coba-coba membaca pembaca bukuku..

sastra perjalanan karya pertamaku
Tiga buku perjalanan yang sudah saya tulis, membuat saya merenung-renungkan efeknya bagi pembaca. Buku pertama, TALES from the ROAD (2009), sungguh membanggakan karena mendapat banyak pujian hingga terpilih dalam 5 besar buku non fiksi pilihan pembaca dalam Festival Pembaca Indonesia 2010 lalu. Pujian yang datang tidak selalu berimplikasi pada oplah penjualan, tidak masuk kategori best seller. Berbeda dengan buku berikutnya yang saya tulis EUROTRIP: Safe & Fun (2010) yang dalam waktu tiga bulan sudah langsung dicetak ulang. Naga-naganya, buku ketiga saya UKTRIP: Smart & Fun (Maret, 2011) akan mengikuti jejaknya. Semoga...

Meskipun oplah buku EUROTRIP sangat menggembirakan, tapi buku laris manis ini ternyata tidak direview oleh banyak pembaca. Harap maklum, namanya juga buku guidance, males banget dong mereview-nya. Tapi lumayanlah, saya masih mendapat pujian lisan bahwa gaya menulis saya tetep beda dengan para penulis buku guidance lainnya. Tetep kelihatan antropologinya seperti yang terasa di TALES from the ROAD.

Lalu, sebagai penulis, apa komentar dan perasaan saya? 


Terus terang, saya menulis sekuel EUROTRIP dengan menekankan pada guidance, sebenarnya didorong oleh rasa penasaran dan prihatin atas buku pertama yang kurang sukses dari sisi penjualan. Sebenarnya juga, hal ini sudah saya sadari bahkan sudah saya sampaikan pada penerbit saat sepakat untuk menerbitkan TALES, "kayaknya nggak bakal laku lho, nggak banyak orang yang suka blusukan seperti ini," kata saya pada editor. Sebab saya cukup sadar diri, bahwa pembaca di Indonesia lebih menyukai tulisan how to dan tulisan yang menghibur, yang lucu-lucu dan konyol. Sementara saya nggak jago menulis lucu, juga nggak pinter memberi arahan mengingat gaya jalan-jalan saya sebenarnya juga asal-asalan.

Lalu saya pun menantang diri sendiri untuk menulis buku perjalanan yang 'how to'. Kebetulan pula, tak berapa lama setelah TALES terbit, penerbit buku saya menerbitkan sejumlah buku 'how to travel somewhere' yang disain sampulnya dirancang oleh perusahaan saya. Makin memuncak dong hasrat saya. Ndilalah juga, kok ya saya mendapat kesempatan business trip ke Paris pada awal Mei 2010. Langsung saja saya mengontak penerbit, menanyakan apakah mungkin saya bisa menerbitkan buku perjalanan keliling Eropa. Begitu penerbit setuju, saya makin bersemangat saja. Oh ya, tapi ada beberapa hal yang saya negosiasikan ke penerbit, antara lain: "saya nggak mau kalau ada Rp di sampul buku; saya nggak mau membuat rincian budget yang komplit berikut saran itinerary untuk pembaca; saya nggak mau menuliskan rincian pengeluaran saya dalam tabel-tabel, dan yang terakhir saya maunya juga mendisain cover dan lay out isinya! " Kurang ajar banget ya. Tapi untung editor dan penerbit sangat kompromis dan meluluskan keinginan saya.

Saya sendiri punya alasan kenapa nggak mau mencantumkan hal-hal di atas. Saya ingin buku saya dibaca oleh mereka yang nggak reseh soal rupiah tapi tetep tahu bahwa gaya jalan-jalan saya memang on shoestring. Apalagi ini perjalanan ke Eropa yang pastinya buat transpor dan ngurus visa plus asuransi saja sudah sekitar 10 jutaan atau bahkan lebih tergantung season. Jadi, nggak perlu dipaksain menampilkan Rp di kaver kan? Sementara itu, keengganan saya menulis rincian biaya pengeluaran selama di Eropa juga karena saya sangat sadar bahwa setiap orang punya interes yang berbeda. Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk ngikutin tempat-tempat, museum, dan berbagai atraksi yang saya tonton. Apalagi ngikutin belanja puluhan suvenir tempelan yang saya beli untuk menambah koleksi. Bisa-bisa saya dianggap boros karena di tiap kota memborong tempelan kulkas. Haha...!

Begitu EUROTRIP beredar di toko-toko buku, saya sudah dapat merasakan bahwa buku ini laris-manis. Saya dapat menangkapnya lewat ratusan invitation untuk jadi temen di facebook dan email yang datang mengalir. Email dan message yang mampir di inbox ini kadang-kadang bikin saya ketawa sekaligus gemes. Pertanyaannya lucu-lucu: "Mbak, Lonely Planet itu apa? Di mana membeli Lonely Planet? Ada yang berbaha Indonesia nggak?" Sungguh, saya tak mengira mendapat pertanyaan seperti itu. Pembaca buku pertama saya tidak membanjiri saya dengan pertanyaan seperti itu. Pembaca TALES tidak  banyak yang bertanya, mereka mengekspresikannya lewat review yang ditulisnya di blog. 

Saya pun jadi bertanya-tanya. Jangan-jangan, karena harga buku traveling yang murah dan terjangkau (apalagi masih didiskon), justru membuat buku ini 'salah segmen' ya? Artinya, buku ini kemudian dibaca oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang bahkan awam dengan dunia traveling sekalipun. Buktinya ada yang nggak tahu Lonely Planet itu apa. Tapi bisa jadi bukan karena harga buku yang murah, mungkin juga karena Eropa menjadi mimpi banyak orang ya. Soalnya buku pertama saya kan harganya murah juga, cuma Rp 32.000 dan jika beli di toko buku diskon nggak sampe tigapuluh ribu. Tapi pembaca TALES kebanyakan memang mereka yang hobi traveling, yang sudah nggak memmbutuhkan buku guidance lagi. Lebih tepatnya, mereka membutuhkan buku guidance yang sekelas Lonely Planet dan Rough Guide. (Makanya nggak ada yang nanya Lonely Planet itu apa. Hehe...!) Jadi, kesimpulan sementara, pembaca buku guidance adalah mereka yang lagi belajar traveleing, sementara menulis buku travelogue adalah mereka yang ingin menikmati pengalaman dan refleksi traveler lain saat melakukan perjalanan. 

Nah, jika saya ditanya lagi, buku manakah yang membuat saya puas dan bangga? Sudah pasti semuanya memuaskan dan membanggakan. Tapi, kalau boleh jujur nih, TALES merupakan buku sastra perjalanan (terjemahan dari kata travel writing) yang sangat saya sukai, yang ditulis dengan sepenuh jiwa. Saya malah ingin selalu memperbaiki gaya penulisan ala TALES itu. Pengin menulis yang lebih mendalam lagi, yang thick description. Meski mungkin tidak akan menjadi best seller, tapi buku sastra perjalanan seperti ini akan menjadi master-piece karya tulis saya (ehemm..!!) 

Bukan berarti saya tidak akan menulis buku guidance lagi. Keliru, saya tetap munulis jenis buku ini kok. Kan sudah terbukti laku di pasaran. Artinya, royalti saya akan bertambah banyak, bisa buat modal nulis buku yang master-piece tapi nggak laku. Hihii..!







Comments

  1. walaupun agak susah nemuinnya di Jakarta, akhirnya saya dapat Tales juga dan saya banyak 'belajar' menulis kisah perjalanan dari buku tersebut. (karena) Saya pikir yang nulis cerita perjalanan itu kebanyakan cewek, saya tiba-tiba pengen nulis juga pengalaman jalan2 saya keliling Indonesia. Biar ada buku perjalanan yang ditulis cowok (dengan gaya penulisan yang ngepop tentu). Sudah 50% selesai, sisanya masih ditulis. Semoga segera bisa terbit seperti punya Mbak Tita.


    PS: Eurotrip dan UKtrip juga sudah di tangan, semoga kapan2 bisa ketemu buat minta tanda tangan dan foto bareng hehehe ;=)

    ReplyDelete
  2. asyyiikkk...bakal makin banyak tulisan tentang indonesia nih...ditunggu bukunya yaaa...nanti kalo terbit tuker2an tandatangan deh..hihiii

    ReplyDelete
  3. sebenernya emang aye ndak pernah nemuin tuh buku yang kayak curhat itu (TALES). Eh, tapi mendadak selalu ketiwi hbs bc 1 bab, n makin pensaran untuk bc lg. emg bener, travellingny blusukan bgt, tp tips"nya pst berhrg bgt.

    Jd pingin jd nulis buku juga nie, tp msh nggak bnyk jj, juga tak pinter celoteh begitu.
    Mbak Tita mbak Tita, kok bs toh Tales from the road itu kurg laris pdhl bgs bgt.hehee.

    Pingin ketemu nie ama mbak Tita, semoga aje klu pas aye ke Jogja bisa mampir, kie ekekek :)

    ReplyDelete

Post a Comment