lonely planet: beli yang palsu menguntungkan (?)


Tony Wheeler pasti sudah tahu bahwa di Thailand dan Kamboja beredar bajakan buku-buku terbitannya, Lonely Planet. Penjualannya pun dilakukan secara blak-blakan, di pinggir jalan kawasan turis dan di kios-kios cinderamata. Tetapi, barangkali, Wheeler juga memberi permakluman pada negara miskin seperti Kamboja, sehingga ia tak perlu geram. Barangkali loh...

Saya sendiri semula sungguh takjub melihat banyaknya buku travel-guide semacam Lonely Planet (LP) yang dijual di pinggir-pinggir jalan di Khaosan Road, Bangkok dan di Siem Reap (Kamboja). Di hostel tempat kami menginap pun tersedia LP berbagai negara. Komplit banget. Bikin saya makin iri pada negara lain. Di Bali yang merupakan tourist destination favorit saja, masih susah mendapatkan Lonely Planet sekalipun yang bekas. Apalagi menemukannya sebagai fasilitas di hostel backpacker.

Di Bali, saya biasa berburu Lonely Planet bekas di Ganesha Bookshop - Ubud. Ada juga beberapa kios buku used-book yang menjual LP di Ubud, Kuta, Legian, dan Sanur. Tapi itupun nggak seberapa banyak tersedia. Tergantung pada turis-turis yang meloakkan buku travel-nya. Berbeda dengan di Khaosan Road yang menjadi kawasan backpacker di Bangkok. Buku-buku Lonely Planet dijual oleh pedagang kaki lima. Mereka juga memasang poster ala kadarnya bertuliskan "We Buy" yang berarti bersedia membeli buku-buku loakan dari para pelancong.

Rasa ketakjuban itu terjawab ketika secara iseng saya menanyakan berapa harga LP "Cambodia" pada penjual suvenir yang memajang beberapa buku travel dan buku tentang Khmer. "4 dollar," jawab si penjual yang membuat saya terbelalak. Masak nggak nyampe empat puleh ribu sih? Yang bener aja! Bukannya LP Cambodia ini harganya sekitar 250ribu di Indonesia. Saya aja bela-belain beli LP yang kompilasi alias multi-country guides, yaitu "Vietnam - Cambodia - Laos & the Greater Mekong" seharga 275 ribu yang menurut saya lebih murah ketimbang beli tiap-tiap seri.

Dalam keheranan saya buka plastiknya. Saya perhatikan baik-baik isinya, lembar demi lembar. Dan barulah saya ngeh, bahwa LP itu kopian. Tapi kualitas cetaknya lumayan bagus, termasuk cetakan pada halaman berwarna. Hanya saja kertasnya tak setipis LP asli sehingga menjadi sedikit lebih tebal. Di samping itu kualitas jilid atau bending-nya juga standard buku terbitan lokal. Padahal salah satu syarat utama buku travel-guide adalah kualitas jilidnya seperti woro-woro yang tertera di cover LP asli: SPINE STITCHED FOR EXTRA STRENGTH. Jelas dong, wong buku travel-guide itu bagaikan bibble buat para backpacker yang akan selalu digembol dan dibolak-balik sampai kucel.

Hhhmm...pantes saja saya lihat beberapa LP yang ada di hostel pada brodol. Waktu itu saya hanya membatin, barangkali karena saking banyaknya penginap yang membaca ya. Rupanya, memang ada sebagian LP bajakan yang dipajang. Ah, tapi bagi traveller yang penting kan informasinya. Nggak peduli asli atau aspal. Dan saya pun segera membeli beberapa buku LP yang menjadi target jalan-jalan saya di tahun depan. Hehe....!

Comments