- Satu luggage (tas besar)
- Satu handcarry (tas kabin)
Wednesday, July 2, 2014
[EUROTRIP] Kuota Bagasi
London Underground

London adalah kota pertama di dunia yang membangun jalur kereta bawah tanah (underground) sejak 1863. Artinya sudah 150 tahun para Londoner mulai ngerong alias menjelajah kota lewat jalur bawah. Jika kita menuruni anak-anak tangga stasiun Underground, terasa betul betapa tuanya usia bangunan ini. Dinding-dindingnya berlapis keramik tua serta nyaris tak ada eskalator yang tersedia.
Paris Metro

Metro alias underground train atau subway merupakan moda transportasi publik yang paling efektif untuk menjelajah Paris. Ada 14 lines (jalur) Metro dan 2 lines tambahan yaitu lines 1-14 dan lines 3b dan 7b. Sementara itu 300 stasiun Metro (M) tersebar di seantero Paris. Bisa dibilang, tiap 500 m berjalan, akan bertemu tiang besi bertulikan METRO atau METROPOLITAN. Persis di bawah tiang tersebut terdapat anak-anak tangga menuju ke bawah (underground).
Sunday, September 4, 2011
horse riding
![]() |
| naek kuda @bandungan, ambarawa |
Selain mengakrabi andong-andong yang mangkal di dekat rumah, Bindi juga pernah beberapa kali kami ajak main ke kandang kuda milik keluarga pengusaha Mirota Batik. Kandang kudanya terletak di bagian belakang rumah makan House of Raminten di bilangan Kotabaru. Kudanya banyak, kalo nggak salah lebih dari empat ekor. Sudah begitu gede-gede pula.
Pernah pada hari minggu siang, saat kami lunch di sana, ngepasin saat membersihkan kuda-kuda tersebut. Kuda-kuda itu dikeluarkan dari kandangnya untuk dimandikan, disisir ekornya, juga diganti tapal sepatunya. Bindi kegirangan banget menyaksikan pemandangan langka itu. Apalagi kuda-kudanya cukup lulut alias jinak, nggak marah saat Bindi mengusap kepalanya.
Setelah mengakrabi kuda, akhirnya Bindi punya kesempatan naik kuda saat berlibur ke Bandungan, Ambarawa. Memang sih, kudanya nggak segagah kuda andong dan kuda koleksi keluarga Mirota Batik di Jogja. Kuda di kawasan wisata Bandungan umumnya berukuran kecil. Tingginya kira-kira hanya satu setengah meter, bahkan umumnya kurang dari segitu. Tapi justru karena ukurannya yang kecil itu, kuda ini jadi kids friendly. Anak-anak nggak takut untuk naik. Lagipula, kita tidak perlu memacu kuda sendiri, karena pemiliknya akan menuntun kuda tersebut.
Bindi juga nggak takut ketika kami menaikkannya ke punggung kuda. Meskipun awalnya agak tegang, tapi begitu kudanya jalan, Bindi mulai menikmati.
Tarif sewa kuda di Bandungan pada hari biasa sekitar Rp 15.000-20.000 untuk keliling kawasan wisata selama 15-20 menit. Rutenya boleh pilih, mau keliling taman atau melewati pasar Bandungan yang banyak menjual buah dan hasil bumi itu. "Kalu nyewa perjam bisa lebih murah, sekitar Rp 60.000," kata penjual minuman botol yang mangkal bersisian dengan pangkalan kuda. Tapi karena kawatir Bindi bosen di atas kuda jika kelamaan naik, mendingan yang short time aja. Toh sekedar untuk mengenalkan Bindi naik kuda. Juga supaya Bindi bisa mendengar dengan jelas bunyi sepatu kuda seperti yang sering kami nyanyikan bersama "tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda...!"
Thursday, August 18, 2011
train trip
![]() |
| Kereta eksekutif Madiun Jaya mulai beroperasi Juni 2011 |
Kayaknya sih, kereta api adalah moda transportasi yang sangat dikagumi oleh anak-anak. Barangkali karena gerbongnya yang panjang dan mengeluarkan bunyi yang aneh, berbeda dengan suara kendaraan bermotor, dan juga punya jalan sendiri berupa batangan besi panjaaangg banget. Anak-anak pun jadi terkesima ketika melihat kereta itu melintas di depan mata. Jangan heran jika di lintasan kereta api dekat jembatan layang Jogja, nggak jauh dari stasiun Lempuyangan, banyak orang tua yang mengasuh anak balita di sore hari. Termasuk saya dan Baby Bindi. Hehe...!
Saya memang suka mengajak Bindi nonton kereta api sambil nyuapin. Selain di lintasan kereta Stasiun Lempuyangan, seringnya saya mengajak Bindi ke Stasiun Tugu yang lebih bersih dan luas. Jadi Bindi bisa berlarian dengan riang sambil menanti kereta datang. Begitu kereta tiba, ia akan berteriak kegirangan sambil melambai-lambaikan tangannya yang mungil. "Kreta apii..kreta apiii...tuiiitt..ttuuiiittt..tttuuiiitt...!"
Setelah beberapa kali nonton kereta, juga sering nonton tayangan Chuggington, film animasi dengan karakter kereta seperti Thomas, saya pun mengajak Bindi plesiran naik kereta Prameks dengan rute Jogja - Solo beberapa hari lalu.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Bindi naik kereta api. Saat usianya 13 bulan (November 2010), saya pernah mengajak Bindi ke Jakarta dengan kereta api dalam keadaan terpaksa. Terpaksa karena paska erupsi Merapi bandar udara Adisucipto sempat ditutup lebih dari dua minggu. Semua penerbangan dari dan ke Jogja dialihkan ke bandara Adisumarmo Solo dan bandara Ahmad Yani Semarang. Keterpaksaan lain, kondisi udara di Jogja masih berdebu, jadi mumpung saya lagi ada acara di Jakarta nggak ada salahnya ngajakin Baby Bindi sekalian. Itung-itung ngungsi sebentar, biar bisa menghirup udara yang lebih bersih (gara-gara erupsi Merapi, udara Jakarta jadi lebih segar ketimbang Jogja!)
Dalam perjalanan Jogja - Jakarta dengan kereta Argo Dwipangga selama hampir 9 jam itu Bindi nggak rewel, bahkan bobok pulas di dada saya. Meski begitu ia belum bisa menikmati serunya naik kereta api karena perjalanan dilakukan pada malam hari. Baru beberapa menit kereta bergerak meninggalkan Jogja, Bindi sudah tertidur karena memang saatnya dia tidur malam. Begitu juga saat perjalanan pulang dari Stasiun Gambir ke Satasiun Tugu, belum naik kereta Bindi sudah tidur karena sudah lewat jam sembilan malam (kereta telat sekitar 2 jam saat itu).
Beberapa bulan setelah pengalaman pertama naik kereta malam itu, saya baru sempat mengajak Bindi nyobain naik kereta lagi meskipun cuma jarak dekat, satu jam perjalanan dengan kereta Prameks. Hari Sabtu siang itu kami sungguh beruntung karena bisa mencicip kereta eksekutif yang baru sebulan beroperasi, yaitu kereta eksekutif Madiun Jaya. Kereta ini melayani rute Jogja - Madiun sehari sekali dan rute Jogja - Solo sehari dua kali.
Siang itu kami tiba di Stasiun Tugu sekitar pukul 12.50 menit. Saat menengok jadwal kereta Jogja - Solo, ternyata ada pemberangkatan pukul 13.00. Segera kami berlari menuju loket untuk membeli tiket. Saat akan membayar, ternyata uang dua puluh ribuan yang kami sodorkan kurang untuk tiket 2 orang. "Lho, bukannya tiket Prameks per orang Rp 9.000?". Petugas loket tersenyum dan menginformasikan bahwa kami mengantri untuk kereta eksekutif dengan tarif Rp 20.000 per orang. Kami jadi terbelalak, ketinggalan berita nggak tahu kalau sekarang ada kereta eksekutif.
Saat naik ke gerbong kereta berwarna biru itu, saya makin terbelalak. Keretanya kereeenn..! Gerbongnya dingin pake AC, juga bersih, dan kursinya empuk (malah masih ada yang terbungkus plastik). Sudah begitu, kereta dengan kapasitas 500 orang itu lagi nggak banyak penumpang. Malah di gerbong yang kami tumpangi, nggak lebih dari 8 orang penumpang. Tentu saja Bindi ikutan girang karena gerbong yang lapang bisa membuatnya bebas hilir mudik dan berpindah tempat duduk.
Di sepanjang jalan, Bindi menikmati pemandangan dari jendela kaca yang lebar. Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Tugu dan melintas di atas Kali Code, Bindi berseru kegirangan. "Kaliii Cooddeee...!" Teriaknya sambil terus mengamati ke bawah. Jangan heran, Bindi memang sangat mengenal Kali Code. Nama sungai itu pertama saya kenalkan saat banjir lahar dingin di Kali Code. Sejak itu, setiap melihat jembatan dan sungai, Bindi selalu menyebutnya Kali Code. Juga ketika kami jalan-jalan ke Singapore River, Bindi menyebutnya Kali Code. Hehee...!
Jika bosan melihat pemandangan dari jendela kaca, Bindi turun dari tempat duduknya dan mengajak jalan-jalan menyusur gerbong. Saat akan melewati pintu penghubung gerbong, kakinya agak takut-takut melangkah karena bidang yang dipijaknya bergoyang-goyang.
Setiba di Solo kami hanya mencari makan siang di Solo Grand Mall lalu kembali lagi ke Stasiun Purwosari untuk naik kereta Prameks ke Jogja. Perjalanan pulang ini kami naik kereta Prameks reguler non AC dan berpenumpang padat. Kebetulan kami dapat tempat duduk di dekat pintu. Rupanya, saat kereta berjalan, penumpang yang tidak mendapatkan kursi memilih duduk lesehan di area dekat pintu. Jadilah persis di bawah kaki saya, banyak orang yang menggelesot duduk. Bikin Bindi nggak bisa leluasa bergerak. Meski begitu, Bindi tampak enjoy. Malah bisa bercanda dengan penumpang yang gemes melihat tingkahnya.
![]() |
| Jadwal Kereta Prameks per Juli 2011 |
(jadwal kereta dicomot dari sini)
Tuesday, January 4, 2011
london black cab

