Tuesday, January 13, 2009

SINGKAWANG, indonesia chinese town

Sebuah pepatah mengatakan, kunjungan ke Kalimantan Barat belumlah dianggap sah jika belum singgah ke Singkawang. Kota kecil berjarak sekitar 147 km dari Pontianak ini memang memiliki karakteristik yang unik dan khas. Nuansa negeri oriental yang kental akan terasa begitu memasuki kota Singkawang. Terdapat 38 kelenteng yang mudah dijumpai di tiap ruas jalan dengan warna merah dan kuning yang menyala.
Wajarlah jika kota Singkawang mendapat julukan Kota Seribu Kuil.

Padamulanya Singkawang hanyalah sebuah desa kecil bagian dari wilayah kerajaan Sambas. Namun desa kecil ini cukup ramai karena menjadi tempat transit para pedagang dan penambang emas di daerah Montrada yang terletak di jalur antara Singkawang dan Pontianak. Para penambang emas dan pedagang yang singgal di Singkawang kebanyakan datang dari Cina. Lama kelamaan mereka menetap di desa ini, selain menjadi pedagang dan penambang emas, mereka juga mulai membuka lahan untuk bertani. Hingga akhirnya etnis Tionghoa yang mendiami Singkawang jumlahnya menempati urutan pertama atau sekitar 40.96% dari penduduk Singkawang, selebihnya adalah suku Melayu, Dayak, dan Jawa.

Selain para pedagang, orang Tiongkok atau China yang singgah ke Singkawang umumnya juga memiliki keahlian membuat keramik. Setelah mereka menetap di Singkawang, keahlian membuat keramik juga diwariskan pada keturunannya hingga Singkawang juga dikenal sebagai kota penghasil keramik yang tersohor hingga mancanegara.

Sentra industri keramik khas Singkawang ini terletak di Desa Sakok. Pabrik ini mulai berdiri tahun 1895, pabrik yang pertama didirikan di wilayah Kalimantan Barat. Setidaknya terdapat tujuh usaha keramik tradisional di Singkawang. Proses pembuatan keramik ini masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin pemutar otomatis maupun mesin cetak khusus. Begitu juga dalam pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan alami. Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, industri keramik tradisional di Sakok ini merupakan salah satu yang tersisa di Asia Tenggara, selain yang ditemukan di Filipina.

Selain menghasilkan karya seni bermutu tinggi berupa keramik tradisional, warga etnis Tionghoa di Singkawang juga masih menjunjung tradisi dan nilai-nilai budaya. Saat perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek), di Singkawang diadakan arak-arakan ta-thung yaitu orang yang kemasukan roh dewa atau leluhur. Para ta-thung yang kemasukan roh ini memiliki kekuatan magis yang tidak akan mempan oleh senjata tajam. Konon, tradisi ini sudah mulai punah di negeri China daratan dan hanya dilangsungkan di kantong-kantong budaya di Tibet dan Taiwan. Sementara itu di Singkawang tradisi ini masih berlangsung dan memberikan kemeriahan warga setempat setiap tahun baru Imlek.

How To Get Singkawang
• Kota Singkawang dapat ditempuh dengan jalan darat dari Pontianak, kurang lebih sekitar 2,5 – 3 jam perjalanan. Jangan kawatir, jalan raya menuju Singkawang sudah mulus tak berbatu.
• Jika Anda ingin mengunjungi Singkawang saat perayaan Cap Go Meh, ada baiknya menggunakan jasa travel agen dari Pontianak dan pesanlah tempat jauh-jauh hari sebelumnya. Maklum, seputar imlek tingkat hunian hotel di Singkawang cukup padat. Di samping itu banyak perantau yang pulang kampung ke Singkawang.
• Selain nuansa etnis Tionghoa yang kental, Singkawang juga memiliki sejumlah pantai cantik yaitu Pantai Pasir Panjang berjarak 17 km, Pantai Gosong sekitar 45 km, dan Pantai Batu Payang sekitar 20 km dari kota Singkawang. Pastikan cream tabir surya Anda tak tertinggal!


(I wrote this article for mediahalo telkomsel customer newsletter, pamasuka area)

2 comments:

  1. Ayo...jalan jalan ke Singkawang

    ReplyDelete
  2. mengenai hasil kerajinan nya, apa saja ya ?
    kok tidak ada foto nya ? akan sangat baik sekali bila ada foto2 keadaan kota singkawang. bisa menjadi pertimbangan untuk tempat wisata.

    thanks

    ReplyDelete