Suatu ketika saya membeli bakpia Pathuk bukan untuk oleh-oleh, tetapi untuk menyuguhi tukang batu yang sedang merenovasi rumah. Sekedar memberinya camilan pendamping teh panas untuk suguhan rehat. Karena bukan dalam rangka memberi buah tangan, kali ini saya sengaja membeli bakpia dari brand yang bukan juara satu.
Meskipun bukan bakpia juara, tetapi brand bakpia ini cukup populer di Jogja, terutama di kalangan tukang becak yang biasa mengantar wisatawan membeli oleh-oleh khas Jogja. “Bakpianya sekotak berapa, Mbak?” tanya saya pada penjaga toko oleh-oleh di daerah Pathuk (Jl. K.S Tubun) sambil memilih-milih bakpia. “Kalau yang isi 15 harganya lima belas ribu, yang isi 20 harganya dua puluh ribu,” jawabnya. Lalu si Mbak penjaga toko itu bergeser lebih mendekat ke arah saya dan berbisik, “kalau Mbak-nya datang ke sini nggak diantar tukang becak, nanti dapet diskon tiga ribu rupiah per dos. Tapi diskonnya khusus bakpia aja.”
Saya segera paham. Pantas tukang-tukang becak lebih suka merekomendasikan bakpia KW 2 (kwalitas nomor dua) ini pada para wisatawan karena akan mendapat komisi Rp 3.000 per kotak bakpia yang dibeli. Pantas saja tukang becak rela dibayar Rp 3.000 untuk perjalanan bolak-balik dari Malioboro, Rotowijayan (batik), Pathuk, dan kemudian kembali lagi ke Malioboro. Rupanya komisi yang akan didapat tukang becak dari pembelian bakpia (dan juga batik) jauh lebih banyak ketimbang tarif Rp 3.000 return yang dikenakannya.
Seketika saya terkagum pada kedahsyatan sepotong bakpia Pathuk. Makanan berbahan dasar tepung terigu dengan isi kacang hijau (sekarang sudah lebih variatif, ada isi keju, coklat, nanas, dll), berdiameter sekitar 3 cm ini ternyata memiliki peran yang luar biasa dalam industri pariwisata Yogyakarta. Bakpia bukan sekedar camilan biasa. Pada sepotong bakpia, terdapat potongan memori tentang kota Jogja. Keduanya nyaris tak bisa dilepaskan. Menyebut kata bakpia (Pathuk), akan membawa ingatan kita pada Yogyakarta. Pada sepotong bakpia itu pula, ribuan wong cilik di Yogyakarta (tukang becak dan tukang parkir), mengharap komisi dari hasil penjualan bakpia Pathuk.
Showing posts with label jogja. Show all posts
Showing posts with label jogja. Show all posts
Friday, November 18, 2011
Tuesday, March 22, 2011
kraton, tamansari, alun-alun
![]() |
| atas: di pulo cemeti; bawah: benteng kraton di jl kasatriyan |
Rute yang kami tempuh, ada tiga jalur pilihan yang biasanya kami lakukan secara bergantian, yaitu jalur utara, jalur selatan, dan jalur barat. Jalur ini diambil dari lokasi tempat tinggal kami di jalan Magangan Kulon, yang jika dilihat dalam peta terlatak di tengah-tengah kompleks Kraton. Jika ingin jalan-jalan ke Kraton dan Alun-alun Utara, kami ambil jalur utara. Jika ingin ke Alun-alun Selatan ya ngambil jalur selatan. Sementara jika ingin ke Tamansari kami akan berjalan kaki kea rah barat.
Biar terasa lebih seru, kami memilih jalur yang menyusur kampung. Rute berangkat dan pulangnya pun juga berbeda. Misalnya, jalur utara mau ke Kraton. Rute berangkat dari rumah ð Kemagangan ð Jl. Kasatriyan ð Jl. Kemitbumen ð Keben/halaman depan Kraton ð pulang lewat Jl. Rotowijayan ð Jl. Sidomukti ð nDalem Pakuningratan ð rumah. Jalur selatan ke Alun-alun Selatan adalah: rumah ð Kemagangan ð Kemandungan ð Sasana Hinggil (Alun-alun Selatan) ð pulangnya menyusur kampung Ngadisuryan ð rumah. Jika ke Tamansari dari rumah ð pasar Ngasem ð Pulo Cemeti (kawasan Tamansari) ð Sumur Gumuling ð susur lorong/tunnel (underground) ð kompleks pemandaian Tamansari ð pulang lewat kampung Ngadisuryan ð rumah.
Rute menyusuri kawasan heritage berusia ratusan tahun ini sungguh menyenangkan. Dinding-dinding kraton yang tinggi memagari jalanan lengang yang kami lewati. Juga gapura dan regol (pintu gerbang) bagian kraton yang ada di Kemagangan dan Kemandungan yang dilengkapi patung dua naga dengan kedua ekornya saling melilit. Dua patung naga ini merupakan ‘suryasengkala’ yang berbunyi Dwi Naga Rasa Tunggal menyimbolkan tahun 1628 (tahun Jawa) atau 1756 M, tahun saat kraton mulai dibangun. Itu berarti setahun setelah terjadinya perjanjian Giyanti 1755 yang membagi Kerjaan Mataram menjadi dua: Kasultanan Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat.
Kemagangan dan Kemandungan merupakan playground favorit buat momong dan nyuapin Baby Bindi hingga kini. Selain karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah kami, kawasan ini merupakan area terbuka yang luas dan terdapat sejumlah pohon rindang. Jika sewaktu bayi Bindi hanya pasrah di atas strollernya, kini ia bisa berlarian riang mengitari kompleks bagian belakang kraton ini. Ia juga tampak menyukai patung naga, menunjuk-nunjuknya sambil menyebut “nogo”.
Playground favorit selain Kemagangan dan Kemandungan adalah Pulo Cemeti, salah satu bagian dari kompleks Tamansari Water Castle. Pulo Cemeti ini letaknya persis di belakang pasar Ngasem yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah kami arah ke barat. Pulo Cemeti merupakan reruntuhan bangunan yang konon cukup tinggi. Jika kita berjalan dari arah utara menuju Pasar Ngasem, akan tampak di belakang pasar bangunan kuno yang tinggi dan bagian atasnya sudah tidak utuh lagi. Bagian atas ini dulunya bisa dinaiki karena memang terdapat tangga menuju ke sana. Dari bagian atas Pulo Cemeti itu kita bisa melihat kota Yogya. Saat ini Pulo Cemeti sedang dalam tahap restorasi sehingga pengunjung tidak diperkenankan naik ke atas bangungan. Sementara itu bagian bawah bangunan Pulo Cemeti ini cukup luas sehingga Baby Bindi bisa berlarian di sana.
Selain Pulo Cemeti, tempat yang juga enak buat berlarian buat bayi yang belum lama bisa berjalan sendiri adalah bangunan bawah tanah atau tunnel. Tunnel ini dulunya merupakan jalan yang dibangun untuk menghubungkan kompleks Tamansari dengan, konon katanya, Laut Selatan. Yang jelas, saat ini tunnel yang masih bisa dilalui hanya sepanjang sekitar 100 meter, yaitu dari Pulo Cemeti ke arah selatan menuju kompleks pemandian.
Sudah pasti, setiap jalan-jalan pagi menyusur kawasan heritage ini kami tak pernah meninggalkan kamera poket, minimal ponsel berkamera. Sayang rasanya melewatkan foto Baby Bindi berlatar bangunan heritage yang sudah berusia ratusan tahun. Bahkan kami nggak pernah bosan mengabadikan segala polah Baby Bindi, sejak ia masih di atas stroller hingga sudah gesit berlari, meski tempat itu terlalu sering kami kunjungi.
Tuesday, February 1, 2011
touch the animals experience
![]() |
| Pengin ngelus the lion king |
Sebenarnya nggak cuma anjing aja sih yang dia suka. Semua binatang yang ditemuinya di sekitar rumah, selalu membuatnya kegirangan. Apalagi jika binatang itu nggak cuma diam, tapi bergerak. Ayam, kucing, burung, dan cicak adalah binatang-binatang yang dapat dengan mudah ditemuinya di sekitar rumah. Bindi juga udah mulai pinter memainkan jari-jarinya memanggil burung dan ayam.
