya ketika membaca buku luar biasa yang ditulis dengan cara biasa, andap asor, atau di beberapa bagian sedikit malu-malu Tales From The Road (bukan tales dari Bogor, lho) oleh Matatita ini. Masih ada banyak sub judul lain tapi saya baru sampai di "Edinburg", yang bacanya Edinbra, kata Tita. Tapi kebetulan juga pas saya sampai di sub judul ini, mobil tua saya selesai dibetulin pintunya. Ya, di bengkel saya membaca buku ini. Nanti saya lanjutkan di tempat lain.

Membaca buku ringan yang kadang menyelipkan informasi, pandangan dan teori serius ini sangat mengasyikkan. Di beberapa bagian rasanya saya seperti melakukan apa yang diceritakan Tita dalam buku ini. Mungkin memang karena saya pernah tinggal di Papua contohnya, atau saya pernah dekat dengan orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang diceritakan, atau dekat dengan mereka yang punya kebiasaan menenteng “kitab suci” Lonely Planet, dan buku-buku informasi perjalanan lain yang banyak diceritakan dalam buku ini.

Buku ini secara keseluruhan berisi berbagai kisah perjalanan (tapi tidak terjebak cerita kronologis lho ya), informasi-informasi penting mengenai tempat maupun sikap yang perlu diantsipasi, baik yang berhubungan dengan kemungkinan menjadi korban penipuan (persenkongkolan tukang Tuk-Tuk dan Art shop, hal 35) maupun hal-hal yang bisa membahayakan diri (berhadapan dengan intel gadungan, hal 19, atau terjebak dalam kerusuhan massal yang melibatkan lempar tombak dan panah (pada bagian cerita tentang Timika)

Dicermati lagi, ternyata hampir tiap cerita dalam buku ini diakhiri dengan kalimat-kalimat yang sangat merangsang logika maupun rasa maupun ajakan berpikir atau membandingkan pengalaman. Ketika Tita bercerita ritual menjadi anak angkat orang Dayak, misalnya, sampai Jogja dia patuh membawa pelengkap ritual berupa tepung yang harus dicorengkan di muka orang tuanya. Ya, mungkin tidak dilakukan pun tidak akan terjadi apa-apa, tapi dia menulis “iyalah daripada ntar kenapa-kenapa, kan’ …hehe .(hal 85). Meski takut-takut sedikit percaya tahyul, tapi di bagian makan daging babi tetap tidak dilakukannya, hehe. Di bagan lain diceritakan tentang sikap si Ani (seorang TKI asal Jawa) yang menurutnya 'tranyakan' karena berani mengetuk pintu kamar mandi majikan, dan ngesun pipi kiri kanan bapaknya (Tita) waktu berpisah! Hadyuh Byuh tobatttt! Wong Jowo ilang Jawane, tulisnya bercetak miring (hal 63).

Menurut saya melalukan perjalanan di tanah orang mau gak mau ada keinginan untuk menyamakan sekaligus membedakan dengan apa yang kita ketahui, artinya selalu ada yang kita bandingkan, dan untuk membandingkan itu sangat tergantung dengan cadangan pengetahuan kita. Tita menyebut ‘pendopo’ untuk sebuah bangunan berhalaman luas di depan Kasultanan Ternate, tapi buru-buru dalam kurung dia menuliskan “eh kok pendopo sih…. (hal 40). Sisipan-sisipan spontan seperti ini juga membuat buku ini menyenangkan untuk dibaca. Sengaja atau tidak tulisan dibuat dengan gaya begini, dan kenyataanya saya merasakan kenyaman dengan itu, saya pikir ini berhubungan dengan penulisnya yang punya latar belakang menulis dalam waktu yang cukup lama, sejak SMP, bahkan dia mengaku salah satu tripnya ke Kalimanatan menghasilkan dua buah cerpen dan dua artikel. Bahkan lagi, karena kemampuan menulis lah dia bisa jalan-jalan kemana-mana. Travelling = Dapat Uang, tulisnya di halaman 53.

Keasikan melakukan perjalanan, menurut Tita, dimulai jauh sebelum perjalanannya sendiri dilakukan, yaitu ketika mencari-cari informasi tentang tempat yang akan dituju, melalu internet dan buku-buku, dan menurut saya juga dari cerita-certia teman lain. Informasi-informasi ini sering menerbangkan angan dan imajinasi kita mengenai tempat-tempat tujuan. Imajinasi kita bahkan sering lebih heboh daripada kenyataannya, meskipun tak jarang bener juga. Atau ada hal lain yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Cerita Tita tentang suku Asmat misalnya (hal 100), ia sudah membayangkan akan dengan mudah menemukan patung-patung untuk souvenir, ternyata sampai di sana patung dan ukiran hanya dibuat setiap november menjelang Festival Asmat. Juga cerita dia tentang papan kayu dimana-mana mungkin diinterpretasi dengan cara bebeda oleh sebagian pembacanya karena Tita tidak menuliskan bahwa kayu yang dipakai untuk papan jalan adalah kayu besi besi yang tebal dan kuat sekali. Kata 'hutan' juga tidak akan sesuai dengan gambaran kita tentang hutan-hutan di Jawa karena kutan di Papua itu sangat lebat sulit ditembus orang. Dengan demikian meski sudah membaca informasi mengenai tempat tujuan kejutan-kejutan selalu menjadi keasikan tersendiri seperti cerita tentang bunyi angin dan hujan mengerikan karena tercurah di atap-atap seng (hal 98).

Meski segala hal sudah dipersiapkan, perjalanan jauh selalu diwarnai pengalaman-pengalaman bodoh yang tak perlu terjadi, tapi justru di sana letak keasikannya. Jadwal tiket misalnya, gara-gara sembrono tidak dipastikan dulu Tita terpaksa ketinggalan kereta, padahal dia melihat kereta itu belum berangkat sewaktu dia tiba di stasiun waktu dia turun dari kereta sebelumnya. Gara-gara keteledorannya ini dia terpaksa mengeluarkan duit sekian juta untuk perjalanan ke Edinburg yang tidak menawarkan potongan harga untuk trip mendadak, kecuali pesan jauh hari. Juga kisah lucu berbau kriminal karena salah ambil mobil sewaan yang warna dan betuknya mirip di Bali. Meski harus berurusan dengan polisi tapi untungnya polisi di Bali tidak terlalu curiga mengingat kasus pencurian mobil di Bali sangat jarang terjadi. Tapi tetep aja Tita dan Edo suaminya harus membuat pembatalan BAP yan pasti makan waktu juga.


Belum selesai saya baca buku ini, tapi saya sudah pingin jalan-jalan, atau mengingat–ingat kisah perjalanan saya, yang tentunya belum sebanding dengan Tita (yang ternyata juga merasa masih jauh dibandingkan Riyyani Djangkaru misalnya), dan tentu saja belajar menulis… hehe..

Agus Nur Prawobo is a visual anthropologist working for Etnoreflika.
(this review is copied from here)

No comments:

Post a Comment