Showing posts with label my books. Show all posts
Showing posts with label my books. Show all posts

Wednesday, March 23, 2011

coba-coba membaca pembaca bukuku..

sastra perjalanan karya pertamaku
Tiga buku perjalanan yang sudah saya tulis, membuat saya merenung-renungkan efeknya bagi pembaca. Buku pertama, TALES from the ROAD (2009), sungguh membanggakan karena mendapat banyak pujian hingga terpilih dalam 5 besar buku non fiksi pilihan pembaca dalam Festival Pembaca Indonesia 2010 lalu. Pujian yang datang tidak selalu berimplikasi pada oplah penjualan, tidak masuk kategori best seller. Berbeda dengan buku berikutnya yang saya tulis EUROTRIP: Safe & Fun (2010) yang dalam waktu tiga bulan sudah langsung dicetak ulang. Naga-naganya, buku ketiga saya UKTRIP: Smart & Fun (Maret, 2011) akan mengikuti jejaknya. Semoga...

Meskipun oplah buku EUROTRIP sangat menggembirakan, tapi buku laris manis ini ternyata tidak direview oleh banyak pembaca. Harap maklum, namanya juga buku guidance, males banget dong mereview-nya. Tapi lumayanlah, saya masih mendapat pujian lisan bahwa gaya menulis saya tetep beda dengan para penulis buku guidance lainnya. Tetep kelihatan antropologinya seperti yang terasa di TALES from the ROAD.

Lalu, sebagai penulis, apa komentar dan perasaan saya? 

Monday, March 14, 2011

starting indie publishing

"smartraveler: travel & publish" brand of my indie publishing company

beberapa hari lalu saya ngafe dengan beberapa temen penulis. salah satu di antaranya tengah menyiapkan penerbitan indie untuk novel pertamanya. "aku nggak yakin penerbit akan suka naskahku," katanya mengenai alasan kenapa ia memilih jalur indie (berasal dari kata independent atau mandiri). ia pun berkisah tentang naskah novel pertamanya yang banyak mengangkat sisi antropologis. "penerbit akan melihat ini sebagai novel yang nggak laku di pasaran," tambahnya lagi.

saya jadi teringat buku pertama saya, "tales from the road" yang bernasib senada. nggak laku, nggak dipromoin, dan nggak bakal dicetak ulang oleh penerbit. saya terima dengan penuh kesadaran kok, karena memang pembaca indonesia lebih suka diajari "how to travel" ketimbang merenungi sebuah perjalanan ke pelosok-pelosok untuk menemukan jadi diri. dengan kata lain, travel writing di indonesia masih sampai tahap awal "how to travel" bukan "travel for what".

toh, saya masih mujur ya, ada penerbit yang mau mencoba menerbitkan buku saya, meski sejak awal sudah sadar bahwa buku "tales from the road" tak akan laris manis (meski ditulis dengan manis). untuk itu saya sungguh layak mengucapkan terima kasih tak terkira pada penerbit. sebagai ucapan terima kasih, saya buatlah buku lain yang "how to" yaitu buku "eurotrip: safe & fun". diluar dugaan, meski sejak awal saya yakin buku ini bakal lebih laku ketimbang "tales from the road", tapi ternyata nggak sekedar laku. malah, laku banget! dalam waktu kurang dari tiga bulan sudah dicetak ulang. saya jejingkrakan saking girangnya. kegirangan ini saya rayakan dengan menulis buku ke-3 "uktrip: smart & fun". semoga uktrip mengekor kesuksesan sekuelnya, eurotrip.

sekarang saya tengah menyiapkan buku traveling lain yang akan saya terbitkan secara indie. doakan buku-buku indie saya bisa sesukses buku indie-nya dee (dewi lestari) ya.

Monday, November 15, 2010

how to travel book & travelogue book...


Saya mulai diserang pertanyaan, "Kapan UKTRIP-nya terbit?" dari para pembaca. Sementara dari penerbit, "jangan lama-lama ya!". Padahal, disain kaver buku ini sudah di-approved bulan Oktober lalu. Juga sudah saya pajang di sidebar blog saya dengan penuh rasa percaya diri.

Saya memang bukan orang yang taat deadline. Dalam menulis, sekalipun saat ini saya punya waktu yang lumayan longgar, saya tergolong penulis moody alias mengandalkan mood. Celakanya, kadang-kadang saya lebih bergairah ngurusin hal-hal yang berhubung dengan visual ketimbang teks. Itu sebabnya, disain kaver udah beres duluan sedangkan naskahnya masih sebagian.

Alasan yang kedua, saya lagi bergairah dengan respon para pembaca EUROTRIP. Respon mereka membuat saya bahagia dan makin semangat untuk lebih sering berkoar tentang kisah perjalanan saya ke Eropa. Dan yang tak terduga, ternyata banyak pembaca yang kemudian mencari buku pertama saya TALES from the ROAD. Sungguh-sungguh mengharukan. Buku pertama saya yang sudah sulit ditemukan di toko buku (karena dianggap sebagai buku yang gak laku) itu, kembali dicari-cari.