Lalu, saya dan Edo pun mulai merencanakan trip ke kebun binatang. Ke Gembira Loka, kebun binatang terbesar di Indonesia. Hehe...! Tapi, kami selalu gagal ke Gembira Loka, padahal kan nggak jauh dari rumah. Pernah suatu kali, saat libur lebaran, kami sudah sampe depan Gembira Loka, tetapi begitu melihat parkirannya penuh, rasanya jadi maleesss...! Jangankan libur lebaran, pada akhir pekan saja parkiran Gembira Loka bisa dipastikan penuh. Banyak rombongan sekolah dari daerah lain yang melakukan study-tour. Ternyata susah juga ya mau piknik di kota sendiri.
Akhirnya kami merencanakan trip lain. "Gimana kalo kita ke Bali Bird Park?" usul saya yang langsung disambut dengan girang oleh Edo. Jelas dong, soalnya sebenarnya kami pun sejak lama sudah beberapa kali gagal mau mampir ke Bali Bird Park setiap liburan ke Ubud. Adaa aja yang bikin kami nggak jadi singgah di sana.
Sekarang mumpung sudah punya Baby Bindi, nggak boleh lagi dibatalkan. Bahkan trip kami ke Bali kali ini, saat usianya Bindi hampir 12 bulan, khusus buat Bindi mengenal binatang. Kami sisihkan waktu seharian hanya buat main-main ke Bali Bird Park, Reptile Park, dan Bali Zoo. Kebetulan pula lokasinya berdekatan, sehingga kami bisa full day di ketiga tempat itu dari pagi hingga sore.
![]() |
| Elus yang ini aja, nduk |
Karena Bindi tidak memperlihatkan ketakutan pada binatang, kami jadi nggak ragu-ragu untuk mendekatkan tangannya pada binatang-biantang tertentu yang jinak. Seperti pada iguana, kura-kura, dan burung rangkok. Oh ya, juga saat di Bali Zoo resto ada atraksi binatang-binatang buas yang sudah jinak. Banyak anak-anak bule yang pada berfoto. Baby Bindi nggak mau ketinggalan dong, ikutan foto berkalung ular. Hihiii...!
Oh ya, beberapa waktu lalu, kami akhirnya berhasil dolan ke Gembira Loka. Saya baru sadar, di gapura bagian depan ada baliho besar bertuliskan Gembira Loka Zoo. Hahaha, pake 'zoo' memang terlihat lebih keren kali ya?
Gembira Loka Zoo memang sudah beda dengan apa yang saya nikmati sewaktu bocah dulu. Saat ini sudah ada Reptile Park yang menampilkan koleksi berbagai reptile dari berbagai dunia. Ada juga aneka kodok dari aneka bangsa. Lucu-lucu ragamnya. Sayangnya, karena tempatnya yang terlalu luas dan sudah pasti butuh biaya renovasi yang muhaal, belum semua bagian mendapat sentuhan baru. Padahal untuk bisa menikmati area seluas itu, pengunjung butuh tempat rindang atau shelter jika tiba-tiba hujan. Bahkan juga butuh moda transportasi tertentu di dalam kebun binatang supaya yang kecapean jalan bisa naik ke shuttle bus atau kereta mini atau apapun namanya.
[more image please click here]
Saturday, May 16, 2009
the story of gudeg

The young jackfruit cooked in coconut milk with spices that known as gudeg is the most popular Jogjanese food. There are two kinds of gudeg cooking. First is dry gudeg that cooked more than twice or overcooked. The colour is dark brown and the taste is sweet. The dry gudeg usually served with cassava leaf, dark brown boiled egg, and krecek, crisp beef rind. This food is popular as gift brought back from Jogja because the dry gudeg is very durable for 4 – 5 days.
Different from the first type, the wet gudeg is cooked only once. The taste is not as sweet as the dry gudeg and served with areh, coconut milk that has been simmered until thick. Some people from other city commonly like this type because its taste more deliciously oily and salty. But they couldn’t brought back because wet gudeg is not durable.
The Gudeg sellers are commonly come from Bulaksumur village, north of Jogja city. Before the University of Gadjah Mada was built at Bulaksumur, the jackfruit plants thrive on this village. Then the villagers not only cooked the young jackfruit for their family but also peddled the Gudeg to other places of Jogja city.
Some people from Bulaksumur village have no permanent gudeg stall. Every morning they paddled their bike that carried gudeg food. They sell the gudeg at the sidewalk. In the afternoon, when the food sold out, they back home to prepare the food that will be sell at night.
Nowadays, we could find gudeg in 24 hours a day. Gudeg stalls at kampong Barek - Bu-laksumur are commonly open in the early morning. At noon, we could visit kampong Wijilan near the Kraton to get gudeg for lunch. In the evening, gudeg stalls are easily to find in Jogja main roads, like Jl. Malioboro, Jl. Bigjend Katamso, Jl. Solo. Jl. P. Mangkubumi, Jl. Sultan Agung, etc. The night gudeg stalls are known as warung lese-han, stall that spread out on the ground. Even, in the middle of the night, we could enjoyed gudeg in gudeg pawon at Jl. Kusumanegara.
Wednesday, January 14, 2009
wisata religi sendangsono
Dalam tradisi Katholik, Gua Maria telah ditetapkan sebagai salah satu tempat ziarah karena di tempat tersebut Bunda Maria beberapa kali menampakkan diri pada orang-orang tertentu. Salah satu penampakan Bunda Maria yang paling terkenal adalah penampakan kepada Bernadette Soubirous di sebuah goa di kota Lourdes, Perancis pada tahun 1858. Sejak itulah Lourdes dikenal sebagai tempat ziarah bagi umat Katholik yang paling populer di dunia.
Di Indonesia terdapat puluhan gua tempat penampakan Bunda Maria yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satu yang cukup populer adalah gua Maria Sendangsono yang terletak di Kecamatan Kalibawang, Kab. Kulon Progo, Yogyakarta. Keberadaan Gua Maria ini memiliki makna historis bagi perkembangan Gereja Katholik di Indonesia. Di sinilah untuk yang pertama kali dilakukan pembaptisan terhadap 171 warga yang dilakukan oleh Romo van Lith SJ (1863 – 1926) pada tanggal 14 Desember 1904.
Pembaptisan umat Katholik untuk yang pertama kalinya di Jawa ini dilakukan dengan menggunakan sumber air (sendang) yang mengalir di antara dua pohon sono. Lokasi pembaptisan ini kemudian menjadi cikal bakal penyebaran ajaran Katholik di Pulau Jawa. Dalam memperkenalkan agama Katholik, Romo van Lith menyelaraskan ajaran Katholik Roma dengan tradisi Kejawen, sehingga agama Katholik mudah diterima orang Jawa.
Kompleks Sendangsono ini resmi dinyatakan sebagai tempat ziarah umat Katholik sekitar tahun 1929. Ratu Spanyol kemudian mempersembahkan patung Bunda Maria untuk ditempatkan di Sendangsono. Di bawah patung Bunda Maria ini kemudian ditanamkan batu sebagai alas yang secara khusus diambil dari Lourdes, Perancis saat sejumlah pemuda Katholik berziarah ke sana pada tahun 1945.
Kompleks ziarah ini kemudian mulai direnovasi pada tahun 1974 dengan menggunakan dana hasil sumbangan umat. YB Mangunwijaya sebagai arsiteknya memberikan sentuhan bernuansa Jawa di kompleks ini. Bahan-bahan bangunan yang digunakan pun di ambil dengan memanfaatkan hasil alam. Karya arsitektur Romo Mangun ini mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus pada tahun 1991.
Saat ini Sendangsono yang telah berusia lebih dari 100 tahun tak hanya menjadi tempat ziarah umat Katholik saja. Kompleks ziarah ini juga menarik minat masyarakat umum untuk berkunjung. Selain karena tempat ziarah ini berada di kawasan yang indah dan asri, konon, air Sendangsono bisa memberi berkah kesembuhan bagi yang meminumnya. Para peziarah pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini utuk membawa pulang air Sendangsono.
Di Indonesia terdapat puluhan gua tempat penampakan Bunda Maria yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satu yang cukup populer adalah gua Maria Sendangsono yang terletak di Kecamatan Kalibawang, Kab. Kulon Progo, Yogyakarta. Keberadaan Gua Maria ini memiliki makna historis bagi perkembangan Gereja Katholik di Indonesia. Di sinilah untuk yang pertama kali dilakukan pembaptisan terhadap 171 warga yang dilakukan oleh Romo van Lith SJ (1863 – 1926) pada tanggal 14 Desember 1904.
