Luh Sari, bukan nama Bali?


Karena Luh Sari adalah singkatan dari nama lengkap saya, Suluh Pratitasari. Ide ini berasal dari Bapak. Saya masih ingat betul bagaimana Bapak mengusulkan nama samaran itu pada tahun 1986. Waktu itu saya masih SMP dan bersiap berangkat ke Jambore Nasional di Cibubur. Karena di Jamnas nanti bakal ketemu penggalang Pramuka dari seluruh Tanah Air, termasuk Pramuka dari Bali, Bapak lantas menyarankan kalau saya berkenalan dengan rekan-rekan penggalang dari Bali untuk menggunakan nama Luh Sari, supaya dikira orang Bali. “Ah, emoh,” jawab saya spontan karena saya biasa memperkenalkan diri dengan nama Pratita, meskipun sewaku SMP sebagian besar teman sekolah memanggil dengan nama Luh.

Luh, memang bukan sebutan asing buat saya. Almarhum Eyang Kakung (bapaknya Bapak), memanggil saya dengan Luh atau Suluh. Bapak sendiri memanggil Mama, ibu saya, dengan Luh, yang berarti ibunya Suluh. Tradisi ini warisan dari Eyang Kakung, yang biasa memanggil Eyang Putri, istrinya, dengan menggunakan nama anak pertama.Tradisi ini kemudian diikuti oleh putra-putranya Eyang, termasuk Bapak, putra keempatnya. Pakdhe-pakdhe saya juga punya kebiasaan memanggil istrinya dengan nama anak pertama. Tapi Om saya, adik-adiknya Bapak sudah tidak melakukannya lagi.

Tentang nama Luh yang kebali-balian itu, sepertinya memang punya makna khusus bagi orang tua saya. Semasa pacaran, Bapak dan Mama sering berkunjung ke Bali karena kebetulan Eyang (orang tuanya Mama) pernah bertugas di Bali, persisnya di Singaraja, selama 10 tahun. Kalau nggak salah antara tahun 64 – 74, saya kurang tahu persisnya.

Ketika itu Bapak masih tercatat sebagai mahasiswa UGM yang mondok alias ngekos di rumah Eyang di Jogja. Karena kepincut dengan salah satu putri ibu kostnya, yaitu ibu saya, jadilah beberapa tahun menjelang pernikahan (1969), Bapak dan Mama sering bolak-balik ke Bali. Sebenarnya nggak cuma mereka berdua, tapi juga mahasiswa pemondok lainnya. Maklumlah, jaman dulu hubungan antara pemondok dengan induk semangnya masih seperti keluarga sendiri, jadi mereka juga sesekali diajak Eyang ke Bali.

Di Bali, Bapak dan Mama mempunyai sahabat yang sering mereka panggil dengan Mbak Luh. Sejak kecil saya sudah sering mendengar kedua orang tua saya menyebut-nyebut nama Mbak Luh, tanpa tahu nama lengkapnya. Bahkan sewaktu saya dan Mama liburan ke Bali (waktu itu saya masih kelas 1 SMA), Mama juga mampir ke rumah Mbak Luh yang kini tinggal di Denpasar.

Nah, jika kemudian Bapak punya ide membuatkan “username” Luh Sari untuk anaknya, saya jadi mahfum. Pengalaman romantis semasa pacaran di Bali, ingin diabadikan pada saya, yang setelah dewasa ternyata juga kepincut sama Bali (baca: Ubud). Saya sendiri, diam-diam, juga suka menggunakan Luh Sari sebagai usernama untuk login di internet. Hehe...

Comments