SCAM everywhere

Tiga kata ini sangat fasih diucapkan tukang becak yang mangkal di seputaran Malioboro: "Batik, Bakpia Pahtok, Dagadu." Dengan sangat antusias para tukang becak ini menawarkan jasanya mengantar wisatawan untuk belanja oleh-oleh khas Jogja. Saking antusiasnya, mereka sering nggak peduli apakah yang ditawari itu bener-bener wisatawan atau orang Jogja yang baru keluar dari Malioboro Mall. atau Pasar Beringharjo. Saya sering risih karenanya. Meski sudah jelas-jelas menenteng kunci motor yang dengan sengaja pula saya ayun-ayunkan dengan harapan Pak Becak tahu bahwa saya naik motor, mereka tetap saja menyapa, "Monggo Mbak...Bakpia Pathok, Dagadu, Batik...." Dan meski sudah dijawab, "Mboten, Paaakk..." kadang mereka masih memaksa dengan mengimingi tarif murah, "Tiga ribu saja, bolak-balik."

Yup, memang cuma tiga ribu rupiah untuk rute dari Malioboro ke pusat Dagadu (palsu) dan Batik di Rotowijayan, kemudian sebelum kembali ke Malioboro mampir dulu di Pathok (Jl. K.S Tubun) yang merupakan kawasan pedagang bakpia. Beberapa di antaranya malah ada yang memasang tarif lebih murah Rp 2.000,-. Tarif itu rasanya memang nggak masuk akal mengingat jarak tempuh dari Malioboro ke Rotowijayan (dekat Kraton) kemudian balik ke utara dan ke barat dikit di Pathok, baru kembali ke Malioboro. Jarak tempuhnya kurang lebih sekitar 5 km.

Sementara itu tarif normal tukang becak untuk jarak tempuh sejauh itu biasanya mencapai lebih dari Rp 10.000. Kecuali kalau kebetulan dapat becak yang sekalian jalan pulang, sehingga harganya masih bisa dinego. Saya sendiri kalau kebetulan iseng naik becak setelah belanja dari Beringharjo ke rumah, di timur Pasar Ngasem, yang nggak jauh dari kawasan batik dan penjual kaos Dagadu palsu, biasanya kena tarif Rp 5.000. Itupun setelah nego. Penawaran pertama yang mereka berikan rata-rata Rp 6.000 - Rp 7.000. Walaupun ada juga yang meminta Rp 10.000,-

Jadi, kalau tarif normal one-way dari Malioboro ke Ngasem saja Rp 5.000,- artinya kalau return alias balik lagi ke Malioboro mustinya kan dua kali lipatnya. Apalagi dari Ngasem dan Rotowijayan itu kalau nggenjot ke arah utara (Pathok dan Malioboro) lebih berat, karena jalannya sedikit menanjak. Tapi, untuk wisawatan yang mau belanja batik, bakpia, dan dagadu Pak Becak memberinya tarif khusus: cuma Rp 3.000,- saja.

Ini bukan dalam rangka turut mensukseskan pariwisata Jogja, lho. Tarif murah Pak Becak itu merupakan hasil kerjasama antar para tukang becak dengan pedagang batik dan dagadu di Rotowijayan serta pedagang baktia di Pathok. Mereka sudah berkong-kalikong. Jika Pak Becak bisa mengantar wisatawan ke tokonya dan melakukan transaksi senilai tertentu, Pak Becak akan mendapat komisi dari hasil penjualannya. Konon, komisi itu bisa jauh lebih besar ketimbang tarif Rp 3.000,- yang dikenakan untuk penumpang.

Ketika pemalsuan kaos Dagadu Djokdja mulai sekitar tahun '98 (setelah krisis ekonomi melanda Tanah Air), sewaktu saya masih menjadi PR Dagadu Djokdja -yang asli doongg...-, saya sempet mendengar kabar bahwa komisi untuk Pak Becak bagi tiap lembar kaos yang terjual sekitar Rp 3.000 - Rp 5.000,-..! Kebetulan pula tempat tinggal saya nggak jauh dari kawasan para pemalsu ini. Setiap hari saya melintasinya dan menyaksikan kerumunan tukang becak yang mengharap komisi. (Setiap menjelang lebaran, Pak Becak juga sering mendapat paket sembako dan sarung dari para pemilik toko Dagadu palsu ini).

Suatu ketika saya pernah berniat iseng menjadi wisatawan yang mbecak dari Malioboro dengan menikmati tarif murah itu. "Ntar nyampe deket rumah minta turun. Jadi ongkosku mbecak bisa murah," kata saya pada seorang teman yang lantas ditimpali teman yang lain, "Huu...aku pernah dipisuhi tukang becak gara-gara begitu!"

