Friday, June 11, 2010

venice: napak tilas marco polo


Ada dua petualang asal Venice (Venezia dalam bahasa Italy) yang saya kagumi. Yang pertama Marco Polo, pedagang abad ke 13 yang menjelajah jalur sutra dari Venesia hingga Xanadu, Cina. Kala itu Marco Polo baru 17 tahun ketika mendampingi ayahnya berdagang dan menjalin kerjasama dengan Kublai Khan. Keberanian remaja Marco membuat Khan terpesona dan kemudian mengangkat Marco sebagai pegawai diplomatik kekaisaran. Tugasnya antara lain mengawal putri istana yang akan menikah dengan pangeran Persia. Marco pun kian banyak menjelajahi Asia, melintas gurun dan menyeberangi teluk.


Setelah kurang lebih 24 tahun menjelajah Asia, Marco kembali ke Venesia pada usia 41 tahun. Tiga tahun kemudian, terjadi perang antara Venesia dan Genoa. Marco yang semula menjadi salah satu nahkoda dalam pertempuran itu akhirnya tertangkap dan dipenjarakan. Di penjara ia bertemu dengan Rustichello da Pisa yang menuliskan semua kisah perjalanannya menjelajah Eropa hingga Asia.


Kumpulan tulisan yang kemudian dibukukan dengan judul ll Millione (The Travels of Marco Polo), membuat banyak orang penasaran. Tak sedikit yang mengiranya pembual besar karena kisahnya tentang negeri-negeri aneh yang dikunjunginya. Sementara itu banyak pula penjelajah yang tergoda menyusur jejak Marco Polo.


National Geographic juga secara khusus melakukan penjelajahan ini dengan melibatkan sejumlah penulis dan fotografer andal National Geographic, antara lain Michael Yamashita. Perjalanana napak tilas Mike dari Venice hingga Cina ini diterbitkan dalam buku fotografi berjudul Marco Polo: a Photographer’s Journey. Selain itu National Geographic Channel juga pernah memutar serial “the 24 year odyssey of Marco Polo” yang saya tonton lewat televisi berlangganan.


Penjelajah asal Venesia ke dua yang saya kagumi setelah Marco Polo adalah Francesco da Mosto. Barangkali tidak banyak yang mengenalnya. Saya sendiri baru beberapa tahun ini mengikuti petualangannya di BBC Knowledge Channel. Francesco adalah arsitek, sejarawan, penulis, film maker, dan presenter TV. Sejumlah acara petualangan yang ditayangkan di travel channel yang popular adalah "Francesco’s Mediterranean Voyage, a cultural journey through Mediterranean from Venice to Istanbul". Sebagai seorang arsitek dan sejarawan, Francesco bisa mendeskripsikan setiap tempat yang disinggahinya dengan sangat menarik, lengkap dengan detil seni dan budaya yang tersirat di dalamnya. Saya pun jatuh cinta dengan host berambut putih itu.


Dua petualang itulah yang menginspirasi saya untuk mampir ke Venice, termasuk mencari rumah Maraco Polo.


Ternyata, tidak mudah menemukan rumah sang petualang legendaries ini karena ternyata setiap orang memberi informasi yang berbeda tentang letak rumah Marco Polo. Saya jadi teringat tayangan salah satu episode napak tilas jejak Marco Polo di National Geographic channel. Dalam episode itu, fotografer Mike Yamashita berdiri di depan rumah yang konon dipercaya sebagai rumah Marco Polo. Lalu ia bertanya pada setiap orang yang lewat, “Di mana rumah Marco Polo?”. Ternyata setiap orang memberi jawaban yang berbeda arah. Bahkan ada yang menggeleng tanda tak tahu.


Jadi di mana sebenarnya rumah penjelajah Jalur Sutra ini? Ada yang bilang tak jauh dar Rialto Bridge dan Grand Canal. Di jalan arah Maliban Theatre kita akan ketemu sebuah restoran pizza yang konon adalah rumah Marco Polo. Bangunan lain yang diyakini sebagai rumah keluarga Marco Polo adalah di Corte del Milion. Namun tak jauh dari dari situ ada opera-house yang juga diyakini sebagai tempat tinggal Marco Polo.


Jangan-jangan memang Marco Polo punya banyak rumah ya, kan dia pedagang? saya bertanya-tanya dalam hati. Tapi bisa juga Marco Polo memang pernah tinggal di beberapa rumah, yaitu saat bersama keluarganya sebelum melakukan perjalanan ke Asia, kemudian saat ia kembali ke Venice 24 tahun kemudian, dan setelah keluar dari penjara mungkin juga menempati rumah yang lain. Barangkali.



image: narsis ala self-timer mode on di depan stasiun santa lucia, venice...siap2 napak tilas..hehehe


(sekedar kutipan dari travelogue "eurotrip" yg sedang saya susun)

Sunday, June 6, 2010

milan, benetton, dan saya


Pusat mode dunia, demikian kota ini dijuluki. Sejak abad ke 16 Milan telah berkembang menjadi kota perdagangan barang mewah seperti pakaian, perhiasan, dan barang-barang dari kulit yang wah. Empat abad kemudian, industri tekstil dan fashion mulai berkembang di Milan. Kota ini mencapai keglamorannya sejak tahun 1970. Sejumlah fashion brand kenamaan asal Italia, seperti Gucci, Dolce & Gabanna, Versace, Prada, Armani, dan Valentino hingga kini berkantor pusat di Milan. Sementara itu, hampir semua fashion label internasional membuka toko atau outletnya di Milan.


