Showing newest posts with label editorial. Show older posts
Showing newest posts with label editorial. Show older posts

Tuesday, June 9, 2009

tentang JUDUL

Kenapa sih judulnya harus pake bahasa Inggris, TALES from the ROAD? Agak susah saya menjawabnya. Jawaban paling sederhana adalah karena judul itu sudah saya gunakan sejak lama di travelblog saya www.matatita.com . Itu pula sebabnya saya menggunakan nama MATATITA dan bukan nama asli saya Suluh Pratitasari untuk buku travelogue ini.

Sementara alasan yang sedikit argumentatif adalah bahwa travelling merupakan aktivitas global, yang berupaya mengunjungi tempat-tempat lain, melewati berbagai batas wilayah dan kebudayaan. Bahasa Inggris (sekalipun ala tarzan) hingga kini masih dinobatkan sebagai bahasa Internasional yang digunakan para pejalan dari berbagai budaya dan bahasa untuk bisa saling berkomunikasi.

Jadi, jika kemudian buku ini menggunakan bahasa Inggris sebagai judul utama dan sub judul yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, bukan dimaksudkan untuk gaya-gayaan atau sok kebarat-baratan apalagi menempatkan bahasa sendiri sebagai kelas dua. Bagi saya, kedua bahasa yang digunakan ini merupakan simbol pertemuan antar dua budaya yang berbeda dan kemudian saling berkompromi, sebagaimana yang biasa dihadapi para traveller ketika menjelajah ke suatu tempat nun jauh dari kampung halamannya.

Monday, June 8, 2009

edorsement dari Riyanni Djangkaru

"Pastinya, buku ini tidak hanya soal traveling," komentar Riyanni Djangkaru, mantan presenter Jejak Petualang itu memberi penegasan bahwa TALES from the ROAD (selanjutnya disingkat TALES) bukanlah travel guide-book sebangsa Lonely Planet. Jangan berharap menemukan petunjuk "how to get there", "when to go", maupun "recommended hotel" di buku saya ya.

Lalu, apa yang bisa didapat dengan membaca TALES from the ROAD?


"Salah satu esensi mengunjungi suatu lokasi adalah bisa merasakan perbedaan yang ada, bagaimana pemahaman kita terhadap suatu perbedaan dan menerimanya sebagai suatu sudut pandang baru …." tulis Riyanni lagi. Di endorsement yang ditulisnya untuk TALES, Riyanni mengungkapkan bahwa perjalanan wisata seringkali dianggap sebagai "kunjungan singkat" ke obyek-obyek wisata yang sudah populer termasuk tempat yang memiliki pemandangan indah dan memberikan kenyamanan. Padahal bukan itu esensi dari traveling.

Saya jadi teringat kata Andrea Hirata. Sekitar akhir 2007 lalu, saya membuat obrolan kecil-kecilan bertema "Menuliskan Kisah Perjalanan" dengan nara sumber Andrea Hirata. Saat itu saya begitu terkesan dengan Edensor, novel ketiganya yang menurut saya bisa dimasukkan dalam genre kisah perjalanan (travelogue). Andrea sendiri rupaya juga bersemangat mengisi forum obrolan sembari minum kopi yang saya adakan itu.

Sebagai moderator acara, saya memintanya untuk membocorkan kiatnya bisa menuliskan novel perjalanan yang detil dan menarik itu. Katanya, "jangan terjebak pada keindahan sebuah obyek wisata." Karena jika kita sudah terjebak pada keindahan suatu tempat, kita hanya bisa menuliskan keindahan itu yang nggak beda dengan brosur-brosur wisata. Andrea kemudian memberikan tips khusus agar perjalanan wisata menjadi berkesan, "mencobalah terlibat dengan aktifitas warga setempat. Misalnya ikutan memanen buah anggur di Eropa seperti yang pernah saya lakukan."

Saya setuju banget dengan apa yang dikatakan Andrea. Bagi saya traveling is experiencing different cultures. Saat di mana saya belajar tentang kehidupan bersama orang-orang dari berbagai kebudayaan. Ketika merencanakan traveling (atau seringnya karena perjalanan dinas), yang saya cari bukanlah obyek wisata, tetapi di mana saya bisa bertemu dengan penduduk lokal. Buat saya berada di antara penduduk setempat merupakan "traveling yang sesungguh"nya.

Nah, pengalaman berada di antara orang-orang dari berbagai daerah dengan latar belakang kebudayaan yang beragam itulah, yang menjadi tema utama dalam penulisan ini. Pertemuan dengan penduduk lokal itu bisa terjadi dalam berbagai situasi: dalam perayaan adat yang meriah, ditipu calo yang membuat saya jadi uring-uringan, ditipu sopir taksi, atau bahkan dihadang orang yang mengaku sebagai intel.

