Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Thursday, July 31, 2014

Tips Berkomunikasi Hemat selagi di Eropa

simcard roaming

Biasanya, jika traveling ke luar negeri selama beberapa hari kita cenderung memilih menggunakan sim card lokal agar komunikasi lebih hemat. Namun, traveling ke Eropa sedikit berbeda. Selama di Eropa kita akan berpindah dari satu negara ke negara lain. Setiap negara juga memberlakukan tarif international roaming. Artinya, sim card yang kita beli di negara pertama yang disinggahi, saat dibawa pindah ke negara lain juga akan kena biaya internasional roaming.

Thursday, July 3, 2014

[EUROTRIP] Ransel atau Koper?

]nggendong ransel naik turun metro
Eropa memberikan kenyamanan bagi traveler yang suka menggendong ransel maupun menggeret koper. Ransel akan membuat Anda lebih lincah bergerak, naik turun tangga tidak akan terlalu berat. Koper juga memberikan kenyamanan saat harus berjalan beberapa ratus meter dari stasiun ke hotel karena mudah digeret. Kawasan pedestrian di Eropa sangat nyaman untuk berjalan kaki sambil membawa luggage.

Wednesday, July 2, 2014

[EUROTRIP] Kuota Bagasi

Image

Demi kenyamanan saat backpackeran ke Eropa, saya memilih membawa tas (ransel atau koper) yang ringkas. Sebisa mungkin saya upayakan juga mengacu pada ketentuan yang diberlakukan pada layanan transportasi publik di Eropa, yaitu hanya membawa:



  • Satu luggage (tas besar)

  • Satu handcarry (tas kabin)

[EUROTRIP] Bakalan sering Naik Turun Tangga

Image

Backpackeran ke Eropa, di mana kita akan menggunakan public transport dan menginap di hotel budget, akan membuat kita sering ketemu tangga. Tangga di stasiun metro/underground dan tangga di hotel menuju kamar kita di lantai dua atau bahkan lantai lima. Puluhan anak tangga bakal menjadi santapan sehari-hari kaki kita selama liburan di Eropa.

Mengamankan Paspor

moneybelt

Paspor adalah dokumen kita yang paling berharga saat traveling ke luar negeri. Kehilangan paspor di luar negeri adalah pengalaman buruk yang menghantui sepanjang masa. Saya sih belum pernah kehilangan paspor (dan jangan), tapi saya sudah pernah merasakan bagaimana repotnya mengurus paspor peserta Eurotrip yang hilang karena kecopetan.

[EUROTRIP] Awas Copet

pickpocket

“Memangnya di Eropa ada copet?” Inilah pertanyaan balik yang sering terlontar jika saya menasehati agar hati-hati terhadap barang bawaan selama traveling di Eropa. Kita selalu membayangkan Eropa adalah negeri dengan kota-kota yang teratur, tertib, indah, bersih, dan nggak ada copet berkeliaran seperti di Terminal Blok M Jakarta.

Sunday, August 14, 2011

daypack

me & timberland
Salah satu piranti jalan andalan saya adalah daypack alias ransel kecil  18 - 24 liter. Biasanya kalau lagi backpacking lebih dari seminggu, saya menggunakan dua ransel yaitu ransel backpacker yang ukurannya di atas 45 liter yang berisi segala perlengkapan saya dan ransel daypack yang isinya lebih ringan seperti lonely planet, agenda, botol minum, dan travel wallet untuk menyimpan dokumen perjalanan. Tapi kalau perginya cuma sebentar, 2-4 hari, biasanya saya hanya menggunakan daypack 24 - 30 liter saja.

Dalam keseharian, saya juga biasa menggendong daypack ini, termasuk buat ngantor. Bahkan ransel ini juga sering saya jadikan diaperbag, tempat nyimpen diaper dan perlengkapan bayi kalo lagi jalan sama sama Baby Bindi.

Monday, January 31, 2011

plesiran bareng baby itu irit kok!