Tak ayal, kota yang terletak di Italia bagian Utara ini pun menjadi destinasi favorit para model dan perancang busana dari berbagai penjuru dunia. Milan menjadi tempat berburu produk fashion branded favorit mereka. Bagi mereka, ke Italia berarti ke Milan. Berkunjung ke Milan akan menaikkan gengsinya sebagai fashionista.


Saya sendiri punya ketertarikan pada industri fashion Italy, terutama Milan, berawal dari karya foto iklan Oliviero Toscani. Fotografer Italy kelahiran Milan (1942) ini berhasil mendongkrak popularitas produk fashion United Colors of Benetton lewat foto-foto kontroversialnya yang digunakan untuk kampanye iklan pada medio 1980an.


Iklan produk fashion yang mengandalkan unsur warna dalam rancangannya ini cukup unik. Konsep “united colors” ditampilkan melalui model dari berbagai ras: negro berkulit gelap dengan rambut keriting dan bibir tebal, bule berambut blonde, juga wajah asia dengan mata sipit. Issue toleransi, perdamaian, dan respek atas keberagaman dipilih Benetton untuk mengkampanyekan brand-nya.


Pada tahun 1988, iklan multi etnik itu mulai menghiasi majalah-majalah remaja di Indonesia. Kala itu, saya yang mulai menginjak remaja dan lagi belajar centil, akhirnya menjadi salah satu korban iklan Benetton. Setiap hari saya menyisihkan uang saku demi membeli selembar kaos warna ngejreng bertuliskan United Colors of Benetton. Kaos impian itu baru berhasil saya beli tiga tahun kemudian, setelah kuliah dan mulai bisa mencari uang saku tambahan dengan menulis cerpen.


Hingga kini saya masih mengagumi Benetton. Lebih tepatnya mengagumi foto-foto iklannya yang lahir dari ide gila Oliviero Toscani. Kampanye iklan Benetton itu telah banyak mendapat pujian, tetapi di sisi lain juga menimbulkan kontroversi. Kampanye kesetaraan ras yang mengkontraskan kulit hitam dan kulit putih dalam iklan “Breastfeeding” (1989), misalnya, mendapatkan sejumlah penghargaan di Eropa, namun dikecam keras oleh warga Amerika. Barangkali orang Amerika merasa tidak rela jika si bayi yang berkulit putih menyusu pada seorang ibu berkulit hitam yang secara historis merupakan warga kelas embek di Amerika.


Begitu juga iklan yang berjudul “Tongue” (1991) yang menampilkan 3 bocah dengan warna kulit yang berbeda (negro, bule, dan asia) tengah menjulurkan lidah. Pesan yang ingin disampaikan Toscani melalui kampanye ini adalah meskipun bocah-bocah itu memiliki warna kulit yang berbeda, tetapi warna lidah mereka tetap sama. Berbeda-beda tetapi sama saja, begitu kira-kira maksudnya. Iklan ini memenangkan awards di Inggris dan Jerman, namun lagi-lagi mendapat kecaman. Kali ini oleh warga Arab karena dianggap berkonotasi pada pornografi.


Kampanye iklan fashion rancangan dinasti Luciano Benetton yang sarat makna itu memberi kesan yang begitu mendalam dalam ingatan saya. Maka, saya tak ingin melewatkan Milan, kota kelahiran seorang fotografer hebat, Oliviero Toscani. Sekalian mengintip, semodis apakah kota yang dijuluki pusat mode dunia ini?



note:

find more benetton campaign history and ads

Wednesday, May 26, 2010

welcome on board (JOG -> CGK -> DXB -> CDG)


Tepat pukul 00.50 WIB, pesawat Emirates EK 359 mulai bergerak menyusur landasan pacu bandara international Soekarno Hatta, siap terbang menuju Charles De Gaulle Airport (Paris) via Dubai. Di kursi nomor 19H saya duduk merebahkan tubuh gendut saya sambil mengatur sisa-sisa energi yang tersisa.

Dini hari itu, Rabo 5 Mei 2010 terasa sungguh melelahkan. Sejak dua hari menjelang keberangkatan ke Paris, emosi dan energi saya rasanya terkuras habis-habisan. Mula-mula emosi saya teraduk-aduk oleh lamanya pengurusan Visa Schengen. Visa saya dijadwalkan selesai pada tanggal 3 Mei 2010, sehari sebelum saya berangkat ke Jakarta, transit, lalu malamnya dilanjut dengan penerbangan ke Paris. Pada hari yang dijadwalkan itu, saya gelisah menunggu pukul 12.00 – 13.00 WIB yang merupakan jadwal pengambilan Visa di Kedutaan Perancis. Harap-harap cemas saya menanti kabar dari relasi di Jakarta yang siang itu membantu mengambilkan Visa. Lewat beberapa menit dari jadwal pengambilan visa, sebuah SMS singgah di ponsel saya, “Visa belum jadi. Besok disuruh balik lagi…” Whatz…?! Seketika saya langsung diliputi rasa cemas. Jadi berangkat nggak sih?

