menyusuri kota di atas papan


Sejak masih kuliah, saya selalu bermimpi bisa mengunjungi Papua, terutama suku Asmat yang terkenal dengan seni ukirnya itu. Ngiri rasanya, konon dunia Barat sudah mengenal suku Asmat sejak abad 16 loh. Mula-mula adalah Jan Carstenz, penjelajah Belanda yang melihat orang Asmat pada tahun 1623. Kemudian Kapten James Cook dan awak kapalnya yang merapat di perairan Asmat pada tahun 1770. Dalam catatan perjalanannya James Cook mengisahkan bahwa mereka muncul tiba-tiba dari balik hutan dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Ketika Cook melepaskan tembakan, mereka segera masuk ke hutan tapi tak lama kemudian justru puluhan perahu balik menyerbu James Cook.

Dua dekade kemudian, pada tahun 1900-an, setelah Belanda mendirikan kantor VOC di Merauke, barulah orang Eropa berhasil melakukan kontak dengan suku Asmat. Orang-orang Eropa ini pun jatuh cinta dengan seni ukir Asmat yang dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat Asmat dengan leluhurnya. Dasar otak pedagang, ukir-ukiran Asmat ini juga dijadikan komoditi Belanda, dikirim ke Eropa dan dipasarkan di sana. Akibatnya, orang Eropa pun berbondong-bondong datang ke Asmat, pengin melihat langsung kehidupan suku di pedalam Papua yang memiliki keahlian mengukir dan konon juga dikenal sebagai head-hunter alias pemburu kepala.

Hingga kini tradisi mengunjungi Asmat untuk memborong ukiran masih berlangsung. Tiap tahun, tiap bulan Oktober digelar Festival Budaya Asmat di Agats, ibukota kabupaten Asmat. Kalau lagi festival, sungai Atsewtsy yang menghubungkan kota Agats dengan bandara Ewer, konon akan dipenuhi kapal-kapal bermuatan kontainer besar. Para saudagar dan kolektor bule yang berburu ukiran itu pun memborong habis berbagai jenis ukiran yang sudah disiapkan masyarakat setempat sejak beberapa bulan sebelum festival.

Bukti kegilaan orang Barat akan seni ukir Asmat ini bisa dilihat di Asmat Art Galerie Konrad yang ada di Jerman dan America Museum of Asmat Art yang dikelola Universitas St. Thomas. Sementara itu, kita orang Indonesia sendiri, nggak punya museum selengkap yang mereka miliki. Tragis sekali kan?

Mimpi mengunjungi Asmat itu baru kesampaian pada tahun 2006, sekitar 9 tahun setelah saya lulus kuliah. Weleh, lama banget baru kesampaian. Itu pun dalam rangka business-trip yang dibayarin perusahaan, karena tabungan saya masih belum cukup buat liburan sendiri ke Asmat.

Negeri yang eksotis itu ternyata tak mudah untuk ditempuh. Jadwal penerbangan dari Timika ke Ewer dengan pesawat twin otter terpaksa tertunda sehari, karena cuaca buruk. Terpaksalah saya dan 2 rekanan kerja, cewek-cewek pula, menginap semalam lagi di Timika. Padahal suasana kota Timika ketika itu sedang genting, lagi seru-serunya demo antri Freeport. Di persimpangan jalan menuju bandara dan hotel Sheraton tempat kami menginap, dijaga ketat oleh orang-orang berkulit hitam berwajah garang lengkap dengan tombak dan busur di tangannya. (Sepekan setelah saya kembali ke Jogja, massa menyerbu Hotel Sheraton hingga ditutup untuk beberapa saat). Rasa was-was malam itu membuat saya nggak bisa sepenuhnya menikmawi eksotisnya kamar di hotel Sheraton yang dikelilingi hutan hujan tropis yang menghantarkan aroma basah yang khas. Tahu nggak sih, hanya sekitar 5 meteran dari jendela kamar sudah membentang hutan dihuni aneka burung yang ketika subuh datang sudah mengoceh bersahutan membangunkan saya.