Baby Food dari Garuda Indonesia

Ngajakin plesiran baby/infant (under 2 years) itu sebenarnya irit loh. Yuk, kita itung-itungan. Biaya transport dan akomodasi yang menyedot dana terbesar selagi traveling, nggak berlaku buat baby. 

Akomodasi jelas free karena hotel biasanya memberlakukan tarif sewa kamar untuk berdua dan free for kids under 10 years old. Biaya transport jika menggunakan moda transportasi darat juga free. Naik kereta dan bus nggak bakalan di-charge. Sementara kalao naik pesawat, jauh deket tarif infant berkisar antara 120-150 ribu (tergantung airline). Tarif ini berlaku flat alias pukul rata, enggak kayak tarif emak dan bapaknya yang mengikuti jenis tiketnya.

Meskipun infant cuma bayar 120 ribu, tapi di pesawat dapat jatah konsumsi yang nggak kalah sama orang dewasa (tentu saja yang ini hanya berlaku buat airline yang memberi fasilitas konsumsi untuk penumpang). Misalnya, saat Baby Bindi naik Merpati Airlines dari Jogja - Makassar return. Baby Bindi juga dapat satu dos isi makanan komplit (bukan snack) seperti jatah emak dan bapaknya. Memang sih itu nggak bakal kemakan sama Bindi karena nasinya kurang lunak, tapi kan lumayan buat nambahin jatah emak dan bapaknya. Hihi...!

Yang asyik kalo naik Garuda (itu sudah pasti). Ternyata Garuda punya menu khusus buat infant, yaitu 2 botol makanan bayi merk Heinz. Sedaapp...! Harga satu botol Heinz baby food di supermarket antara 22 - 32 ribu. Untuk dua botol itu anggep aja 50 ribu. Padahal Baby Bindi cuma bayar tiket Garuda ke Bali 130 ribu sekali jalan. Kalau dikurangi 50 ribu buat jatah konsumsinya, berarti cuma sekitar 80 ribu yang masuk ke airline.


Itu pun nggak semua. Karena masih ada gift lainnya dari Garuda untuk infant flyer ini, yaitu satu paket berisi diapers, bedak jonhson ukuran kecil, satu saset tissue basah, satu lembar perlak plastik ukuran mini, dan juga mainan bebek-bebekan dari karet yang bisa bunyi cit-cit-cit. Saya kurang tahu persis berapa biaya produksi untuk satu paket gift itu. Mungkin sekitar 25-50 ribu kali ya. 

Nah, kalo begitu semakin kecil lagi jatah rupiah yang masuk ke airline. Bisa dibilang, nol rupiah alias pihak airline nggak terlalu ngarep pemasukan dari infant flyer ini. 
Setelah transport dan akomodasi, aksi hemat traveling with baby ini masih berlaku di daerah tujuan. Buat masuk-masuk ke tempat wisata, biasanya bayi nggak perlu bayar tiket.Kalo ada yang memberlakukan tiket buat bayi, mari kita komplain seperti pengalaman saya saat ngajak Bindi ke Trans Studio Makassar. 

Oh ya, Based on my experience, traveling with Baby Bindi itu bikin saya nggak tergoda bela-beli yang aneh-aneh. Di Ubud misalnya, biasanya saya suka bela-beli craft aneh-aneh buat pajangan rumah, eh waktu sama Bindi, saya nggak beli apapun. 

Alasannya sederhana, pertama nggak ada waktu karena buat ngurusin Bindi sejak bangun tidur sampe kemudian saatnya jalan-jalan udah menghabiskan energi. Kedua, nggak nyaman banget ngajak Baby Bindi milih-milih craft, entar malah tangannya beraksi mberantakin dagangan orang kan bikin celaka. Ketiga, terlalu menikmati kebersamaan dengan Bindi sampe nggak kepikiran mikiran napsu pribadi. Hihii...!

Nah, sekarang ketahuan kan, emang irit. Jadi, nggak ada alasan buat nggak ngajak si kecil jalan-jalan kan? Mumpung dia masih infant under 2 years, yuks ajakin traveling. Kalo udah di atas 2 tahun udah bayar full tiket pesawatnya loh. Hehehe...!!!!

