Traveler Aji Mumpung


Setelah menerbitkan tiga buku traveling, dan tengah menulis buku traveling lainnya, saya semakin merasa bahwa sebenarnya saya bukanlah seorang traveler. Bukan pula seorang backpacker atau flashpacker atau apalah istilahnya. Apalagi jika menilik travel-time saya yang ternyata nggak sehebat temen-temen backpacker lain yang saya kenal meskipun mereka belum menerbitkan buku.

Saya hanyalah pejalan aji mumpung. Mumpung dapat tugas ke Paris, ya wis sekalian jalan-jalan ke beberapa negara lain di Eropa. Mumpung tiket Air Asia lagi promo nol rupiah, ya wis di-booking aja buat jalan-jalan ke negara tetangga. Mumpung dapat proyek ngerjain media, ya wis sembari memburu nara sumber sekalian traveling ke penjuru tanah air.


Nah, ketika keberuntungan itu lagi menjauh, saya lebih suka menghabiskan waktu di Jogja saja. Aha..ini juga sebuah keberuntungan ya, bisa lahir dan tinggal di Jogja. Di kota wisata nomor dua di Indonesia setelah bali. Itu berarti setiap hari saya bisa traveling dong. Apalagi saya tinggal di deket Kraton, Tamansari, Alun-alun, gudeg Wijilan..wis lengkap sudah! Orang lain harus menyisihkan waktu dan uang untuk bisa menikmati Jogja, tapi setiap hari saya malah melewati rute wisata itu.


Memang sih, kadang-kadang saya juga off dari gaweyan untuk sekedar leyeh-leyeh di Ubud. Ubud lagi, Ubud lagi. Habis gimana ya, Ubud is my mood sih. Ubud itu mencerahkan jiwa dan bathin saya. Segala yang nyebelin tiba-tiba bisa langsung amblas begitu saya mencium aroma bunga kamboja yang terselip di telinga patung-patung Bali. Itu yang bikin saya sering nggak punya alternatif lain yang bisa dijadikan pilihan tempat buat berlibur. Itu pula yang kemudian membuat saya akhirnya sadar, bahwa ternyata banyak tempat-tempat wisata di Jawa yang jadi terlewat nggak pernah saya kunjungi. 


Coba, menurutmu ironis nggak, saya sudah lebih dari 20 kali dolan ke Ubud tapi belum pernah sekalipun ke Telaga Sarangan!


Jadi, saya memang tidak pantas menyebut diri sebagai traveler, meskipun pengin dan punya akun FB: Matatita Traveler. Ternyata saya belum menyinggahi tempat-tempat wisata populer yang nggak begitu jauh dari kota saya.


Saya memang suka dan menikmati setiap perjalanan, tetapi bukan orang yang suka menambah destinasi wisata. Buat saya tempat yang pernah dikunjungi bukan berarti jadi tidak menarik jika dikunjungi lagi. Bahkan saya sering menemukan hal-hal baru pada tiap-tiap kunjungan, meski itu berkali-kali dilakukan.


Jadi, jika kemudian saya bisa menuliskan kisah perjalanan dan diterbitkan, tentu bukan karena saya sudah jalan ke puluhan negara, ratusan kota, dan ratusan desa. Bukan kok. Saya rasa mungkin hanya karena saya bisa menuliskannya dan punya perspektif yang sedikit berbeda dengan traveler lain, sehingga ada penerbit yang menganggap tulisan saya layak dibaca publik. Itu saja.


Jadi, sekali lagi, saya hanyalah traveler aji mumpung. Dan semoga dewi keberuntungan nggak mau jauh-jauh dari saya.

Comments