Thursday, February 19, 2009

traveling with TKI



Menjelang lebaran, suasana di sejumlah bandara di Tanah Air, terutama di Jawa, biasanya sangat khas. Banyak TKI yang pulang kampung, lengkap dengan penampilan dan gaya mereka yang mencolok karena mencoba mengikuti tren fesyen secara berlebihan. mobile. Di lehernya bergelantungan mini headphone, di kantong saku jeansnya ada MP3 player dan ponsel musik maupun berkamera VGA. Bagi yang nggak punya headphone dengan cueknya memutar keras-keras lagu pop cengeng dari ponsel yang menghasilkan suara cempreng, sambil leyeh-leyeh di atas tumpukan travel bag-nya yang besar.

Pemandangan dan perilaku mereka di dalam pesawat, nggak kalah seru. Seperti tidak mematikan ponsel dan terus asyik ber-SMS atau menelpon kerabatnya yang menjemput di bandara tujuan meskipun sudah diperingatkan awak kabin. Sebenarnya perilaku ini juga banyak dilakukan penumpang lain yang tidak peduli keselamatan, tapi karena bahasa para TKI tersebut umumnya sangat medhok dan katro, percakapannya di telepon sering mengundang perhatian penumpang lain.

Suatu ketika, saya duduk sederet di kursi paling belakang dengan 3 orang TKI wanita yang berpenampilan sporty: celana jeans, t-shirt, jaket, dan sepatu Adidas. Sepanjang penerbangan dari Jakarta ke Jogja mereka sangat berisik, cekakak-cekikik entah menertawakan apa. Lamat-lamat saya mendengar sepertinya ada yang kebelet pipis dan nggak tahu di mana toiletnya. Setelah lama menunggu dan melihat ada beberapa penumpang lain yang berjalan ke belakang, mereka pun yakin bahwa toilet tersebut letaknya hanya beberapa langkah di belakang bangkunya. "Nanti aja kalau sudah mau turun," cegah yang lain ketika seorang kawannya yang kebelet akan bangkit. Ia pun menurut dan kembali duduk.

Ketika awak kabin mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Bandara Adisucipto dan semua penumpang dipersilakan mengenakan sabuk pengaman, ia tampak gelisah dan bertanya ke teman-temannya. "Wis meh tekan, aku mau ke WC dulu," lamat-lamat saya mendengar permintaannya. Sementara itu pesawat sudah menukik ke bawah dan kota Jogja sudah terlihat dari atas. Tiba-tiba si TKI yang kebelet itu membuka sabuk pengamannya dan berjalan menuju toilet! Para awak kabin yang duduk di belakang berteriak, menyergap tubuhnya dan mendorong kembali ke kursinya. Si TKI itu malah kebingungan di atas kursinya lagi, mau pipis kok nggak boleh ya padahal sebentar lagi sampai. Weh, emangnya naik kereta api...????!!!

Kekonyolan lain juga terjadi saat saya terbang dengan Garuda, kebetulan saya duduk di kursi deretan belakang lagi. Setelah pramugari membagikan kardus makanan, TKI di sebelah saya malu-malu menerimanya. Apalagi ketika dibuka isinya cukup komplit. Belum lagi minuman yang boleh dipilih. Setelah selesai makan dan menghabiskan minuman, ia tampak gelisah. Tak berapa lama ia kemudian memberesi kardus makanan dan gelas minum tersebut, lalu dibawanya ke balakang ditaruh di pantry! Duh, baik baik si Mas TKI ini. Padahal sebentar lagi para awak kabin kan juga beredar mengambil semua sampah sisa makanan penumpang.

Sejujurnya, kekonyolan para TKI itu menyisakan haru juga buat saya. Keluguan wong ndeso yang naik pesawat ditambah penderitaan mereka mencari uang hingga jauh di negeri orang sungguh sesuatu yang menyentuh (meskipun kemudian yang muncul hanya sesungging senyuman penuh kegelian). Apalagi kalau baca di media tentang pemberitaan TKI yang dianiaya juragannya, dislomot setrikaan, dijatuhkan dari lantai 21 apartemen, atau bahkan ditipu para distributornya sendiri.

Suatu ketika, dalam penerbangan dari Jakarta ke Dubai dengan Emirates, makapai milik United Arab Emirate, saya bareng dengan puluhan TKI wanita yang siap terbang ke Arab Saudi. Saat transit di Singaopore dan harus menunggu di Gate C24 sebelum melanjutkan penerbangan, saya menyaksikan pemandangan yang sungguh mengharukan. Antrian panjang para TKI berkerudung yang berwajah lugu dan lelah hingga membuat mereka rela bergelesotan di ruang tunggu sebelum kembali terbang. Pemandangan di Changi Airport tersebut juga kembali saya nikmati ketika transit di Dubai. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak: ada yang baru datang dengan maskapai lain dan ada pula yang akan kembali ke Tanah Air.