Friday, January 14, 2011

Baby Bindi on Magazine (Maj. Sekar, 12 Jan 2011)


Kebanggaan seorang Ibu yang berprofesi sebagai penulis adalah, ketika anaknya nongol di media. Hehe...! Karena Baby Bindi belum bisa baca dan nulis, sementara enggak apa deh diwakili emaknya dulu.

Ceritanya, bulan November 2010 lalu saya diwawancarai Mbak Tassia dari Maj. Sekar (Gramedia Majalah). Wawancara by phone Jakarta - Jogja. Lumayan lama juga wawancaranya, soalnya sempet diselingi break karena batuk-batuk dulu. Hiks..!

Tema wawancaranya seputar "traveling with baby". Buat saya, yang doyan traveling, ngajakin Baby Bindi jalan-jalan itu merupakan bagian dari proses belajar mengenal alam dan budaya lain. Sebisa mungkin saya berusaha mengajak Bindi traveling yang saya dedikasikan untuk dirinya, bukan untuk kepentingan orang tuanya.

Karena itu, saya lebih suka mengajak Bindi traveling ke tempat-tempat yang saya sudah sering mengunjunginya. Misalnya ke Ubud, Bali. Saya kan udah lumayan fasih daerah itu, jadi saya nggak tergoda pengin melihat macem-macem. Dengan begitu, saya bisa optimal memperkenalkan Bindi pada alam dan budaya lain: jalan-jalan ke sawah, ngliat enabuh gamelan bali, main sama bule-bule kecil, dll.

Ada kalanya, saya terpaksa mengajak Baby Bindi bepergian jauh untuk urusan keluarga. Nah, ini yang rada-rada bikin repot karena nggak bisa sepenuhnya rekreasi. Misalnya saat kami ke Makassar bulan Desember 2010 lalu. Kami ke sana dalam rangka kawinan sodara.

Sebenarnya, kami sudah disiapin kamar di hotel yang nggak jauh dari famili yang punya gawe itu. Tapi demi kenyamanan Baby Bindi, saya memilih bayar hotel sendiri di dekat Pantai Losari, yang jadi agak jauh dari rumah famili. Alasannya sederhana aja sih, kalau saya nginep di dekat rumah famili, pasti mau nggak mau harus menghadiri prosesi pernikahan adat Bugis yang sudah berlangsung selama 3 hari berturut-turut sebelum malam resepsi. Duh, enggak kebayang, capeknya bawa Bindi ke sana. Walaupun, sejujurnya, saya sangat amat ingin mendokumentasikan prosesi perkawinan Bugis secara lengkap. Mana famili saya itu keturuan bangsawan bugis pula kan. Tapi kalau saya maksain keinginan saya, kasian Baby Bindi-nya.

Jadilah saya pilih hotel menjauh, supaya ada waktu lebih longgar untuk berekreasi. Bindi bisa berperahu ke Pulau, bisa main ke Trans Studio, bisa jalan-jalan menyusur pantai, juga masih bisa menghadiri salah satu prosesi adat Mapacci pada malam sebelum ijab.

Nah...kembali ke majalah Sekar edisi 12 Januari 2011..edisi Baby Bindi...semoga akan segera disusul dengan buku yang saya susun "Traveling with Baby". Doain yaa....!

Friday, October 8, 2010

baby food on the go


Penginnya sih bisa bikinin fresh food sepanjang hari sepanjang masa buat Baby bindi. Tapi kalau lagi traveling dan nginep di hotel, mana sempat? Kalo disempet-sempetin emang sempet sih, tapi pasti ribet banget karena harus bawa alat masak dari rumah. Enggak mau lah. Mending travelingnya ditunda aja sampe si baby sudah tumbuh menjadi kid. Hehe...!

