ada yang minat kerjabareng

Selang beberapa hari saya membuat website MATATOURS yang menggunakan hosting gratisan dari blogpsot, saya mendapat message dari seorang kawan yang tertarik untuk berkongsi mengembangkan bisnis travel. Saya terkejut. Sungguh-sungguh nggak nyangka bakal ada yang berminat investasi di bisnis yang baru beberapa hari saya lahirkan. Nggak salah nih?

Katanya, ia tertarik dengan konsep traveling yang saya kembangkan lewat bendera Matatours. Untuk alasan ini, saya nggak terlalu terkejut mengingat kami sama-sama belajar ilmu Antropologi sehingga kami sudah terbiasa jalan-jalan menjelajah ke tempat-tempat yang non-touristy. Antropolog mengajari kami untuk jalan-jalan bukan sekedar sebagai kegitan rekreatif, tetapi juga sebagai salah satu cara untuk mengalami kebudayaan lain. Jalan-jalan ala antropolog ini membuat perjalanan menjadi lebih bermakna, karena selalu ada upaya belajar dan mikir yang terselip di dalamnya. Bukan sekedar jalan-jalan yang narsis dan hip-hip hura.

"Tapi, jualan paket perjalanan seperti ini susah. Bahkan mungkin nggak laku jika dibisniskan," kata saya saat kami akhirnya janjian ngopi bareng. Soal urusan laku dan nggak laku, saya sudah merasakan sendiri lewat hasil penjualan buku-buku traveling yang saya tulis. Buku TALES from the ROAD yang dipuji banyak orang, yang pernah dinominasikan dalam Festival Pembaca Indonesia (2009), yang isinya dinilai sangat inspiratif karena membuat pembaca jadi mengenal kebudayaan lain di pelosok Tanah Air dan di belahan dunia lain, tapi penjualannya nggak laku. Secara bisnis dianggap tidak menguntungkan. Sementara itu, buku EUROTRIP yang saya tulis karena rasa penasaran mengapa pembaca Indonesia kurang menyukai travelogue ala TALES from the ROAD dan lebih suka buku panduan perjalanan, di luar dugaan laku keras. Tiga bulan pertama setelah edar, langsung cetak ulang dan cetak ulang lagi pada bulan kedelapan.

Meskipun kami cukup sadar diri bahwa menjual paket jalan-jalan ala antropolog nggak bakalan laku -setidaknya untuk saat ini di Indoensia- tapi kami begitu antusias mendiskusikan paket-paket tour unik dan bergizi yang mungkin bisa dicoba. "Paket tour yang pake mikir," tambahnya.

Oh ya, sahabat saya itu sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Belanda, di negeri yang museum seni-nya selalu diantre pengunjung beratus-ratus meter. Katanya, di Eropa sudah cukup banyak wisata minat khusus yang unik dan bergizi. Misalnya tour napak tilas film-film box office seperti Da Vinci code dan Harry Potter. Bahkan juga ada paket tour yang dikhusukan untuk para pecinta buku dan sastra yaitu literary tour.

Tentu saja saya juga minat banget mengikuti paket tour seperti ini. Masalahnya, berapa gelintir orang sih yang mau jauh-jauh datang ke Eropa hanya untuk napak tilas jejak Da Vinci Code? Bisa jadi jumlahnya 1:1juta jika dibandingkan dengan orang Indonesia yang ke Eropa untuk melihat menara Eiffel. Dari 1 juta orang Indonesia, mungkin hanya ada 1 orang rela mengeluarkan uang untuk napak tilas Da vinci code. Satu orang itu pun sudah bisa ditebak, hidupnya mapan dan sudah beberapa kali mengunjungi Eropa dan benua lain. Atau minimal, dia sedang dapat beasiswa studi di Eropa. Hehe...!

Obrolan sembari minum kopi dan teh yang terkesan idealis itu, terus terang menghantui pikiran saya. Memang kecil kemungkinan bikin paket tour ke Eropa untuk napak tilas film atau buku-buku sastra terkenal. Tapi kalau untuk napak tilas buku saya, EUROTRIP Safe & Fun (2010) sepertinya kok masih optimis ya. Setidaknya sejak buku itu terbit saya sudah mendapat puluhan permintaan nge-trip bareng ke Eropa. Kenapa tidak dicoba? Dan kalau tidak mencoba sekarang, kapan lagi? Perjalanan ke Eropa harus berkompromi dengan musim. Musim semi adalah perjalanan tour yang cukup menyenangkan, tidak terlalu dingin, matahari baru tenggelam pada pukul 20an malam, dan bunga tulip tengah bermekaran. Timing yang pas buat wisatawan Indonesia nih.


Saya pun lantas disibukkan dengan proyek jalan-jalan pertama ke Eropa.




Comments