Monday, March 14, 2011

cellini luggage andalan keluarga...

cellini bag
Sejak Baby Bindi mulai plesiran jelajah nusaraya, saya terpaksa membeli tas atau luggage khusus yang bisa muat pakaian kami bertiga selama sekitar 4 hari bepergian. Setelah beberapa hari survey, akhirnya menemukan Cellini luggage. Yang saya sukai dari tas ini, meskipun kapasitas dan ukurannya lumayan gede, tapi akan terlihat lebih ringkas jika kebetulan sedang tidak digunakan karena bahannya tidak kaku seperti koper. Selain itu bentuknya yang casual sudah pasti cocok dengan karakter saya.

Cellini luggage ini saya beli setelah perjalanan pertama Bindi ke Bali saat usianya 9 bulan. Waktu itu, kami masih trmenggunakan travel bag Eastpak seri Warehouse yang semula termasuk koleksi tas gede saya. Eh, nggak tahunya nggak muat alias saya masih harus menjejalkan barang-barang ke kantong lain. Alhasil, bawaan kami jadi banyak banget. Apalagi waktu itu selain travel bag, kami juga bawa ransel gendongan dan stroller. Masih ditambah ransel daypak yang nempel di punggung. Kebayang kan betapa kedua tangan kami penuh dengan bawaan?

Pengalaman pertama plesiran ke luar pulau yang penuh bawaan itu sudah pasti nggak pengin kami ulang. Salah satu solusinya adalah dengan membeli tas yang lebih besar yang muat untuk menampung pakaian, kaleng susu, mainan, dll. Jadi saat plesiran kami cukup membawa sebuah travel bag yang akan masuk bagasi bersama ransel gendongan bayi atau stroller (dipilih salah satu sesuai kebutuhan), dan sebuah daypack yang berisi botol susu, biskuit, diapers, dan sepotong pakaian ganti selama di perjalanan.

Oh ya, saat plesiran dengan Baby Bindi saya memang menghindari menggunakan ransel yang biasa saya pakai kalau lagi backpacking. Sebagai gantinya saya lebih memilih koper yang bisa dibuka lebar sehingga mempermudaha mengambil barang tertentu. Maklum lah, namanya juga baby traveler, bawaannya pasti aneh-aneh, nggak cuma baju. Tapi juga ada mainan dan buku kesayangannya. Maianan ini sudah pasti harus mudah diambil. Nah, kalau bawa ransel, bisa lebih ribet. Harus bongkar-bongkar dulu semua isinya.

Setelah punya Cellini bag ini, bawaan utama kami bertiga bisa masuk semua jadi satu. Total beratnya sekitar 27kg. Hehe...!

starting indie publishing

"smartraveler: travel & publish" brand of my indie publishing company

beberapa hari lalu saya ngafe dengan beberapa temen penulis. salah satu di antaranya tengah menyiapkan penerbitan indie untuk novel pertamanya. "aku nggak yakin penerbit akan suka naskahku," katanya mengenai alasan kenapa ia memilih jalur indie (berasal dari kata independent atau mandiri). ia pun berkisah tentang naskah novel pertamanya yang banyak mengangkat sisi antropologis. "penerbit akan melihat ini sebagai novel yang nggak laku di pasaran," tambahnya lagi.

saya jadi teringat buku pertama saya, "tales from the road" yang bernasib senada. nggak laku, nggak dipromoin, dan nggak bakal dicetak ulang oleh penerbit. saya terima dengan penuh kesadaran kok, karena memang pembaca indonesia lebih suka diajari "how to travel" ketimbang merenungi sebuah perjalanan ke pelosok-pelosok untuk menemukan jadi diri. dengan kata lain, travel writing di indonesia masih sampai tahap awal "how to travel" bukan "travel for what".

toh, saya masih mujur ya, ada penerbit yang mau mencoba menerbitkan buku saya, meski sejak awal sudah sadar bahwa buku "tales from the road" tak akan laris manis (meski ditulis dengan manis). untuk itu saya sungguh layak mengucapkan terima kasih tak terkira pada penerbit. sebagai ucapan terima kasih, saya buatlah buku lain yang "how to" yaitu buku "eurotrip: safe & fun". diluar dugaan, meski sejak awal saya yakin buku ini bakal lebih laku ketimbang "tales from the road", tapi ternyata nggak sekedar laku. malah, laku banget! dalam waktu kurang dari tiga bulan sudah dicetak ulang. saya jejingkrakan saking girangnya. kegirangan ini saya rayakan dengan menulis buku ke-3 "uktrip: smart & fun". semoga uktrip mengekor kesuksesan sekuelnya, eurotrip.

sekarang saya tengah menyiapkan buku traveling lain yang akan saya terbitkan secara indie. doakan buku-buku indie saya bisa sesukses buku indie-nya dee (dewi lestari) ya.