Bangkok Gems Scam

Fenomena becak yang mengharap komisi penjualan ini tidak hanya ada di Jogja. Di Bangkok juga banyak tuk-tuk bertarif murah (cuma 20 THB atau sekitar Rp 6.000) untuk berkeliling di beberapa tempat wisata. Tapi bukan tukang tuk-tuk itu sendiri yang langsung menawarkan jasa murah, melainkan ada orang lain yang berperan sebagai corn-artist alias calo. Orang ini biasanya berkeliaran di kawasan wisata Bangkok, seperti di dekat Grand Palace, Khaosan Road, maupun Siam Square. Dengan bahasa Inggris yang cukup fasih, ia akan menyapa wisatawan dan kemudian berbaik hati menunjukkan obyek-obyek wisata tertentu yang menarik untuk dikunjungi.

Ah, saya jadi teringat pada pengalaman buruk ketika ke Bangkok untuk pertama kalinya. Ketika hendak menyeberang jalan menuju Grand Palace, seseorang mendekat dan menyapa dengan ramahnya. "Hi, where do you want to go?". Dan ketika saya meyebut Grand Palace, dengan ramah dia memberitahu, "Today is Buddhist holiday. The Palace is close and will be open at 2 PM," katanya. "But don't worry. You could go to other places. Have you been to Standing Buddha?" Lalu ia meraih peta Bangkok dari tangan saya. "Let me show you many interesting places in Bangkok," tambahnya. Dilingkarinya beberapa tempat menarik, diberinya nomor untuk masing-masing tempat sesuai dengan urutan.

Saya mulai tertarik dengan informasinya karena tempat-tempat yang disebutnya sebenarnya berada di luar target tujuan jalan-jalan kami. Nggak ada salahnya ke sana juga kan? Apalagi, ia juga mengatakan bahwa untuk mendukung promosi di hari libur umat Buddha ini, pemerintah memberikan subsidi pada tukang Tuk-tuk sehingga tarifnya pun bisa lebih murah. "You only pay for twenty Baht," katanya. "But only for the Yellow Tuk-tuk," tambahnya.

Saya pikir, Yellow Tuk-tuk adalah tuk-tuk yang dicat kuning. Tapi rupanya tuk-tuk itu tak berbeda dengan tuk-tuk lain, sama-sama kucel. Hehe...! Tuk-tuk itu sedang ngetem tak jauh dari kami sehingga ketika kami mendekat, dengan sigap dia langsung meyebut dirinya sebagai si yellow tuk-tuk driver.

Saya naik sambil menunjukkan peta yang sudah ditandai corn-artist tadi. Diantarnya kami ke Standing Buddha Temple yang memang keren. Bayangkan, patung Buddha berdiri itu begitu raksasa. Orang Thai memang gemar membangung patung-patung Buddha raksasa dari berbagai posisi: standing, slepping, sitting...!

Di obyek wisata pertama itu kami benar-benar puas. Hampir satu jam kami habiskan waktu untuk memotret dan melihat-lihat kawasan wisata itu. Lalu kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya. Pak tuk-tuk menghentikan kami di sebuah bangunan sepi, entah apa namanya. Kami disambut seseorang, "The temple is close because Monks are having their lunch," kata seseorang berpenampilan parlente sambil mempersilakan duduk di bangku dengan meja kecil di hadapannya. Saat itu memang jam makan siang. Dan kami pun mengisi waktu sembari ngobrol. Asyik juga ngobrol dengannya, bahasa Inggrisnya cukup fasih. Ngakunya sih, ia lama tinggal di Amerika, membuka bisnis Thai Restaurant di sana. Saat ini ia dan keluarganya tengah berlibur dalam rangka Buddhist holiday.

Obrolan ngalor-ngidul itu kemudian berujung pada promosinya tentang International Export Centre. Saya langsung membayangkan sebuah pameran besar yang digelar di JCC Senayan. Dia juga bercerita tentang diskon khusus untuk pembelian batu permata. Ditunjukkannya saya kwitansi dari pembeliannya yang nilainya ribuan dollar. Waw....! Katanya pula, hari ini adalah hari terakhir sale besar-besaran itu. Saya tergoda, bukan untuk membeli batu-batuan karena memang pada dasarnya kurang tertarik perhiasan, tetapi karena embel-embel "international export" yang disebutnya. Hhmmm..siapa tahu bisa menemukan benda-benda etnografi di sana.