“Jangan naik taksi di London kalau nggak mau jadi kere.” Kalimat itu disampaikan hampir sebagian teman yang saya pernah berkunjung atau tinggal di London. Taksi memang merupakan alat trasnportasi termahal di Inggris. Apalagi buat traveler asal Indonesia yang nilai kurs rupiahnya terasa jatuh banget jika disandingkan dengan poundsterling.
Tapi siapa sangka jika ternyata saya terpaksa naik taksi dari London ke Heathrow airport yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dan harus membayar kurang lebih 600 ribu jika dirupiahkan pada tahun 2007. Ini gara-gara Dewi, teman jalan saya, tersesat di Tower Bridge dan kami sempat kucing-kucingan sementara harus segera ke airport untuk kembali ke Indonesia. Karena nggak mau mengambil resiko bakal ditinggal pesawat dan itu berarti kami bakal butuh uang lebih banyak untuk biaya hidup tambahan di London, akhirnya saya memutuskan untuk “meningalkannya”, kembali ke hotel mengambil bagasi kami di loker. Lalu saya SMS ke Dewi menyuruhnya langsung ke airport meski saat itu saya bener-bener nggak tahu posisinya ada di mana.
Dari hostel tempat kami menginap di Camden, saya terpaksa menyewa taksi meskipun sebenarnya stasiun tube nggak seberapa jauh dari hostel. Masalahnya saya kan harus bawa bagasi milik Dewi juga. Nggak sanggup banget jika harus naik turun tanggal stasiun tube dengan 2 kopor dan 2 ransel besar.
Saya minta bantuan resepsionis untuk menelponkan taksi. Setelah terhubung, resepsionis memberikan gagang telpon ke saya untuk bernegosiasi sendiri dengan driver. Tarif taksi yang saya sewa dari hostel itu ternyata bukan tarif resmi, tapi jatuhnya lebih murah karena menggunakan mobil pribadi bukan city cab resmi. Sebenarnya agak deg-degan juga naik taksi gelap (sopir taksinya pun berkulit gelap karena migrant asal Afrika). Buat antisipasi, saya sempat mencatat plat nomornya dan kemudian saya kirimkan via SMS ke suwami yang ada beribu mil di Jogja. Hehe…!
Oh ya, tetapi saya juga pernah mencicip naik black cab saat di Leeds. Kali ini yang bayarin sang host alias tuan rumah, yaitu dari terminal Leeds ke rumah Ima di Sevile Road. Jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 10 menit saja waktu tempuhnya.
Ternyata beda loh, naik black cab yang bentuknya mungil dan mengingatkan saya pada Mr. Bean itu. Beda dengan kalau kita naik taksi-taksi di Indonesia atau di Singapura. Bedanya, di belakang kursi sopir dibatasi oleh kaca bening sehingga di dalam mobil imut ini terdapat dua ruang yang terpisah, yaitu ruangan driver dan ruangan penumpang. Memang sih, belum semua city cab sudah dipasangi partisi kaca seperti ini. Konon, ini demi keamanan si sopir, supaya tidak terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh penumpang taksi. Tapi barangkali juga demi privasi penumpang. Dengan adanya partisi berupa kaca, obrolan penumpang nggak terdengar oleh driver.
Untuk komunikasi antara driver dengan penumpang dilakukan lewat mikrofon yang terpasang di kabin. Saat kami bertiga lagi seru-serunya ngobrol, tiba-tiba terdengar suara driver yang menanyakan arah tujuan kami lewat speaker kecil yang tersedia. Lalu dengan segera Ima menjawab sambil mendekatkan mulutnya kea rah speaker tersebut. Lucu juga ya.
Tarif Resmi Taksi di London (sumber dari Transport for London)
| Distance | Approx | Monday to Friday | Monday to Friday | Every night |
| 1 mile | 5 - 12 mins | £4.60 - £8.40 | £5.00 - £8.60 | £5.20 - £8.60 |
| 2 miles | 8 - 15 mins | £7.20 - £11.20 | £7.20 - £11.20 | £8.00 - £12.40 |
| 4 miles | 15 - 30 mins | £11 - £19 | £13 - £19 | £15 - £23 |
| 6 miles | 20 - 40 mins | £17 - £28 | £19 - £28 | £24 - £34 |
| Between Heathrow | 30 - 60 mins | £43 - £75 | £43 - £75 | £43 - £75 |
*) Tarif minimum £2.20
note: image black cab dicomot dari sini
Friday, December 10, 2010
experience boat cruise