Menanamkan semangat petualang pada si kecil memang nggak semata-mata belajar ngajakin si kecil sering ke luar kota kok. Yang lebih penting justru mengubah mindset kita sebagai orang tuanya, bahwa traveling atau backpacking itu mau nggak mau memaksa kita berkompromi dengan berbagai keterbatasan. Kompromi ini berlaku pukul rata, biar bocah masih berumur bulanan juga musti bisa kompromi dengan keterbatasan. Nah, kalau kita belum siap mental, sebaiknya menunda agenda traveling luar kota dulu lah. Daripada nanti jadi stress diserbu berbagai pertanyaan dari kerabat dan teman-teman, "gila, jadi tiap hari anakmu cuma dikasih makanan instan dan air minum botolan?"

Buat saya, pertanyaan itu mirip dengan yang biasa dilontarkan kalau saya traveling sendirian, "kamu kan perempuan, kok traveling sendirian ke luar negri?"

Jadi, saya sudah lumayan kebal dengan komentar-komentar sejenis itu. Komentar yang nggak perlu ditanggapi, tetapi butuh dimaklumi. Maklum, masyarakat agraris memang belum menempatkan traveling sebagai kebutuhan. Berbeda dengan masyarakat industri di mana waktu luang dan rekreasi itu sesuatu yang harus diperjuangkan.

Makanan instan itu tidak buruk kok. Buktinya Baby Bindi tidak terganggu pencernaannya saat mengkonsumsi makanan instant selagi traveling. Makanan instan yang saya pilih adalah yang siap santap, yaitu makanan dalam botol kecil.

Ada beberapa merk makanan siap santap yang sehat dan aman yang biasa saya beli, antara lain Heinz, Babynat, dan Gerber. Seringnya sih Bindi makan Heinz. Rasanya nikmat dan manis, emaknya juga suka. Biasanya saya pilih Heinz yang buah-buahan. Sedangkan yang sayuran organik, saya pilih produk Babynat. Tekturnya sedikit kasar, tidak berasa manis dan asin. Nggak enak banget buat lidah orang dewasa, tapi malah cocok buat Baby Bindi. Sedangkan untuk rasa ayam dan daging, biasanya saya menggunakan produk Gerber.

Oh iya, selain makanan solid utama, saya juga sedia snack buat Bindi. Snack favoritnya adalah Gerber Graduates Puff dan Baby Choice.

Produk-produk makanan import itu tersedia di supermarket di kota besar. Jadi, waktu liburan ke Bali, saya nggak erlu bawa stok banyak-banyak dari Jogja. Cukup bawa 2 botol untuk jaga-jaga di perjalanan (eh, malahan di pesawat Baby bindi dapet paket baby food dari Garuda berupa 2 botol Heinz. Horeee...!!!) Begitu tiba di Bali, agenda pertama adalah belanja baby food dulu di supermarket.

Baby food botolan ini super praktis, langsung disuapin dari botolnya aja. Jadi, hemat energi, nggak perlu nyuci mangkuk segala. Hehe....!

yuks, ke candi....


Waktu saya masih balita (sekitar tahun 76-77), hampir setiap hari Minggu Bapak mengajak saya ke Candi Prambanan. Dari rumah kami di tengah kota Jogja, kami bermotor Honda Bebek seri 70. Sebelum sampai Prambanan, biasanya kami singgah di galeri Sapto Hudoyo. Saya masih ingat, tangan-tangan mungil saya suka banget megang-megang patung bergaya asmat yang tinggi menjulang di halaman galeri. Kadang-kadang Bapak mengangkat tubuh saya agar bisa meraih bagian patung yang lebih atas.

Setelah dewasa, saya sering mengaitkan pengalaman masa kanak-kanak berwisata di galeri seni dan situs arkeologis dengan ketertarikan saya pada bidang sejarah, antropologi, seni, dan arsitektur. Meskipun tidak sepenuhnya benar, tapi sedikit banyak saya yakin ada kontribusinya. Apalagi, waktu bocah porsi jalan-jalan saya sebagian besar memang ke tempat-tempat seperti itu. Ke kraton dan sekitarnya sudah pasti tiap hari karena dekat tempat tinggal kami. Lalu ke candi-candi di sekitar Jogja, ke semua museum yang ada di Jogja, juga main ke galeri seni yang kebetulan juga banyak di Jogja. Selain itu juga masih ditambah dengan kegiatan nonton berbagai seni pertunjukan, dari mulai wayang kulit hingga wayang wong.