Pembaptisan umat Katholik untuk yang pertama kalinya di Jawa ini dilakukan dengan menggunakan sumber air (sendang) yang mengalir di antara dua pohon sono. Lokasi pembaptisan ini kemudian menjadi cikal bakal penyebaran ajaran Katholik di Pulau Jawa. Dalam memperkenalkan agama Katholik, Romo van Lith menyelaraskan ajaran Katholik Roma dengan tradisi Kejawen, sehingga agama Katholik mudah diterima orang Jawa.
Kompleks Sendangsono ini resmi dinyatakan sebagai tempat ziarah umat Katholik sekitar tahun 1929. Ratu Spanyol kemudian mempersembahkan patung Bunda Maria untuk ditempatkan di Sendangsono. Di bawah patung Bunda Maria ini kemudian ditanamkan batu sebagai alas yang secara khusus diambil dari Lourdes, Perancis saat sejumlah pemuda Katholik berziarah ke sana pada tahun 1945.
Kompleks ziarah ini kemudian mulai direnovasi pada tahun 1974 dengan menggunakan dana hasil sumbangan umat. YB Mangunwijaya sebagai arsiteknya memberikan sentuhan bernuansa Jawa di kompleks ini. Bahan-bahan bangunan yang digunakan pun di ambil dengan memanfaatkan hasil alam. Karya arsitektur Romo Mangun ini mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus pada tahun 1991.
Saat ini Sendangsono yang telah berusia lebih dari 100 tahun tak hanya menjadi tempat ziarah umat Katholik saja. Kompleks ziarah ini juga menarik minat masyarakat umum untuk berkunjung. Selain karena tempat ziarah ini berada di kawasan yang indah dan asri, konon, air Sendangsono bisa memberi berkah kesembuhan bagi yang meminumnya. Para peziarah pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini utuk membawa pulang air Sendangsono.
kotagede the hidden charm
Bekas Ibukota Kerajaan Mataram ini mengawali sejarahnya manakala Sultan Hadiwijaya, menghadiahkan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Pada tahun 1575 putra Ki Ageng Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati, menjadikan wilayah ini sebagai Ibukota Kerajaan Mataram. Sebagai sebuah kerajaan Jawa, arsitektur kawasan ini mengacu pada prinsip Catur Gatra Tunggal yang direpresentasikan dengan adanya Kraton, Alun-alun, Masjid, dan Pasar.
Sisa-sisa arsitektur kota kerajaan Islam ini masih dapat kita rasakan dengan mengunjungi Kotagede. Dinding-dinding tinggi, lorong-lorong sempit, suara adzan bersautan, dan hirukpikuk pasar. Menyusuri lorong-lorong Kotagede merupakan perjalanan spirutual yang mengesankan. Di kompleks kawasan Kotagede ini terdapat petilasan Raja Mataram, Panembahan Senopati, yaitu makam para kerabat raja, padepokan, Sendang Selirang, Watu Gilang dan Watu Gatheng.
Makam Raja Mataram di Kotagede dibangun dalam kompleks yang luas. Di dalamnya terdapat 81 makam raja dan kerabat dekatnya. Makam ini dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu saja, yaitu hari Senin dan Kamis mulai pukul 10.00 -12.00 WIB dan pada hari Jumat mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB. Para pengunjung yang hendak melakukan ziarah dan tirakatan diharuskan berendam terlebih dahulu di Sendang Selirang yang letaknya di sebelah selatan makam.
Sendang ini terbagi menjadi dua, yaitu Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan). Kedua sendang ini memiliki sumber mata air yang berbeda. Sumber mata air Sendang Kakung berasal dari mata air tepat di bawah makam yang dialirkan melalui lubang saluran. Banyak ikan yang hidup di sendang ini, antara lain ikan lele putih yang panjangnya hingga 1 meter. Di situ juga terdapat makam kura-kura yang dikeramatkan dan diberi nama Kyai Duda Rejah. Sementara itu mata air Sendang Putri berasal dari sumber di bawah pohon beringin yang terletak di bagian depan jalan menuju kompleks makam.
Tak jauh dari kompleks makam dan sendang, sekitar 300 meter ke arah selatan, terdapat bangunan kecil tempat penyimpanan Watu Gilang dan Watu Gatheng. Batu hitam yang bentuknya menyerupai tempat duduk ini konon dipercaya sebagai dampar (tempat duduk) Panembahan Senopati. Selain itu juga terdapat tiga batu berwarna kuning berbentuk bola (Watu Gatheng). Konon, menurut legenda, batu ini merupakan alat permaianan Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati. Meski batu itu berat, tetapi Raden Ronggo mampu mengangkat dan melempar-lemparkannya sebagai permainan. Legenda ini pula yang kemudian berkembang dan melahirkan mitos jika kita berhasil mengangkat Watu Gatheng, apa yang menjadi keinginan kita dapat terkabul.
Kini, kawasan Kotagede telah berkembang menjadi kawasan wisata sejarah dan budaya yang menarik. Selain dapat mempelajari sejarah kerajaan Mataram pertama, sebelum terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, di Kotagede kita juga dapat menikmati arsitektur rumah tinggal para saudagar keturunan Arab, Jawa, dan Belanda yang dulu tinggal di sana. Rumah-rumah mereka yang khas kini banyak dijadikan sebagai café dan galerry. Tak ketinggalan industri kerajinan perak Kotagede yang indah dan menggoda mata. Kotagede memang kota tua yang menyimpan keindahan.
Sisa-sisa arsitektur kota kerajaan Islam ini masih dapat kita rasakan dengan mengunjungi Kotagede. Dinding-dinding tinggi, lorong-lorong sempit, suara adzan bersautan, dan hirukpikuk pasar. Menyusuri lorong-lorong Kotagede merupakan perjalanan spirutual yang mengesankan. Di kompleks kawasan Kotagede ini terdapat petilasan Raja Mataram, Panembahan Senopati, yaitu makam para kerabat raja, padepokan, Sendang Selirang, Watu Gilang dan Watu Gatheng.
Makam Raja Mataram di Kotagede dibangun dalam kompleks yang luas. Di dalamnya terdapat 81 makam raja dan kerabat dekatnya. Makam ini dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu saja, yaitu hari Senin dan Kamis mulai pukul 10.00 -12.00 WIB dan pada hari Jumat mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB. Para pengunjung yang hendak melakukan ziarah dan tirakatan diharuskan berendam terlebih dahulu di Sendang Selirang yang letaknya di sebelah selatan makam.
Sendang ini terbagi menjadi dua, yaitu Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan). Kedua sendang ini memiliki sumber mata air yang berbeda. Sumber mata air Sendang Kakung berasal dari mata air tepat di bawah makam yang dialirkan melalui lubang saluran. Banyak ikan yang hidup di sendang ini, antara lain ikan lele putih yang panjangnya hingga 1 meter. Di situ juga terdapat makam kura-kura yang dikeramatkan dan diberi nama Kyai Duda Rejah. Sementara itu mata air Sendang Putri berasal dari sumber di bawah pohon beringin yang terletak di bagian depan jalan menuju kompleks makam.
Tak jauh dari kompleks makam dan sendang, sekitar 300 meter ke arah selatan, terdapat bangunan kecil tempat penyimpanan Watu Gilang dan Watu Gatheng. Batu hitam yang bentuknya menyerupai tempat duduk ini konon dipercaya sebagai dampar (tempat duduk) Panembahan Senopati. Selain itu juga terdapat tiga batu berwarna kuning berbentuk bola (Watu Gatheng). Konon, menurut legenda, batu ini merupakan alat permaianan Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati. Meski batu itu berat, tetapi Raden Ronggo mampu mengangkat dan melempar-lemparkannya sebagai permainan. Legenda ini pula yang kemudian berkembang dan melahirkan mitos jika kita berhasil mengangkat Watu Gatheng, apa yang menjadi keinginan kita dapat terkabul.
Kini, kawasan Kotagede telah berkembang menjadi kawasan wisata sejarah dan budaya yang menarik. Selain dapat mempelajari sejarah kerajaan Mataram pertama, sebelum terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, di Kotagede kita juga dapat menikmati arsitektur rumah tinggal para saudagar keturunan Arab, Jawa, dan Belanda yang dulu tinggal di sana. Rumah-rumah mereka yang khas kini banyak dijadikan sebagai café dan galerry. Tak ketinggalan industri kerajinan perak Kotagede yang indah dan menggoda mata. Kotagede memang kota tua yang menyimpan keindahan.
menelusuri reruntuhan kraton ratu boko
Kompleks Kraton Ratu Boko terletak 2Km arah selatan Candi Prambanan. Tepatnya di perbukitan, antara dusun Dawung dan Sambirejo yang membentang di Jl. Jogja – Piyungan. Mengunjungi situs ini akan lebih menyenangkan jika dilakukan pagi hari atau menjelang sore. Tak ada salahnya menghindari sengatan matahari tropis yang mampu melegamkan kulit kita. Maklum, kawasan seluas 250.000 M2 ini merupakan area terbuka, berada di puncak bukit dengan ketinggian 196 m di atas permukaan laut.