Sehari sebelum keberangkatan yang mustinya menjadi hari terakhir packing itu justru membuat saya malas-malasan mengemas backpack. Iya kalau besok visanya di-approved, kalau tidak bagaimana dong? Padahal, besok sore (4 Mei 2010) saya sudah punya tiket Garuda yang siap menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta pada pukul 18.30 WIB. Meski begitu toh tetep harus packing juga. Mendingan menyiapkan segala sesuatunya sehingga begitu mendapat approval sudah siap menggendong ransel.

Selepas petang saya menyuplai energi untuk packing dengan makan bakmi goreng kesukaan saya. Anehnya, tak berapa lama setelah perut saya dikenyangkan oleh sepiring bakmi Jawa itu, saya malah merasa mual dan lemas. Lalu berbaring-baringlah saya di kasur mengistirahatkan tubuh sambil membatin, “masih ada hari esok untuk packing kok, kan bawaan saya tidak banyak”. Saya pun ketiduran dan terjaga di tengah malam oleh serangan kontraksi dari dalam perut: semua isinya minta dikeluarkan! Muntah, diare, dan keringat dingin mengucur. Sepanjang malam itu entah berapa kali saya terhuyung-huyung berjalan dari tempat tidur ke toilet.

Esoknya saya baru bisa beranjak dari tempat tidur sekitar pukul 11 siang. Keluar dari kamar saya melihat backpack yang masih terkulai di lantai bersisian dengan beberapa lembar pakaian yang belum sempat di-packing. Ada sisa waktu berapa jam kah untuk mempacking barang-barang ini?

Setelah minum beberapa butir norit untuk menetralkan racun dalam perut, saya menyegarkan diri dengan mandi. Habis mandi dan minum teh manis pasti akan kembali bergairah untuk mempacking ransel. Saat bersiap mandi saya dikejutkan dengan noda darah yang sudah biasa saya lihat setiap bulan. Aaarrrggghhh…kenapa juga ‘dia’ datang di saat lagi berantakan begini? Duh Gusti, paringana kuat…! Semoga nggak pake kejang perut dan pingsan, doa saya. Memang sih, saya sudah jarang-jarang kejang perut saat datang bulan seperti waktu remaja dulu. Tapi, meski nggak separah masa umur under 30, yang namanya datang bulan tetep saja bikin bad mood dan males ngapa-ngapain. Penginnya cuma berbaring-baring nonton channel HBO sambil makan buah segar.

Tapi siang ini saya harus tetep packing, sekalipun masih lunglai karena terkuras akibat keracunan bakmi goreng ditambah mules-mules saat hari pertama datang bulan. Keep in fight, Tita! Saya menyemangati diri sendiri sambil mulai memasukkan pakaian ke dalam ransel.

Di sela-sela packing, ponsel saya menyuarakan dering SMS. “Visa belum jadi. Nanti jam 4 disuruh balik lagi..” HHAAAHH..?! Saya tersentak dan berhenti membaca SMS yang dikirim relasi saya pada tengah hari menjelang jam satu siang. Lalu saya makin terkejut ketika membaca kalimat selanjutnya. Ternyata visa relasi saya yang lain nggak di-approved!

Oh God! Seketika saya lunglai lahir bathin. Sudah badan lagi lemes begini, eh kok ya emosi juga ikut-ikutan diguncang dengan kabar tak menggembirakan. “Trus, kamu berangkat sama siapa?” Tanya Edo ketika saya menyampaikan berita itu. “Ya gimana lagi, terpaksa sendiri…” jawab saya lemas. Bukan berarti saya tak berani jalan sendiri ke Eropa. Bukan itu masalahnya, saya kan sudah biasa ber-solo traveling. Tapi sebagai teman yang sudah merencanakan perjalanan barengan, membooking tiket Emirates secara online bareng-bareng sambil YM!-an, masukin berkas visa di Kedutaan Perancis juga barengan, juga sudah janjian ketemu di Roma, bahkan saya berhasil menghasutnya untuk ikutan bareng sampe Athena karena semula dia berencana kembali ke Paris, saya sungguh prihatin mendengar kabar duka itu.

Pesawat sudah tinggal landas. Lampu tanda sabuk pengaman juga sudah dimatikan. Sebentar lagi pramugari akan membagikan minuman segar dan santapan nikmat. Di kursi nomor 19H saya luruskan punggung sambil menarik napas dalam-dalam.

The business trip must go on, seru saya dalam hati.

my foot step in europe


in PARIS, france


in BRUSSEL, belgium


in AMSTERDAM, the netherland


in MILAN, italy


in VERONA, italy


in VENICE, italy


in ROME, italy

in VATICAN CITY, italy


in ATHENS, greece


Sunday, March 21, 2010

plesiran pertama...