Salah satu tujuan saya mengajak Baby bindi traveling adalah untuk mengenalkan dengan berbagai alat transportasi. Saat jalan-jalan ke Makassar, kami mengajak Baby bindi naik perahu. Nggak jauh-jauh kok, cuma dari dermaga Pantai Losari ke Pulau kahyangan yang ditempuh sekitar 15 menit sekali jalan. Penginnya sih sekalian ke Samalona, biar bisa main air, tapi karena Samalona relatif lebih jauh (30-45 menit), sementara ini adalah pengalamana bindi berperahu, maka saya memilih untuk mengurungkan hasrat. Gak apa yang deket dulu, nanti kalau bindi sudah ketahuan enjoy, bolehlah dicoba lagi berperahu yang lebih jauh.
Ternyata Bindi enjoy banget di atas perahu. Dia takjub melihat hamparan air yang begitu luasnya. Juga kegirangan melihat percikan air laut di sisi kanan kiri perahu. Tangannya menunjuk ke segala arah sambil berkata-kata yang kemudian saya terjemahkan sendiri, "ooww..itu ada kapal besar" atau "ada ikannya nggak ya" atau "lautnya luas ya, bu..."
Sampai di Pulau Kahyangan, Baby Bindi cuma main-main pasir sebentar. Sebenarnya sih dia masih betah berlama-lama, tapi saya yang nggak betah. Pagi itu, saat kami berperahu ke Pulau Kahyangan, sebenarnya tidak dengan persiapan. Iseng-iseng aja nyuapin sarapan pagi Bindi di tepi pantai Losari, lalu pas mau balik ke hotel kami nyari warung coto. Lagi bengong di pinggir jalan yang tak jauh dari dermaga, eh ditawarin tukang perahu. "Gimana, sekalian aja yuk?" tanya saya pada Edo yang langsung disetujui. Jadilah kami yang belum mandi ini berperahu ke pulau Kahyangan.
Oh ya Pulau Kahyangan adalah salah satu pulau kecil yang sering dijadikan tempat untuk menggelar berbagai event. Di pulau kecil ini dibangun sejumlah cottage dan bungalow yang pintunya langsung menghadap ke laut. Juga terdaapt play ground dan panggung hiburan. Katanya, pulau ini jadi tempat yang asyik untuk menikmati lampu-lampu kota Makassar di malah hari.
Setelah berjalan-jalan mengelilingi pulau yang pagi itu tampak sepi (apakah penghuninya masih pada tidur di cottage ya?), akhirnya kami kembali ke perahu. Di atas perahu yang membawa kami kembali, Baby Bindi tertidur, diterpa semilir angin pagi yang sejuk dan bikin mengantuk.
Tuesday, August 24, 2010
baby on board

pengalaman terbang pertama buat baby bindi, ternyata berlangsung sukses (jogja - denpasar). nah, saat pulangnya (denpasar - jogja) juga demikian. nggak nangis sama sekali, nggak ngrepotin, malah cengengesan terus loh...
padahal saat itu bindi menempuh perjalanan yang lumayan jauh..kami berangkat dari ubud sekitar jam 15.00 wita..entah kenapa jalanan di ubud macet banget, kami baru nyampe sukawati menjelang jam 16.00. sempet berhenti sebentar karena bindi pub (bagus nak..daripada pub di pesawat kan?)
menjelang jam 17.00 kami baru tiba di ngurah rai. setelah serah terima mobil sewaan dengan pegawai rental, kami baru masuk ke dalam buat check in sekitar pukul 17.30. pesawat boarding pukul 18.50 jadi masih bisa istirahat beberapa saat di lounge. oh ya, sekalian nyuapin bindi.
perjalanan jauh dari ubud sampe ngurah rai..ternyata gak membuat bindi protes tuh. di pesawat tetap ceria. hhmm..berarti bindi udah siap diajak terbang dengan jarak tempuh yang lebih lama dong...*siap2 hunting tiket promo AA nih* hehehe...
Thursday, March 11, 2010
fly with low fare airline
europe part 1europe part 2
Ada banyak maskapai yang melayani penerbangan internasional dari Jakarta ke Eropa. Dari sekian banyak itu yang cukup populer antara lain Air France, British Airways, KLM, dan Lufthansa. Maskapai kelas atas ini melayani terbang ke hampir semua kota-kota besar di Eropa. Hanya saja, harga tiket yang ditawarkan maskapai Eropa ini juga lumayan aduhai.
Karenanya saya lebih suka melirik maskapai penerbangan asal Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, atau Turkey Airways yang tarifnya lebih murah. Meskipun harga miring tapi layanan tetap prima dan yang lebih penting destinasi kota-kota di Eropa juga tak kalah banyaknya dengan maskapai asal Eropa. Selain alasan tarif, terbang bersama maskapai ini akan membuat saya banyak merenung. Merenungi nasib para TKI yang bekerja di Tanah Saudi. Maklum, maskapai ini sering digunakan agen pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dan kita akan menyaksikan bagaimana rombongan TKI itu digiring untuk ngantri memasuki ruang tunggu sebelum boarding, lalu mereka duduk bergerombol dan nglesot di lantai, dan begitu tiba di Dubai pemandangan serupa makin banyak. Nggak hanya TKI yang baru datang dari Indonesia yang sedang menunggu pesawat lain, tetapi juga TKI yang akan pulang kampung dengan beragam ekspresi menyiratkan kehidupan mereka di Tanah Saudi.
Kebetulan saya pernah terbang dengan Emirates saat ke London tahun 2007 lalu. Sungguh, pengalaman akan selayang pandang merekam perjalanan para TKI ke negeri impian mereka itu sungguh menyentuh emosi terdalam saya. Saya pengin merekamnya lagi, kali ini dengan empati yang lebih dalam.
Itulah sebabnya kenapa Emirates langsung nyantol di kepala saya begitu ada rencana ke Eropa lagi. Sensasi empati terbang bersama TKI dan tarif murah dari Emirates adalah perpaduan yang akan membuat perjalanan saya nggak sekedar untuk hore-hore tetapi juga penuh refleksi. (Amiiinnn...).
Jadilah saya spontan membuka website Emirates untuk menengok adakah tarif promo pada bulan Mei mendatang. HArap-harap cemas saya masukkan nama airport di kota departure - arrival, serta tanggal yang saya kehendaki, dan...horreee super low fare-nya langsung nongol di laptop.
Rupanya tidak hanya Emirates yang menawarkan tarif promo pada tanggal keberangkatan dan kepulangan yang sudah saya tentukan. Qatar Airway juga loh. Malah, kalau saya mengajukan tanggal keberangkatan, masih tersedia low fare yang selisihnya hingga USD 200! Bikin kepala saya mendadak berkeringat, karena bergairah melihat tarif super murah yang ditawarkan. Bayangkan, masak Jakarta - Paris return cuma USD 518?
Tahu nggak, dalam urusan perjalanan, semakin murah tiket yang berhasil kita beli, semakin meningkatlah gengsi kita. Sebaliknya, semakin mahal rupiah yang dibayarkan untuk tiket dengan tujuan yang sama, semakin besar kita menanggung rasa kecewa. Haha...
Untungnya saya segera tersadar bahwa perjalanan saya ke Eropa ini tidak semata-mata dolan, tapi ada urusan gaweyan. Jadi saya tetap memprioritaskan pekerjaan tinimbang tarif promo, meski sebisa mungkin tetap mendapatkan harga tiket hemat.
Kemudian saya melanjutkan pencarian. Setiap hari (bahkan sehari lebih dari sekali) saya mengecek harga tiket sesuai dengan tanggal dan rute yang sudah pasti (mendarat di Paris dan meninggalkan Eropa dari kota Athena, Yunani). Supaya lebih fokus dan nggak terlalu banyak pembanding, saya hanya melongok website Emirates dan Qatar.
Persis dua bulan sebelum keberangkatan, saya menemukan best fare dengan menggunakan Emirates yang lebih murah sekitar USD 130 dibanding Qatar. Selain lebih murah, Emirates juga memiliki pilihan waktu terbang yang memungkinkan connecting flight dari Jogja, kampung halaman saya, ke Jakarta dan sebaliknya tanpa harus menginap di Ibu Kota. Itu berarti, saya bisa hemat waktu dan energi.
Yang lebih seru lagi, Emirates menawarkan dua pilihan waktu terbang menuju Paris dengan transit di Dubai selama 3 jam (tiba di Paris jam 13.30) atau transit 10 jam (tiba di Paris jam 20.10) pada hari yang sama. Sebagai pejalan yang menjunjung tinggi filosofi 'sekali terbang dua tiga negara terlampaui', maka dengan senang hati saya memilih transit 10 jam di Dubai. Alasannya sederhana saja, supaya bisa jalan-jalan dan berfoto narsis dengan latar belakang Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Haha...! (to be continued)
Thursday, July 30, 2009
sensasi di atas angkot

kalo naik angkot, saya berusaha mencari tempat duduk di depan.
supaya bisa bernarsis ria lewat kaca spion..sekalipun kacanya udah burem.
hehehe....


kijang tanpa plat nomor yang beroperasi sebagai angkot.
prejengannya sedikit lebih mendingan dari angkot jenis L-300.

padat muatan. bagian atas buat hasil ladang dan belanjaan, sementara penumpang
yang di dalam berjubal hingga 21 orang. huukkss...sesak napas dah..!

di tengah jalan, ada motor yang ban-nya bocor..
karena nggak ada tambal ban, jadilah si motor diangkut angkot menuju pasar,

ngik..ngok...si babi gendut ini baru diturunin dari angkot
"mau dijual berapa, pak?" tanya saya.
"dua puluh juta," jawabnya membuat saya tebelalak.
"buat ongkos anak kuliah di jawa," tambahnya lagi.
ooooo....
(sensasi serunya di atas angkot, bisa dibaca di TALES from the ROAD hal. 198)
Sunday, May 24, 2009
on the road to nagarkot - nepal

wwaaa....penumpangnya berjubal bangeettthh....naik belakangan aja aaahhh...daripada sesak napas...

hiiyyaaa...setelah satu setengah jam berjubal bak sarden di dalam bus yang seharusnya cuma untuk 26 penumpang...akhirnya nyampe juga di nagarkot. dan inilah jalan berliku, sempit, dan menanjak yang dilalui bus uyuk-uyukan ini..., menuju ketinggian 1.950 m dari permukaan air laut...
Thursday, January 29, 2009
borneo river cruise

Sebagain dari masa kecil saya pernah saya lalui di sebuah desa yang dialiri sungai. Sungai itu melintas persis di depan tempat tinggal kami. Jika musim hujan airnya mengalir deras berwarna kecoklatan karena bercampur lumpur. Sebaliknya jika musim kemarau datang, air sungai itu menjadi jernih hijau berkilau diterpa sinar matahari.
Sebagai bocah yang lahir di kota, sungai desa itu merupakan daya pikat yang luar biasa buat saya. Hampir setiap hari saya menceburkan tubuh mungil saya ke dalamnya. Mula-mula berbekal ban dalam mobil yang sudah dipompa supaya nggak tenggelam. Setelah bisa berenang, meskipun gaya kampung, saya berani salto alias melompat dari atas jembatan. Bbbyyuurrr…!
Setelah kembali tinggal di kota, rekreasi sungai itu praktis nggak pernah saya nikmati lagi. Mana ada sih sungai di tengah kota di Indonesia yang masih bersih? Hampir semua sungai di tengah kota berwarna keruh, dangkal karena sampah dengan bantaran padat penduduk (miskin). Jangankan untuk berenang, dipandang mata pun sama sekali nggak sedap. Dan kalau didekati baunya menyengat.
Akibatnya, orang-orang (kaya) Indonesia yang pengin menikmati sungai harus pergi ke luar negeri. Menghabiskan ratusan dollar hanya untuk minum kopi di pinggiran sungai di Amsterdam, naik gondola di Venice, berperahu sungai Thames di London, atau yang paling dekat menyusuri Singapore River. Bagi yang nggak mampu membayar karcis perahu, seperti saya, cukuplah berpose dengan latar sungai-sungai “mahal” yang membelah kota tersebut.

Saya jadi teringat saat mengikuti paket one day tour di Skotlandia. Sebenarnya tujuan utama tour itu adalah ke Stirling, kota-nya William Wallace. Dalam perjalanan menuju Stirling ada beberapa obyek wisata yang disinggahi, antara lain Balloch Village. Kami diturunkan persis di bawah jembatan, di pinggir sungai yang dipenuhi kapal. Bus akan berhenti selama satu jam dan penumpang boleh menyusuri sungai Balloch dengan kapal wisata. Tentu saja karcis kapal yang seharga sekian poundsterling itu nggak termasuk dalam paket wisata alias harus bayar lagi. Sebagai pelancong kere, saya memilih nggak naik kapal meskipun sebenarnya pengin banget. Saya kan selalu bergairah kalau melihat sungai, apalagi menyusurinya.
Hasrat bermain air sungai biasanya baru bisa terpuaskan ketika saya pergi ke Borneo, sebutan eksotis untuk pulau Kalimantan. Memang sih nggak bisa nyebur ke kali seperti waktu kecil dulu, tapi cuma sebatas naik perahu menyusur sungai sambil melihat anak-anak kecil yang girang bermain air di sungai. Naik perahu di Kalimantan tarifnya murah deh, hanya dengan seribu perak sudah bisa berketinting menyeberangi sungai Kapuas di Pontianak. Bolak-balik cuma dua ribu perak. Karena masih belum terpuaskan, saya sering meminta pemilik ketinting untuk menyusur sungai lebih jauh lagi. Dikasih sepuluh ribu si bapak juga sudah kegirangan kok. Malah pernah pula saya sengaja mencarter satu jam lebih untuk puter-puter sepanjang Kapuas dengan bayaran lima puluh ribu rupiah yang sudah membuat si bapak ketinting bahagia tak terkira begitu menerimanya.
Secara khusus sebenarnya nggak ada atraksi menarik di sungai Kapuas. Nggak ada pasar terapung seperti di Banjarmasin yang sudah menjadi obyek wisata. Tapi kalau kita berketinting sore hari di Kapuas, kita bisa menikmati pemandangan yang eksotis: banyak orang mandi! Hehe…! Menjelang senja di Kapuas juga cukup indah untuk dinikmati. Langit yang menjadi jingga diiringi suara adzan dari Masjid Jami’, masjid tertua di Pontianak, dan orang-orang yang beriringan menuju masjid untuk menjalankan sholat magrib membawa kita pada suasana syahdu.