Esok paginya, setelah melakukan kontak dengan bandara dan memastikan keberangkatan pesawat, barulah kami bisa terbang beneran menuju tanah impian. Penerbangan hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit, melintasi kelokan sungai-sungai dan hutan. Sesampai di bandara Ewer, kami harus melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Atsewetsy dengan boat menuju Agats. Ongkos sewa per boat waktu itu Rp 250.000 yang bisa diisi dengan 4-5 penumpang. Atau 50 ribu per kepala. 20 menit kemudian, menepilah boat kami di dermaga kecil. Welcome to Agats, dan horeee...ada sinyal Telkomsel. Satu-satunya operator yang kala itu mengjangkau kota Agats dan sekitarnya meskipun hanya menggunakan tower kecil.

Melompat keluar dari boat, kami menapaki jalan papan yang nggak putus-putus. Sampai terasa capai dan berat oleh ransel di gendongan. "Masih jauh nggak?" tanya saya pada Fikram, rekan yang menjemput di Ewer. Mbak Jowvy yang menggendong 2 ransel juga mulai nggak sabar pengin melepas bebannya. Tempat yang kami tuju adalah rumah dinas Pemda yang kebetulan kosong, yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 3 hari di Agats. Tak ada kendaraan bermotor yang boleh melintas di atas jalan papan ini, bahkan sepeda pun sepanjang yang terlihat hanya sepeda anak-anak. Semua penghuni kota di atas papan ini, termasuk Pak Bupati harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

Imajinasi saya tentang Asmat dan ukirannya perlahan memudar begitu melihat kondisi Agats. Saya kira pengukir-pengukir itu bertebaran di penjuru Agats. Ternyata sulit juga menemukannya. "Kalau ke sini bulan Oktober, baru banyak ukiran," kata mereka. Satu-satunya galeri ukiran yang ada di Agats adalah milik Otto. Itupun stok ukirannya tidak terlalu banyak karena umumnya orang Asmat baru mulai mengukir menjelang bulan festival. "Mungkin di Atsy banyak. Coba nanti cari di jaw," saran Pak Sorring yang kala itu menjabat sebagai wakil bupati. Atsy adalah nama distrik yang jauhnya sekitar 2.5 jam dengan perahu boat, one-way. Jaw adalah sebuatan untuk rumah adat suku Asmat, tempat berkumpulnya para lelaki dewasa sambil mengerjakan ukiran. Atas kebaikan Pak Sorring pula kami bisa ke Atsy yang ongkos sewa boatnya adalah 1 juta rupiah one-way. Untung dibayarin. Tapi jawaban yang kami terima di Atsy pun sama, "Nanti bulan Oktober baru banyak warga yang bikin ukiran."

Yah, kalau harus balik ke Agats lagi di bulan Oktober, rasanya kok nggak mampu. Mahal di transport! Jadilah hanya jalan-jalan papan dan berperahu yang menjadi agenda trip selama di Agats. Sehari-hari kami menikmati pemandangan anak-anak yang bermain lumpur becek di bawah bentangan jalan papan. Nyaris tak ada lahan kering di sini, kalau pun ada cuma beberpa meter luasnya dan segera diserbu anak-anak untuk bermain bola. Di beberapa tempat juga terdapat aliran sungai kecil yang bisa dilintasi perahu menjadi tempat favorit untuk memancing atau sekedar mandi. Kalau musim hujan, jalan di bawah papan bisa tergenang air. Karena itu hampir setiap rumah memiliki perahu yang siap digunakan sewaktu-waktu.

Daratan di Agats memang berupa rawa-rawa yang tidak cukup kuat dijadikan landasan bangunan. Hanya tiang-tiang kayu yang bisa ditancapkan di sana, sebagai pondasi rumah dan jalan papan. Tanah rawa ini juga tidak memungkinkan pohon berakar besar tumbuh. Hanya pohon-pohon kecil dan semak saja yang bisa kita temui. Oh ya, juga beberapa batang pohon kelapa dan sagu. Kebayang kan betapa teriknya kalau siang hari harus melintasi jalanan papan ini. Dan jika malam tiba, saat angin dan hujan yang menghantam atap rumah yang terbuat dari seng menimbulkan bunyi yang sungguh mengerikan. Malam pertama di Agats membuat tidur saya nggak nyenyak karena terganggu bunyi benturan angin dan atap seng yang sepertinya bisa menerbangkan atap.

Jalan papan di kota Agats ini setiap tahun diupayakan untuk diperpanjang jangkauannya. Pada tahun 2006 ketika saya ke sana, jalan papan yang dibangun Pemda Agats sudah sekitar 25.399 meter atau sekitar 25 km. Kalau dibentang kira-kira sejauh jarakantara Kota Jogja - Pantai Parangtritis lah. Lumayan juga menyusuri sejauh itu dengan berjalan kaki. Agats juga memiliki alun-alun yang terbuat dari papan. Di tempat inilah setiap bulan Oktober diadakan lelang aneka patung ukir Asmat dalam Festival Budaya Asmat. Ketika saya tiba di Agats, di alun-alun sedang berlangsung persiapan kampanye Gubernur Barnabas Suebu yang kini kembali terpilih memimpin Papua.

Meskipun jalan-jalan di Agats hanya terbuat dari papan selebar trotoar (1,5 m), tapi tiap-tiap lorong memiliki nama jalan yang menggunakan nama pahlawan nasional layaknya jalan utama di kota besar. Ada Jl. Yos Sudarso, Jl. A. Yani, Jl. Sultan Hasanuddin, dll. Alamat kantor-kantor pemerintah dan instansi juga dilengkapi nomor, sehingga kalau ditulis di atas kop surat dan amplop tampak keren. Misalnya: Kantor Pos Agats, Jl. S. Hasanuddin No. 2 AGATS 99677.

Tapi jangan membayangkan ada traffic-light atawa lampu merah di Agats ya, kan nggak ada motor lewat!. Hehe....

TIP on TRIP
  1. Meskipun namanya sudah mendunia, tetapi Asmat bukanlah daerah tujuan wisata yang "indah". Keindahannya hanya bisa dinikmati selama Festival Budaya Asmat berlangsung, yaitu pada bulan Oktober tiap tahunnya. Selebihnya, Asmat termasuk daerah pedalaman yang masih minim dalam banyak hal, terutama aksesibilitas.
  2. Jika memang merencanakan perjalanan ke suku Asmat, pertimbangkan soal waktu mengingat kondisi cuaca yang sering tiba-tiba buruk bisa menyebabkan penundaan penerbangan. Kalau cuma tertunda sehari masih nggak pa-apa, tapi kadang bisa tertunda beberapa hari loh. Bisa-bisa garing di Timika atau malah nggak bisa keluar dari Asmat karena nggak ada penerbangan ke Timika atau Merauke.

Comments

  1. Malah, buku berjudul Asmat dibuat olek Karl Muller. Mana karya orang Indonesia. Kenapa tidak ada fotogafer kita yang bisa dan mampu membuatnya. Serta buku mengenai Kamoro dan Amungme.

    Habis, para antropolognya pada ngejar proyek dan para fotografernya pada ngejar model sih.

    ReplyDelete
  2. Pernah baca Namaku Teweraut? pasti sudah ya. Di salah satu bagian novel itu diceritakan keberanian seorang pilot muda dari Manado bernama Maurits yang telah berulangkali menerbangi lembah-lembah Papua. Pada tahun 1998 aku kaget ketika pesawat Cesna yang baru aku tumpangi mendarat di Agimugah. Seorang Belanda tua yang aklirnya aku tahu adalah Pater Franken menyapa pilot pesawat: "Selamat pagi, Maurits". Ternyata ini to pilot gagah berani itu. Tahun 2007 aku ke kawasan Bintuni. Karena cuaca buruk aku dan seorang kawan dari PSKK terdampar di pulau Onar, pulau kecil di kawasan Teluk Bintuni. Kami menumpang di rumah Pak Daeng, salah satu pendatang di pulau itu. Dia selalu ketawa mendengar sebutan orang tentang dia dan kawan pendatang: ada "Pak Daeng", Ada Pak Lai dari medan, dan mereka menyebutku Mas Jawa. Terdampar di tempat ini membuatku berkenalan dengan Pak Fengky, orang BP yang kerjanya memang masuk keluar desa. Dari laki-laki yang suka bicara ini aku jadi tahu bahwa ternyata Maurits, pilot gagah berani yang dicetrikan di novel itu, telah tiada, gugur di pedalaman Papua karena "downraft" atau turbulensi di ketinggian 4000an m dpl. Sang pilot terlambat menyadari bahwa di depannya ada tebih curam. Pesawat yang segera ditukikkan ke atas tak sanggup mencapai puncak. Selamat jalan pilot muda gagah berani, Maurits.

    ReplyDelete

Post a Comment