borneo river cruise


Sebagain dari masa kecil saya pernah saya lalui di sebuah desa yang dialiri sungai. Sungai itu melintas persis di depan tempat tinggal kami. Jika musim hujan airnya mengalir deras berwarna kecoklatan karena bercampur lumpur. Sebaliknya jika musim kemarau datang, air sungai itu menjadi jernih hijau berkilau diterpa sinar matahari.

Sebagai bocah yang lahir di kota, sungai desa itu merupakan daya pikat yang luar biasa buat saya. Hampir setiap hari saya menceburkan tubuh mungil saya ke dalamnya. Mula-mula berbekal ban dalam mobil yang sudah dipompa supaya nggak tenggelam. Setelah bisa berenang, meskipun gaya kampung, saya berani salto alias melompat dari atas jembatan. Bbbyyuurrr…!

Setelah kembali tinggal di kota, rekreasi sungai itu praktis nggak pernah saya nikmati lagi. Mana ada sih sungai di tengah kota di Indonesia yang masih bersih? Hampir semua sungai di tengah kota berwarna keruh, dangkal karena sampah dengan bantaran padat penduduk (miskin). Jangankan untuk berenang, dipandang mata pun sama sekali nggak sedap. Dan kalau didekati baunya menyengat.

Akibatnya, orang-orang (kaya) Indonesia yang pengin menikmati sungai harus pergi ke luar negeri. Menghabiskan ratusan dollar hanya untuk minum kopi di pinggiran sungai di Amsterdam, naik gondola di Venice, berperahu sungai Thames di London, atau yang paling dekat menyusuri Singapore River. Bagi yang nggak mampu membayar karcis perahu, seperti saya, cukuplah berpose dengan latar sungai-sungai “mahal” yang membelah kota tersebut.

Saya jadi teringat saat mengikuti paket one day tour di Skotlandia. Sebenarnya tujuan utama tour itu adalah ke Stirling, kota-nya William Wallace. Dalam perjalanan menuju Stirling ada beberapa obyek wisata yang disinggahi, antara lain Balloch Village. Kami diturunkan persis di bawah jembatan, di pinggir sungai yang dipenuhi kapal. Bus akan berhenti selama satu jam dan penumpang boleh menyusuri sungai Balloch dengan kapal wisata. Tentu saja karcis kapal yang seharga sekian poundsterling itu nggak termasuk dalam paket wisata alias harus bayar lagi. Sebagai pelancong kere, saya memilih nggak naik kapal meskipun sebenarnya pengin banget. Saya kan selalu bergairah kalau melihat sungai, apalagi menyusurinya.

Hasrat bermain air sungai biasanya baru bisa terpuaskan ketika saya pergi ke Borneo, sebutan eksotis untuk pulau Kalimantan. Memang sih nggak bisa nyebur ke kali seperti waktu kecil dulu, tapi cuma sebatas naik perahu menyusur sungai sambil melihat anak-anak kecil yang girang bermain air di sungai. Naik perahu di Kalimantan tarifnya murah deh, hanya dengan seribu perak sudah bisa berketinting menyeberangi sungai Kapuas di Pontianak. Bolak-balik cuma dua ribu perak. Karena masih belum terpuaskan, saya sering meminta pemilik ketinting untuk menyusur sungai lebih jauh lagi. Dikasih sepuluh ribu si bapak juga sudah kegirangan kok. Malah pernah pula saya sengaja mencarter satu jam lebih untuk puter-puter sepanjang Kapuas dengan bayaran lima puluh ribu rupiah yang sudah membuat si bapak ketinting bahagia tak terkira begitu menerimanya.

Secara khusus sebenarnya nggak ada atraksi menarik di sungai Kapuas. Nggak ada pasar terapung seperti di Banjarmasin yang sudah menjadi obyek wisata. Tapi kalau kita berketinting sore hari di Kapuas, kita bisa menikmati pemandangan yang eksotis: banyak orang mandi! Hehe…! Menjelang senja di Kapuas juga cukup indah untuk dinikmati. Langit yang menjadi jingga diiringi suara adzan dari Masjid Jami’, masjid tertua di Pontianak, dan orang-orang yang beriringan menuju masjid untuk menjalankan sholat magrib membawa kita pada suasana syahdu.

Dari sungai Kapuas kita juga bisa menumpang kapal ke kota-kota kabupaten di pedalaman Kalbar. Atau bahkan ke Kaltim, nyambung ke sungai Mahakam. Bagi warga Kalimantan, sungai tak ubahnya sebuah jalan raya yang menghubungkan berbagai daerah hingga lintas propinsi. Dulu sebelum transportasi darat dan udara berkembang, sungai adalah satu-satunya pilihan transportasi AKAP (antar kota antar propinsi). Karena sungai menjadi jalan untuk lalulalang kapal, di beberapa titik juga dilengkapi rambu-rambu sungai yang membantu nahkoda mengemudikan kapal dengan aman.

Saya pernah naik boat dari Banjarmasin (Kalsel) ke kota Kuala Kapuas (Kalteng) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam menyusuri sungai Martapura. Karena jarak tempuh yang cukup singkat, travelling by boat itu pun bisa dilakukan secara ulang-alik. Berangkat dari Banjarmasin pagi, sampai di Kuala Kapuas jalan-jalan sampai puas, dan setelah itu kembali lagi ke Banjar. Sekali dayung, dua propinsi terlampaui.

Pengalaman mengarungi sungai di Kalimantan yang paling mengesan adalah saat menyusuri Mahakam, sungai terbesar di Kaltim yang lebarnya hampir 1 km dan panjangnya mencapai 920 km. Dengan iming-iming kalau beruntung bisa melihat Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) , saya rela menghabiskan waktu sehari semalam di atas sungai Mahakam dengan rute Samarinda (hilir) - Melak (hulu). Kapal motor atau taksi air dengan brand “Putra Mahakam” itu berangkat dari Samarinda sekitar pukul 7 pagi dan tiba di Melak keesokan harinya menjelang matahari terbit.

Taksi air yang mampu menampung hingga 60 orang ini terdiri dari dua dek, atas dan bawah, dengan tariff tiket yang berbeda pula. Dek bagian bawah adalah kelas ekonomi yang nggak dilengkapi tempat duduk apalagi kasur. Hanya beralas karpet plastik untuk duduk lesehan atau berbaring diantara tumpukan barang berupa sembako yang didistribusikan ke padalaman Kaltim. Juga ada sepeda, motor, dan segala macam barang. Dek di lantai dua dilengkapi tempat tidur terbuat dari busa tipis dengan ukuran selebar matras alias selebar badan. Kasur ini diletakkan di atas papan setinggi sekitar 50cm dari lantai yang berfungsi ganda sebagai locker untuk menyimpan barang kita. Kasur tersebut disusun berderet tanpa batas. Sehingga kadang-kadang tanpa sadar kita bisa tidur berhadap-hadapan dengan orang tak dikenal hanya berjarak sekitar 5 senti!

Karena tempat di dek sempit, saya dan teman-teman lebih suka duduk di anjungan. Lagipula bisa menikmati pemandangan alam Borneo dengan lebih leluasa. Tentu saja sambil berharap melihat ikan Pesut Mahakam atau lumba-lumba air tawar yang konon suka menongolkan diri di sekitar Muara Kaman hingga Melak di pagi hari atau menjelang senja. Meski sebenarnya saya cukup sadar bahwa kerusakan lingkungan turut berperan dalam kelangkaan populasi hewan mamalia air ini.

Toh ada pemandangan menarik lain yang bisa dinikmati seharian di atas perahu motor yang membelah belantara wilayah Kutai ini. Buat saya menarik itu bukan selalu berarti sesuatu yang indah. Tetapi sesuatu yang membuat saya nggak sekedar ingin memandanginya, namun merenungkan atau memikirkannya. Setelah menyusuri Mahakam ke pedalaman Kaltim itu saya baru tahu bahwa hutan-hutan di Kalimantan memang beneran udah gundul. Bayangan saya tentang rerimbunan pohon-pohon gede di sepanjang Mahakam sirna seketika.

Dengan menyusur sungai saya juga bisa melihat kehidupan masyarakat Dayak yang tinggal di atas rumah papan di sepanjang sungai. Mereka mandi, mencuci, mengambil air minum dari Sungai Mahakam. Juga mencari ikan dengan ketinting kecil.

Keriuhan "pasar air" juga bisa dinikmati ketika kapal yang kami tumpangi menepi di dermaga kecil dekat pemukiman penduduk untuk menaikkan atau menurunkan. Dari kejauhan sudah banyak ketinting yang menghampiri, berebut mendekat. Mereka adalah penjaja makanan. Beragam makanan yang mereka jual, ada makanan tradisional, pisang goreng, juga nasi kuning dan lauknya. Serbuan penjaja makanan berketinting membuat kami yang lagi kongko-kongko di anjungan berbondong turun ke bawah. Jajan aneka makanan jadi hiburan tersendiri di atas Mahakam. Habis, mau ngapain lagi kalau nggak ngemil dan ngobrol?

Yang repot begitu kebanyakan minum dan kekenyangan lantas kebelet pipis atau be-a-be. Toilet di taksi air ini minimalis banget. Hanya sebuah bilik kecil berpintu kecil. Nggak ada bak mandi ataupun closet. Yang ada hanyalah sebuah lubang di geladak kapal dan sebuah ember plastik kecil bertali. Dari lubang itu kita bisa langsung melihat air sungai mahakam yang bergelombang di bawah kapal. Lubang itu berfungsi ganda, selain untuk buang air juga untuk menimba air sungai. Jadi sebelum buang air, kita musti nimba air duluan dan setelah itu baru jongkok membuang air. Kalau jongkok duluan baru nimba air, bisa-bisa yang kita buang ikut tertimba. Kan berabe tuh!

Comments