Serunya Nyetir di Bali

Buat saya, nyopir di Bali itu selalu menakjubkan. Bayangkan, sepanjang jalan disuguhi pemandangan indah, perpaduan antara nature and culture yang membuat mata tak terasa lelah. Belum lagi jalanan yang bebas gronjalan. Hampir semua jalanan di Bali beraspal halus, termasuk yang masuk ke perkampungan. Selain itu juga nggak macet, kecuali di kawasan Kuta. Jadi jarak ratusan kilometer pun ayo aja. Bukan sebuah beban untuk melewatinya.

Menyewa mobil di Bali juga murah dan nggak ribet. Jika di Jogja kita harus meninggalkan Kartu Keluarga C1, KTP, dan sepeda motor berikut STNK-nya sebagai jaminan, di Bali kita bisa menyewa mobil 24 jam tanpa sopir hanya dengan meninggalkan KTP atau menggesek kartu kredit yang di-open sebagai jaminan. Malah, kalau sudah langganan, nggak ninggalin apa-apa pun urusan sewa-menyewa ini tetap lancar.

Saya punya rental langganan yang sudah saya kenal sejak tahun 2001. Saya memutuskan menjadi pelanggan setianya karena semua mobil yang disewakan sudah diasuransikan. Sehingga kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, sudah ada pihak asuransi yang akan membayar klaim. Selain itu jika ada kerusakan mobil di jalan, kita juga bisa minta ganti sewaktu-waktu karena perusahaan itu memiliki mobil yang cukup banyak.

Beberapa hari sebelum terbang ke Bali, biasanya saya sudah mengontak rental langganan untuk memesan mobil. Tentu saja mobil yang paling murah. Katana Rp 100.000 per 24 jam, Karimun Rp 125.000, kalau mau yang fleksibel dengan budget Rp 150.000 bisa milih macem-macem: Avanza, Xenia, Kijang kapsul, atau mobil lain jenis family van. Sehari sebelum keberangkatan, saya akan menginfokan nomor penerbangan dan jadwal mendarat di Bali. Setiba di Bali, di pintu keluar terminal kedatangan sudah ada petugas yang membawa secarik kertas bertuliskan nama saya. Kayak tamu agung aja!

Setelah itu kami akan berjalan ke parkiran, sama-sama mengecek kondisi mobil sebelum beralih tangan. Pihak rental juga akan menyerahkan selembar kertas yang kita tandatangani berisi data tentang mobil yang kita sewa, termasuk beberapa bagian mobil yang mungkin sudah tergores atau penyok. Data ini musti diperhatikan supaya nggak terjadi komplain pada saat kita mengembalikan mobil.

Prosedur mengembalikan mobil ini juga mudah. Segampang saat kita menyewanya. Sehari sebelum mengembalikan, pastikan untuk menelpon pihak rental menginformasikan kapan dan di mana mobil bisa diambil. Biar nggak boros taksi ke Bandara, saya biasa meminta pegawai rental mengambilnya di Bandara 2 jam sebelum keberangkatan pesawat.

Dari sekian kali bawa mobil saat ke Bali, perjalanan yang paling menegangkan adalah saat melintasi kawasan Taman Nasional Bali Barat menjelang tengah malam. Sendiri pula!

Sore itu di bulan Mei 2006 saya meluncur ke Banyuwedang, Bali Barat. Dari Gilimanuk jaraknya sekitar 30 Km arah ke Utara, melewati jalur Gilimanuk – Singaraja. Kalau dari Ngurah Rai mungkin jaraknya hampir 200 Km. Apalagi saya memilih jalur Selatan lewat Tabanan, bukan jalur Utara lewat Bedugul yang katanya lebih cepat. Selain karena nggak hapal jalan, rasanya ngeri aja lewat Bedugul malam-malam. Tahu sendiri kan, Bedugul kan berliku, naik turun gunung begitu.

Saya keluar dari Ngurah Rai dan kawasan Kuta sekitar pukul 17.00 WITA. Menurut perkiraan, Kuta – Banyuwedang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam. Itu berarti saya akan tiba di sana sekitar pukul 20.00. Nggak terlalu malam banget lah. Apalagi Bali Barat kan matahari sorenya lebih awet.

Gara-gara jalur macet di Kerobokan karena ada upacara adat, dua jam kemudian saya baru masuk Tabanan. Dan langit pun mulai gelap. Truk dan bus beriringan melaju lambat ke arah Gilimanuk, membuat laju mobil saya ikutan lambat. Nggak berani mendahului. Selain karena jalanan agak berkelok, terus terang saya agak deg-degan. Membayangkan ban kempes dadakan, radiator muncrat, atau lampu mati membuat saya nggak berani menghentikan kendaraan untuk sekedar beli makan dan numpang pipis. Perut saya mulai terasa keras karena menahan pipis.