Belum tuntas rasa haru saya, tiba-tiba saya mendapat informasi bahwa TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Gubrak..! Seisi meja saya langsung terpental ke mana-mana begitu saya mendapati judul TALES from the ROAD masuk dalam nominasi sebagai karya Non Fiksi Favorit 2010 dan juga nominasi Disain Sampul Non fiksi Favorit. Rasanya nyaris nggak percaya. Bagaimana mungkin buku yang nggak laku, nggak banyak dibaca orang, bisa masuk dalam nominasi.

Jadilah sejak pengumuman itu saya pun gencar woro-woro tentang TALES from the ROAD lagi. Ah, bahkan kali ini lebih gencar ketimbang saat buku ini terbit Juni 2009 lalu. Sebenarnya woro-woro itu -jujur nih- bukan untuk memenangkan polling, karena saya kok pesimis bakal menang ya. Ada karya yang lebih pouler dan banyak diminati pembaca Indonesia kok. Tapi lebih pada membangkitkan rasa percaya diri, bahwa ternyata karya saya ada yang menghargai. Juga membuat saya pengin nulis TALES lagi dengan lebih 'mendalam'. TALES adalah cara saya melihat dunia, melihat apapun yang tertangkap oleh mata selagi saya jalan. TALES adalah tulisan yang keluar dari jiwa saya.

Jadiiiiii....lagi-lagi UKTRIP terhalang oleh hasrat yang begitu kuat untuk menulis kisah-kisah perjalanan sebagaimana saya mengungkapkannya lewat TALES from the ROAD. Padahal, buku traveling seri Trip (Matatita Trip Series) ini jelas-jelas punya gaya (style) penulisan yang berbeda dengan TALES. Trip Series lebih berasa informatif, panduan perjalanan, dan masuk kategori how to book. Sementara TALES merupakan travelogue, kisah perjalanan yang nggak sekedar "I've been here" tapi lebih pada "travel for what" (and for me, travel is experience different culture).

Nah lo..!

Mungkin memang salah saya juga kali ya, kenapa mengeluarkan buku traveling dengan dua style penulisan yang berbeda. Kedua segmen pembaca pun jadi menuntut untuk minta lagi dalam waktu bersamaan.! Oh...!!!

Thursday, November 4, 2010

terima kasih sudah menominasikan travelogue saya


Saya layak bersorak dong, ketika TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Bagaimana nggak girang coba, buku travelogue saya itu kan masuk kategori buku nggak laku versi penerbit. Apalagi jika dibanding dengan buku-buku traveling lain yang sama-sama diterbitkan oleh penerbit buku saya. Juga ketika dibanding dengan buku EUROTRIP yang baru dua bulan lalu beredar dan menurut bocoran penerbit angka penjualannya lumayan. Rasanya TALES jadi sebuah karya yang nggak ada artinya. Bukunya susah didapat karena gak add stock di toko buku dan nggak pernah dipromoin pula. Huks...!

Tetapi sebagai penulis yang menulis dua buku traveling dengan dua style yang berbeda, yaitu travelogue(TALES) dan buku panduan (EUROTRIP) sejujurnya saya merasa lebih puas saat menulis TALES. Bagi saya TALES itu gue banget.

Karena itu saya pengin mengucapkan banyak terima kasih untuk penyelenggara Festival Pembaca Indonesia yang sudah memilih TALES from the ROAD sebagai nominasi Buku Non Fiksi Favorit. Saya yakin, panitia jujur memilih buku yang bergizi yang layak dinominasikan untuk diberi penghargaan. Saya juga salut jika panitia memilih nominator bukan semata karena popularitas penulis karena oplah penjualan buku yang hingga cetak ulang beberapa kali. Buku TALES baru dicetak sekali dan sepertinya tidak bakal dicetak ulang karena penjualannya tidak memenuhi target.

Mengingat tidak banyak pembeli TALES dan tentu saja itu berarti juga tidak banyak yang membacanya, saya tidak berharap banyak pada hasil polling. Dengan kata lain, tidak berharap menjadi penulis yang mengumpulkan polling terbanyak. Buat saya, sudah dinominasikan saja sudah merupakan penghargaan yang tak terkira.

Oh ya, saya juga bangga, ternyata sampul buku TALES juga dinominasikan dalam kategri Sampul buku Non Fiksi.