Sekarang, kebiasaan itu saya tularkan pada Baby Bindi. Kebetulan Edo juga juga punya ketertarikan yang sama dan setuju bahwa wisata heritage juga layak dikenalkan pada anak-anak sedini mungkin. Jadilah setiap hari, pada pagi hari, selagi saya sibuk di dapur menyiapkan menu sarapan, Edo mengajak Bindi jalan-jalan ke Pulo Cemeti (Tamansari) atau Kemagangan (Kraton bagian belakang). Kadang-kadang saya juga ikutan sambil membawa semangkuk bubur buat sarapan Bindi. Seru juga loh, nyuapin Bindi di kawasan heritage.

Saat weekend, Sabtu atau Minggu, barulah kami wisata heritage yang agak jauh. Ke Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, atau situs-situs lain.


Pilih W
aktu: Pagi atau Sore
Sudah pasti kalo wisata candi bersama si kecil kudu milih waktu yang tepat, saat matahari tidak sedang tinggi-tingginya. Mungkin banyak yang nggak tahu bahwa loket karcis wisata candi biasanya buka pada pagi hari pukul 06.00 dan tutup pada pukul 17.00. Jadi kita bisa datang pagi-pagi saat matahari masih memancarkan sinar yang kaya vitamin D, atau saat senja menjelang. Loket ditutup pukul 17.00, tapi kita masih bisa jalan-jalan di dalam kompleks candi hingga pukul 18.00. Cukup teduh kan?

Baby Carrier
Biar si kecil nyaman selama diajak muter-muter kompleks candi, biasanya saya menggunakan baby carrier berupa ransel gendongan bayi. Ransel ini cukup nyaman buat Bindi, malah kalau kecapean dia bisa loh tertidur. Buat Emak dan Bapaknya yang nggendong juga nyaman, terasa lebih enteng, kayak nggendong ransel kalo lagi backpacking. Selain itu, ransel ini juga bisa berfungsi sebagai kursi. Kalo capek, saat kami beristirahat, ransel diturunkan dan diletakkan di atas permukaan datar. Si Bindi nggak perlu dikeluarkan dari ransel, karena dia udah serasa duduk aja di sana.

Kalau nggak punya ransel gendongan, saya sarankan pake gendongan bayi yang memungkinkan si kecil digendong menghadap ke depan. Biar si kecil bisa ikutan liat-liat kemegahan warisan nenek moyang kan?

Stroller? Hhmm..kayaknya malah merepotkan, mengingat bakal banyak undak-undakan dan jalan nggak rata.

Bekal Makanan
Paling asyik saat istirahat sambil buka bekal makanan. Kami biasa mengaso di tempat terbuka, di bawah pohon rindang. Sangat disarankan bawa tikar kecil atau alas duduk, biar si kecil bisa lebih leluasa beristirahat. Bisa guling-guling atau merangkak. Hehe...! Kalaupun kelupaan bawa alas duduk (seperti kebiasaan kami yang pelupa ini), bisa juga duduk di bongkahan batu candi yang permukaannya rata. Biasanya di tempat tertentu ada bertumpuk bongkahan batu candi sisa pemugaran yang belum ditata lagi. Asyik juga kok mengaso di sana.

Topi & Payung
Namanya juga jalan-jlaan di ruang terbuka, outdoor, ya jangan pake baju kecentilan dulu ah. Sebaliknya pake baju yang casual, mudah menyerap keringat. Biar nggak kepasan, jangan ketinggalan topi dan payung ya.

image (urut dari atas):
1 & 2 : kebangetan kalo nggak tahu..itu Candi Prambanan
3 : di Pulo Cemeti, Tamansari Water Castle
4 : Berlatar gapura Candi Ratu Boko...keren kan?