Kraton Ratu Boko merupakan artefak perpaduan antara Buddha dan Hindu. Menurut prasasti Abhayagiri Wihara tahun 792 M, kompleks ini pernah digunakan sebagai vihara. Namun di kompleks ini juga ditemukan benda-benda peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, dan ganesha. Reruntuhan kepurbakalaan Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Sebelumnya, pada awal abad 17, berdasar catatan perjalanan para musafir Eropa, H.J De Graaf telah mencatat adanya kepurbakalaan di selatan Prambanan.
Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis yang menghasilkan laporan berjudul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah, kompleks candi ini dikenal dengan Kraton Ratu Boko, meskipun sebelumnya warga sekitar menyebutnya Candi Dawung karena berlokasi di dusun Dawung.
Tata ruang kompleks Ratu Boko relatif masih lengkap. Bagian depan situs, yaitu Gapura terdiri dari dua lapis. Setelah melewati gapura, terdapat hamparan rumput luas. Segerombolan kambing biasa merumput di area ini, sementara sang gembala berteduh di bawah pohon jati tak jauh dari tempat itu. Area ini dulunya adalah alun-alun. Di area ini masih terdapat umpak yang tertata, mungkin dulunya menjadi pondasi tiang bangunan berpilar, semacam pendopo.
Di area Alun-alun terdapat batur tinggi, yang disebut Candi Pembakaran. Seperti yang tersurat pada namanya, batungunan batu berukuran kurang lebih 25 x 10 M dan tinggi sekitara 1,5 M dengan tangga menghadap ke barat ini diperkirakan sebagai tempat pembakaran mayat kaum Hindu. Di candi ini ditemukan sisa-sisa pembakaran.
Arah Tenggara dari alun-alun, terdapat sejumlah bangunan yaitu paseban (ruang tunggu sebelum menghadap raja), pendopo, dan pringgitan. Di sebelah barat Pendopo terdapat altar kecil dengan 3 gapura kecil berjejer. Tingginya kira-kira hanya 1 meter, karenanya diberi nama Candi Miniatur. Bangunan ini juga sering digunakan sebagai tempat pemujaan. Berdampingan dengan kompleks ini terdapat kolam keputren, yaitu pemandian untuk kaum perempuan. Kolam-kolam dari batu cadas putih ini berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk persegi. Hingga kini sumber air dari kolam masih keluar, meski tak lagi bening.
Situs lain yang terdapat di kompleks ini adalah dua gua, yaitu gua lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan). Bentuk gua ini menyerupai ceruk dengan kedalaman sekitar 3 meter. Fungsinya sebagai tempat semedi. Yang menarik gua ini sepertinya sengaja dibuat dengan mengeruk bukit batu yang ada di kompleks ini. Persis di sisi gua wadon, terdapat area datar dengan dinding batu. Di sisinya terdapat anak tangga yang menghubungkan ke gua lanang. Anak tangga ini terbuat dari batu utuh yang ditatah berundak.
Menyusuri kompleks Kraton Ratu Boko yang terletak di perbukitan memang serasa pendakian dan trekking pendek sekitar 2 jam. Pastikan kesiapan fisik Anda jika berniat menyusuri reruntuhan Ratu Boko. Meski di kawasan ini terdapat beberapa warung kecil yang menjual minuman dingin, tak ada salahnya Anda membekali diri dengan air mineral dari rumah. Jika kelelahan mendera, berisitrahatlah di perbukitan di atas Candi Pembakaran. Pengelola taman wisata candi telah menyediakan bangunan joglo untuk beristirahat sekaligus menikmati Candi Prambanan dari ketinggian bukit. Saatnya menarik napas lega, meresapi keindahan atas kemegahan masa lalu!
Kraton Ratu Boko merupakan artefak perpaduan antara Buddha dan Hindu. Menurut prasasti Abhayagiri Wihara tahun 792 M, kompleks ini pernah digunakan sebagai vihara. Namun di kompleks ini juga ditemukan benda-benda peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, dan ganesha. Reruntuhan kepurbakalaan Ratu Boko ini ditemukan pertama kali oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790. Sebelumnya, pada awal abad 17, berdasar catatan perjalanan para musafir Eropa, H.J De Graaf telah mencatat adanya kepurbakalaan di selatan Prambanan.
Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis yang menghasilkan laporan berjudul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah, kompleks candi ini dikenal dengan Kraton Ratu Boko, meskipun sebelumnya warga sekitar menyebutnya Candi Dawung karena berlokasi di dusun Dawung.
Tata ruang kompleks Ratu Boko relatif masih lengkap. Bagian depan situs, yaitu Gapura terdiri dari dua lapis. Setelah melewati gapura, terdapat hamparan rumput luas. Segerombolan kambing biasa merumput di area ini, sementara sang gembala berteduh di bawah pohon jati tak jauh dari tempat itu. Area ini dulunya adalah alun-alun. Di area ini masih terdapat umpak yang tertata, mungkin dulunya menjadi pondasi tiang bangunan berpilar, semacam pendopo.
Di area Alun-alun terdapat batur tinggi, yang disebut Candi Pembakaran. Seperti yang tersurat pada namanya, batungunan batu berukuran kurang lebih 25 x 10 M dan tinggi sekitara 1,5 M dengan tangga menghadap ke barat ini diperkirakan sebagai tempat pembakaran mayat kaum Hindu. Di candi ini ditemukan sisa-sisa pembakaran.
Arah Tenggara dari alun-alun, terdapat sejumlah bangunan yaitu paseban (ruang tunggu sebelum menghadap raja), pendopo, dan pringgitan. Di sebelah barat Pendopo terdapat altar kecil dengan 3 gapura kecil berjejer. Tingginya kira-kira hanya 1 meter, karenanya diberi nama Candi Miniatur. Bangunan ini juga sering digunakan sebagai tempat pemujaan. Berdampingan dengan kompleks ini terdapat kolam keputren, yaitu pemandian untuk kaum perempuan. Kolam-kolam dari batu cadas putih ini berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk persegi. Hingga kini sumber air dari kolam masih keluar, meski tak lagi bening.
Situs lain yang terdapat di kompleks ini adalah dua gua, yaitu gua lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan). Bentuk gua ini menyerupai ceruk dengan kedalaman sekitar 3 meter. Fungsinya sebagai tempat semedi. Yang menarik gua ini sepertinya sengaja dibuat dengan mengeruk bukit batu yang ada di kompleks ini. Persis di sisi gua wadon, terdapat area datar dengan dinding batu. Di sisinya terdapat anak tangga yang menghubungkan ke gua lanang. Anak tangga ini terbuat dari batu utuh yang ditatah berundak.
Menyusuri kompleks Kraton Ratu Boko yang terletak di perbukitan memang serasa pendakian dan trekking pendek sekitar 2 jam. Pastikan kesiapan fisik Anda jika berniat menyusuri reruntuhan Ratu Boko. Meski di kawasan ini terdapat beberapa warung kecil yang menjual minuman dingin, tak ada salahnya Anda membekali diri dengan air mineral dari rumah. Jika kelelahan mendera, berisitrahatlah di perbukitan di atas Candi Pembakaran. Pengelola taman wisata candi telah menyediakan bangunan joglo untuk beristirahat sekaligus menikmati Candi Prambanan dari ketinggian bukit. Saatnya menarik napas lega, meresapi keindahan atas kemegahan masa lalu!
Wednesday, December 17, 2008
escape from jogja
Kadang-kadang, saya pengin menikmati liburan akhir tahun atau long weekend holiday di rumah saja. Berleha-leha, memberesi pondok mungil kami yang berantakan, atau sekedar mengutak-atik sesuatu. Pokoknya segala aktifitas yang nggak pakai terpaksa lah. Tapi begitu membayangkan bahwa saat liburan seperti ini Jogja bakal diserbu wisatawan, termasuk kerabat dan kenalan, yang itu berarti waktu luang bersantai saya terancam terganggu, rasanya saya jadi pengin melarikan diri.