Dari sungai Kapuas kita juga bisa menumpang kapal ke kota-kota kabupaten di pedalaman Kalbar. Atau bahkan ke Kaltim, nyambung ke sungai Mahakam. Bagi warga Kalimantan, sungai tak ubahnya sebuah jalan raya yang menghubungkan berbagai daerah hingga lintas propinsi. Dulu sebelum transportasi darat dan udara berkembang, sungai adalah satu-satunya pilihan transportasi AKAP (antar kota antar propinsi). Karena sungai menjadi jalan untuk lalulalang kapal, di beberapa titik juga dilengkapi rambu-rambu sungai yang membantu nahkoda mengemudikan kapal dengan aman.
Saya pernah naik boat dari Banjarmasin (Kalsel) ke kota Kuala Kapuas (Kalteng) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam menyusuri sungai Martapura. Karena jarak tempuh yang cukup singkat, travelling by boat itu pun bisa dilakukan secara ulang-alik. Berangkat dari Banjarmasin pagi, sampai di Kuala Kapuas jalan-jalan sampai puas, dan setelah itu kembali lagi ke Banjar. Sekali dayung, dua propinsi terlampaui.
Pengalaman mengarungi sungai di Kalimantan yang paling mengesan adalah saat menyusuri Mahakam, sungai terbesar di Kaltim yang lebarnya hampir 1 km dan panjangnya mencapai 920 km. Dengan iming-iming kalau beruntung bisa melihat Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) , saya rela menghabiskan waktu sehari semalam di atas sungai Mahakam dengan rute Samarinda (hilir) - Melak (hulu). Kapal motor atau taksi air dengan brand “Putra Mahakam” itu berangkat dari Samarinda sekitar pukul 7 pagi dan tiba di Melak keesokan harinya menjelang matahari terbit.
Taksi air yang mampu menampung hingga 60 orang ini terdiri dari dua dek, atas dan bawah, dengan tariff tiket yang berbeda pula. Dek bagian bawah adalah kelas ekonomi yang nggak dilengkapi tempat duduk apalagi kasur. Hanya beralas karpet plastik untuk duduk lesehan atau berbaring diantara tumpukan barang berupa sembako yang didistribusikan ke padalaman Kaltim. Juga ada sepeda, motor, dan segala macam barang. Dek di lantai dua dilengkapi tempat tidur terbuat dari busa tipis dengan ukuran selebar matras alias selebar badan. Kasur ini diletakkan di atas papan setinggi sekitar 50cm dari lantai yang berfungsi ganda sebagai locker untuk menyimpan barang kita. Kasur tersebut disusun berderet tanpa batas. Sehingga kadang-kadang tanpa sadar kita bisa tidur berhadap-hadapan dengan orang tak dikenal hanya berjarak sekitar 5 senti!
Karena tempat di dek sempit, saya dan teman-teman lebih suka duduk di anjungan. Lagipula bisa menikmati pemandangan alam Borneo dengan lebih leluasa. Tentu saja sambil berharap melihat ikan Pesut Mahakam atau lumba-lumba air tawar yang konon suka menongolkan diri di sekitar Muara Kaman hingga Melak di pagi hari atau menjelang senja. Meski sebenarnya saya cukup sadar bahwa kerusakan lingkungan turut berperan dalam kelangkaan populasi hewan mamalia air ini.
Toh ada pemandangan menarik lain yang bisa dinikmati seharian di atas perahu motor yang membelah belantara wilayah Kutai ini. Buat saya menarik itu bukan selalu berarti sesuatu yang indah. Tetapi sesuatu yang membuat saya nggak sekedar ingin memandanginya, namun merenungkan atau memikirkannya. Setelah menyusuri Mahakam ke pedalaman Kaltim itu saya baru tahu bahwa hutan-hutan di Kalimantan memang beneran udah gundul. Bayangan saya tentang rerimbunan pohon-pohon gede di sepanjang Mahakam sirna seketika.
Dengan menyusur sungai saya juga bisa melihat kehidupan masyarakat Dayak yang tinggal di atas rumah papan di sepanjang sungai. Mereka mandi, mencuci, mengambil air minum dari Sungai Mahakam. Juga mencari ikan dengan ketinting kecil.
Keriuhan "pasar air" juga bisa dinikmati ketika kapal yang kami tumpangi menepi di dermaga kecil dekat pemukiman penduduk untuk menaikkan atau menurunkan. Dari kejauhan sudah banyak ketinting yang menghampiri, berebut mendekat. Mereka adalah penjaja makanan. Beragam makanan yang mereka jual, ada makanan tradisional, pisang goreng, juga nasi kuning dan lauknya. Serbuan penjaja makanan berketinting membuat kami yang lagi kongko-kongko di anjungan berbondong turun ke bawah. Jajan aneka makanan jadi hiburan tersendiri di atas Mahakam. Habis, mau ngapain lagi kalau nggak ngemil dan ngobrol?
Yang repot begitu kebanyakan minum dan kekenyangan lantas kebelet pipis atau be-a-be. Toilet di taksi air ini minimalis banget. Hanya sebuah bilik kecil berpintu kecil. Nggak ada bak mandi ataupun closet. Yang ada hanyalah sebuah lubang di geladak kapal dan sebuah ember plastik kecil bertali. Dari lubang itu kita bisa langsung melihat air sungai mahakam yang bergelombang di bawah kapal. Lubang itu berfungsi ganda, selain untuk buang air juga untuk menimba air sungai. Jadi sebelum buang air, kita musti nimba air duluan dan setelah itu baru jongkok membuang air. Kalau jongkok duluan baru nimba air, bisa-bisa yang kita buang ikut tertimba. Kan berabe tuh!
Wednesday, January 14, 2009
kepulan asap di station willem I
Rute perjalanan menanjak yang ditempuh kereta api uap hingga kini masih dapat kita nikmati dengan paket wisata yang disediakan Museum Kereta Api Ambarawa. Jalur kereta yang ditempuh adalah Ambarawa – Bedono sejauh 9km. Begitu tiba di Stasiun Jambu, lokomotif seri B25 akan dilangsir ke gerbong paling belakang untuk mendorong gerbong kereta bergerak menuju Stasiun Bedono. Tentu saja kereta tua ini tak akan melaju kencang, tetapi perlahan disertai ringikan dan kepulan asap yang keluar dari cerobong loko. Tttuuiiitt…ttuuuiiitt…! Dari ketinggian itu pula kemdusian kita dapat menikmati keindahan alam pedesaan dan kesejukan hawa pegunungan.
Menikmati keindahan alam bukanlah satu-satunya daya tarik yang ditawarkan Museum KA Ambarawa. Di museum yang semula merupakan bangunan Station Willem I Ambarawa ini, kita dapat menyaksikan sejarah lokomotif uap yang pernah melintas di Jawa. Di halaman museum terdapat 24 lokomotif kuno yang buatan tahun 1891 -1966. Salah satunya adalah lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda yang mendapat julukan Berkoningin alias Ratu Pegunungan. Konon, lokomotif yang diproduksi tahun 1927 ini merupakan loko yang paling gesit menempuh jalur pegunungan yang menanjak dan berliku.
Dengan mengunjungi Museum KA Ambarawa, kita juga disuguhi kemegahan arsitektur peninggalan Belanda pada bangunan stasiun. Stasiun KA Willem I Ambarawa memang bukan stasiun pertama yang dibangun Belanda. Tetapi pembangunan stasiun ini memiliki pertimbangan politis, kala itu untuk kepentingan militer Belanda. Ambarawa adalah lokasi yang sangat strategis untuk menghubungkan kekuatan militer dari Jawa bagian Utara dan Selatan karena letaknya yang berada di tengah-tengah. Untuk kepentingan militer ini, Belanda membangun khusus jalur Ambarawa – Magelang. Karenanya stasiun ini pun memiliki nama yang unik, yang tidak mengacu pada tempat, tetapi pada nama Raja Belanda yang kala itu bertahta, yaitu Willem I.
Memang, sejarah perkeretaapian Indonesia yang dibangun Belanda tak dapat dipisahkan dari kepentingan militer dan kolonialisme. Tentu kita tak bloleh semata-mata mengenangnya sebagai bentuk penjajahan, karena hanya akan menimbulkan luka. Sebaliknnya, apa yang telah diwariskan Belanda jadikan sebagai pemicu untuk menjadi bangsa yang maju.
