my things in 2010


Ada banyak keinginan yang belum tercapai sepanjang 2010. Tapi juga banyak hal tak terduga yang membuat tahun 2010 terlewati dengan penuh gairah. Saya jadi pengin berbagi kegairahan yang saya lewati bulan demi bulan di tahun 2010.

  1. Januari 2010

Live the dream. Januari adalah bulan bermimpi, memimpikian sejumlah ide besar untuk mengisi bulan-bulan berikutnya di sepanjang 2010. Mimpi besar saya pada Januari 2010 adalah merintis publishing company. Sebenarnya bukan merintis, tapi meneguhkan karena bidang publishing sudah cukup lama saya tekuni. Sudah 7 tahun saya mengerjakan beberapa project yang terkait dengan publishing. Hanya saja, buku dan media (newsletter/majalah) yang saya terbitkan tidak dijual umum alias hanya untuk kalangan terbatas. Padahal jumlahnya lumayan banyak, beberapa jurnal universitas, ada newsletter/corporate magazine perusahaan BUMN, ada buku hasil riset NGO, juga travel magazine. Jadi, jika pada Januari 2010 saya pengin show off ke public, menerbitkan buku atau majalah yang dijual umum, yang nangkring di rak-rak toko buku (best seller, harapannya!), bukan sebuah mimpi yang berlebihan kan?

  1. Februari 2010

Off dulu. Sebenarnya saya sudah berniat untuk cuti jalan-jalan di tahun 2010, mengingat Baby Bindi masih jauh lebih membutuhkan saya alias belum bisa terlalu lama ditinggal. Juga masih bikin repot kalau diajak jalan karena usianya baru mau masuk 4 bulan. Selain itu saya juga lagi berjuang membangkitkan semangat seorang sahabat untuk menulis kisah perjalanannya akan saya terbitkan. Ini bakal jadi buku pertama yang diterbitin publishing company yang saya impikan di bulan lalu.

  1. Maret 2010

Next Trip: Europe. Tawaran business trip ke Paris itu datang tak dinyana dari seorang rekan sesama backpacker. Saya tak kuasa menolak karena kerinduan menggendong ransel sudah setahun terpendam. Kesempatan tak akan datang dua kali. Tapi bagaimana dengan Baby Bindi dan suwami nanti? Apa kata orang jika saya meninggalkannya untuk bepergia ke benua lain? Sungguh berat rasanya menyampaikan niatan business trip ini ke suwami. Tapi, masak kesempatan emas ini disia-diakan begitu saja? Beruntunglah saya punya suwami yang sungguh pengertian. Agenda jalan-jalan disambi bisnis itupun dikabulkan. Setelah mendapat restu dari suwami, mulailah saya menyusun itinerary dan berburu tiket promo bair irit.

  1. April 2010

Deal! Mengontak penerbit seraya memamerkan itinerary saya ke Eropa selama 15 hari di bulan Mei mendatang. Buntutnya sih menawarkan diri untuk menuliskan kisah perjalanan itu untuk kemudian diterbitkan menjadi buku.

  1. Mei 2010

Female Solo Traveler. Meski sudah cukup sering jalan sendiri, tapi perjalanan solo kali ini sangat istimewa buat saya. Bukan karena solo traveling ke Eropa, tapi karena saya terpaksa meninggalkan Baby Bindi (6 bulan) di rumah bersama Bapaknya. Mengharu biru banget. Saya tidak dapat menahan tangis ketika akan berangkat, bahkan Mbok Nem ikut sesenggukan. Saya juga selalu menitikkan air mata setiap kali Edo mengirim MMS berisi foto maupun rekaman suara Baby Bindi. Di negeri yang jauhnya ribuan mil dari Ngayogyakarta itu, saya hanya bisa berdoa semoga suatu hari bisa Eurotrip bareng Baby Bindi dan Bapaknya.

  1. Juni 2010

My travelogue book. Ini menjadi bulan yang paling menggairahkan. Saya tidak hanya menuliskan kisah perjalanan saya selama 15 hari ke Eropa, tetapi juga mengerahkan timkreatif di kantor untuk merancang kaver dan melay-out isi buku.

  1. Juli 2010

Travel Writing Forum. Kangen bikin event Sembari Minum Kopi. Dan mumpung sebentar lagi saya akan meluncurkan buku Eurotrip, jadilah forum ini ditumpangi promosi buku sendiri. Hehe…! Tapi forum kali ini cukup seru, bekerjasama dengan Komunitas Backpacker Dunia, saya menggelar tema “Travel Writing & Sharing Info Backpacking ke Eropa”.

  1. Agustus 2010

Traveling with Baby Bindi. Untuk pertama kalinya saya mengajak Baby Bindi terbang dengan pesawat dan berlibur ke Bali. Liburan kali ini benar-benar saya tujukan buat mengajari Bindi bersentuhan dengan budaya lain. Bali saya pilih karena multikultur. Harap maklum, buat saya traveling itu adalah experience different culture, maka saya pun penginnya Baby Bindi juga mulai belajar bersentuhan dengan kultur lain sejak dini. Setelah lolos liburan ke Bali, Bindi akhirnya saya buatkan passport. Siap-siap buat overseas ya, nduk.

  1. September 2010

Terbit. Sebenarnya naskah dan lay out buku sudah kelar sejak Agustus. Tapi dikarenakan berdekatan dengan Idul Fitri, buku Eurotrip: Safe & Fun baru bisa nangkring di tokot-toko buku sekitar 20 September. Buku ini adalah buku traveling ke dua yang sudah diterbitkan oleh penerbit yang sama.

  1. Oktober 2010

Birthday Trip. Oktober adalah bulan yang selalu memberi keberuntungan buat saya. Oktober tahun ini juga luar biasa karena Baby Bindi genap satu tahun. Berhubung kami sama-sama lahir di bulan Oktober, boleh dong merayakan bersama dengan traveling. Sekali lagi saya memilih Bali, lebih tepatnya Ubud. Kami stay di Ubud selama 4 hari, nggak mampir Kuta sama sekali seperti umumnya wisatawan domestic yang berlibur ke Bali.

  1. November 2010

Nominator. Sungguh, saya tak menyangka bahwa “TALES from the ROAD”, travelogue pertama saya (terbit 2009), terpilih sebagai finalis 5 besar dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Buku yang nggak best seller itu, ternyata mendapat apresiasi yang membuat saya terharu sekaligus bangga dan kian besemangat untuk menulis etnografi perjalanan yang nggak sekedar how to get there.

  1. Desember 2010

Familty Trip to Makassar. Meski sudah berpuluh kali ke Makassar untuk urusan gaweyan, tapi inilah pertama kalinya saya ke Makassar bersama suwami dan Baby Bindi. Bahagianya bisa mengenalkan Bindi pada kultur yang berbeda lagi.



Note:

Januari 2011 masih saya isi dengan mimpi di Januari 2010. Semoga setelah setahun mimpi itu akan berwujud. Live the Dreams!


image source: naturesgrafitti

Comments