Perjalanan wisata tidak selamanya indah dan mudah, tetapi penuh liku dan perjuangan. Keberhasilan meloloskan diri dari semua hambatan itu, merupakan oleh-oleh paling berharga yang saya miliki disamping foto-foto perjalanan yang menghabiskan bermega-mega piksel. Lewat buku ini, saya pengin membagikan oleh-oleh termahal itu.

Thanks Riyanni, kamu berhasil menangkap gagasan saya tentang experiencing different cultures!

Thursday, June 4, 2009

kisah COVER


Sebelum akhirnya penerbit memilih salah satu disain cover, inilah ketiga disain yang saya siapkan bersama timkreatif REGOL, perusahaan kreatif yang saya kelola. Puas banget rasanya, nulis buku yang covernya didisain sama tim sendiri. heheheh...

Sekarang, ijinkan saya berbagi kisah tentang cover buku ini...


Ide menggunakan foto jejak kaki ini muncul tak sengaja. Selagi melihat-lihat koleksi foto traveling sepulang dari Nepal, tiba-tiba saya tersadar bahwa ternyata saya memiliki sejumlah foto jejak kaki di atas lempengan logam yang ditanam di permukaan tanah seperti itu. Nggak cuma waktu di Nepal, bahkan waktu di Inggris lumayan banyak kaki saya menapak di ikon-ikon tertentu.

Lalu, jadilah kegemaran memotret jejak kaki itu sebagai ilustrasi cover. Mumpung juga pas dengan judulnya, TALES from the ROAD. Dan karena kisah perjalanan saya lebih banyak menyusuri tempat-tempat eksotis yang kaya keragaman budaya, dipilihlah jejak kaki di atas asenering berupa lempengan logam yang bertuliskan huruf Nepal. Jangan bertanya apa bunyinya karena saya tidak bisa membaca huruf Nepal itu (sekedar catatan, di Nepal terdapat lebih dari 90 bahasa daerah!).

Yang terpenting dari lempengan logan Nepal itu adalah muatan lokal dan tradisional yang tercermin dari ukiran huruf tersebut. Penginnya sih, supaya semakin menguatkan perjalanan yang saya lakukan bukan adventure naik turun gunung apalagi shopping dari mall ke mall. Tapi untuk experiencing different cultures.

Semangat mengalami kebudayaan lain itu juga diperlihatkan lewat image-image di atasnya: Prajurit Kraton yang sudah sepuh, perempuan papua yang wajahnya tengah dirias, perempuan Nepal yang menjalani ritual pagi dengan sesaji di piring, serta perempuan Bali yang menyunggi sesaji. citra-citra itu mewakili interest saja pada seni, budaya, dan tradisi lokal di tiap-tiap tempat yang saya kunjungi.



endorsement dari wartawan senior TEMPO

Bertanyalah saya pada Editor, "kalau minta endorsement harus ngasih fee atau honor nggak sih?" Dan ternyata tidak ada honor. "Kalau minta Kata Pengantar, baru ada honornya," jawabnya.

Jadi, jika kemudian ada yang bersedia memberikan endorsement untuk buku saya tanpa bayaran, tentulah saya harus menaruh hormat atas penghargaannya. Bayangkan, diantara kesibukannya, mereka harus meluangkan waktu khusus membaca naskah saya yang tebalnya lebih dari 100 hal ketik spasi tunggal. Sudah begitu, nggak hanya satu kalimat yang mereka berikan, malah beberapa paragraf sehingga Editor harus jeli memilih kalimat yang tepat untuk dipajang di cover buku.

Endorsement dari mbak Mardiyah Chamim, misalnya. Direktur Eksekutif TEMPO Instititue yang juga mengelola situs www.acehjourney.net, memberi komentar yang cukup banyak untuk tulisan saya. Saya mendapat forward dari Editor, endorsement utuh yang belum dipilih. Ijinkan saya mengutipnya beberapa bagian ya....

Matatita, pilihan nama yang menarik. Ada kesan kepolosan, kejelian mengeksplorasi hal-hal baru, cerdik, dan sekaligus bermain-main di situ. Ramuan yang jelas dibutuhkan seorang penulis perjalanan –genre penulisan yang belakangan makin digemari. (hihi...bahkan dia mengomentari internet nickname yang kemudian kupake sebagai pesudonim)

Jika ada yang disebut kelemahan, paling-paling hanya karena Jeng Tita terlalu mengikuti gaya bahasa lisan khas Jogja yang kadang agak susah dipahami –terutama buat yang bukan orang Jawa. Namun, kekurangan ini sekaligus juga menjadi kelebihan Tita. Dengan jurus bertutur lincah begini, warna-warni pengalaman Tita menjadi jauh lebih hidup.(nah kan...ketangkep lagi deh jawa-nya saya! emang nggak bisa berbahasa indonesia yang baik...)

