Sunday, January 31, 2010

"TALES from the ROAD" for your iPhone & iPod Touch

kabar gembira dari drom.mobi niy...

price titacover tita“I’m a Going Native Traveller who love to travel to visit exotic places, meet the locals, and experience different cultures.”

~ Matatita ~

Pernahkah Anda membayangkan rasanya diangkat anak secara tradisional oleh keluarga Dayak? Atau bagaimana sih asyiknya tinggal di rumah Suku Newari, Nepal, di sebuah kawasan yang masuk ke dalam UNESCO WOrld Heritage? Masih Kurang? Matatita juga membocorkan sejumlah tip seru berburu tiket murah, bahkan akomodasi superngirit!

Buku ini selain membawa kita bertualang ke tempat-tempat eksotis, sekaligus mengajak kita menghargai keragaman budaya di muka bumi ini. Dikemas dalam bahasa yang ringan, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memiliki perjalanan wisata penuh kesan.

*******

cover tita2MATATITA merupakan internet nickname dari Suluh Pratitasari.Wanita kelahiran Yogyakarta, 13 Oktober ini mulai tertarik dengan kegiatan wisata budaya sejak kanak-kanak karena ayahnya sering mengajaknya ke museum, galeri dan Candi Prambanan. ia juga penonton setia acara “Taman Bhinneka Tunggal Ika” di TVRi era tahun 80-an. Selepas SMA, Tita ngotot bisa kuliah di jurusan Antropologi demi menyalurkan hasratnya mengeksplorasi berbagai kebudayaan dan menulis etnografi dengan gaya ngepop.

Sebelum kisa perjalanan ini diterbitkan, Tita sudah rutin menulis artikel wisata budaya di buletin yang dikelolanya. “Artikel wisata memaksa saya hanya melulu menulis keindahan,”katanya. Baginya, menulis catatan perjalanan secara personal (traveloque) ini terasa lebih memuaskan karena ditulis dengan jujur dan tanpa pretensi untuk mempromosikan destinasi tertentu.

Selain menulis artikel wisata budaya, Tita juga gemar menulis cerpen.Bahkan, semasa remaja tulisannya sering dimuat di majalah remaja ibukota seperti HAI, Gadis, Aneka, dan MODE pada era tahun 90-an.

Kini, sehari-hari ia mengelola bisnis UKM (Usaha Kecil Menyenangkan) yang bergerak di bidang kreatif di Yogyakarta.

*******

cover tita3cover tita4This book is a journal of the author journey from Jogjakarta to Nepal

“….matatita describes more about culture and local people, perhaps because her background is an anthropologist, therefore we find a lot of info on Dayak people, Asmat culture, and even Jogja with its people and culture as the author hometown.”

Tjut Riana

“Selama ini tak banyak buku kisah perjalanan yang mengungkapkan budaya setempat. Untuk itu saya mencoba menuliskannya…”

Sinar Harapan, 18 Agustus 2009

Banyak orang yang telah bepergian ke berbagai penjuru tanah air maupun ke pelosok dunia. Tapi sedikit yang menuangkannya dalam tulisan. Sudah ada yang menuliskan kisah perjalanannya, tapi sedikit yang merangkainya dalam pendekatan budaya. Matatita melakukannya.

ERWAN WIDYARTO, Radar Jogja Minggu, 9 Agustus 2009



Tuesday, January 5, 2010

TALES fron the ROAD junior


kenalkan..ini Baby Bindi...
biarpun masih bayi..tapi udah mulai ketularan jalan loh..hehehe




Saturday, January 2, 2010

cuti jalan-jalan


Umumnya orang mengajukan cuti untuk jalan-jalan atau liburan. Tapi saya malah mengajukan cuti untuk nggak jalan-jalan dulu alias pengin di rumah saja. Ini gara-gara Baby Bindi, momongan saya yang lahir pada tanggal 31 Oktober 2009 lalu.

Baby Bindi membuat saya membatalkan tiket return ke India dengan AirAsia yang sudah saya beli sejak akhir Desember 2008. Tiket perjalanan eksotis itu sudah saya angankan sejak lamaaaa dan baru kesampaian saya beli pada akhir Desember 2008 karena mendapatkan kursi promo Rp 0,- untuk penerbangan November 2009. Beli setahun lalu untuk terbang tahun berikutnya.

Tapi kehadiran Baby Bindi membuat hidup saya seketika berubah. Saya jadi betah di rumah mengamati tumbuh kembangnya yang menakjubkan. Nggak rela rasanya meninggalkannya seharian, apalagi 10 hari untuk perjalanan ke negeri eksotis India. Meski negeri itu adalah salah satu dari mimpi saya.

Inilah saat di mana saya harus berani membuat keputusan: menunda mimpi lama demi mewujud sebuah mimpi lain yang tak kalah pentingnya dalam hidup saya.

Indira Pramesthi. Demikian saya menamainya. Nama yang bernuansa India dan Jawa, yang mewakili hasrat saya akan negeri eksotis impian saya. Nama Indira terinspirasi dari sososk Indira Gandhi yang dijuluki Iron Lady of India. Saya berharap, kelak Baby Bindi juga akan menjadi seorang pemimpin yang tangguh dan berpengaruh di negeri ini. (Amiinn...)

Karena nama Baby Bindi berbau India, sebagian temen yang tahu rencana keberangkatan saya ke India yang batal karena kehadiran Baby Bindi berkomentar begini: "Indira itu artinya India ra sido..(India Nggak Jadi)"..hahaha...

Selain menghanguskan tiket AirAsia Jogja - Kuala Lumpur - India return, Baby Bindi juga membaut saya rela membiarkan tiket liburan dalam rangka wedding anniversary ke Luang Prabang (Laos) tak terpakai.

Januari 2010, genap sewindu kami menikah. Sekali-kali pengin ngambil cuti pada hari perkawinan dan backpacking ke tempat yang tenang. Luang Prabang saya pilih karena menjadi tempat para biksu menjalani keseharian dan kehidupan religiositasnya.

Apaboleh buat. Banyak hal tak terduga yang akan hadir pada setahun kemudian. Tiket Rp 0,- dengan rute Jogja - Singapore - Kuala Lumpur - Vientianne (Laos) return itu pun harus rela dilupakan.

Inilah akibat terlalu pede membeli tiket promo setahun sebelumnya. Haha...


(cerita tentang foto baby bindi dengan prajurit kraton ada di sini ya...)