Jadilah saya dan suami disibukkan dengan rencana melarikan diri dari Jogja. Ngakunya sih buat jalan-jalan atawa rekreasi, tapi alasan sebenarnya karena nggak pengin jadi tuan rumah yang kerepotan di saat semua orang menikmati liburan. Haha....
Akhir tahun ini kami berencana mengeksplor daerah Utara. Nggak jauh-jauh kok, cuma ke Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Jepara, lalu singgah di Bleduk Kuwu (Grobogan). Liburan hemat (karena harga BBM sudah turun lagi) tapi tetap sarat dengan tempat-tempat historis pesisir Utara Jawa.
Agenda utama kami adalah menyusuri jejak para wali: Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang. Sejak membaca seri biografi Sembilan Wali & Siti Jenar karya Seno gumira Ajidarma kami memang bermimpi suatu hari nanti bisa menyusuri daerah Pantura Jawa. Bukan untuk berziarah apalagi lelaku, tapi meniru Seno yang mengabadikannya dalam gambar.
Hhmm..., it will be a nice trip!
Jadilah saya dan suami disibukkan dengan rencana melarikan diri dari Jogja. Ngakunya sih buat jalan-jalan atawa rekreasi, tapi alasan sebenarnya karena nggak pengin jadi tuan rumah yang kerepotan di saat semua orang menikmati liburan. Haha....
Akhir tahun ini kami berencana mengeksplor daerah Utara. Nggak jauh-jauh kok, cuma ke Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Jepara, lalu singgah di Bleduk Kuwu (Grobogan). Liburan hemat (karena harga BBM sudah turun lagi) tapi tetap sarat dengan tempat-tempat historis pesisir Utara Jawa.
Agenda utama kami adalah menyusuri jejak para wali: Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang. Sejak membaca seri biografi Sembilan Wali & Siti Jenar karya Seno gumira Ajidarma kami memang bermimpi suatu hari nanti bisa menyusuri daerah Pantura Jawa. Bukan untuk berziarah apalagi lelaku, tapi meniru Seno yang mengabadikannya dalam gambar.
Hhmm..., it will be a nice trip!
Wednesday, June 18, 2008
SCAM everywhere
Tiga kata ini sangat fasih diucapkan tukang becak yang mangkal di seputaran Malioboro: "Batik, Bakpia Pahtok, Dagadu." Dengan sangat antusias para tukang becak ini menawarkan jasanya mengantar wisatawan untuk belanja oleh-oleh khas Jogja. Saking antusiasnya, mereka sering nggak peduli apakah yang ditawari itu bener-bener wisatawan atau orang Jogja yang baru keluar dari Malioboro Mall. atau Pasar Beringharjo. Saya sering risih karenanya. Meski sudah jelas-jelas menenteng kunci motor yang dengan sengaja pula saya ayun-ayunkan dengan harapan Pak Becak tahu bahwa saya naik motor, mereka tetap saja menyapa, "Monggo Mbak...Bakpia Pathok, Dagadu, Batik...." Dan meski sudah dijawab, "Mboten, Paaakk..." kadang mereka masih memaksa dengan mengimingi tarif murah, "Tiga ribu saja, bolak-balik."
Yup, memang cuma tiga ribu rupiah untuk rute dari Malioboro ke pusat Dagadu (palsu) dan Batik di Rotowijayan, kemudian sebelum kembali ke Malioboro mampir dulu di Pathok (Jl. K.S Tubun) yang merupakan kawasan pedagang bakpia. Beberapa di antaranya malah ada yang memasang tarif lebih murah Rp 2.000,-. Tarif itu rasanya memang nggak masuk akal mengingat jarak tempuh dari Malioboro ke Rotowijayan (dekat Kraton) kemudian balik ke utara dan ke barat dikit di Pathok, baru kembali ke Malioboro. Jarak tempuhnya kurang lebih sekitar 5 km.
Sementara itu tarif normal tukang becak untuk jarak tempuh sejauh itu biasanya mencapai lebih dari Rp 10.000. Kecuali kalau kebetulan dapat becak yang sekalian jalan pulang, sehingga harganya masih bisa dinego. Saya sendiri kalau kebetulan iseng naik becak setelah belanja dari Beringharjo ke rumah, di timur Pasar Ngasem, yang nggak jauh dari kawasan batik dan penjual kaos Dagadu palsu, biasanya kena tarif Rp 5.000. Itupun setelah nego. Penawaran pertama yang mereka berikan rata-rata Rp 6.000 - Rp 7.000. Walaupun ada juga yang meminta Rp 10.000,-
Jadi, kalau tarif normal one-way dari Malioboro ke Ngasem saja Rp 5.000,- artinya kalau return alias balik lagi ke Malioboro mustinya kan dua kali lipatnya. Apalagi dari Ngasem dan Rotowijayan itu kalau nggenjot ke arah utara (Pathok dan Malioboro) lebih berat, karena jalannya sedikit menanjak. Tapi, untuk wisawatan yang mau belanja batik, bakpia, dan dagadu Pak Becak memberinya tarif khusus: cuma Rp 3.000,- saja.
Ini bukan dalam rangka turut mensukseskan pariwisata Jogja, lho. Tarif murah Pak Becak itu merupakan hasil kerjasama antar para tukang becak dengan pedagang batik dan dagadu di Rotowijayan serta pedagang baktia di Pathok. Mereka sudah berkong-kalikong. Jika Pak Becak bisa mengantar wisatawan ke tokonya dan melakukan transaksi senilai tertentu, Pak Becak akan mendapat komisi dari hasil penjualannya. Konon, komisi itu bisa jauh lebih besar ketimbang tarif Rp 3.000,- yang dikenakan untuk penumpang.
Ketika pemalsuan kaos Dagadu Djokdja mulai sekitar tahun '98 (setelah krisis ekonomi melanda Tanah Air), sewaktu saya masih menjadi PR Dagadu Djokdja -yang asli doongg...-, saya sempet mendengar kabar bahwa komisi untuk Pak Becak bagi tiap lembar kaos yang terjual sekitar Rp 3.000 - Rp 5.000,-..! Kebetulan pula tempat tinggal saya nggak jauh dari kawasan para pemalsu ini. Setiap hari saya melintasinya dan menyaksikan kerumunan tukang becak yang mengharap komisi. (Setiap menjelang lebaran, Pak Becak juga sering mendapat paket sembako dan sarung dari para pemilik toko Dagadu palsu ini).
Suatu ketika saya pernah berniat iseng menjadi wisatawan yang mbecak dari Malioboro dengan menikmati tarif murah itu. "Ntar nyampe deket rumah minta turun. Jadi ongkosku mbecak bisa murah," kata saya pada seorang teman yang lantas ditimpali teman yang lain, "Huu...aku pernah dipisuhi tukang becak gara-gara begitu!"
Bangkok Gems Scam
Fenomena becak yang mengharap komisi penjualan ini tidak hanya ada di Jogja. Di Bangkok juga banyak tuk-tuk bertarif murah (cuma 20 THB atau sekitar Rp 6.000) untuk berkeliling di beberapa tempat wisata. Tapi bukan tukang tuk-tuk itu sendiri yang langsung menawarkan jasa murah, melainkan ada orang lain yang berperan sebagai corn-artist alias calo. Orang ini biasanya berkeliaran di kawasan wisata Bangkok, seperti di dekat Grand Palace, Khaosan Road, maupun Siam Square. Dengan bahasa Inggris yang cukup fasih, ia akan menyapa wisatawan dan kemudian berbaik hati menunjukkan obyek-obyek wisata tertentu yang menarik untuk dikunjungi.
Ah, saya jadi teringat pada pengalaman buruk ketika ke Bangkok untuk pertama kalinya. Ketika hendak menyeberang jalan menuju Grand Palace, seseorang mendekat dan menyapa dengan ramahnya. "Hi, where do you want to go?". Dan ketika saya meyebut Grand Palace, dengan ramah dia memberitahu, "Today is Buddhist holiday. The Palace is close and will be open at 2 PM," katanya. "But don't worry. You could go to other places. Have you been to Standing Buddha?" Lalu ia meraih peta Bangkok dari tangan saya. "Let me show you many interesting places in Bangkok," tambahnya. Dilingkarinya beberapa tempat menarik, diberinya nomor untuk masing-masing tempat sesuai dengan urutan.
Saya mulai tertarik dengan informasinya karena tempat-tempat yang disebutnya sebenarnya berada di luar target tujuan jalan-jalan kami. Nggak ada salahnya ke sana juga kan? Apalagi, ia juga mengatakan bahwa untuk mendukung promosi di hari libur umat Buddha ini, pemerintah memberikan subsidi pada tukang Tuk-tuk sehingga tarifnya pun bisa lebih murah. "You only pay for twenty Baht," katanya. "But only for the Yellow Tuk-tuk," tambahnya.
Saya pikir, Yellow Tuk-tuk adalah tuk-tuk yang dicat kuning. Tapi rupanya tuk-tuk itu tak berbeda dengan tuk-tuk lain, sama-sama kucel. Hehe...! Tuk-tuk itu sedang ngetem tak jauh dari kami sehingga ketika kami mendekat, dengan sigap dia langsung meyebut dirinya sebagai si yellow tuk-tuk driver.
Saya naik sambil menunjukkan peta yang sudah ditandai corn-artist tadi. Diantarnya kami ke Standing Buddha Temple yang memang keren. Bayangkan, patung Buddha berdiri itu begitu raksasa. Orang Thai memang gemar membangung patung-patung Buddha raksasa dari berbagai posisi: standing, slepping, sitting...!
Di obyek wisata pertama itu kami benar-benar puas. Hampir satu jam kami habiskan waktu untuk memotret dan melihat-lihat kawasan wisata itu. Lalu kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya. Pak tuk-tuk menghentikan kami di sebuah bangunan sepi, entah apa namanya. Kami disambut seseorang, "The temple is close because Monks are having their lunch," kata seseorang berpenampilan parlente sambil mempersilakan duduk di bangku dengan meja kecil di hadapannya. Saat itu memang jam makan siang. Dan kami pun mengisi waktu sembari ngobrol. Asyik juga ngobrol dengannya, bahasa Inggrisnya cukup fasih. Ngakunya sih, ia lama tinggal di Amerika, membuka bisnis Thai Restaurant di sana. Saat ini ia dan keluarganya tengah berlibur dalam rangka Buddhist holiday.
Obrolan ngalor-ngidul itu kemudian berujung pada promosinya tentang International Export Centre. Saya langsung membayangkan sebuah pameran besar yang digelar di JCC Senayan. Dia juga bercerita tentang diskon khusus untuk pembelian batu permata. Ditunjukkannya saya kwitansi dari pembeliannya yang nilainya ribuan dollar. Waw....! Katanya pula, hari ini adalah hari terakhir sale besar-besaran itu. Saya tergoda, bukan untuk membeli batu-batuan karena memang pada dasarnya kurang tertarik perhiasan, tetapi karena embel-embel "international export" yang disebutnya. Hhmmm..siapa tahu bisa menemukan benda-benda etnografi di sana.
Saya sungguh kecewa ketika tukang tuk-tuk itu mengantar kami ke sebuah toko sepi dan hanya menjual perhiasan dan batu permata. Tapi biar nggak terkesan aneh, saya pun pura-pura menikmati keindahan perhiasan yang dipajang di etalase. Si Mbak penjaga dengan agresif menawari kami. Kami menolak dan setelah satu putaran lalu keluar dari toko perhiasan itu. "I want to go to international export centre" kata saya pada tukang tuk-tuk yang sudah menghentikan kami di toko permata. "Yes, that is international export."
Saya ternganga. Kemudian saya minta Pak tuk-tuk mengantar ke obyek wisata saja. Dia menurunkan saya di sebuah temple, entah apa namanya. (Uhs, kok hanya Standing Buddha Temple aja yang saya ketahui namanya yak. Tapi memang temple-temple ini tidak berpapan nama.) Seperti temple sebelumnya, temple ini pun juga sepi. Tapi arsitekturnya cukup menarik, sehingga kami pun mengambil beberapa gambar. Saat lagi mau mejeng, tiba-tiba nyaris menabrak seseorang yang melintas dari samping. "Oh I'm sorry," kataku. "Are you a tourist?" Tanyanya kemudian. Saya memaklumi pertanyaan itu, karena wajah Jawa saya memang mirip dengan kebanyakan orang Thai, sehingga sering dituduh warga Thailand.
Orang itu mengaku berasal dari Sumatra Utara bermarga Sembiring tapi lama tinggal di London. Garis wajahnya tidak menunjukkan karakter Batak sama sekali, tapi juga nggak bule banget. Berkulit sawo matang, berhidung bangir. Mungkin blasteran melayu - bule. Logat Inggrisnya memang London sih (halah, baru sekali ke London udah sok familiar nih). Bahasa Inggris yang mengalir cepat tapi dengan volume yang rendah. Biasanya kalo Inggris bukan mother tounge, pasti ngomongnya sambil kayak mbengok-bengok alias teriak..hehehe...
Merasa sama-sama turis, kami pun ngobrol sambil mengelilingi temple yang sepi. (Heran, nggak ada satupun wisatawan lain selain kami). Obrolan kami ternyata juga sampai pada bahasan gems & stones yang tidak menarik itu. "Yes, I've been there. May be I've to think twice to buy," kata saya ketika dia menyebut International Export Centre. "You crazy, you don't buy it. You crazy. You could sell them in your country in high price," katanya dengan berkali-kali menyebut "you crazy". Saya cuma tertawa. Lalu dikeluarkannya kwitansi pembelian permata dari tasnya. Dia bilang sudar berkali-kali ke Bangkok untuk membeli permata dan kemudian menjualnya di London dan Paris dengan harga dua atau tiga kali lipat.
Lalu dia merekomendasikan salah satu toko permata langganannya. Nama toko itu dituliskannya di peta lipat yang selalu saya tenteng. Dalam hati saya membatin, males ah ke toko permata lagi. Saya kan nggak hobi perhiasan.
Ketika keluar dari temple, tukang tuk-tuk bertanya saya pengin ke mana. "Grand Palace, please." Saya sudah kepengin ke sana sejak tadi. "The Palace still close," jawabnya. Saya lirik jam tangan memang belum jam dua. Lalu ia meminta saya memperlihatkan peta lipat Setelah itu ia menyalakan tuk-tuknya. Saya tak tahu mau dibawa ke mana lagi, pokoknya jam dua siang harus ke Grand Palace.
Ternyata ia menghentikan kami di depan sebuah toko sepi lagi. Yang saya yakin itu toko permata lagi. "Don't stop here, please. I don't like jewellery!" Teriak saya. Dengan bahasa Inggris patah-patah, Pak tuk-tuk bilang bahwa dia butuh kupon untuk makan. Dengan membeli sesuatu di toko itu, dia akan mendapat kupon makan.
Hhhmm...gelagat buruk percaloan ini mulai kami tangkap. Apalagi ketika kami keluar dari toko dan tak membeli sesuatu. Dia mengatakan bahwa dia butuh kupon. Kemudian dibawanya kami ke sebuah toko permata berhalaman luas dengan mobil-mobil terparkir di sana. Begitu kami masuk, kami langsung disambut dengan seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Di antarnya kami melintasi workshop para pengrajin batu permata (mirip seperti workshop perak di Kotagede), sebelum kemudian sampai di ruangan yang penuh dengan etalase-etalase berisi batu permata.
Saat itu saya baru tersadar bahwa kami memang tengah digiring untuk belanja batu permata. Pak tuk-tuk dan para calo yang bertebaran di kawasan Khaosan Road, maupun yang menanti mangsa di temple-temple itu akan mendapat komisi dari penjualan. Itu berarti, pedagang permata ini harus memark-up harga batu setinggi mungkin untuk dapat memberikan komisi pada para corn-artist itu.
Duh..! Saya terlongong-longong. Tapi sekaligus mengagumi strategi mereka yang hebat. Jauh lebih canggih ketimbang praktek calo bakpia dan dagadu palsu di Jogja. Para corn-artist ini tak hanya mengambil keuntungan ekonomis dari para wisatawan, tapi juga sudah menipu mentah-mentah dengan dalih "Buddhist Holiday". Tahu nggak, ketika kemudian kami diturunkan di dekat Grand Palace dan kami berjalan menuju pintu gerbangnya, kekecewaan maha dahsyat menyelimuti perasaan saya. Di gerbang masuk Grand Palace itu tertulis Open Daily 8 am - 3 pm. Dan sekarang sudah jam tiga kurang beberapa menit, loket sudah tutup. (Wahai dinas pariwisata Thailand, mereka harus dibasmi dan dimusnahkan! Tindakan mereka sungguh merugikan bagi citra turisme Thailand).
Saya pengin misuh. Memisuhi ketololan saya yang bagai kena hipnotis terhasut para corn-artist. Berjam-jam saya menghabiskan waktu mengitari Bangkok dengan yellow tuk-tuk keparat itu. Saya merasa malu, sudah menjadi pelancong yang tertipu. (Eh, ternyata hal yang menyakitkan sudah kena tipu itu bukan pada persoalan angka-angka, tapi lebih pada harga diri).
Malamnya di hotel, saya habiskan waktu untuk menelusur jejak para gem-scam lewat internet. Uh, ternyata memang modus operandinya mirip dengan yang dilakukannya terhadap saya.
Beikut ini sekedar tips untuk menghidari Bangkok's Scam yang nggak cuma menjadi makelar batu permata, tetapi juga restoran dan transportasi terutama jalur darat ke Angkor Wat (Cambodia). Sebenarnya rambu-rambu peringatan itu sudah dipasang di banyak tempat, sayangnya memang kurang eye-chatching. Jadi, mendingan begini aja:
Yup, memang cuma tiga ribu rupiah untuk rute dari Malioboro ke pusat Dagadu (palsu) dan Batik di Rotowijayan, kemudian sebelum kembali ke Malioboro mampir dulu di Pathok (Jl. K.S Tubun) yang merupakan kawasan pedagang bakpia. Beberapa di antaranya malah ada yang memasang tarif lebih murah Rp 2.000,-. Tarif itu rasanya memang nggak masuk akal mengingat jarak tempuh dari Malioboro ke Rotowijayan (dekat Kraton) kemudian balik ke utara dan ke barat dikit di Pathok, baru kembali ke Malioboro. Jarak tempuhnya kurang lebih sekitar 5 km.
Sementara itu tarif normal tukang becak untuk jarak tempuh sejauh itu biasanya mencapai lebih dari Rp 10.000. Kecuali kalau kebetulan dapat becak yang sekalian jalan pulang, sehingga harganya masih bisa dinego. Saya sendiri kalau kebetulan iseng naik becak setelah belanja dari Beringharjo ke rumah, di timur Pasar Ngasem, yang nggak jauh dari kawasan batik dan penjual kaos Dagadu palsu, biasanya kena tarif Rp 5.000. Itupun setelah nego. Penawaran pertama yang mereka berikan rata-rata Rp 6.000 - Rp 7.000. Walaupun ada juga yang meminta Rp 10.000,-
Jadi, kalau tarif normal one-way dari Malioboro ke Ngasem saja Rp 5.000,- artinya kalau return alias balik lagi ke Malioboro mustinya kan dua kali lipatnya. Apalagi dari Ngasem dan Rotowijayan itu kalau nggenjot ke arah utara (Pathok dan Malioboro) lebih berat, karena jalannya sedikit menanjak. Tapi, untuk wisawatan yang mau belanja batik, bakpia, dan dagadu Pak Becak memberinya tarif khusus: cuma Rp 3.000,- saja.
Ini bukan dalam rangka turut mensukseskan pariwisata Jogja, lho. Tarif murah Pak Becak itu merupakan hasil kerjasama antar para tukang becak dengan pedagang batik dan dagadu di Rotowijayan serta pedagang baktia di Pathok. Mereka sudah berkong-kalikong. Jika Pak Becak bisa mengantar wisatawan ke tokonya dan melakukan transaksi senilai tertentu, Pak Becak akan mendapat komisi dari hasil penjualannya. Konon, komisi itu bisa jauh lebih besar ketimbang tarif Rp 3.000,- yang dikenakan untuk penumpang.
Ketika pemalsuan kaos Dagadu Djokdja mulai sekitar tahun '98 (setelah krisis ekonomi melanda Tanah Air), sewaktu saya masih menjadi PR Dagadu Djokdja -yang asli doongg...-, saya sempet mendengar kabar bahwa komisi untuk Pak Becak bagi tiap lembar kaos yang terjual sekitar Rp 3.000 - Rp 5.000,-..! Kebetulan pula tempat tinggal saya nggak jauh dari kawasan para pemalsu ini. Setiap hari saya melintasinya dan menyaksikan kerumunan tukang becak yang mengharap komisi. (Setiap menjelang lebaran, Pak Becak juga sering mendapat paket sembako dan sarung dari para pemilik toko Dagadu palsu ini).
Suatu ketika saya pernah berniat iseng menjadi wisatawan yang mbecak dari Malioboro dengan menikmati tarif murah itu. "Ntar nyampe deket rumah minta turun. Jadi ongkosku mbecak bisa murah," kata saya pada seorang teman yang lantas ditimpali teman yang lain, "Huu...aku pernah dipisuhi tukang becak gara-gara begitu!"
Bangkok Gems Scam
Fenomena becak yang mengharap komisi penjualan ini tidak hanya ada di Jogja. Di Bangkok juga banyak tuk-tuk bertarif murah (cuma 20 THB atau sekitar Rp 6.000) untuk berkeliling di beberapa tempat wisata. Tapi bukan tukang tuk-tuk itu sendiri yang langsung menawarkan jasa murah, melainkan ada orang lain yang berperan sebagai corn-artist alias calo. Orang ini biasanya berkeliaran di kawasan wisata Bangkok, seperti di dekat Grand Palace, Khaosan Road, maupun Siam Square. Dengan bahasa Inggris yang cukup fasih, ia akan menyapa wisatawan dan kemudian berbaik hati menunjukkan obyek-obyek wisata tertentu yang menarik untuk dikunjungi.
Ah, saya jadi teringat pada pengalaman buruk ketika ke Bangkok untuk pertama kalinya. Ketika hendak menyeberang jalan menuju Grand Palace, seseorang mendekat dan menyapa dengan ramahnya. "Hi, where do you want to go?". Dan ketika saya meyebut Grand Palace, dengan ramah dia memberitahu, "Today is Buddhist holiday. The Palace is close and will be open at 2 PM," katanya. "But don't worry. You could go to other places. Have you been to Standing Buddha?" Lalu ia meraih peta Bangkok dari tangan saya. "Let me show you many interesting places in Bangkok," tambahnya. Dilingkarinya beberapa tempat menarik, diberinya nomor untuk masing-masing tempat sesuai dengan urutan.
Saya mulai tertarik dengan informasinya karena tempat-tempat yang disebutnya sebenarnya berada di luar target tujuan jalan-jalan kami. Nggak ada salahnya ke sana juga kan? Apalagi, ia juga mengatakan bahwa untuk mendukung promosi di hari libur umat Buddha ini, pemerintah memberikan subsidi pada tukang Tuk-tuk sehingga tarifnya pun bisa lebih murah. "You only pay for twenty Baht," katanya. "But only for the Yellow Tuk-tuk," tambahnya.
Saya pikir, Yellow Tuk-tuk adalah tuk-tuk yang dicat kuning. Tapi rupanya tuk-tuk itu tak berbeda dengan tuk-tuk lain, sama-sama kucel. Hehe...! Tuk-tuk itu sedang ngetem tak jauh dari kami sehingga ketika kami mendekat, dengan sigap dia langsung meyebut dirinya sebagai si yellow tuk-tuk driver.
Saya naik sambil menunjukkan peta yang sudah ditandai corn-artist tadi. Diantarnya kami ke Standing Buddha Temple yang memang keren. Bayangkan, patung Buddha berdiri itu begitu raksasa. Orang Thai memang gemar membangung patung-patung Buddha raksasa dari berbagai posisi: standing, slepping, sitting...!
Di obyek wisata pertama itu kami benar-benar puas. Hampir satu jam kami habiskan waktu untuk memotret dan melihat-lihat kawasan wisata itu. Lalu kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya. Pak tuk-tuk menghentikan kami di sebuah bangunan sepi, entah apa namanya. Kami disambut seseorang, "The temple is close because Monks are having their lunch," kata seseorang berpenampilan parlente sambil mempersilakan duduk di bangku dengan meja kecil di hadapannya. Saat itu memang jam makan siang. Dan kami pun mengisi waktu sembari ngobrol. Asyik juga ngobrol dengannya, bahasa Inggrisnya cukup fasih. Ngakunya sih, ia lama tinggal di Amerika, membuka bisnis Thai Restaurant di sana. Saat ini ia dan keluarganya tengah berlibur dalam rangka Buddhist holiday.
Obrolan ngalor-ngidul itu kemudian berujung pada promosinya tentang International Export Centre. Saya langsung membayangkan sebuah pameran besar yang digelar di JCC Senayan. Dia juga bercerita tentang diskon khusus untuk pembelian batu permata. Ditunjukkannya saya kwitansi dari pembeliannya yang nilainya ribuan dollar. Waw....! Katanya pula, hari ini adalah hari terakhir sale besar-besaran itu. Saya tergoda, bukan untuk membeli batu-batuan karena memang pada dasarnya kurang tertarik perhiasan, tetapi karena embel-embel "international export" yang disebutnya. Hhmmm..siapa tahu bisa menemukan benda-benda etnografi di sana.