Untuk pertama kalinya saya mengajak Bindi (4 bln) ke luar kota (baca: desa) dan menginap. Desa yang kami tuju adalah desa kelahiran ayah saya, sebuah desa kecil yang berjarak sekitar 6 km dari kota kabupaten Purwodadi Grobogan, Jawa Tengah. Dari Jogja, jaraknya kurang lebih 130 km atau sekitar 4 jam perjalanan (sudah termasuk mengaso sejam di Solo) dengan mobil pribadi.

Sehari sebelum kami melakukan perjalanan, saya sudah dibuat cukup repot dengan berbagai bekal yang harus dibawa Bindi. Sebagai orang yang terbiasa ringkas selagi bepergian (apalagi cuma semalem), pekerjaan packing-mempacking barang-barang Bindi ini membuat saya terpana sendiri.

Inilah daftar bawaan yang saya bawa ketika ngajak Bindi menginap di rumah keluarga Eyang Kakungnya:

  • Pakaian : 2 set baju ganti di perjalanan (tidak termasuk baju yang dikenakan saat berangkat dan pulang), 2 set baju ganti sehabis mandi sore (kami hanya menginap semalam), dan 2 set baju tidur, topi, celemek makan, selimut, handuk
  • Alat Centil : botol-botol cairan buat mandi, minyak rambut, baby cologne, minyak telon, minyak anti nyamuk, 1 pak pampers isi 12, 1 pak tissue basah, 1 travel pack tissue wajah, 1 pak kapas gulung buat cebok
  • Mainan: beruang teddy dan beberapa mainan yang colorfull dan bisa digigit-gigit, dan buku bacaannya (hihii..buku bayi yg terbuat dari kain itu loh)
  • Feeding set: susu formula, bubur cerelac, piranti makan, 5 botol susu kecil (50 ml), alat sterisasi, termos kecil, botol air putih
  • Perlengkapan tidur: 2 bantal dewasa, 2 guling dewasa, (buat magerin Bindi, soalnya kalo bobok suka muter2) 1 guling baby, 1 bantal baby, 1 bed cover ukuran single (buat alas, takutnya nanti Bindi ngotorin sprei sodara kan gak enak)
Amppuunnn..saya sudah langsung geleng-geleng melihat tumpukan barang bawaan Bindi sebelum dimasukkan ke mobil. Bahkan, bagasi mobil Blazer saya yang maha luas itupun terasa sesak deh.

Moga-moga ini hanya karena 'pengalaman pertama'. Next trip will be lighter..hehehe...

Saturday, March 20, 2010

traveling with baby bindi


Untuk pertama kalinya saya mengajak Bindi ke luar kota (baca: desa) dan menginap. Desa yang kami tuju adalah desa kelahiran ayah saya, sebuah desa kecil yang berjarak sekitar 6 km dari kota kabupaten Purwodadi Grobogan, Jawa Tengah. Dari Jogja, jaraknya kurang lebih 130 km atau sekitar 4 jam perjalanan (sudah termasuk mengaso sejam di Solo) dengan mobil pribadi.

Sehari sebelum kami melakukan perjalanan, saya sudah dibuat cukup repot dengan berbagai bekal yang harus dibawa Bindi. Sebagai orang yang terbiasa ringkas selagi bepergian (apalagi cuma semalem), pekerjaan packing-mempacking barang-barang Bindi ini membuat saya terpana sendiri.

Inilah daftar bawaan yang saya bawa ketika ngajak Bindi menginap di rumah keluarga Eyang Kakungnya:

  • Pakaian : 2 set baju ganti di perjalanan (tidak termasuk baju yang dikenakan saat berangkat dan pulang), 2 set baju ganti sehabis mandi sore (kami hanya menginap semalam), dan 2 set baju tidur, topi, celemek makan, selimut, handuk
  • Alat Centil : botol-botol cairan buat mandi, minyak rambut, baby cologne, minyak telon, minyak anti nyamuk, 1 pak pampers isi 12, 1 pak tissue basah, 1 travel pack tissue wajah, 1 pak kapas gulung buat cebok
  • Mainan: beruang teddy dan beberapa mainan yang colorfull dan bisa digigit-gigit, dan buku bacaannya (hihii..buku bayi yg terbuat dari kain itu loh)
  • Feeding set: susu formula, bubur cerelac, piranti makan, 5 botol susu kecil (50 ml), alat sterisasi, termos kecil, botol air putih
  • Perlengkapan tidur: 2 bantal dewasa, 2 guling dewasa, (buat magerin Bindi, soalnya kalo bobok suka muter2) 1 guling baby, 1 bantal baby, 1 bed cover ukuran single (buat alas, takutnya nanti Bindi ngotorin sprei sodara kan gak enak)
Amppuunnn..saya sudah langsung geleng-geleng melihat tumpukan barang bawaan Bindi sebelum dimasukkan ke mobil. Bahkan, bagasi mobil Blazer saya yang maha luas itupun terasa sesak deh.

Moga-moga ini hanya karena 'pengalaman pertama'. Next trip will be lighter..hehehe...



Thursday, March 11, 2010

fly with low fare airline

europe part 1
europe part 2

Ada banyak maskapai yang melayani penerbangan internasional dari Jakarta ke Eropa. Dari sekian banyak itu yang cukup populer antara lain Air France, British Airways, KLM, dan Lufthansa. Maskapai kelas atas ini melayani terbang ke hampir semua kota-kota besar di Eropa. Hanya saja, harga tiket yang ditawarkan maskapai Eropa ini juga lumayan aduhai.