Thursday, March 3, 2011

barito river cruise

baby bindi kegirangan di atas kelotok
menyusur sungai dengan kelotok merupakan pengalaman wajib yang harus dinikmati saat berkunjung ke borneo. begitu juga ketika kami mengajak baby bindi ke banjarmasin, petualangan ini nggak boleh dilewatkan. meski bindi harus bangun pagi-pagi buta sekitar pukul 04.00 dini hari.

untung baby bindi bisa bangun dengan ceria tanpa mewek-mewek. sepertinya dia tahu bahwa akan diajakin jalan-jalan. makanya, tetep fun meskipun masih ngantuk berat. buktinya, baru sekiar 10 menit di atas kelotok, bindi langsung tertidur lagi. hihiii...

destinasi utama kami adalah pasar terapung kuin di sungai barito. jujur nih, sebenarnya saya pengin ke pasar apung lok baintan, yang lebih rame dan padat. kayaknya seru buat difoto-foto. tapi karena pagi itu hujan dan jarak ke lok baintan (martapura) relatif lebih lama (hampir 1 jam perjalanan air), ya sudahlah ke kuin saja. sekalian liat monyet di pulau kembang.

ternyata pula, sudah makin jarang para penjual di pasar apung kuin. malah, banyakan kelotok wisatawan. haha...! padahal jaman dulu ke sini tahun 1994, pasar apung kuin cukup rame. kelotok kami sampe bersenggolan dengan yang lain. penjual-penjualnya banyak, aneka sayur dan wadai (kue-kue).

oh ya, saya juga sempet jajan kue untuk mengganjal perut yang kosong. nggak puas makan kue, dilanjut jajan soto banjar dan nasi kuning. eh, rupanya ada floating restaurant..! menunya beragam, soto, sate, nasi kuning, dll. pembeli juga bisa masuk ke atas perahu yang sudah disiapin meja dan bangku panjang. saya sih tetep makan di atas kelotok carteran kami, biar nggak repot ngangkat bindi.

setelah perut kenyang, barulah kami melanjutkan perjalanan ke pulau kembang, pulau yang dihuni monyet. lokasinya nggak jauh dari pasar kuin kok. sayangnya, hujan nggak juga reda. males banget mau turun. jadi kami cuma bisa menikmati monyet-monyet berlarian dari kejauhan. tapi baby bindi udah girang nggak karuan loh. dia tunjuk-tunjuk itu monyet-monyet sambil berseru-seru girang. apalagi ketika kami lemparin pisang, monyet-monyet itu berlarian turun ke air. lucuuu...!

Wednesday, March 2, 2011

banjarmasin riverside walk

pedestrian yang enak buat jalan-jalan sore
WOW..! beneran, ini ekspresi kagum dan keterkejutan saya saat menemukan riverside di sepanjang jl. sudirman, depan masjid raya & kantor gubernur. maklumlah, dulu jaman saya pertama kali ke kota ini th 1994 dan diulang th 1996 saat kkn di kab pelaihari, belum ada riverside walk ini.

ternyata pula, pada hari minggu sore kemarin (27/2/2011) sedang ada atraksi "melukis pelangi" (eh, ini saya sendiri yang menamainya) yang dilakukan oleh para fire-fighter alias tim pemadam kebakaran. tadinya, kami pikir bunyi sirine yang meraung-raung itu karena ada kebakaran, eh nggak taunya mobil2 pemadam kebakaran pada berdatangan dan parkir berjejer di tepi sungai. mereka lantas menyedot air sungai dan menyemburkannya ke udara, ke atas sungai martapura. sejurus kemudian, terciptalah pelangi...

atraksi melukis pelangi di atas sungai martapura

pelangi-pelangi..alangkah indahmu..merah kuning hijau di langit martapura..pelukismu agung, siapa gerangan..pelangi-pelangi ciptaan fire fighter..!

haha..saya nyanyikan lagu itu untuk baby bindi yang tampak takjub melihat air yang menyembur-nyembur di udara...

oh ya, di sisi ruas jalan sudirman yang lain, terdapat riverside walk yang indah, tempat kongkow anak-anak muda banjarmasin pada hari minggu. pedestriannya luas dan nyaman buat nongkrong dan jalan. baby bindi langsung berlarian tanpa henti, bikin bapak dan emaknya ngos-ngosan. soalnya rada kawatir juga, karena besi teralis pagar pembatasnya banyak yang dicuri! aarrrgghh...bikin emosi..! pagarnya jadi melompong, nggak aman buat anak-anak kecil. baby bindi bisa langsung mbrobos nyemplung kali kalo nggak dihalangin. 


[album foto bisa diintip di sini]

Monday, February 21, 2011

no shower, bathup please...

Bath time is fun
Begitu punya momongan dan ngajakin Baby Bindi traveling, ternyata saya harus merombak kebiasaan saya dalam mencari akomodasi/hotel di suatu daerah. Biasanya, saya nggak pernah booking hotel duluan jika bepergian di Tanah Air. Saya lebih suka beli voucher hotel di bandara kota tujuan karena harganya seringkali lebih murah. Lumayan kan irit 50ribu - 100ribu, bisa buat ongkos taksi dari bandara. Kalau di bandara nggak ada agent hotel, barulah saya menelpon sejumlah hotel yang daftarnya sudah saya siapkan duluan. Buat saya yang sudah terbiasa jalan sendiri, hotel jenis apapun nggak masalah, yang penting lokasinya nggak terlalu jauh dari target kunjungan saya ke kota tersebut.

Sekarang, jika plesiran bareng Bindi, reservasi beberapa hari sebelum hari H hukumnya jadi wajib. Kebersihan dan kenyamanan kamar hotel juga menjadi prioritas. Bahkan luasan kamar juga sering saya pertimbangkan supaya Bindi juga bisa main-main di kamar hotel sambil disuapin makanannya. Fasilitas hot water itu juga wajib karena Bindi belum bisa mandi dengan air dingin kecuali jika lagi berenang di kolam terbuka. Belakangan, saya punya request khusus, minta kamar dengan bathup bukan shower.


Permintaan terakhir ini berdasar pengalaman banyaknya shower di kamar hotel yang kadang semburan airnya nggak bisa diatur. Malah, saya pernah menginap di kamar hotel bintang tiga tapi semburan airnya terlalu kenceng sehingga badan saya berasa kayak orang ditampar sewaktu mandi. Ampun deh! Saya nggak mau bermain spekulasi lagi jika ngajak Baby Bindi. Bathup jadi pilihan utama. Atau malah bak mandi tradisional, seperti di rumah saya, is better than shower. 


Dan bathup is the best karena akan lebih nyaman buat si kecil. Apalagi jika disiapin mainan air teman mandi. Mandi pun jadi kegiatan yang menyenangkan buat si kecil meski sedang traveling nun jauh di rantau.

Tuntutan fasilitas ini sudah pasti berimplikasi pada budget. Anggaran kamar hotel per malam jadi membengkak dua kali lipat dari tarif hotel yang biasa saya inapi jika jalan sendiri. Jika tadinya saya merasa nyaman dengan kamar seharga 150an ribu (kalau di Ubud -Canderi- malah cuma 50ribu), sekarang saya harus mencari kamar bertarif rata-rata 400ribu untuk mendapatkan kenyamanan itu. Apa boleh buat.



kisah dibalik judul

Saya bukan orang yang jago menulis judul. Bahkan, setiap kali mikirin judul, energi saya bisa terkuras habis untuk mencari ide. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk googling, menemukan judul yang kira-kira tepat untuk buku saya. 

Waktu mau nulis buku Eurotrip Safe & Fun ke penerbit, saya juga sekalian mengajukan 2 (dua) pilihan judul, yaitu Lost in Europe dan Eurotrip. Kedua judul itu saya anggap mewakili kisah perjalanan solo alias sendirian keliling Eropa

1. Lost in Europe -> terkesan shocking, bikin penasaran, mungkin dikira emang 15 hari tersesat beneran..padahal dlm dunia backpacking 'get lost' tidak berarti tersesat tapi justru kita menemukan banyak hal menarik dengan 'get lost' itu.

2. Eurotrip - safe & fun -> lebih datar daripada Lost in Europe, tapi mudah ditangkap maknanya oleh pembeli/pembaca.

Biar lebih mantep, kedua alteranatif judul itu langsung diaplikasikan dalam rancang grafis sampul buku. Bukan karena kebetulan saya punya perusahaan dibidang desain grafis, tapi juga untuk memastikan apakah judul tersebut jadi eye-catching ketika di-lay-out. 

usulan judul 1: Lost in Europe [juni 2010]
Usulan judul 2: Eurotrip Safe & Fun [juni 2010]
Revisi disain cover setelah usulan judul dipilih penerbit [agustus 2010]
Dari kedua judul yang saya ajukan ke penerbit, rupanya judul ke dua yaitu Eurotrip Safe & Fun yang dipilih. Ada untungnya juga judul tersebut dipilih, karena akan memberi saya peluang untuk menulis trip-trip yang lain alias bikin Matatita Trip Series.

Sekuel dari buku Eurotrip, UKTRIP Smart & Fun [januari 2011]

Kenapa yang Eurotrip pake Safe & Fun sementara yang UKTRIP pake Smart & Fun? Editor buku saya juga sempet nanyain, bahkan sempat dikira saya salah tulis. Padahal enggak, itu memang sengaja saya bedain antara Safe dan Smart.

Kata "Safe" saya gunakan di Eurotrip karena pada saat itu saya melakukan perjalanan seorang diri. Bener-bener sendirian, gak nyari kenalan di jalan. Saya menikmati perjalanan solo ini dengan fun, pulang-pulang juga tetep aman. Makanya kemudian saya gunakan Safe & Fun.

Sementara itu saat melakukan pejralanan ke UK, saya lebih menekankan "smart" atau kejelian. Perjalanan ke UK saya lakukan dengan dadakan atas ajakan teman. Dengan berbekal kejelian, waktu yang singkat untuk mengurus visa dan segala macam tiket perjalanan maupun akomodasi yang harus di-booking online tidak mendapat kendala. Selain itu, berbekal kejelian pula, saya bisa menikmati London for free walking tour. Smart dong namanya kalo bisa jalan-jalan di negeri yang kurs-nya muhaall tapi kita bisa hemat.

jadi..selanjutnya apakah saya akan menggunakan kata "trip" di belakang negara yang saya kupas? Tunggu yyaaa...cari wangsit dulu..! Hehe...


