daypack

me & timberland
Salah satu piranti jalan andalan saya adalah daypack alias ransel kecil  18 - 24 liter. Biasanya kalau lagi backpacking lebih dari seminggu, saya menggunakan dua ransel yaitu ransel backpacker yang ukurannya di atas 45 liter yang berisi segala perlengkapan saya dan ransel daypack yang isinya lebih ringan seperti lonely planet, agenda, botol minum, dan travel wallet untuk menyimpan dokumen perjalanan. Tapi kalau perginya cuma sebentar, 2-4 hari, biasanya saya hanya menggunakan daypack 24 - 30 liter saja.

Dalam keseharian, saya juga biasa menggendong daypack ini, termasuk buat ngantor. Bahkan ransel ini juga sering saya jadikan diaperbag, tempat nyimpen diaper dan perlengkapan bayi kalo lagi jalan sama sama Baby Bindi.



Karena kemana-mana menggendong daypack, saya jadi punya beberapa model daypack biar nggak ngebosenin dilihat. Model daypack yang saya koleksi juga nggak aneh-aneh kok. Bahkan cenderung modelnya gitu-gitu aja,  model klasik dengan satu kantong di bagian depan seperti koleksi seri Padded Pak'r dari Easpak atau SuperBreak dari Jansport. Kalau yang rada fashion ada daypack dari Elle, Camel Active, Timberland dan brand produk surfing seperti Quicksilver dan Roxy. Saya juga punya daypack model avonturir, seperti Karrimor dan seri Gogo dari Deuter. Oh ya, saya juga suka seri bike dari Deuter yang mungil, hanya 18 liter. 

Lumayan juga ya koleksi daypack saya. Ibaratnya perempuan yang hobi bela-beli tas kerja dan tas fashion yang macthing dengan baju yang dikenakannya, nah saya hobi beli daypack. Hihi...!

Dalam memilih daypack saya menetapkan beberapa syarat. Syarat utama, daypack itu harus terbuat dari bahan yang ringan. Dalam keadaan kosong, berat tas tidak boleh melebihi 1 kg. Kalau tasnya udah berat, ntar diisi barang jadi makin berat dong. Padahal yang namanya backpack, bisa dipastikan isinya berjejal-jejal muatan.

Syarat kedua, biar menggendongnya nyaman, shoulder straps-nya harus empuk dan ukurannya tidak terlalu lebar. Mungkin seukuran 3 jari-lah. Kalau terlalu lebar, nggak enak karena mengganjal di ketiak. Bagi saya, kualitas shoulder straps ini menentukan kualitas tas secara keseluruhan. Menjahit shoulder straps ini bukan pekerjaan yang gampang loh. Setelah sisi kanan dan kirinya dijahit, bahan tas kemudian dibalik dan diisi dengan pad atau spon yang bikin empuk. Saya kurang begitu suka dengan shoulder-straps yang menonjolkan jahitan di sisi kanan kiri, yang secara teknik jahit memang lebih mudah, tapi nggak nyaman ketika dikenakan.

Syarat ketiga, lapisan bagian punggung harus empuk. Sokur-sokur jika dilapisi bantalan yang mengikuti bentuk tulang punggung sehingga memberi sirkulasi udara yang baik. Ransel dengan lapisan punggung yang empuk pasti akan lebih nyaman jika berlama-lama nempel di punggung.

Syarat terakhir tapi seringkali jadi perhatian utama saya adalah risliting. Meski tampaknya sederhana dan kadang-kadang tersembunyi, risliting yang bagus tidak akan merepotkan kita ketika membuka tas. Risliting bikinan YKK dijamin bagus dan nggak seret. Di samping itu saya juga lebih suka dengan tas yang menggunakan dobel kepala rislitingnya sehingga bisa dikaitkan dan dikunci dengan gembok kecil. Siapa tahu karena isinya berat dan tas punggung itu harus masuk bagasi pesawat, kan lebih aman kalau digembok.

Syarat tambahan, harga diskon. Kalau lagi nggak ada diskon, biasanya saya berjuang menahan hasrat membeli. Tunggu beberapa saat, kalo memang ransel itu berjodoh sama saya pasti suatu hari saya akan ketemu diskonnya. Hehe...!

Comments