Bekal peta Bali yang saya geletakkan di kursi sebelah juga nggak sempet kutengok. Pokoknya melaju aja mengikuti artus truk dan bus malam yang dapat dipastikan menuju ke arah penyeberangan Gilimanuk. Untuk mengenali daerah, saya mengandalkan signboard BRI, Bank Rakyat Indonesia, yang ada di tiap kecamatan. Untuk menghalau ketegangan, saya meminta Bojo sering-sering menelpon ke ponsel. Sekedar untuk memastikan bahwa saya baik-baik di jalan.

Sampai di pertigaan Cekik Gilimanuk, waktu sudah menunjuk sekitar pukul 22.00 WITA. Artinya sudah 5 jam saya melaju. Perjalanan yang harus saya tempuh masih sekitar 11,4 km ditambah 10 menit lagi. Menurut informasi Mas Bayu, dive master dan pengelalo The Bali Pearl yang besok pagi akan saya temui di Teluk Terima. Katanya, lokasi pearl farm yang dikelolanya berjarak kira-kira 11,4 km dari pertigaan Cekik. Sedangkan Mimpi Resort (hotel yang dipesan untuk saya) berjarak hanya sekitar 10 menit dari Teluk Terima. "Kalo lebih dari 10 menit, berarti udah lewat..," katanya.

Dan saya pun membelokkan mobil dari pertigaan Cekik ke arah Utara, menuju Mimpi Resort yang berlokasi di Banyuwedang. Baru beberapa meter melaju, saya sudah merinding. Jalanan begitu gelap gulita, sementara kanan dan kiri jalan hanya pepohonan. Oh my God, bukankah ini memang kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat? Yup, welcome to the jungle, Tita!!!!

Nggak ada satupun mobil yang mendahului atau berjalan di belakangku. Sepanjang jalan saya hanya berpapasan dengan truk-truk yang berjalan lambat karena keberatan muatan. Truk-truk dari arah Bali Utara itu akan menuju ke Gilimanuk dan menyeberang ke Jawa. Sebentar-sebentar saya melirik speedometer, menghitung jarak. Setelah berjarak 11 km saya mencoba menghitung waktu. Katanya, hanya berjarak 10 menit. Tapi, 10 menit itu ditempuh dengan kecepatan berapa ya? Sebagai orang yang awam dengan kawasan ini, saya hanya berani memacu mobil maksimal 60 km/jam.

Lewat dari 10 menit dan saya tak juga menemukan Mimpi Resort. Yang saya temukan hanya signboard Menjangan Resort yang berjarak kira-kira 5 km dari Teluk Terima. Setelah itu kosong, gelap, dan hanya rerimbunan daun di kanan-kiri jalan. Duh Gusti...paringana slamet....

Saya mencoba menelpon Mas Bayu. Apes, ponselnya mati. Sore tadi masih sempat telponan dan dia bilang baru akan meluncur ke Teluk Terima sekitar pukul 20.00 lewat Bedugul. Katanya, ia hanya butuh waktu sekitar 2 jam dari By Pass Simpang Siur, kantornya, menuju Teluk Terima. Mungkin karena sudah biasa dan apal jalan ya.

Lalu saya mencoba menelpon resepsionis Mimpi Resort, menanyakan lokasi. "Yaa, kira-kira dari Menjangan Resort 10 menit. Nanti di kiri jalan ada papan Gawana Novus dan Mimpi Menjangan Resort, lalu masuk kiri," kata petugas resepsionis.

10 menit lagi! Uh, kenapa sih menitan yang dijadikan acuan? Saya nggak ingin mempercayai kata-kata itu. Ini sih nggak beda jauh dengan orang di kampung, setiap ditanya jarak jawabnya begini ”dekat kok, cuman di seberang sana.” Tapi deketnya orang lokal dengan pendatang kan bisa dua tiga kali lipat!

Sempet dua kali saya memutar balik mobil, takut sudah terlewat karena jalanan sangat gelap dan semua papan nama tak berlampu. Alhamdullillah, akhirnya kutemukan juga papan Mimpi Menjangan Resort yang bentuknya sungguh ala kadarnya. Nggak seserius namanya yang berembel-embel Resort. Cuma terbuat dari papan kecil yang sama sekali nggak eye-catching.

Segera saya belokkan mobil ke jalanan yang sempit, gelap, dan berbatu. Repotnya begini nih, menginap di resor. Nggak ada resor yang lokasinya di pinggir jalan dan mudah diakses. Dalam hati saya menyesal menuruti hasrat menginap di resor dengan tarif spesial. (Berkat jasa Mas Bayu saya hanya membayar sekitar 300 ribu perak, dari publish rate US$ 95 untuk kamar termurahnya).

Setelah berjalan di atas jalan tak beraspal itu sepanajng 1 km, terdapat pertigaan kecil yang disepanjang jalan dihiasi cahaya lampu remang. Pasti ini lokasinya. Saya membelokkan mobil dengan lega dan disambut resepsionis yang memelas melihat wajah kuyu saya. Waktu sudah menunjuk pukul 22.55 WITA ketika resepsionis mengantarkan saya ke paviliun romantis yang saya tidurin sendiri tanpa mimpi.

Comments