Ide cover TALES bermula dari kegemaran saya memotret jejak kaki di atas manhole saat traveling. Kebetulan, ketika ke Nepal ada satu manhole yang keren banget, ditulis dengan huruf Nepal. Bahkan saya pun tak bisa membacanya. Entah itu manhole saluran air ataukan manhole untuk jaringan kabel telekomunikasi. Atas bantuan Putri (Timkreatif Regol) foto narsis jejak kaki itu pun terwujud menjadi desain samul buku yang cantik. Lalu ditambahlah beberapa koleksi foto eksotis dari Papua, Bali, Nepal, dan Jogja. Kenapa foto etnis, bukan pemandangan alam? Ya karena memang itulah yang memikat hati saya untuk menjelajah dunia, to experience difference culture.

Kalaupun ada yang sedikit saya sayangkan dari disain cover TALES ini adalah adanya tambahan pointer dari penerbit berupa tips berburu tiket murah, mencari akomodasi irit, dan mengatasi masalah selama di perjalanan yang dijejalkan di bawah judul. Tapi saya tidak bisa protes dong, bagaimanapun penerbitan buku adalah industri, yang sudah pasti berharap untung. Pointer tadi dimaksudkan untuk menggaet pembaca (traveler) Indonesia yang harus diakui memang masih dalam taraf 'how to travel' bukan 'travel for what'.

Oke, silakan buat yang ingin mem-vote TALES from the ROAD, klik link di sini ya... Biar nggak penasaran, inilah daftarnya:

Kategori Non-fiksi:
1. The Naked Traveler 2, karya Trinity, 2010
2. The O Project, karya Firliana Purwanti, 2010
3. Wirausaha Mandiri, karya Rhenald Kasali, 2010
4. Dilarang Gondrong, karya Aria Wiratma, 2010
5. Membongkar Gurita Cikeas, karya George Junus Aditjondro, 2009
6. Sintong Panjaitan, karya Hendro Subroto, 2009
7. Long Distance Love, karya Imazahra, 2009
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku, karya Mel, 2009
9. Tales from The Road, karya Matatita, 2009
10. I Can(not) Hear, karya Feby Indirani, 2009

Sampul Buku Non-Fiksi

1. The Naked Traveler 2
2. The O Project
3. Wirausaha Mandiri
4. Dilarang Gondrong
5. Membongkar Gurita Cikeas
6. Sintong Panjaitan
7. Long Distance Love
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku
9. Tales from The Road
10. I Can(not) Hear

Selamat mem-voting dengan jujur.

Wednesday, October 13, 2010

my birthday wish: EUROTRIP dan trip-trip lainnya


Jujur nih, selagi merampungkan naskah EUROTRIP sepanjang Mei - Juni 2010, pikiran saya bercabang-cabang mengenang trip-trip lainnya. Pengin banget bisa menerbitkan trip-trip lain itu. Saat saya buka-buka foto dan jurnal di blog yang membuat ingatan saya makin mengembara, saya makin bersemangat. Mulailah saya berkhayal-khayal tentang Matatita Trip Series yaitu buku traveling yang saya tulis. Kalo diseriusin alias saya serius mengerjakannya, dijamin bisa jadi beberapa buku.

Tapi saya tengah dihantui deadline untuk segera merampungkan EUROTRIP. Begitu EUROTRIP kelar dan rampung cetak, saya pun bertanya ke Editor, apakah sudah ada yang mengajukan naskah traveling ke Inggris. Rupanya, nasib baik berpihak pada saya: belum ada. Saya pun kegirangan (meskipun disembunyiin dalam hati). "Oke, kalau gitu saya pengin nulis UKTRIP...!" jawab saya.

Kesepakatan itupun langsung diworo-woro. Nggak cuma di blog dan FB...sewaktu on air di radio pun udah mulai berkoar jika saya sedang menulis naskah UKTRIP. As always...kaver buku udah dikerjain duluan dan diajukan ke penerbit. Juga sudah dipilih alais sudah di-acc. Hhmm..jadi makin semangat ngrampungin tulisan lagi nih (kemarin sempet terhenti karena sibuk jualan EUROTRIP..hehehe).

Setelah UKTRIP...saya pengin nulis NEPALTRIP. Pihak penerbit 3 bukuku sebelumnya sepertinya sudah punya naskah tentang Nepal, jadi kemungkinan NEPALTRIP akan diterbitkan sendiri oleh Matatita & Co. (weiittzzz...dari travel writer menjadi travel publisher? Boleh dong, memimpikan The Wheeler and Lonely Planet..)

Selain itu juga ada beberapa naskah traveling dalam negeri yang harus saya kejartayangin yaitu PAPUATRIP, BORNEOTRIP, CELEBESTRIP, dan MOLUCCASTRIP...! Sebenarnya naskah tersebut merupakan proyek Matatita & Co untuk menerbitkannya. Tapi sepertinya pihak penerbit juga tertarik meskipun belum ada kesepakatan tertulis. Buat saya, siapapun yang akan nerbitin, yang penting target menyelesaikan sejumlah buku traveling dalam negeri bisa kelar setahun ini. Biar nggak dituduh western-minded, wong saya sudah blusukan ke penjuru Tanah Air kok...I love Indonesia gitu loh!

Thursday, September 30, 2010

kereenn...TALES from the ROAD di-review in english


Why are the women of Papua, Bali and Nepal ordinary men carry the load on the head while he prefers to use his shoulder Java? This question of course we can not answered by pure logic game. There are details of the course behind the cultural habits are different. Why did he choose to empower Java shoulder than his head? It is said that this is because the Javanese culture that places and consider the chief as part of the most respected body that could not be treated carelessly. Of course, this culture of evidence we can find the details of daily activities, especially Javanese people lived in rural areas, we can find if we really mingle with them.

The uniqueness of local cultural details that affect the behavior and habits of these people are like a cloth-rag. We find easy but not easy to be utilized. Required carefulness, thoroughness, willingness, and certainly enough concern so that the rag-percha can be collated as a mosaic that we can dismantle the uniqueness of a particular cultural curtain.

Quilt sewing skills into something more we can enjoy that’s what worked for Matatita through his adventure story book labeled, “Tales from the Road”. The presence of this book really gave something different (out of the box), by parity of books adventure story or journey that already exist, particularly in Indonesia.

Indeed in recent years quite a lot of books of travel stories (adventurer) who rises in Indonesia. Unfortunately, awareness, foresight, and willingness to enter participatory author in writing object is not so pronounced. Cultural studies that in fact able to give life from a physical beauty of a location often scattered. Fortunately, with the publication of this book, Matatita have started with the awesome.

Posts Matatita travel stories were not only able to share some exciting hunting tips cheap tickets or accommodation super save more money per se, but is able to make our readers, familiar spirits that make the culture places a special adventure. It is undeniable, totality, perseverance and hard work that made the writer can get such a rare experience traditionally adopted by a family or stay at home Dayak indigenous tribe Newari, Nepal. Persistence and concern was also the author able to successfully make attention to small things like culture and everyday people in these places at the same time trying to close and merge with the local population by respecting their culture.

Perhaps this skill is supported by the academic background of the writer that in fact is a dropout Anthropology Gadjah Mada University. With academic provision that the Matatita able to make accurate comparisons of the strong similarities between the nuances of the old city gate of Bhaktapur in Nepal with Jeron area Beteng Palace in Yogyakarta. Perhaps it was also the academic provision that makes the author able to analyze the potential procession Dhaeng (line troops yogyakarta palace) in the ceremony Gerebeg to be ‘go-international’ as a procession of British royal guards change at Buckingham Palace.

But the above assumption is not entirely correct. Academic provision is just one factor alone. There are many other factors that also affected. Most important is the willingness and concern that exists. As long as they want to try the bloody participatory at our destination community and want to hone avonture foresight in seeing the details of cultural elements that influence in there, then everyone should be able to write stories like Matatita. At least Matatita have started spreading the virus. Hopefully Matatita virus through the book “Tales from the Road” can soon become an epidemic that the world of Indonesian writers Book travel stories more colorful and proud.


(source: taken from here no name; pic taken in brussels by me)


Wednesday, September 29, 2010

e-mail pembaca yg bikin terharu


baru sj sy menyelesaikan membaca buku EUROTRIP anda. saya membacanya didalam mobil diparkiran sekolah ketiga anak saya. sambil menunggui mereka, saya membaca lembar demi lembar catatan perjalanan anda tsb. luar biasa sekali, walaupun saya sedang berada didlm mbl dihalaman parkir sekolah, tapa rasanya saya sedang menjejakkan kaki bersama anda di eropa... sehingga, pagi ini, saya segera menelepon kantor MIZAN MEDIA UTAMA cabang malang, untuk memesan buku pertama anda, TALES FROM THE ROAD.

awalnya saya membeli buku EUROTRIP sekedar iseng saja, karena melihat
ringkasan di cover belakang buku anda tsb, bahwa didalanya memuat perjalanan anda melalui tempat2 bersejarah di eropa, yang memang menarik minat saya sejak dulu, hanya saja rejeki dan takdir yg blm berpihak kpd saya... :-) ternyata keisengan saya membeli buku anda tsb membuahkan inspirasi yg bgt hebat...

semoga Tuhan terus melimpahkan rejeki kepada anda, sehingga anda dpt
terus melakukan perjalanan2 luar biasa, dan anda dapat terus menuliskannya, sehingga dpt menginspirasi banyak orang. saya akan senantiasa menantikan buku2 karya anda selanjutnya, moga2 berkat dan perlindungan Tuhan selalu menyertai anda dalam perjalanan2 anda diwaktu yang akan datang... salam dari Malang...

note:
e-mail dikutip sesuai aslinya, tanpa editing sama sekali...
kalo fotonya, itu suasana meja kerja saya beberapa hari belakangan ini..
hiks, kayak meja petugas ekspedisi ya..banyak amplop isi buku pesanan onlen..

Wednesday, June 30, 2010

Cerita Tita, Menjahit Perca Budaya

Oleh : Wahyu Ari Wicaksono
KabarIndonesia

Mengapa perempuan-perempuan Papua, Bali dan lelaki Nepal biasa memikul beban di atas kepala sedangkan lelaki Jawa lebih memilih menggunakan bahunya?

Pertanyaan ini tentu saja tak bisa kita jawab dengan permainan logika semata. Ada detail-detail budaya yang tentunya melatarbelakangi kebiasaan-kebiasaan yang berbeda tersebut. Kenapa lelaki Jawa memilih memberdayakan bahunya dibandingkan kepala? Konon hal ini dikarenakan kultur budaya Jawa yang menempatkan dan menganggap kepala sebagai bagian tubuh paling terhormat yang tak bisa diperlakukan sembarangan. Tentu saja bukti kultur ini bisa kita temukan pada detail-detail aktivitas-aktivitas harian yang dijalani orang Jawa terutama di kawasan rural, yang bisa kita temukan jika kita benar-benar membaur dengan mereka.

Keunikan detail-detail budaya lokal yang mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan masyarakat tersebut memang ibarat kain-kain perca. Gampang kita temukan tapi tak gampang untuk kita manfaatkan. Dibutuhkan kejelian, ketelitian, kemauan, dan tentu saja kepedulian yang cukup agar nantinya perca-perca tersebut bisa kita susun sebagai mozaik yang bisa membongkar tabir keunikan sebuah budaya tertentu.

Keahlian menjahit perca menjadi sesuatu yang lebih bisa kita nikmati itulah yang berhasil dilakukan Matatita melalui buku cerita petualangannya yang berlabel,"Tales from the Road". Kehadiran buku ini benar-benar memberi sesuatu yang berbeda (out of the box) dari paritas buku-buku kisah petualangan/perjalanan yang telah ada, khususnya di Indonesia.

Memang akhir-akhir ini cukup banyak buku-buku kisah perjalanan (avonturir) yang terbit di Indonesia. Sayangnya kepedulian, kejelian, dan kemauan penulis untuk masuk secara partisipatoris dalam objek tulisannya belum begitu terasa. Kajian budaya yang notabene mampu memberi nyawa dari sebuah keindahan fisik suatu lokasi kerap tercecer. Untungnya dengan terbitnya buku ini, Matatita sudah memulainya dengan mengagumkan.

Tulisan kisah perjalanan Matatita itu tak hanya mampu berbagi sejumlah tip seru berburu tiket murah atau akomodasi super ngirit semata, tetapi mampu membuat kita pembacanya, mengenal ruh-ruh budaya yang menjadikan tempat-tempat petualangan menjadi spesial. Tak bisa dipungkiri, totalitas, kegigihan dan kerja keras sang penulislah yang membuatnya bisa mendapatkan pengalaman langka semisal diangkat anak secara tradisional oleh keluarga Dayak atau tinggal di rumah asli Suku Newari, Nepal. Kegigihan dan kepedulian jugalah yang berhasil menjadikan penulis mampu memperhatikan hal-hal yang kecil seperti budaya dan keseharian masyarakat di tempat tersebut sekaligus berusaha dekat dan melebur dengan penduduk setempat dengan cara menghormati budaya mereka.

Boleh jadi kepiawaian ini memang didukung oleh latar belakang akademis sang penulis yang notabene merupakan jebolan Anthropology UGM. Dengan bekal akademis itulah maka Matatita mampu membuat komparasi akurat mengenai nuansa kesamaan yang kuat antara gerbang kota tua Bhaktapur di Nepal dengan kawasan Jeron Beteng Keraton di Yogyakarta. Mungkin bekal akademis itu pulalah yang membuat penulis mampu menganalisa potensi prosesi Dhaeng (barisan pasukan keraton yogyakarta) dalam upacara Gerebeg untuk bisa ‘go-internasional’ seperti halnya prosesi pergantian pengawal kerajaan Inggris di Buckingham Palace.

Namun asumsi di atas tidaklah sepenuhnya benar. Bekal akademis hanyalah salah satu faktor semata. Ada banyak faktor lainnya yang turut berpengaruh. Yang terpenting adalah kemauan dan kepedulian yang ada. Asalkan mau berdarah-darah untuk mencoba berpatisipatoris pada masyarakat tempat tujuan kita beravonturir serta mau mengasah kejelian dalam melihat detail unsur-unsur budaya yang berpengaruh di sana, maka semua orang seharusnya bisa menulis cerita seperti Matatita. Setidaknya Matatita telah memulai menyebarkan virusnya. Mudah-mudahan saja virus Matatita lewat buku "Tales from the Road" ini bisa segera mewabah sehingga dunia perbukuan cerita perjalanan penulis Indonesia semakin berwarna dan membanggakan. Selamat beravonturir.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com//

Tuesday, August 11, 2009

tales from the road. menulis dengan empati

by ukirsari rr manggalani

membaca larik-larik kalimat di buku kisah perjalanan plus tips dari suluh pratitasari a.k.a tita, terbayanglah kerendahan hati sang penulis. sesuai selera saya akan pencarian buku kisah-kisah perjalanan yang berada di luar koridor “i’d already been here and there, became the winner, against all the problems during my travels” –without any sympathetic feeling in it.

matatita –sesuai dengan alias nama yang dipakai penulis, merefleksikan ‘mata’ bukanlah sekadar indera penglihatan, tapi juga memiliki arti mendalam; mata hati. melihat dengan hati serta memberi empati pada porsinya— mengajak pembacanya menikmati kekayaan budaya berbagai negeri, dari sudut pejalan biasa. Sekaligus mensyukuri keberagaman alam dan budaya milik Indonesia sendiri (Meet Locals, 153).

dengan kepekaan hati pula, tita dapat bersabar (meski barangkali mengelus dada) ketika disodori jasa tukang becak ngayogyakarta untuk wisata bbd –batik, bakpia pathuk, dagadu. atau mentertawakan diri sendiri secara fair, atas kejadian penipuan batu permata di bangkok (Scam Everywhere, 27). dan sesekali juga boleh galak, bila terpaksa. contohnya saat dikuntit pria berjaket di wamena, yang bertanya-tanya dengan nada garang (Diadang Intel Gadungan, 17).

bersama sang penulis yang lulusan antropologi universitas gadjah mada, kemegahan angkor wat bisa ‘membumi’ pada tataran setara candi borobudur. sebuah mimpi; bila saja ada infrastruktur dan upaya lebih dari semua pihak terkait untuk menjadikan muntilan sebagai siem reap ‘bayangan’ (Borobudur versus Angkor Wat, 147).

sebagaimana juga prosesi dhaeng (barisan pasukan keraton yogyakarta) dalam upacara garebeg yang dapat ‘go-internasional’ seperti prosesi pergantian pengawal kerajaan inggris di buckingham palace (Prajurit Jogja dan Prajurit Inggris, 173).

atau adanya napas yang sama, antara gerbang kota tua bhaktapur di nepal, dengan kawasan jeron beteng keraton di yogyakarta (Lorong dan Dinding-Dinding, 122).

tak kalah unik –sekaligus membuat saya cemburu– adalah cerita tita mendapatkan nama baru ‘angkan krisna’ lewat perhelatan budaya dayak benuaq. padahal ini bukan kisah yang mulus, karena ia mesti mengalami kejang perut dan terpuruk di semak-semak sebelum digotong ke lamin atau rumah panjang. bahkan sempat dicurigai terkena roh jahat (Ritus Bulanan, 80).

dan di atas semua kisah yang dibingkiskan tita buat pembaca, entah mengapa saya merasa memiliki semacam sesambungan rasa saat membaca buku ini. bukan semata karena telah mengenal sang penulis pun ada kemiripan kisah selama ‘hidup di jalan’ –sebagaimana dialami para traveler dalam berinteraksi dengan lingkungan baru serta menjumpai hal-hal yang sudah diangankan sejak lama.

tita menyimpan duka karena hanya berselang 3 hari setelah ia mengutarakan pada ibunda akan menjelajah ke nepal, beliau kembali ke pangkuan Nya (Ponsel Budek Sebelah, 20). sementara saya saat itu, bepergian solo ke laos ketika ayahanda belum genap 40 hari berpulang. semua urusan traveling sudah dibereskan hampir setahun sebelumnya dan ijin dari beliau sudah saya kantongi jauh-jauh hari.

bisa jadi, inilah ‘pesan’ yang ingin disampaikan secara tidak langsung; bahwa kesedihan itu, bukanlah milik saya semata. masih ada orang lain, yang merasakan hal serupa. bahwa hidup terus berjalan, kaki terus melangkah, meski perasaan tidak sempurna. dan mata milik tita a.k.a suluh pratitasari lah perantaranya. terima kasih ya, jeng!

akhirnya, selamat membaca tales from the road, mencicip keunikan budaya dari yogyakarta hingga nepal. sebuah catatan perjalanan wisata penuh kesan mendalam. meski dituturkan dengan penyampaian yang bersahaja.

judul: tales from the road, mencicip keunikan budaya dari yogyakarta hingga nepal; penulis: matatita; penerbit: B-first (PT Bentang Pustaka); jumlah halaman: 232

Tuesday, July 7, 2009

buku luar biasa yg ditulis dgn cara biasa

review by Agus Nur Prabowo

Saya kira saya memang bukan pembaca yang baik seandainya ukurannya adalah kecepatan. Sempat saya cemas berpikir apa ini karena kecerdasan saya yang makin turun ya. Setelah dipikir-pikir teryata ‘gangguan’ terbesar dalam berkonsentrasi adalah godaan yang sangat besar untuk menanggapi sebuah tulisan yang belum selesai terbaca dengan imajinasi-imajinasi, khayalan-khayalan, spekulasi-spekulasi, teori-teori, atau bahkan pengalaman diri. Begitulah yang selalu terjadi. Selalu kegiatan membaca saya terhenti, melamun, atau muncul ide yang seringkali konyol atau lucu. Jadi tak jarang saya ketawa terpingkal-pingkal sendirian pada saat membaca buku. Atau sekedar senyum. Tergantung tingkat kelucuan yang saya ciptakan sendiri atau memang ada dalam teks.

Begitupun sikap saya ketika membaca buku luar biasa yang ditulis dengan cara biasa, andap asor, atau di beberapa bagian sedikit malu-malu Tales From The Road (bukan tales dari Bogor, lho) oleh Matatita ini. Masih ada banyak sub judul lain tapi saya baru sampai di "Edinburg", yang bacanya Edinbra, kata Tita. Tapi kebetulan juga pas saya sampai di sub judul ini, mobil tua saya selesai dibetulin pintunya. Ya, di bengkel saya membaca buku ini. Nanti saya lanjutkan di tempat lain.

Membaca buku ringan yang kadang menyelipkan informasi, pandangan dan teori serius ini sangat mengasyikkan. Di beberapa bagian rasanya saya seperti melakukan apa yang diceritakan Tita dalam buku ini. Mungkin memang karena saya pernah tinggal di Papua contohnya, atau saya pernah dekat dengan orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang diceritakan, atau dekat dengan mereka yang punya kebiasaan menenteng “kitab suci” Lonely Planet, dan buku-buku informasi perjalanan lain yang banyak diceritakan dalam buku ini.

Buku ini secara keseluruhan berisi berbagai kisah perjalanan (tapi tidak terjebak cerita kronologis lho ya), informasi-informasi penting mengenai tempat maupun sikap yang perlu diantsipasi, baik yang berhubungan dengan kemungkinan menjadi korban penipuan (persenkongkolan tukang Tuk-Tuk dan Art shop, hal 35) maupun hal-hal yang bisa membahayakan diri (berhadapan dengan intel gadungan, hal 19, atau terjebak dalam kerusuhan massal yang melibatkan lempar tombak dan panah (pada bagian cerita tentang Timika)

Dicermati lagi, ternyata hampir tiap cerita dalam buku ini diakhiri dengan kalimat-kalimat yang sangat merangsang logika maupun rasa maupun ajakan berpikir atau membandingkan pengalaman. Ketika Tita bercerita ritual menjadi anak angkat orang Dayak, misalnya, sampai Jogja dia patuh membawa pelengkap ritual berupa tepung yang harus dicorengkan di muka orang tuanya. Ya, mungkin tidak dilakukan pun tidak akan terjadi apa-apa, tapi dia menulis “iyalah daripada ntar kenapa-kenapa, kan’ …hehe .(hal 85). Meski takut-takut sedikit percaya tahyul, tapi di bagian makan daging babi tetap tidak dilakukannya, hehe. Di bagan lain diceritakan tentang sikap si Ani (seorang TKI asal Jawa) yang menurutnya 'tranyakan' karena berani mengetuk pintu kamar mandi majikan, dan ngesun pipi kiri kanan bapaknya (Tita) waktu berpisah! Hadyuh Byuh tobatttt! Wong Jowo ilang Jawane, tulisnya bercetak miring (hal 63).

Menurut saya melalukan perjalanan di tanah orang mau gak mau ada keinginan untuk menyamakan sekaligus membedakan dengan apa yang kita ketahui, artinya selalu ada yang kita bandingkan, dan untuk membandingkan itu sangat tergantung dengan cadangan pengetahuan kita. Tita menyebut ‘pendopo’ untuk sebuah bangunan berhalaman luas di depan Kasultanan Ternate, tapi buru-buru dalam kurung dia menuliskan “eh kok pendopo sih…. (hal 40). Sisipan-sisipan spontan seperti ini juga membuat buku ini menyenangkan untuk dibaca. Sengaja atau tidak tulisan dibuat dengan gaya begini, dan kenyataanya saya merasakan kenyaman dengan itu, saya pikir ini berhubungan dengan penulisnya yang punya latar belakang menulis dalam waktu yang cukup lama, sejak SMP, bahkan dia mengaku salah satu tripnya ke Kalimanatan menghasilkan dua buah cerpen dan dua artikel. Bahkan lagi, karena kemampuan menulis lah dia bisa jalan-jalan kemana-mana. Travelling = Dapat Uang, tulisnya di halaman 53.

