Saturday, December 11, 2010

Leeds, a Shopping Arcade Tour



Jika buka karena pengin menghemat akomodasi dengan numpang di rumah seorang kawan, mungkin saya tidak akan singgah di Leeds. Kota yang terletak di Yorkshire Barat (Inggris Utara) ini memang jarang-jarang disebut dalam destinasi wisata. Bahkan mungkin travel agent di Indonesia tidak ada yang mengenal kota Leeds. Saya sendiri juga baru tahu ada kota bernama Leeds hanya karena punya kenalan yang kuliah di sana. Hehe…!

Padahal, menurut Wikipedia, Leeds adalah kota ketiga terbesar (berdasar populasi)setelah London dan Birmingham. Leeds juga merupakan kota di Inggris yang dianggap paling sukses dalam New Urban Revolution. Leeds dianggap berhasil meredisain dan rebranding kotanya menjadi ‘new something of somewhere’. Tapi, apa dong yang menarik dari Leeds untuk wisatawan?

“Leeds kan terkenal dengan shopping arcade-nya,” kata Ima, kenalan saya yang sudah tiga tahun tinggal di Leeds. Kota belanja dong kalau gitu. Apa bedanya sama Hong Kong? Hehehe, makin banyak aja tanda tanya yang berkeliaran di benak saya. Habisnya, sejak kami tiba di Leeds pada sore hari sekitar pukul 19.00 (langit masih terang benderang di musim semi), saya tidak melihat tanda-tanda kota ini layak disebut kota belanja. Apalagi shopping arcade-nya sampai dikenal luas itu. Ah, mungkin karena Ima tinggal di Leeds dan pengin promosi kota tempatnya menuntut studi kali ya? Batin saya penasaran.

Padahal ada produk retail besar yang berasal yang berasal dari Leeds lho. Tahu Marks & Spencer (M&S) kan, departemen store terbesar di Inggris yang juga ada di Jakarta. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai deptstore yang berasal dari Inggris, tapi tidak tahu persis Inggris-nya di kota mana. Ternyata M&S lahir dari sebuah kios kecil di pasar Leeds, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market. Nggak nyangka kan?
Michael Marks, pemilik kios di Kirkgate Market itu mulai berjoin dengan Thomas Spencer pada tahun 1884. Duet ini melahirkan brand M&S yang kini mendunia dan memiliki sedikitnya 895 toko yang tersebar di lebih dari 40 negara.

Sejarah perbelajaan Leeds sebenarnya sudah dimulai sejak era Victorian. Pada masa itu Leeds merupakan salah satu kiblat belanja di Inggris. Saat ini pun Leeds masih menjadi kota paling asyik buat belanja bagi yang tinggal di Inggris utara. Saya baru percaya bahwa Leeds merupakan a mecca of shopping setelah mampir ke Victoria Quarter (VQ) shopping arcade. Victoria Quarter merupakan pusat perbelanjaan kelas atas dibangun ulang pada tahun 1989 – 1996. Area ini meliputi sejumlah shopping arcade yang sudah ada sejak abad 19, yaitu County Arcade, Cross Arcade, Queen Victoria Street, dan King Edward Street.

Saya menyempatkan menyusur lorong Cross Arcade dan County Arcade yang membentang antara vicar Lane dan Briggate. Lorong panjang dengan sisi kanan kiri berupa toko-toko branded yang menjual produk kelas atas seperti FCUK, Harvey Nicholas, Louis Vuitton, dan produk branded lainnya. Sepertinya nggak nyangka, kota yang nggak popular di Inggris itu ternyata memiliki sejumlah outlet resmi produk fashion branded.

Selain berisi toko-toko produk kelas dunia, arsitektur shopping arcade juga membuat saya takjub luar biasa. Arsitekturnya menonjolkan atap lengkung yang terbuat dari logam dan kaca. Sementara pada dindingnya terdapat sejumlah mozaik yang terbuat dari batu pualam.

Selain Victoria Quarter, tempat yang asyik melihat orang lalu lalang berbelaja adalah di Briggate, di sebelah timur pintu County Arcade. Suasana orang berlalu-lalang di Briggate ini mirip di Pasar Baru, Jakarta. Ramai. Saya menyempatkan duduk di bangku-bangku kosong yang tersedia di sepanjang ruas jalan di Briggate untuk menikmati lalulalang orang berbelanja.

Oh ya, ada satu lagi tempat belanja yang layak ditengok, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market yang telah melahirkan pengusaha retailer besar Marks & Spencer. Leeds Kirkgate Market terletak di seberang Cross Arcade, yaitu di ruas jalan Vicar Lane. Di dalam pasar yang dibangun pada tahun 1875 ini memiliki interitor yang lebih klasik dengan bagian atapnya yang menggunakan glass-roof yang disangga lengkungan logam yang cantik.

Jadi, semalam di Leeds saya bisa menikmati rekreasi mata alias window shopping yang cukup menyegarkan. Ini window shopping dalam arti sesungguhnya loh, karena tak ada satu barang pun yang saya beli di kawasan belanja ini. Saya cuma mondar-mandir menikmati kesibukan orang berbelanja serta mengagumi arsitektur bangunan ini sambil bernarsis ria di depan kamera.

No comments:

Post a Comment