tragedi pemburu jembatan


Visit Musi 2008, promosi pariwisata yang dicanangkan pemerintah provinsi Sumatera Selatan mengingatkan saya pada obsesi narsis berfoto di jembatan Ampera yang terpendam sejak tahun 1992. Waktu itu saya dan beberapa rekan wartawan kampus mendapat kesempatan mengunjungi perusahaan tambang batubara Bukit Asam di Kab. Muara Enim, sekitar 180km dari Palembang. Mumpung udah sampai Sumsel, kenapa nggak lanjut ke ibukota propinsinya sekalian ya? Ide itu ternyata juga ada di benak rekan-rekan yang lain.

"Kita cari pinjaman mobil yuk," usul salah seorang rekan yang bisa nyopir. Usulan itu lantas membuat kami serempak menghitung waktu perjalanan dari Bukit Asam ke Palembang. Dengan kondisi jalan pada tahun 1992, diperkirakan butuh 4 jam perjalan ke Palembang. Pulang balik berarti sekitar 8 jam. Itu berarti kami harus meluangkan waktu seharian untuk bisa ke Palembang. "Belum waktu buat muter-muter di kota Palembangnya," komentar yang lain. "Nggak usah ke man-mana, yang penting foto di jembatan Ampera. Setelah itu balik lagi," tambah rekan lainnya.

Komentarnya membuat saya bersemangat. Iya lah, Jembatan Ampera kan merupakan landmark dan ikon kota Palembang. Jembatan yang dibangun hasil papampasan perang Jepang pada tahun 1962 ini bisa disebut jembatan pertama termegah di Indonesia. Jadi nggak rugi kalau harus bela-belain menempuh 4 jam perjalanan bolak-balik ke Palembang. Saya pun mendukung usulannya.

Sayangnya kami nggak berhasil mendapat pinjaman mobil. Lebih tepatnya, jadwal kunjungan kami sudah cukup padat, sehingga tidak ada waktu untuk meluncur ke Palembang. Dan sampai hari ini saya belum berhasil narsis di jempatan Ampera.

Hasrat narsis di jembatan lain yang belum kesampaian adalah di Jembatan Kutai Kertanegara (Kukar) atau Jembatan Mahakam II di Tenggarong (Kaltim). Setelah selesai direnovasi sekitar awal 2001, Jembatan Kukar menjadi landmark kota Tenggarong. Jembatan sepanjang 580 meter ini dirancang menyerupai Jembatan Golden Gate di San Fransisco! Keindahan jembatan Kukar ini semakin berasa di malam hari, karena berkilau cahaya lampu.

Sejak jembatan Kukar tampil menjadi San Fransisco Bridge dari Kaltim ini, sebenarnya saya sudah 3 kali melintasinya. Yang pertama sekitar tahun 2005 ketika saya tugas ke Samarinda. Mumpung ada waktu, sore-sore saya meluncur ke Tenggarong yang berjarak sekitar 40 menit dengan taksi. Sengaja saya pilih waktu sore-sore, karena saya berharap menikmati suasana kota Tenggarong yang bersih dan indah (kota terbersih di Kaltim loh!) sebelum lampu-lampu di jembatan dinyalakan. Celakanya, begitu sampai Tenggarong, turun hujan lebat sampai saya nggak bisa keluar dari taksi.

Kecelakaan kedua (2007) dan ketiga (2008) juga disebabkan oleh hujan. Sudah begitu waktu itu saya ke Tenggarong bersama relasi, jadi nggak enak kalau harus maksain nunggu hujan reda. Terpaksalah "San Fransisco Bridge from the East" itu hanya bisa saya potret dari dalam mobil dengan ponsel kamera. Kemegahannya nggak bisa terekam di ponsel kamera andalan saya karena terhalang kaca mobil dan titik-titik air hujan. Uhs..!


Lost in Tower Bridge
Tragedi yang paling mencemaskan saat berburu foto narsis di jembatan terjadi ketika di Tower Bridge London. Hari itu adalah hari terakhir saya dan Ywed di London. Karena pesawat akan take off pukul tujuh malam, kami punya waktu seharian untuk jalan-jalan. Agenda utama kami nonton changing guard ceremony di Buckingham Palace, "setelah itu ke Tower Bridge," usul saya maksa. Nggak afdol rasanya kalo belum foto-fotoan di Tower Bridge. Padahal beberapa hari sebelumnya kami sudah jalan-jalan menyusur sungai Thames. Sudah foto-fotoan di Millenium Bridge dan Westminster Bridge yang berada segaris dengan Tower Bridge. Tapi karena Tower Bridge sudah menjadi ikon dan landmark kota London, saya pun maksa bisa memotretnya."Telat-telatnya jam 3 kita harus balik lagi ke hotel ya," tambah saya menegaskan skedul jalan-jalan di hari terakhir kami di London.

Kami menginap di daerah Camden, yang terkenal dengan pasar seninya. Kalau naik bus dari Tower Bridge, mungkin butuh waktu sekitar 40 menit (sengaja puter-puter London pake bus, yang lebih murah ketimbang naik kereta underground). Artinya jam 4 sore sudah tiba di hotel dan mengambil barang-barang kami yang sudah dititipin di locker, setelah itu lanjut naik tube (kereta underground) ke Heathrow Airport. Sebelum jam 5 kami sudah akan tiba di bandara sehingga waktu untuk check-in masih cukup longgar.

Karena keasyikan jalan dan nonton changing guard ditambah masih harus mencari-cari bus dari Victoria Station yang melewati Tower Bridge, akhirnya kami baru tiba di Tower Bridge sekitar pukul 14.45 waktu London. "Waktu kita cuman lima belas menit nih. Foto-fotoan bentar habis itu kita ketemu lagi naik bis ke Camden," kata saya sebelum kami misah, mencari posisi yang enak buat motret jembatan maupun motret diri sendiri dengan bantuan fitur self-timer. Ini memang kebiasaan saya, kalau udah pegang kamera nggak suka jalan beriringan terus.

Jam 15.00 waktu yang kami sepakati untuk sama-sama menuju halte, ternyata justru merupakan awal tragedi. Saya celingukan mencari Ywed. Saya tunggu beberapa saat di bawah jembatan, tapi nggak kelihatan juga batang hidungnya. Saya telpon hape-nya, ealah mati. Saya kirimi SMS, "Bu, kok suwi. Dah jam 3 nih, ayo balik ke hotel". Nggak juga dapat balasan. Lalu saya naik ke jembatan, kali-kali ketemu di atas. Kalaupun tidak, dari atas jembatan bisa lebih leluasa melihat ke bawah. Saya tunggu beberapa saat di atas, nggak nongol dan nggak ada balasan SMS. Saya coba menelponnya lagi, berkali-kali dan hanya dijawab mbak-mbak operator.

Kegelisahan mulai melanda. Sementara waktu terus bergerak. Sekitar jam tiga lewat lima belas, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan sahabat saya, pengantin baru yang baru dua bulan lalu menikah. Saya meninggalkannya dengan sedih, tapi kalau saya di Tower Bridge terus akan semakin banyak waktu yang terbuang. "Sori Bu aku udah naik bus ke Camden. Tadi aku tunggu kamu di atas bridge tapi nggak nongol. Tak telpon hapemu juga gak nyambung." Sialnya, SMS itupun juga nggak dibalas. Saya nggak tahu apa yang terjadi pada Ywed. Kecemasan makin menyita pikiran. Karena nggak konsentrasi, saya sempet kebablasan turun sehingga harus menuggu bus yang kembali ke halte tempat menanti busa menuju terminal Victoria. Dari Victoria barulah berganti bus lagi yang menuju ke Camden.

Di saat lagi bengong, hape saya bergetar. Alhamdulillah, akhirnya Ywed kirim SMS juga. "Aku kesasar. Nggak tau di mana. Kayaknya aku salah naik bis." Oh my God, SMS itu membuat saya makin cemas. "Ke Camden naik bis 24, Bu" balas saya galau. Lalu saya mengutuki diri saya sendiri. Kalau Ywed beneran tersesat dan nggak bisa balik ke Camden gimana ya? Padahal waktu kami di London hanya dalam hitungan jam saja, hanya sekitar 3 jam saja.

Dalam kecemasan, hape saya berdering. Saya berharap dari Ywed melaporkan dari atas bus National Express. Ternyata bukan. "Saya Ari, suaminya Ywed...." ups, seketika perasaan bersalah terasa mencekik leher saya. Bahkan suaminya yang berada di Jakarta, ribuan mil dari London juga menelpon saya! Saya langsung deg-degan, nggak enak ati. Mereka baru 2 bulan menikah, belum sempet honeymoon, malah pergi ke Inggris berdua sama saya, dan sekarang saya menelantarkannya! Duh Gusti, nyuwun pangapunten. "Ywed itu di Bandung aja tersesat, apalagi di London," katanya membuat saya semakin merasa bersalah. Meskipun di satu sisi saya merasa bertindak benar. Saya juga heran, kok bisa tersesat ya. Padahal, setiap halte bus di London pasti ada map dan direction yang ditempel. Kita bisa tahu di mana posisi halte yang kita singgahi saat ini, dan bus nomor berapa yang harus kita naiki jika ingin menuju tempat tertentu. Sebelum get lost in Tower Bridge, saya dan Ywed juga sama-sama menyimak map yang ada di tiap halte yang kami singgahi.

Tapi sepertinya Ywed sedang panik, sehingga nggak bisa berpikir dan akhirnya malah makin tersesat. Kepanikannya juga sempat membuatnya berkirim SMS aneh-aneh. "Bu, barang-barangku nggak usah diambil aja. Tinggal aja di locker, isinya cuma baju kotor kok." Nah lo, saya kan jadi malah senewen. Meskipun sebenarnya saya tahu, maksud Ywed baik. Nggak pengin membebani saya dengan barang bawaannya yang jauh lebih gede ketimbang punya saya. Tapi saya malah menjawabnya begini: "Loh, sehari kan bayar lockernya 1.5 pounds. Emang dia mau maketin kopermu ke Indonesia?".

Berbagai perasaan nggak sehat berkecamuk di benak saya. Cemas, pengin marah, pengin ketawa, tapi juga pengin nangis. "Sekarang Ywed baru mau menuju Victoria," lanjut Ari, suaminya yang pasti kawatir banget. Seketika saya tersadar, bahwa saya nggak boleh nunggu Ywed dan harus bisa memberesi semua barang kami di hotel. "Gini, saya sudah di dalam bus menuju ke hotel. Mungkin jam 5-an baru sampai. Setelah itu saya akan bawa semua barang langsung ke Heathrow. Bilang sama Ywed untuk langsung meluncur ke Heathrow, nggak usah ke Camden."

Saya tiba di hotel persis jam 5 sore. Lalu mengambil barang-barang yang di locker: 2 trolley dan 2 backpack. Saya nggak mampu membawa semua barang itu sendiri dengan naik kereta underground. Nggak kebayang. Satu-satunya jalan hanya naik taksi. Duh, padahal naik taksi di London itu muahalnya minta ampyuunn. Tapi apa boleh buat. Daripada nggak bisa balik ke Indonesia dan itu berarti cost yang harus ditanggung lebih gede dan ngurus tiketnya akan lebih ribet lagi, akhirnya saya merelakan membayar taksi seharga 32 poundsterling atau sekitar 600 ribu rupiah!

Tragedi berakhir dengan haru penuh kelegaan ketika kami bisa check-in dengan selamat di Heathrow Airport. Kami berpelukan bak dua sahabat yang sudah puluhan tahun nggak ketemu. Setelah mengatur napas yang ngos-ngosan, kami pun baru bisa bercerita kronologis ketersesatan kami.

Ternyata, kami sudah sama-sama naik ke atas bridge. Bedanya, saya belok ke kanan menuju halte, Ywed belok ke kiri menyeberangi jembatan yang melintas di atas sungai Thames itu. Yah, gimana bisa ketemu, wong berlawanan arah begitu? "Lalu kenapa pula kamu susah dihubungi?" tanya saya yang ketika itu merasa gemes karena hape-nya tulalit melulu. "Sorriii...hape-ku low-batt. Jadi kumatiin buat hemat batere!" Ealah...!

TIP on TRIP
  1. Meskipun traveling bareng temen, tetap bekali diri dengan berbagai informasi mengenai daerah tujuan. Belajar membaca peta, mengingat jalan yang dilewati saat berangkat, dan mengingat nomor bus yang kita tumpangi akan membantu dalam perjalanan. Sokur-sokur berbekal travel-guide book yang terpercaya seperti Lonely Planet, Rough Guide, Footprint, dll. Karena bertanya pada orang lain, bahkan Polisi sekalipun, belum tentu memberi solusi. Kadang-kadang malah menyesatkan dan membuat kita putus asa.
  2. Don't be panic! Tenang dan jangan kemrungsung. Hanya itu yang bisa membuat kita berpikir jernih dan bertindak cerdas dalam mengambil keputusan di saat-saat genting
  3. Pastikan semua gadget full-charge sebelum mulai beredar. Biasakan kalau malam ngecas batere hape dan kamera digital supaya nyaman selama traveling seharian.

Comments