goyang lidah banyumasan

Sekali waktu, singgahlah ke Purwokerto, sisihkan waktu 2 jam saja untuk menikmati wisata kuliner di Kabupaten Banyumas. Kota yang dilintasi jalur Selatan kereta api jurusan Surabaya – Jakarta/Bandung ini tak hanya menyajikan kripik, nopia, dan lanting seperti yang biasa ditawarkan pedagang asongan saat kereta berhenti di stasiun Purwokerto. Aneka makanan khas yan unik dan nikmat tersaji di sepanjang jalan utama di kota Purwokerto. Unik karena penampilan luarnya memang tak sebanding dengan kenikmatan yang menggoda lidah saat mengunyahnya.

Cobalah gethuk goreng. Makanan berbahan dasar singkong yang berbentuk gumpalan-gumpalan warna coklat tua ini sekilas memang tak menarik mata. Semakin kita mengamatinya, semakin enek perut kita dibuatnya. Tetapi, begitu kita mencoba menggigitnya, rasa manis gula Jawa bercampur singkong yang telah dihaluskan membuat mata berkejab merasakan nikmat. Jemari tanganpun tergerak untuk kembali mencomotnya.

Konon, makanan ini diciptakan tanpa sengaja oleh Bapak Sanpirngad, warga kampung Sokaraja pada tahun1918. Suatu ketika Pak Sanpirngad yang sehari-hari berjualan gethuk merasa kebingungan karena dagangan gethuknya tidak laku habis. Karena sisa gethuk itu tidak mungkin dijual lagi, ia pun iseng menggoreng gethuk itu. Rupanya, kreasi masakannya menghasilkan citarasa unik, tak kalah nikmat dari gethuk asli. Jadilah gethuk goreng menjadi jajanan pelengkap selain gethuk asli. Tak disangka, popularitas gethuk goreng jauh lebih melejit, sehingga warga sekitar pun lantas ikut-ikutan membuat gethuk goreng untuk dijual. Sepanjang Jl. Sudirman – Kotaraja, jalan raya yang menghubungkan Purwokerto – Yogyakarta inipun kini padat dengan penjual gethuk goreng. Tentu saja, yang paling nikmat tetap gethuk goreng buatan keturunan Bapak Sanpirngad, yaitu Haji Tohirin yang kemudian membuka toko dengan merek Gethuk Asli sejak tahun 1922.

Tak jauh kawasan pedagang gethuk goreng, sekitar 500 meter, berderet pedagang soto khas Sokaraja. Seperti halnya gethuk goreng, penampilan soto Sokaraja juga tak semenarik citasara yang disajikan. Kekhasan soto Sokaraja terletak pada irisan ketupat sebagai pengganti nasi, juga kuah soto yang bercampur kerupuk dan bumbu kacang yang kental, berbeda dengan kuah soto pada umumnya. Oh ya, kita juga bisa memilih menu dagingnya: ayam atau sapi. Jeroan seperti babat iso juga tersedia.

Namun, mengunjungi Purwokerto memang tak puas sebelum mencicipi mendoan dan membawa oleh-oleh keripik tempe. Jangan kawatir, tak jauh dari stasiun kereta api, tepatnya di Jl. Jend Sutoyo – Sawangan, berderet wajan-wajan penggorengan tempe mendoan yang siap menggoreng mendoan pesanan konsumen. Juga tersedia mendoan mentah termasuk tepung bumbunya yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh selain kripik tempe. Di antara deretan toko kripik, konon toko Echo 21 yang paling banyak dikunjungi pembeli. Kabarnya, dalam sehari lebih dari seribu bungkus tempe terjual.

Nah, dua jam singgah di Purwokerto cukup untuk mencicipi aneka makanan khas Kabupaten Banyumas. Perjalanan siap dilajutkan dengan kereta berikutnya. Kali lain, ajaklah kerabat dan sahabat menikmati wisata kuliner di Purwokerto.

Comments

  1. resep rasa rahasia ngga
    kalau boleh minta resepnya soalnya di atas nna ada

    ReplyDelete

Post a Comment