tahun baru yang memilukan (1)

Orang Jawa merayakan tahun baru dengan keprihatinan. Menjelang malam pergantian tahun baru 1 Hijriyah atau yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan malam 1 Suro, banyak orang yang merayakannya dengan lelaku prihatin. Ada yang memilih tempat-tempat sunyi untuk bersemedi, ada yang bertapa sambil berendam dalam sungai, atau mengunjungi tempat perziarahan. Kraton Ngayogyakarta hingga kini juga masih melestarikan tradisi tapa bisu mubeng beteng, yaitu berjalan mengelilingi benteng kraton (4 km) dalam diam tanpa boleh berkata sepatah katapun -apalagi ngobrol- yang dimulai tepat pada tengah malam pergantian tahun.

Selain menjalani lelaku prihatin, sepanjang bulan Suro orang Jawa juga menghindari hal-hal yang menimbulkan keramain seperti pesta pernikahan. Sebaliknya bulan Suro dijadikan sebagai momen untuk berbagai kegiatan spiritual, misalnya mencuci benda-benda pusaka atau mengadakan upacara ruwatan untuk menghindarkan diri dari segala marabahaya. Ibu saya kadang-kadang juga masih membuat Jenang Suran yang saya sendiri nggak paham betul maksudnya selain sebagai salah satu rekreasi kuliner. Karena jenang itu akan dibagi-bagikannya ke tetangga sekitar. Ibu juga sering wanti-wanti agar saya tidak banyak bepergian di selama sasi Suro. Dan saya hanya bisa memakluminya sebagai Ibu yang Jadul, Jawa tempo dulu!



Tradisi Jawa dalam memaknai pergantian tahun yang diwarisi dari pengaruh Hindu ini juga mirip dengan tradisi orang Bali dalam menyambut tahun baru Saka yang lebih dikenal dengan sebutan Nyepi. Iya, nyepi yang benar-benar sepi dan hening. Orang Bali melakukan tapa geni, tak boleh menyalakan api dan lampu selama 24 jam. Aliran listrik akan dipadamkan PLN sejak pukul 24.00 hingga esok malam pukul 24.00. Bandar udara Ngurah Rai yang biasanya tetap sibuk selama 24 jam, harus ikut menghormati tradisi dengan cuti tahunan: tak ada pesawat yang lepas landas dan mendarat selama 24 jam.

Nyepi di Bali maupun menjalani lelaku prihatin di Jawa merupakan refleksi kultural untuk menjernihkan bathin, membersihkan jiwa, sehingga dapat mengisi tahun mendatang dengan lebih baik dari tahun sebelumnya. Target akhirnya sih nggak beda dengan bagaimana tradisi Barat menyongsong datangnya tahun baru Masehi dengan teriakan terompet dan semburan kembang api. Kemeriahan Old and New Party yang dilanjut dengan tradisi membuat resolusi tahun baru, niatnya juga sama-sama untuk mengisi tahun mendatang dengan hal-hal positif yang lebih bermanfaat untuk kehidupan hari depan.

Sebagai orang Jawa modern, saya berusaha menghargai keduanya. Kalau malam 1 Suro, saya dan tetangga berombongan ke Kraton lalu bersama dengan rombongan lain ikut nguri-uri kabudayan Jawa dengan tapa bisu mubeng beteng. Lumayan lah, untuk meluruhkan lemak-lemak. Hehe...! Begitu juga ketika malam pergantian tahun baru, kadang-kadang saya pengin menikmatinya di tempat yang indah, Ubud Bali adalah favorit saya.

Millenium Bug vs John Banting

Menikmati pergantian tahun di Bali ternyata nggak selalu indah. Yang lekat dalam ingatan saya malah beberapa kejadian konyol dari yang memilukan hingga yang memalukan.

Menjelang Milenium 2000 saya mengambil cuti seminggu untuk nyepi di Ubud. Kawasan seniman internasional ini pasti bakal seru menyambut kedatangan tahun milenium. Saya nggak ingin melewatkan minggu-minggu terakhir menjelang persiapan seluruh warga ubud menyambut kemeriahan itu. Karena itu saya sengaja ke Ubud pada minggu terakhir Desember dan akan kembali ke Jogja tepat pada tanggal 1 Januari 2000. "What? Don't you worry about the Y2K problem?" tanya seorang bule Jerman, penyewa kamar sebelah.