Thursday, October 7, 2010

stroller on the go


above: bindi's first stroller
below: the new one is smaller


Saya rasa sebagian besar orang tua berpendapat sama, bahwa stroller adalah travel gear pertama yang pengin dimiliki begitu punya baby. Saya pun begitu. Bahkan saya sudah sangat kebelet beli stroller sejak Baby Bindi usianya belum genap 2 bulan. Tapi kalo membeli stroller khusus newborn atau yang biasa disebut kereta bayi, palingan nggak bertahan lama kepake. Begitu Bindi lehernya udah kuat menyangga kepala dan udah mulai suka melihat sekeliling, kereta bayi udah gak cocok lagi.

Karena pengin ngirit, kami lantas membeli stroller yang bisa 'ngunduri gedhe' yaitu stroller yang difungsikan untuk baby yang sudah bisa duduk, tapi sandarannya bisa direbahkan. So far, stroller itu nyaman-nyaman aja buat Bindi. Cuma, setelah Bindi mulai diajak traveling ke luar kota, kok rasanya stroller itu kegedean di bagasi ya. Nggak slim dan kesannya nggak mobile gitu. Apalagi kalo ngeliat bule-bule yang dorong stroller imut buat anak batita (toddler) mereka. Eh, Bindi kan udah nggak newborn lagi, masih infant sih, tapi bentar lagi sudah toddler.

Untungnya, nggak cuma saya yang terganggu oleh hal ini. Edo juga. Itu berarti, jika suatu saat nemu stroller yang imut mungil dan cocok buat toddler, pasti nggak bakal berdebat untuk membelinya.

Kami pun jadi mulai rajin lirik-lirik stroller. Kalo ketemu ibu-ibu di mall yang dorong stroller, dari kejauhan udah kami perhatiin. Waktu di Bali, mata kami jadi nanar kalo liat bule dorong stroller mungil dengan penumpang toddler umur 2 tahunan. Sebenarnya si toddler udah bisa lari-lari, tapi biar jalannya bisa ngimbangin langkah kaki ortunya yang panjang-panjang, mendingan didudukin di stroller mungil aja. Juga ketika saya ke Eropa beberapa waktu lalu, ketemu banyak emak-emak bule yang mendorong stroller di mana-mana, di stasiun, di park, atau lagi nyebrang jalan. Gemes banget melihatnya. Mana strollernya keren-keren pula!

Setelah beberapa bulan menjadi pengamat stroller, akhirnya tanpa sengaja kami nemu stroller imut dan lucu yang harganya murah meriah (hhhmm...hanya 1/4 dari harga stroller pertama yang kami beli). Warnanya ijo tosca dengan rangka besi berwarna putih, bukan warna silver seperti kebanyakan stroller.

Pandangan pertama pada stroller yang kami temukan di Carrefour itu langsung berujung pada transaksi. Apalagi ternyata stroller itu nggak ada stock lainnya, tinggal satu-satunya. Artinya, nggak bakal ada yang nyamain atau kembarannya di Jogja. Setidaknya, itulah harapan kami. Seneng dong kalo punya barang yang nggak ada kembarannya. Berasa ekslusif gitu. Hehe...!

Tapi yang jelas, karena bentuknya slim dan mungil, stroller ini jadi pas banget didudukin bindi. Bandannya jadi nggak tenggelam karena kegedean stroller. Kesannya jadi mobile dan dinamis (halah..!) Selain itu, juga lebih ringkas, sehingga kalo traveling bakal lebih enteng.

"Cocok nih, buat nyusur jalan di Singapore," kata saya sambil melirik Edo. Yang dilirik cukup sadar diri, "kan kamu bilang nunggu kalo Bindi udah bisa jalan...!"

Iya ya..sekarang baru 'rambatan' alias belajar jalan sambil pegangan dinding. Moga-moga pas genap setahun akhir bulan Oktober ini Bindi udah bisa jalan yaaa... Supaya emak dan bapaknya bisa ngajakin terbang lebih jauh lagi...! Amiiin....!!!

