tahun baru yang memalukan (2)

-lanjutan dari tulisan sebelumnya: "tahun baru yang memilukan"

Pergantian tahun 2003 - 2004 lalu saya nikmati di Bali bersama suami, sekalian 2nd wedding anniversary yang jatuh tanggal 5 Januari. Supaya masih bisa ngantor di akhir tahun, kami memilih terbang ke Bali dengan pesawat tanggl 31 Desember siang dan tiba di Ngurah Rai sebelum kemacetan malam pergantian tahun. Kami ingin menghindari kemacetan di kawasan Bali selatan supaya bisa tiba di Ubud sebelum matahari terbenam.

Pesawat mendarat on schedule di Ngurah Rai yang sore itu tampak cerah, secerah wajah kami yang selalu bergairah setiap kali mengunjungi Ubud. Ubud is my mood! Membayangkan bakal mengendari mobil sewaan dari Ngurah Rai ke Ubud lewat by pass sepanjang pantai timur Bali, membuat saya kian nggak sabar keluar dari bandara. Di depan pintu terminanl kedatangan pegawai rental mobil langganan saya pasti sudah menanti, untuk menyerahkan kunci dan STNK. Dalam sesaat mobil pun siap kami ambil alih.

Tapi antrian bagasi membuat kami harus sedikit menahan sabar. Rupanya banyak orang yang pengin menikmati akhir tahun di Bali, sehingga penumpang Garuda siang itu cukup padat. Saya menunggu di dekat pintu keluar, sembari memberi isyarat pada pegawai rental untuk menunggu karena Bojo masih mengantri bagasi. Setelah beberapa saat menunggu, Bojo nggak juga nongol, sementara satu persatu penumpang sudah mulai keluar dengan barang bawaannya. Lebih dari setengah jam kami menunggu travelbag kami yang berwarna hijau ngejreng takjuga menampakkan diri. "Kok nggak ada ya?" tanya Bojo keheranan ketika saya mendekatinya yang berdiri sendiri di dekat rel bagasi. Semua penumpang lain sudah mendapatkan bagasinya.

Haduh, masak bagasinya ketlingsut. Saya buru-buru menghampiri petugas di loket Lost & Found. "Pak, kok bagasi kami nggak ada ya?".

"Oh ya? Bisa saya lihat nomor bagasinya?" Bojo kemudian menyerahkan tiket yang sudah dilekati stiker nomor bagasi. Petugas itu terkejut. "Lho, ini stiker bagasi penerbangan ke Jakarta!"

Kami berdua ganti yang terkejut. Rupanya petugas check-in di Bandara Adisudcipto salah nempel stiker bagasi, yang seharusnya berkode DPS tapi yang tertempel di tiket saya adalah stiker CGK alias Cengkareng. Jadilah bagasi saya jalan-jalan dulu ke Jakarta. "Jadi gimana, Pak? Apakah bagasi kami bisa hari ini diterbangkan lagi ke Bali atau nunggu besok?" tanya saya sambil membayangkan harus belanja segala pakaian dalam dan perlengkapan mandi untuk sore ini dan besok pagi.

Petugas bandara itu kemudian menghubungi Cengkareng menanyakan apakah pesawat yang membawa bagasi kami sudah mendarat. Ternyata belum! "Begini saja, nanti malam hubungi kami di nomor ini," katanya seraya menuliskan nomor telpon bagian Lost & Found bandara Ngurah Rai. Menurut si Bapak, masih ada beberapa kali flight malam dari Jakarta ke Denpasar, sehingga sangat mungkin bagasi kami bisa dibawa sekalian.

Saya dan Bojo kemudian keluar dari bandara tanpa keceriaan seperti saat turun dari tangga pesawat tadi. Mana sudah begitu langit juga semakin jingga, menandakan sebentar lagi jalanan akan dipenuhi kendaraan. Karena nggak mau mengambil resiko tidak berganti pakaian dalam dan nggak gosok gigi, kami pun memutuskan belanja-belanji dulu. Pakaian dalam, handuk, alat mandi, dan sepotong kaos oblong besok pagi.

Kami juga belum berani meluncur ke Ubud sebelum mendapatkan kabar dari Bandara. Jadilah kami menjadi salah satu dari ribuan orang yang memadati jalanan di kawasan Kuta. Sesuatu yang nggak saya angankan sebelumnya. Mending kalau saya penyuka keramaian, mungkin malah beruntung. Tapi saya ke Bali kan untuk ke Ubud yang tenang dan tentrem.

Kemacetan Kuta sungguh luar biasa. Sementara itu kami nggak ingin beranjak jauh dari Kuta supaya akses balik ke Bandara lebih mudah. Apa boleh buat. Kami pun menjadi orang yang berduka di antara keriaan.

Sekitar jam 9 malam saya kembali menelpon Bandara. Horeee...bagasi itu sudah ada di loket Lost & Found. Kami segera memutar balik mobil dan meluncur dengan girang, meskipun harus menyeruak kemacetan Jl. Kartika Plaza, menuju Bandara. Dalam kondisi normal, dari Kartika Plaza ke Bandara itu cuma 5 menit. Tapi kali ini hampir satu jam mobil kami baru bisa keluar dari kemacetan malam tahun baru. Huh.