Keasikan melakukan perjalanan, menurut Tita, dimulai jauh sebelum perjalanannya sendiri dilakukan, yaitu ketika mencari-cari informasi tentang tempat yang akan dituju, melalu internet dan buku-buku, dan menurut saya juga dari cerita-certia teman lain. Informasi-informasi ini sering menerbangkan angan dan imajinasi kita mengenai tempat-tempat tujuan. Imajinasi kita bahkan sering lebih heboh daripada kenyataannya, meskipun tak jarang bener juga. Atau ada hal lain yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Cerita Tita tentang suku Asmat misalnya (hal 100), ia sudah membayangkan akan dengan mudah menemukan patung-patung untuk souvenir, ternyata sampai di sana patung dan ukiran hanya dibuat setiap november menjelang Festival Asmat. Juga cerita dia tentang papan kayu dimana-mana mungkin diinterpretasi dengan cara bebeda oleh sebagian pembacanya karena Tita tidak menuliskan bahwa kayu yang dipakai untuk papan jalan adalah kayu besi besi yang tebal dan kuat sekali. Kata 'hutan' juga tidak akan sesuai dengan gambaran kita tentang hutan-hutan di Jawa karena kutan di Papua itu sangat lebat sulit ditembus orang. Dengan demikian meski sudah membaca informasi mengenai tempat tujuan kejutan-kejutan selalu menjadi keasikan tersendiri seperti cerita tentang bunyi angin dan hujan mengerikan karena tercurah di atap-atap seng (hal 98).

Meski segala hal sudah dipersiapkan, perjalanan jauh selalu diwarnai pengalaman-pengalaman bodoh yang tak perlu terjadi, tapi justru di sana letak keasikannya. Jadwal tiket misalnya, gara-gara sembrono tidak dipastikan dulu Tita terpaksa ketinggalan kereta, padahal dia melihat kereta itu belum berangkat sewaktu dia tiba di stasiun waktu dia turun dari kereta sebelumnya. Gara-gara keteledorannya ini dia terpaksa mengeluarkan duit sekian juta untuk perjalanan ke Edinburg yang tidak menawarkan potongan harga untuk trip mendadak, kecuali pesan jauh hari. Juga kisah lucu berbau kriminal karena salah ambil mobil sewaan yang warna dan betuknya mirip di Bali. Meski harus berurusan dengan polisi tapi untungnya polisi di Bali tidak terlalu curiga mengingat kasus pencurian mobil di Bali sangat jarang terjadi. Tapi tetep aja Tita dan Edo suaminya harus membuat pembatalan BAP yan pasti makan waktu juga.


Belum selesai saya baca buku ini, tapi saya sudah pingin jalan-jalan, atau mengingat–ingat kisah perjalanan saya, yang tentunya belum sebanding dengan Tita (yang ternyata juga merasa masih jauh dibandingkan Riyyani Djangkaru misalnya), dan tentu saja belajar menulis… hehe..

Agus Nur Prawobo is a visual anthropologist working for Etnoreflika.
(this review is copied from here)

Thursday, June 4, 2009

kisah COVER


Sebelum akhirnya penerbit memilih salah satu disain cover, inilah ketiga disain yang saya siapkan bersama timkreatif REGOL, perusahaan kreatif yang saya kelola. Puas banget rasanya, nulis buku yang covernya didisain sama tim sendiri. heheheh...

Sekarang, ijinkan saya berbagi kisah tentang cover buku ini...


Ide menggunakan foto jejak kaki ini muncul tak sengaja. Selagi melihat-lihat koleksi foto traveling sepulang dari Nepal, tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata saya memiliki sejumlah foto jejak kaki di atas lempengan logam yang ditanam di permukaan tanah seperti itu.

Lalu, jadilah kegemaran memotret jejak kaki itu sebagai ilustrasi cover. Mumpung juga pas dengan judulnya, TALES from the ROAD. Dan karena kisah perjalanan saya lebih banyak menyusuri tempat-tempat eksotis yang kaya keragaman budaya, dipilihlah jejak kaki di atas asenering berupa lempengan logam yang bertuliskan huruf Nepal. Jangan bertanya apa bunyinya karena saya tidak bisa membaca huruf Nepal itu (sekedar catatan, di Nepal terdapat lebih dari 90 bahasa daerah!).

Yang terpenting dari lempengan logan Nepal itu adalah muatan lokal dan tradisional yang tercermin dari ukiran huruf tersebut. Penginnya sih, supaya semakin menguatkan perjalanan yang saya lakukan bukan adventure naik turun gunung apalagi shopping dari mall ke mall. Tapi untuk experiencing different cultures.

Semangat mengalami kebudayaan lain itu juga diperlihatkan lewat image-image di atasnya: Prajurit Kraton yang sudah sepuh, perempuan papua yang wajahnya tengah dirias, perempuan Nepal yang menjalani ritual pagi dengan sesaji di piring, serta perempuan Bali yang menyunggi sesaji. citra-citra itu mewakili interest saja pada seni, budaya, dan tradisi lokal di tiap-tiap tempat yang saya kunjungi.