Wednesday, February 25, 2009

banyak jalan untuk jalan-jalan



Kenapa sih punya hobi traveling sering dianggap hobinya orang kaya? Atau cuma buang-buang uang alias pemborosan? Saya sering mendapat tuduhan seperti itu. Tentu saja buru-buru saya tepis, “Lho, aku tuh travelling karena cari uang, je. Bukan buang uang!”

Di negera berkembang seperti Indonesia, di mana waktu adalah kerja untuk mencari uang, dan kerja itu sering diasosiasikan dengan aktifitas fisik yang memeras keringat, kegiatan dolan-dolan dianggap sebagai kegiatan rekreatif yang nggak produktif. Hanya sebagian dari masyarakat kelas menengah ke atas yang bisa menikmati waktu luang dengan kegiatan rekreatif. Masyarakat kebanyakan yang sudah bekerja sehari lebih dari 12 jam tanpa henti tapi hasilnya nggak cukup untuk makan, seakan nggak memiliki ruang untuk menikmati waktu luang apalagi plesiran.

Kalau dirunut dari sejarah tentang waktu luang yang pernah saya baca, perkembangan industri pariwisata dan tradisi travelling ini terkait dengan berkembangnya revolusi industri pada akhir abad ke-18. Revolusi industri yang ditandai dengan beralihnya penggunaan tenaga hewan dan manusia menjadi tenaga mesin memberi peluang besar pada terciptanya pola pembagian kerja manusia berdasarkan skill. Orang nggak lagi bekerja karena kekuatan fisiknya, tetapi karena keahlian yang dimilikinya.

Mekanisme kerjanya diatur dengan jam kerja, sehingga dikenallah istilah work and play, yaitu saat dimana orang harus bekerja kantoran dan saat di mana mereka bisa off alias beristirahat. Orang Barat yang terjerat dengan jam kerja memang butuh ruang untuk melepaskan kepenatannya dan memulihkan energi. Saat-saat menjelang off ini seringkali dirayakan dengan keriangan, seperti yang tersirat dalam slogan “Thank God it’s Friday” (TGF). Kita sering menyebutnya dengan Jumat Gaul. Jumat malam menjadi hari dugem sedunia buat orang kantoran.

Aturan kerja kantoran juga mewajibkan pemberian cuti kerja pada karyawan. Karena jam kerja orang Barat yang gila-gilaan, nggak ada libur bersama di Harpitnas (hari kejepit nasional) mereka bisa mendapat cuti hingga 30 hari per tahun. Cuti sebulan penuh itu biasanya digunakan untuk menjelajahi negara-negara lain. Dan lahirlah tradisi traveling dan backpacking.

Masyarakat agraris di Indonesia tentu saja nggak peduli dengan TGF apalagi backpacking. Everyday is work day. Pagi-pagi berangkat ke sawah, istirahat sebentar di gubuk mereka, lalu kembali ke rumah menjelang matahari terbenam. Begitu setiap hari. Kalaupun ada saatnya menikmati plesiran, adalah ziarah (pilgrimage) ke makam-makam sesepuh yang dianggap memiliki wibawa dan bisa memberikan berkah. Seperti ke makan para wali, makan raja-raja Mataram, makam tokoh-tokoh yang lekat dengan mitos masa lalu. Atau menghadiri hajatan keluarga jauh di luar kota.

Meskipun saat ini wilayah perkotaan di Indonesia sudah semakin luas dan banyak orang yang kerja di kantoran, tapi etos kerjanya masih belum optimal. Di sela-sela jam kerja orang masih bisa leyeh-leyeh santai, para pegawai negri sudah bisa mampir ke mall jam 2 siang, karyawan swasta keliatannya serius di depan komputer tapi ternyata lagi seru YM-an atau Facebook-an. Sudah begitu banyak libur bersama yang menurut saya malah kontraproduktif, membuat kita dituduh sebagai bangsa yang pemalas.

Dengan kata lain, bagi masyarakat Indonesia waktu luang bukan sesuatu yang mahal dan membutuhkan perjuangan untuk memperolehnya. Jadi kalau banyak waktu luang yang bisa dinikmati untuk menghibur diri, kenapa harus travelling jauh-jauh yang menguras tabungan? Itulah sebabnya kenapa orang Indonesia masih menganggap travelling sebagai hobinya orang berduit.

Saya sendiri juga termasuk orang yang masih eman-eman mengalokasikan uang semata-mata untuk travelling. Karena itu kalau pengin liburan, saya memilih waktu di saat orang lain nggak berlibur, yaitu bukan pada libur lebaran, libur seokalah, atau libur akhir tahun. Pada hari-hari peak-seasson, saat di mana semua orang berlibur, harga tiket pasti sangat mahal. Hotel pun juga fully-booked. Liburan jadi nggak nyaman karena banyak orang yang mengunjungi obyek wisata tertentu.

Makanya saya pilih cuti kerja supaya bisa berlibur dengan leluasa. Tiket juga murah karena banyak airline yang memberikan diskon supaya kursi penumpang penuh. Hotel juga begitu, ngobral kamar. Dengan pinter-pinter memilih waktu buat travelling, saya bisa memangkas uang jalan-jalan lebih banyak. Tau nggak, saya pernah dapat tiket Jakarta – Kuala Lumpur cuma Rp 180.000 berdua!

Selain travelling di luar waktu peak-season, saya juga sering travelling bukan dalam rangka semata-mata travelling, tapi dalam rangka kerja. Istilah kerennya business trip. Kebetulan pekerjaan saya memungkinkan untuk mengunjungi daerah-daerah lain di kota lain. Tapi pekerjaan itu tidak saya peroleh dengan kebetulan loh. Saya harus melewati pitching dan tender agar bisa mendapatkan proyek itu. Setelah tender dan kontrak ditandatangani, saya juga harus berjuang mempertahankan agar proyek itu bisa saya dapat di tahun berikutnya dengan memperlihatkan hasil kerja yang optimal. Nggak jarang kontrak tidak diperpanjang bukan karena kerjaan saya yang nggak bagus, tapi karena pengurangan budget perusahaan klien saya. Yang lebih celaka karena ganti managemen dan sang manager sudah punya vendor kesayangan yang menyogoknya dengan segala entertain!

Hobi travelling membuat saya berusaha mencari proyek-proyek lain yang memungkinkan saya bisa beredar, nggak kerja di kantoran terus. Nggak harus proyek yang jauh-jauh kok, proyek kota-kota di Jawa pun juga seru untuk dinikmati sambil jalan. Buat saya perjalanan dinas ke luar kota –bahkan ke pedalaman- bukan merupakan beban, meskipun kadang-kadang melelahkan secara fisik. Tetapi sebaliknya justru menjadi kegairahan tersendiri, yang pikiran saya jadi lebih segar. Kalau kita bisa kerja dengan penuh gairah, hasilnya pun pasti memuaskan.

Nah, kalau saya nggak banyak pergi-pergi berarti saya malah lagi nggak punya duit karena nggak ada proyek yang dikerjain. Jadi, travelling itu nggak selalu buang uang kan? Saya malah dapat duit sambil jalan-jalan. Pulang dari jalan-jalan pun saya bisa nulis untuk jadi duit lagi. Nah, ayo jalan!


TIP nyari kerjaan yang banyak jalan-jalannya
• Jadi wartawan, itu pasti.
• Jadi Humas atau Public Relation Officer yang akan mewakili perusahaan untuk berinteraksi dengan media, public, maupun relasi lain. Kalau relasinya di luar kota atau luar negeri kan seru banget tuh.
• Kerja di NGO atau jadi peneliti. Cocok buat yang suka menjelajah ke pedalaman.
• Jadi pengusaha, seperti saya. Dengan menjadi entrepreneur kita bisa menentukan sendiri proyek-proyek atau unit bisnis yang akan kita terjuni. Karena saya suka travelling, saya lebih suka mencari klien di luar kota Jogja, biar punya alasan jalan. Tapi saya nggak berminat buka bisnis travel-agent, karena saya nggak suka wisata rombongan. Saya lebih suka independent traveller. Jadi membuka bisnis travel agent itu bertentangan dengan semangat backpacking dalam diri saya. Hehe…!