Jadi Tuan Rumah TKI

Tapi keharuan saya akan kisah para TKI mulai mendapat sedikit pencerahan ketika saya menjadi host alias tuan rumah seorang TKI yang bekerja di Taiwan. Juragannnya Ani, si TKI tersebut, kebetulan adalah sesama member Hospitality Club, tempat para traveler di seluruh dunia saling berbagi tumpangan. Akhir tahun 2008 Ani pulang kampung ke Lampung dan diantar oleh Tuan dan Nyonya-nya yang pengin traveling ke Indonesia, termasuk Jogja.

Ketika di Jogja, selama seminggu mereka menginap di rumah saya. Dan selama sepekan itu pula, saya menjadi tour-guide mereka. Menunjukkan tempat-tempat yang menarik di Jogja, rute bus kota, dan menemaninya jalan-jalan kalau pas saya punya waktu luang. Meskipun sebenarnya yang menjadi kontak saya di Hospitality Club adalah Daisy dan suaminya, tapi karena kadang-kadang lebih mudah menjelaskan sesuatu dengan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, saya pun seringkali harus Mandarin yang sudah sangat fasih dikuasainya.




Selama sepekan itu pula saya banyak mengenal kehidupan seorang TKI secara lebih dekat. Ternyata nggak semua TKI itu bernasih malang dan menyedihkan. Menurut saya, Ani termasuk TKI yang sukses dan beruntung karena memiliki juragan yang berpendidikan tinggi (Daisy seorang dosen dan Master lulusan Amerika), baik, dan sangat EGALITER.

Saya sengaja menulis kata egaliter dengan huruf kapital karena relasi yang egaliter antara juragan dan pembantunya sempat mebuat kami serumah mengalami sedikit shock-culture. Setidaknya itulah yang dirasakan Bapak dan Ibu saya yang lahir dalam budaya feodal Jawa.

Inilah beberapa hal yang membuat kami tercengang-cengang. Saat makan bersama, Ani si TKI bisa dengan leluasa memberikan sisa nasinya kepada Tuan atau Nyonyanya. Si Tuan kadang-kadang juga mengambilkan nasi atau lauk untuk Ani, layaknya orang tua yang mengambilkan makanan untuk anak kesayangannya. Kalau Sang Nyonya lagi mandi, Ani bisa dengan santai menggedor pintu kamar mandi dan ikutan mandi bersama. Begitu pula sebaliknya.

Hari pertama melihat pemandangan itu, kedua orang tua saya sempat terlongong. Begitu juga Mbok Nem, pembantu di rumah kami yang nggak pernah makan dalam satu meja makan bersama dengan kami. Mbok Nem dan pembantu rumah tangga Keluarga Jawa umumnya biasa makan di dapur, itupun setelah sebelumnya menyajikan lauk pauk untuk Ndoronya. Pembantu yang mengambil menu dari meja makan Ndoronya adalah pembantu yang nranyak dan tidak tahu sopan-santun. Apalagi yang makan bersama dan saling bertukar menu seperti Ani dan Ndoro Taiwannya.

Esok paginya, Bapak saya kembali shock melihat tingkah Ani ketika berhalo-halo dengan kerabatnya di Lampung. Duduk di sofa dengan kedua kaki terangkat dan berbicara keras-keras di telepon. "Waduh, Bapak ngelus dada," ujar Bapak begitu ketahuan saya sudah bangun dan keluar kamar. "Bagaimanapun, Ani itu rak tetep wong Jowo. Jowo Lampung ya memang beda dengan Jowo Ngayogya. Tapi sebagai wong Jowo, seharusnya tetep ngerti unggah-ungguh. Meskipun Ndoronya di Taiwan tidak minta diunggah-ungguhi, tapi saat ini dia bertamu di rumah
keluarga Jawa...."

Hari-hari berikutnya masih banyak peristiwa yang mengejutkan kami, tetapi kami mencoba memakluminya meskipun kadang-kadang merumpikannya. Hingga hari terakhir, hari berpamitan dan berfoto bersama antara host dan guess juga menyisakan rasan-rasan bagi kami. Bapak saya harus mati-matian menahan risih ketika Ani dengan santai merangkul pundak Bapak saat foto bersama. Juga ketika Ani duduk di sandaran lengan sofa di ruang tamu. Dan puncaknya adalah ketika pamitan dan cipika-cipiki sama Bapak. Hadyuh byuh, tobaaattt...! "Wong Jowo ilang Jawane," ujar Bapak sambil mengelus dada berkali-kali.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment