kembang jepun riwayatmu kini

Cobalah dining out di pusat Kya-Kya Kembang Jepun Surabaya yang terletak di sisi Timur Jembatan Merah. Ruas jalan sepanjang 750 meter dan lebar 20 meter ini setiap malam dipadati oleh pedangan makanan, minuman, berbagai hiburan, bahkan peramal. Wisata kuliner bernuansa Tiongkok di kawasan kota lama Surabaya ini mulai dihidupkan sejak awal tahun 2003 silam.

Upaya menghidupkan kawasan legendaris bagi warga Surabaya dengan menjadikannya kawasan food-court dan hiburan malam ini didasari berbagai pertimbangan historis. Sejak abad 19, Kembang Jepun telah menjadi kawasan niaga yang paling populer di Surabaya. Kembang Jepun tak hanya menjadi pusat perputaran uang, tetapi juga menjadi tempat pertemuan berbagai etnik, yaitu Belanda, Jepang, Cina dan tentu saja Jawa.

Pertemuan berbagai etnik menjadikan kawasan ini populer dengan berbagai sebutan. Pada masa kolonial, saat Belanda berkuasa, kawasan ini dikenal dengan nama Handelstraat. Selain menjadi pusat perdagangan, di kawasan ini juga dibangun sejumlah losmen, hotel, dan restoran. Lazimnya kawasan niaga, kegiatan prostitusi pun mulai tumbuh.

Ketika Jepang menduduki Surabaya, nama Handelstraat mulai surut popularitasnya karena Jepang berusaha menghilangkan identitas yang berbau Belanda di Indonesia. Jepang juga telah mengubah kawasan ini menjadi tempat hiburan dengan para Geisha sebagai primadona. Mereka menempati sebuah bangunan yang bagian depannya digunakan untuk restoran dengan sederet kamar tersembunyi di bagian belakang. Di tempat itulah Geisha, yang dalam bahasa Jepang berarti pribadi yang memiliki jiwa seni tinggi, menjalankan tugasnya. Mulai dari menyanyi, memainkan shamisen (alat musik dawai) dan taiko (genderang), menuangkan teh dan sake, memijat dan mengurut, serta menghibur sejumlah tamu yang umumnya para serdadu dan pengusaha Jepang.

Seiring dengan kegiatan para Geisha tersebut, warga setempat kemudian menjuluki kawasan itu menjadi Kembang Jepun. Kembang adalah julukan untuk wanita atau Geisha yang menjadi primadona, Jepun merupakan bahasa Melayu untuk menyebut Jepang. Kembang Jepun tak lain menunjuk pada sejumlah wanita Jepang yang kala itu menjadi primadona.

Setelah masa kemerdekaan, Kembang Jepun menjadi kawasan pecinan dan perniagaan berskala grosir yang menjadi barometer di Kawasan Timur Indonesia. Wajah pecinan yang khas ditandai dengan masih terjaganya bangunan berasitektur Tiongkok merupakan pertimbangan khusus kenapa kawasan ini kemudian diberi nama Kya-Kya Kembang Jepun. Dalam bahasa Hokkian, kya-kya berarti ‘jalan-jalan’. Jadilah kawasan historis ini menjadi pusat jalan-jalan alternatif selain di Tunjungan.

Comments

  1. tapi hati - hati dengan makananya,
    beberapa ada yang tidak halal.
    untuk nuansanya cukup menarik, karena tidak ada tempat seramai itu pada akhir minggu.
    siang juga, banyak kegiatan niaga disana

    arsi

    ReplyDelete

Post a Comment