JOGJA is my life

Saya sengaja menjiplak tagline Bali is My Life untuk judul tulisan ini. Rasanya kok pantes juga jika tagline ini disandingkan dengan Jogja, berbeda dengan Jogja Never Ending Asia yang berupaya menjadikan Jogja sebagai bagian dari Asia, yang kesannya “maksa banget". (Dan ternyata tagline itu juga kurang mempan). Jogja is My Life terasa lebih menyentuh daerah emosi terdalam para warganya. Apalagi bagi para pendatang yang pernah tinggal di Jogja –entah untuk kuliah atau sekedar mampir plesiran- yang selalu punya keinginan kembali ke Jogja.

Seperti halnya Bali yang memikat para wisatawan asing hingga banyak yang memilih menetap di Bali, Jogja juga memiliki magnet luar biasa yang membuat orang krasan berlama-lama. Bedanya, yang memimpikan bisa tinggal dan menikmati eksotisme Bali adalah orang bule alias orang asing, sementara yang memimpikan tinggal dan menikmati masa pensiun di Jogja umumnya orang Indonesia, baik orang asli Jogja maupun dari luar Jogja. Artinya, baik Bali maupun Jogja sama-sama menawarkan kenyamanan, meskipun segmennya berbeda: segmen bule dan segmen lokal atau domestik.

Dalam dunia pariwisata Jogja, kita dapat melihat dengan jelas begitu banyaknya wisatawan domestik –terutama pelajar- yang berkunjung dibanding wisatawan asing yang makin menyusut dan hanya menjadikan Jogja sebagai kota transit sebelum ke Bali. Meski saya tak memiliki data statistik yang pasti, namun saya menyakini bahwa hampir setiap sekolah (SD – SMA) di P. Jawa menjadikan Jogja sebagai tujuan utama untuk study – tour. Mereka mengunjungi Jogja tak hanya pada hari libur sekolah, tetapi hampir setiap akhir pekan (sabtu – Minggu), parkiran bus pariwisata di seputar Malioboro dan Kraton selalu berjejal.

Sementara itu wisatawan domestik yang mengajak keluarga untuk liburan ke Jogja biasanya memilik saat long-weekend, libur akhir tahun, maupun libur lebaran. Pada musim-musim libur seperti itu dapat dipastikan tingkat hunian hotel di Jogja meningkat drastis. Begitu pula kepadatan jalan raya –apalagi Malioboro- yang dipenuhi mobil-mobil berplat berplat nomor luar kota (kebanyakan Jakarta).

Segmen lokal atau domestik ini mustinya mendapat perhatian yang lebih dari Badan Pariwisata Daerah (Baparda) kota maupaun propinsi DIY. Sehingga Baparda juga menerbitkan brosur pariwisata yang kental muatan lokal, bukan sekedar brosur informasi singkat tentang obyek-obyek wisata yang lebih cocok untuk wiatawan asing.

Menurut saat, bacaan ringan tentang Jogja yang mengangkat tema living culture maupun segala hal yang lekat dengan keseharian hidup orang Jogja, lebih cocok untuk disuguhkan pada tamu domestik. Suguhan seperti ini akan membuat mereka mengenali Jogja inside – out. Dan karena sudah kenal luar dalam, mereka pun juga akan memiliki kesan yang mendalam tentang Jogja.

Ide inilah yang kemudian dilakukan saya lakukan bersama TIMKREATIFREGOL dengan menerbitkan buletin berkala (baca: kala-kala terbit) REGOLjogja. Di buletin yang dapat diperoleh secara cuma-cuma ini (atau didonlot versi PDF-nya di www.regoljogja.com) REGOL berupaya mengangkat hal-hal yang sepertinya remeh-temeh, yang sering luput dari perhatian karena sudah menjadi kebiasaan. Contohnya tentang becak. Alat transportasi tradisional ini jumlahnya cukup banyak di Jogja. Bahkan Jogja adalah kota dengan jumlah becak terbanyak di Asia Tenggara. (Tapi kenapa Jogja lebih dikenal sebagai kota sepeda ketimbang kota becak ya?).

Setiap hari kita berinteraksi dengan tukang becak. Para wisatawan banyak yang memanfaatkan becak untuk mondar-mondar mencari oleh-oleh selagi di Jogja. Tapi tak banyak tulisan tentang becak dan penggenjotnya, selain yang sifatnya kajian dan berita, yang bisa dinikmati wisatawan sembari leyeh-leyeh di kamar hotel, misalnya. Padahal, becak Jogja memiliki banyak hal menarik yang bisa dikupas, misalnya slebor becak yang berlukis pemandangan alam atau ungkapan-ungkapan ekspresif pemiliknya. Atau tentang bentuknya yang unik karena setiap daerah memiliki kekhasannya sendiri.

Dengan mengangkat hal-hal keseharian menjadi tema tulisan yang dikemas dalam tampilan visual yang atraktif, wisatawan pun akan semakin mengenali Jogja, makin mencintai Jogja, dan makin tumbuh sense of belonging-nya pada kota kita ini. Dan akhirnya mereka pun setuju bahwa Jogja is My Life.

Comments

  1. terhanyut aq akan nostalgia...

    nikmati bersama suasana jogja.terutma pd malam hari.jogja is wonderful town

    ReplyDelete

Post a Comment