Karenanya saya lebih suka melirik maskapai penerbangan asal Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad, atau Turkey Airways yang tarifnya lebih murah. Meskipun harga miring tapi layanan tetap prima dan yang lebih penting destinasi kota-kota di Eropa juga tak kalah banyaknya dengan maskapai asal Eropa. Selain alasan tarif, terbang bersama maskapai ini akan membuat saya banyak merenung. Merenungi nasib para TKI yang bekerja di Tanah Saudi. Maklum, maskapai ini sering digunakan agen pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dan kita akan menyaksikan bagaimana rombongan TKI itu digiring untuk ngantri memasuki ruang tunggu sebelum boarding, lalu mereka duduk bergerombol dan nglesot di lantai, dan begitu tiba di Dubai pemandangan serupa makin banyak. Nggak hanya TKI yang baru datang dari Indonesia yang sedang menunggu pesawat lain, tetapi juga TKI yang akan pulang kampung dengan beragam ekspresi menyiratkan kehidupan mereka di Tanah Saudi.

Kebetulan saya pernah terbang dengan Emirates saat ke London tahun 2007 lalu. Sungguh, pengalaman akan selayang pandang merekam perjalanan para TKI ke negeri impian mereka itu sungguh menyentuh emosi terdalam saya. Saya pengin merekamnya lagi, kali ini dengan empati yang lebih dalam.

Itulah sebabnya kenapa Emirates langsung nyantol di kepala saya begitu ada rencana ke Eropa lagi. Sensasi empati terbang bersama TKI dan tarif murah dari Emirates adalah perpaduan yang akan membuat perjalanan saya nggak sekedar untuk hore-hore tetapi juga penuh refleksi. (Amiiinnn...).

Jadilah saya spontan membuka website Emirates untuk menengok adakah tarif promo pada bulan Mei mendatang. HArap-harap cemas saya masukkan nama airport di kota departure - arrival, serta tanggal yang saya kehendaki, dan...horreee super low fare-nya langsung nongol di laptop.

Rupanya tidak hanya Emirates yang menawarkan tarif promo pada tanggal keberangkatan dan kepulangan yang sudah saya tentukan. Qatar Airway juga loh. Malah, kalau saya mengajukan tanggal keberangkatan, masih tersedia low fare yang selisihnya hingga USD 200! Bikin kepala saya mendadak berkeringat, karena bergairah melihat tarif super murah yang ditawarkan. Bayangkan, masak Jakarta - Paris return cuma USD 518?

Tahu nggak, dalam urusan perjalanan, semakin murah tiket yang berhasil kita beli, semakin meningkatlah gengsi kita. Sebaliknya, semakin mahal rupiah yang dibayarkan untuk tiket dengan tujuan yang sama, semakin besar kita menanggung rasa kecewa. Haha...

Untungnya saya segera tersadar bahwa perjalanan saya ke Eropa ini tidak semata-mata dolan, tapi ada urusan gaweyan. Jadi saya tetap memprioritaskan pekerjaan tinimbang tarif promo, meski sebisa mungkin tetap mendapatkan harga tiket hemat.

Kemudian saya melanjutkan pencarian. Setiap hari (bahkan sehari lebih dari sekali) saya mengecek harga tiket sesuai dengan tanggal dan rute yang sudah pasti (mendarat di Paris dan meninggalkan Eropa dari kota Athena, Yunani). Supaya lebih fokus dan nggak terlalu banyak pembanding, saya hanya melongok website Emirates dan Qatar.

Persis dua bulan sebelum keberangkatan, saya menemukan best fare dengan menggunakan Emirates yang lebih murah sekitar USD 130 dibanding Qatar. Selain lebih murah, Emirates juga memiliki pilihan waktu terbang yang memungkinkan connecting flight dari Jogja, kampung halaman saya, ke Jakarta dan sebaliknya tanpa harus menginap di Ibu Kota. Itu berarti, saya bisa hemat waktu dan energi.

Yang lebih seru lagi, Emirates menawarkan dua pilihan waktu terbang menuju Paris dengan transit di Dubai selama 3 jam (tiba di Paris jam 13.30) atau transit 10 jam (tiba di Paris jam 20.10) pada hari yang sama. Sebagai pejalan yang menjunjung tinggi filosofi 'sekali terbang dua tiga negara terlampaui', maka dengan senang hati saya memilih transit 10 jam di Dubai. Alasannya sederhana saja, supaya bisa jalan-jalan dan berfoto narsis dengan latar belakang Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Haha...! (to be continued)




europe (part 2): plan a trip



(tulisan sebelumnya: europe part 1)

Kerjaan wajib saya di Paris sudah ditetapkan, yaitu tanggal 7-9 Mei 2010. Pihak Panitia sendiri memfasilitasi akomodasi komplit pada pada H-2 hingga H+2. Proposal dolan disambi bisnis yang saya ajukan pada Edo adalah 2 minggu. Jika saya berangkat tanggal 5 Mei, maka saya harus sudah tiba di Jogja ("Ingat, tiba di Jogja. Bukan Indonesia loh!" tegas Edo) adalah tanggal 19 Mei 2010. Persis 14 hari alais 2 minggu. Apes-apesnya jika penerbangan delay (biasanya Jakarta - Jogja yang suka molor), berarti saya tiba di Jogja tanggal 20 Mei 2010.

