a publishing company, my dream..




Mimpi awal tahun 2010 untuk bikin trvel books publishing company kembali mengusik di saat 2010 akan berakhir 2.5 bulan lagi. Mimpi itu pernah saya posting di blog multiply pada bulan Januari 2010. Apakah 2.5 bulan cukup untuk merealisasikannya? "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu," kata Arai dalam Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

-----
Setelah tahun 2009 lalu dunia kreatif saya nyaris mampet karena sebagian besar energi saya tersedot untuk keluarga, pada bulan pertama di tahun 2010 ini saya pengin mengucuri otak kanan saya dengan mimpi besar merintis bisnis penerbitan.

Syerem banget kedengarannya ya. Sengaja! Saya sengaja membangun mimpi setinggi gedung Burj Dubai, supaya setiap hari saya terpacu mengumpulkan energi untuk mencapainya. Jadi, saya tidak boleh menganggapnya sebagai mimpi yang muluk-muluk. Apalagi mimpi ini sebenarnya sudah cukup lama bercokol di kepala dan kala-kala suka mengusik, membuat saya gelisah pengin segera merealisasikannya.

Sebenarnya juga, saya sudah merealisasikannya. Tahun 2003 saya menerbitkan sebuah buku esai foto tentang kemiskinan di Indonesia. Jumlahnya 4.000 eksemplar yang terdiri dari 2.000 edisi Bahasa Indonesia dan 2.000 eksemplar lainnya dalam Bahasa Inggris. Penerbitan buku itu merupakan hasil kerjasama dengan sebuah NGO di Jakarta. Dana penerbitannya 100% disuntik dari NGO tersebut. Sayangnya buku tersebut tidak dijual bebas, karena untuk kepentingan program kerja NGO tersebut. Namun demikian, buku itu diterbitkan dengan ISBN atas nama perusahaan saya loh!

Itulah untuk pertama kalinya saya berurusan dengan Perpusnas di Salemba untuk mengurus ISBN.

Proyek pancingan pertama itu memang belum berhasil menggaet ikan berikutnya. Meskipun sebenarnya ada beberapa proyek yang nggak jauh dengan writing & publishing yang saya kerjakan. Bukan buku, tapi newsletter dan corporate magazine.

Masih di tahun yang sama, saya memulai pengerjaan newsletter (yang kemudian dikembangkan menjadi majalah) sebuah perusahaan telekomunikasi. Kontrak ini berlangsung dari tahun 2003 - 2007. Pekerjaan yang saya lakukan mulai dari reportase, nulis, lay out, dan cetak. Meskipun per edisi cuma cetak 2.000 eksemplar dan terbit dua bulanan, tapi saya puas mengerjakannya. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proyek tersebut. Yang paling mengesan adalah pelajaran tentang satelit dan teknologi telekomunikasi lain yang sebelumnya nggak pernah saya pahami. Bahkan, teknologi BlackBerry yang sekarang lagi booming di Indonesia, sudah saya odal-adul teknologinya ketika BlackBerry pertama kali masuk ke Indonesia tahun 2004.

Selain mengerjakan corporate magazine tersebut, saya juga mendapatkan kontrak bulanan untuk mengerjakan newsletter dari salah satu provider seluler di Indonesia. Dalam kontrak dari tahun 2004 - 2008 ada 4 jenis newsletter yang saya kerjakan tiap bulan. 3 diantaranya punya deadline yang berbarengan, dalam minggu yang sama, yaitu antara tanggal 20 - 25 setiap bulan. Kebayang kan betapa tiap tanggal itu kepala saya jadi kemut-kemut buat nulis dan mensupervisi lay out. Begitu terlepas deadline, seminggu beristirahat, dan minggu berikutnya sudah harus melanglang buana mencari data dan reportase. Proyek ini lah yang membuat saya bisa berkeliling Indonesia.

Sayangnya, persaingan tarif murah di industri telekomunikasi seluler Indonesia membuat perusahaan tersebut memangkas biaya promosi, antara lain proyek newsletter yang diperuntukkan buat pelanggannya itu terpaksa tidak diterbitkan lagi. Praktis di tahun 2009 saya kehilangan job jalan-jalan backpackeran keliling Indonesia itu. Sedih juga, tapi ada untungnya juga. Karena ternyata, di tahun 2009 Gusti Allah sudah punya agenda merumahkan saya.

Setelah hampir setahun di rumah ngurus keluarga, saya mendapat kesempatan business trip lagi. Dua minggu setelah kehadiran Baby Bindi, saya mendapat undangan mengikuti pitching (tender) dari klien lama di Jakarta. Ada 3 proyek yang di-pitching-kan, yaitu corporate newsletter, video presentasi, dan booklet sales kit. Saya udah berharap banget bisa kembali mendapatkan proyek newsletter yang vacum selama setahun. Membayangkan bakal traveling dan reportase lagi tiap dua bulan (karena bakal terbit dua bulanan) membuat akhir tahun 2009 serasa menyuntikkan gairah dalam hidup saya.

Tapi saingan pitching kali ini cukup berat. Salah satunya adalah perusahaan jasa media yang sudah menerbitkan sejumlah media komersil yang dibagikan gratis di mall - mall di Jakarta. Dan ternyata, memang dialah yang jadi pemenang. Meski sedikit gelo karena nggak bisa lagi bekerja ala jurnalis, tapi saya rela kok karena pemenangnya adalah perusahaan yang memang mumpuni di bidangnya. Toh, saya juga masih kebagian memenangkan proyek lainnya, yaitu bikin booklet sales kit setebal 56 hal ukuran folio yang dicetak full color sebanyak 13.000 eksemplar. Lumayan kan?

Karena pekerjaan itu tidak memanfaatkan writing skill saya, rasanya kok ya kurang puas ya. Saya selalu merindu pekerjaan yang memaksa saya harus menulis, meskipun nilai proyeknya nggak segeda kerja kreatif lain.

Karenanya saya pengin membulatkan hasrat untuk merintis bisnis penerbitan di tahun ini. Prioritasnya penerbitan media dulu yang memang menjadi passion saya sejak remaja. Setidaknya saya bisa menghidupkan REGOLmagz lagi. Atau apes-apesnya ya nerbitin buku lah. Buku orang lain atau buku saya sendiri juga nggak masalah. (Eh, saya masih punya stok travel writing yang bisa diterbitkan jadi buku loh).

Saya sadar masih ada beberapa kendala yang butuh usaha keras untuk mengatasinya, terutama modal (baca: duit gede). Pasti dong, kalo mau nerbitin media dibutuhkan modal yang lumayan untuk biaya cetak. Saat ini saya lagi golek-golek utangan nih. (Ada yang berminat menjadi investor?)

Comments