Wednesday, February 2, 2011

ayo jelajah nusaraya..!

Losari Beach, Makassar

Bertempat tinggal di kota wisata nomor 2 di Indonesia, Yogyakarta, terkadang membuat saya jadi bingung mencari destinasi liburan long weekend, selain ke Ubud Bali. Di saat yang lain pengin long weekend-an di Jogja, saya enaknya ke mana ya? Ke Bandung? Ah, males wisata fashion. Ke Malang? Pengin sih, tapi mendingan nanti aja kalo Baby Bindi udah jadi kid alias udah gedean. Ke Jakarta? Kayaknya kok nggak keren liburan ke Jakarta. Hehehe...!


Liburan ke luar negeri? Bindi memang sudah punya passport dan sudah punya tiket promo Air Asia untuk ke Singapore bulan April 2011 nanti. Selain Singapura, negara tetangga yang baby friendly alias nyaman buat jalan-jalan sama si kecil, kayaknya kok nggak ada. Hong Kong? Oke juga sebenarnya, tapi kejauhan kalo buat long weekend 4D3N. Kuala Lumpur? Itu juga mirip-mirip Jakarta. Paling nanti ke Petronas dan main di mall atau liat aquarium di KLCC. Ke Bangkok? Hhmm... enggak worth buat Bindi deh kayaknya. Negara-negara tetangga lain dari tiga yang saya sebut jauh lebih nggak nyaman kondisinya buat jalan-jalan bawa anah umur 15 bulan.


Setelah saya renung-renungkan, ternyata memang Jogja is the best kok. Weekend-an jelajah candi-candi pasti seru dan nggak ada habisnya. Hobi ini sudah kami lakukan sejak Baby Bindi umur 6 bulan dan sempet terhenti setelah Merapi meletus. Padahal kami belum sempat ke Borobudur. 


Selain 'jajah Jogja milang kori" (jelajahi kota Jogja), target jalan-jalan jauhnya Baby Bindi adalah ke luar pulau Jawa, biar lebih kenal beragam Budaya Nusantara. Ke Bali sudah dua kali. Pengin ke timurnya lagi, ke Lombok suatu saat nanti. Ke Makassar sudah pernah sekali. Kapan-kapan pengin dilanjut ke Pare-Pare nengokin adiknya Edo yang bertugas di sana sekalian wisata budaya ke Toraja. Sebenarnya waktu ke Makassar kemarin sudah merencanakan hal ini, tapi karena butuh waktu liburan minimal seminggu, saya lantas menundanya. Ke Borneo? Pengin sekali ngajakin Baby Bindi ke pedalaman Kaltim, tinggal di rumah panjang (lamin) suku Dayak. Saya kan pernah tinggal di sana selama sebulan jaman jadi mahasiswa Antropologi dulu. Semoga suatu hari angan ini terwujud.


Saya juga pengin ajak Baby Bindi ke belahan Borneo lain, ke Pontianak. Kebetulan ada kerabat yang barusan dipindah tugas ke Pontianak awal Januari 2011 lalu. Tadinya juga, long weekend imlek ini pengin ke sana. Tapi karena ada deadline pekerjaan dan tiketnya jadi melejit karena etnis Tionghoa di Pntianak dan Kalbar pada imlekan. Ya sudah ditahan saja, masih bisa kapan-kapan kok.


Eh ndilalah, kok ya tadi pagi sahabat saya kirim inbox mengabarkan rencana pernikahannya. Sahabat saya itu, asalnya dari Banjarmasin. "Acaranya di Banjar bukan? Kalau di Banjar aku mau dateng sekalian ajak Baby Bindi." Balas saya bersemangat. Semangat yang full power, lha wong barusan nyalain komputer pagi-pagi di kantor, login ke FB, dan menemukan notifikasi di inbox. Sambil berbalas-balasan lewat inbox, saya membuka website Lion Air yang melayani penerbangan direct Jogja - Banjarmasin (dulu ada Mandala). Juga nelpon Edo menyampaikan niatan ini yang langsung di-acc. Nggak sampe 15 menit kemudian, saya kirim konfirmasi e-ticket itu ke sahabat saya sambil mengancam, "awas kalo gak jadi kawinan tanggal itu!" Malah dia yang shock karena nggak nyangka dalam waktu sekejap saya sudah punya tiket bertuliskan nama saya, Edo, dan Baby Bindi. Belum tahu dia, ya begini inilah yang disebut gayung bersambut.


So, Baby Bindi is going to South Borneo at the end of this month.

*

Tuesday, February 1, 2011

touch the animals experience

Pengin ngelus the lion king
Baby Bindi mulai memperlihatkan ketertarikannya pada binatang ketika usianya jalan 10 bulan. Bindi mulai suka nunjuk-nunjuk ke arah anjing tetangga yang sering lewat di depan rumah kami. Nggak cuma nunjuk-nunjuk, tapi juga maksa minta ngikutin ke mana anjing itu berjalan. 

Sebenarnya nggak cuma anjing aja sih yang dia suka. Semua binatang yang ditemuinya di sekitar rumah, selalu membuatnya kegirangan. Apalagi jika binatang itu nggak cuma diam, tapi bergerak. Ayam, kucing, burung, dan cicak adalah binatang-binatang yang dapat dengan mudah ditemuinya di sekitar rumah. Bindi juga udah mulai pinter memainkan jari-jarinya memanggil burung dan ayam.


Lalu, saya dan Edo pun mulai merencanakan trip ke kebun binatang. Ke Gembira Loka, kebun binatang terbesar di Indonesia. Hehe...! Tapi, kami selalu gagal ke Gembira Loka, padahal kan nggak jauh dari rumah. Pernah suatu kali, saat libur lebaran, kami sudah sampe depan Gembira Loka, tetapi begitu melihat parkirannya penuh, rasanya jadi maleesss...! Jangankan libur lebaran, pada akhir pekan saja parkiran Gembira Loka bisa dipastikan penuh. Banyak rombongan sekolah dari daerah lain yang melakukan study-tour. Ternyata susah juga ya mau piknik di kota sendiri.


Akhirnya kami merencanakan trip lain. "Gimana kalo kita ke Bali Bird Park?" usul saya yang langsung disambut dengan girang oleh Edo. Jelas dong, soalnya sebenarnya kami pun sejak lama sudah beberapa kali gagal mau mampir ke Bali Bird Park setiap liburan ke Ubud. Adaa aja yang bikin kami nggak jadi singgah di sana. 


Sekarang mumpung sudah punya Baby Bindi, nggak boleh lagi dibatalkan. Bahkan trip kami ke Bali kali ini, saat usianya Bindi hampir 12 bulan, khusus buat Bindi mengenal binatang. Kami sisihkan waktu seharian hanya buat main-main ke Bali Bird Park, Reptile Park, dan Bali Zoo. Kebetulan pula lokasinya berdekatan, sehingga kami bisa full day di ketiga tempat itu dari pagi hingga sore.

Elus yang ini aja, nduk
Beneran lho, Bindi terlihat begitu menikmati aneka satwa yang ada di sana. Semua binatang penginnya disentuh. Bahkan singa yang lagi mengaum-aum kelaparan aja pengin dipegang. Hehe..tentunya cuma megang di kaca sebagai pembatas. 

Karena Bindi tidak memperlihatkan ketakutan pada binatang, kami jadi nggak ragu-ragu untuk mendekatkan tangannya pada binatang-biantang tertentu yang jinak. Seperti pada iguana, kura-kura, dan burung rangkok. Oh ya, juga saat di Bali Zoo resto ada atraksi binatang-binatang buas yang sudah jinak. Banyak anak-anak bule yang pada berfoto. Baby Bindi nggak mau ketinggalan dong, ikutan foto berkalung ular. Hihiii...!


Oh ya, beberapa waktu lalu, kami akhirnya berhasil dolan ke Gembira Loka. Saya baru sadar, di gapura bagian depan ada baliho besar bertuliskan Gembira Loka Zoo. Hahaha, pake 'zoo' memang terlihat lebih keren kali ya? 


Gembira Loka Zoo memang sudah beda dengan apa yang saya nikmati sewaktu bocah dulu. Saat ini sudah ada Reptile Park yang menampilkan koleksi berbagai reptile dari berbagai dunia. Ada juga aneka kodok dari aneka bangsa. Lucu-lucu ragamnya. Sayangnya, karena tempatnya yang terlalu luas dan sudah pasti butuh biaya renovasi yang muhaal, belum semua bagian mendapat sentuhan baru. Padahal untuk bisa menikmati area seluas itu, pengunjung butuh tempat rindang atau shelter jika tiba-tiba hujan. Bahkan juga butuh moda transportasi tertentu di dalam kebun binatang supaya yang kecapean jalan bisa naik ke shuttle bus atau kereta mini atau apapun namanya.


[more image please click here]

Monday, January 31, 2011

plesiran bareng baby itu irit kok!

Baby Food dari Garuda Indonesia

Ngajakin plesiran baby/infant (under 2 years) itu sebenarnya irit loh. Yuk, kita itung-itungan. Biaya transport dan akomodasi yang menyedot dana terbesar selagi traveling, nggak berlaku buat baby. 

Akomodasi jelas free karena hotel biasanya memberlakukan tarif sewa kamar untuk berdua dan free for kids under 10 years old. Biaya transport jika menggunakan moda transportasi darat juga free. Naik kereta dan bus nggak bakalan di-charge. Sementara kalao naik pesawat, jauh deket tarif infant berkisar antara 120-150 ribu (tergantung airline). Tarif ini berlaku flat alias pukul rata, enggak kayak tarif emak dan bapaknya yang mengikuti jenis tiketnya.

