balap, bola, dan beasiswa

Tahun 2005 lalu, saya "terpaksa" nonton F1 di Sepang - Malaysia. Saya katakan "terpaksa" karena memang pada dasarnya saya kurang tertarik dengan balap jet darat ini. Tapi saya nggak bisa menolak tawaran gratis dari partner bisnis saya. Bodoh banget kalau saya menolak undangan jalan-jalan gratis ke Malaysia.

Jadilah saya piknik ke Malaysia tanpa dibekali wawasan tentang F1. Saya sudah berusaha membeli majalah F1 supaya "menguasai medan". Tapi nyatanya, dalam satu rombongan F1 Mania tersebut, barangkali saya adalah satu-satunya yang nggak ngerti seluk beluk balapan ini. Ah, jangankan pertandingannya, nama-nama para pembalapnya saja saya nggak sanggup menghapal. Hanya beberapa nama yang memang sangat populer saja yang saya ketahui.

Meski begitu saya berusaha menikmati perjalanan dan mengamati dari sisi lain. Saya berusaha tidak mengeluh ketika harus berjalan kaki dalam panas terik yang menyengat, dari lapangan parkir menuju Sirkuit Sepang untuk menonton kualifikasi sehari sebelum hari tanding. Jarak antara parkiran dan pintu masuk arena lumayan jauh lho, sepertinya lebih dari 1 km. Mana nggak ada pepohonan buat berteduh.

Saat yang lain nonton kualifikasi, saya memilih menonton pameran dan mengamati pernak-pernik merchandise yang nggak terbeli. Muahaaallnnyaaa....! Saya juga merasa sedikit terhibur dengan ikut games atau mengisi kuesioner kecil dan mendapat hadiah merchandise topi. Selebihnya saya banyak mengamati orang yang lalu-lalang dari berbagai negara dengan aneka atribut supporter untuk memperlihatkan dukungan mereka. Malah, saya melihat bule berkursi roda yang sangat heboh mendukung jagoannya. Niat banget yak!

Buat saya, apa yang saya lihat dan rasakan selama nonton kualifikasi di sirkuit Sepang ini sudah cukup. Karena kalau diterusin akan menyiksa, karena saya nggak ngerti dan ngefans F1. Karena itu saya nggak berminat mengulang penderitaan batin saat berada di sirkuit itu untuk kedua kalinya. Esok paginya, pada hari tanding, di mana semua peserta harus berangkat pagi-pagi sebelum jam 6 dan sarapan dalam kardus, saya masih terlelap dalam tidur. Sejak kemarin saya sudah meninggalkan pesan untuk tidak dibangunkan. "Ntar saya nyusul naik kereta, udah ngerti jalurnya kok," kilah saya.

Pagi itu, sambil menyantap sarapan sendirian, saya justru menikmati kemerdekaan saya. Nggak ada yang ngoyak-oyak untuk segera masuk ke bus dan nggak ada obrolan jaka sembung tentang F1. Hari ini di saat semua peserta rombongan tengah berdesak-desakan masuk ke arena, saya tengah menyusun itinerary menysuri kota Kuala Lumpur sendiri saja. Jauh lebih menyenangkan daripada berpanas-panas di atas bukit gundul karena tiket yang kami kantongi adalah untuk kelas Hillstand.

Kali lain saya mendapat kesempatan travelling nonton bareng yang lagi-lagi nggak saya sukai: nonton bola di Manchester. “Sumpah, saya nggak ngerti bola. Tapi berhubung saya suka travelling, ya ayo aja!” kata saya pada relasi yang menawari saya untuk menggantikan posisi suaminya yang nggak bisa menemani perjalanan dinasnya.

Relasi saya itu ditunjuk perusahaannya untuk mendampingi 3 pemenang kuis Nonton Bareng pertandingan Manchester United dan Manchester City langsung di Old Trafford, Manchester Inggris. “Tapi jangan paksa saya nonton bola ya. Saya mau jalan-jalan sendiri,” pesan saya padanya. “Tapi masak kamu nggak pengin foto di depan Old Trafford yang sudah jadi ikon Manchester itu?” Tanyanya yang langsung saya jawab dengan gelengan kepala kuat-kuat.

Teman-teman saya yang penggila bola, apalagi yang ngefans berat sama ManU, langsung mencak-mencak sirik. Apalagi saat itu adalah pertandingan Manchester Derby, yaitu istilah yang digunakan untuk pertandingan antara Manchester United dan Manchester City. Pertandingan Derby ini biasanya seru banget. Orang-orang Manchester sendiri banyak yang bela-belain untuk menontonnya. Kalaupun nggak nonton langsung, mereka akan memadati café. Saya sempat melihat aksi gempita mereka mengerubuti sebuah café di City Centre.

Tapi saya nggak ingin membuang-buang waktu dengan sesuatu yang nggak saya pahami dan nggak membanggakan buat saya. Jadilah seharian itu, sambil nungguin relasi saya yang lagi dinas nonton tanding antara ManU dan ManCi, saya ketemuan sama teman-teman Indonesia yang sedang kuliah di Manchester dan kota-kota lain di sekitarnya. Ada Mas Yanuar yang kandidat doctor dan peneliti di Manchester Univ, Ima yang lagi kuliah di Leeds Univ, dan Abby yang menemani suaminya kuliah di Leicester Univ.

Mereka adalah kawan-kawan saya yang hebat dan tentu saja cerdas karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Inggris. Bikin saya ngiri dalam artian positif. Saya termasuk orang yang selalu bermimpi suatu ketika bisa mendapatkan beasiswa untuk studi di luar negeri. Negeri yang saya angankan untuk belajar adala Belanda, negeri yang cocok untuk belajar Antropologi, bidang yang saya minati sejak kecil.

Hasrat mencari beasiswa ke luar negeri sebenarnya lebih dikarenakan untuk memenuhi hasrat jalan-jalan ke luar negeri secara gratis. Indahnya!

Seorang teman yang pintar membaca garis tangan secara iseng pernah saya tanyai, “kira-kira aku bisa dapat beasiswa ke Belanda nggak ya?”. Lalu ia mencermati garis tangan saya dengan serius dan katanya, “Wah, ora je. Peluangmu kuliah ke luar negeri tipis,” jawabnya membuat saya mencak-mencak. “Ramalan nggak mutu, nggak berpihak pada klien!” Teriak saya. “Tapi kalau cuma jalan-jalan ke luar negeri, tanpa sekolah, peluangmu malah terus ada,” katanya menghibur. Dan saya terhibur juga karenanya. “Nah, kalo Hima ini malah ada kemungkinan dapat beasiswa,” ujarnya optimis setelah membaca telapak tangan Hima, adik kelas saya. Hima langsung bersorak. Siapa sangka, ramalan konyol-konyolan tahun 2001 itu ternyata ada benarnya. Hima akhirnya mendapat beasiswa kuliah master di Leiden University, Netherland. Dan saya, walapaun masih ngempet dapet beasiswa, tapi hasrat jalan-jalannya tetap kesampaian.

Eh, tiba-tiba saya merindukan kawan lama yang dulu kuliah di Fak. Filsafat itu. Pengin diramal lagi. Pengin nanya peluang beasiswa short course di luar negeri. Masak nggak juga berpeluang sih?

Comments