Saturday, June 28, 2008
meeting locals
Finding the hidden treasure in every places I've been to. Semangat inilah yang selalu saya tanamkan dalam benak setiap kali melakukan perjalanan dinas. Bepergian dalam rangka pekerjaan memang tak sebebas pergi untuk berlibur. Selain nggak bisa memilih daerah tujuan, sesampainya di kota tujuan pun sudah dihadang dengan berbagai skedul yang musti diselesaikan seefektif mungkin sehingga bisa segera pulang. Begitu sampai rumah, masih harus merampungkan laporan hasil ber-business traveling itu.Daerah yang saya kunjungi kebanyakan di wilayah Indonesia Tengah hingga Timur: Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Janganlah membandingkannya dengan kota-kota di Jawa pada umumnya, apalagi Jogja yang indah dan nyaman itu, sebagaian besar daerah di wilayah itu masih sulit diakses oleh transportasi umum. Jadwal penerbangan pesawat pun terkadang hanya beberapa kali terbang dalam seminggu. Di Papua tak jarang pesawat batal terbang karena cuaca buruk.
Selain medan yang kurang aksesibel, infrastruktur di beberapa daerah juga masih standard. Membuat saya selalu membatin, "oh indahnya Jogja, kampung halamanku.." Hahaha...
Oh ya, perjalanan dinas yang saya lakukan seringkali harus menemui orang-orang ternama di daerah, ya pengusaha, tokoh masyarakat, bupati, walikota, hingga gubernur. Hampir semuanya orang sibuk dengan mobilitas tinggi. Jadwal ketemuan yang sudah kami sepakati pun tak jarang berubah, bahkan bisa berganti hari.
Dalam masa "penantian" ini, tak banyak yang bisa saya lakukan selain harus standby sehingga sewaktu-waktu bisa meluncur sesegera. Kalau nggak banyak obyek wisata yang dekat dengan kota, detik-detik penantian ini biasanya saya isi dengan keliling kota naik angkot/ojek atau berjalan menyusuri lorong-lorong pasar tradisional.
Sensasi di Atas Angkot
Bagi saya, naik angkot merupakan sensasi tersendiri. Inilah saat di mana saya bisa menyatu dengan penduduk lokal dalam ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter. Di antara deru mesin kendaraan dan musik dari soundsystem murahan di dalam angkot, saya berusaha menyimak percakapan para penumpang yang menggunakan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia dengan logat lokal yang kental.
Kadang-kadang angkot juga bisa menguji kesabaran kita. Adakalanya angkot nggak mau jalan sebelum penumpang penuh. Di terminal pasar Jibama, Wamena (Papua) sopir baru mulai menyalakan mesin jika penumpang sudah penuh bertumpuk-tumpuk. Angkot jenis L300 yang idealnya hanya untuk 12 orang, di Wamena bisa berisi 21 orang dengan muatan barang belanjaan yang ditumpuk di atas kap. Untuk mendapatkan 21 penumpang itu, sedikitnya butuh waktu antara 1 - 2 jam.
Orang-orang sudah mulai gelisah dan nggak sabar. Tetapi saya tetap duduk manis di dalam angkot yang kursinya sudah jebol-jebol itu. Bau sampah pasar dan keringat penumpang menebarkan aroma yang mengalahkan semprotan The Body Shop di tubuh saya. Tapi saya justru menikmatinya.
Sensasi sejenis juga saya rasakan saat menyusuri lorong-lorong pasar tradisional. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di pasar tanpa membeli apapun (kecuali minuman karena kehausan). Saya berusaha untuk menyinggahi pasar tradisional di setiap kota yang saya kunjungi. Biasanya, pagi-pagi saya sudah meluncur ke pasar dengan angkot. Suasana pagi di pasar lebih terasa hiruk-pikuk karena masih banyak pedagang yang baru datang dari desa.
Pasar juga merupakan satu-satunya tempat di mana penduduk lokal bertemu, entah untuk bertransaksi atau sekedar nongkrong. Di pedalaman, pasar itu nggak ubahnya sebuah mall di kota besar yang menyedot orang untuk datang berduyun-duyun tanpa membeli sesuatu alias buat cuci mata.
Hhmm, saya jadi teringat saat ke Pepas Eheng pedalaman Kaltim tahun 1994 lalu. Hari pasaran yang jatuh setiap hari Selasa disambut dengan keriangan seluruh penghuni desa. Malam menjelang hari pasaran, atau pada hari Senin malam, pedagang-pedagang dari kecamatan sudah mulai berdatangan. Mereka menginap semalam di lamin (rumah panjang) supaya Selasa pagi-pagi sekali sudah bisa menggelar dagangan di Pasar Delit, yang terletak di sisi barat desa. Setiap Senin malam, terjadi kemeriahan di lamin. Lamin bak pasar malam yang terang benderang, banyak pedagang berkumpul, warga berduyun-duyun ke lamin, dan kemudian bermain tongkok (sejenis permainan dadu).
Esok paginya, kemeriahan itu berpindah di tanah lapang di sisi barat desa. Pasar Delit bagaikan magnet yang menyedot seluruh penghuni desa. Anak-anak sekolah pun membolos untuk ke pasar, menyusul Bapak dan Ibu Guru mereka yang juga tak ingin melewatkan momen sekali dalam sepekan itu.
Di pasar, seperti halnya di atas angkot, saya menemukan keindahan dan kekayaan budaya negeri ini. Terkadang, saya belajar tentang kearifan lokal dari sana.
Wednesday, June 18, 2008
SCAM everywhere
Yup, memang cuma tiga ribu rupiah untuk rute dari Malioboro ke pusat Dagadu (palsu) dan Batik di Rotowijayan, kemudian sebelum kembali ke Malioboro mampir dulu di Pathok (Jl. K.S Tubun) yang merupakan kawasan pedagang bakpia. Beberapa di antaranya malah ada yang memasang tarif lebih murah Rp 2.000,-. Tarif itu rasanya memang nggak masuk akal mengingat jarak tempuh dari Malioboro ke Rotowijayan (dekat Kraton) kemudian balik ke utara dan ke barat dikit di Pathok, baru kembali ke Malioboro. Jarak tempuhnya kurang lebih sekitar 5 km.
Sementara itu tarif normal tukang becak untuk jarak tempuh sejauh itu biasanya mencapai lebih dari Rp 10.000. Kecuali kalau kebetulan dapat becak yang sekalian jalan pulang, sehingga harganya masih bisa dinego. Saya sendiri kalau kebetulan iseng naik becak setelah belanja dari Beringharjo ke rumah, di timur Pasar Ngasem, yang nggak jauh dari kawasan batik dan penjual kaos Dagadu palsu, biasanya kena tarif Rp 5.000. Itupun setelah nego. Penawaran pertama yang mereka berikan rata-rata Rp 6.000 - Rp 7.000. Walaupun ada juga yang meminta Rp 10.000,-
Jadi, kalau tarif normal one-way dari Malioboro ke Ngasem saja Rp 5.000,- artinya kalau return alias balik lagi ke Malioboro mustinya kan dua kali lipatnya. Apalagi dari Ngasem dan Rotowijayan itu kalau nggenjot ke arah utara (Pathok dan Malioboro) lebih berat, karena jalannya sedikit menanjak. Tapi, untuk wisawatan yang mau belanja batik, bakpia, dan dagadu Pak Becak memberinya tarif khusus: cuma Rp 3.000,- saja.
Ini bukan dalam rangka turut mensukseskan pariwisata Jogja, lho. Tarif murah Pak Becak itu merupakan hasil kerjasama antar para tukang becak dengan pedagang batik dan dagadu di Rotowijayan serta pedagang baktia di Pathok. Mereka sudah berkong-kalikong. Jika Pak Becak bisa mengantar wisatawan ke tokonya dan melakukan transaksi senilai tertentu, Pak Becak akan mendapat komisi dari hasil penjualannya. Konon, komisi itu bisa jauh lebih besar ketimbang tarif Rp 3.000,- yang dikenakan untuk penumpang.