Saya sungguh kecewa ketika tukang tuk-tuk itu mengantar kami ke sebuah toko sepi dan hanya menjual perhiasan dan batu permata. Tapi biar nggak terkesan aneh, saya pun pura-pura menikmati keindahan perhiasan yang dipajang di etalase. Si Mbak penjaga dengan agresif menawari kami. Kami menolak dan setelah satu putaran lalu keluar dari toko perhiasan itu. "I want to go to international export centre" kata saya pada tukang tuk-tuk yang sudah menghentikan kami di toko permata. "Yes, that is international export."
Saya ternganga. Kemudian saya minta Pak tuk-tuk mengantar ke obyek wisata saja. Dia menurunkan saya di sebuah temple, entah apa namanya. (Uhs, kok hanya Standing Buddha Temple aja yang saya ketahui namanya yak. Tapi memang temple-temple ini tidak berpapan nama.) Seperti temple sebelumnya, temple ini pun juga sepi. Tapi arsitekturnya cukup menarik, sehingga kami pun mengambil beberapa gambar. Saat lagi mau mejeng, tiba-tiba nyaris menabrak seseorang yang melintas dari samping. "Oh I'm sorry," kataku. "Are you a tourist?" Tanyanya kemudian. Saya memaklumi pertanyaan itu, karena wajah Jawa saya memang mirip dengan kebanyakan orang Thai, sehingga sering dituduh warga Thailand.
Orang itu mengaku berasal dari Sumatra Utara bermarga Sembiring tapi lama tinggal di London. Garis wajahnya tidak menunjukkan karakter Batak sama sekali, tapi juga nggak bule banget. Berkulit sawo matang, berhidung bangir. Mungkin blasteran melayu - bule. Logat Inggrisnya memang London sih (halah, baru sekali ke London udah sok familiar nih). Bahasa Inggris yang mengalir cepat tapi dengan volume yang rendah. Biasanya kalo Inggris bukan mother tounge, pasti ngomongnya sambil kayak mbengok-bengok alias teriak..hehehe...
Merasa sama-sama turis, kami pun ngobrol sambil mengelilingi temple yang sepi. (Heran, nggak ada satupun wisatawan lain selain kami). Obrolan kami ternyata juga sampai pada bahasan gems & stones yang tidak menarik itu. "Yes, I've been there. May be I've to think twice to buy," kata saya ketika dia menyebut International Export Centre. "You crazy, you don't buy it. You crazy. You could sell them in your country in high price," katanya dengan berkali-kali menyebut "you crazy". Saya cuma tertawa. Lalu dikeluarkannya kwitansi pembelian permata dari tasnya. Dia bilang sudar berkali-kali ke Bangkok untuk membeli permata dan kemudian menjualnya di London dan Paris dengan harga dua atau tiga kali lipat.
Lalu dia merekomendasikan salah satu toko permata langganannya. Nama toko itu dituliskannya di peta lipat yang selalu saya tenteng. Dalam hati saya membatin, males ah ke toko permata lagi. Saya kan nggak hobi perhiasan.
Ketika keluar dari temple, tukang tuk-tuk bertanya saya pengin ke mana. "Grand Palace, please." Saya sudah kepengin ke sana sejak tadi. "The Palace still close," jawabnya. Saya lirik jam tangan memang belum jam dua. Lalu ia meminta saya memperlihatkan peta lipat Setelah itu ia menyalakan tuk-tuknya. Saya tak tahu mau dibawa ke mana lagi, pokoknya jam dua siang harus ke Grand Palace.
Ternyata ia menghentikan kami di depan sebuah toko sepi lagi. Yang saya yakin itu toko permata lagi. "Don't stop here, please. I don't like jewellery!" Teriak saya. Dengan bahasa Inggris patah-patah, Pak tuk-tuk bilang bahwa dia butuh kupon untuk makan. Dengan membeli sesuatu di toko itu, dia akan mendapat kupon makan.
Hhhmm...gelagat buruk percaloan ini mulai kami tangkap. Apalagi ketika kami keluar dari toko dan tak membeli sesuatu. Dia mengatakan bahwa dia butuh kupon. Kemudian dibawanya kami ke sebuah toko permata berhalaman luas dengan mobil-mobil terparkir di sana. Begitu kami masuk, kami langsung disambut dengan seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Di antarnya kami melintasi workshop para pengrajin batu permata (mirip seperti workshop perak di Kotagede), sebelum kemudian sampai di ruangan yang penuh dengan etalase-etalase berisi batu permata.
Saat itu saya baru tersadar bahwa kami memang tengah digiring untuk belanja batu permata. Pak tuk-tuk dan para calo yang bertebaran di kawasan Khaosan Road, maupun yang menanti mangsa di temple-temple itu akan mendapat komisi dari penjualan. Itu berarti, pedagang permata ini harus memark-up harga batu setinggi mungkin untuk dapat memberikan komisi pada para corn-artist itu.
Duh..! Saya terlongong-longong. Tapi sekaligus mengagumi strategi mereka yang hebat. Jauh lebih canggih ketimbang praktek calo bakpia dan dagadu palsu di Jogja. Para corn-artist ini tak hanya mengambil keuntungan ekonomis dari para wisatawan, tapi juga sudah menipu mentah-mentah dengan dalih "Buddhist Holiday". Tahu nggak, ketika kemudian kami diturunkan di dekat Grand Palace dan kami berjalan menuju pintu gerbangnya, kekecewaan maha dahsyat menyelimuti perasaan saya. Di gerbang masuk Grand Palace itu tertulis Open Daily 8 am - 3 pm. Dan sekarang sudah jam tiga kurang beberapa menit, loket sudah tutup. (Wahai dinas pariwisata Thailand, mereka harus dibasmi dan dimusnahkan! Tindakan mereka sungguh merugikan bagi citra turisme Thailand).
Saya pengin misuh. Memisuhi ketololan saya yang bagai kena hipnotis terhasut para corn-artist. Berjam-jam saya menghabiskan waktu mengitari Bangkok dengan yellow tuk-tuk keparat itu. Saya merasa malu, sudah menjadi pelancong yang tertipu. (Eh, ternyata hal yang menyakitkan sudah kena tipu itu bukan pada persoalan angka-angka, tapi lebih pada harga diri).
Malamnya di hotel, saya habiskan waktu untuk menelusur jejak para gem-scam lewat internet. Uh, ternyata memang modus operandinya mirip dengan yang dilakukannya terhadap saya.
Beikut ini sekedar tips untuk menghidari Bangkok's Scam yang nggak cuma menjadi makelar batu permata, tetapi juga restoran dan transportasi terutama jalur darat ke Angkor Wat (Cambodia). Sebenarnya rambu-rambu peringatan itu sudah dipasang di banyak tempat, sayangnya memang kurang eye-chatching. Jadi, mendingan begini aja:
- Berhati-hatilah jika sedang di kawasan wisata seperti Khasan Road, Grand Palace, dan Siam Square
- Abaikan sapaan ramah orang Thailand yang fasih berbahasa Inggris
- Tolaklah mentah-mentah ketika mereka mulai sok tau dengan menunjukkan tempat-tempat tertentu
- Kalau mereka menunjukkan kwitansi pembelian benda-benda berharga, jangan lantas pecaya. Itu kwitansi palsu yang mereka bikin sendiri. Soalnya, saya ingat betul, font alaias tulisan tangan yang tertera di kwitansi yang ditunjukkan corn-artis pertama dan kedua sama persis tuh, meski nominalnya berbeda.
- Percayalah pada Lonely Planet atau guide-book dan map yang Anda baca. Hehee...
Sunday, October 14, 2007
Saturday, October 13, 2007
lebaran di magangan
lebaran di jogja selalu ditandai dgn arakan prajurit yg mengiring gunungan. sebelum mengangat gunungan..sungkeman dulu dgn sang pangeran..
-prajurit daeng & gusti yudhaningrat di bangsal kemagangan-
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
-prajurit daeng & gusti yudhaningrat di bangsal kemagangan-
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Monday, March 26, 2007
jalan depan rumah
rindangnya pohon2 tanjung yg berjejer di pinggir jalan..bikin tukang becak nglaras leyeh2..
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
---- Sent using a Sony Ericsson mobile phone
Subscribe to:
Posts (Atom)