Saya sungguh kecewa ketika tukang tuk-tuk itu mengantar kami ke sebuah toko sepi dan hanya menjual perhiasan dan batu permata. Tapi biar nggak terkesan aneh, saya pun pura-pura menikmati keindahan perhiasan yang dipajang di etalase. Si Mbak penjaga dengan agresif menawari kami. Kami menolak dan setelah satu putaran lalu keluar dari toko perhiasan itu. "I want to go to international export centre" kata saya pada tukang tuk-tuk yang sudah menghentikan kami di toko permata. "Yes, that is international export."

Saya ternganga. Kemudian saya minta Pak tuk-tuk mengantar ke obyek wisata saja. Dia menurunkan saya di sebuah temple, entah apa namanya. (Uhs, kok hanya Standing Buddha Temple aja yang saya ketahui namanya yak. Tapi memang temple-temple ini tidak berpapan nama.) Seperti temple sebelumnya, temple ini pun juga sepi. Tapi arsitekturnya cukup menarik, sehingga kami pun mengambil beberapa gambar. Saat lagi mau mejeng, tiba-tiba nyaris menabrak seseorang yang melintas dari samping. "Oh I'm sorry," kataku. "Are you a tourist?" Tanyanya kemudian. Saya memaklumi pertanyaan itu, karena wajah Jawa saya memang mirip dengan kebanyakan orang Thai, sehingga sering dituduh warga Thailand.

Orang itu mengaku berasal dari Sumatra Utara bermarga Sembiring tapi lama tinggal di London. Garis wajahnya tidak menunjukkan karakter Batak sama sekali, tapi juga nggak bule banget. Berkulit sawo matang, berhidung bangir. Mungkin blasteran melayu - bule. Logat Inggrisnya memang London sih (halah, baru sekali ke London udah sok familiar nih). Bahasa Inggris yang mengalir cepat tapi dengan volume yang rendah. Biasanya kalo Inggris bukan mother tounge, pasti ngomongnya sambil kayak mbengok-bengok alias teriak..hehehe...

Merasa sama-sama turis, kami pun ngobrol sambil mengelilingi temple yang sepi. (Heran, nggak ada satupun wisatawan lain selain kami). Obrolan kami ternyata juga sampai pada bahasan gems & stones yang tidak menarik itu. "Yes, I've been there. May be I've to think twice to buy," kata saya ketika dia menyebut International Export Centre. "You crazy, you don't buy it. You crazy. You could sell them in your country in high price," katanya dengan berkali-kali menyebut "you crazy". Saya cuma tertawa. Lalu dikeluarkannya kwitansi pembelian permata dari tasnya. Dia bilang sudar berkali-kali ke Bangkok untuk membeli permata dan kemudian menjualnya di London dan Paris dengan harga dua atau tiga kali lipat.

Lalu dia merekomendasikan salah satu toko permata langganannya. Nama toko itu dituliskannya di peta lipat yang selalu saya tenteng. Dalam hati saya membatin, males ah ke toko permata lagi. Saya kan nggak hobi perhiasan.

Ketika keluar dari temple, tukang tuk-tuk bertanya saya pengin ke mana. "Grand Palace, please." Saya sudah kepengin ke sana sejak tadi. "The Palace still close," jawabnya. Saya lirik jam tangan memang belum jam dua. Lalu ia meminta saya memperlihatkan peta lipat Setelah itu ia menyalakan tuk-tuknya. Saya tak tahu mau dibawa ke mana lagi, pokoknya jam dua siang harus ke Grand Palace.

Ternyata ia menghentikan kami di depan sebuah toko sepi lagi. Yang saya yakin itu toko permata lagi. "Don't stop here, please. I don't like jewellery!" Teriak saya. Dengan bahasa Inggris patah-patah, Pak tuk-tuk bilang bahwa dia butuh kupon untuk makan. Dengan membeli sesuatu di toko itu, dia akan mendapat kupon makan.

Hhhmm...gelagat buruk percaloan ini mulai kami tangkap. Apalagi ketika kami keluar dari toko dan tak membeli sesuatu. Dia mengatakan bahwa dia butuh kupon. Kemudian dibawanya kami ke sebuah toko permata berhalaman luas dengan mobil-mobil terparkir di sana. Begitu kami masuk, kami langsung disambut dengan seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Di antarnya kami melintasi workshop para pengrajin batu permata (mirip seperti workshop perak di Kotagede), sebelum kemudian sampai di ruangan yang penuh dengan etalase-etalase berisi batu permata.