Ketika pemalsuan kaos Dagadu Djokdja mulai sekitar tahun '98 (setelah krisis ekonomi melanda Tanah Air), sewaktu saya masih menjadi PR Dagadu Djokdja -yang asli doongg...-, saya sempet mendengar kabar bahwa komisi untuk Pak Becak bagi tiap lembar kaos yang terjual sekitar Rp 3.000 - Rp 5.000,-..! Kebetulan pula tempat tinggal saya nggak jauh dari kawasan para pemalsu ini. Setiap hari saya melintasinya dan menyaksikan kerumunan tukang becak yang mengharap komisi. (Setiap menjelang lebaran, Pak Becak juga sering mendapat paket sembako dan sarung dari para pemilik toko Dagadu palsu ini).
Suatu ketika saya pernah berniat iseng menjadi wisatawan yang mbecak dari Malioboro dengan menikmati tarif murah itu. "Ntar nyampe deket rumah minta turun. Jadi ongkosku mbecak bisa murah," kata saya pada seorang teman yang lantas ditimpali teman yang lain, "Huu...aku pernah dipisuhi tukang becak gara-gara begitu!"
Bangkok Gems Scam
Fenomena becak yang mengharap komisi penjualan ini tidak hanya ada di Jogja. Di Bangkok juga banyak tuk-tuk bertarif murah (cuma 20 THB atau sekitar Rp 6.000) untuk berkeliling di beberapa tempat wisata. Tapi bukan tukang tuk-tuk itu sendiri yang langsung menawarkan jasa murah, melainkan ada orang lain yang berperan sebagai corn-artist alias calo. Orang ini biasanya berkeliaran di kawasan wisata Bangkok, seperti di dekat Grand Palace, Khaosan Road, maupun Siam Square. Dengan bahasa Inggris yang cukup fasih, ia akan menyapa wisatawan dan kemudian berbaik hati menunjukkan obyek-obyek wisata tertentu yang menarik untuk dikunjungi.
Ah, saya jadi teringat pada pengalaman buruk ketika ke Bangkok untuk pertama kalinya. Ketika hendak menyeberang jalan menuju Grand Palace, seseorang mendekat dan menyapa dengan ramahnya. "Hi, where do you want to go?". Dan ketika saya meyebut Grand Palace, dengan ramah dia memberitahu, "Today is Buddhist holiday. The Palace is close and will be open at 2 PM," katanya. "But don't worry. You could go to other places. Have you been to Standing Buddha?" Lalu ia meraih peta Bangkok dari tangan saya. "Let me show you many interesting places in Bangkok," tambahnya. Dilingkarinya beberapa tempat menarik, diberinya nomor untuk masing-masing tempat sesuai dengan urutan.
Saya mulai tertarik dengan informasinya karena tempat-tempat yang disebutnya sebenarnya berada di luar target tujuan jalan-jalan kami. Nggak ada salahnya ke sana juga kan? Apalagi, ia juga mengatakan bahwa untuk mendukung promosi di hari libur umat Buddha ini, pemerintah memberikan subsidi pada tukang Tuk-tuk sehingga tarifnya pun bisa lebih murah. "You only pay for twenty Baht," katanya. "But only for the Yellow Tuk-tuk," tambahnya.
Saya pikir, Yellow Tuk-tuk adalah tuk-tuk yang dicat kuning. Tapi rupanya tuk-tuk itu tak berbeda dengan tuk-tuk lain, sama-sama kucel. Hehe...! Tuk-tuk itu sedang ngetem tak jauh dari kami sehingga ketika kami mendekat, dengan sigap dia langsung meyebut dirinya sebagai si yellow tuk-tuk driver.
Saya naik sambil menunjukkan peta yang sudah ditandai corn-artist tadi. Diantarnya kami ke Standing Buddha Temple yang memang keren. Bayangkan, patung Buddha berdiri itu begitu raksasa. Orang Thai memang gemar membangung patung-patung Buddha raksasa dari berbagai posisi: standing, slepping, sitting...!
Di obyek wisata pertama itu kami benar-benar puas. Hampir satu jam kami habiskan waktu untuk memotret dan melihat-lihat kawasan wisata itu. Lalu kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya. Pak tuk-tuk menghentikan kami di sebuah bangunan sepi, entah apa namanya. Kami disambut seseorang, "The temple is close because Monks are having their lunch," kata seseorang berpenampilan parlente sambil mempersilakan duduk di bangku dengan meja kecil di hadapannya. Saat itu memang jam makan siang. Dan kami pun mengisi waktu sembari ngobrol. Asyik juga ngobrol dengannya, bahasa Inggrisnya cukup fasih. Ngakunya sih, ia lama tinggal di Amerika, membuka bisnis Thai Restaurant di sana. Saat ini ia dan keluarganya tengah berlibur dalam rangka Buddhist holiday.
Obrolan ngalor-ngidul itu kemudian berujung pada promosinya tentang International Export Centre. Saya langsung membayangkan sebuah pameran besar yang digelar di JCC Senayan. Dia juga bercerita tentang diskon khusus untuk pembelian batu permata. Ditunjukkannya saya kwitansi dari pembeliannya yang nilainya ribuan dollar. Waw....! Katanya pula, hari ini adalah hari terakhir sale besar-besaran itu. Saya tergoda, bukan untuk membeli batu-batuan karena memang pada dasarnya kurang tertarik perhiasan, tetapi karena embel-embel "international export" yang disebutnya. Hhmmm..siapa tahu bisa menemukan benda-benda etnografi di sana.
Saya sungguh kecewa ketika tukang tuk-tuk itu mengantar kami ke sebuah toko sepi dan hanya menjual perhiasan dan batu permata. Tapi biar nggak terkesan aneh, saya pun pura-pura menikmati keindahan perhiasan yang dipajang di etalase. Si Mbak penjaga dengan agresif menawari kami. Kami menolak dan setelah satu putaran lalu keluar dari toko perhiasan itu. "I want to go to international export centre" kata saya pada tukang tuk-tuk yang sudah menghentikan kami di toko permata. "Yes, that is international export."
Saya ternganga. Kemudian saya minta Pak tuk-tuk mengantar ke obyek wisata saja. Dia menurunkan saya di sebuah temple, entah apa namanya. (Uhs, kok hanya Standing Buddha Temple aja yang saya ketahui namanya yak. Tapi memang temple-temple ini tidak berpapan nama.) Seperti temple sebelumnya, temple ini pun juga sepi. Tapi arsitekturnya cukup menarik, sehingga kami pun mengambil beberapa gambar. Saat lagi mau mejeng, tiba-tiba nyaris menabrak seseorang yang melintas dari samping. "Oh I'm sorry," kataku. "Are you a tourist?" Tanyanya kemudian. Saya memaklumi pertanyaan itu, karena wajah Jawa saya memang mirip dengan kebanyakan orang Thai, sehingga sering dituduh warga Thailand.
Orang itu mengaku berasal dari Sumatra Utara bermarga Sembiring tapi lama tinggal di London. Garis wajahnya tidak menunjukkan karakter Batak sama sekali, tapi juga nggak bule banget. Berkulit sawo matang, berhidung bangir. Mungkin blasteran melayu - bule. Logat Inggrisnya memang London sih (halah, baru sekali ke London udah sok familiar nih). Bahasa Inggris yang mengalir cepat tapi dengan volume yang rendah. Biasanya kalo Inggris bukan mother tounge, pasti ngomongnya sambil kayak mbengok-bengok alias teriak..hehehe...
Merasa sama-sama turis, kami pun ngobrol sambil mengelilingi temple yang sepi. (Heran, nggak ada satupun wisatawan lain selain kami). Obrolan kami ternyata juga sampai pada bahasan gems & stones yang tidak menarik itu. "Yes, I've been there. May be I've to think twice to buy," kata saya ketika dia menyebut International Export Centre. "You crazy, you don't buy it. You crazy. You could sell them in your country in high price," katanya dengan berkali-kali menyebut "you crazy". Saya cuma tertawa. Lalu dikeluarkannya kwitansi pembelian permata dari tasnya. Dia bilang sudar berkali-kali ke Bangkok untuk membeli permata dan kemudian menjualnya di London dan Paris dengan harga dua atau tiga kali lipat.
Lalu dia merekomendasikan salah satu toko permata langganannya. Nama toko itu dituliskannya di peta lipat yang selalu saya tenteng. Dalam hati saya membatin, males ah ke toko permata lagi. Saya kan nggak hobi perhiasan.
