endorsement dari wartawan senior TEMPO

Bertanyalah saya pada Editor, "kalau minta endorsement harus ngasih fee atau honor nggak sih?" Dan ternyata tidak ada honor. "Kalau minta Kata Pengantar, baru ada honornya," jawabnya.

Jadi, jika kemudian ada yang bersedia memberikan endorsement untuk buku saya tanpa bayaran, tentulah saya harus menaruh hormat atas penghargaannya. Bayangkan, diantara kesibukannya, mereka harus meluangkan waktu khusus membaca naskah saya yang tebalnya lebih dari 100 hal ketik spasi tunggal. Sudah begitu, nggak hanya satu kalimat yang mereka berikan, malah beberapa paragraf sehingga Editor harus jeli memilih kalimat yang tepat untuk dipajang di cover buku.

Endorsement dari mbak Mardiyah Chamim, misalnya. Direktur Eksekutif TEMPO Instititue yang juga mengelola situs www.acehjourney.net, memberi komentar yang cukup banyak untuk tulisan saya. Saya mendapat forward dari Editor, endorsement utuh yang belum dipilih. Ijinkan saya mengutipnya beberapa bagian ya....

Matatita, pilihan nama yang menarik. Ada kesan kepolosan, kejelian mengeksplorasi hal-hal baru, cerdik, dan sekaligus bermain-main di situ. Ramuan yang jelas dibutuhkan seorang penulis perjalanan –genre penulisan yang belakangan makin digemari. (hihi...bahkan dia mengomentari internet nickname yang kemudian kupake sebagai pesudonim)

Jika ada yang disebut kelemahan, paling-paling hanya karena Jeng Tita terlalu mengikuti gaya bahasa lisan khas Jogja yang kadang agak susah dipahami –terutama buat yang bukan orang Jawa. Namun, kekurangan ini sekaligus juga menjadi kelebihan Tita. Dengan jurus bertutur lincah begini, warna-warni pengalaman Tita menjadi jauh lebih hidup.(nah kan...ketangkep lagi deh jawa-nya saya! emang nggak bisa berbahasa indonesia yang baik...)

Tita membagi bab-bab dalam bukunya secara tematik. Ini jurus yang menarik karena menghindarkan Tita dari kecenderungan menulis itinerary perjalanan yang membosankan. Tema demi tema mengalir lancar, mulai tips praktis bertualang murah, bepergian dengan TKI yang lugu-konyol-mengharukan, sampai ritual menstruasi yang membikin Tita kelimpungan saat menginap di tengah Suku Dayak Benuaq, di pedalaman Kalimantan Timur.(hehe...setelah baca travelogue-ku nemu ide apa mbak?

Terus-terang, buku Tita membuat saya ‘cemburu’.(wwwaaaaa....jadi redaktur senior TEMPO kan malah lebih banyak jajah negara milangkori-ne tho mbak...!)

Endorsement adalah penghargaan tak terkira untuk penulis. Karenanya, sungguh, saya merasa berhutang budi.

(disain biografi penulis by regol...)

Comments