Karena sudah kelelahan, kami membatalkan niatan menghabiskan malam tahun baru di Ubud. Besok pagi barulah kami meluncur ke sana. Malam itu kami menikmati kelelahan di sebuah losmen kecil di Denpasar yang nggak terlalu berisik karena pusat kemeriahan berada di kawasan Bali Selatan: Kuta, Legian, Seminyak, Nusa Dua, dan Pantai Sanur.


Terlibat Aksi "Pencurian" Mobil

Tragedi bagasi yang melelahkan dan menghilangkan mood itu rupanya masih berlanjut dengan tragedi lain keesokan harinya setelah kami tiba di Ubud.

Malam itu kami bermaksud keluar makan malam, mencari makan yang nggak fungsional. "Ke Murni's aja ya," ajak membuka pintu mobil sewaan yang kami parkir di tepian jalan. Hari ini memang giliran saya yang nyopir karena kemarin Bojo sudah seharian dihadang macet sampai kaki kirinya pegel-pegel karena nginjak koping melulu. Murni's Warung merupakan resto di pinggir sungai Ayung, tak jauh museum Antonio Blanco. Tempatnya sangat indah, terutama di lantai paling bawah yang persis di bangun di tebing sungai. Suara gemericik air di antara rerimbunan pohon membuat makanan yang disajikan jadi terasa makin nikmat saja.

Belum jauh saya menyetir, tiba-tiba dihadang seorang Polisi yang berboncengan naik motor. Saya terkejut, tapi mencoba tetap tenang karena toh surat-surat saya lengkap. Tapi Pak Polisi itu tidak meminta saya mengeluarkan SIM dan STNK, "Maaf, dari mana Anda mendapat mobil ini?" Pertanyaannya aneh. "Dari rental lah, Pak." Dia masih bertanya, "Rental mobil mana?". Jawab saya, "rental mobil di Sanur, langganan saya."

Pak Polisi itu masih tidak percaya bahwa mobil Katana Putih yang saya pakai adalah mobil rental. "Mari ikut saya," katanya sambil meminta kunci mobil dan saya disuruhnya duduk di jok belakang. Lalu kami dibawa ke kantor Polsek Ubud dalam keadaan bingung. Jangan-jangan mobil yang kami sewa adalah mobil curian ya? Ah, tapi mana mungkin. Rental mobil langganan saya cukup bonafid karena biasa dipakai oleh kantor relasi saya yang notabene adalah perusahaan multinasional. Service yang diberikan rental itu pun sangat bagus, semua mobil berasuransi sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, bisa melakukan klaim asuransi.

Berbagai pertanyaan itu baru terjawab setelah kami tiba di kantor Polsek dan Pak Polisi mencocokkan plat nomor Katana Putih tersebut dengan STNK yang saya kantongi. Oh my Gosh....rupanya nomornya berbeda. Sementara si Bapak yang dibonceng Polisi yang menyetop saya tadi kemudian mengeluarkan STNK dengan nomor yang sama dengan mobil yang saya pakai.

Seketika saya teringat bahwa di pinggir jalan tempat kami memarkir mobil tadi memang ada 2 mobil Katana yang diparkir berjejeran. Dua-duanya sama-sama Katana Putih. Karena bukan mobil milik saya sendiri dan baru sehari menggunakannya, saya kurang mengenali yang mana mobil sewaan saya. Saya juga tidak menghapal plat nomornya. Sehingga asal comot aja. Apalagi kuncinya kontaknya juga langsung masuk. Distater juga langsung jreng. Nah lo!

"Waduh Pak, maaf. Berarti saya salah mengambil mobil Bapak," saya meminta maaf bercampur geli. Untuk memastikan bahwa saya memang salah mengambil mobil dan mobil rentalan saya benar-benar masih ada di depan penginapan, Pak Polisi dan Bojo meluncur untuk mengambilnya. Tak berapa lama mereka datang dengan Katana Putih rentalan. Kami semua mengamati kedua mobil itu yang persih plek.

Saya kembali meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada si pemilik mobil tersebut juga kepada para Polisi di kantor Polsek Ubud yang sudah saya bikin repot di hari pertama tahun 2004. Saya bersalaman mohon maaf dan setelah itu si Bapak membawa pulang kembali mobilnya.

"Tetapi kami harus tetap membuat Pembatalan berita acara kehilangan dulu, Mbak," ujar salah seorang dari mereka. Saya menurut. "Maklum, di Bali jarang terjadi pencurian mobil. Jadi begitu ada kasus, beritanya sudah langsung tersebar ke semua Polsek di wilayah Propinsi Bali," jelasnya. Saya tercengang dan tersadar. Iya yah, bukankah Bali adalah tempat paling aman untuk meninggalkan kendaraan di sembarang tempat. Jangankan Ubud yang masih banyak dihuni penduduk asli Bali, di Kuta dan Legian pun kita bisa meletakkan kendaraan sembarangan sepanjang malam tanpa takut dicuri orang. Eh, sekarang saya malah penjadi oknum pencurinya.

"Dulu kamu pernah bilang, kalau sampai ada pencuri motor atau mobil di Bali, bisa ditebak dia pasti maling dari Jawa," kata Bojo mengingatkan apa yang pernah saya ucapkan beberapa tahun lalu. Dan sering saya ucapkan untuk menegaskan betapa amannya Pulau Bali karena orang Bali tidak akan mencuri. "Dan sekarang terbukti kan apa yang saya bilang?" balas saya nggak mau kalah karena malu. Pencuri mobil di Bali itu, bola-bali ya wong Jowo!

Comments