Meskipun infant cuma bayar 120 ribu, tapi di pesawat dapat jatah konsumsi yang nggak kalah sama orang dewasa (tentu saja yang ini hanya berlaku buat airline yang memberi fasilitas konsumsi untuk penumpang). Misalnya, saat Baby Bindi naik Merpati Airlines dari Jogja - Makassar return. Baby Bindi juga dapat satu dos isi makanan komplit (bukan snack) seperti jatah emak dan bapaknya. Memang sih itu nggak bakal kemakan sama Bindi karena nasinya kurang lunak, tapi kan lumayan buat nambahin jatah emak dan bapaknya. Hihi...!

Yang asyik kalo naik Garuda (itu sudah pasti). Ternyata Garuda punya menu khusus buat infant, yaitu 2 botol makanan bayi merk Heinz. Sedaapp...! Harga satu botol Heinz baby food di supermarket antara 22 - 32 ribu. Untuk dua botol itu anggep aja 50 ribu. Padahal Baby Bindi cuma bayar tiket Garuda ke Bali 130 ribu sekali jalan. Kalau dikurangi 50 ribu buat jatah konsumsinya, berarti cuma sekitar 80 ribu yang masuk ke airline.


Itu pun nggak semua. Karena masih ada gift lainnya dari Garuda untuk infant flyer ini, yaitu satu paket berisi diapers, bedak jonhson ukuran kecil, satu saset tissue basah, satu lembar perlak plastik ukuran mini, dan juga mainan bebek-bebekan dari karet yang bisa bunyi cit-cit-cit. Saya kurang tahu persis berapa biaya produksi untuk satu paket gift itu. Mungkin sekitar 25-50 ribu kali ya. 

Nah, kalo begitu semakin kecil lagi jatah rupiah yang masuk ke airline. Bisa dibilang, nol rupiah alias pihak airline nggak terlalu ngarep pemasukan dari infant flyer ini. 
Setelah transport dan akomodasi, aksi hemat traveling with baby ini masih berlaku di daerah tujuan. Buat masuk-masuk ke tempat wisata, biasanya bayi nggak perlu bayar tiket.Kalo ada yang memberlakukan tiket buat bayi, mari kita komplain seperti pengalaman saya saat ngajak Bindi ke Trans Studio Makassar. 

Oh ya, Based on my experience, traveling with Baby Bindi itu bikin saya nggak tergoda bela-beli yang aneh-aneh. Di Ubud misalnya, biasanya saya suka bela-beli craft aneh-aneh buat pajangan rumah, eh waktu sama Bindi, saya nggak beli apapun. 

Alasannya sederhana, pertama nggak ada waktu karena buat ngurusin Bindi sejak bangun tidur sampe kemudian saatnya jalan-jalan udah menghabiskan energi. Kedua, nggak nyaman banget ngajak Baby Bindi milih-milih craft, entar malah tangannya beraksi mberantakin dagangan orang kan bikin celaka. Ketiga, terlalu menikmati kebersamaan dengan Bindi sampe nggak kepikiran mikiran napsu pribadi. Hihii...!

Nah, sekarang ketahuan kan, emang irit. Jadi, nggak ada alasan buat nggak ngajak si kecil jalan-jalan kan? Mumpung dia masih infant under 2 years, yuks ajakin traveling. Kalo udah di atas 2 tahun udah bayar full tiket pesawatnya loh. Hehehe...!!!!

Sunday, January 30, 2011

kuliner nusantara isn't a baby friendly destination

Baby Bindi terlelap di Bali Zoo resto

Kalo lagi plesiran sama Baby Bindi, saya dan Edo nyaris nggak pernah makan bersama dalam satu meja. Makannya musti bergantian. Kalo saya yang duluan makan, berarti Edo yang jagain Bindi, biasanya diajak jalan-jalan. Begitu saya selesai makan, gantian saya ambil alih Bindi. Kalau kebetulan waktu makan kami bersamaan dengan waktu makannya Bindi, seringnya pas makan siang,  barulah kami bisa duduk semeja bertiga. Saya nyuapin Bindi duluan dan Edo makan menunya. Begitu Edo dan Bindi selesai makan, mereka jalan-jalan sementara saya gantian yang menyantap makanan.

Terkecuali kalo ngepasin jam makan, Baby Bindi lagi tertidur. Ini kesempatan emas yang nggak kami sia-siakan untuk menikmati menu pilihan yang mak-nyus. Mumpung si kecil lagi terlelap, emak dan bapaknya puas-puasin makan yang enak-enak. Hehe...!

Demi kenyamanan Baby Bindi yang terpaksa nungguin emak dan bapaknya gantian makan, kami suka pilih-pilih tempat makan. Sokur-sokur yang ada garden dan kolam ikan, jadi Bindi bisa enjoy main-main selagi kami gantian makan. Apes-apesnya kami pilih makan di mall yang adem dan enak buat strolling juga. Kalo sudah begini, soal pilihan menu jadi nomor dua. Sing penting wareg, nggak perlu kuliner-kulineran deh.