Tita membagi bab-bab dalam bukunya secara tematik. Ini jurus yang menarik karena menghindarkan Tita dari kecenderungan menulis itinerary perjalanan yang membosankan. Tema demi tema mengalir lancar, mulai tips praktis bertualang murah, bepergian dengan TKI yang lugu-konyol-mengharukan, sampai ritual menstruasi yang membikin Tita kelimpungan saat menginap di tengah Suku Dayak Benuaq, di pedalaman Kalimantan Timur.(hehe...setelah baca travelogue-ku nemu ide apa mbak?

Terus-terang, buku Tita membuat saya ‘cemburu’.(wwwaaaaa....jadi redaktur senior TEMPO kan malah lebih banyak jajah negara milangkori-ne tho mbak...!)

Endorsement adalah penghargaan tak terkira untuk penulis. Karenanya, sungguh, saya merasa berhutang budi.

(disain biografi penulis by regol...)

edorsement dari chief editor majalah JALANJALAN

"Ini buku travel populer pertama yang ditulis dari sudut pandang 'wong Yojo'. 'Ya ampun' diganti "Duh Gusti', 'tergesa-gesa' jadi 'kemrungsung'. Unik, lucu, dan pastinya menghibur" itu kutipan dari endorsement yang diberikan Cristian Rahadiansyah, Editor in Chief Majalah JalanJalan untuk TALES from the ROAD, travelogue matatita.

Saya nyengir sendiri membacanya.Cristian bisa menangkap kejawawaan saya dengan membaca naskah yang dikirimkan penerbit padanya.

Dalam setiap artikel yang saya tulis di buku itu, memang bertebaran kata-kata dan ungkapan bahasa Jawa. Saking banyaknya, bahkan Editor terpaksa mengedit beberapa. Menggantinya dengan kalimat bahasa Indonesia atau memberinya terjemahan dalam kurung. Saya nggak protes kok, karena toh buku itu nantinya akan didistribusikan secara meluas di seluruh Indonesia. Kasihan juga pembaca yang nggak ngerti bahasa Jawa, bisa-bisa malah terganggu dan malas meneruskan membaca.

Buat saya, penggunaan kata/ungkapan Jawa dalam travelogue itu merupakan bentuk ekspresi lokal yang muncul secara spontan. Maklumlah, sehari-hari saya berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Meeting pakai bahasa Jawa, nulis e-mail dan YM!-an juga merasa lebih enak pakai bahasa Jawa, membalas reply di blog...tahu kan pasti Jawanya keluar. Nah, begitu menulis travelogue, catatan perjalanan yang gue banget itu, mau tidak mau, Jawa-nya muncrat di sana sini deh.

Saya pernah "dikomplain" relasi saya. Katanya, "heran deh aku, kalau ngobrol sama Mbak Tita kok pasti jadi kebawa ngomong pakai bahasa Jawa ya?" Relasi saya itu juga orang Jawa juga sih, tapi sudah ditempatkan di luar Jawa cukup lama dan sudah jarang ngobrol pakai bahasa Jawa. (Seringnya malah ngomong pakai bahasa Indonesia logat Jakarta yang konon bergengsi itu).

Kali lain, ada relasi yang kebetulan sudah lama kenal. Tapi kalau ketemu di kantor perusahaannya, kami sama-sama menggunakan bahasa Indonesia, terutama jika ada staf lain yang ikutan ngobrol. Begitu ditinggal berdua, dia bilang "wis, ngomong ngganggo basa Jawa wae. Luwih penak. Tapi yen mengko pas bocahe teka, ngomong nganggo Bahasa Indonesia meneh yo." Hahahaha....!

Saturday, May 23, 2009

riyani djangkaru & matatita


kabar ini datang dari penerbit lewat ym! "mbak, riyani djangkaru sudah bersedia memberikan endorsment untuk matatita"

waw..great!

ada 2 nama yang saya usulkan pada penerbit untuk memberikan endorsment pada buku catatan perjalanan matatita (judulnya masih rahasia ya....) yang menurut rencana akan beredar di pasaran pada bulan juni/juli..pas musim libur anak sekolah.

salah satu di antara 2 nama itu adalah riyani djangkaru. kenapa riyani? alasan paling sederhana adalah karena saya penonton setia "jejak petualang" hanya ketika riyani masih menjadi host-nya. hehhee...! soalnya presenter2 berikutnya nggak seseru penjelajahan yg dilakukan riyani siy..:D. tapi lebih tepatnya, pada saat itu jejak petualang masih cukup banyak menelusuri daerah2 pedalaman indonesia seperti papua dan nusa tenggara. juga banyak menampilkan prosesi/upacara adat di pedalaman, nggak melulu naik turun gunung dan menyelami lautan.