Meski waktu departure dan arrival-nya sudah ketahuan, tetapi ternyata untuk mem-booking tiket pesawat nggak sesederhana itu urusannya. Bukan karena fasilitas online maskapainya yang ribet. Bukan dong, jaman sekarang hampir semua maskapai yang melayani terbang internasional, sangat mudah di-booking secara online.

Masalahnya justru terletak pada diri saya sendiri. Andai saja saya nggak pengin memanfaatkan aji mumpung ini dengan mengeksplor Eropa, mungkin urusan buking-membukin sudah kelar sejak beberapa hari lalu. Saya tidak bisa membendung hasrat jalan-jalan murah keliling Eropa nih. Tahu sendiri lah, siapapun yang dapat kesempatan jalan-jalan dibayarin pasti penginnya bisa mengoptimalkan destinasi semaksimal mungkin. Apalagi benua yang saya tuju adalah Eropa yang antar negaranya sudah terhubung dengan kereta cepat maupun pernerbangan murah.

Karenanya sebelum mem-booking tiket pesawat, saya harus mematangkan itinerary selama di Eropa terlebih dulu. Nggak perlu itinerary yang detil, setidaknya mencakup dari mana kita akan memulai perjalanan dan kota manakah yang terakhir kali akan kita singgahi.

Untuk itu saya rela memelototi peta Eropa setiap hari. Lalu membuat garis yang menghubungkan dari satu negara ke negara lain alias membuat rute. Tentu saja nggak bisa sekali jadi karena saya harus mengintip fasilitas transport lokal yang tersedia dan berapa biaya yang harus dikeluarkan dengan jalur tersebut. Begitu ketahuan biayanya mahal, saya langsung mengubah rute. Mencari alternatif yang sehemat mungkin.

Setelah berhari-hari berkutat dengan rute, akhirnya saya memutuskan untuk memasuki Eropa dari Paris sesuai dengan agenda kerjaan saya dan kemudian kembali ke Tanah Air dari Athena, Yunani (to be continued).

Wednesday, March 3, 2010

next trip: europe..(part 1)


Kehadiran Baby Bindi akhir Oktober 2009 lalu, memang membuat saya harus berjuang menahan hasrat melakukan perjalanan alias traveling. Bahkan tiket return ke India dan Laos yang sudah saya kantongi sejak jauh-jauh bulan sebelum kehadirannya pun terpaksa saya relakan demi hari-hari bersama Bindi.

Terkecuali jika perjalanan itu dalam rangka urusan pekerjaan atau bisnis. Meski berat, business trip tetap saya prioritaskan. Bukan kenapa-napa, saya kan bukan orang kantoran yang setiap bulan selalu mendapatkan gaji. Sebaliknya, saya harus berjuang supaya temen-temen di perusahaan saya bisa gajian tiap bulan. Jangan heran jika Bindi sudah biasa saya tinggal jalan sejak usianya 15 hari!

Nah, good news-nya, tahun 2010 ini saya mendapat kesempatan business trip ke Eropa. Eits, tapi jangan keburu menganggap saya sebagai konglomerat ya. Bisnis saya masih kecil-kecilan, hanya mengandalkan kerja kreatif otak kanan, alias tidak mengandalkan modal finansial melulu. Dengan kata lain, biar modal dengkul asal kreatif, pasti bisa jalan-jalan keliling dunia. Tul kan?

Negara pertama yang akan kami jajaki adalah Perancis, Paris.

Buat saya, business trip ke Paris bulan Mei 2010 nanti nggak sekedar urusan bisnis, tetapi yang nggak kalah penting adalah trip-nya. Malah, saya lebih bergairah ketika menyusun itinerary alias trip ke mana aja selama di Paris dan Eropa nanti. Tahu nggak, agenda bisnisnya sih cuma 3-4 hari, tapi extend-nya 10 hari! Dasar, nggak mau rugi!

Masih ada waktu dua bulan untuk menyiapkan business & trip ke Eropa nanti. Persiapan bisnis nggak perlu dibahas di sini dong. Lagian lebih asyik menyiapkan itinerary untuk mengeksplorasi Paris dan negara-negara lain di sekitarnya kan?

Berikut persipan yang saya lakukan:

Yang pertama, diam-diam saya sudah membeli buku Lonely Planet edisi Western Europe di Kinokuniya, Jakarta. Harganya memang mahal, Rp 372.000,-. Tapi karena saya merasa lebih nyaman dan aman jika menenteng kitab suci para pejalan ini, saya pun merelakan rupiah tersebut.