Ketika keluar dari temple, tukang tuk-tuk bertanya saya pengin ke mana. "Grand Palace, please." Saya sudah kepengin ke sana sejak tadi. "The Palace still close," jawabnya. Saya lirik jam tangan memang belum jam dua. Lalu ia meminta saya memperlihatkan peta lipat Setelah itu ia menyalakan tuk-tuknya. Saya tak tahu mau dibawa ke mana lagi, pokoknya jam dua siang harus ke Grand Palace.
Ternyata ia menghentikan kami di depan sebuah toko sepi lagi. Yang saya yakin itu toko permata lagi. "Don't stop here, please. I don't like jewellery!" Teriak saya. Dengan bahasa Inggris patah-patah, Pak tuk-tuk bilang bahwa dia butuh kupon untuk makan. Dengan membeli sesuatu di toko itu, dia akan mendapat kupon makan.
Hhhmm...gelagat buruk percaloan ini mulai kami tangkap. Apalagi ketika kami keluar dari toko dan tak membeli sesuatu. Dia mengatakan bahwa dia butuh kupon. Kemudian dibawanya kami ke sebuah toko permata berhalaman luas dengan mobil-mobil terparkir di sana. Begitu kami masuk, kami langsung disambut dengan seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Di antarnya kami melintasi workshop para pengrajin batu permata (mirip seperti workshop perak di Kotagede), sebelum kemudian sampai di ruangan yang penuh dengan etalase-etalase berisi batu permata.
Saat itu saya baru tersadar bahwa kami memang tengah digiring untuk belanja batu permata. Pak tuk-tuk dan para calo yang bertebaran di kawasan Khaosan Road, maupun yang menanti mangsa di temple-temple itu akan mendapat komisi dari penjualan. Itu berarti, pedagang permata ini harus memark-up harga batu setinggi mungkin untuk dapat memberikan komisi pada para corn-artist itu.
Duh..! Saya terlongong-longong. Tapi sekaligus mengagumi strategi mereka yang hebat. Jauh lebih canggih ketimbang praktek calo bakpia dan dagadu palsu di Jogja. Para corn-artist ini tak hanya mengambil keuntungan ekonomis dari para wisatawan, tapi juga sudah menipu mentah-mentah dengan dalih "Buddhist Holiday". Tahu nggak, ketika kemudian kami diturunkan di dekat Grand Palace dan kami berjalan menuju pintu gerbangnya, kekecewaan maha dahsyat menyelimuti perasaan saya. Di gerbang masuk Grand Palace itu tertulis Open Daily 8 am - 3 pm. Dan sekarang sudah jam tiga kurang beberapa menit, loket sudah tutup. (Wahai dinas pariwisata Thailand, mereka harus dibasmi dan dimusnahkan! Tindakan mereka sungguh merugikan bagi citra turisme Thailand).
Saya pengin misuh. Memisuhi ketololan saya yang bagai kena hipnotis terhasut para corn-artist. Berjam-jam saya menghabiskan waktu mengitari Bangkok dengan yellow tuk-tuk keparat itu. Saya merasa malu, sudah menjadi pelancong yang tertipu. (Eh, ternyata hal yang menyakitkan sudah kena tipu itu bukan pada persoalan angka-angka, tapi lebih pada harga diri).
Malamnya di hotel, saya habiskan waktu untuk menelusur jejak para gem-scam lewat internet. Uh, ternyata memang modus operandinya mirip dengan yang dilakukannya terhadap saya.
Beikut ini sekedar tips untuk menghidari Bangkok's Scam yang nggak cuma menjadi makelar batu permata, tetapi juga restoran dan transportasi terutama jalur darat ke Angkor Wat (Cambodia). Sebenarnya rambu-rambu peringatan itu sudah dipasang di banyak tempat, sayangnya memang kurang eye-chatching. Jadi, mendingan begini aja:
- Berhati-hatilah jika sedang di kawasan wisata seperti Khasan Road, Grand Palace, dan Siam Square
- Abaikan sapaan ramah orang Thailand yang fasih berbahasa Inggris
- Tolaklah mentah-mentah ketika mereka mulai sok tau dengan menunjukkan tempat-tempat tertentu
- Kalau mereka menunjukkan kwitansi pembelian benda-benda berharga, jangan lantas pecaya. Itu kwitansi palsu yang mereka bikin sendiri. Soalnya, saya ingat betul, font alaias tulisan tangan yang tertera di kwitansi yang ditunjukkan corn-artis pertama dan kedua sama persis tuh, meski nominalnya berbeda.
- Percayalah pada Lonely Planet atau guide-book dan map yang Anda baca. Hehee...
Monday, February 11, 2008
Sensasi di Atas Angkot
Naik angkot di pedalaman adalah kenikmatan tersendiri bagiku. Inilah saat dimana aku bisa menikmati aroma tubuh penduduk lokal yang bercampur dengan aneka hasil bumi dan hewan peliharaan...hihihiii..Angkot juga dapat menguji kesabaran kita karena si sopir baru mau menyalakan mesin kendaraan ketika semua kursi sudah terisi. Di Wamena, Papua, angkot yang menggunakan mobil jenis Kijang, jumlah penumpang minimal 12 orang (tidak termasuk sopir dan kernet). Bisa lebih dari itu, apalagi kalo si Ibu juga membawa anaknya. Angkot jenis L300 umumnya diisi 21 orang. Sementara barang bawaan diletakkan di atas kendaraan dengan jumlah tak terbatas.
Butuh waktu 2 jam untuk mengisi angkot ini penuh penumpang. Setidaknya, pengalaman 3 kali naek angkot dari terminal dekat pasar Jibama (pasar baru) di Wamena, ketiganya memaksa saya bersabar sekitar 2 jam hingga penumpang memenuhi masing-masing kursi.
Ongkos angkot di Wamena relatif mahal karena harga bensin dan solar di sana gila-gilaan, Rp 20.000/liter!!! Mahalnya harga BBM ini juga membuat si sopir sering berulah, memanfaatkan kesempatan. Mereka sering minta tambahan lebih hanya untuk mengantar penumpang ke depan rumahnya yang berjarak tak sampai 200 meter dari terminal pemberhentian. Apalagi jika si penumpang punya barang bawaan banyak. "Tambah 5000 ya, bensin mahal nih...!"
Sopir-sopir di Wamena umumnya pendatang dari Jawa dan Sulawesi. sementara yang jadi kernet biasanya bocah usia 12-an tahun, anak-anak Papua. Angkot yang saya naiki ini disopiri laki-laki dari Jawa Timur. bukan angkot milik pribadi, tapi milik sang juragan yang merupakan salah satu pejabat di kabupaten. hhmm...pantas lah. Sejak tadi saya amat2i angkot ini tak berplat nomor..., tapi operasi jalan teruss...!!!
Saturday, November 17, 2007
ojek - ternate
tukang ojek di ternate memang tidak ngepos di pangkalan..tetapi berseliweran di jln layaknya pengguna jln lainnya. tarifnya rata2 3rb..kalo agak jauh 3km ya sekitar 5rb..lbh mahal drpd tarif angkot yg cuma 2rb, tp ojek bisa nganter masuk ke lorong2. ohya, gak perlu repot pake helm kok, karena peraturan berhelm di ternate masih longgar, pembonceng boleh gak pake helm..
-pg ini ngojek ke kraton ternate dr terminal gama-
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Friday, November 16, 2007
ternate's angkot
ternate's angkot has an 'amazing' interior and completely with sound system.
the music always tune in high volume, deafening my ears...
now, i'm in angkot which has 6 rear-view that hang on windscreen in front of me...
made me couldn't see the road...:p
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
just landed: ternate!
after planning more than one year to visit this crazy-K island, maluku..
finally, i'm coming to ternate...
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Thursday, November 15, 2007
manado's angkot
passengers have to pay 1.800 rupiahs for one way. it's cheaper than angkot in other cities in east of indonesia. usually we pay about 2.000 - 2.5000 rupiahs for angkot.
-me in angkot route to pasar 45 - malalayang, manado-
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone






