Thursday, March 11, 2010

fly with low fare airline

europe part 1
europe part 2

Ada banyak maskapai yang melayani penerbangan internasional dari Jakarta ke Eropa. Dari sekian banyak itu yang cukup populer antara lain Air France, British Airways, KLM, dan Lufthansa. Maskapai kelas atas ini melayani terbang ke hampir semua kota-kota besar di Eropa. Hanya saja, harga tiket yang ditawarkan maskapai Eropa ini juga lumayan aduhai.

Karenanya saya lebih suka melirik maskapai penerbangan asal Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, atau Turkey Airways yang tarifnya lebih murah. Meskipun harga miring tapi layanan tetap prima dan yang lebih penting destinasi kota-kota di Eropa juga tak kalah banyaknya dengan maskapai asal Eropa. Selain alasan tarif, terbang bersama maskapai ini akan membuat saya banyak merenung. Merenungi nasib para TKI yang bekerja di Tanah Saudi. Maklum, maskapai ini sering digunakan agen pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dan kita akan menyaksikan bagaimana rombongan TKI itu digiring untuk ngantri memasuki ruang tunggu sebelum boarding, lalu mereka duduk bergerombol dan nglesot di lantai, dan begitu tiba di Dubai pemandangan serupa makin banyak. Nggak hanya TKI yang baru datang dari Indonesia yang sedang menunggu pesawat lain, tetapi juga TKI yang akan pulang kampung dengan beragam ekspresi menyiratkan kehidupan mereka di Tanah Saudi.

Kebetulan saya pernah terbang dengan Emirates saat ke London tahun 2007 lalu. Sungguh, pengalaman akan selayang pandang merekam perjalanan para TKI ke negeri impian mereka itu sungguh menyentuh emosi terdalam saya. Saya pengin merekamnya lagi, kali ini dengan empati yang lebih dalam.

Itulah sebabnya kenapa Emirates langsung nyantol di kepala saya begitu ada rencana ke Eropa lagi. Sensasi empati terbang bersama TKI dan tarif murah dari Emirates adalah perpaduan yang akan membuat perjalanan saya nggak sekedar untuk hore-hore tetapi juga penuh refleksi. (Amiiinnn...).

Jadilah saya spontan membuka website Emirates untuk menengok adakah tarif promo pada bulan Mei mendatang. HArap-harap cemas saya masukkan nama airport di kota departure - arrival, serta tanggal yang saya kehendaki, dan...horreee super low fare-nya langsung nongol di laptop.

Rupanya tidak hanya Emirates yang menawarkan tarif promo pada tanggal keberangkatan dan kepulangan yang sudah saya tentukan. Qatar Airway juga loh. Malah, kalau saya mengajukan tanggal keberangkatan, masih tersedia low fare yang selisihnya hingga USD 200! Bikin kepala saya mendadak berkeringat, karena bergairah melihat tarif super murah yang ditawarkan. Bayangkan, masak Jakarta - Paris return cuma USD 518?

Tahu nggak, dalam urusan perjalanan, semakin murah tiket yang berhasil kita beli, semakin meningkatlah gengsi kita. Sebaliknya, semakin mahal rupiah yang dibayarkan untuk tiket dengan tujuan yang sama, semakin besar kita menanggung rasa kecewa. Haha...

Untungnya saya segera tersadar bahwa perjalanan saya ke Eropa ini tidak semata-mata dolan, tapi ada urusan gaweyan. Jadi saya tetap memprioritaskan pekerjaan tinimbang tarif promo, meski sebisa mungkin tetap mendapatkan harga tiket hemat.

Kemudian saya melanjutkan pencarian. Setiap hari (bahkan sehari lebih dari sekali) saya mengecek harga tiket sesuai dengan tanggal dan rute yang sudah pasti (mendarat di Paris dan meninggalkan Eropa dari kota Athena, Yunani). Supaya lebih fokus dan nggak terlalu banyak pembanding, saya hanya melongok website Emirates dan Qatar.

Persis dua bulan sebelum keberangkatan, saya menemukan best fare dengan menggunakan Emirates yang lebih murah sekitar USD 130 dibanding Qatar. Selain lebih murah, Emirates juga memiliki pilihan waktu terbang yang memungkinkan connecting flight dari Jogja, kampung halaman saya, ke Jakarta dan sebaliknya tanpa harus menginap di Ibu Kota. Itu berarti, saya bisa hemat waktu dan energi.

Yang lebih seru lagi, Emirates menawarkan dua pilihan waktu terbang menuju Paris dengan transit di Dubai selama 3 jam (tiba di Paris jam 13.30) atau transit 10 jam (tiba di Paris jam 20.10) pada hari yang sama. Sebagai pejalan yang menjunjung tinggi filosofi 'sekali terbang dua tiga negara terlampaui', maka dengan senang hati saya memilih transit 10 jam di Dubai. Alasannya sederhana saja, supaya bisa jalan-jalan dan berfoto narsis dengan latar belakang Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Haha...! (to be continued)




No comments:

Post a Comment

Post a Comment