Si Jerman itu keheranan dengan jadwal terbang saya pada tanggal 1 Januari 2000, padahal banyak orang mengkawatirkan kekacauan sistem komputerisasi yang juga akan berpengaruh pada skedul penerbangan. Saya cuma nyengir sambil meyakinkan bahwa semuanya akan aman. Lagipula ada tugas mulia yang saya emban dari sebuah radio di Surabaya, yaitu melaporkan suasana tahun baru di Kuta secara on air yang disponsori kartu prabayar Pro-XL. Pada saat itu Pro-XL adalah pelopor kartu seluler yang Bebas Roaming Nasional, meskipun jangkauannya masih Jawa - Bali. Saya juga memiliki kartu bernomor 0818 itu demi memuaskan hasrat traveling bebas roaming, supaya nggak nombok karena ditelponin uruan pekerjaan.

1 Januari 2000 saya check in di Ngurah Rai paling awal, 2 jam sebelum terbang. Biar lebih leluasa bergerak, saya sengaja membagasikan semua barang bawaan kecuali dompet, ponsel, dan bloknote kecil yang masuk ke kantong. Setelah itu saya meluncur ke Kuta yang berjarak hanya 5 menit dari Bandara untuk melaporkan pandangan mata.

Rupanya penyambutan pergantian milenium di Kuta jauh lebih hingar-bingar ketimbang di Ubud. Baliho-baliho bergambar agenda party dari berbagai cafe bertebaran. Sementara di Ubud cuma ada 1 baliho besar di perempatan dekat Puri Ubud. Perayaan tahun baru pun diawali dengan karnaval budaya. Sementara di Kuta, nuansa party yang hedonis jauh lebih kentara. Saya juga menemukan banyak turis lokal berwajah mewah Jakarta berseliweran di Kuta Square. Orang kaya Jakarta rupanya pada tumpah ruwah merayakan pergantian milenium di Kuta, nggak di Ubud kampungnya para seniman.

Merasa banyak mendapat informasi komparatif tersebut, saya pun makin bersemangat melaporkan dengan kartu Pro-XL tentang bagaimana perayaan tahun baru Milenium di dua tempat destinasi wisata di Bali itu. "Nanti sore saya hubungi untuk on air lagi ya," kata sang penyiar mengingatkan. "Tapi saya sudah di Jogja loh, siang ini siap terbang," jawab saya. "Nah, keren tuh. Bisa sekalian melaporkan suasana milenium di Jogja." Dengan senang hati, pikir saya.

Mendarat di Jogja. Ketika mengantri bagasi di Bandara Adisucipto Jogja, tiba-tiba saya diusik rasa gelisah dan was-was. Laptop saya aman di bagasi nggak ya? Kekawatiran menghantui benak saya membayangkan daypack berisi laptop yang dilempar-lempar petugas bagasi bandara. Saya menunggu dengan harap-harap cemas sambil mengutuki kebodohan saya: kenapa tadi daypack-nya juga saya bagasikan ya? Hanya karena pengin ringan melangkah dan tangan bebas melenggang, saya sampai lupa bahwa ada laptop dalam tas ransel kecil itu.

Ketika bagasi saya sudah tampak, saya buru-buru menyergapnya dan membuka, mengambil si lappi. Masih utuh, nggak ada yang retak kok. Amin. Saya pun naik taksi dengan sedikit ayem. Tapi belum sepenuhnya tenang sebelum menyalakannya. Dan begitu menemukan saklar listrik untuk menyalakan laptop yang kehabisan batere, saya langsung lemes melihat layar LCD-nya yang berwarna jingga seperti langit senja!

Nggak ada logo Windows yang ditampilkannya.

Kepala saya langsung berdenyut. Piye iki? Padahal ini adalah laptop pertama yang saya miliki, yang saya beli dengan nyicil potong gaji. Masak usinya nggak sampai setahun sih.

Saya segera menelpon seorang teman yang ngerti urusan hardware komputer. Dia malah tertawa begitu mengetahui kronologis ceritanya. "Ya ampun Ta, orang lain pada heboh kawatir sistem komputernya kacau karena Milenium Bug, laptompmu malah kena John Banting!"

Komentarnya membuat saya nyengir penuh kepiluan.


- to be continued in "tahun baru yang memalukan"-

Comments