Tapi sesekali pernah juga kami 'maksa' Bindi wisata kuliner nusantara. Waktu di Makassar, saya ajakin Edo makan Konro Karebosi dan ikan bakar Lae-Lae. Niatan saya sebenarnya mulia, karena ini kali pertama Edo ke Makassar, sementara saya udah sering. Masak enggak nyobain kuliner Makassar sih? Padahal kan banyak ragamnya, dari konro, mie titi, sup kepala ikan, dll..dll...

Begitu nyampe di Konro Karebosi, saya dan Edo baru sama-sama tersadar, bahwa warung ini nggak baby friendly. Coba saja lihat, pengunjungnya buanyak,tempat duduknya terisi semua, musti nunggu sebentar untuk bisa duduk, sudah begitu asapnya mengepul nggak nyaman banget buat si kecil. 

Saat bergantian makan pun juga kurang nyaman, karena nggak ada tempat buat jalan-jalan sama Baby Bindi. Keluar warung udah jalan, panas pula kalo siang. Sementara di dalam warung juga padat. Alhasil, konro yang biasanya terasa nikmat kalo saya santap sendiri pas lagi ke Makassar, kali ini berasa sama sekali nggak ada enak-enaknya. Makannya musti buru-buru karena kasian sama Baby Bindi. Hiks..!

Sejak itu kami mencoret daftar kuliner nusantara dalan tiap family trip kami. Mendingan makan di restoran atau di mall yang nyaman buat si kecil. 




Friday, January 28, 2011

free for infant, tapi pake eyel-eyelan


awal desember lalu baby bindi jalan-jalan ke trans studio makassar. meski belum banyak wahana yang baby friendly, tapi lumayanlah..bindi bisa liat aneka permainan dan juga jalan-jalan di theme park studio yang luas dan adem.

oh ya, saat mau beli tiket, saya sempet nanya ke petugas, apakah bayi juga harus bayar tiket. lalu petugas tiket menyuruh saya nanya ke petugas pemeriksa tiket yg berjaga di gate, pintu masuk. "harus bayar full," katanya. bayi yang berumur 4 bulan ke atas harus bayar seperti orang dewasa. saya kaget, masa bayi belum bisa jalan dan tidak mungkin menikmati semua wahana yang disediakan juga harus bayar full? yang bener aja. di luar negeri biasanya free for infant, 50% for kids, dan full payment for adult.

lalu saya bertanya pada petugas di ticket booth lagi, "yang bener aja mbak, masa bayi bayar full?" lalu mereka bingung sendiri. saya di suruh nunggu beberapa saat. si mbak itu bolak-balik menghubungi orang-orang yang dianggap bisa membuat keputusan.
setelah sekian lama menunggu, barulah si mbak bilang bahwa bayi gak perlu bayar. saya pun melenggang dengan senang menuju pintu masuk. "sudah ada tiket untuk bayinya?" tanya petugas pintu masuk. saya terkaget. "lho, tadi dibilang free tuh?" si mbak petugas menggeleng, "harus punya tiket sendiri," katanya maksa. saya jadi sebel, "oke, mbak ke sana aja, tanya ke petugas di ticket booth ya," males dong kalo saya disuruh bolak-balik.

finally sih, dapet free for infant. tapi pake nunggu lama dan pegel. hiks..!

Friday, January 14, 2011

Baby Bindi on Magazine (Maj. Sekar, 12 Jan 2011)


Kebanggaan seorang Ibu yang berprofesi sebagai penulis adalah, ketika anaknya nongol di media. Hehe...! Karena Baby Bindi belum bisa baca dan nulis, sementara enggak apa deh diwakili emaknya dulu.

Ceritanya, bulan November 2010 lalu saya diwawancarai Mbak Tassia dari Maj. Sekar (Gramedia Majalah). Wawancara by phone Jakarta - Jogja. Lumayan lama juga wawancaranya, soalnya sempet diselingi break karena batuk-batuk dulu. Hiks..!

Tema wawancaranya seputar "traveling with baby". Buat saya, yang doyan traveling, ngajakin Baby Bindi jalan-jalan itu merupakan bagian dari proses belajar mengenal alam dan budaya lain. Sebisa mungkin saya berusaha mengajak Bindi traveling yang saya dedikasikan untuk dirinya, bukan untuk kepentingan orang tuanya.

Karena itu, saya lebih suka mengajak Bindi traveling ke tempat-tempat yang saya sudah sering mengunjunginya. Misalnya ke Ubud, Bali. Saya kan udah lumayan fasih daerah itu, jadi saya nggak tergoda pengin melihat macem-macem. Dengan begitu, saya bisa optimal memperkenalkan Bindi pada alam dan budaya lain: jalan-jalan ke sawah, ngliat enabuh gamelan bali, main sama bule-bule kecil, dll.

Ada kalanya, saya terpaksa mengajak Baby Bindi bepergian jauh untuk urusan keluarga. Nah, ini yang rada-rada bikin repot karena nggak bisa sepenuhnya rekreasi. Misalnya saat kami ke Makassar bulan Desember 2010 lalu. Kami ke sana dalam rangka kawinan sodara.

Sebenarnya, kami sudah disiapin kamar di hotel yang nggak jauh dari famili yang punya gawe itu. Tapi demi kenyamanan Baby Bindi, saya memilih bayar hotel sendiri di dekat Pantai Losari, yang jadi agak jauh dari rumah famili. Alasannya sederhana aja sih, kalau saya nginep di dekat rumah famili, pasti mau nggak mau harus menghadiri prosesi pernikahan adat Bugis yang sudah berlangsung selama 3 hari berturut-turut sebelum malam resepsi. Duh, enggak kebayang, capeknya bawa Bindi ke sana. Walaupun, sejujurnya, saya sangat amat ingin mendokumentasikan prosesi perkawinan Bugis secara lengkap. Mana famili saya itu keturuan bangsawan bugis pula kan. Tapi kalau saya maksain keinginan saya, kasian Baby Bindi-nya.

Jadilah saya pilih hotel menjauh, supaya ada waktu lebih longgar untuk berekreasi. Bindi bisa berperahu ke Pulau, bisa main ke Trans Studio, bisa jalan-jalan menyusur pantai, juga masih bisa menghadiri salah satu prosesi adat Mapacci pada malam sebelum ijab.

Nah...kembali ke majalah Sekar edisi 12 Januari 2011..edisi Baby Bindi...semoga akan segera disusul dengan buku yang saya susun "Traveling with Baby". Doain yaa....!

Thursday, January 6, 2011

English Tea: Twinings & Yorkshire Tea



Sebagai penikmat teh, saya merasa menemukan surga saat traveling di Inggris. Tahu sendiri kan, orang Inggris punya tradisi minum teh yang lahir dari kalangan bangsawan Inggris sejak abad ke 16. Tradisi para bangsawan ini menjadikan Inggris sebagai salah satu negara yang memiliki teh ternikmat dan dikenal luas ke penjuru dunia. Salah satunya adalah Twininggs of London yang sering saya beli di sejumlah supermarket di Indonesia.

Twinings ternyata mulai dipasarkan oleh Thomas Twining sejak lebih dari 300 tahun yang lalu, tepatnya pada 1706. Racikan teh klasik andalannya yang sangat saya sukai adalah English Breakfast dan Earl Grey. Keduanya merupakan jenis teh hitam, bedanya English Breakfast sedikit lebih kental sementara Earl Grey lebih beraroma dan bercampur citarasa bergamot. Teh hitam klasik ini paling nikmat diseduh pagi hari sebagai menu sarapan.

Saat menginap di rumah Ima, saya mendapat suguhan teh Twinings dengan aneka rasa buah. Ada rasa strawberry, mango, orange, cinnamon, dan lainnya. Bahkan juga ada rasa campuran dari beberapa buah dalam satu tea bag. “Kirain Twinings cuma bikin classic tea,” kata saya sambil mencicip teh tiga rasa orange, mango, cinnamon dalam satu satu kantong. Ternyata enak juga. Jadilah saya membeli beberapa kotak Twinings Infusion aneka rasa yang pada saat itu belum banyak dijumpai di Indonesia.

Kebetulan pula saya belanja Twinings di minimarket Tesco di Leeds yang notabene merupakan wilayah Yorkshire. Mendadak saya jadi ingat tentang Yorkshire Tea yang pernah saya baca situsnya di internet. Mumpung lagi di Yorkshire, mendingan beli Yorkshire Tea Traditional sekalian meski cuma sekotak buat incip-incip. Harganya sama, sekitar £2.50 per kotak isi 25 bags.

Yorkshire Tea, teh yang diproduksi Taylors of Harrogate ini mungkin hanya popular di negara asalnya. Sepanjang yang saya ingat, sepertinya belum pernah menemukan kotak teh Yorkshire di Indonesia, bahkan di supermarket terkemuka seperti Sogo dan Carrefour. Padahal Yorkshire Tea umurnya juga sudah ratusan tahun loh. Perusahaan teh yang didirikan oleh Charles Taylor sudah ada sejak tahun 1886 atau lebih dari 200 tahun yang lalu.

Saat membeli beberapa kota teh Twinings dan sekotak teh Yorkshire di minimarket Tesco, saya melihat varian Yorkhshire Tea tidak sebanyak Twinings. Kalau nggak salah nggak lebih dari lima rasa, yaitu Traditional, Hard Water, Gold, Decaffeinated, dan Assam. Stok yang paling banya dipajang di rak adalah Traditional. Tapi selain teh, juga ada beberapa biskuit Yorkshire. Biskuit ini biasanya dimakan bersamaan minum teh. Rasa biskuit yang manis bisa menjadi pengganti gula, sehingga teh tak perlu diseduh dengan gula pasir lagi.

Soal rasa tehnya dibanding Twinings, menurut kecapan lidah saya sih sebenarnya nggak beda-beda amat. Sama-sama nikmat dan tidak terlalu pekat (apalagi jika dibanding dengan racikan teh nasgital –panas, manis, dan kental- ala Jogja). Sayangnya Yorkshire Tea masih sulit dibeli di Indonesia. Jadi sampai sekarang saya hanya setia pada Twinings yang mudah diperoleh di supermarket di Jogja. Hehe…!