Lonely Planet juga sangat membantu saya dalam menyusun itinerary. Karenanya, saya merasa perlu membelinya jauh-jauh hari sebelum berangkat. Dua bulan cukup untuk mempelajari isinya, menyusun trip yang kemungkinan akan saya lalui, mempelajari jalur transportasi (kereta dan low cost airline), juga museum dan situs-situs heritage yang bakal saya kunjungi. (Gila, Eropa tuh gudangnya bangunan heritage yang terdaftar di UNESCO World Heritage List. Sampai bingung saya menyusun prioritas mana yang worthed buat saya).

Dengan mempelajari Lonely Planet, ternyata juga memudahkan saya bernegoisasi dengan Edo yang terpaksa menjadi suami siaga bagi Baby Bindi.

Saat saya ke Eropa bulan Mei nanti, Baby Bindi baru berusia 6 bulan. Kebayang kan repotnya Edo di malam hari dan pagi hari sebelum dia berangkat kerja. (Siang hari Bindi diasuh Mbok Nem dan karena dia cute banget, banyak tetangga yang berbaik hati nemenin main. Jadi Mbok Nem juga bisa ngerjain kerjaan rumah lainnya).

"Jadi kamu mau pergi berapa lama nanti?" tanya Edo tanpa senyum. "Totalnya dua minggu, sekalian perjalanan pulang balik," jawab saya sambil menahan deg-deg-an. "Sepuluh hari aja lah," Edo menego. Saya melotot. "Lah, urusan kerjaan aja mungkin bisa 5-6 hari baru bisa terbebas. Buat perjalanan udah 2 hari. Dua hari sisanya mana cukup buat menikmati Eropa?"

Lalu, saya mengambil Lonely Planet, mengharap pertolongan dari kitab suci pejalan itu. Saya jelaskan rute perjalanan yang pengin saya tempuh setelah urusan di Paris beres. "Ingat lho, sekarang saya sudah bukan traveler biasa. Tapi seorang travel writer, yang butuh data untuk ditulis dan diterbitkan menjadi buku lagi...," tambah saya mencoba meyakinkannya bahwa saya pergi bukan semata-mata dolan. Tentu saja sambil membeberkan target tulisan yang harus saya setor ke penerbit setelah pulang backpacking ke Eropa.

Sebenarnya juga, Edo sangat paham. Bukankah sejak kuliah, sejak pacaran dulu saya sudah terbiasa jalan? Dan setelah merintis bisnis sendiri, jadi makin banyak jalan karena banyak job di luar Jogja.

Masalahnya, karena sekarang kami punya momongan. Butuh perjuangan dan doa untuk mengasuh Bindi selagi ibunya business trip. Meskipun Edo sudah jago mengganti popok, menceboki ketika Bindi pup, mengajak jalan-jalan tiap pagi, dan menggendong dengan posisi nyaman sehingga Bindi bisa tertidur di lengannya...tapi sejago-jagonya ayah, tetep lebih asyik kalo didampingi ibunya kan?

Cukup lama kami membicarakan soal pengasuhan Bindi selama saya pergi nanti. Hingga hari ini, kami masih membicarakan berbagai kemungkinannya. Dan saya belum mem-booking tiket, sengaja mengulurnya, supaya segala sesuatunya fix duluan...(to be continued: plan a trip)

Thursday, February 11, 2010

TEMPO institute & MATATiTA : travel writing forum


Senangnya dapat kesempatan untuk ngobrolin travel writing di TEMPO Institute Jakarta. Kali ini saya didampingi Mbak Mardiyah Chamim, redaktur senior Majalah TEMPO yang juga Direktur Eksekutif TEMPO Institute.

Acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Tapi cuma terbatas untuk 30 peserta. Buruan nelpon Mas Agung 081808456344 untuk registrasi ya.

Obrolan sore bergizi yang ditemani secangkir kopi ini akan diselenggarakan pada hari KAMIS, 18 Februari 2010 jam 15.00 - 18.00 wib bertempat di kantor TEMPO Institute, Jl. Haji Abu No. 23 Cipete Selatan JAKARTA SELATAN 12150

Yuk..yuk..gabung sekalian kopdaran ya...

Sunday, January 31, 2010

"TALES from the ROAD" for your iPhone & iPod Touch

kabar gembira dari drom.mobi niy...

price titacover tita“I’m a Going Native Traveller who love to travel to visit exotic places, meet the locals, and experience different cultures.”

~ Matatita ~

Pernahkah Anda membayangkan rasanya diangkat anak secara tradisional oleh keluarga Dayak? Atau bagaimana sih asyiknya tinggal di rumah Suku Newari, Nepal, di sebuah kawasan yang masuk ke dalam UNESCO WOrld Heritage? Masih Kurang? Matatita juga membocorkan sejumlah tip seru berburu tiket murah, bahkan akomodasi superngirit!

Buku ini selain membawa kita bertualang ke tempat-tempat eksotis, sekaligus mengajak kita menghargai keragaman budaya di muka bumi ini. Dikemas dalam bahasa yang ringan, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memiliki perjalanan wisata penuh kesan.

*******

cover tita2MATATITA merupakan internet nickname dari Suluh Pratitasari.Wanita kelahiran Yogyakarta, 13 Oktober ini mulai tertarik dengan kegiatan wisata budaya sejak kanak-kanak karena ayahnya sering mengajaknya ke museum, galeri dan Candi Prambanan. ia juga penonton setia acara “Taman Bhinneka Tunggal Ika” di TVRi era tahun 80-an. Selepas SMA, Tita ngotot bisa kuliah di jurusan Antropologi demi menyalurkan hasratnya mengeksplorasi berbagai kebudayaan dan menulis etnografi dengan gaya ngepop.