saya rasa, pengalaman riyani djangkaru menyusuri pedalaman indonesia dikit2 mirip dengan yang dilakukan matatita. di bukunya, matatita banyak berkisah tentang perjalanannya menelusuri tempat-tempat eksotis di pedalaman (termasuk di beberapa negara asia), tinggal bersama penduduk setempat, menyukai angkot dan pasar tadisional karena di situlah ia bisa bertemu penduduk lokal, menghadiri beberapa festival dan upacara adat, juga menyusuri situs-situs heritage yang menunjukkan kejayaan masa lalu.

nama kedua yang saya usulkan masih berusaha dihubungi penerbit. nama lelaki itu, saya harapkan banget bisa memberikan endorsment untuk matatita. memang, dia tidak sepopuler riyani djangkaru, setidaknya di kalangan anak muda. tetapi media yang dipimpinnya (edisi indonesia) sudah dikenal luas dan dijadikan referensi utama untuk kegiatan penjelajahan dan observasi. semoga pihak penerbit bersedia sedikit lebih bersusuah payah untuk mendapatkan endorsment-nya ya.

sebenarnya ada nama lain yang ingin saya usulkan untuk memberikan endorsment, yaitu ian wright, host "globe trekker" yang sableng. atau anthony bourdin, si ganteng yg menjadi host "no reservantions". wekekekk...

Friday, May 8, 2009

hah, 400 halaman?

Minggu ini adalah jadwal lay-out buku travelogue matatita yang rencananya beredar bulan Juni. Yang mengejutkan, kabar dari editor pagi ini: "Mbak, bukumu jadinya tebel banget. Sekitar 400-an halaman."

Saya terperanjat. Nggak mengira akan jadi sebanyak itu. Materi yang saya setor ke penerbit hanya sekitar 125 halaman spasi satu dengan font kesukaan saya, Trebuchet 11 point. Ada sekitar 40 judul artikel di dalamnya yang terbagi menjadi 4 chapter sesuai tema tulisan.

Selain tulisan yang sudah saya setor itu, di laptop saya masih ada 16 judul tulisan yang baru separoh jalan. Itupun masih sangat mungkin bertambah menjadi beberapa judul lagi. (Biasanya, kalau lagi ngetik sering muncul ide dadakan).

Sebenarnya saya sendiri merasa kurang optimal menulis. Prose penulisan itu baru mulai saya lakukan pertengahan Februari 2009. Itupun nggak intens. Penulisan bener-bener terhenti sejak Mamah masuk rumah sakit karena serangan stroke pada tanggal 11 Maret dini hari dan akhirnya berpulang pada Sang Khalik esok paginya 12 Maret 2009. Praktis setelah itu saya nggak membuka file-file tulisan sama sekali.

Hampir sebulan saya nggak peduli dengan tulisan yang sebagian sudah saya e-mail ke penerbit. Saya baru mulai menulis lagi menjelang akhir April, mungkin sekitar tanggal 20-an setelah berdiskusi dengan Editor. Saya berjanji akan menuntaskan tulisan tersebut pada tanggal 30 April 2009 (Kamis). Yang lagi-lagi meleset, karena ada acara ke luar kota. Dua hari kemudian, SMS dari CEO penerbit datang. "Nggak sabar pengin baca nih," tulisnya di SMS yang membuat saya jadi tahu diri. "Hehe, Selasa ya Mas," jawab saya singkat.

Meski masih banyak ide yang pengin ditulis, tapi Selasa sudah menjadi harga mati. Saya nggak boleh mengacaukan jadwal cetak penerbit yang sudah disiapkan sejak awal. Jadilah apa yang sudah terketik saja yang saya setorkan. Sebanyak 125 hal spasi tunggal itu.

Ternyata, jumlah itu kebanyakan! "Buat buku berikutnya aja, Mbak. Seri 2," kata Editor. Hihi.., iya juga sih. Kan saya masih punya banyak celengan tulisan yang belum tuntas. Menarik juga idenya. Saya pun nyicil ayem karena masih punya waktu lebih longgar untuk menulis lagi dan memfokuskan tulisan dengan tema yang berbeda dari yang travelogue pertama.

Saat ini editor tengah memilah dan memilih beberapa tulisan yang akan didrop. Ada sekitar 100 halaman yang harus lengser, nggak naik cetak. "Supaya harga jualnya lebih terjangkau," katanya lagi. Dan saya setuju. Lagi pula, segmen pembaca travelogue matatita ini adalah anak muda, menjelang dewasa, yang tentunya nggak terlalu jor-joran untuk membeli buku. Kalau bisa sih malah minjem temen aja.

Selagi editor mengedit, saya dan timkreatif REGOL tengah menyiapkan disain cover-nya.