Showing newest posts with label cambodia. Show older posts
Showing newest posts with label cambodia. Show older posts

Saturday, June 14, 2008

lonely planet: beli yang palsu menguntungkan (?)


Tony Wheeler pasti sudah tahu bahwa di Thailand dan Kamboja beredar bajakan buku-buku terbitannya, Lonely Planet. Penjualannya pun dilakukan secara blak-blakan, di pinggir jalan kawasan turis dan di kios-kios cinderamata. Tetapi, barangkali, Wheeler juga memberi permakluman pada negara miskin seperti Kamboja, sehingga ia tak perlu geram. Barangkali loh...

Saya sendiri semula sungguh takjub melihat banyaknya buku travel-guide semacam Lonely Planet (LP) yang dijual di pinggir-pinggir jalan di Khaosan Road, Bangkok dan di Siem Reap (Kamboja). Di hostel tempat kami menginap pun tersedia LP berbagai negara. Komplit banget. Bikin saya makin iri pada negara lain. Di Bali yang merupakan tourist destination favorit saja, masih susah mendapatkan Lonely Planet sekalipun yang bekas. Apalagi menemukannya sebagai fasilitas di hostel backpacker.

Di Bali, saya biasa berburu Lonely Planet bekas di Ganesha Bookshop - Ubud. Ada juga beberapa kios buku used-book yang menjual LP di Ubud, Kuta, Legian, dan Sanur. Tapi itupun nggak seberapa banyak tersedia. Tergantung pada turis-turis yang meloakkan buku travel-nya. Berbeda dengan di Khaosan Road yang menjadi kawasan backpacker di Bangkok. Buku-buku Lonely Planet dijual oleh pedagang kaki lima. Mereka juga memasang poster ala kadarnya bertuliskan "We Buy" yang berarti bersedia membeli buku-buku loakan dari para pelancong.

Rasa ketakjuban itu terjawab ketika secara iseng saya menanyakan berapa harga LP "Cambodia" pada penjual suvenir yang memajang beberapa buku travel dan buku tentang Khmer. "4 dollar," jawab si penjual yang membuat saya terbelalak. Masak nggak nyampe empat puleh ribu sih? Yang bener aja! Bukannya LP Cambodia ini harganya sekitar 250ribu di Indonesia. Saya aja bela-belain beli LP yang kompilasi alias multi-country guides, yaitu "Vietnam - Cambodia - Laos & the Greater Mekong" seharga 275 ribu yang menurut saya lebih murah ketimbang beli tiap-tiap seri.

Dalam keheranan saya buka plastiknya. Saya perhatikan baik-baik isinya, lembar demi lembar. Dan barulah saya ngeh, bahwa LP itu kopian. Tapi kualitas cetaknya lumayan bagus, termasuk cetakan pada halaman berwarna. Hanya saja kertasnya tak setipis LP asli sehingga menjadi sedikit lebih tebal. Di samping itu kualitas jilid atau bending-nya juga standard buku terbitan lokal. Padahal salah satu syarat utama buku travel-guide adalah kualitas jilidnya seperti woro-woro yang tertera di cover LP asli: SPINE STITCHED FOR EXTRA STRENGTH. Jelas dong, wong buku travel-guide itu bagaikan bibble buat para backpacker yang akan selalu digembol dan dibolak-balik sampai kucel.

Hhhmm...pantes saja saya lihat beberapa LP yang ada di hostel pada brodol. Waktu itu saya hanya membatin, barangkali karena saking banyaknya penginap yang membaca ya. Rupanya, memang ada sebagian LP bajakan yang dipajang. Ah, tapi bagi traveller yang penting kan informasinya. Nggak peduli asli atau aspal. Dan saya pun segera membeli beberapa buku LP yang menjadi target jalan-jalan saya di tahun depan. Hehe....!

Monday, June 9, 2008

sulitnya menghapal jalan di phnom penh



Ketika berkunjung ke Pnomh Penh, saya sengaja memilih hotel di kawasan yang tidak padat turis, supaya bisa lebih menikmati aura negerinya Sihanouk. Hotel (lihat yang saya lingkari di peta itu) yang saya pilih jauh dari Riverside, kawasan turis-nya Phnom Penh. Boddhi Tree Del Gusto, hotel kami, terletak di kawasan pemukiman di tengah kota Phnom Penh. Meski di tengah kota, ternyata malah jauh lebih sepi ketimbang suasana di pinggir kali Tonle Sap.