Sebelum kisa perjalanan ini diterbitkan, Tita sudah rutin menulis artikel wisata budaya di buletin yang dikelolanya. “Artikel wisata memaksa saya hanya melulu menulis keindahan,”katanya. Baginya, menulis catatan perjalanan secara personal (traveloque) ini terasa lebih memuaskan karena ditulis dengan jujur dan tanpa pretensi untuk mempromosikan destinasi tertentu.

Selain menulis artikel wisata budaya, Tita juga gemar menulis cerpen.Bahkan, semasa remaja tulisannya sering dimuat di majalah remaja ibukota seperti HAI, Gadis, Aneka, dan MODE pada era tahun 90-an.

Kini, sehari-hari ia mengelola bisnis UKM (Usaha Kecil Menyenangkan) yang bergerak di bidang kreatif di Yogyakarta.

*******

cover tita3cover tita4This book is a journal of the author journey from Jogjakarta to Nepal

“….matatita describes more about culture and local people, perhaps because her background is an anthropologist, therefore we find a lot of info on Dayak people, Asmat culture, and even Jogja with its people and culture as the author hometown.”

Tjut Riana

“Selama ini tak banyak buku kisah perjalanan yang mengungkapkan budaya setempat. Untuk itu saya mencoba menuliskannya…”

Sinar Harapan, 18 Agustus 2009

Banyak orang yang telah bepergian ke berbagai penjuru tanah air maupun ke pelosok dunia. Tapi sedikit yang menuangkannya dalam tulisan. Sudah ada yang menuliskan kisah perjalanannya, tapi sedikit yang merangkainya dalam pendekatan budaya. Matatita melakukannya.

ERWAN WIDYARTO, Radar Jogja Minggu, 9 Agustus 2009



Tuesday, January 5, 2010

TALES fron the ROAD junior


kenalkan..ini Baby Bindi...
biarpun masih bayi..tapi udah mulai ketularan jalan loh..hehehe




Saturday, January 2, 2010

cuti jalan-jalan


Umumnya orang mengajukan cuti untuk jalan-jalan atau liburan. Tapi saya malah mengajukan cuti untuk nggak jalan-jalan dulu alias pengin di rumah saja. Ini gara-gara Baby Bindi, momongan saya yang lahir pada tanggal 31 Oktober 2009 lalu.

Baby Bindi membuat saya membatalkan tiket return ke India dengan AirAsia yang sudah saya beli sejak akhir Desember 2008. Tiket perjalanan eksotis itu sudah saya angankan sejak lamaaaa dan baru kesampaian saya beli pada akhir Desember 2008 karena mendapatkan kursi promo Rp 0,- untuk penerbangan November 2009. Beli setahun lalu untuk terbang tahun berikutnya.

Tapi kehadiran Baby Bindi membuat hidup saya seketika berubah. Saya jadi betah di rumah mengamati tumbuh kembangnya yang menakjubkan. Nggak rela rasanya meninggalkannya seharian, apalagi 10 hari untuk perjalanan ke negeri eksotis India. Meski negeri itu adalah salah satu dari mimpi saya.

Inilah saat di mana saya harus berani membuat keputusan: menunda mimpi lama demi mewujud sebuah mimpi lain yang tak kalah pentingnya dalam hidup saya.

Indira Pramesthi. Demikian saya menamainya. Nama yang bernuansa India dan Jawa, yang mewakili hasrat saya akan negeri eksotis impian saya. Nama Indira terinspirasi dari sososk Indira Gandhi yang dijuluki Iron Lady of India. Saya berharap, kelak Baby Bindi juga akan menjadi seorang pemimpin yang tangguh dan berpengaruh di negeri ini. (Amiinn...)

Karena nama Baby Bindi berbau India, sebagian temen yang tahu rencana keberangkatan saya ke India yang batal karena kehadiran Baby Bindi berkomentar begini: "Indira itu artinya India ra sido..(India Nggak Jadi)"..hahaha...

Selain menghanguskan tiket AirAsia Jogja - Kuala Lumpur - India return, Baby Bindi juga membaut saya rela membiarkan tiket liburan dalam rangka wedding anniversary ke Luang Prabang (Laos) tak terpakai.

Januari 2010, genap sewindu kami menikah. Sekali-kali pengin ngambil cuti pada hari perkawinan dan backpacking ke tempat yang tenang. Luang Prabang saya pilih karena menjadi tempat para biksu menjalani keseharian dan kehidupan religiositasnya.

Apaboleh buat. Banyak hal tak terduga yang akan hadir pada setahun kemudian. Tiket Rp 0,- dengan rute Jogja - Singapore - Kuala Lumpur - Vientianne (Laos) return itu pun harus rela dilupakan.

Inilah akibat terlalu pede membeli tiket promo setahun sebelumnya. Haha...


(cerita tentang foto baby bindi dengan prajurit kraton ada di sini ya...)