Saat itu saya baru tersadar bahwa kami memang tengah digiring untuk belanja batu permata. Pak tuk-tuk dan para calo yang bertebaran di kawasan Khaosan Road, maupun yang menanti mangsa di temple-temple itu akan mendapat komisi dari penjualan. Itu berarti, pedagang permata ini harus memark-up harga batu setinggi mungkin untuk dapat memberikan komisi pada para corn-artist itu.

Duh..! Saya terlongong-longong. Tapi sekaligus mengagumi strategi mereka yang hebat. Jauh lebih canggih ketimbang praktek calo bakpia dan dagadu palsu di Jogja. Para corn-artist ini tak hanya mengambil keuntungan ekonomis dari para wisatawan, tapi juga sudah menipu mentah-mentah dengan dalih "Buddhist Holiday". Tahu nggak, ketika kemudian kami diturunkan di dekat Grand Palace dan kami berjalan menuju pintu gerbangnya, kekecewaan maha dahsyat menyelimuti perasaan saya. Di gerbang masuk Grand Palace itu tertulis Open Daily 8 am - 3 pm. Dan sekarang sudah jam tiga kurang beberapa menit, loket sudah tutup. (Wahai dinas pariwisata Thailand, mereka harus dibasmi dan dimusnahkan! Tindakan mereka sungguh merugikan bagi citra turisme Thailand).

Saya pengin misuh. Memisuhi ketololan saya yang bagai kena hipnotis terhasut para corn-artist. Berjam-jam saya menghabiskan waktu mengitari Bangkok dengan yellow tuk-tuk keparat itu. Saya merasa malu, sudah menjadi pelancong yang tertipu. (Eh, ternyata hal yang menyakitkan sudah kena tipu itu bukan pada persoalan angka-angka, tapi lebih pada harga diri).

Malamnya di hotel, saya habiskan waktu untuk menelusur jejak para gem-scam lewat internet. Uh, ternyata memang modus operandinya mirip dengan yang dilakukannya terhadap saya.

Beikut ini sekedar tips untuk menghidari Bangkok's Scam yang nggak cuma menjadi makelar batu permata, tetapi juga restoran dan transportasi terutama jalur darat ke Angkor Wat (Cambodia). Sebenarnya rambu-rambu peringatan itu sudah dipasang di banyak tempat, sayangnya memang kurang eye-chatching. Jadi, mendingan begini aja:
  1. Berhati-hatilah jika sedang di kawasan wisata seperti Khasan Road, Grand Palace, dan Siam Square
  2. Abaikan sapaan ramah orang Thailand yang fasih berbahasa Inggris
  3. Tolaklah mentah-mentah ketika mereka mulai sok tau dengan menunjukkan tempat-tempat tertentu
  4. Kalau mereka menunjukkan kwitansi pembelian benda-benda berharga, jangan lantas pecaya. Itu kwitansi palsu yang mereka bikin sendiri. Soalnya, saya ingat betul, font alaias tulisan tangan yang tertera di kwitansi yang ditunjukkan corn-artis pertama dan kedua sama persis tuh, meski nominalnya berbeda.
  5. Percayalah pada Lonely Planet atau guide-book dan map yang Anda baca. Hehee...

Comments

  1. OUT NOW AT A GOOD BOOKSHOP - Gramedia etc.- NEAR YOU!!!
    Ciao Italia: Catatan Petualangan Empat Musim
    Penulis: Gama Harjono
    Penerbit: Gagasmedia, 2008


    Buku ini mengajakmu untuk melewati ruang-ruang kelas universitas di Italia, galeri seni ternama, sampai pesta-pesta mahasiswa Eropa yang seru.

    Catatan penulis akan membawamu menikmati tempat-tempat di pelosok Mediterania, mulai dari kota metropolis berusia lebih dari dua milenium hingga desa terpencil yang menyimpan banyak harta karun seni dan kejutan tak terduga (buktikan dengan foto-fotonya yang fantastis). Plus tip backpacking ekonomis: mendapat akomodasi gratis di Eropa, mencari tiket, hostel dan makanan murah selama perjalanan.

    Setiap kisah dan suka-duka saat berusaha mengenal Italia, ditoreh dengan sebuah kejujuran dari seseorang yang akhirnya terlalu mencintai negeri Pasta ini.

    ReplyDelete
  2. makasih infonya yak...
    pasti segera dibeli...
    masalahnya, sekarang lagi terdampar di kendari..dan di gramedia kendari blum ada tuu...huks...

    ReplyDelete
  3. gimana di kendari? baik baik aja?

    ReplyDelete
  4. Hahaha, ternyata di Thailand juga banyak calo :P

    Nice post! Thanks!

    ReplyDelete

Post a Comment