Sebenarnya bukan soal rame dan tidaknya kawasan itu. Tapi, karena ketidakmampuan saya mengingat nama-nama jalan di Phnom Penh. Tepatnya, mengingat angka-angka jalan, bukan angka nomor rumah! Yap, nama-nama jalan di Phnom Penh adalah deretan angka. Dan mengingat angka jauh lebih sulit ketimbang mengingat kata-kata.

Di Phnom Penh, jalan-jalan itu ditulis seperti ini: street 95, street 271, street 484, dll. Kalau mau menulis alamat lengkap berikut nomor rumah, begini tulisannya: 45 Street 95. Itu berarti rumah di Jl. 95 No. 45. Nah lho, bingung nggak?

Celakanya, kadang jalan yang bersebelahan tidak selalu angkanya juga beruturan. Misalnya jalan 95 tempat hotel saya beralamat, yang ternyata diapit oleh dua jalan lain yaitu jalan 93 dan jalan 99. Tapi entah di mana jalan 94, 96, 97, dan 98 berada. Saya cari-cari di seputaran jalan itu kok nggak ketemu ya.

Hanya ada beberapa jalan yang memiliki nama, misalnya Sihanouk Boulevard yang semula street 274, Mao Tse Toung Blvd mulanya Street 245, Nehru Blvd (215), atau Monireth Blvd (271).

Konon, nama-nama maupun angka-angka jalan itu juga ikut berubah mengikuti suhu politik di negeri itu. Duh...

---

click image to enlarge

Thursday, June 5, 2008

no access



Due to be renovated, the top area of Angkor Wat is close for visitors for a while. But, hey look at that couple. They didn't care about the "No Access" sign. They had crossed the border and climbed the temple.

I captured this moment when visited Angkor on Monday morning, May 26, 2008.

Wednesday, June 4, 2008

fried cricket, cambodian street food


In 1978s, people of my Grandpa's village at Central Java love eating fried insects, such as crickets and flying white ant. They like caterpillar too, especially that live in teak wood (Pohon Jati). As a kid, I enjoyed eating them. Fried flying white ant was my favourite. It's taste so delicious. But eating fried crickets was more fascinating. Because we fried crickets that I catched by myself. Yup, I loved hunting crickets in the field when I was kid.

Cricket fighting was my hobby. I hunted them in the night when they slept under the trunk of banana plants. The red-crickets was my champion. He usually won the fight. But if we didn't find him, and only found small crickets, we catched and fried them.

It was 30 year ago. It was just a children naughtiness. I never eat fried crickets anymore. I think people in my Grandpa's village don't eat fried insects anymore. And I was shocking when I met many fried crickets seller at Cambodia market. Oh my gosh...they still eating insects!

See more photos of Cambodian street food here

Monday, June 2, 2008

boddhi tree del gusto | phnom penh


thank to my-self :p for a cozy, charm, and nice boutique hotel where we stayed in phnom penh, cambodia. boddhi tree del gusto is a hotel with a great colonial architecture built in 1930's. it has only 6 rooms. i was very lucky, the room was available when i booked by online.

in phnom penh, del gusto known as a charming cafe. it's located at 43 street 95. here the place where many expat in cambodia spend their saturday night for dinner with their family or colleague. the food is so delicious.

let's see our more photos of del gusto. just click my another travel blog here.

Tuesday, May 20, 2008

thailand & cambodia: confirmed booking rooms


Tomorrow evening, the journey to Thailand and Cambodia will be begin. But, for me, the journey have been started from few days ago. Yup, because few days before departure time, I've been spent time to list itineraries. For me, the most difficult thing in independent traveling is how to find cheap, clean, and comfort rooms.

Here are 3 hotels where we'll stay in Bangkok, Phnom Penh, and Angkor. Hope they are comfort to stay. Does anyone has been to?

Wendy Guesthouse - Bangkok, Thailand
Wendy is located in Siam Square, a whole square boutique and shopping mall. Siam Square lies along Skytrain. Wendy is easily accessible from/to Skytrain station. We'll stay there for 3 nights (May 21 - 24, 2008). I've paid the deposit online.

Boddhi Tree Del Gusto - Phnom Penh, Cambodia
Travelfis.org said that Boddhi Tree is unique and comfortable hotel in Phnom Penh. There are 3 hotels in Boddhie Tree. I booked Boddhie Tree Del Gusto because it has free wireless internet access. We'll spend only for one nigth, at the weekend, enjoy the Saturday night at Phnom Penh. Next afternoon we'll go to Seam Reap (Angkor Wat) by bus.

Secret of Elephants - Seam Reap, Cambodia
When I found the website, I was falling in love with this hotel. I think this hotel is so exotic. See the pic above, and you'll agree with me. Hhmm..we'll spend for 2 nights at Angkor then fly to Singapore - Jakarta - and Jogja.